Sharing Berkat Kelas BKI 3

  1. Antonius H.B.

    Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, kita sudah selesai mengikuti Bedah Kitab Ibrani SABDA MLC. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah berbagi hasil penggalian Ibrani 9–13. Dari setiap sharing, saya mendapatkan banyak hal baru yang sebelumnya mungkin saya baca biasa saja, tetapi sekarang menjadi lebih mengerti dan lebih dalam memaknainya.

    Yang paling berkesan bagi saya, semakin belajar Ibrani 9–13, saya semakin melihat bahwa semuanya tertuju kepada Yesus Kristus. Dan yang ingin saya bawa dalam kehidupan sehari-hari adalah belajar untuk terus memandang kepada Yesus dalam setiap keadaan. Terima kasih teman-teman semua dan tim SABDA MLC. Tuhan Yesus memberkati.

  2. Budi R. Sinaga

    Puji syukur pada Tuhan, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti kelas Bedah Kitab Ibrani pasal 9–13.

    Pelajaran dan Berkat Paling Berkesan:

    • Kesempurnaan Kurban Kristus (Pasal 9–10): Bagian yang paling menyentuh hati saya adalah penegasan kembali bahwa kurban Kristus dilakukan sekali untuk selama-lamanya. Kristus bukan masuk ke dalam kemah suci buatan tangan manusia, tetapi ke dalam takhta surgawi dengan darah-Nya sendiri. Ini memberi penghiburan mendalam bahwa karya keselamatan-Nya sudah tuntas dan sempurna.
    • Pertumbuhan Iman dan Ketekunan (Pasal 11–12): Deretan "pahlawan iman" di pasal 11 mengingatkan kita bahwa iman bukanlah tanpa tantangan, melainkan kesetiaan memandang kepada Yesus, Sang Pemimpin dan Penyempurna iman kita, saat melangkah di tengah ketidakpastian.
    • Ibadah yang Sejati (Pasal 13): Ibadah tidak berhenti di gedung gereja, melainkan terwujud dalam kasih persaudaraan, kepedulian pada mereka yang terpinggirkan, serta hidup yang menghormati Tuhan.

    Aplikasi Praktis:

    • Menguatkan yang sedang bergumul agar tidak fokus pada kelemahan diri, melainkan mengarahkan pandangan kembali kepada Kristus yang telah menanggung segala ganjaran dan penderitaan bagi kita.
    • Mendorong untuk melakukan aksi nyata kasih persaudaraan di tengah masyarakat sesuai amanat Ibrani 13.
    • Proses diskusi di kelas berjalan baik dan interaktif. Rekan-rekan peserta aktif membagikan sudut pandang teologis dan pengalaman lapangan yang kaya.

    Terima kasih kepada Ibu Roma, Yola, tim MLC SABDA yang menginisiasi dan mengelola kelas BKI, dan teman-teman di BKI 3 yang telah memberikan wawasan dalam perenungan. Tuhan Yesus memberkati.

  3. David Tobias

    Kitab Ibrani ternyata menyimpan pelajaran-pelajaran yang berharga. Bukan sekadar tokoh-tokoh iman atau karya keselamatan Kristus sebagai penggenapan hukum Taurat, tetapi juga berbicara tentang masalah ekonomi yang dikaitkan dengan penyembahan. Juga tentang hubungan antara pemimpin rohani dan keselamatan jiwa-jiwa jemaat yang dipimpinnya. Terima kasih tim SABDA dan rekan-rekan diskusi semuanya. Tuhan Yesus memberkati kita dengan anugerah-Nya, setia beriman sampai akhir.

  4. Elly Taha

    Saya bersyukur bisa mengikuti kelas BKI ini sampai selesai. Terima kasih kepada pihak MLC SABDA sebagai penyelenggara, khususnya untuk Kak Roma sebagai moderator yang sangat aktif dan mendukung serta Kak Yola sebagai admin yang sabar. Menjadi pengalaman yang berharga karena pelajaran yang paling berkesan adalah tentang iman dalam Ibrani. Proses diskusi dalam kelas juga sangat membantu karena pertanyaan dan sudut pandang peserta lain membuka pemahaman yang sebelumnya belum terpikirkan.

    Kelas BKI bukan hanya menambah pengetahuan tentang Alkitab, tetapi juga menolong melihat bagaimana Firman Tuhan dapat diterapkan dalam kehidupan. Terima kasih.

  5. Sola Gratia

    Dari Ibrani diingatkan lagi tentang Kristus yang sudah menyelesaikan karya-Nya sehingga saya tidak perlu terus mencari dasar lain untuk tetap percaya (dalam Ibr. 10:19–23). Dalam teks-teks yang dipelajari bersama ini banyak membuat saya merenung tentang bertekun dalam Kristus dalam segala kondisi. Thank you untuk kelasnya. GBU SABDA dan team.

  6. Feronica

    Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah menyertai, menolong, dan memberi kekuatan selama saya mengikuti Bedah Kitab Ibrani 9–13. Lima pasal ini menjadi perjalanan yang sangat memberkati dan membuka pemahaman saya semakin dalam tentang karya keselamatan Kristus yang sempurna dan sekali untuk selama-lamanya. Saya semakin menyadari bahwa keselamatan bukan hasil usaha manusia, melainkan karena kasih karunia dan pengorbanan Kristus yang sempurna.

    Melalui Ibrani 10, saya kembali diingatkan untuk berani menghampiri Allah, memegang teguh pengharapan, dan tidak menjauh dari persekutuan dengan saudara seiman. Ibrani 11 mengajarkan saya bahwa iman bukan berarti hidup tanpa pergumulan, tetapi merupakan perjuangan dengan tetap percaya dan taat kepada Allah sekalipun belum melihat apa yang dijanjikan. Para pahlawan iman bukanlah manusia yang sempurna, tetapi mereka belajar terus percaya kepada Tuhan dalam berbagai keadaan.

    Kemudian, Ibrani 12 mengingatkan saya untuk menanggalkan segala beban dan dosa yang merintangi dalam perlombaan yang diwajibkan serta fokus memandang ke depan kepada Allah dalam Anak-Nya, Yesus Kristus, serta tekun melakukannya sampai finishing well. Saya belajar bahwa didikan dan proses Tuhan tidak selalu mudah, tetapi dapat menjadi bagian dari pembentukan dan pendewasaan iman. Dan, Ibrani 13 semakin meneguhkan bahwa iman tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari: memelihara kasih persaudaraan, saling memperhatikan, hidup dalam kekudusan, serta tetap setia kepada Kristus.

    Berkat terbesar yang saya rasakan adalah semakin memahami bahwa perjalanan iman bukan tentang menjadi manusia yang sempurna, tetapi tentang terus memandang kepada Kristus, bertekun, dan tetap setia sampai akhir.

    Terima kasih kepada: MLC SABDA yang telah menyelenggarakan kelas dengan baik dan memberkati kami melalui pembelajaran firman Tuhan. Moderator, Ibu Roma, yang telah melayani dan mendampingi proses belajar dengan sabar. Admin kelas, Kak Yola, yang telah membantu me-reminder kami yang terlambat masuk sehingga proses pembelajaran berjalan dengan baik. Rekan-rekan BKI 3 yang telah menjadi teman belajar, berdiskusi, dan saling menguatkan selama proses Bedah Kitab Ibrani. Kiranya apa yang sudah dipelajari bukan hanya menjadi pengetahuan, tetapi sungguh-sungguh mengubahkan cara kita hidup, melayani, dan berjalan bersama Tuhan. "Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus ...." (Ibrani 12:2) Soli Deo Gloria.

  7. Heliska Meliana

    Rasa syukur yang mendalam boleh menjadi bagian dari kelas Bedah Kitab Ibrani pasal 9–13 ini. Terima kasih kepada tim SABDA dan rekan-rekan semua. Melalui kelas ini, mata rohani saya semakin dibukakan untuk melihat kesempurnaan pengorbanan Kristus dan bagaimana iman yang hidup harus dinyatakan dalam ketekunan. Kelas ini bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi benar-benar memperbarui komitmen berjalan bersama Tuhan. Terima kasih atas wadah belajar yang sangat memberkati ini. Kiranya firman yang kita bedah dapat berbuah dalam hidup kita sehari-hari. Tuhan Yesus memberkati.

  8. Hendri

    Shalom, Bapak/Ibu dan teman-teman terkasih dalam Tuhan. Saya bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan mengikuti pembelajaran penggalian Kitab Ibrani yang diselenggarakan oleh SABDA. Terima kasih kepada seluruh tim SABDA dan teman-teman yang telah mendampingi proses belajar serta berbagi pemahaman dan pengalaman iman.

    Melalui pembelajaran ini, saya kembali diingatkan untuk memusatkan hati dan pandangan kepada Yesus. Kitab Ibrani menolong saya semakin memahami bahwa Yesus adalah Imam Besar yang memahami kelemahan kita. Karena itu, kita dapat datang kepada-Nya dengan penuh kepercayaan untuk menerima kasih karunia dan pertolongan.

    Saya juga diberkati oleh ajakan untuk tetap bertekun dalam iman, sekalipun menghadapi pergumulan. Belajar firman Tuhan bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mengajak saya memeriksa kehidupan: apakah saya sungguh mengandalkan Tuhan dan melakukan firman-Nya dalam keseharian?

    Saya rindu semakin setia berdoa, membaca firman, serta menguatkan sesama dalam perjalanan iman. Terima kasih kepada SABDA yang telah menyediakan ruang untuk belajar dan bertumbuh bersama. Saya juga mohon maaf apabila di dalam diskusi ini ada kata-kata yang kurang berkenan kepada Bapak/Ibu semua. Kiranya Tuhan terus memperlengkapi dan memberkati pelayanan SABDA agar semakin banyak orang mengenal firman-Nya. Semoga setiap kebenaran yang kita pelajari berakar dalam hati dan menghasilkan buah dalam kehidupan. Segala kemuliaan bagi Tuhan. Tuhan Yesus memberkati.

  9. Linna Kusuma Wati

    Saya teringat ada seorang hamba-Nya yang berkata, kita beriman kepada Tuhan bukan hanya pas butuh saja, tapi dalam keseharian kita. Karena itu, bukan kebetulan kalau bedah kitab kali ini diambil dari Ibrani. Selama ini, saya mendengar bahwa Tuhan itu cukup bagiku, tetapi mengapa? Melalui kelas kali ini, saya mendapatkan jawabannya. Pengorbanan-Nya, Pengampunan-Nya, Keselamatan, Janji-Nya, itu cukup bagi saya. Sebab kebutuhan yang terbesar telah Tuhan penuhi. Karena itu, benar apa yang dikatakan Daud, Tuhan Gembalaku, tidak ada lagi yang kuingini.

    Pelajarannya bagi saya, jangan wedi kelong / takut kekurangan karena pegangan tangan Tuhan kepadaku tidak pernah kendor (tidak dibiarkan dan tidak ditinggalkan). Aplikasinya, (seolah-olah Tuhan berkata) "lepaskan dan serahkan kepada-Ku apa yang menjadi beban pikiranmu. Kamu tidak akan kuat menanggungnya sendiri, karena AKU selalu hadir bersamamu." Amin. Terima kasih tim SABDA, Kak Roma, Kak Yola, dan teman-teman BKI 3. Tuhan memberkati.

  10. Marselina

    Shalom, Bapak/Ibu dan teman-teman terkasih dalam Tuhan. Dari Ibrani 9–13, saya belajar bahwa ibadah lama tidak bisa menyempurnakan, tetapi darah Yesus menyempurnakan untuk selama-lamanya (Ibr. 9:12; 10:14). Dulu harus bolak-balik masuk ke kemah, sekarang kita sudah punya jalan baru dan hidup karena tirai sudah terbuka melalui korban Kristus (Ibr. 10:19–20). Makanya pasal 11 mengingatkan saya untuk hidup oleh iman seperti para saksi, dan pasal 12 mengajar saya bertekun walau dididik Tuhan.

    Berkat paling besar bagi saya adalah Ibrani 13:5–6 dan 14. Saya sering khawatir soal penerimaan dan kecukupan, tetapi Tuhan berkata, "Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau" dan kewargaan saya bukan di perkemahan yang sementara ini, tapi di kota yang akan datang (Fil. 3:20). Ini mengubahkan saya untuk tidak cari aman di reputasi, uang, atau relasi, tapi berani keluar perkemahan ikut Yesus (Ibr. 13:13). Komitmen saya minggu ini: mau hidup dengan iman yang terlihat dalam hubungan, kesetiaan, dan pengelolaan harta.

  11. Petrus Panaka

    Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, saya bersyukur boleh kembali mengikuti kelas yang diselenggarakan MLC SABDA yang ke-10 sejak Januari 2026. Di tengah situasi keamanan dunia dan ekonomi global yang terus berubah, biaya kehidupan sehari-hari yang cenderung meningkat, hubungan pertemanan yang datang dan mungkin pergi, kesehatan yang bisa membaik atau memburuk, namun demikian hanya ada satu kebenaran yang menjadi jangkar jiwa kita, yaitu Tuhan tidak berubah.

    Yesus yang Sama – "Kemarin": Dia adalah Allah yang menyertai Abraham, yang membebaskan Israel dari Mesir, yang menguatkan Daud menghadapi Goliat. Dia adalah Yesus yang lahir di palungan, mati di kayu salib, dan bangkit mengalahkan maut. Kasih-Nya kemarin adalah kasih yang sama untuk kita hari ini.

    Yesus yang Sama – "Hari Ini": Apa pun yang sedang saya hadapi–beban keluarga, pergumulan pekerjaan, sakit penyakit, atau kebingungan masa depan–Yesus yang sama tetap hadir. Dia tidak berubah menjadi lebih jauh, lebih dingin, atau lebih sibuk. Dia tetap dekat, tetap peduli, tetap berkuasa.

    Yesus yang Sama – "Sampai Selama-lamanya": Masa depan mungkin masih samar-samar bagi kita, tetapi jelas bagi Tuhan. Janji-Nya tidak pernah gagal. Penyertaan-Nya tidak pernah berakhir. Apa yang Dia lakukan bagi orang percaya di masa lalu, Dia tetap sanggup lakukan bagi kita hingga akhir zaman.

    Mungkin hari ini kita merasa lelah, kecewa, atau takut. Ingatlah: Tuhan yang menolong orang lain adalah Tuhan yang sama yang menolong kita. Tuhan yang menjawab doa, Dialah Tuhan yang sama yang mendengar doa saya sekarang.

    Saya ajak semua, marilah kita pegang janji ini: Yesus Kristus tetap sama. Karena Dia tidak berubah, kita pun dapat tetap teguh dalam iman, harapan, dan kasih. "Tuhan Itu Tetap Sama". "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya." (Ibrani 13:8)

    Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran MLC SABDA yang telah memfasilitasi seluruh kegiatan kelas BKI ini. Tuhan senantiasa memberkati pelayanan MLC SABDA dan dipakai Tuhan demi kemuliaan nama-Nya. Amin.

  12. Rian

    Puji Tuhan atas kesempatan mengikuti kelas diskusi malam Bedah Kitab Ibrani (BKI) 3. Awalnya terasa berat proses membaca, menggali lebih dalam, mengeksegesiskan, dan mendiskusikan satu pasal setiap hari. Namun, dari kedisiplinan itu, firman Tuhan justru semakin hidup dan relevan dengan pergumulan iman sehari-hari.

    Selama lima hari belajar dengan menggali konteks dan fakta di balik teks, bukan sekadar membaca. Saya semakin menyadari bahwa Kitab Ibrani sulit dicerna oleh karena logikanya dalam dan tidak berdiri sendiri, sebab setiap pasal berakar pada Perjanjian Lama dan saling terkait satu sama lain, sehingga terlihat benang merah rencana keselamatan Allah yang digenapi sempurna dalam karya Kristus, satu kali untuk selamanya. Semua pembelajaran ini membawa saya pada komitmen pribadi yang bukan sekadar tulisan, melainkan diaplikasikan melalui tindakan taat dan semakin memahami bahwa iman Kristen bukan hanya teori, melainkan jalan hidup yang harus dijalani dengan sungguh-sungguh, tekun, dan terus berpusat pada Kristus.

    Terima kasih kepada YLSA melalui MLC yang memfasilitasi kelas, kepada Ibu Roma selaku moderator kelas diskusi BKI 3 yang sabar memandu diskusi, dan Ibu Yola selaku admin kelas diskusi BKI 3. Terima kasih juga kepada seluruh rekan peserta kelas diskusi BKI 3 atas sharing, pertanyaan, dan insight yang saling membangun.

    Kiranya kebenaran Firman dari Ibrani 9–13 tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi bertumbuh dan berbuah serta terus memandang Kristus, bertekun dalam iman, hidup dalam kasih, dan setia pada kehendak-Nya. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

  13. Ruth Lodiana

    Menggali Kitab Ibrani menjadi pergumulan pribadi bagi saya. Selama ini ada beberapa ayat yang menjadi favorit dan hafalan saya. Karena itu, saya senang sekali ketika melalui penggalian dalam kelas BKI ini, saya semakin memahami makna dan konteks dari ayat-ayat tersebut.

    Yang paling berkesan bagi saya adalah Ibrani 12:28–29 tentang "kerajaan yang tidak terguncangkan". Bagian ini semakin meneguhkan saya bahwa Tuhan yang selama ini kita sembah adalah Tuhan yang tidak terguncangkan. Di tengah kehidupan yang dapat berubah dan berbagai hal yang dapat berguncang, saya diingatkan untuk tetap bersyukur, beribadah kepada-Nya dengan hormat dan takut, serta tetap berpegang kepada-Nya.

    Terima kasih untuk teman-teman diskusi di kelas BKI 3. Penggalian dan sharing teman-teman sangat memberkati saya. Terima kasih juga untuk Kak Roma atas pertanyaan-pertanyaan pancingannya dan Kak Yola yang selalu mengingatkan. Kiranya Tuhan terus memberkati dan memakai Tim MLC SABDA dalam melayani dan memperlengkapi banyak orang untuk semakin mencintai dan memahami Firman Tuhan, sampai Tuhan Yesus datang kembali. Soli Deo Gloria.

  14. Sarah

    Terima kasih sedalam-dalamnya atas penyelenggaraan kelas Bedah Kitab Ibrani selama 5 hari ini, serta pelayanan yang diberikan oleh SABDA MLC, para fasilitator, moderator, admin, Kak Roma dan Kak Yola, serta rekan-rekan BKI 3 atas masukan, tanggapan, dan pengalamannya yang sangat memberkati.

    Pelajaran berharga yang saya terima selama diskusi ini adalah pembahasan tentang iman. Iman yang tangguh bukan hidup tanpa masalah, tapi iman yang tetap fokus kepada Yesus. Melalui diskusi ini, saya menyadari bahwa setiap didikan dan ujian adalah bentuk kasih sayang Tuhan serta melatih kita untuk sabar dalam proses pembentukan pribadi menjadi semakin kuat dan dewasa. Dan memiliki iman bukan jaminan bahwa hidup ini akan selalu mudah dan Tuhan pasti mengabulkan segala keinginan kita atau melakukan apa saja yang kita inginkan.

    Iman yang sejati diarahkan kepada Allah, bukan kepada hasil. Sebab, jika kita mengutamakan hasil, kita pasti mudah kecewa ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Terus melekat kepada Kristus, jalani setiap prosesnya, jangan menyerah, Tuhan sedang melatih kita sampai garis akhir. Dengan iman, saya memilih untuk tetap percaya, taat, dan setia, sekalipun saya belum melihat hasil yang sesuai dengan harapan. Saya yakin sepenuhnya bahwa Tuhan itu baik dan segala janji-Nya adalah Ya dan Amin.

    Habakuk 3:17–18, "Sekalipun keadaan tidak berubah dan hasil yang diharapkan tidak datang, aku akan tetap bersukacita di dalam Tuhan."

    "Sebab aku tidak berusaha untuk memahami agar aku dapat beriman, tetapi aku beriman agar aku dapat memahami. Karena aku juga percaya akan hal ini: bahwa jika aku tidak beriman terlebih dahulu, aku tidak akan bisa memahami." (Anselmus dari Canterbury, Prinsip Fides Quaerens Intellectum).

  15. Simon Salasa

    Pujilah Tuhan saya ikut kelas Bedah Kitab Ibrani, menjadi pengalaman yang baru dan memberkati bagi saya. Saya semakin memahami keunggulan Kristus sebagai Imam Besar dan penggenapan karya keselamatan yang sempurna. Hal yang paling berkesan adalah belajar bahwa iman, ketekunan, dan ketaatan kepada Tuhan harus berjalan bersama. Saya disadarkan bahwa mengikut Tuhan bukan hanya tentang mengetahui Firman, tetapi juga tetap setia dan percaya kepada-Nya dalam setiap keadaan.

    Secara praktis, saya ingin lebih sungguh-sungguh membaca dan merenungkan Firman Tuhan serta tetap bertekun ketika menghadapi kesulitan. Diskusi dalam kelas juga sangat membantu karena saya dapat mendengar pemahaman dan sudut pandang teman-teman yang memperkaya pemahaman saya. Ke depannya, saya berharap diskusi dapat berlangsung lebih aktif agar setiap peserta berani menyampaikan pendapat dan saling membangun. Terima kasih kepada Tim SABDA, admin, dan moderator yang setia membimbing kami. Tuhan Yesus berkati.

  16. Supriyono

    Shalom, salam sejahtera dalam kasih Tuhan Yesus Kristus. Saya bersyukur kepada Tuhan mendapat kesempatan mengikuti BKI 3, Bedah Kitab Ibrani pasal 9–13. Bagi saya, ini merupakan pengalaman baru yang sangat memberkati karena saya tidak hanya membaca Firman Tuhan, tetapi belajar menggali teks dengan lebih mendalam melalui pengamatan dan diskusi.

    Berkat yang paling berkesan bagi saya adalah semakin memahami Kristus sebagai Imam Besar dan korban yang sempurna. Ibrani 9:12 mengingatkan bahwa Kristus masuk ke tempat kudus "sekali untuk selama-lamanya" dengan darah-Nya sendiri. Ini meneguhkan iman saya bahwa keselamatan kita sepenuhnya berpusat pada karya Kristus. Kemudian Ibrani 12 mengingatkan saya untuk bertekun dalam iman dengan memandang kepada Yesus, dan Ibrani 12:14 mengajarkan untuk mengejar kekudusan. Jadi, iman bukan hanya dipahami, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Setelah mengikuti BKI 3, saya ingin:

    • Lebih tekun menggali Firman Tuhan, bukan hanya untuk bahan pelayanan, tetapi terlebih dahulu untuk kehidupan pribadi.
    • Memusatkan pelayanan kepada Kristus, sehingga Firman yang disampaikan membawa orang semakin mengenal Yesus.
    • Bertekun dalam iman, terutama ketika menghadapi tantangan dan pergumulan.
    • Mengejar kekudusan dan menjadi berkat bagi keluarga, jemaat, dan orang-orang di sekitar saya.

    Evaluasi diskusi: Menurut saya, proses diskusi dalam BKI 3 sangat baik karena memberikan kesempatan untuk bertanya, berbagi pemahaman, dan saling memperkaya melalui pengalaman masing-masing. Saya belajar bahwa dalam diskusi kita perlu rendah hati untuk mendengar, berani bertanya, dan terbuka untuk belajar dari orang lain.

    Terima kasih kepada MLC SABDA, moderator Ibu Roma, dan admin Kak Yola, serta seluruh teman-teman peserta BKI 3 yang telah bersama-sama mengikuti proses pembelajaran ini. Kiranya apa yang kita pelajari tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi iman yang hidup, pelayanan yang semakin sungguh, dan kehidupan yang semakin berkenan kepada Tuhan. Soli Deo Gloria.

  17. Tan Tjin Hin

    Segala puji syukur kepada Allah Bapa, karena rahmat dan anugerah-Nya, saya masih diberikan kesempatan bisa mengikuti kelas Bedah Kitab Ibrani bersama SABDA MLC. Banyak berkat yang saya pribadi rasakan.

    Dari Ibrani 9, saya melihat pengorbanan Yesus Kristus jauh melampaui sistem korban dalam Perjanjian Lama. Kalau darah hewan dalam ibadah lama berkaitan dengan pentahiran lahiriah, sedangkan Kristus sebagai Imam Besar telah masuk ke tempat kudus dengan darah-Nya sendiri dan memperoleh penebusan yang kekal. Pentahiran membersihkan hati nurani kita dari perbuatan yang sia-sia supaya hidup kita dapat melayani Allah. Jadi, salib bukan hanya memberi pengampunan, tetapi juga membebaskan saya dari hidup yang berpusat pada diri sendiri untuk hidup bagi Allah.

    Di Ibrani 10, menegaskan kecukupan korban Kristus yang dipersembahkan satu kali untuk selama-lamanya. Karena itu, orang percaya tidak perlu hidup dalam rasa bersalah seolah-olah pengampunan harus terus-menerus dibayar dengan usaha manusia. Sebaliknya, kita dipanggil datang kepada Allah dengan hati yang tulus dan iman yang teguh, berpegang pada pengharapan, serta saling memperhatikan supaya bertumbuh dalam kasih dan perbuatan baik. Bagi saya, pasal ini mengingatkan bahwa iman tidak boleh dijalani sendirian; persekutuan kasih, sikap saling menegur, dan saling menguatkan sangat dibutuhkan, terutama ketika seseorang mulai lelah atau tergoda menjauh dari Tuhan.

    Ibrani 11 memperlihatkan bahwa iman adalah percaya kepada Allah dan tetap menaati-Nya meskipun pemenuhan janji-Nya belum terlihat sepenuhnya. Sebagai orang Kristen, kita banyak contoh yang bisa dicontoh dan dikuatkan, dari tokoh-tokoh iman, seperti Habel, Abraham, Musa, dan para saksi iman yang tidak semuanya menerima hasil yang mudah atau nyaman. Mereka berjalan sebagai orang yang berharap kepada kota yang dibangun oleh Allah. Pasal ini menolong saya memahami bahwa keberhasilan iman bukan selalu diukur dari kelancaran studi, pekerjaan, kesehatan, atau tercapainya target pribadi, melainkan dari kesetiaan kepada Tuhan dalam proses yang panjang dan sikap menempatkan ketaatan kepada Kristus sebagai yang utama.

    Dalam Ibrani 12, saya mengarahkan mata kepada Yesus, yang menanggung salib dan tetap setia demi sukacita yang ada di depan-Nya. Karena itu, pergumulan, kelelahan, dan disiplin dari Tuhan tidak selalu berarti Tuhan meninggalkan kita. Justru disiplin dari Tuhan menjadikan pembentukan karakter sebagai anak-anak Allah. Dari pasal ini, saya dipanggil untuk mengejar perdamaian dan kekudusan, serta menjaga hati agar tidak ada kepahitan yang bertumbuh dan merusak banyak orang. Berkat yang saya terima ialah bahwa ketekunan bukan kekuatan memaksa diri semata, tetapi lahir ketika pandangan saya kembali kepada Kristus dan saya mengizinkan Tuhan membentuk karakter saya melalui setiap proses hidup.

    Ibrani 13, penerapan langkah-langkah praktis pada kasih persaudaraan, keramahtamahan, kepedulian kepada mereka yang dipenjara atau diperlakukan tidak adil, kesetiaan dalam hidup, kecukupan hati, dan keberanian untuk berbuat baik serta berbagi. Di pasal 13 ini menolong saya melihat bahwa teologi yang benar harus menghasilkan kehidupan yang benar, sebab iman kepada Yesus Kristus tidak cukup hanya dibicarakan dalam teori, tetapi sikap berani dan tegas dalam integritas di tempat kerja, cara memperlakukan keluarga, kepedulian terhadap sesama, dan keberanian hidup sederhana.

    Pembahasan Bedah Kitab Ibrani 9–13 membawa saya dari karya Yesus Kristus yang sempurna menuju panggilan untuk hidup setia, bertekun, dan mempersembahkan diri dalam kasih kepada Allah dan sesama. Dalam kesempatan ini juga, saya haturkan terima kasih kepada teman-teman dalam kelompok 3 di grup WA yang berdiskusi sehingga menambah wawasan baru dan kepada tim SABDA MLC yang sudah berjerih payah menyelenggarakan kelas Bedah Kitab. Kiranya Tuhan yang membalaskan semua.

  18. Victoria

    Puji Tuhan. Pembelajaran Bedah Kitab Ibrani sebanyak 5 pasal sudah terselesaikan. Banyak hal dari BKI saat ini yang saya terima.

    Di hari terakhir, saya menggali tentang korban syukur dan berbuat baik (15–16). Kita dipanggil untuk tetap bersyukur dan memuliakan Tuhan bukan hanya saat hidup kita baik-baik saja, melainkan di tengah hidup yang tidak baik. Kebaikan yang dapat kita berikan bukan hanya materi saja, melainkan bisa dalam bentuk waktu, tenaga, dan doa. Kiranya melalui BKI terus meneguhkan hati saya untuk lebih dalam dan mengerti akan maksud Tuhan bagi kehidupan saya, terutama kehidupan berbuat baik terhadap sesama.

    Terima kasih untuk Kak Roma yang senantiasa membimbing, menanggapi hasil galian kami, sehingga wawasan kami semakin terbuka lagi atas tanggapan-tanggapan yang diberikan. Terima kasih juga untuk Kak Yola yang setia, selalu sabar, tak pernah jenuh untuk selalu mengingatkan kami semua.

    Terima kasih juga untuk rekan-rekan BKI 3 yang penuh semangat. Banyak hal saya terberkati dari hasil penggalian kalian semua. Kiranya Tuhan terus menolong dan memberikan hikmat kepada kita semua untuk dapat menjalani kehidupan kita di mana Tuhan sudah mempercayakan kita di masing-masing tugas yang kita emban. Maju terus di dalam Tuhan. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.

  19. Wennar

    Selama lima hari mengikuti kelas SABDA MLC dan menggali Ibrani 9–13, saya semakin memahami bahwa iman kepada Kristus bukan sekadar pengetahuan teologis, tetapi kehidupan yang berakar pada karya Kristus dan diwujudkan dalam ketekunan, kasih, dan ketaatan.

    Ibrani 9–10 meneguhkan saya bahwa penebusan Kristus telah dikerjakan sekali untuk selama-lamanya, sehingga saya tidak perlu membangun keyakinan keselamatan di atas kemampuan atau kebaikan diri sendiri. Ibrani 11 mengajar saya untuk berjalan dalam iman, bahkan ketika saya belum melihat seluruh jalan yang Tuhan sediakan.

    Ibrani 12 mengingatkan saya untuk menanggalkan segala beban, bertekun dalam perlombaan iman, dan terus mengarahkan pandangan kepada Yesus. Kemudian, Ibrani 13 membawa seluruh penggalian itu ke dalam kehidupan nyata: kasih persaudaraan, kepedulian terhadap orang yang menderita, kesetiaan, kecukupan, dan perbuatan baik.

    Bagi saya, berkat terbesar dari lima hari ini adalah kesadaran bahwa saya tidak dipanggil hanya untuk memahami Firman, tetapi untuk membiarkan firman membentuk cara saya percaya, bertahan, mengasihi, melayani, dan hidup setiap hari. Saya ingin terus berjalan dengan keyakinan bahwa Yesus Kristus tetap sama, kemarin, hari ini, dan sampai selama-lamanya.