Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Prioritas Yesus Untuk Berdoa

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Dalam Markus 1:35-39, kita melihat prioritas yang ditanamkan Yesus dalam hal berdoa. Setelah menjalani waktu yang melelahkan dengan menyembuhkan orang-orang yang sakit dan melepaskan orang yang kerasukan setan sampai larut malam, Yesus bangun pagi-pagi sekali, pada waktu hari masih gelap. Kemudian, Yesus pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di tempat tersebut. Saya percaya bahwa Yesus menggunakan waktu ini untuk memulihkan kekuatan rohani-Nya. Petrus pun menyela ketika Yesus sedang menikmati waktu saat teduh-Nya dengan mengungkapkan banyaknya tuntutan dari orang-orang yang masih membutuhkan pelayanan-Nya. Alih-alih merespons kebutuhan-kebutuhan yang mendesak ini, Tuhan Yesus justru mempertegas kembali tekad-Nya untuk menjangkau lebih jauh di kota-kota lainnya.

Jika kita memerhatikan dengan lebih cermat dan teliti teks yang ada, kita dapat melihat bagaimana pergulatan batin yang terjadi di dalam kehidupan doa Tuhan kita.

MENCARI TEMPAT YANG SUNYI UNTUK BERSEKUTU

"Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana." (Markus 1:35)

Pernahkah Anda berpikir mengapa Yesus Kristus pun memerlukan saat teduh? Kita semua menyadari segala kelemahan dan dosa kita sendiri. Kebutuhan untuk disucikan dan diperbarui sering kali merupakan kebutuhan yang dirasakan oleh orang percaya yang sungguh-sungguh. Namun Alkitab menyatakan ketidakberdosaan Tuhan kita -- "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatnya menjadi dosa karena kita, ...." (2 Korintus 5:21) Jadi, mengapa Yesus pergi ke luar, ke tempat yang sunyi saat murid-murid-Nya masih tertidur?

Selama pelayanan-Nya di bumi, Tuhan Yesus memilih untuk membatasi penggunaan sifat-sifat ilahi-Nya. Yesus adalah Allah sejati, tetapi Dia memilih untuk bergantung kepada Bapa dan Roh Kudus yang berdiam dan bekerja melalui-Nya. Dia melakukan hal ini untuk memperlihatkan kepada kita bagaimana kita juga harus bergantung kepada Allah. Ketergantungan itu dapat terlihat dalam usaha Yesus mencari waktu menyendiri dengan Bapa-Nya. Istilah yang diterjemahkan menjadi "tempat yang sunyi" berarti "sebuah padang gurun yang tandus, tanah yang terabaikan, daerah yang tidak berpenghuni". Setelah mengalami interaksi-interaksi yang menguras emosi dengan menyembuhkan banyak orang timpang dan sakit pada malam sebelumnya, Kristus membutuhkan tempat yang sunyi agar persekutuan dengan Bapa-Nya berlangsung lebih efektif.

Perjalanan iman mendorong-Nya untuk secara teratur datang kepada Allah Bapa untuk mendapatkan tuntunan khusus-Nya. Sebagai dampak dari waktu pribadi-Nya dengan Allah Bapa, Yesus mengarahkan ulang visi-Nya dari memenuhi kebutuhan yang ada di sekitarnya kepada suatu penjangkauan yang lebih luas.

MENDENGARKAN PENGARAHAN ALLAH DI TENGAH BERBAGAI GANGGUAN

"Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; waktu menemukan Dia mereka berkata: "Semua orang mencari Engkau." Jawab-Nya: "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang" (Markus 1:36-38).

Kata menemukan dalam ayat 37 lebih baik diterjemahkan "mendapat apa yang diburu". Dapatkah Anda membayangkan betapa tidak mengenakkannya situasi ini? Petrus berpikir bahwa ia paling tahu bagaimana Kristus seharusnya meluangkan hari-Nya. Ia bahkan sampai perlu menyela waktu doa Yesus untuk memberikan nasihatnya. Kebutuhan yang diungkapkan Simon Petrus jelas merupakan suatu hal yang mendesak: "Semua orang mencari Engkau."

Tidak ada seorang pun yang aktif dalam pelayanan (baik melayani penuh waktu atau sebagai sukarelawan) lepas dari berbagai kepentingan yang tarik-menarik. Berbagai kepentingan ini sering kali memang wajar dan terkadang ada orang-orang yang memohon agar kepentingan merekalah yang perlu segera ditangani. Namun, lihatlah apa yang dilakukan Yesus. Dia tidak khawatir bila dianggap sebagai seseorang yang tidak responsif terhadap kebutuhan-kebutuhan yang mendesak. Karena hanya memiliki sejumlah waktu dan energi yang terbatas, maka Dia menerima pengarahan dari Bapa-Nya untuk pergi ke tempat yang lain.

Anda mungkin berpikir bahwa saat teduh Yesus telah membuat-Nya menjadi lebih peka terhadap orang-orang yang ada di situ bersama-Nya. Namun, jika kita hanya memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang tepat berada di hadapan kita, kita sedang mengabaikan perhatian Allah yang lebih luas, yakni untuk mereka yang terhilang. Persekutuan pribadi dengan Bapa-Nya mengarahkan Yesus kembali kepada maksud kedatangan-Nya ke dalam dunia: "... untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." (Lukas 19:10)

MENERAPKAN DALAM KEHiDUPAN NYATA

"Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan." (Markus 1:39)

Begitu mudah kita melewatkan arti penting ayat terakhir dari bagian ini. Ayat ini tidak hanya mengulas kembali apa yang sudah dikatakan dalam ayat sebelumnya. Sama sekali bukan itu maksudnya! Ayat 39 adalah hasil dari keseluruhan bagian ini.

Yesus berhasil melakukan apa yang telah dikatakan-Nya akan Dia lakukan. Dia pergi ke rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil.

Istilah memberitakan Injil akan digunakan berulang kali di halaman-halaman Perjanjian Baru berikutnya ketika para rasul meneladani pola Tuhan Yesus dalam memberitakan kabar baik dengan jangkauan wilayah yang makin meluas. Target pelayanan Yesus meluas hingga meliputi "seluruh Galilea". Kemudian, saat para murid mengikuti jejak-Nya, jangkauan wilayah itu bertambah luas "sampai ke ujung bumi" (Kisah Para Rasul 1:8).

Penting untuk menerapkan apa yang kita peroleh dari waktu doa kita. Persekutuan yang bermakna bersama Kristus terjadi ketika kita mengikuti teladan-Nya (1 Petrus 2:21) dan kita menerapkan firman-Nya dalam kuasa Roh Kudus.

Yesus berkata, "Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya." (Yohanes 14:21) Jika kita menganggap saat teduh kita hanya sebagai oasis rohani sekali sehari, kita akan terperangkap dalam mengotak-kotakkan kehidupan rohani kita. Sejak dari taman Firdaus sampai saat ini, Allah selalu memiliki kerinduan untuk berjalan bersama umat-Nya dalam menapaki perjalanan hidup (Kejadian 3:8). Jadi, kita perlu menerapkan dengan nyata apa yang kita pelajari dalam saat teduh kita sepanjang hari.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul artikel : Prioritas Yesus Untuk Berdoa
Judul buku : Memelihara Kedekatan Kita Dengan Allah
Penulis : Dennis Fisher
Penerbit : RBC Ministries
Halaman : 16 -- 19
Umum: 
Kategori: