Apakah Alkitab Mengandung Alegori?

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Alegori adalah sebuah cerita yang karakter-karakter dan/atau peristiwa-peristiwa di dalamnya merupakan simbol yang mewakili peristiwa, gagasan, atau orang lain. Alegori merupakan perangkat sastra yang umum digunakan dalam sepanjang sejarah literatur. Alegori dipakai untuk secara tidak langsung mengungkapkan gagasan yang tidak populer atau kontroversial, mengkritik politik, dan menegur tokoh-tokoh yang berkuasa (mis. Animal Farm karya George Orwell dan Gulliver's Travel karya Jonathan Swift). Pada lain waktu, alegori digunakan untuk mengungkapkan gagasan abstrak atau kebenaran spiritual melalui metafora yang diperluas sehingga menjadikan kebenaran tersebut lebih mudah ditangkap (mis. The Pilgrim's Progress karya John Bunyan dan Hinds' Feet on High Places karya Hannah Hurnard).

Mempelajari Alkitab

Alkitab mengandung banyak contoh alegori yang digunakan untuk menjelaskan kebenaran spiritual atau untuk menunjukkan bayangan terhadap peristiwa yang akan datang. Contoh-contoh alegori yang paling jelas dalam Alkitab adalah berbagai perumpamaan Yesus. Dalam kisah-kisah ini, karakter-karakter dan peristiwa-peristiwa di dalamnya mewakili kebenaran tentang Kerajaan Allah dan kehidupan Kristen. Misalnya, dalam perumpamaan tentang penabur dalam Matius 13:3-9, benih dan jenis-jenis tanah yang berbeda menggambarkan firman Allah dan berbagai respons terhadapnya (sebagaimana yang Yesus jelaskan dalam ayat 18-23).

Kisah tentang Anak yang Hilang juga menggunakan alegori. Dalam kisah ini (Lukas 15:13-32), anak yang hilang tersebut mewakili orang biasa pada umumnya: berdosa dan rentan terhadap keegoisan. Bapa yang kaya mewakili Allah, dan kehidupan keras si anak yang penuh dengan hedonisme dan, pada akhirnya, kemiskinan mewakili kehampaan dari gaya hidup yang tidak saleh. Saat si anak pulang ke rumah dalam penyesalan yang tulus, kita diberi gambaran tentang pertobatan. Dalam belas kasihan sang bapa dan kesediaannya untuk menerima anaknya kembali, kita melihat sukacita Allah saat kita berpaling dari dosa dan mencari pengampunan-Nya.

Dalam kisah-kisah perumpamaan-Nya, Yesus mengajarkan konsep-konsep spiritual yang abstrak (bagaimana orang bereaksi terhadap Injil, belas kasihan Allah, dst.) dalam bentuk metafora yang dekat dengan hidup kita sehari-hari. Contoh-contoh alegori Alkitab lainnya, sebagai bentuk literatur, mencakup penglihatan tentang seekor naga dan perempuan dalam Wahyu 12:1-6; kisah tentang burung rajawali dan kebun anggur dalam Yehezkiel 17; dan banyak dari Amsal, khususnya bagian-bagian yang ditulis dalam paralelisme yang bersifat lambang.

Beberapa tradisi dan upacara yang dilembagakan Allah dalam Alkitab dapat dianggap "alegori nonliteratur" karena hal-hal tersebut menyimbolkan kebenaran-kebenaran spiritual. Tindakan pengorbanan binatang, misalnya, menggambarkan bahwa dosa kita layak dijatuhi hukuman mati, dan setiap pengganti yang dipersembahkan di atas mazbah menggambarkan pengorbanan Kristus, yang akan mati bagi umat-Nya. Lembaga pernikahan, meskipun memiliki tujuan-tujuan praktis yang luar biasa, juga merupakan simbol terhadap relasi antara Kristus dan gereja (Efesus 5:31-32). Banyak dari hukum upacara Musa (terkait pakaian, makanan, dan objek yang suci atau najis) mewakili berbagai realitas spiritual, seperti keharusan bagi orang percaya untuk berbeda dalam roh dan tindak laku dibandingkan dengan orang yang belum percaya. Meski contoh-contoh ini secara sendirinya tidak dapat dianggap sebagai alegori (karena alegori mengharuskan beberapa simbol bekerja bersama-sama), sistem agamawi Perjanjian Lama (dan sebagian dari Perjanjian Baru) dapat dilihat sebagai alegori yang lebih luas tentang relasi antara manusia dan Allah.

Menariknya, terkadang peristiwa-peristiwa historis penting, yang sekilas tampaknya tidak mengandung makna yang lebih dalam, ditafsirkan secara alegoris pada kemudian hari untuk mengajarkan pelajaran penting. Salah satunya adalah Galatia 4, ketika Paulus menafsirkan kisah Abraham, Hagar, dan Sara sebagai alegori untuk Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dia menulis, "Karena ada tertulis, Abraham mempunyai dua anak laki-laki; satu lahir dari seorang budak perempuan, dan yang satu lagi dari seorang perempuan merdeka. Akan tetapi, anak dari budak perempuan itu dilahirkan menurut daging, sedangkan anak yang dari perempuan merdeka dilahirkan melalui perjanjian. Lihatlah kisah ini sebagai lambang karena dua perempuan ini melambangkan dua perjanjian. Satu adalah perjanjian dari Gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perbudakan. Dia adalah Hagar. Sekarang, Hagar melambangkan Gunung Sinai di tanah Arab, sama seperti Yerusalem saat ini karena ia hidup dalam perbudakan bersama anak-anaknya. Akan tetapi, Yerusalem yang di atas adalah perempuan yang merdeka, dan dia adalah ibu kita." (Galatia 4:22-26) Di sini, Paulus mengambil tokoh-tokoh sejarah yang nyata (Abraham, Hagar, dan Sara), dan memakai mereka sebagai simbol untuk menggambarkan Hukum Musa (Perjanjian Lama) dan kebebasan dalam Kristus (Perjanjian Baru). Melalui lensa alegoris Paulus, kita melihat bahwa relasi kita dengan Allah merupakan suatu kebebasan (kita adalah anak perjanjian ilahi, sebagaimana Ishak bagi Sara), bukan suatu belenggu (kita bukanlah anak belenggu manusia, sebagaimana Ismael bagi Hagar). Paulus, melalui inspirasi Roh Kudus, dapat melihat kepentingan simbolis dari peristiwa sejarah ini, dan menggunakannya untuk menggambarkan posisi kita dalam Kristus.

Alegori merupakan cara artistik yang indah untuk menjelaskan hal-hal sepirit dalam istilah-istilah yang mudah dipahami. Melalui alegori-alegori dalam Alkitab, Allah menolong kita memahami konsep-konsep sulit melalui konteks-konteks yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Dia juga mengungkapkan diri-Nya sebagai Penutur Cerita Agung, yang bekerja dalam sejarah untuk memberi bayangan tentang rencana-Nya serta melaksanakannya. Kita dapat bersukacita karena kita memiliki Allah yang menyapa kita dengan cara yang dapat kita pahami, dan yang memberi kita berbagai simbol dan alegori untuk mengingatkan kita tentang Diri-Nya sendiri. (t/Odysius)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Got Questions
Alamat artikel : https://www.gotquestions.org/Bible-allegory.html
Judul asli artikel : Does The Bible Contain Allegory?
Penulis artikel : Tidak dicantumkan
Kategori: 
Taxonomy upgrade extras: