JODOH SEIMAN

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Oleh: Adhi Subagio

Sejak dahulu saya berdoa untuk pasangan hidup, dan tentunya saya menginginkan pasangan yang seiman. Untuk mendapatkan pasangan seiman itu saya harus melalui proses yang panjang. Saat ini saya akan membagikan kepada pembaca cerita mengenai Tuhan mempertemukan saya dengan istri saya.

Pada tahun 1994, usia saya sudah 26 tahun, saya termasuk cowok yang tidak ganteng dan juga kerja hanya PNS di bandara di Waingapu (Sumba Timur/NTT) yang penghasilannya cukup kecil. Saya bercita-cita kelak akan menikah dengan orang seiman dan tentunya berharap pasangan saya akan membantu perekonomian kami. Di lingkungan kerja saya di Sumba, saya memiliki banyak teman dari Jawa. Saya pikir berteman dengan satu suku adalah hal yang cukup membantu dalam membangun hubungan. Kami yang bekerja di sana kebanyakan tinggal di rumah kompleks bandara, dan kebanyakan teman-teman di sana beragama saudara kita. Jadi, bagi saya itu akan mempersulit saya untuk membangun hubungan yang lebih serius (mencari pasangan untuk menikah). Hal itu membuat saya cukup khawatir, apalagi usia saya sudah lewat 25 tahun. Rasa cemas tersebut hilang, saat saya berlutut di hadapan Dia. Saya meminta supaya Tuhan mempertemukan saya dengan pasangan yang seiman, mau hidup sederhana, dan juga mau saya ajak pindah ke Jawa.

Di bandara Sumba hanya ada dua penerbangan; pagi, Merpati Air dan siang menjelang sore, Borauq Airline. Setelah jam 4 sore bandara sepi dan tentunya landasan kosong. Nah, saya punya kebiasaan berdoa, baik itu saya sedang bekerja maupun saya tidak melakukan aktivitas. Saya juga punya kebiasaan lari di landasan pacu bandara sepanjang 1500 meter dan hal itu saya jadikan juga momen untuk meminta jodoh yang seiman kepada Tuhan, hal itu saya lakukan setiap hari. Jujur saya juga dilema, jika saya menikah akankah bisa mencukupi kebutuhan keluarga saya, sementara saya hanya punya penghasilan yang kecil. Saya juga menggunakan penghasilan saya dengan irit jadi hampir setiap hari saya makan mie instan, dengan harapan kebutuhan saya tercukupi, namun nyatanya tidak cukup juga. Karena harga bahan makanan di Sumba sangat mahal sehingga penghasilan saya tidak seimbang dengan kebutuhan pokok saya.

Kapankah Tuhan Mempertemukan Saya dengan Dia?

Suatu hari saya bertemu dengan Maharani (nama samaran) dan nama aslinya adalah Leonora Magdalena Munthe. Saya bertemu dengan Maharani di saat saya istirahat di tower (pusat pemandu lalu lintas udara). Ternyata Maharani ini adalah putri dari bapak bupati Waingapu. Ya, sebelum saya tahu dia anak bupati Waingapu, saya dengan dia akrab tanpa ada jarak karena status. Hal itu juga saya lakukan setelah saya mengetahui kalau dia anak bupati Waingapu. Pertemuan saya dengan Maharani tidak terlalu lama karena dia datang ke Sumba hanya untuk liburan kuliah. Nah, Maharani ini ternyata dari suku Batak dan beragama Kristen. Sebelum kepulangannya ke Jakarta, saya juga berjanji akan bertemu dengan dia di Jakarta. Namun saya bingung juga, dalam rangka apa saya bisa ketemu dia di Jakarta ya ... dan bagaimana saya bisa ke sana, sedangkan gaji saya saja tidak cukup untuk ke Jakarta?

Dan, seperti biasa yang saya lakukan adalah berlutut dan berdoa kepada Dia, dan meminta konfirmasi dari Tuhan, apakah Maharani adalah jodoh yang Tuhan berikan kepada saya? Nah, tepat pada waktunya, saya diberi kesempatan tugas belajar di Jakarta selama satu tahun. Selama saya berada di Jakarta, saya sering bertemu dengan Maharani. Sekian bulan kami menjalin hubungan, saya juga ingin menikahi Maharani. Lalu, saya mengajak dia untuk menikah dan puji Tuhan, dia menerima. Saya juga bertemu dengan orang tua Maharani dan meminta persetujuan mereka. Setelah saya selesai tugas belajar di Jakarta, saya pun kembali ke Jakarta, dan juga berniat pindah ke Jakarta dan mengurus semua kepindahan serta mengurus pernikahan saya. Puji Tuhan, tepat Desember 1997, kami pun melangsungkan pernikahan, tentunya ini karena pertolongan Dia. Sebagai hadiah pernikahan kami, saya tidak berstatus PNS lagi pada September 1997. Tuhan memberikan hadiah sehingga saya menjadi PT 7 GT; ANGKASA PURA dan bergaji setara perusahaan BUMN. Terima kasih Tuhan.