Sebuah Uraian tentang Alkitab: Pentingnya Memahami Transmisi Alkitab ketika Mempraktikkan Apologetika Kristen

Bahkan, jika Anda orang yang skeptis, atau Anda tidak percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang diilhami, Anda harus mengakui bahwa sangatlah menarik untuk menemukan dokumen kuno seperti Alkitab yang bertahan ribuan tahun dengan kerusakan minimal pada reputasi dan kontennya. Tidak ada buku kuno lain yang memiliki umur panjang yang secara luar biasa tetap populer hingga kini. Alkitab adalah buku terlaris sepanjang masa dan sejak penemuan mesin cetak telah terjual lebih dari enam miliar eksemplar (dan terus bertambah)!

Alkitab Kristen terdiri dari Perjanjian Lama (39 kitab) dan Perjanjian Baru (27 kitab). Perjanjian Lama mencakup periode waktu dari penciptaan sampai sekitar empat ratus tahun sebelum kelahiran Yesus. Perjanjian Baru mencakup periode waktu yang sangat singkat, yang dimulai dengan kelahiran Yesus sampai awal berdirinya Gereja, semuanya selama abad pertama Masehi (CE/Common Era atau era umum seperti yang sekarang dijadikan acuan dalam dunia akademis).

Transmisi Alkitab -- Perjanjian Lama

Bagaimana kita mendapatkan kitab-kitab ini?

(Catatan: CE untuk Common Era dan BCE untuk Before Common Era sekarang telah menggantikan akronim AD dan BC dalam literatur akademis)

Diakui oleh para ahli bahwa Perjanjian Lama yang kita miliki saat ini adalah tulisan yang sama yang digunakan oleh Yesus dan orang-orang Yahudi pada abad pertama Masehi, yang pada waktu itu dianggap sebagai Kitab Suci Ibrani. Perjanjian Baru ditulis pada abad pertama Masehi dan kemudian dikanonisasi pada abad keempat Masehi. Kita akan melihat transmisi keduanya dari waktu ke waktu.

Mari kita mulai dari awal:

Perjanjian Lama

Bagaimana kita tahu bahwa Perjanjian Lama, khususnya kitab Kejadian, akurat? Musa tidak berada di sana untuk menyaksikan kisah Kejadian, meskipun dialah yang mencatatnya bersama dengan empat kitab Taurat lainnya. Kita dapat memiliki keyakinan pada kitab-kitab sejarah ini berdasarkan tiga alur penalaran dengan bukti yang dapat kita pahami:

1. Arahan dan inspirasi Allah sendiri:

Allah sendiri telah menjamin bahwa apa yang kita baca hari ini adalah apa yang Dia maksudkan untuk kita peroleh. Jika Allah ada (dan Dia memang ada) maka mukjizat mungkin terjadi. Jika mukjizat itu mungkin, maka Allah dapat menggunakan mukjizat untuk mengomunikasikan pesan-Nya melalui kata-kata tertulis dari masa ke masa. Yesus juga menggunakan mukjizat untuk mengomunikasikan pesan Allah selama keberadaan-Nya di bumi.

Kita menemukan dalam kitab Keluaran bahwa Allah sendiri yang menulis sebagian dari apa yang Dia berikan kepada Musa dan juga mengarahkan Musa dalam tulisan-tulisannya:

"Setelah TUHAN selesai berbicara kepada Musa di Gunung Sinai, Dia memberikan kepadanya dua loh batu, yang bertuliskan hukum-hukum yang ditulis dengan jari Allah sendiri." (Kel. 31:18, AYT)

Ketika Musa menghancurkan loh-loh batu itu setelah Allah memberikannya untuk pertama kali (lihat ceritanya dalam kitab Keluaran) dia kemudian kembali ke gunung dan Allah memberikan lagi pada Musa apa yang kita miliki hingga hari ini.

