Philipp Melanchthon: Refleksi mengenai Tubuh Kristus

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Hidup, Pelayanan, dan Gerakan Reformasi

Philipp_Melanchthon

Philipp Schwartzerdt (1497 -- 1560) lahir di Bretten dalam keluarga seorang pembuat baju zirah. Pada tahun 1511, dia mendapat gelar sarjana di Universitas Heidelberg. Dia ditolak untuk mengambil gelar Master of Arts di universitas yang sama karena usia yang terlalu muda. Oleh karena itu, dia pindah ke Tübingen dan menyelesaikan gelarnya di sana pada tahun 1514. Melanchthon adalah pengganti dari nama belakang Schwartzerdt menggunakan bahasa Yunani karena dia masuk dalam tradisi humanisme Kristen dari pamannya, Johannes Reuchlin. Pada tahun 1518, dia mendapatkan gelar Professor of Greek Literature di Wittenberg. Di sini, dia berkerabat dengan Desiderius Erasmus dan tokoh yang mencantumkan namanya dalam sejarah Reformasi, Martin Luther[1].

Salah satu titik awal pelayanan Melanchthon bersama Luther adalah debat besar pertama antara Luther dan Roma Katolik di Leipzig (1519), tempat dia hadir sebagai penonton dan mendukung Luther melalui tulisannya, Defensio contra Johannes Eckium. Perjuangan Reformasi Melanchthon yang sering diidentikkan dengan peran akademis yang melengkapi dobrakan Luther dapat dilihat melalui ringkasan Teologi Reformed sistematis yang pertama, Loci communes rerum theologicarum seu hypotyposes theologicae atau singkatnya, Loci communes. Pendekatannya yang juga politis membuat Melanchthon dipercayai oleh Luther untuk menulis pernyataan iman Jerman atas permintaan Kaisar Suci Romawi Charles V. Dokumen terpenting dalam sejarah Reformasi Luther ini berisi 28 artikel pernyataan iman Reformasi yang disebut Augsburg Confession (1530).

Melanchthon bekerja sangat dekat dengan Luther dalam usaha Reformasi hingga dia mengatakan lebih baik mati daripada terpisah dengannya[2]. Luther mengajarkan Melanchthon Teologi Reformasi, sebaliknya humanisme Melanchthon memengaruhi Luther hingga dia menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Jerman.

Namun, kedua tokoh ini memiliki karakter yang sangat berbeda. Luther adalah orang yang menggebrak, berapi-api, agresif, tetapi terkadang terlalu gegabah. Melanchthon seorang yang berhati-hati, cinta damai, dan tenang, tetapi tidak tegas. Karakteristik Melanchthon yang berbalikan dengan Luther ini berbuah dasar-dasar iman Reformasi Luther dalam bentuk yang tertulis dan
sistematik. Namun, saat yang sama, gesekan pun juga terjadi karena cara pendekatan yang berbeda. Hingga ada saat di mana Luther menulis surat yang mengkritik Melanchthon dan kekhawatirannya yang berlebihan[3].

Banyak Anggota, tetapi Satu Tubuh

Bekerja Sama

Relasi antara Luther dan Melanchthon merupakan sepotong kecil mengenai gambaran akan tubuh Kristus, yaitu gereja. Konsep tubuh Kristus sangat berkaitan erat dengan konsep panggilan individual setiap anggota. Setiap anggota mempunyai fungsi yang berbeda, tetapi merupakan satu tubuh (1 Korintus 12:12). Paulus mengatakan dalam Roma 12:4-5 bahwa satu tubuh memiliki banyak anggota. Setiap anggota adalah bagian tubuh Kristus dan merupakan anggota seorang terhadap yang lain. Tidak semua anggota tubuh Kristus mempunyai fungsi yang sama: ada yang berperan sebagai mata, telinga, tangan, maupun kaki. Namun, perlu diperhatikan bahwa setiap anggota sama pentingnya karena tubuh tidak mungkin bekerja jika hanya satu anggota yang berfungsi. Juga bahwa setiap anggota membutuhkan anggota yang lain.

Oleh karena itu, Alkitab telah menggambarkan hubungan yang begitu indah dan membebaskan dalam pelayanan. Kita tidak dipanggil untuk melakukan semua pelayanan secara sendirian, tetapi apa yang kurang dari pelayanan seseorang akan dilengkapi oleh anggota yang mempunyai panggilan yang sesuai. Hal ini pun disadari oleh Melanchthon yang pendekatan halusnya dikritik oleh Luther. Ketika dibandingkan dengan Luther, dia menjawab, "If I myself do not do my part, I cannot expect anything from God in prayer."

Dari sini, kita bisa mempelajari beberapa hal. Pertama, kita patut mengenal diri, mengerti takaran kita, dan mengetahui panggilan kita (Roma 12:3). Jika kita melihat diri kita lebih daripada apa yang sesuai, kita bisa jatuh dalam kecongkakan. Sebaliknya, bila kita melihat diri kita lebih rendah daripada yang seharusnya, kita menjadi rendah diri. Dua sisi ekstrem ini bukanlah pikiran yang "begitu rupa" yang dimaksudkan oleh Paulus dalam Surat Roma. Dengan mengenal diri dan panggilan, Tuhan akan menempatkan kita dalam rencana kekal-Nya untuk kita dari semenjak dunia belum dijadikan.

Kedua, kita perlu mengerti bahwa dalam tubuh Kristus tidak ada yang lebih rendah dibanding yang lain. Semua anggota tubuh adalah manusia berdosa yang ditebus oleh Kristus. Bahkan, 1 Korintus 12 mengatakan bahwa anggota tubuh yang paling kecillah yang perlu diangkat (ay. 22-23). Oleh karena itu, dalam pelayanan, kita tidak perlu iri, meremehkan, ataupun "menciut" melihat pelayanan orang lain. Karena, karunia yang dimiliki satu anggota dan lainnya berbeda-beda, tetapi semua tetap merupakan anggota tubuh Kristus yang diperlukan agar tubuh dapat berfungsi dengan baik. Dalam hal ini, gereja yang dikepalai oleh Kristus memerlukan setiap anggotanya untuk bekerja agar dapat melayani setiap zaman secara efektif.

Dalam perbedaannya pun, Luther dan Melanchthon mengerjakan bagian mereka masing-masing dan dipakai oleh Tuhan dalam mengubah sejarah. Di tengah perbedaan pendekatan, latar belakang, dan cara pandang, mereka tetap mengasihi satu sama lain. Mereka sadar bahwa Tuhan tetap bekerja dalam diri mereka masing-masing. Keindahan hubungan dalam tubuh Kristus di antara mereka terlukis ketika Melanchthon berseru saat kematian Luther, "Dead is the horseman and chariot of Israel who ruled the Church in this last age of the world!"

Audio Philipp Melanchthon: Refleksi mengenai Tubuh Kristus

Endnotes:

[1] “On-Line Exhibits,” 1998. [Online]. Available: http://www.lutheranhistory.org/melanchthon/.

[2] J. H. M. d’Aubigne, “The Roman Bull,” in History of the Great Reformation of the Sixteenth Century: In Germany, Switzerland, Etc, Volume 1, New York, 1844, p. 159.

[3] W. P. Anderson, A Journey Through Christian Theology: with texts from the first to the twenty-first century, Minneapolis: Fortress Press, 2010.

Diambil dari:
Nama situs : Buletin Pillar
Alamat situs : http://www.buletinpillar.org/artikel/philipp-melanchthon-refleksi-mengenai-tubuh-kristus
Judul artikel : Philipp Melanchthon: Refleksi mengenai Tubuh Kristus
Penulis artikel : Adhi Prasetya
Tanggal akses : 8 Oktober 2019
Kategori: