Mengevaluasi Khotbah: Sepuluh Elemen yang Perlu Dipertimbangkan Setelah Anda Berkhotbah

Para pengkhotbah dan para pendengarnya umumnya setuju bahwa khotbah adalah inti dari kebaktian. Tanpa meremehkan elemen-elemen lain dalam ibadah, mereka menyatakan bahwa khotbah adalah "firman dari Tuhan" yang dicari oleh para jemaat. Maka, mengevaluasi khotbah adalah hal yang sangat penting. Berikut ini adalah sepuluh elemen yang harus dipertimbangkan oleh para pengkhotbah ketika mereka merefleksikan khotbah yang telah mereka sampaikan, serta beberapa petunjuk yang dapat memperkuat elemen tersebut dan membuat khotbah yang lebih baik di lain waktu.

Pendahuluan

Apakah pendahuluannya menciptakan ketertarikan atau memicu ketegangan? Apakah pendahuluan tersebut membuat pendengar tertarik dengan mengungkapkan kebutuhan dan mengarahkan pendengar pada apa yang akan disampaikan setelahnya? Apakah pendahuluannya memberikan gambaran umum struktural dari khotbah tersebut? Pengantar adalah undangan bagi para pendengar untuk berkomitmen dalam jangka waktu yang panjang, kira-kira sekitar 30 menit ke depan. Dalam dunia penyiaran, ada pepatah yang mengatakan bahwa jika Anda tidak segera menarik perhatian pemirsa atau pendengar, Anda pasti akan kehilangan mereka. Hal yang sama juga berlaku dalam berkhotbah. Oleh karena itu, ada banyak pertimbangan yang harus diberikan pada bagian pendahuluan khotbah, yang dianggap oleh banyak pengkhotbah sebagai bagian yang paling menantang untuk dipersiapkan.

Apa yang dapat membuat sebuah pendahuluan khotbah menjadi menarik? Tentu saja bukan sesuatu seperti, "Minggu lalu kita membahas Efesus 3, minggu ini kita akan membahas Efesus 4." Tidak ada yang menarik atau atraktif dari pernyataan tersebut. Cerita, anekdot, kutipan, dan sejenisnya telah lama dianggap sebagai bahan utama untuk membuat pendahuluan khotbah, dan semakin kontemporer, semakin efektif pula pendahuluan tersebut. Satu hal lagi mengenai pendahuluan: sebuah pendahuluan khotbah akan menjadi lebih efektif jika tidak dibacakan. Hal ini berlaku terutama ketika pengkhotbah menceritakan sebuah kisah yang di dalamnya dia menjadi tokohnya. Selain itu, menjaga kontak mata dengan pendengar di awal khotbah adalah suatu keharusan.

Saya menganggap judul khotbah sebagai bagian dari pendahuluan, dan bagaimana cara judul tersebut diumumkan adalah suatu hal yang sangat penting. Sebab, orang biasanya akan mengingat judul khotbah, bahkan lama setelah khotbah itu disampaikan. Judul yang menarik dan mudah diingat akan menyiapkan khotbah, dan membuat orang menyesuaikan diri di tempat duduk mereka, menantikan apa yang akan disampaikan. Aturan umumnya adalah bahwa judul tidak boleh lebih dari tujuh kata dan harus mengisyaratkan tentang isi khotbah itu tanpa membeberkan semuanya. Sebuah judul adalah sebuah kontrak antara pengkhotbah dan pendengarnya, yang berarti bahwa khotbah yang gagal untuk berbicara tentang isu-isu yang dilambangkan atau dikonotasikan oleh judulnya adalah sebuah pelanggaran kontrak. Meskipun para pengkhotbah harus berusaha untuk menjadi kreatif dan orisinal dalam memberikan judul, kita harus ingat untuk menghindari hal-hal yang bersifat gurauan, olok-olok, dan senda gurau.

Penafsiran/Penelitian

Apakah khotbah tersebut mencerminkan penafsiran Alkitab yang membuka mata dan penelitian yang mendalam? Khotbah-khotbah yang tidak memiliki penafsiran Alkitab yang baik adalah kesengsaraan bagi banyak pengkhotbah. Meskipun post-modernisme telah menciptakan kehausan akan penerapan kebenaran Alkitab yang bersifat individual dan disesuaikan dengan kebutuhan, orang-orang masih ingin mengetahui bahwa khotbah yang disampaikan oleh pengkhotbah itu sehat secara eksegetis. Para pendengar masih mengutamakan keilmuan yang solid dan alkitabiah, yang dibuktikan dalam khotbah-khotbah yang mendalam dan padat. Orang-orang tidak menyukai hal-hal yang remeh dan ringan, yang mungkin menggelitik telinga dan memanjakan jiwa, tetapi tidak memberi makan atau memuaskan kerinduan yang mendalam dari hati manusia.

Sebelum para pengkhotbah melambung tinggi secara homiletis, mereka harus menggali secara eksegetis. Sebelum kita memutuskan apa yang Allah ingin katakan melalui kita kepada jemaat, kita harus mengetahui apa yang Allah ingin penulis Alkitab sampaikan kepada penerima asli kitab itu di tempat dan waktu yang berbeda. Dan, sebagai pengkhotbah, kita harus menerima bahwa eksegesis Alkitab bukanlah menentukan apa yang ingin dikatakan oleh penulis Alkitab, tetapi hanya menemukan apa yang ingin dikatakan oleh penulis Alkitab. Dengan demikian, seorang penafsir Alkitab akan menafsirkan Alkitab tanpa memiliki pemikiran yang sudah terbentuk sebelumnya atau agenda pribadi, tetapi dengan pikiran yang terbuka ingin menemukan apa yang telah Allah nyatakan. Dalam eksegesis, pengkhotbah berjuang untuk mendapatkan akurasi.

Beberapa pengkhotbah mengumpulkan atau menyatukan penafsiran mereka di awal khotbah, terutama penemuan mereka yang berkaitan dengan data historis. Mereka merasa sangat penting untuk memberikan semua materi latar belakang mereka terlebih dahulu, untuk "meletakkan fondasi". Akan tetapi, eksegesis akan berfungsi dengan baik ketika ia terjalin di sepanjang khotbah dan tidak terdeteksi, meskipun terlihat jelas. Eksegesis harus berfungsi dalam khotbah seperti halnya ragi dalam roti, atau bumbu dalam makanan. Eksegesis harus memengaruhi khotbah, tetapi tidak terdeteksi secara mencolok. Selain itu, pengkhotbah harus selalu menahan godaan untuk membuat pendengarnya terkesan dengan hikmatnya sendiri, mengingat bahwa hampir tidak mungkin untuk meninggikan Yesus sekaligus menonjolkan diri sendiri sebagai seorang yang cerdas secara bersamaan.

Teologi

Apakah khotbah tersebut sehat secara teologis? Khotbah adalah tindakan yang sangat teologis yang di dalamnya seorang manusia mengucapkan firman atas nama Allah. Karena Allah telah berfirman, maka pengkhotbah berani berbicara, dan firman yang dikhotbahkan oleh pengkhotbah haruslah menggaungkan teologi.

Apa pun bagian Alkitabnya, pengkhotbah tidak hanya harus menyusun sebuah proposisi eksegetis, tetapi juga proposisi teologis. Pengkhotbah harus menyelami tema-tema teologis yang mendalam di dalam perikop tersebut, dan mengaitkannya dengan tema-tema yang serupa di dalam bagian Alkitab yang lain. Memang, dengan membandingkan prinsip atau tema teologis dalam satu perikop dengan tema yang sama dalam perikop lain, penafsir Alkitab akan dapat menguji kebenaran dari tema tersebut. Di sepanjang jalan, pengkhotbah akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti: "Apa yang Allah katakan dan tunjukkan kepada umat-Nya dalam perikop ini? Apakah khotbah ini bersifat kristosentris?"

Charles Spurgeon pernah berkata bahwa tidak peduli apa pun teks bacaan Alkitab untuk hari itu, setelah membacanya ia akan langsung menuju kepada salib. Bagi Spurgeon, Kristus dan salib-Nya adalah segalanya; isi dan pusat dari semua khotbah. Khotbah yang gagal meninggikan Yesus Kristus tidak ada artinya bagi Spurgeon, yang seperti Paulus, bersukacita dalam "kebodohan salib."

Sebuah khotbah yang didasarkan pada kasih Kristus akan menunjukkan orientasi kasih karunia, bahkan jika khotbah tersebut berkaitan dengan hal-hal yang berkaitan dengan hukum Taurat. Khotbah tersebut akan berbau pemulihan dan kebangkitan, karena dalam arti yang sesungguhnya, semua khotbah Kristen adalah khotbah kebangkitan. Pengharapan tidak akan menjadi bahan yang kurang, tetapi merupakan realitas yang selalu membumbui setiap elemen khotbah.

Isi/Materi

Apakah isi khotbahnya instruktif? Apakah materi khotbahnya berwawasan luas? Yang paling penting, apakah khotbah tersebut tepat sasaran? Semua penafsiran di dunia tidak akan berarti banyak jika khotbah tersebut tidak dikemas dalam bentuk yang menarik dan menawan. Sebagaimana para pengkhotbah berusaha untuk menjadi akurat sebagai hasil dari penafsiran mereka, demikian juga kita harus berusaha untuk menjadi relevan dalam cara kita menyusun dan menyampaikan khotbah kita.

Salah satu pertanyaan pertama yang muncul di benak orang ketika pengkhotbah membaca ayat Alkitab dan mengumumkan judulnya adalah, "Mengapa pengkhotbah memilih bagian ini untuk dibahas pada hari ini?" Pertanyaan lainnya adalah, "Apa hubungannya dengan saya?" Variasi dari pertanyaan kedua adalah, "Apakah dengan mendengarkan khotbah ini akan membuat perbedaan dalam hidup saya?" Mungkin lebih dari apa pun, para pendengar ingin mengetahui bahwa pengkhotbah memahami apa yang mereka alami dan beresonansi dengan kebutuhan mereka. Sebagaimana mereka tertarik untuk mengetahui apa yang Tuhan katakan kepada umat-Nya di zaman dahulu, para pendengar juga ingin mengetahui bahwa Tuhan memahami situasi kontemporer mereka dan mampu menjawab, bahkan memperbaiki situasi tersebut.

Maka, tantangan bagi seorang pengkhotbah adalah menyampaikan khotbah yang tidak hanya sehat secara tafsiran, tetapi juga relevan secara kontekstual. Jika kita ingin menarik dan mempertahankan perhatian jemaat, kita harus menarik, mengingat bahwa jemaat cenderung tertarik pada apa yang memenuhi kebutuhan mereka. Dengan demikian, pengkhotbah tidak hanya menafsirkan teks Alkitab, tetapi juga masyarakat.

Isi khotbah harus sesuai dengan usia. Aturan umumnya adalah bahwa khotbah harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan anak-anak berusia 10 tahun dalam jemaat, sehingga khotbah tersebut memiliki daya tarik yang luas. Selain itu, khotbah harus mencerminkan kesadaran akan kesempatan yang diisinya, yang berarti bahwa khotbah baptisan akan sangat berbeda dengan khotbah pemakaman. Apa pun acaranya, isi khotbah haruslah sehat dan bijaksana, menghindari hal-hal yang remeh dan dangkal. Sebab bagaimanapun juga, khotbah adalah firman dari Tuhan.

Bahan Pendukung

Apakah khotbah Anda sudah mencerminkan penggunaan ilustrasi yang baik? Materi yang mendukung membuat khotbah menjadi menarik dan relevan. Oleh karena itu, isi khotbah harus memiliki banyak cerita, anekdot, dan jenis ilustrasi lainnya. Hal-hal tersebut seperti jendela khotbah, yang memberikan kesempatan kepada pendengar untuk "melihat" atau mengalami dengan cara yang menarik tentang apa yang dibicarakan oleh pengkhotbah. Bisa juga dikatakan bahwa sebuah ilustrasi adalah seperti jeda yang dibutuhkan oleh seorang perenang untuk menghirup udara. Ilustrasi adalah sebuah jeda dalam aksi, waktu istirahat, jika Anda berkenan, sebuah waktu untuk para pendengar berkumpul kembali dan menyesuaikan diri. Tanpa ilustrasi, khotbah adalah sebuah wacana kering yang ditakdirkan untuk membosankan.

Sebuah cerita tidak boleh disampaikan hanya untuk sekadar bercerita; cerita haruslah serius dan disampaikan dengan baik. Cerita membantu pendengar untuk mengalami, sedangkan penjelasan membantu mereka untuk memahami. Kesaksian dan gambar/angka-angka membantu pendengar untuk menerima.

Ilustrasi yang paling efektif adalah pengalaman hidup yang nyata dari si pengkhotbah. Tidak banyak yang dapat menangkap dan menarik perhatian pendengar daripada pengkhotbah yang bersedia untuk berbagi sisi kehidupannya. Praktik ini menunjukkan adanya identifikasi dengan para pendengar, dan transparansi yang mencerminkan keaslian. Mengetahui bahwa pengungkapan diri tidaklah mudah untuk dilakukan dalam budaya saat ini, para pendengar cenderung tertarik pada pengkhotbah yang terbuka dan jujur, terutama yang berkaitan dengan pergumulan hidup.

Selain kisah-kisah kehidupan pribadi pengkhotbah, kisah-kisah orang lain -- baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal -- juga dapat menjadi bahan yang baik. Kisah-kisah seperti itu menimbulkan identifikasi, menempatkan pendengar dalam pemaparan khotbah. Tentu saja, setiap pengkhotbah tahu bahwa membagikan informasi yang bersifat rahasia dari mimbar merupakan pelanggaran etika pelayanan, bahkan mengubah nama dan lokasi cerita untuk "melindungi identitas" seseorang terkadang tidak dapat dilakukan dengan cukup baik. Oleh karena itu, para pengkhotbah harus sangat berhati-hati dalam membagikan kisah-kisah orang lain, dan melakukannya hanya ketika mereka telah menerima izin dari pihak-pihak yang terlibat.

Haruskah para pengkhotbah mengarang cerita untuk menyampaikan sebuah pesan? Sebagian besar kolega saya berpikir bahwa hal itu tidak etis untuk dilakukan, sementara beberapa orang tidak melihat ada yang salah dengan praktik tersebut. Seperti kebanyakan hal dalam hidup, saya kira itu tergantung pada beberapa faktor. Satu hal yang pasti, menceritakan sebuah cerita yang seolah-olah benar padahal tidak, adalah sesuatu yang tidak etis.

Dalam arti tertentu, zaman kita adalah zaman cerita, zaman induksi. Tidak pernah sebelumnya orang-orang begitu mengidentifikasikan diri mereka dengan cerita. Sebagai konsekuensinya, di zaman sekarang ini, beberapa khotbah merupakan kumpulan cerita, yang diceritakan satu demi satu, dan pengkhotbah akan menyampaikan maksudnya di bagian akhir. Praktik ini baik dan bagus jika cerita-cerita tersebut diikat menjadi satu sehingga pendengar tidak dibiarkan menggaruk-garuk kepala, bertanya-tanya tentang apa isi dari cerita-cerita tersebut.

Organisasi/Struktur

Apakah khotbahnya terorganisasi dengan baik? Apakah materi yang disampaikan disusun dalam bentuk yang logis, runtut, dan berurutan? Apakah para pendengar dapat mengikuti pengkhotbah tanpa tersesat? Apakah transisi dalam khotbah itu lancar dan tidak mengganggu? Sebagai seorang remaja, saya pernah mendengarkan khotbah yang tidak lain adalah gado-gado dari berbagai ide yang tidak saling berhubungan. Pengkhotbah itu sepertinya berbicara ke segala arah sekaligus, dan setelah selesai, tidak sedikit dari kami yang merasa pusing. Sayangnya, banyak pengkhotbah (seperti pengkhotbah tersebut) yang membingungkan dan mengaburkan pemahaman para pendengarnya hanya karena kurangnya penataan dalam khotbah mereka.

Penataan ini lebih dari sekadar pendahuluan, isi, dan kesimpulan. Apa yang masuk ke dalam masing-masing bagian dan bagaimana isi dari masing-masing bagian tersebut berkembang dan mengalir adalah inti dari masalah ini. Harus ada kesatuan, keteraturan, dan perkembangan dalam sebuah khotbah. Selain itu, transisi dari satu poin ke poin berikutnya haruslah halus dan tidak terlihat. Transisi yang paling kuat adalah ketika transisi tersebut tidak terlalu terlihat. Dan karena jemaat cenderung untuk mengantisipasi poin atau tindakan selanjutnya dalam khotbah, pengkhotbah harus mengemas penyampaian khotbahnya sedemikian rupa sehingga ketegangan dan ketertarikan tetap terjaga. Semua yang dikatakan harus mencerminkan ide besar khotbah, karena dipahami bahwa khotbah seharusnya hanya memiliki satu "ide besar".

Bahasa/Gaya

Apakah bahasa yang baik dan efektif sudah digunakan dalam penyampaian khotbah? Ini tidak berarti bahwa para pengkhotbah harus berusaha untuk membuat para pendengar terkesan dengan kemampuan bahasa mereka. Kata-kata yang panjang lebar bukanlah tujuan dalam hal ini, tetapi kejelasan. Apa yang pengkhotbah ingin pendengarnya bawa ke gereja adalah Alkitab mereka, bukan kamus mereka. Bahasa yang sesuai dengan usia dan sangat jelas sehingga semua orang dapat memahaminya dengan mudah adalah bahasa yang ingin digunakan oleh pengkhotbah.

Saya pernah mendengar seorang pengkhotbah berkata, "Dalam simpulan sejernih kristal, kesucian adalah ....." Meskipun aliterasi dan pilihan kata-katanya memikat saya, tetapi hal itu menggelitik saya. Bukankah kata-kata yang lebih sederhana dapat lebih memikat dalam menyampaikan poin yang ingin disampaikan oleh pengkhotbah tersebut?

Dalam arti yang sebenarnya, pengkhotbah adalah seorang seniman, dengan kata-kata sebagai alat untuk melukis. Dan ya, para pengkhotbah, sebagai penulis, harus bercita-cita untuk menjadi sekreatif dan semenarik mungkin. Namun, kita harus berhasil dalam kedua hal tersebut tanpa menjadi sombong, dengan selalu mengingat bahwa Yesus, Juru Selamat kita, sangat menarik dalam kesederhanaan-Nya.

Keindahan dari bahasa adalah bahwa ada banyak sekali pilihan kata untuk menyampaikan pemikiran yang sama. Dan terkadang para pengkhotbah, yang karena malas atau kurang belajar, tetap memilih kata-kata yang biasa dan sehari-hari untuk menyampaikan hal yang agung sebenarnya sedang mencurangi pendengarnya. Ada banyak kiasan yang dapat kita manfaatkan untuk menangkap nuansa-nuansa yang halus, agar para pendengar kita dapat melihat, mendengar, merasakan, dan mencium apa yang kita katakan. Oleh karena itu, kita harus menggunakan bahasa yang memfasilitasi kerinduan mereka. Untuk mengatakan, "kami tiba di sana saat musim gugur dan semua pohon berwarna merah," bukannya, "kami menginjakkan kaki di perkemahan ketika musim gugur datang, dan hutan telah bermandikan warna-warni," adalah sesuatu yang hampir tidak bisa dimaafkan.

Mempersiapkan naskah khotbah telah terbukti menjadi praktik yang sangat berharga dalam membantu para pengkhotbah menggunakan kata-kata yang tepat untuk mengekspresikan pemikiran mereka. Menulis khotbah, bahkan untuk pengkhotbah yang biasanya tidak memakai naskah, juga membantu kita untuk mengkristalkan dan memperjelas pemikiran kita. Ketika menuangkan pemikiran ke atas kertas, para pengkhotbah tidak boleh lupa bahwa mereka akan didengar, bukan dibaca. Oleh karena itu, mereka harus menulis dengan mempertimbangkan jemaat yang akan mendengarkan, bukan membacanya, kecuali, tentu saja, mereka sedang mempersiapkan khotbah untuk dipublikasikan.

Penyampaian

Adakah kesulitan dalam mendengarkan khotbah ini? Apakah postur tubuh pengkhotbah menghalangi? Bagaimana dengan gerak tubuh pengkhotbah? Apakah dia berjalan mondar-mandir? Selain itu, bagaimana dengan sikap tubuh pengkhotbah? Apakah semua itu mengganggu dengan cara apa pun? Khotbah adalah sesuatu yang disampaikan secara verbal. Karena itu, penyampaiannya harus langsung dan dinamis, dengan sedikit atau tanpa gangguan sama sekali. Banyak khotbah yang tampak luar biasa di atas kertas, tetapi tidak gagal dalam penyampaiannya.

Salah satu praktik yang hampir selalu mengurangi keefektifan khotbah adalah pengkhotbah menikah dengan naskahnya. Sudah menjadi kebenaran yang terbukti bahwa pembicara yang menjaga kontak mata dengan pendengarnya jauh lebih efektif daripada mereka yang tidak. Tentu saja, ada pengkhotbah yang membaca khotbah mereka dan tetap berhasil tetap terhubung dengan para pendengarnya. Namun, mereka lebih merupakan pengecualian daripada aturan.

Praktik lain yang cenderung mengurangi keefektifan khotbah adalah gerakan kepala yang naik-turun ketika pengkhotbah mencoba membaca dan melihat ke arah hadirin sesekali. Ketika dilakukan dengan cepat, praktik ini bahkan lebih mengganggu, membuat pengkhotbah terlihat seperti unggas yang sedang minum air.

Selain itu, praktik lain yang mengganggu khotbah adalah para pengkhotbah yang mengukur jumlah pendengarnya, bahkan sebelum ia naik ke mimbar. Dengan kata lain, para pengkhotbah ini mulai berkhotbah jauh sebelum mereka mulai berkhotbah. Orang-orang memperhatikan pakaian dan tingkah lakunya, bahkan mencoba untuk masuk ke dalam kepribadiannya. Dan saat pengkhotbah naik ke mimbar, minat para hadirin semakin meningkat. Keistimewaan apa pun akan diperhatikan dan dapat dengan mudah menjadi gangguan utama. Oleh karena itu, penting bagi pengkhotbah untuk memperhatikan apa pun yang dapat mengalihkan perhatian pendengarnya dari pesan yang akan dikhotbahkan, dengan maksud untuk menghilangkannya.

Perhatian harus diberikan pada apa yang dilakukan dengan tangan dan kaki. Meremas-remas tangan, memasukkan tangan ke dalam saku, atau menggerakkan tangan secara liar, berlebihan, dan tidak tepat, semuanya mengganggu. Singkatnya, gerakan yang berlebihan dari pengkhotbah dapat mengganggu khotbah yang dibawakannya. Namun demikian, di zaman ketika para pengkhotbah terbiasa berjalan berkeliling seperti sekarang ini, hal ini tidak menjadi gangguan di banyak kalangan. Saat ini, para pengkhotbah cenderung berjalan melintasi panggung dan turun ke tempat duduk jemaat sehingga mereka dapat lebih mudah terhubung dengan para pendengarnya. Dalam arti tertentu, apakah gerakan pengkhotbah menjadi gangguan atau tidak, tergantung pada kepribadian pengkhotbah. Bagi sebagian orang, gerakan, bahkan gerakan yang berlebihan, sesuai dengan kepribadian pengkhotbah tertentu; bagi yang lain, tidak demikian sehingga terlihat dibuat-buat. Hal ini tergantung pada lokasi dan pengkhotbah yang terlibat sehingga kepekaan terhadap konteks menjadi sangat penting.

Kesalahan tata bahasa juga dapat mengurangi keefektifan khotbah, begitu juga dengan ketidakakuratan dalam materi pengkhotbah. Cerita yang terdengar muluk-muluk juga mengganggu. Tingkat dan nada suara pengkhotbah pun berkontribusi pada efektivitas khotbah. Dan, karena khotbah adalah kebenaran yang disampaikan melalui suatu pribadi, maka kepribadian pengkhotbah, yang selalu dan tak terelakkan bersinar dalam khotbahnya, dapat menjadi penghalang atau katalisator bagi penerimaan khotbah.

Kesimpulan/Aplikasi

Apakah pengkhotbah mengakhirinya dengan lancar? Bagaimana sebuah khotbah diakhiri sama pentingnya dengan bagaimana khotbah itu dimulai. Bahkan, beberapa orang percaya bahwa kesimpulan khotbah lebih penting daripada permulaannya, karena bagian ini adalah bagian yang paling mungkin dibawa pulang oleh para pendengar.

Apa yang harus disampaikan oleh pengkhotbah dalam kesimpulannya? Apa yang ingin dicapai dari kesimpulan tersebut? Pengkhotbah tentu harus mengulangi atau menyatakan kembali poin-poin utama atau "ide besar" dari khotbahnya, dan memberitahu para pendengar tentang apa yang baru saja ia sampaikan kepada mereka. Dalam kesimpulan, pengkhotbah harus meringkas dan mengilustrasikan pesan yang disampaikan, serta menantang atau menasihati para pendengarnya. Melalui semuanya itu, Yesus Kristus harus ditinggikan dan kasih karunia Kristus dinyatakan.

Orang-orang tahu kapan sebuah khotbah berakhir, begitu juga dengan pengkhotbahnya. Ketika pengkhotbah telah sampai di tempat tujuan, ia harus mendaratkan pesawat dengan mulus dan mengarahkannya ke terminal. Suatu kali saya berada di dalam pesawat yang akan mendarat di landasan pacu di Bandara Internasional O'Hare Chicago, ketika (tanpa peringatan) sang pilot memutuskan untuk melakukan lepas landas. Seingat saya, kami hanya berada tidak lebih dari beberapa meter dari tanah ketika kami mengudara lagi. Itu adalah pengalaman yang cukup menakutkan. Pilot dengan cepat mengudara untuk memberi tahu kami bahwa ada pesawat lain yang berada di landasan pacu, dan jika bukan karena tindakan cepatnya, kami akan bertabrakan dengan pesawat tersebut.

Keterampilan pilot tersebut telah menyelamatkan banyak nyawa pada hari itu. Dia lepas landas saat hendak mendarat, sebuah tindakan yang patut disyukuri oleh setiap penumpang. Namun beberapa pengkhotbah lepas landas saat mereka bersiap untuk mendarat tanpa alasan yang jelas. Dengan melakukan hal tersebut, mereka membingungkan, dan dalam beberapa kasus, membuat marah para pendengarnya. Tentu saja, jika mereka mengudara untuk menghindari tabrakan, mereka dapat dimaafkan.

"Membawa khotbah pulang" harus dilakukan tanpa bertele-tele atau canggung, dan pengkhotbah yang tidak yakin bagaimana cara mengakhiri khotbah tidak boleh mengambil risiko untuk memulai -- yang tidak berarti bahwa khotbah harus ditulis sampai detail terakhir, sehingga menyangkal pengkhotbah untuk melakukan spontanitas atau bisikan Roh Kudus.

Jika ajakan dibuat di akhir khotbah, ajakan tersebut haruslah bersifat rohani, tepat, dan persuasif tanpa bersifat manipulatif. Para pengkhotbah harus bersikap etis dalam cara mereka mengimbau, sambil menghindari godaan untuk melakukan apa pun dan segala cara yang mungkin untuk membuat seseorang merespons secara positif khotbah yang telah disampaikannya. Kita harus berusaha untuk memastikan bahwa imbauan tersebut sesuai dengan pesan yang disampaikan, tidak terputus-putus atau asing.

Dampak Keseluruhan

Apa dampak keseluruhan dari khotbah tersebut? Apakah khotbah tersebut tepat sasaran? Apa yang berkesan dari khotbah tersebut? Apakah khotbah tersebut menyentuh sesuatu di dalam diri pendengarnya? Apakah mereka yang mendengarnya akan mengingatnya untuk waktu yang lama? Bagaimana khotbah tersebut mengubah para pendengarnya?

Kadang-kadang, khotbah yang memiliki kekurangan dalam banyak hal yang telah disebutkan di atas masih berhasil memberikan dampak positif secara keseluruhan kepada para pendengarnya. Saya masih ingat dengan jelas sebuah khotbah yang saya sampaikan pada awal pelayanan saya yang termasuk dalam kategori ini. Sejauh yang saya ketahui, khotbah tersebut adalah khotbah terburuk yang pernah saya sampaikan hingga saat itu. Itu adalah pekerjaan yang terburu-buru yang dikhotbahkan dengan keraguan dan kurangnya kepercayaan diri oleh pengkhotbah muda yang tidak mempersiapkan diri dengan baik . Namun, untuk alasan yang masih belum saya pahami, sebagian besar anggota jemaat tampaknya menerima berkat dari khotbah itu. Bahkan, lebih banyak orang yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka pada hari itu dibandingkan dengan khotbah-khotbah saya selanjutnya.

Beberapa elemen yang tidak disebutkan sebelumnya berkontribusi pada dampak keseluruhan dari sebuah khotbah, termasuk suasana hati para jemaat, musik yang dimainkan, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia dan masyarakat. Kadang-kadang jemaat sudah siap untuk mendengarkan khotbah, karena ibadah telah mempersiapkan para pendengar untuk menerima pengkhotbah. Khotbah yang menekankan pengharapan setelah bencana alam atau pergolakan sosial kemungkinan besar akan berjalan dengan baik.

Pada akhirnya, khotbah yang tidak memberikan efek positif secara keseluruhan kepada para pendengarnya adalah khotbah yang gagal. Bagaimanapun juga, tujuan pengkhotbah bukanlah untuk membuat para pendengar terkesan dengan kemampuannya dalam bahasa-bahasa asli Alkitab, atau kompetensinya sebagai seorang pengkhotbah. Pengkhotbah juga tidak ingin membuktikan bahwa ia adalah seorang pengkhotbah yang terampil. Yang diinginkan oleh para pengkhotbah adalah mengomunikasikan firman Allah sedemikian rupa sehingga kehidupan orang yang mendengarnya diubahkan dan diperkaya.

Berkhotbah adalah aspek yang paling menantang dalam pekerjaan kita, dan banyak pendeta yang merasa tidak mampu berkhotbah di mimbar. Namun, dengan doa dan kerja keras, serta memperhatikan elemen-elemen khotbah yang efektif, kita dapat menyusun dan menyampaikan khotbah yang dapat mengubah kehidupan para pendengar kita dan memperluas Kerajaan Allah di bumi.

Diterjemahkan dari:
Nama situs: Preaching.com
Alamat situs: https://www.preaching.com/articles/evaluating-the-sermon-ten-elements-to-consider-after-you-preach/
Judul artikel: Evaluating the Sermon Ten Elements to Consider After You Preach
Penulis artikel: R. Clifford Jones

Kategori: 

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA