Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Rangkuman Diskusi KRP Januari/Februari 2012

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Rangkuman Diskusi KRP Termin I

Topik 1

Subjek: Pertobatan

Apakah Saulus pernah mendengar Injil sebelum dia bertobat? Dalam perjalanan ke Damsyik perubahan apa saja yang terjadi dalam diri Paulus? Mengapa?

Saulus sudah mendengar tentang Injil, hal ini dapat dipastikan karena dia hidup pada zaman pelayanan Tuhan Yesus dan dia bersikeras menentang ajaran ini seperti kebanyakan para imam-imam kepala Bait Allah dan ahli Taurat lainnya. Injil dianggap sesat dan menyimpang dari keyakinan yang dipegangnya ketika diperbandingkan dengan Taurat Tuhan, sebab Saulus yang pernah belajar secara mendalam tentang agama yahudi terutama bagian Perjanjian Lama sehingga ia begitu membanggakan ajaran Taurat dan adat istiadat bangsanya. Dia tidak dapat memahami bahwa Injil adalah penggenapan dan penyempurnaan dari Taurat Tuhan yang dibanggakannya, bagi Saulus pengikut Injil adalah orang-orang yang telah menjadi sesat dan murtad dari agama Yahudi, sehingga harus ditangkap dan dihukum.

Saulus dan kawan-kawannya memulai perjalanan yang panjang menuju Damsyik, perjalanan ini bertujuan untuk menangkap orang-orang Kriten yang melarikan diri dari Yerusalem karena adanya penganiyayaan dan penangkapan terhadap orang-orang yang mengikuti ajaran Injil. Namun dalam perjalanan panjang ini ia mulai berpikir dan meragukan tindakannya. Ia mulai memikirkan bagaimana Stefanus bisa mati dengan begitu tenangnya, sebab dia ikut menyaksikan ketika Stefanus "menutup mata" dengan damai sekalipun dia dirajam dengan batu sampai mati. Ini merupakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab yang mengganggu pemikirannya.

Perubahan dalam diri Saulus mengalami puncaknya ketika Tuhan Yesus menampakan diri kepadanya secara pribadi dalam perjalanan ke Damsyik ini. Di sinilah hidup Saulus berubah dari penganiaya pengikut Kristus menjadi Rasul yg dipakai secara luar biasa. Dalam peristiwa ini akhirnya Saulus mendapati dirinya buta, selama tiga hari lamanya dia tidak dapat melihat dan tidak makan ataupun minum. Pengalaman ini mengubah Saulus sepenuhnya dari orang Farisi yang sombong berubah menjadi seorang yang kesakitan, buta dan tidak berdaya serta tinggal di rumah Ananias, yang merupakan orang Kristen yang dicarinya untuk ditangkap. Dan setelah disembuhkan, Saulus mempelajari Jalan Tuhan dan kemudian berubah menjadi pemberita Injil, dan selanjutnya Saulus menjadi Paulus yang memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi. Paulus menjadi sosok luar biasa yang menjadi Bapak Gereja, Bapak Teologi, Teladan yang baik, Keberanian yang luar biasa dan Alat Kemuliaannya.

Topik 2

Subjek: Panggilan Pelayanan

Paulus memiliki pengetahuan yang cukup dalam tentang taurat dan bangsa Yahudi, mengapa justru fokus pelayanan Paulus lebih kepada bangsa-bangsa yang bukan Yahudi? Mengapa demikian?

Karena latar belakang Paulus sebagai orang Yahudi seringkali menyulitkan dan menimbulkan penolakan yang tajam dalam pemberitaan Injil. Orang-orang Yahudi yang mengenal Paulus ingin menghukum Paulus dan membunuhnya karena ia berubah menjadi pengikut Kristus. Bangsa Yahudi juga merupakan bangsa yang bebal, mereka tetap menganggap ajaran mereka yang paling benar dan tidak percaya akan Mesias yang sudah datang itu. Kondisi ini menyadarkan Paulus akan panggilannya untuk melayani bangsa bukan Yahudi yang lebih menerimanya dan tidak menolak pemberitaan Injil yang disampaikannya oleh sebab dirinya orang Yahudi, dan pengetahuannya yang dalam tentang Taurat menjadi lebih efektif untuk mendasari pemberitaan Injilnya.

Selanjutnya latar belakang Paulus sebagai orang yang memiliki kewarganegaraan Romawi (Kis. 22:3,27) memudahkannya bepergian untuk memberitakan Injil kepada seluruh penjuru dunia, berbeda dengan para rasul murid Tuhan Yesus yang hanya berkutat disekitar Yerusalem. Paulus dapat dengan mudah keluar masuk wilayah yang sangat luas sampai Eropa dalam pelayanannya kepada orang-orang non-Yahudi. Selain memiliki pengetahuan yang sangat baik tentang hukum Taurat, Paulus juga memiliki pengetahuan akan budaya non Yahudi dikarenakan di kota kelahirannya Tarsus, berdiam banyak orang dari bangsa-bangsa lain yang pada akhirnya berpengaruh pada pola pikirnya.

Paulus juga memahami dengan baik filsafat Yunani sehingga ia dapat memenangkan orang pandai di Yunani dan orang berkuasa di Roma dan orang Yahudi juga dan orang biasa di tempat2 umum. Kemampuan filsafat ini karena Paulus mempunyai pendidikan yang sangat baik, yang dapat kita kenali dari setiap tulisannya, tata-bahasa dan intelektualnya sehingga mampu berhadapan dengan para petinggi pemerintah dan golongan untuk berdialog, bersaksi dan memberitakan injil. Terbukti petinggi negara Gubernur Pafos Sergius Paulus, Dionisius majelis Areopagus dan beberapa anggota serta kawan-kawannya bergabung dengan Paulus, lalu Wali negeri Feliks, Perkius Festus, Raja Agripa, dan lain sebagainya.

Paulus juga merupakan seorang rasul yang dewasa dsn bijaksana secara rohani melalui pengalaman spiritual yang luar biasa, berbeda dengan rasul-rasul yang lain dan mendapatkan penyataan Allah tentang pelayanannya kepada bangsa-bangsa non-Yahudi. Sehingga dalam pelayanannya dia bukan hanya memberitakan Injil, tapi juga menggembalakan iman mereka dengan cara menanyakan kembali orang-orang yang diinjillinya itu, sehingga mereka yang telah menjadi Kristen baru tidak lemah iman dan akhirnya bisa sesat/berbalik ke jalan yang lama.

Rangkuman Diskusi KRP Termin II

Topik 1
-------
Subjek: Penginjilan Paulus

Dari perjalanan misi Paulus yang pertama, kedua dan ketiga, metode penginjilan apa yang Anda pelajari dari Paulus?

Paulus adalah orang yang Setia pada visi -- "Kis.26:19 Sebab itu, ya raja Agripa, kepada penglihatan (visi) yang dari sorga itu tidak pernah aku tidak taat." Paulus memiliki keberanian yang radikal dalam memberitakan Injil -- "Dan Saulus ..... dan dengan keberanian mengajar dalam nama Tuhan (Kis.9:28)." Paulus seorang yang rela berkorban dalam pelayanannya -- "Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku. (Kis.20:34)". Paulus adalah orang yang menggandalkan Tuhan. Ia meminta hikmat dari Tuhan dalam menggunakan dan menempatkan pengetahuan sesuai budaya masyarakat yang dilayani 1 Kor 9:20. "Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat." Paulus dalam pelayanannya, siap mati jika memang itu kehenak Tuhan. "Sebab aku ini rela bukan saja untuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem oleh karena nama Tuhan Yesus." (Kis.21:13). Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. (2 Tim.4:6)." Paulus selalu berdoa dan bertekun dalam Firman -- Penginjilan yang efektif yang diajarkan Paulus dimulai dengan memenangkan keluarga, kerabat, teman. Setelah itu Paulus tidak meninggalkan mereka, tetapi menuntun, mengajar, bahkan memuridkan, dilanjutkan dengan pendirian jemaat baru. Dan selama hidup Paulus terus memantau perkembangannya.

Paulus adalah seorang motifator -- Dibalik sikap Paulus yang tegas dia juga seorang yang lemah lembut, penuh pengertian dan tidak suka menjadi beban bagi jemaat Tuhan. Dia bahkan bekerja sebagai pembuat Kemah dengan Akwila untuk mendirikan jemaat lokal disana serta memenuhi keperluan sehari-harinya, tanpa memberatkan jemaat sama sekali, dia rela merendahkan dirinya asal saja injil bisa disampaikan untuk siapa saja, baik suku maupun golongan. Sering memberikan semangat bagi murid-muridnya yang dalam kesulitan, bahkan dia juga siap menolong siapa saja yang membutuhkan. Paulus siap menjadi seorang guru untuk mendidik, serta membina orang-orang yang ingin dibina menjadi murid Tuhan hingga mengerti dan tetap bersemangat dalam melakukan tugas mulia itu sebagai kesempatan yang terhormat dari Tuhan sebagai orang yang khusus, dipercayakan sebagai pembawa kabar keselamatan.

Paulus juga memiliki sikap yang tegas -- Paulus tidak segan untuk menentang atau melawan arus bagi orang-orang yang bisa membelokan jalan Tuhan, para Farisi dan Saduki, guru-guru palsu, nabi-nabi palsu sampai pada penyesat-penyesat. Setiap metode diterapkan pertama-tama untuk orang sekitar kita atau terdekat, kemudian mulai merambah keluar, dengan tetap berpegang Ada misi, visi dan pimpinan Tuhan dalam setiap tindakan serta bisa menguasai diri dalam segala hal sebagai gembala, penginjil dan anak-anak terang.

Topik 2
-------
Subjek: Surat-surat Paulus

Menurut Anda termasuk golongan manakah surat-surat Paulus, doktrinal atau penggembalaan? Mengapa?

Surat-surat Paulus sifatnya Doktrinal sekaligus juga Penggembalaan. Keduanya sulit dipisahkan, karena dalam surat-surat Paulus sering saling melengkapi antara Doktrinal dan Penggembalaan. Surat Roma lebih kental dengan Doktrin tapi ada juga bagian-bagian yang berisi petunjuk hidup Praktis. Kalau kita lihat jenis literatur dalam surat Paulus masuk dalam kategori doktrinal dan pastoral. Kedua-duanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan memiliki hubungan satu dengan yang lainnya baik yang bersifat doktrin maupun praktis. Dalam surat-surat pastoralnya, Paulus juga memberikan beberapa hal yang bersifat penekanan doktrinal. Kenyataan ini menyatakan bahwa surat-surat Paulus biasanya ditulis untuk menanggapi situasi-situasi khusus dalam gereja, khususnya Paulus membicarakan banyak hal berdasarkan kebutuhan yang muncul dalam gereja yang membutuhkan petunjuknya. Jadi kesimpulannya adalah golongan surat-surat Paulus masuk dalam kategori hal-hal yang bersifat praktis maupun doktrinal.

Surat-surat Paulus banyak berisi tentang pengajaran pertumbuhan iman dan nasehat kepada jemaatnya, temannya, maupun muridnya berdasarkan kebutuhan yang muncul dalam gereja maupun dalam kehidupan sehari-hari. Surat-surat Paulus adalah surat penggembalaan yang ditujukan kepada perorangan dan gereja lokal, namun di dalamnya terkandung ajaran-ajaran doktrin dasar kekristenan. Kalau kita semua mau lebih maju lagi dalam diskusi ini, apa saja yang diajarkan Paulus sebagai:- Doktrin dasar kekristenan (pengajaran yang tetap tidak berubah oleh waktu dan situasi). Dan yang termasuk solusi praktis situasional (artinya solusi ini sesuai saat itu dan belum tentu sesuai saat ini tetapi dapat dijadikan referensi).

Ada beberapa surat yang merupakan surat doktrinal dan ada beberapa yang merupakan surat penggembalaan. Yang menarik adalah bagaimana Rasul Paulus menghubungkan antara doktrin keselamatan dan petunjuk/nasehat-nasehat praktis, sehingga bisa menjembatani jarak antara doktrin dan pelaksanaan dalam kehidupan sehari-hari. Doktrin merupakan dasar pengajaran, tetapi juga dilengkapi dengan petunjuk praktis untuk melaksanakannya. Inti dari surat-surat Paulus ialah, berupa surat-surat kiriman (surat-surat gembala/penggembalaan), disebut juga dalam pembagian Alkitab (Terminologi), hampir semua surat Paulus dikategorikan surat-surat kiriman, kecuali Kisah Rasul. Namun kalau kita simak lebih dalam semua surat-surat Paulus mengandung pengajaran, sedang sebutan pengajar adalah seorang Guru, maka kita kenal sebagai Guru Pengajar "x" atau "a" diambil dari akar kata bahasa aslinya yaitu "didaskalos." "Didaskalos" mempunyai makna yang diajarkan disebut "didaskalia" dan "didaskalia" diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi "doctrine" yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi "Doktrin" Maka sekarang makna Doktrin berarti ajaran, ajaran apa? Yaitu ajaran Kristen/Kristus, yang bertujuan meletakan dasar/pondasi, membangunnya menjadi tatanan yang indah didalam keteraturan (hukum-hukum) kepada frase memuliakan Tuhan. Itulah asal kata doktrin.

Ternyata doktrin banyak kita jumpai dalam surat-surat paulus di dalam penggembalaannya kepada jemaat-jemaat seperti di Korintus dengan tegas Paulus menyatakan dialah Bapa bagi kota tersebut, Paulus meletakan landasan hukum pelayanan mulai dari Dasar bangunan sampai prinsip pelayanan dan Kristologi (ilmu Pengetahuan mengenai Doktrin Allah). Kemudian di Galatia, Paulus mengajarkan mengenai prinsip Anak kembali kepada Bapa menerangkan Penyatuan antara roh manusia dan Roh Allah yang diam di dalam manusia sebagai bukti pendamaian manusia dengan Tuhan lewat Kristus, kemudian buah-buah Roh, dan perbedaan antara daging dengan roh. Di Efesus melandasi keselamatan adalah Kasih Karunia, di Filipi menasehati agar jemaat hidup "saling" di dalam segala hal, Kolose Paulus megajarkan juga prinsip berakar, bertumbuh hingga berbuah dan Di Tesalonika Paulus mengajar untuk selalu bersyukur dan menerangkan tanda-tanda Kedatangan Tuhan. Surat kepada Timotius, menjelaskan prinsip pengembalaan dan prinsip melayani sebagai pelayan Tuhan. Menurut fakta surat-surat Rasul Paulus bernada Penggembalaan yang men- "didaskalia" jemaat bertujuan melandasi ajaran Tuhan dan memuliakan Tuhan.

Rangkuman Kelas Diskusi KRP Termin III

Topik 1
-------
Subjek: Kesulitan pelayanan

Kesulitan-kesulitan terbesar apakah yang dihadapi oleh Rasul Paulus selama dalam pelayanannya? Dan apa yang dilakukannya untuk menghadapi segala kesulitan tersebut?

Kesulitan-kesulitan terbesar yang dihadapi oleh Rasul Paulus selama dalam pelayanannya, antara lain:
- Penolakkan dari bangsanya sendiri (Yahudi).
- Ajaran Paulus dianggap sesat, datang dari orang Yahudi sendiri.
- Ajaran palsu/bidat yang masuk dalam jemaat (seperti jemaat Galatia).
- Pencampur-adukan ajaran Kristen dengan tradisi Yahudi (seperti sunat bagi non-Yahudi, memelihara hari-hari tertentu).
- Penyesatan-penyesatan yang menyusup diantara jemaat.
- Kecurigaan jemaat Kristen yang berkaitan dengan masa lalu sebagai penganiaya jemaat. Mereka membenci dan menjauhi Paulus.
- Keabsahan Paulus sebagai rasul yang diragukan oleh jemaat yang dirintisnya sendiri (seperti jemaat Korintus).
- Duri dalam dagingnya, mungkin penyakit atau gangguan kesehatan yang diderita Paulus.
- Siksaan, aniaya, pemenjaraan dan bahaya selama perjalanan.
- Tuduhan Paulus berniat untuk menjatuhkan pemerintahan Romawi.

Yang dilakukan Paulus untuk menghadapi segala kesulitan dalam pelayanannya adalah:
- Paulus memerhatikan hal-hal yang positif, yaitu memusatkan perhatiannya pada orang-orang yang terbuka untuk menerima berita Injil bukan orang-orang yang menentangnya.
- Paulus tidak hanya asal melayani, melainkan melayani dengan segenap hati dan kerinduan untuk bisa terus menguatkan jemaat yang dia layani.
- Paulus juga memerhatikan pengharapan akan masa depan, yaitu bahwa hasil pelayanannya merupakan kebanggaan saat Tuhan Yesus datang kembali untuk kedua kalinya.
- Paulus berserah dalam kasih karunia Tuhan (2 Kor 12:9-10), mengikuti teladan Yesus Kristus, dan selalu mendengar pimpinan/penyertaan Tuhan.
- Paulus menghadapinya dengan kerelaan hati dan bergantung kepada kekuatan Tuhan.
- Paulus selalu menjaga kemurnian hati dan rela hidup dalam kesulitan.
- Paulus berdoa supaya mendapat keberanian untuk menyatakan Injil.
- Paulus terfokus untuk mempersembahkan dirinya bagi kemuliaan Allah dan pada panggilan pelayanannya.
- Paulus tidak mengeluh saat mendapat perlawanan, numun memusatkan perhatian pada orang-orang yang terbuka untuk menerima berita Injil kerajaan Allah untuk semua bangsa.
- Paulus tidak memikirkan dirinya, tetapi mengalihkan pemikirannya untuk menguatkan jemaat untuk setia pada ajarannya, mengingatkan penilik-penilik jemaat untuk memelihara jemaat, dan Paulus juga memberikan contoh untuk tidak menjadi beban Jemaat.

Topik 2
-------
Subjek: Pandangan Paulus

Bagaimana pandangan Paulus tentang kedudukan wanita dalam gereja? Mengapa Paulus mengharuskan jemaat wanita untuk memakai tudung (1Kor. 11:5-15)? Mengapa Paulus tidak setuju wanita berbicara di depan jemaat (1Kor. 14:34-35)?

Pandangan Paulus tentang kedudukan wanita dalam gereja adalah adalah sama dengan laki-laki, karena keduanya sama di mata Tuhan (1 Kor. 11:1-12). Namun Paulus mengajarkan supaya apa yang dilakukan wanita Kristen tidak bertentangan dengan norma/aturan yang berlaku di masyarakat dan tidak menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah imannya. Paulus tetap menghormati kedudukan wanita tetapi ia tidak membongkar norma kemasyarakatan, yaitu bahwa wanita adalah penolong yang sepadan bagi suaminya, ia harus tunduk dan taat kepada suaminya. Jadi, kesamaan kedudukan antara laki-laki dan perempuan dalam gereja harus dipahami dalam situasi budaya dan norma masyarakat, sehingga tidak menimbulkan pandangan yang buruk terhadap gereja dan ajarannya.

Paulus mengharuskan jemaat wanita untuk memakai tudung (1Kor. 11:5-15)
sebab Paulus tidak mengabaikan ajaran yahudi pada zaman tersebut, supaya orang-orang percaya tidak menjadi batu sandungan karena bertentangan dengan adat istiadatnya atau etika secara umum.
Paulus dipengaruhi oleh adat kuno yahudi tentang cara berpakaian wanita, sehingga dia mangharuskan wanita bertudung pada zaman itu. Pemakaian kerudung merupakan tanda bagi perempuan yang menjaga kesucian hidupnya, sehingga hal ini akan membedakan antara perempuan Kristen dengan perempuan yang tidak mengenal Tuhan atau perempuan yang hidupnya tidak senonoh/suka pesta pora. Pemakaian kerudung menggambarkan cara hidup yang sederhana dan menjaga kekudusan hidup. Sebab perempuan yang tidak memakai kerudung pada masa itu identik dengan pelacur dan bukan wanita baik-baik. Ajaran Paulus itu juga dimaksudkan untuk menjaga martabat kaum perempuan itu sendiri, serta juga dimaksudkan sebagai bentuk kesaksian umat Kristus dalam tampilan lahiriahnya yang sopan dan tertib.

Paulus tidak setuju wanita berbicara di depan jemaat (1 Kor. 14:34-35) karena pada zaman itu berbicara di depan jemaat adalah peran laki-laki. Namun hal ini bukan berarti seorang perempuan tidak bisa memimpin atau berbicara di depan jemaat, sebab untuk beberapa kebutuhan gereja pada zaman itu perempuan diperkenankan melayani dan berbicara asalkan tidak bertentangan Firman Tuhan dan mengganggu kesopanan. Wanita bisa saja berbicara sebagai pengajar, pemimpin ataupun menjadi gembala, asalkan tetap mengenal diri dan kodratnya. Larangan Paulus dalam hal ini karena dipengaruhi kebiasaan atau gaya berkhotbah pada umumnya, sehingga kurang baik bila seorang wanita mengajar dengan gaya yang menggebu-gebu.

Rangkuman Kelas Diskusi KRP Termin IV

Topik 1
-------
Subjek: Prinsip Hidup

Rasul Paulus mengatakan "Hidup bagiku adalah Kristus", maka bagaimana cara menggerakkan kita agar selalu terdorong untuk melakukan apa yang penting bagi Tuhan, dan bukan apa yang dianggap penting bagi diri sendiri? Dan bagaimana cara menghadirkan semangat pelayanan Paulus dalam konteks pelayanan masa kini?

Tuhan Yesus sudah mengajarkan dengan sederhana dalam Yoh 15:5; "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Diluar Kristus kita tidak bisa berbuat apa-apa." Intinya kehidupan kita harus selalu didalam persekutuan dengan Kristus. Semangat pelayanan kita seharunya selalu untuk Kristus. Untuk membangun tubuh Kristus yang seutuhnya. Pelayanan adalah buah dari persekutun dengan Kristus, jadi semangatnya adalah persekutuan di dalam Kristus, sehingga kita selalu terdorong untuk berbuat (melayani) yang terbaik untuk Tuhan Yesus. Firman Tuhan berkata agar kita dengan segenap hati melayani Tuhan (Efesus 6:6-7). Sesungguhnya Tuhan menginginkan agar kita melayani-Nya dengan penuh kerinduan, bukan hanya karena kewajiban belaka. Semestinya kapanpun kita melakukan pelayanan, kita mengerjakannya dengan sukacita dan sepenuh hati maka kita akan mengerjakannya dengan sebaik-baiknya. Rasul Paulus memegang prinsip "Hidup bagiku adalah Kristus". Pelayanannya hanya untuk Kemuliaan Tuhan. Paulus justru menghadapinya dengan penuh pengharapan.

Pelayanan kita harusnya berawal dari apa yang kita pikirkan. Maka diperlukan perubahan mental, suatu perubahan yang mendasari sikap kita. Harusnya sikap lebih berarti daripada pencapaian. Sebagai orang yang melayani harusnya kita lebih mengutamakan orang lain bukan diri kita sendiri. Karena terkadang kita melayani orang lain hanya agar orang menyukai kita, supaya dikagumi atau supaya mencapai tujuan pribadi kita sendiri. Kita melayani atas dasar kasih dan anugerah Tuhan. Tuhan memakai Paulus untuk menyampaikan kabar baik ini kepada seluruh umat manusia oleh karena pengharapan yang disediakan bagi manusia untuk memperoleh hidup kekal. Tentang pengharapan itu telah lebih dahulu kamu dengar dalam firman kebenaran, yaitu Injil (1 kol 1:5), sehingga Paulus pun sangat bersemangat dalam meneladani Amanat Agung untuk melakukan kehendak Dia dan menyelesaikan pekerjaan-Nya sama seperti yang dilakukan Tuhan Yesus.

Ketika kita mengerti bahwa hidup kita ini sepenuhnya karena anugerah Tuhan, maka kita memiliki pemikiran bahwa tanpa Tuhan, kita tidak dapat melakukan apa-apa. Maka dari itu kita wajib mengucap syukur dan menyadari sepenuhnya bahwa hidup itu bergantung kepada kemurahan Tuhan.

Topik 2
-------
Subjek: Teladan Paulus

Apa yang menjadi kunci keberhasilan pelayanan dan hidup Rasul Paulus? Teladan apa saja yang bisa kita ambil dan aplikasikan dalam hidup dan pelayanan kita?

Kunci keberhasilan pelayanan dan hidup Rasul Paulus adalah mengerti dan menggenapi panggilan yang diberikan kepadanya. Dan hidup berserah pada pimpinan Roh Kudus. Paulus menyandarkan semua keyakinannya dan kepasrahannya kepada Kristus, sekalipun ia tahu, akan menghadapi banyak kesulitan.

Teladan Paulus yang menjadi kunci keberhasilan pelayanan dan hidup Rasul Paulus yaitu Paulus berserah dan percaya sepenuhnya akan Yesus Kristus, melayani dengan sepenuh hati, melupakan keinginan pribadi. Teladan yang bisa kita ambil dan aplikasikan dalam hidup dan pelayanan kita adalah seperti Rasul Paulus yang sadar bahwa yang terutama adalah bekerja untuk Yesus, kita pun juga harus demikian dan sadar bahwa Tuhan tetap menyertai kita walaupun semua doa-doa kita ada yang tidak dijawab Tuhan, tidak memaksakan kehendak kita kepada Tuhan, ada mujizat atau tidak ada mujizat, kita harus tetap yakin Tuhan Yesus mencintai dan selalu menyertai kita. Kita juga harus bertekun, sabar, dan tetap menyadari kalau kita yang sudah diselamatkan oleh darah Kristus artinya kita adalah milik Kristus.

Figur Paulus memang layak kita kedepankan karena dia adalah pribadi yang patut menjadi teladan atau panutan bagi semua orang Kristen, terutama bagi para pelayan Tuhan. Paulus telah menunjukkan integritasnya dalam hal melayani Tuhan; pelayanan Rasul Paulus sungguh luar biasa. Sejak pertobatannya dia selalu giat dalam pekerjaan Tuhan, bahkan seluruh hidupnya dipersembahkan melayani pekerjaan Tuhan. Kemanapun dan dimanapun Tuhan mengutus, dia tidak pernah menolak atau keberatan meskipun jauh jarak yang harus ia tempuh, ia tetap bersemangat dalam memenuhi panggilannya. Dalam perjalanan pelayanannya harus ia tempuh dengan berjalan kaki. Paulus tidak pernah mengeluh, apalagi menyerah, seperti yang dia katakan, "Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut." (2 Korintus 11:23-25). Sungguh , tidak dapat kita bayangkan betapa berat perjuangan Paulus memberitakan Injil. Namun Rasul Paulus adalah seorang pekerja keras; dengan tanggung jawab pelayanan yang begitu berat, ia masih bekerja mencukupi kebutuhan hidupnya, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk kawan-kawan sekerjanya. Dengan bekerja keras Paulus hendak memberikan teladan secara nyata kepada rekan sepelayannya agar hidup mereka tidak menjadi beban bagi orang lain.

Semangat dalam pelayanan seperti yang diteladankan Paulus wajib kita contoh, karena tidak banyak orang yang memiliki keteguhan dalam pelayanan seperti yang diajarkan oleh Paulus, apalagi dizaman sekarang ini. Kesetiaannya dalam mengikut Tuhan, walau harus sampai disiksa, dipenjara, dia tetap berpegang teguh & setia pada Tuhan. Perhatiannya terhadap kehidupan jemaat yang dirintisnya, meski dia didalam penjara, dia tetap mengirim surat-surat untuk memberi nasehat dan menguatkan. Tidak bergantung pada orang lain untuk mencukupkan kebutuhan hidupnya dia tetap bekerja mencari nafkah. Rasul Paulus sangat memegang teguh apa yang diyakininya. Dengan komitmennya itu ia mendisplin dirinya untuk maju didalam panggilan dan melayani Kristus. Tanpa hidup di dalam Kristus dan menuruti Firman-Nya, maka manusia tetap hidup dalam kutuk. Kuncinya adalah Kristus dan teladan Paulus adalah mempercayainya, melakukan Firman, menyangkal dirinya, mengubah pola pikirnya, memperbarui visi hidupnya.

Umum: 

Komentar