-
Chandra
Shalom, Bapak/Ibu semua. Ibrani 9–13 penuh dengan tulisan yang sangat kental dengan ajakan atau penjelasan yang sangat fundamental bagi jemaat pada saat itu. Penulis memberikan sebuah makna mendalam tentang persembahan dalam konsep Perjanjian Lama dan dikontraskan dengan pengorbanan Kristus yang hanya satu kali untuk selamanya (pasal 9–10). Penulis juga menjelaskan betapa pentingnya sebuah ibadah dan jangan menjauhkan diri dari pertemuan ibadah (pasal 10). Dan pasal 11 memaparkan makna iman dan penjelasan iman yang mendalam dari tokoh-tokoh iman. Pasal 12 mengajak jemaat untuk semakin bertekun di dalam iman dan ditutup dengan pasal 13 yang berisi doa dan nasihat.
Saya bersyukur juga ada Bapak/Ibu kelas pagi yang begitu aktif dan memberikan respons yang membangun untuk setiap sesi tanya jawab. Terakhir, melalui metode simak, analisis, pelajaran, aplikasi, sumber, sangat menolong kita agar kita tetap fokus kepada teks dan memahami Ibrani 9–13 dengan komplit dan terarah. Bahkan metode ini menolong kita untuk menggali lebih dalam lagi dan menemukan makna yang sulit dipahami, akhirnya bisa dipahami. Selain itu, metode simak, analisis, pelajaran, aplikasi, dan sumber, menolong kita untuk bertanggung jawab dalam memberikan jawaban setiap pasal demi pasal. Bagian sumber menjadi penting agar kita tidak sembarangan mengambil jawaban orang atau analisis orang lain terhadap topik yang kita bahas. Terima kasih untuk tim SABDA yang luar biasa dan Kakak Admin SABDA yang setia menolong kelas pagi diskusi kami. Thank you, Kak Millytia dan Kak Mei.
-
Daniel Lie
Mengikuti kelas Bedah Kitab Ibrani ini memberi pengalaman baru pembelajaran yang lebih mendalam tentang isi Ibrani pasal 9–13 ini — mulai dari perbandingan korban Perjanjian Lama dengan korban Kristus yang sempurna (pasal 9–10), teladan iman dalam "pahlawan iman" (pasal 11), hingga nasihat praktis sebagai orang percaya (pasal 12–13). Pesan-pesan Tuhan melalui firman-Nya yang mendalam membantu saya mendapatkan peneguhan baru sekaligus koreksi, teguran, penerapan baru dalam kehidupan sehari-hari. Pelajaran/berkat yang paling berkesan adalah tentang Kristus adalah korban yang sempurna dan sekali untuk selamanya memberi kepastian akan penebusan, bukan usaha berulang untuk layak di hadapan Allah.
Selain itu, tentang iman — bagaimana tokoh-tokoh iman bertindak berdasarkan janji yang belum mereka lihat digenapi. Ini menegaskan bahwa iman bukan pengetahuan, tapi keberanian untuk taat meski hasil akhirnya belum tampak. Kemudian pembelajaran tentang janji penyertaan dan pemeliharaan Tuhan atas kebutuhan saya kembali menjadi peneguhan bagi langkah iman percaya saya.
Aplikasi praktis:
- Hidup dengan iman yang aktif — melangkah dalam ketaatan meski belum melihat hasil akhir.
- Menjaga kekudusan hidup dan tidak mudah menyerah dalam pencobaan.
- Mempraktikkan kasih persaudaraan, keramahan, dan kepedulian pada sesama seperti dinasihatkan di pasal 13.
- Bersyukur atas kepastian anugerah keselamatan melalui Kristus, sehingga tidak hidup dalam ketakutan atau usaha membenarkan diri sendiri.
Evaluasi Proses Diskusi: Diskusi berjalan cukup interaktif dan sangat membuka ruang untuk bertanya, terutama pada bagian yang sulit dipahami secara teologis. Yang bisa ditingkatkan: tugas-tugas yang dikerjakan, dipersiapkan setiap hari (sebelum kelas dibuka), jangan terlalu banyak.
-
Debora Rina
Puji Tuhan. Mengikuti kelas Bedah Kitab Ibrani 9–13 menjadi pengalaman yang sangat memperkaya saya. Saya belajar bukan hanya membaca ayat, tetapi mengamati teks dengan lebih teliti, melihat konteks, memperhatikan kata-kata penting, dan membandingkan bagian-bagian Alkitab yang saling berkaitan. Berkat yang paling berkesan bagi saya adalah semakin memahami bahwa karya keselamatan Allah dalam Ibrani 9–10 berpusat pada pengorbanan Kristus yang sempurna dan sekali untuk selamanya sehingga saya tidak boleh melepaskan pengharapan.
Ibrani 11 mengajar saya bahwa iman bukan sekadar percaya dalam pikiran, tetapi iman yang menghasilkan ketaatan dan ketekunan. Ibrani 12 mengingatkan saya untuk menanggalkan beban dan dosa serta mengarahkan mata kepada Yesus, sedangkan Ibrani 13 menolong saya melihat bahwa iman harus nyata dalam kasih, kehidupan sehari-hari, dan kesetiaan kepada Tuhan. Setelah mengikuti BKI ini, saya ingin menerapkan firman, bukan hanya menjadi pengetahuan, tetapi menjadi kehidupan. Saya akan lebih disiplin menyediakan waktu untuk menggali Alkitab secara induktif, menjaga pengharapan kepada Tuhan, menaati firman sekalipun tidak selalu mudah, dan terus melangkah keluar dari zona nyaman dalam melakukan kehendak-Nya.
Dalam proses diskusi, saya juga belajar bahwa setiap orang dapat melihat suatu teks dari sudut pengamatan yang berbeda, sehingga diskusi menolong saya menguji pemahaman dan tidak cepat mengambil kesimpulan. Evaluasi saya, proses diskusi akan semakin baik jika setiap peserta mempersiapkan teks dengan teliti terlebih dahulu, menyampaikan hasil pengamatan berdasarkan konteks dan ayat, serta saling mendengarkan dengan rendah hati. Bagi saya, BKI bukan hanya belajar "tentang" Alkitab, tetapi belajar hidup setia kepada firman yang sudah dipelajari. Terima kasih banyak buat Mbak Mily dan Mbak Mei untuk pelayanannya. Soli Deo gloria.
-
Edison
Terima kasih kepada tim SABDA. Melalui kelas BKI ini, banyak kekayaan Alkitab yang digali dan dibagikan dengan teman-teman kelas. Ada juga beberapa perbedaan pendapat, tetapi itu membuat diskusi semakin kaya dan memperluas wawasan. Khususnya mengenai Kerajaan yang tidak tergoncangkan, membuka mata saya untuk senantiasa bersyukur atas anugerah keselamatan yang saya terima melalui iman kepada Yesus, Imam Besar kita. God bless us all.
-
Elisa Iswandono
Terima kasih kepada Tuhan Yesus Kristus atas kesempatan dan anugerah-Nya sehingga saya dapat mengikuti Bedah Kitab Ibrani melalui SABDA MLC. Melalui bedah kitab ini, saya semakin disadarkan bahwa Kristus telah menyelesaikan karya keselamatan melalui pengorbanan-Nya satu kali untuk selama-lamanya. Karena itu, saya tidak perlu hidup dalam ketakutan dan keraguan, tetapi terus percaya, menanggalkan dosa, tekun dalam iman, mengasihi sesama, dan melakukan kehendak Tuhan. Di tengah berbagai ketidakpastian hidup, saya mau terus mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Yesus, Sang Gembala Agung, yang telah mati dan bangkit serta senantiasa memelihara dan menuntun hidup saya.
Terima kasih juga untuk rekan-rekan Grup WA BKI 2 yang telah saling berbagi hasil penggalian firman sehingga kita bersama-sama semakin mengerti dan semakin dalam memahami kebenaran firman Tuhan. Tuhan Yesus kiranya terus memberkati, menyertai, dan memperlengkapi seluruh tim SABDA MLC serta kita semua.
-
Heldaripa
Shalom, Bapak/Ibu. Saya sangat bersyukur bisa mengikuti kelas penggalian Ibrani 9–13. Bagi saya, ini bukan hanya belajar memahami isi Alkitab, tetapi belajar melihat lebih dalam apa yang Tuhan mau sampaikan dan bagaimana firman itu diterapkan dalam kehidupan. Yang paling berkesan adalah bagaimana Ibrani 12:2, saya diingatkan untuk terus memandang kepada Yesus. Saya juga belajar bahwa setelah menggali firman, pertanyaan terpenting bukan hanya "apa yang saya pelajari?", tetapi "apa yang akan saya lakukan?"
Kiranya apa yang sudah kita pelajari bersama tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi kehidupan yang nyata—iman yang bertumbuh, tetap tekun, hidup dalam kasih, dan semakin dekat dengan Kristus. Terima kasih untuk kebersamaan dan setiap sharing yang sudah menjadi berkat. Tuhan memberkati kita semua.
-
Joshua Effendy
Mengikuti kelas Bedah Kitab Ibrani menjadi pengalaman yang memperkaya karena tidak hanya melihat teks secara umum, tetapi belajar memahami bagaimana setiap bagian menegaskan karya Kristus dan respons iman orang percaya.
Berkat yang paling berkesan bagi saya adalah semakin melihat bahwa iman bukan sekadar mengetahui kebenaran, melainkan terus bertekun, memandang kepada Kristus, dan hidup dalam ketaatan sekalipun menghadapi berbagai pergumulan. Ibrani 11–12 secara khusus menolong saya memahami bahwa perjalanan iman membutuhkan ketekunan dan mata yang terus tertuju kepada Kristus. Secara praktis, saya ingin lebih disiplin membangun kehidupan yang bertekun dalam firman, tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan, serta terus mengevaluasi apakah hidup saya sungguh diarahkan kepada Kristus.
Dalam proses diskusi dalam kelompok, saya juga mendapatkan berkat karena dapat melihat satu perikop dari sudut pandang dan pemahaman peserta yang berbeda. Diskusi membuat proses belajar menjadi lebih hidup dan menolong saya menemukan detail-detail teks yang mungkin terlewat ketika mempelajarinya sendiri. Evaluasinya, proses diskusi sudah sangat membantu dalam memperdalam pemahaman. Secara keseluruhan, kelas ini mengingatkan saya bahwa semakin dalam kita mengenal Kristus melalui Firman-Nya, semakin nyata pula panggilan untuk hidup dalam iman yang tekun.
-
Lily Kurniati
Bersyukur luar biasa saya bisa mengikuti kelas ini hingga selesai. Dari Bedah Kitab Ibrani kali ini, saya diingatkan kembali bahwa iman bukan sekadar percaya yang abstrak. Iman adalah respons karena percaya yang berfokus pada Kristus sebagai Imam Besar dan pengorbanan-Nya yang sempurna. Iman diwujudkan dalam kasih dan taat dalam setiap aspek kehidupan. Terima kasih kepada teman-teman dalam kelas BKI 2. Hasil penggalian, komentar, dan diskusi sangat memperkaya pemahaman saya. Terima kasih kepada Kak Milly selaku moderator, Kak May selaku admin, dan seluruh staf SABDA atas terselenggaranya kelas ini. Soli Deo Gloria.
-
Marten Pinatik
Mengikuti kelas BKI memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Melalui kelas ini, saya belajar bahwa membaca Alkitab bukan hanya menemukan ayat yang menarik, tetapi belajar memperhatikan teks, konteks, dan maksud penulis dengan lebih teliti. Dalam penggalian Ibrani, saya semakin memahami bahwa seluruh kehidupan orang percaya harus tetap berpusat kepada Kristus. Iman bukan hanya berbicara tentang apa yang kita ketahui dan percayai, tetapi bagaimana kebenaran firman Tuhan itu nyata dalam kehidupan sehari-hari. Saya juga belajar untuk tidak terlalu cepat memasukkan pemikiran sendiri ke dalam teks, tetapi terlebih dahulu membiarkan teks berbicara sesuai konteksnya.
Proses diskusi juga menjadi berkat bagi saya. Berbagai tanggapan, pertanyaan, dan perbedaan pemahaman dari teman-teman membuat saya belajar mendengar, menguji kembali pemahaman, serta menerima masukan dengan terbuka. Ke depan, saya akan terus membangun kebiasaan membaca, menggali, dan menerapkan firman Tuhan dalam kehidupan, keluarga, pelayanan, dan hubungan dengan sesama. Harapan saya, diskusi seperti ini terus berlangsung dalam suasana terbuka, saling menghargai, dan tetap menguji setiap pemahaman berdasarkan firman Tuhan.
Terima kasih kepada seluruh moderator dan admin yang telah mendampingi dan mengatur proses pembelajaran serta diskusi dengan baik. Terima kasih juga kepada SABDA Live dan MLC yang telah menyediakan ruang belajar sehingga kami dapat bertumbuh bersama dalam memahami firman Tuhan. Kiranya setiap pelayanan, waktu, tenaga, dan perhatian yang telah diberikan menjadi berkat bagi semakin banyak orang. Bagi saya, BKI bukan hanya belajar memahami Alkitab dengan lebih baik, tetapi juga belajar hidup semakin taat kepada kebenaran yang sudah dipahami. Tuhan Yesus memberkati kita semua.
-
Masnauli Marbun (Uli)
Saya sangat bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan belajar bersama SABDA di kelas BKI 2. Berikut ini adalah sharing berkat saya: Mengikuti kelas BKI ini memberi saya pengalaman spiritual yang sangat kaya dalam menelusuri Kitab Ibrani 9–13. Saya dibukakan oleh fakta-fakta teologis yang luar biasa: bahwa Yesus adalah Imam Besar Perjanjian Baru yang memercikkan darah-Nya sendiri di Tempat Maha Kudus surgawi (Ibr. 9), menggenapi kurban sempurna yang berlaku satu kali untuk selama-lamanya (Ibr. 10), memanggil orang percaya hidup oleh iman seperti para saksi iman (Ibr. 11), serta mendidik kita sebagai anak-anak sah-Nya melalui proses pendisiplinan (paideia) di mana kita diajak keluar dari zona nyaman untuk mengikut Yesus di luar pintu gerbang (Ibr. 12–13).
Pelajaran yang paling berkesan bagi saya adalah pentingnya mempertahankan pandangan iman secara konstan kepada Yesus (aphorao) di tengah penderitaan, serta menyadari bahwa paideia Bapa adalah bukti kasih-Nya. Saya juga belajar bahwa hidup dalam iman bukan berarti selalu mendapatkan apa yang kita ingini di dunia ini, sebab ada pahlawan iman yang justru menderita dan tidak menerima janji di bumi demi tanah air yang lebih baik (Ibr. 11:35–40). Selain itu, terkait kepemimpinan, seorang pemimpin dipanggil untuk menjadi teladan iman (Ibr. 13:7), dan meskipun pemimpin adalah manusia biasa yang bisa bersalah atau jatuh, kita diajar untuk tetap menghormati serta mendoakan mereka (Ibr. 13:17–18), sambil meyakini bahwa saat jatuh kita dipanggil untuk bangkit kembali dan menguatkan lutut yang lemas (Ibr. 12:12).
Sebagai aplikasi praktis, saya berkomitmen untuk secara sengaja menanggalkan setiap "beban" (ogkon) dan dosa yang merintangi (euperistatos) dengan rajin melakukan evaluasi diri (Ibr. 12:1), tetap bertekun dalam pelayanan meski menghadapi kelelahan rohani (burnout) dengan menjaga waktu istirahat di kaki Kristus (Ibr. 12:2; Luk. 5:16), serta mempersembahkan korban pujian yang berbuah dalam tindakan kasih nyata bagi sesama yang membutuhkan di luar zona nyaman saya (Ibr. 13:15–16).
Mengenai proses diskusinya, saya sangat diberkati karena langkah penggalian yang mendalam ini menuntut refleksi pribadi dan aplikasi praktis yang konkret. Fasilitator memfasilitasi kelas dengan sangat baik, dan rekan-rekan diskusi sangat aktif. Walaupun dasar teksnya sama (dari Kitab Ibrani 9–13), hasil perenungannya sangat bervariasi dan kaya karena setiap peserta membagikan fokus penggalian yang beragam dan menjadi motivasi dari setiap langkah praktis peserta. Terima kasih buat semua fasilitator dan PIC untuk kelas SABDA ini. Saya akan merekomendasikan kepada rekan-rekan kelas Bedah Alkitab dari SABDA. Terima kasih semua rekan-rekan di kelas BKI 2 Pagi. Tuhan memberkati kita semua.
-
Michelle Anindya
Saya senang sekali kali ini dapat melakukan penggalian yang lebih dalam untuk Kitab Ibrani. Kitab ini banyak tantangannya. Banyak hal baru (seperti ritual) serta simbol-simbol baru yang mungkin tidak kita pikirkan sebelumnya. Saya senang juga dapat kesempatan melakukan penggalian menggunakan ChatGPT/Alkitab GPT yang membantu untuk penggalian kata-kata, konsep-konsep, dan lainnya. Setelah menjalani magang di SABDA selama beberapa minggu, saya juga memiliki pendekatan yang lebih terarah untuk penggalian Alkitab, yaitu fokus ke satu-dua kata atau konsep saja sebagai langkah awal. Ini coba saya terapkan untuk kelas Bedah Alkitab ini.
Senang juga dapat melihat berbagai pertanyaan dan perspektif dari peserta lainnya yang berbeda dan bahkan kadang-kadang melihat pertanyaan yang cukup menggigit. Aplikasinya adalah saya akan coba melakukan penggalian Alkitab lebih dalam lagi memanfaatkan tools yang tersedia, sembari menerapkan prinsip-prinsip Pendalaman Alkitab yang lebih terarah menggunakan metode eksegesis yang benar. Terima kasih.
-
Paris Limbong
Puji Tuhan, saya bersyukur kepada Tuhan Yesus karena dapat mengikuti Bedah Kitab Ibrani ini dengan baik dan lancar. Banyak pengalaman dan pengetahuan yang baru dan berharga selama belajar dan berdiskusi selama 5 hari dari Kitab Ibrani pasal 9–13 dengan metode SABDA. Adapun inti sari yang saya dapatkan dari pasal 9–13 ini adalah bukan sekadar mengetahui berbagai hal tentang Kristus, melainkan untuk semakin mengenal Kristus serta memahami kebenaran Firman-Nya dan menuntut kita agar tetap beriman, bertumbuh, bertahan, dan bertekun dalam mengikut Dia.
Marilah kita memandang Kristus sebagai Imam Besar dan korban yang sempurna karena karya-Nya sudah selesai. Dia tetap sama dan memampukan kita dalam kehidupan ini. Secara khusus saya menyampaikan terima kasih kepada narasumber Kak Roma, Kak Bima, moderator Kak Milly, dan admin Kak Mei, dan juga teman sekelas BKI 2 yang sangat luar biasa berdiskusi dengan memberikan masukan dan tanggapan untuk memperkaya materi diskusi. Semoga Tuhan Yesus memberkati. Amin.
-
Phwe Kim
Secara khusus saya bersyukur diberikan kesempatan untuk boleh belajar dan upgrade kembali Kitab Hebrew, khususnya Ibrani pasal 9–13 ini, sehingga secara pribadi saya mendapatkan kembali sebuah mindset untuk refleksi dalam kehidupan dan pelayanan.
- Ibrani Pasal 9 mendapatkan bahwa darah yang lebih baik adalah bukan dalam Perjanjian Lama yang butuh darah berulang di kemah tiruan. Melainkan Kristus masuk ke surga yang asli dengan darah-Nya sendiri, sekali untuk selama-lamanya. Sehingga setiap mendapatkan hasil bahwa hati nurani kita dibersihkan, bukan cuma tubuh.
- Ibrani Pasal 10 berbicara tentang kita jangan mundur dalam keadaan dan situasi apa pun. Karena korban yang ini adalah yang sudah sempurna, tidak ada lagi korban lain. Kita hanya tinggal memilih dua di antara yang penting, yakni tetap beriman dengan berani masuk ke dalam hadirat Allah atau sebaliknya kita murtad dengan sengaja dan menunggu penghakiman yang dahsyat yang menyebabkan kita melihat atau menyimpulkan bahwa ketaatan bukan syarat utama untuk selamat, tapi bukti kita tidak mundur.
- Ibrani Pasal 11 menyatakan bahwa iman itu bukti. Sehingga iman bukan optimisme/tentatif, tapi cara kita melihat realitas yang belum nampak atau kelihatan dan bertindak atas dasar itu. Para saksi membuktikan bahwa iman yang taat meski belum menerima janji penuh, karena mereka mencari kota yang kekal.
- Ibrani Pasal 12 menyatakan bahwa disiplin itu kasih. Berarti bahwa Allah memperlakukan kita sebagai anak, bukan tamu. Ia menghajar kita agar kita atau untuk menguduskan kita. Di sini kita melihat bahwa Esau adalah suatu tanda peringatan agar kita jangan tukar hak kesulungan kekal dengan kenyamanan sesaat atau duniawi. Yang menyebabkan kita lari, tapi bukan ke Sinai yang menakutkan, melainkan kita ke Sion yang penuh sukacita.
- Ibrani Pasal 13 menyatakan bahwa iman itu hidup sosial. Sehingga ibadah sejati keluar dari bukan karena ritual, melainkan kasih saudara, jamu orang asing, ingat yang dipenjara, hormati pernikahan, tolak kerakusan atau cinta uang karena Allah menyertai. Ketaatan kepada pemimpin yang benar, selalu waspada akan ajaran asing dan selalu siap ikut Kristus keluar memikul kehinaan-Nya.
Maka dari itu, intinya yang saya simpulkan dalam satu kalimat adalah karena Kristus sudah membayar lunas dosa kita sekali untuk selamanya, maka jangan murtad, namun hiduplah oleh iman yang tahan hajaran, penderitaan, dan buktikan bahwa iman itu dalam kasih sosial yang berani menderita. Amin! Terima kasih kepada para admin, moderator, tim SABDA, dan teman-teman dalam grup BKI 2 Pagi untuk diskusi dan pembelajaran kali ini. Soli Deo gloria!
-
Ronald
Bersyukur pada Tuhan untuk kesempatan dapat mengikuti kelas "Bedah Kitab Ibrani" melalui penggalian pasal 9–13. Saya kembali diingatkan kembali mengenai keutamaan Kristus dalam iman Kristen, bahwa melalui pengorbanan-Nya yang sempurna memampukan saya untuk menghampiri takhta kasih karunia Allah, menjalani hidup dengan percaya penuh kepada Allah yang setia sebagaimana sudah dihidupi oleh saksi-saksi iman yang mendorong saya untuk juga meneruskan teladan iman kepada sesama di saat ini.
Karena perjuangan dan tantangan akan selalu dihadapi oleh orang percaya dari masa ke masa, penulis Ibrani juga mendorong untuk terus bertekun dengan cara memandang pada Kristus yang telah bergumul untuk menebus saya, dan kasih karunia Allah menggerakkan kita untuk hidup dalam kasih. Ibadah yang tidak hanya berfokus pada gedung gereja, tetapi memuliakan Allah dalam kasih dan perkataan terhadap sesama menjadi satu kesatuan yang tak boleh dipisahkan.
Saya bersyukur juga untuk rekan-rekan kelas BKI 2, yang menjadi teman berdiskusi, saling melengkapi, dan mempertajam dalam pembelajaran Alkitab kali ini. Pertanyaan dan tanggapan dari rekan-rekan semua sangat memberkati dan memperlengkapi saya, baik untuk pertumbuhan pribadi maupun untuk pelayanan yang saya kerjakan hari ini. Terima kasih kepada tim SABDA, moderator, dan admin yang juga mengarahkan dan mengingatkan dalam pembelajaran kelas Bedah Kitab Ibrani ini. Soli Deo Gloria.
-
Silvi Damping
Shalom, 2 tahun lalu saya pernah ikut pendalaman Alkitab seperti ini, dan selama 2 tahun ini saya disibukkan dengan pekerjaan dan membuat hubungan pribadi saya dengan Tuhan berkurang, banyak hal yang menyita perhatian saya. Dan saya bersyukur kalau saat ini saya bisa ikut pendalaman Kitab Ibrani 9–13. Saya sangat terberkati, terutama tentang iman. Dulu bila bicara soal iman, itu berarti tentang mukjizat dan jawaban atas doa. Namun, setelah pendalaman kemarin saya mendapat pemahaman baru, bahwa iman itu artinya percaya atas jawaban Tuhan, baik itu hal yang menyenangkan ataupun di luar harapan. Yang jelas, segala sesuatu yang Dia rancangkan adalah untuk kebaikan saya. Terima kasih banyak kepada peserta dan tim untuk sharing diskusinya. Saya sungguh diberkati. Tuhan Yesus memberkati.
-
Sri Sugiyanto
Puji syukur dan terima kasih kepada Tuhan, sehingga saya bisa mengikuti Bedah Kitab Ibrani Pasal 9–13 yang diselenggarakan MLC Lembaga SABDA. Pengalaman saya adalah tergerak lagi untuk memahami kehendak Tuhan yang berhubungan dengan iman. Saya akan meningkatkan iman percaya kepada Yesus dengan selalu mengecek kata-kata, perilaku, dengan Firman yang dikehendaki Tuhan dan iman yang benar. Belajar lebih dalam lagi. Terima kasih tim Lembaga SABDA, Kak Mei, Kak Bima, Milly, dan teman-teman kelas BKI 2 yang telah berdiskusi dengan saya, menambah pengetahuan saya, dan diskusi berjalan dengan baik, hidup, saling melengkapi. Kiranya iman saya bisa semakin bertumbuh, demikian juga iman teman-teman semua, termasuk tim Lembaga SABDA. Tuhan memberkati.
-
Susi Wahyuni
Puji Tuhan bisa mengikuti kelas BKI ini sampai selesai. Kelas ini merupakan pengalaman kesekian kalinya untuk saya, dan tetap memberikan pengalaman belajar yang luar biasa. Dalam kelas ini, saya diingatkan, dikuatkan, ditegur, dan diluruskan tentang iman. Diskusi kelas memberikan banyak perspektif baru tentang iman yang sebenarnya. Mungkin bukan benar-benar baru, tapi membuat saya memahami lebih dalam tentang iman. Bahwa iman bukan hanya percaya dan mendapatkan janji dengan perjalanan (yang saya percayai selama ini) akan mulus sampai tujuan. Ternyata banyak juga yang tidak mulus (banyak penderitaan) untuk sampai kepada tujuan, dan hal ini sering menjadi pertanyaan mendalam apakah salah jalan atau salah beriman. Ternyata bukan keduanya, karena ada beberapa yang memang diceritakan seperti itu (memiliki perjalanan yang tidak mulus) untuk pembelajaran kita. Ini yang saya maksud dengan perspektif yang baru.
Selain itu, dalam iman yang bertumbuh, bukan hanya pengetahuan yang bertambah, tapi juga gaya hidup yang semakin lebih baik dan menjadi kudus (bahkan dalam keuangan). Setiap pertumbuhan iman harus disertai pertumbuhan karakter dan gaya hidup ke arah Kristus. Meski bukan tanda yang mudah dilihat, namun bisa dirasakan dan diperhatikan dari hari ke hari.
Terima kasih teman-teman BKI 2 yang sangat aktif dan cermat dalam menggali firman Tuhan. Kalian luar biasa. Terima kasih juga buat tim SABDA, kalian sangat membantu kami. Tuhan memberkati kita semua. Amin.
-
Suyati
Shalom. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus karena diberi kesempatan mengikuti kelas Bedah Kitab Ibrani pasal 9–13. Melalui kelas ini, saya mendapatkan pengalaman dan pemahaman yang jauh lebih dalam dari sebelumnya.
Yang sangat berkesan bagi saya adalah ketika saya melihat bagaimana Ibrani seperti membawa saya melihat kembali keseluruhan karya Allah—dari penciptaan, kejatuhan manusia ke dalam dosa, berbagai ritual dan korban dalam Perjanjian Lama, sampai semuanya digenapi dengan sempurna di dalam Yesus Kristus. Saya juga belajar dari para tokoh iman dalam Ibrani 11. Mereka bukan hebat karena kekuatan mereka sendiri, tetapi hidup mereka menjadi kesaksian tentang kesetiaan Allah dan rencana-Nya.
Lebih dari itu, melalui pembelajaran ini iman saya semakin diteguhkan dan pengertian saya tentang iman semakin diperdalam. Saya belajar bahwa iman bukan berarti menuntut Tuhan untuk melakukan apa yang saya inginkan. Iman berarti percaya kepada Tuhan yang berdaulat, sekalipun apa yang terjadi belum sesuai dengan harapan saya. Saya belajar berkata dalam hati, "Tuhan, saya percaya Engkau berdaulat atas hidup saya. Kalau sesuatu belum terjadi seperti yang saya harapkan, saya mau tetap percaya bahwa rencana-Mu adalah yang terbaik."
Dan, akhirnya saya semakin disadarkan bahwa iman bukan hanya untuk dipahami, tetapi untuk dijalani: tetap berpegang kepada Kristus, saling menguatkan, hidup dalam kasih, dan terus setia karena hari Tuhan semakin mendekat. Bagi saya, kelas ini bukan hanya menambah pengetahuan Alkitab, tetapi membuka mata saya untuk semakin melihat kebesaran karya Tuhan, semakin mengenal Kristus, dan semakin percaya kepada-Nya.
Terima kasih rekan-rekan semua dalam kelas diskusi BKI 2, terima kasih Kak Milly sebagai moderator kelas dan Kak Mei sebagai admin kelas, dan terima kasih seluruh tim SABDA MLC. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Salam IT 4 God.
-
Wasisto Trririno R.
Saya bersyukur atas kesempatan bisa mengikuti BKI Ibrani 9–13.
Pengalaman baru mengikuti kelas BKI: Sebelumnya, ketika membaca Ibrani, saya lebih banyak melihatnya sebagai kitab yang berbicara tentang iman dan Yesus sebagai Imam Besar. Namun, melalui BKI, saya belajar untuk tidak hanya membaca ayat, tetapi menggali lebih dalam konteks, maksud penulis, hubungan antarbagian, serta pesan yang ingin disampaikan kepada pembacanya. Saya semakin menyadari bahwa firman Tuhan tidak cukup hanya dibaca, tetapi perlu direnungkan dan dipelajari dengan sungguh-sungguh. Saya belajar bahwa ketika setiap peserta menyampaikan pemahamannya, sering kali ada sudut pandang baru yang sebelumnya tidak saya lihat.
Pelajaran dan berkat yang paling berkesan: Saya lebih memahami bahwa Yesus Kristus adalah pusat iman kekristenan yang tidak dapat digantikan dengan apa pun, baik dalam hal suka ataupun duka. Saya semakin melihat keunggulan dan kesempurnaan Kristus sebagai Juruselamat dan Pribadi yang menjadi pusat iman dan pengharapan kita. Saya juga sangat terkesan dengan ajakan untuk bertekun dalam iman dan bertahan sampai akhir.
Aplikasi praktis yang akan dilakukan:
- Saya akan lebih rajin, disiplin, dan konsisten dalam merenungkan dan studi Alkitab dalam kehidupan sehari-hari.
- Saya akan belajar mengarahkan segala hal, termasuk pekerjaan dan persoalan apa pun, dengan mata iman walau banyak hal yang tidak saya pahami.
Evaluasi terhadap proses diskusi: Menurut saya, proses diskusi dalam BKI sangat membantu karena membuat pembelajaran menjadi lebih hidup, menarik, dan dinamis. Saya semakin menyadari bahwa satu bagian firman dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, tetapi semuanya perlu kembali kepada konteks dan maksud teks Alkitab. Terima kasih kepada moderator (Kak Milly) dan kepada admin (Kak Mei) yang telah mengelola kelas dengan baik sehingga terasa hidup dan aktif.
Terima kasih juga kepada seluruh tim SABDA yang telah menginisiasi dan mengelola kelas BKI ini sehingga dapat berjalan dengan baik. Semoga kuasa, penyertaan, dan pemeliharaan Allah Bapa di Surga senantiasa melimpah kepada para pelayan tim SABDA beserta keluarganya masing-masing. Demikian sharing berkat saya. Amin.
-
Zephania Maestronella
Shalom Bapak/Ibu tim SABDA MLC dan peserta kelas Bedah Kitab Ibrani!
Mengikuti kelas ini selama beberapa hari benar-benar jadi perjalanan rohani yang menyegarkan sekaligus menantang buat saya pribadi. Belajar menggali teks demi teks, mulai dari esensi iman para pahlawan di pasal 11, ketekunan berlari memandang Yesus di pasal 12, hingga etika hidup praktis dan korban syukur di pasal 13, membuka mata hati saya bahwa iman sejati itu sangat hidup. Perspektif saya jadi diperlengkapi dengan membaca setiap respons, sanggahan, dan refleksi jujur dari Bapak/Ibu sekalian. Hal ini membuat Firman Tuhan terasa begitu relevan di tengah kegiatan serta dinamika hidup sehari-hari.
Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada tim fasilitator SABDA MLC, moderator, dan admin yang sudah dengan luar biasa setia mendampingi, memfasilitasi, dan menyemangati proses belajar kita. Terima kasih juga buat seluruh Bapak/Ibu peserta yang sudah menjadi rekan seperjalanan yang luar biasa, saling menajamkan dan saling menguatkan lewat diskusi yang sangat hangat. Kiranya apa yang kita gali bersama bukan berhenti sebagai pengetahuan teologis semata, melainkan terus berbuah dalam ketaatan, kasih yang berani berbagi, dan mata yang senantiasa terpaku kepada Kristus sampai garis akhir. Tuhan Yesus memberkati kita semua!