"Kemudian, TUHAN berkata kepada Musa, 'Pahatlah dua loh batu seperti yang sebelumnya, dan Aku akan menulisi loh-loh batu itu dengan kata-kata yang terdapat pada loh-loh batu sebelumnya, yang telah kamu pecahkan. Bersiap-siaplah pada pagi hari dan naiklah ke Gunung Sinai pada pagi itu, lalu berdirilah kamu di puncak gunung itu.'" (Kel. 34:1-2, AYT)

"Kemudian, TUHAN berfirman kepada Musa, 'Tulislah segala perkataan ini, sebab berdasarkan perkataan inilah, Aku telah mengadakan perjanjian denganmu dan dengan Israel.'" (Kel. 34:27, AYT)

Berdasarkan arahan dari Allah, Musa kemudian melanjutkan mencatat apa yang kita miliki saat ini dalam lima kitab pertama dari Alkitab yang dikenal sebagai Taurat. Allah memberikan sisa Perjanjian Lama kepada para nabi dan penulis Yahudi yang kemudian melindungi dan mewariskannya selama seribu tahun berikutnya.

Dari Perjanjian Baru Paulus memberitahu kita:

"Semua Kitab Suci dinapasi oleh Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik dalam kebenaran. Dengan demikian, manusia milik Allah akan cakap dan diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik." (2Tim. 3:16-17, AYT)

Dan, Petrus memberi tahu kita:

"Kami juga semakin diyakinkan oleh perkataan nubuat, yang sebaiknya juga kamu perhatikan dengan cermat, seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap, sampai pagi datang dan bintang fajar terbit dalam hatimu. Akan tetapi, hal terutama yang harus kamu pahami adalah bahwa tidak ada nubuat dalam Kitab Suci yang berasal dari penafsiran seorang manusia, sebab tidak ada satu pun nubuat yang muncul dari keinginan manusia, sebaliknya dari orang-orang berbicara atas nama Allah berdasarkan pimpinan Roh Kudus." (2Ptr. 1:19-21, AYT)

2. Transmisi Lisan:

Transmisi lisan informasi dari zaman kuno berorientasi pada komunitas dan karena itu bersifat mengoreksi diri. Dalam budaya kuno, mereka tidak memiliki teknologi yang kita miliki saat ini dan informasi dihafal dan diturunkan bersama dalam kelompok. Itu tidak seperti "permainan pesan berantai" di mana informasi menjadi berubah pada saat mencapai peserta akhir dalam permainan. Jika seseorang menyampaikan informasi palsu, orang-orang dalam masyarakat, terutama para tetua, akan dengan mudah mengenali kesalahan tersebut dan memperbaikinya.

Transmisi Alkitab

Dalam budaya kuno, para pembelajar Kitab Suci dapat mengingat Taurat (lima kitab pertama dalam Alkitab), dan beberapa orang masih melakukannya sampai sekarang. Sejarawan menganggap transmisi lisan sangat dapat diandalkan hingga pada zaman mesin cetak abad ke-15 M. Yang penting untuk diingat adalah bahwa transmisi lisan dari Adam ke Musa hanya berlangsung dalam lima generasi, dan ini adalah jalur transmisi yang sangat pendek untuk sampai pada masa di mana Firman Tuhan dituliskan.

3. Transmisi Tertulis:

Sejak zaman Musa, Firman yang tertulis dianggap suci. Pekerjaan transmisi melalui penyalinan dilakukan suku Lewi dan Ahli Taurat (sambil transmisi lisan terus dilakukan). Para ahli Taurat menggunakan bahan-bahan seperti batu, tanah liat, papirus, perkamen, dan akhirnya kertas untuk mencatat Kitab Suci.

Kitab Suci Yahudi (Tanakh) berisi semua kitab yang sama seperti yang kita miliki dalam Perjanjian Lama (39 kitab), hanya dalam pengelompokan dan urutan yang berbeda. Kitab-kitab ini telah lama diterima sebagai firman Allah oleh para ahli Taurat dan sejarawan Yahudi, dan dikategorikan sebagai Taurat, tulisan-tulisan, dan kitab para nabi. Dalam Alkitab Kristen kita, kita mengategorikannya sebagai kitab-kitab Musa, kitab-kitab sejarah, kitab-kitab kebijaksanaan dan puisi, dan kitab-kitab para nabi.

Septuaginta

  • Ini adalah terjemahan dan nama Yunani untuk Perjanjian Lama
  • Septuaginta adalah terjemahan pertama dari Kitab-Kitab Ibrani/Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani (300-200 SM), dan terjemahan inilah yang akan menjadi Kitab Suci yang dibaca Yesus pada abad ke-1 Masehi.
  • Ini adalah terjemahan yang digunakan oleh orang-orang Yahudi dan orang Kristen awal hingga abad ke-2 Masehi.

Teks Masoretik (sekitar 900 M)

  • Kaum Masoret adalah ahli-ahli Taurat Yahudi di antara abad ke-6 dan ke-10 M, terutama berbasis di wilayah Israel saat ini, di kota-kota Tiberias dan Yerusalem, serta di Irak (Babilonia).
  • Kebanyakan Perjanjian Lama yang kita miliki saat ini diterjemahkan dari kumpulan teks ini.
  • Teks ini berbeda dari Septuaginta, terutama dalam tata bahasa, ejaan, dan pada susunan kata di beberapa tempat.

Sampai penemuan Gulungan Laut Mati (Dead Sea Scrolls - DSS), beberapa masalah keandalan dipertanyakan karena terdapat jarak seribu tahun di antara berbagai manuskrip. Orang-orang skeptis akan mengatakan bahwa tulisan-tulisan itu berubah seiring waktu. Namun, pada tahun 1947 penemuan Gulungan Laut Mati menghilangkan anggapan tersebut! Meskipun ada perbedaan kecil, tidak ada konflik teologis atau doktrinal besar seperti yang diharapkan oleh para skeptis.

Gulungan Laut Mati/DSS (sekitar 250 SM hingga 100 M)

  • Gulungan ini ditemukan pada tahun 1947 di Gua Qumran di wilayah Tepi Barat, sekitar satu mil di utara Laut Mati.
  • Gulungan Laut Mati berisi semua kitab Perjanjian Lama (dengan pengecualian Kitab Ester), dan menutup celah seribu tahun, menenangkan para skeptis.
  • Penemuan ini juga membantu mengonfirmasi nubuatan dalam Perjanjian Lama -- yang digenapi oleh Yesus -- tidak ditambahi atau diubah setelah zaman Kristus, tetapi memang sudah ada berabad-abad sebelum kelahirannya

Yang sangat menarik adalah bahwa kita dapat melihat banyak gulungan kuno ini di museum, perpustakaan, dan Gereja di seluruh dunia saat ini.

Orang-orang yang skeptis juga akan mengklaim bahwa karena Kitab Suci disalin berkali-kali, maka tidaklah mungkin bisa akurat. Namun, penyelidikan yang cermat akan menunjukkan bahwa klaim dari para skeptis ini salah.

Setelah Musa, para Ahli Taurat diminta untuk menyalin, melindungi, dan melestarikan sejarah dan tulisan mereka dari generasi ke generasi. Penyalinan Kitab Suci memiliki pedoman yang sangat ketat dan ada peringatan yang sangat keras terhadap ketidaktaatan -- lihat Ulangan 28:56-69. Ada lebih dari 4.000 aturan yang sangat ketat dalam menangani Kitab Suci yang hanya bisa dilakukan oleh Ahli Taurat. Berikut adalah beberapa contohnya:

  1. Setiap gulungan harus berisi sejumlah kolom tertentu, dan semuanya sama dalam keseluruhan kitab.
  2. Panjang setiap kolom tidak boleh kurang dari 48 baris atau lebih dari 60 baris.
  3. Lebar setiap kolom harus tepat 30 huruf.
  4. Penyalin harus menggunakan tinta hitam yang disiapkan secara khusus.
  5. Jarak antara setiap konsonan harus seukuran benang.
  6. Penyalin harus duduk dalam pakaian Yahudi lengkap.
  7. Penyalin harus menggunakan pena bulu baru untuk menulis nama suci Allah.
  8. Penyalin hanya boleh menyalin huruf demi huruf, bukan kata demi kata.
  9. Penyalin menghitung berapa kali setiap huruf alfabet muncul di setiap kitab.
  10. Penyalin mengetahui huruf tengah Pentateukh dan keseluruhan Perjanjian Lama.
  11. Setelah menyalin, penyalin menghitung maju mundur dari huruf tengah.
  12. Penyalin harus menghitung semua huruf dan spasi.
  13. Penyalin tidak boleh diganggu, bahkan jika Raja masuk, mereka tidak boleh berhenti.
  14. Setiap manuskrip akan dibandingkan dan dibacakan di depan orang-orang.
  15. Kesalahan apa pun di area mana pun akan mengharuskan penyalin untuk membakar salinannya, atau merobeknya, dan memulai lagi dari awal.

Para ahli Taurat percaya dengan segenap hati, jiwa, dan pikiran mereka bahwa ini adalah Firman Allah. Mereka bertanggung jawab akan itu dan memiliki rasa takut dalam penghormatan atas apa yang mereka lakukan. Ahli Taurat diajarkan dan hidup dengan standar etika tertinggi dan bersedia mati untuk pekerjaan mereka.

Musa menulis kata-kata ini kepada orang Israel:

"Inilah perintah, hukum, dan ketetapan yang diperintahkan TUHAN, Allahmu, kepadaku untuk mengajarmu. Patuhilah di negeri yang kamu masuki untuk kamu miliki. Kamu dan anak cucumu harus menghormati TUHAN, Allahmu, selama hidupmu. Taatilah semua hukum dan perintah yang telah kuberikan kepadamu supaya panjang umurmu. Hai Israel, dengarlah dengan hati-hati dan taatilah hukum-hukum ini supaya kamu semakin banyak seperti telah dijanjikan oleh TUHAN, Allahmu, kepada nenek moyangmu di tanah yang berlimpah dengan susu dan madunya. Dengarlah, hai Israel. TUHAN adalah Allah kita. TUHAN adalah satu. Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu. Ingatlah selalu perintah-perintah yang kusampaikan kepadamu hari ini. Kamu harus mengajarkan semuanya itu terus-menerus kepada anak-anakmu, dan bicarakanlah ketika kamu duduk di rumahmu, ketika kamu sedang dalam perjalanan, ketika kamu sedang berbaring, dan ketika kamu bangun. Ikatkanlah itu sebagai tanda peringatan pada tanganmu dan pasangkanlah itu di dahimu. Tuliskanlah itu pada tiang pintu rumahmu dan gerbangmu." (Ul. 6:1-9, AYT)

Untuk Dipelajari Lebih Dalam

Refleksi

  1. Dengan kata-kata Anda sendiri, jelaskan 3 hal yang menjadi bukti yang memberi kita keyakinan bahwa Perjanjian Lama ditransmisikan dengan andal.
  2. Tulislah beberapa aturan yang dapat Anda ingat yang harus diikuti oleh para Ahli Taurat ketika menyalin Kitab Suci.
  3. PTR (Praise-Thanksgiving-Repent-Request) (Pujian-Ucapan Syukur-Pertobatan-Permohonan - Red.): Fokus -- ucapan Syukur bagi orang-orang yang telah mengambil bagian dan setia dalam melakukan transmisi Kitab Suci.

Studi Alkitab

Setiap minggu, kita melakukan studi Alkitab untuk melatih keterampilan studi Alkitab kita. Bacalah atau baca kembali 2 Korintus pasal 1, kemudian jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:

  1. Paulus mengawali surat ini dengan berfokus pada kata "penghiburan." Berapa kali dia menggunakan kata ini dalam pasal 1? Apa poin yang sedang coba dia sampaikan? (1:2-11)
  2. Penderitaan macam apa yang Paulus sedang bicarakan? (1:8-11) Lakukan pemeriksaan referensi silang dengan kitab Kisah Para Rasul pasal 16-18 untuk mengetahui beberapa contoh penderitaan Paulus.
  3. Paulus memiliki beberapa pendakwa di Korintus yang berharap dapat melemahkan otoritasnya karena dia telah memutuskan untuk tidak kembali ke Korintus demi menghindari kunjungan menyakitkan lainnya dalam rangka melakukan koreksi terhadap perilaku Gereja ini (lihat masalahnya dalam 1 Korintus). Bagaimana Paulus mempertahankan integritasnya di hadapan orang-orang Korintus? (1:12-24)

(t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Truth, Faith, and Reason
Alamat situs : https://truthfaithandreason.com/a-case-for-the-bible-the-importance-of-understanding-the-transmission-of-the-bible-when-practicing-christian-apologetics-part-1-the-old-testament
Judul asli artikel : A Case for the Bible: The importance of understanding the transmission of the Bible when practicing Christian Apologetics -- Part 1 The Old Testament
Penulis artikel : Teri Dugan
Kategori: 

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA