Pertobatan Paulus

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Pertobatan Paulus diceritakan panjang lebar oleh Lukas dalam Kisah Para Rasul 9:1-9, dan kemudian masih disebut dua kali lagi dalam suatu pidato Paulus (lihat 22:6-16; 26:12-18).

Paulus sendiri juga menyebutnya tetapi dengan jauh lebih sederhana. Dua teks yang secara cukup luas membicarakan pertobatannya sendiri, yakni Galatia 1:11-24 dan Filipi 3:4-14.

1. Galatia 1:11-24

Paulus menerima Injilnya dari Kristus sendiri, katanya, yakni dalam pewahyuan pada perjalanan ke Damsyik (lihat juga 1 Korintus 15:8). Dari pewartaan para murid, dia sudah tahu bahwa Yesus diimani sebagai Kristus. Justru itulah sebabnya dia menganiaya orang Kristen, yang dari sudut Yahudi mesti dilihat sebagai orang murtad. Namun, pada perjalanan ke Damsyik, dia mulai sadar bahwa orang Kristen benar, Yesus sungguh Almasih, Putra Allah. Bagi Paulus, ini suatu pengalaman batin. Namun pengalaman iman ini, yang bersumber pada wahyu Allah sendiri, membuat Paulus menegaskan bahwa dia tidak menerima Injilnya dari manusia. Berulang kali dia mengatakan hal itu.

Pertobatan Paulus

Permasalahan Paulus dengan jemaat di Galatia menyangkut soal-soal agama Yahudi. Maka Paulus menandaskan bahwa dia sendiri pernah seorang Yahudi, sampai "menganiaya jemaat Allah". Dan bukan hanya Yahudi biasa saja: "sangat rajin memelihara adat-istiadat nenek- moyang". Paulus seorang Farisi, "lebih maju daripada banyak orang sebaya". Paulus tidak memandang rendah agama Yahudi (lihat Roma 10:1-3). Namun, "Kristus adalah pembubaran hukum Taurat" (Roma 10:4). "Sebelum iman datang, kita berada di bawah pengawasan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman dinyatakan. Maka hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang. Sekarang iman telah datang, karena itu kita tidak lagi berada di bawah pengawasan penuntun" (Galatia 3:23-24). Sebelum Kristus, agama Yahudi memang baik ("hukum Taurat adalah rohani; hukum Taurat itu baik", Roma 7:14,16). Namun, sekarang lain: Kristus telah datang, dan hukum Taurat tidak berlaku lagi.

Dan, bagi Paulus perubahan ini datang pada perjalanan ke Damsyik: "Allah berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku" (lihat 1 Korintus 9:1; 15:8). Paulus begitu terkesan bahwa dia merumuskan pengalamannya dengan suatu kutipan dari nyanyian "Hamba Tuhan": "Tuhan telah memanggil aku sejak dari kandungan, telah menyebut namaku sejak dari rahim ibuku" (Yesaya 49:1; Yeremia 1:5). Pengalaman pada perjalanan ke Damsyik bagi Paulus betul-betul karya rahmat, tanpa jasa manusia. Namun bukan rahmat untuk dinikmati saja, melainkan untuk dibagikan dengan banyak orang lain. Seperti hamba Tuhan, begitu juga Paulus merasa diri dipanggil untuk menjadi "terang bagi bangsa-bangsa, supaya keselamatan sampai ke ujung bumi" (Yesaya 49:6; lihat juga Kisah Para Rasul 9:15). Sebagai reaksi atas rahmat yang memesonakan ini, Paulus mengundurkan diri: "Aku berangkat ke tanah Arab." Dia tidak bicara lagi dengan siapa-siapa, tetapi mengundurkan diri ke tempat yang sepi untuk mengolah dan mengunyah pengalaman yang hebat ini. Baru tiga tahun kemudian, dia pergi mengunjungi Petrus, kepala para rasul. Sungguh mengharukan pertemuan antara kedua tokoh gereja purba ini. Paulus, ahli kitab dan Farisi, pemimpin kelompok Yahudi, yang mendapat surat kepercayaan dari pimpinan di Yerusalem, sekarang menghadap nelayan dari Tiberias untuk mendengarkan cerita mengenai Yesus. Di kemudian hari, dia akan berkata: "Jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian" (2 Korintus 5:16). Namun, kunjungan ini hanya sebentar saja. Kemudian, Paulus meneruskan lagi tugasnya di daerah Damsyik. Di Yerusalem, dia (hampir) tidak dikenal. Paulus tidak akan menetap di pusat. Dia akan mengembara di seluruh dunia untuk memberitakan Kabar Baik mengenai kerahiman Tuhan.

2. Filipi 3:4-14

Dalam surat kepada umat di Filipi, terdapat cerita lain dari Paulus mengenai pertobatannya. Di situ, dia tidak begitu menyorotinya dari sudut rahmat Tuhan seperti dalam surat kepada umat di Galatia, melainkan dari perubahan yang terjadi dalam hidupnya sendiri. Suatu perubahan yang dahsyat, dan sungguh memesonakan. Memang bukan perkara kecil bagi Paulus untuk berubah dari penganiaya jemaat Kristen menjadi rasul Kristus.

Juga di sini, Paulus mulai dengan mengatakan bahwa dia berasal dari kalangan Yahudi. Dia menggambarkan secara mendetail apa yang dimaksudkan dengan "hidup secara Yahudi" (lihat Galatia 1:14; 5:3). Juga penganiayaan jemaat tidak didiamkan olehnya. Paulus tidak menyangkal asal-usul Yahudinya (lihat juga Roma 11:1; 2 Korintus 11:22). Dia juga tidak menyangkal bahwa hukum Taurat pernah menjadi andalannya. "Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan, sekarang kuanggap rugi." Dan bukan karena dia menyesal bahwa pernah berusaha hidup baik sebagai orang Yahudi, tetapi "karena Kristus", "karena pengenalan akan Kristus". Sebab mengenal Kristus itu lebih unggul dari apa-apa saja. Maka dia juga menyebut Kristus "Tuhanku". Dan inilah keterangannya: "Siapa yang ada dalam Kristus, dia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu" (2 Korintus 5:17; lihat Galatia 6:15). Orang tidak dapat mengenal Kristus dan tetap berpegang pada yang lama. Bertemu dengan Kristus berarti suatu perubahan radikal. Karena kepercayaannya akan Kristus dia memperoleh "kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan". Artinya: tanpa Kristus kita tidak dapat apa-apa (Roma 3:9: "semua ada di bawah kuasa dosa"). Namun, Kristus "telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian dalam darah-Nya" bagi orang yang percaya (Roma 3:25). Maka "kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus" (Roma 5:1).

Di sini, Paulus sudah masuk ke dalam pokok teologinya: oleh kesatuan dengan Kristus kita diterima dan dibenarkan oleh Allah. Kristus, khususnya wafat dan kebangkitan Kristus, adalah pernyataan kerahiman Allah bagi kita (lihat Roma 3:22). "Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus" (2 Korintus 5:19). Maka Paulus ingin menjadi satu dengan Kristus. Tidak hanya mengenal Kristus, tetapi "mengenal kuasa kebangkitan-Nya"; ingin "menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya", supaya juga ikut dengan Kristus dalam kehidupan-Nya. Sebab Allah "yang telah membangkitkan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus" (2 Korintus 4:14; lihat 1 Korintus 6:14). Sebab "jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu" (Roma 8:11). Kita ikut serta dengan Kristus. Dan, hanya dalam kesatuan dengan Kristus itu kita dapat sampai kepada Allah. Tidak ada jalan lain. Oleh karena itu, Paulus berani berseru: "Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?" (Roma 8:35). Tidak ada. Sekarang ini "kewargaan kita sudah di dalam surga, dan dari situ kita menantikan Tuhan kita Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia" (Filipi 3:21). Tentu saja, semua itu masih diharapkan. "Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan" (Roma 8:24). Namun, Paulus "mengejarnya", "berlari-lari, mengarahkan diri kepada apa yang di hadapannya"; berusaha untuk menangkapnya, "karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus". Paulus tidak dapat tinggal diam lagi: sekali disentuh oleh rahmat Kristus dia ditarik oleh daya kekuatan yang tak dapat ditahan lagi. "Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku, yang kuhidupi sekarang ini, adalah hidup oleh iman akan Anak Allah yang mengasihi aku, dan menyerahkan diri untuk aku" (Galatia 2:20).

Diambil dari:
Judul buku : Rasul Paulus
Penulis : Tom Jacobs
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta, 1984
Halaman : 9 - 13
Kategori: