Mengapa Mempelajari Alkitab dalam Konteksnya Itu Penting?

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Mempelajari bagian-bagian dan kisah-kisah Alkitab dalam konteksnya itu penting. Mengambil ayat keluar dari konteksnya akan menuntun ke segala jenis kesalahan dan kesalahpahaman. Memahami konteks dimulai dengan empat prinsip: makna literal (apa yang dikatakan), latar belakang sejarah (peristiwa dalam cerita, kepada siapa ia ditujukan, dan bagaimana ia dipahami pada masa itu), tata bahasa (kalimat dan paragraf terdekat tempat suatu kata atau frasa ditemukan), dan sintesis (membandingkannya dengan bagian lain dari Kitab Suci untuk mendapatkan pemahaman yang lebih utuh). Konteks sangat penting dalam eksegesis Alkitab karena itu merupakan salah satu dasar yang paling fundamental. Setelah kita memerhatikan sifat literal, historis, dan tata bahasa dari suatu bagian, selanjutnya kita perlu berfokus pada garis besar dan struktur kitab tersebut, kemudian pasalnya, lalu paragrafnya. Semua hal ini mengacu pada "konteks". Sebagai ilustrasi, itu ibarat melihat Google Maps, kemudian memperbesar tampilan untuk melihat satu rumah.

Alkitab

Mengambil frasa dan ayat keluar dari konteks selalu menuntun ke kesalahpahaman. Sebagai contoh, dengan mengambil frasa "Allah itu kasih" (1 Yohanes 4:7-16) keluar dari konteksnya, kita bisa saja tiba kepada pemikiran bahwa Allah kita selalu mengasihi segala sesuatu dan semua orang dengan kasih yang romantis dan mengalir deras. Namun, dalam konteks literal dan tata bahasanya, "kasih" yang dimaksud di sini mengacu kepada kasih agape, yang intinya adalah pengorbanan demi kebaikan orang lain, bukan kasih yang romantis dan sentimental. Konteks sejarahnya juga penting karena Yohanes sedang berbicara kepada orang percaya di gereja pada abad pertama dan berpesan kepada mereka bukan tentang kasih Allah secara persis, melainkan tentang bagaimana membedakan antara orang percaya yang sejati dan guru-guru palsu. Kasih sejati -- kasih yang berkorban dan bermanfaat -- adalah penanda orang Kristen yang sejati (ay. 7), orang yang tidak menunjukkan kasih bukanlah milik Allah (ay. 8), Allah mengasihi kita sebelum kita mengasihi Dia (ay. 9-10), dan semuanya ini adalah alasan mengapa kita harus saling mengasihi dan dengan demikian membuktikan bahwa kita adalah milik kepunyaan-Nya (ay. 11-12).

Lebih jauh lagi, merenungkan frasa "Allah adalah kasih" dalam konteks seluruh Kitab Suci (sintesis) akan mencegah kita tiba pada kesimpulan salah yang terlalu umum bahwa Allah hanyalah kasih atau bahwa kasih Allah lebih besar dari semua sifat-Nya yang lain, yang jelas tidak demikian. Kita tahu dari bagian-bagian kitab yang lain bahwa Allah juga kudus dan adil, setia dan dapat dipercaya, penuh belas kasihan dan suka mengampuni, baik dan penuh kasih sayang, mahakuasa, mahahadir, dan mahatahu, dan banyak lagi. Kita juga tahu dari bagian-bagian lainnya bahwa Allah tidak hanya mengasihi, tetapi Dia juga membenci (dosa).

Alkitab adalah firman Allah, secara harfiah "dinapasi oleh Allah" (2 Timotius 3:16), dan kita diperintahkan untuk membaca, mempelajari, dan memahaminya dengan menggunakan metode studi yang baik dan selalu dengan inspirasi dari Roh Kudus untuk menuntun kita (1 Korintus 2:14). Studi kita ditingkatkan secara hebat dengan menjaga ketekunan untuk menggunakan konteks karena mudah bagi kita untuk tiba pada kesimpulan-kesimpulan yang salah dengan mengambil frasa dan ayat keluar dari konteksnya. Tidaklah sulit untuk menunjukkan tempat-tempat yang tampaknya bertentangan dengan bagian-bagian lain dalam Kitab Suci, tetapi jika kita melihat konteksnya secara hati-hati dan menggunakan keseluruhan Alkitab sebagai rujukan, kita dapat memahami makna bagian tersebut. "Konteks adalah raja" berarti bahwa konteks sering kali mendorong makna suatu frasa. Mengabaikan konteks berarti merugikan diri kita secara luar biasa. (t/Odysius)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Got Questions
Alamat artikel : https://www.gotquestions.org/context-Bible.html
Judul asli artikel : Why is it important to study the Bible in context?
Penulis artikel : Tidak dicantumkan
Kategori: 
Taxonomy upgrade extras: