Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Garam dan Terang Dunia

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Bahasan kita kali ini adalah tentang gambaran apa yang Alkitab katakan mengenai Daniel, yaitu seseorang yang dalam hidupnya Tuhan pakai sebagai garam dan terang dunia, yang di dalamnya prinsip-prinsip ini telah dijadikan dalam bentuk narasi. Dengan prinsip-prinsip ini, diharapkan Saudara dapat menjalani hidup di hadapan Allah, di tengah dunia, sebagai garam dan terang dunia.

Garam dan Terang

Sebelum memahami narasi ini, kita harus mengerti terlebih dahulu apa yang Alkitab tuliskan mengenai sesuatu kalimat, yang kemudian di tempat lain kalimat itu dijabarkan dalam sebuah narasi. Misalnya, dalam Perjanjian Lama, dosa demi dosa yang dilakukan oleh orang-orang Israel, baik utara maupun selatan, sudah begitu banyak dan beragam. Melalui satu nabi, Tuhan mengungkapkan perasaan-Nya hanya dengan menggunakan satu kalimat, yaitu Israel, "Engkau tidak berbuah". Inilah kata yang dipakai untuk menggambarkan prinsip itu secara keseluruhan. Selanjutnya, kita akan melihat ke dalam hidup Daniel untuk memahami prinsip-prinsip kehidupan sebagai garam dan terang dunia.

Pertama, untuk menjadi garam dan terang dunia, kita jangan melupakan panggilan Tuhan yang berdaulat untuk menempatkan kita sesuai dengan isi hati-Nya. Dari cara Daniel menuliskan kitab ini, mulai ayat pertama bab pertama saja, kita sudah dapat melihat kemahiran dan kecerdasan Daniel secara rohani. Di situ dituliskan, "Pada tahun yang ketiga pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda, datanglah Nebukadnezar raja Babel ke Yerusalem, lalu mengepung kota itu. Tuhan menyerahkan Yoyakim ke dalam tangan Nebukadnezar." Pada waktu Daniel menuliskan bab demi bab kitab ini, dia sudah berusia lanjut. Ini adalah sebuah tulisan yang dibuat dengan air mata kepedihan karena dia mengenang kembali peristiwa yang memilukan yang terjadi puluhan tahun silam. Sebuah peristiwa yang begitu menghancurkan hatinya yang dalam pikirannya waktu itu, dia tidak punya harapan lagi. Bisa dibayangkan pada waktu Daniel remaja yang sedang bermain-main bersama teman temannya, tiba-tiba trompet bahaya berbunyi dan dalam sekejap tentara Nebukadnezar mengepung dan menghancurkan seluruh Yerusalem. Orang-orang yang dikasihinya mati, teman-temannya mati, Bait Suci diporak-porandakan, tembok Yerusalem dihancurkan dan darah ada di mana-mana. Meskipun sudah berpuluh-puluh tahun, Daniel pasti mengingat kepedihan itu.

Akan tetapi, ada satu kalimat yang luar biasa, semua itu terjadi karena "Tuhan menyerahkan raja kami Yoyakim kepada Nebukadnezar". Daniel memiliki cara pandang surgawi dalam memandang sejarah hidupnya. Bila kita bertanya kepada Daniel, mengapa Yoyakim kalah? Mengapa engkau dibawa ke Babel tempat kafir itu? Dia tidak mengatakan Yoyakim strategi militernya kurang hebat dibanding Nebukadnezar, dia tidak mengatakan Yoyakim kudanya kurang kuat, tentaranya kurang banyak, atau mengatakan semua alasan yang bisa kita analisis seperti kalau kita membaca berita di koran. Dia hanya melihat seluruh peristiwa sejarah hanya dari sudut pandang takhta Allah.

Mengapa engkau ada di tempat ini? Daniel hanya mengatakan bahwa Tuhan yang membuat kami kalah, dan itulah yang menyebabkan sekarang saya dibuang di tempat ini. Sekarang perhatikan, bila ini adalah intervensi aktif Allah kepada Daniel, maka langsung Daniel tahu bahwa ini adalah "panggilan". "Aku datang ke sini bukan karena Yoyakim yang bodoh, aku datang ke Babel bukan karena Nebukadnezar yang hebat, aku sampai di Babel meskipun aku harus dirantai dan diseret-seret ratusan kilometer, meskipun air mata mengalir, tetapi aku tahu, aku ada di tempat ini karena ini adalah panggilanku."

Orang-orang puritan mengatakan dan mengajarkan kepada kita tentang tempat panggilan Allah. Boleh kita meminta kepada Tuhan, dan pintu dibuka, dan kita masuk ke tempat itu. Terkadang, tempat panggilan Allah adalah tempat Allah menyeret kita masuk ke satu tempat yang bahkan kita tidak suka, tetapi itu pun adalah tempat panggilan Allah. Ada orang yang bercita-cita pergi ke Australia, atau ke Amerika, dia berdoa dan berusaha mendapatkan PR, dan kemudian pintu itu dibuka dan dia masuk ke dalamnya, itu adalah tempat panggilan Allah. Ada juga misalnya pada kerusuhan Mei 1998, banyak orang dibunuh, toko-toko dibakar, ada beberapa orang, yang mau tidak mau, harus keluar dari Indonesia dan di tengah segala kerumitan itu akhirnya mereka harus pergi ke Australia dan tinggal di sana, itupun adalah panggilan Allah. "And we know that for those who love God all things work together for good, for those who are called according to his purpose." (Romans 8:28, ESV) Segala sesuatu berarti termasuk juga yang positif dan yang negatif, bekerja bersama-sama untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Ada orang yang harus keluar dari perusahaannya karena pengurangan karyawan, dia berpikir bahwa dia sudah dilupakan oleh Tuhan. Tidak, tetapi Tuhan menaruhnya di tempat yang lain, dan itu adalah panggilan.

Daniel

Terkadang, kita membayangkan panggilan itu seperti yang dialami Yunus atau Yesaya, yaitu dengan kalimat Tuhan yang begitu jelas. Namun, ada panggilan-panggilan, seperti yang dituliskan di dalam Alkitab, terjadi karena Tuhan bekerja dengan tangan yang tidak terlihat memaksa kita memasuki suatu keadaan. Hasilnya banyak orang yang kecewa dengan peristiwa yang terjadi puluhan tahun lalu. Namun, dalam konteks Daniel, dia tidak terjebak dengan masa lalunya. Dia tahu ini adalah panggilan. Dia menyadarinya sehingga dia harus hidup benar di hadapan Allah, melakukan kejujuran, presisi dalam bekerja, dan menjadi orang yang "excellent" di Babel.

Orang yang mengerti panggilan, yang mengerti tugas yang diberikan oleh Tuhan, dia memiliki kuasa, tenaga, dan hati yang mendorongnya untuk melakukan hal yang terbaik yang tidak mengecewakan pemanggilnya, yaitu Allah. Dua ayat pertama kitab Daniel menyatakan kepahitannya sekaligus rasa syukurnya kepada Tuhan yang bekerja dalam hidupnya. Meskipun dia diseret dan tidak rela dibawa ke Babel, tetapi dia percaya Tuhan bekerja di dalam hidupnya. Ketika Tuhan sudah memanggil, Dia berhak memanggil dengan cara apa pun dan menempatkan kita di mana pun. Tidak ada tempat kita bisa melayani semau sendiri, Dialah yang menentukan tempat kita melayani.

Kedua, menjadi garam dan terang dunia berarti menjaga kemurnian dan kesucian. "Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang." (Matius 5:13) Di alam, begitu banyak pengaruh mineral lain yang bisa berikatan dengan NaCl yang bila bergabung menjadi satu, maka batuan garam itu tidak lagi terasa asin. Ini adalah soal kemurnian, biarlah kita selalu meminta belas kasihan Tuhan agar kita terus-menerus diingatkan untuk memiliki hati yang murni dan motivasi yang murni. Inilah yang juga selalu saya bicarakan kepada diri, keluarga, dan jemaat saya agar kita mempunyai hati dan motivasi yang tulus, jujur, dan terbuka di hadapan Allah dan sesama kita. Cerita Pdt. Budy kemarin mengatakan bahwa baik "mobile phone" maupun komputernya bebas untuk dilihat oleh anak dan istrinya, tidak ada satu pun yang disembunyikan. Harus ada kejujuran dan ketulusan dalam mengelola uang gereja, begitu juga harus ada kemurnian dan kebenaran dalam menjaga teologi. Bila tidak, tidak ada bedanya dengan prinsip-prinsip kerja dan pengelolaan menurut dunia. Kita harus meminta kepada Tuhan agar terus diberikan hati yang murni.

Namun, harap diperhatikan, waktulah yang akan menyerongkan kita. Dahulu, pada waktu muda masih berapi-api, sekarang setelah menjadi tua seakan menjadi layu. Dahulu, pada waktu muda murni, setelah menjadi tua berkompromi. Hal itu terus terjadi, dan Alkitab hanya mengatakan, "Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang."

Kita harus hidup suci karena kesucian adalah inti dari pribadi Allah. Dalam kitab Yesaya dan Wahyu, satu kata yang berkaitan dengan sifat Allah yang diulang sampai tiga kali adalah kata "suci". Allah itu kasih, tetapi kata kasih itu tidak pernah diulang sampai tiga kali. Allah itu murah hati, tetapi kata murah hati tidak pernah diulang sampai tiga kali. Suci adalah satu-satunya sifat Allah yang diulang sampai tiga kali, dan dalam konteks sesungguhnya, hal ini berkaitan dengan sesuatu yang superlatif, yang berkenaan dengan Tritunggal, serta berkenaan dengan inti pribadi Allah, yaitu kesucian.

Jauh lebih dalam, semua dari kita mengerti konteks kesucian, terutama dalam masalah-masalah seksual. Namun, marilah kita pikir baik-baik, apa arti di balik kesucian itu. Suci adalah "Qadosh", yaitu hidup yang dipisahkan untuk didedikasikan bagi Allah. Kita diletakkan di dunia ini, Kristus juga ada di dalam dunia ini, tetapi kita bukan milik dunia ini. Kita memang berada di dunia ini, tetapi hati kita dan arah hidup kita dipisahkan secara rohani bukan secara spatial (space), hidup kita hanya dimiliki dan hanya didedikasikan hanya bagi Allah.

Marilah kita lihat aplikasinya dalam Daniel. Pada waktu itu, Daniel diubah namanya, identitasnya, tidak hanya itu, bahasa dan tulisannya juga diubah, diberikan ilmu pengetahuan Babel. Sebenarnya, bila seseorang tidak kuat dalam imannya, orang itu pasti akan kehilangan identitasnya. Banyak orang keluar dari Indonesia, kuliah di Australia atau Amerika, maka dalam empat tahun saja, ketika pulang, dia lebih suka berbahasa Inggris dibanding bahasa Indonesia. Saya tidak katakan itu berdosa, tetapi dia sudah mulai menyukai gaya yang lain, mulai menyukai makanan yang lain, gaya hidup yang lain, prinsip hidup yang lain, dan celakanya banyak dari mereka yang setelah kembali ke Indonesia mulai melakukan pembedaan, "Oh ... dia lulusan lokal, nothing!" Orang seperti ini mulai kehilangan identitasnya, dia berpikir identitasnya lebih tinggi daripada orang lain yang diciptakan oleh Tuhan. Itu baru empat tahun, bagaimana dengan Daniel yang menghabiskan mungkin 60 atau 70 tahun di Babel? Dia melayani 5 atau 6 raja, tetapi dia tetap kuat dalam identitasnya.

Perhatikanlah baik-baik hal ini, ada satu tawaran yang ditolak Daniel, yaitu dalam soal makanan. Dia tidak mau, dia tetap makan sayur. Beberapa penafsir mengatakan karena sangat mungkin makanan itu mengandung hal-hal yang haram atau makanan itu sendiri sudah dipersembahkan kepada dewa-dewi Babel. Namun, jikalau seperti itu, pertanyaannya adalah mengapa Nehemia tetap mau menjadi juru minuman raja, dan Allah tidak menyalahkannya? Secara kerohanian, apa sebenarnya yang terjadi? Dalam hal ini, Daniel sedang memberikan keputusan hati dan perjanjian pribadi dengan Allah yang berdaulat. Biarlah kita boleh mengerti bahwa hidup kudus bukan cuma berarti tidak menonton video porno, atau tidak mencuri uang, atau tidak korupsi. Dalam konteks hidup kudus, orang yang semakin mengenal Tuhan dalam hatinya diberikan suatu kesaksian oleh Roh Kudus sehingga dia bisa mengkhususkan sesuatu, tidak menjamah sesuatu, tidak melakukan sesuatu, tidak mengambil sesuatu, bukan karena sesuatu itu dosa, tetapi dia mau mendedikasikan sesuatu karena dia adalah milik Allah. Itu adalah hidup yang dipisahkan untuk didedikasikan bagi Allah. Itu adalah hidup suci. Suatu hari, ketika Tuhan memberikan pertumbuhan rohani, di situlah Saudara mengerti bahwa Tuhan menghendaki agar sesuatu itu Saudara singkirkan, walaupun sesuatu itu sama sekali bukan dosa. Sesuatu itulah yang menyangkut hidup Saudara yang didedikasikan bagi Allah.

George Muller adalah seorang yang dipakai oleh Tuhan untuk mengelola panti asuhan yang menampung sekitar 10.000 anak. Dia adalah orang bergantung terus-menerus kepada Kristus. Suatu hari, juru masaknya berkata, "Pak, kita sudah tidak punya bahan makanan lagi, bagaimana untuk makan besok?" George Muller hanya menjawab, "Baik, terima kasih sudah memberi tahu." Seperti biasa George Muller akan berlutut dan berdoa karena dia sangat bergantung kepada Kristus. Keesokan harinya, pada saat anak-anak sudah berkumpul di ruang makan yang besar itu, ketika piring-piring dan sendok sudah disiapkan, George Muller seperti biasa berkata, "Anak-anak, marilah kita berdoa." Pada saat doa selesai dan membuka mata, terdengar suara pintu diketuk. Ketika dibuka, ada seseorang membawa satu karung roti. Dia diminta atasannya untuk mengantar roti itu ke panti asuhan. George Muller tersenyum dan mengambil roti itu, dan semua anak makan pada pagi itu. Hal semacam itu berkali-kali terjadi dalam hidupnya.

Pada suatu ketika, George Muller menyadari bahwa keuangan panti asuhannya sudah menipis, boleh dikatakan mau habis. Dia berdoa kepada Tuhan. Kemudian, tidak lama datang seseorang asing mengetuk pintu. Dia datang dari satu kota, diminta oleh tuannya untuk mengantar sesuatu untuk George Muller. Ketika dia melihatnya, ada uang yang begitu banyak di dalamnya. Pertama, dia berpikir ini adalah jawaban Tuhan atas doanya. Ketika dia mau mengambil uang itu dan mau mengucapkan terima kasih, tiba-tiba Roh Kudus menegur hatinya dengan begitu keras sampai jantungnya berdebar-debar. Dia mulai sadar, dan menyuruh orang itu untuk menunggunya sebentar. Dia pergi ke kamarnya dan berlutut lagi, dia bertanya kepada Tuhan. Setelah beberapa saat, dia keluar lagi dan menyampaikan maafnya karena tidak bisa menerima uang itu. Mengapa George Muller tidak mau menerimanya? Padahal uang itu bukan hasil curian atau uang yang tidak beres. Uang itu jauh melebihi dari apa yang dia butuhkan. Kenapa? Karena dia sadar bahwa uang itu, yang bisa mendukungnya dalam beberapa bulan ke depan, menjadikannya tidak akan bergantung lagi kepada Kristus. Dia ingin "union with Christ" adalah tetap untuk selama-lamanya, yang lebih berharga dari apa pun. Untuk itu, dia tidak mau menjamah uang itu, dan itulah bukti bahwa George Muller mendedikasikan hatinya dan hidupnya bagi Allah.

Itulah kesucian. Jangan berpikir bahwa apa yang ada di depan mata boleh kita ambil, jangan berpikir bahwa sesuatu yang ditawarkan kepada kita adalah sesuatu yang boleh kita nikmati. Biarlah kita bisa mengerti prinsip ini bahwa bersekutu dengan Kristus, disertai Dia dan ditopang oleh Dia, adalah hidup yang paling indah dan paling mulia. Daniel tahu prinsip ini sehingga dia tidak mau memegang makanan itu karena dia mau menyerahkan seluruh hidupnya bagi Allah. Dia tahu Allah sanggup menjaganya, dia tahu bahwa dengan memegang prinsip ini, hidupnya akan sulit, tetapi dia akan melihat bahwa Allah beserta dengannya. Dengan memegang prinsip ini, Daniel mengesampingkan hidup duniawinya dan dia mendedikasikan hidupnya hanya bagi Allah.

Ketiga, menjadi garam dan terang dunia harus menyangkal diri, pikul salib, dan mengikuti Kristus, hidup di jalan "kenosis" (Filipi 2:7). Banyak orang mengatakan bahwa mau hidupnya dipakai oleh Tuhan, mau ikut Kristus, tetapi tidak mau menyangkal diri pikul salib dan mengikuti jalan Kristus. Alkitab menyatakan bahwa tidak pernah ada kemuliaan bagi Allah Bapa di surga jikalau kita tidak berjalan di dalam jalan salib. Di dalam Doa Bapa Kami dinyatakan "Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga". Kehendak-Mulah yang jadi bukanlah kehendakku yang jadi, kehendak-Nya mengatasi kehendak kita. Tidak akan ada air mata bila kita memahami bahwa kehendak-Nya dan pribadi-Nya adalah lebih mulia daripada apa pun yang ada di dunia ini. Daniel adalah orang yang memikul salib. Dalam memelajari Alkitab belakangan ini, saya bukan mempelajari sistematika teologi semata, tetapi saya juga mau mengerti "inner sanctum", yaitu hal yang paling dalam, yang dimiliki oleh seseorang yang dipakai Tuhan untuk mempunyai kekuatan dan kuasa untuk hidup bagi Kristus di tengah-tengah dunia ini.

Apa rahasia rohani orang-orang puritan seperti John Bunyan, David Livingstone, William Carrey, dan sebagainya? Bila Saudara perhatikan, mereka menanggung salib dengan melihat bahwa salib itu adalah sebuah kemuliaan dan sukacita yang besar. Lihatlah apa yang menjadi salib tokoh-tokoh Alkitab seperti Yesaya, Yehezkiel, Yeremia, Abraham, dan Maria. Lihatlah salib yang harus di pikul oleh Daniel: sampai mati, dia tidak diperkenankan Allah kembali ke Yerusalem. Orang Israel berbeda dengan kita. Bila orang pergi ke luar negeri, biasanya tidak mau kembali lagi. Orang Israel berbeda. Mereka selalu merindukan untuk pulang ke tanah perjanjian. Daud menuliskan di dalam Mazmur, "Aku sedang bernyanyi di tepi Sungai Babel, kalau aku sampai melupakan Yerusalem, biarlah aku dihukum oleh Allah." (Mazmur 137: 1-6) Orang Israel adalah orang yang mencintai tanahnya karena tanah itu adalah tanah perjanjian yang diberikan oleh Allah sendiri bagi mereka. Semua orang mulai dari Abraham berusaha masuk ke tanah itu; Musa membawa 2,5 juta manusia keluar dari Mesir menuju tanah itu. Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf ingin masuk ke tanah itu, bahkan Yakub sampai mengatakan kepada anak-anaknya untuk mengingat dan berjanji untuk membawa tulang-tulangnya untuk dikubur di tanah itu karena begitu inginnya, karena begitu mencintai tanah itu, karena di situlah dia bertemu dengan Tuhan. Itulah tanah perjanjian, itu adalah kehormatannya. Gerakan zionisme di seluruh dunia adalah keinginan untuk kembali ke tanah itu walaupun harus meneteskan darah demi mendapatkan kembali tanah yang telah diambil Palestina itu. Itulah tanah yang menjadi keinginan terdalam. Namun, setiap orang yang ingin dipakai oleh Tuhan harus rela untuk melepaskan haknya. Kalau memang Tuhan menghendaki, maka itu harus dilepaskan dan Allah tidak mengizinkan Daniel kembali ke tanah itu sampai dia mati.

Saudara sekarang bisa melihat deskripsi dari seseorang yang menjadi garam dan terang dunia; orang itu mau tunduk ke mana saja Tuhan meletakkannya; orang itu mau hidupnya dipisahkan dan didedikasikan bagi Allah dalam kekudusan; dan orang itu mau menyangkal diri memikul salib mengikuti Kristus ke mana saja Dia pimpin. Kiranya hidup kita yang satu kali ini adalah hidup yang dipakai oleh Tuhan.

Audio Garam dan Terang Dunia

Diambil dari:
Nama situs : GRII Melbourne
Alamat situs : http://www.griimelbourne.org/ibadah/kebaktian-minggu/ringkot-details.aspx?id=12762
Judul artikel : Garam dan Terang Dunia
Penulis artikel : Pdt. Agus Marjanto
Tanggal akses : 18 Desember 2019
Kategori: