Pengorbanan Maria dan Yusuf

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Oleh: Pdt. William Liem

Ayat Bacaan: Lukas 1:26-36; Matius 1:18-25

Di papan nisan sebuah kuburan orang yang terkenal, terdapat sebuah kalimat yang berbunyi demikian: "Allah menguburkan hamba-Nya di tempat ini dan melanjutkan pekerjaan-Nya." Setiap zaman Allah selalu memanggil anak-anak-Nya untuk melanjutkan pekerjaan-Nya di muka bumi. Dan patut kita ketahui bahwa panggilan Allah kepada manusia untuk mengerjakan pekerjaan-Nya tidak pernah ringan. Itulah sebabnya, ketika Tuhan mengutus Musa untuk membebaskan umat Israel penjajahan orang Mesir, Musa merasa tidak mampu dan menjawab: "Siapakah aku ini? Maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?"

Demikian pula ketika Tuhan memanggil Gideon untuk membebaskan umat Israel dari penjajahan orang Midian, Gideon menjawab: "Ah Tuhan, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku." Panggilan Tuhan terasa sangat berat bagi Musa dan Gideon dan mereka merasa mustahil untuk dilaksanakan.

Maria dan Yusuf

Akan tetapi, panggilan Tuhan atas Maria jauh lebih berat lagi karena Tuhan akan meminjam tubuhnya untuk mengandung dan melahirkan bayi Yesus yang tidak berdosa. Ketika mendengar bahwa dia akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, segera muncul reaksi Maria yang spontan: Wah, apa kata masyarakat, tetangga, anggota-anggota keluarganya bahkan tunangannya sendiri terhadap dirinya? Apalagi ada suatu ketentuan dalam hukum Musa bahwa barangsiapa yang berbuat zinah, dia akan dirajam dengan batu sampai mati. Penyelewengan seksual adalah suatu pelanggaran yang amat berat dan tak dapat diampuni pada masa itu. Maka tidak heran, Maria bereaksi: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Akan tetapi, malaikat Tuhan segera meyakinkan Maria dan berkata: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau, sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah."

Ditengah-tengah ketidakmengertian Maria, dia hanya menjawab: "Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Jawaban Maria diatas menunjukkan betapa dia taat kepada Tuhan. Oswald Chambers berkata: "Di hadapan Tuhan, bukan apa yang kita lakukan yang utama, melainkan Allah yang berdaulat telah memilih bekerja melalui kita. Tuhan tidak menginginkan keberhasilan kita, tetapi diri kita. Dia tidak menuntut akan pencapaian-pencapaian kita; tapi ketaatan kita." Maria segenap hati menaati Tuhan, meski konsekuensi dari ketaatan itu dapat mendatangkan kerugian yang amat besar bagi dirinya. Tapi dia rela menjalaninya. Keberanian dan kekuatan untuk memikul semua konsekuensi ini memerlukan kasih karunia dari Tuhan. Untuk itu Maria telah memperolehnya. Ini seperti yang diucapkan oleh malaikat Tuhan kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Tuhan" (Lukas 1:30).

Apa sebetulnya kasih karunia itu? Kasih karunia adalah kebaikan dan kemurahan Tuhan yang dianugerahkan kepada manusia tanpa memandang kelayakan manusia untuk menerimanya. Kasih karunia Tuhan dapat bersifat:

1. Umum, artinya diberikan kepada siapa saja di seluruh dunia. Bukankah Tuhan memberikan udara kepada manusia untuk dihirup, terang matahari dan hujan untuk tanah pertanian bagi siapa saja?

2. Khusus, yakni suatu anugerah yang diberikan kepada mereka yang diselamatkan. Kasih karunia ini merupakan prasyarat pertama dan utama. Tanpa kasih karunia ini tidak mungkin ada keselamatan. "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu; jangan ada orang yang memegahkan diri." (Efesus 2:8-9).

3. Kekuatan di dalam diri anak-anak Tuhan guna menopang pelayanan dan kesaksian hidup ditengah-tengah situasi kondisi internal dan eksternal yang kelihatan tidak memungkinkan. Sebagai contoh:

  • Tuhan menjaga Nuh agar tetap hidup kudus di tengah bangsa yang moralnya sudah rusak (Kej. 6:8).
  • Tuhan memanggil Abraham keluar dari lingkungan yang menyembah berhala dan menjadikan keturunannya sebagai umat pilihan Tuhan (Kej. 12:1-3).
  • Tuhan memimpin dan melindungi Musa dari segala bahaya sejak ia masih bayi sampai masa tuanya. Dalam Keluaran 33:12b dikatakan: "Aku mengenal namamu dan juga engkau mendapat kasih karunia di hadapan-Ku."
  • Tuhan memberikan hikmat, pengetahuan, dan pengertian kepada Daniel Cs. untuk melayani raja Babel. Hasilnya, raja mendapatkan Daniel Cs., sepuluh kali lebih cerdas daripada semua orang yang berilmu, padahal di mata raja, Daniel adalah orang asing (Daniel 1:20).
  • Tuhan memberikan pengertian kepada Salomo untuk memerintah rakyatnya dengan tertib dan bijaksana (1 Raja-raja 3:12).
  • Tuhan menyertai dan memberkati Yusuf, dari pegawai Potifar menjadi orang kedua yang paling berkuasa di Mesir Kejadian 39:2-4, mengatakan bahwa karena penyertaan Tuhan, Yusuf menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya.
  • Tuhan menyertai Nehemia, yang bekerja pada raja yang tidak seiman dengannya, namun Raja Artahsasta mengabulkan permintaan Nehemia untuk membangun kembali tembok Yerusalem yang roboh.
  • Tuhan memberikan kekuatan kepada Paulus untuk tetap melayani-Nya, walau di dalam tubuhnya ada duri yang sangat menyiksanya (2Kor. 12:9-10). Jawab Tuhan kepada Paulus: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna."

Karena begitu pentingnya kasih karunia Tuhan dalam kehidupan dan pelayanan seseorang, maka Paulus berpesan kepada Timotius agar ia jangan lupa mengobarkan kasih karunia Tuhan yang telah diberikan kepadanya melalui penumpangan tangan (2Tim. 1:6). Tanpa kasih karunia Tuhan kita tidak akan mampu melayani Tuhan walau kita orang yang sangat berbakat sekalipun. Bagaimana dengan pengorbanan Yusuf? Kita yakin bahwa Yusuf amat mencintai Maria. Maka ketika ia bertunangan dengan Maria, hatinya sangat senang dan berbunga-bunga. Pertunangan ini tentu memberikan motivasi yang besar baginya dalam bekerja. Cinta adalah suatu kekuatan yang amat misterius dalam diri seseorang. Ketika seorang sedang jatuh cinta, maka cinta itu akan memberikannya kekuatan ekstra untuk melakukan banyak yang menakjubkan.

Misalnya, Yakub ketika jatuh cinta pada Rahel, ia rela bekerja 7 tahun untuk mendapakan Rahel. Begitu semangatnya Yakub, sampai-sampai ia menganggap 7 tahun seperti beberapa hari saja. Perasaan yang demikian juga pasti ada dalam diri Yusuf terhadap Maria. Akan tetap,i suatu hari, ketika Yusuf diberi tahu bahwa Maria hamil karena Roh Kudus, ia kaget sekali. Dalam hatinya tentu amat sedih dan marah karena ia merasa Maria telah mengkhianati cintanya. Akan tetapi karena Yusuf "seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam." Dalam bahasa Inggris, ungkapan tulus hati diterjemahkan sebagai "a righteous man," artinya seorang yang melakukan apa yang benar, atau berperi laku benar, khususnya secara moral tidak bercacat. Seorang yang benar adalah seorang yang berprinsip, seorang yang dengan segenap hati ingin hidup sesuai dengan kehendak Yusuf adalah seorang yang benar, maka walau ia marah dan kecewa kepada Maria, ia tetap tidak mau mempermalukan istrinya di muka umum. Ia tidak mau membalas kejahatan dengan kejahatan. Maka ketika ia mempertimbangkan hal perceraian ini, Tuhan intervensi melalui mimpi Yusuf dan berkata kepadanya: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus." Malaikat Tuhan ingin mengkonfirmasi ulang bahwa kandungan Maria terjadi bukan karena perbuatan seorang lelaki, tetapi karena kuasa Roh Kudus. Allah hanya meminjam kandungan Maria. Untuk menghibur Yusuf, malaikat Tuhan memanggil Yusuf, sebagai anak Daud.

Dalam pemenuhan janji Mesias, Yusuf dipandang sebagai pewaris garis keturunan yang sah dari Daud, dan kemudian meneruskan kehormatan ini kepada Tuhan Yesus. Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus. Seperti Maria, Yusuf dengan ketaatan penuh menerima penetapan Tuhan ini. Walau ia tidak terlalu mengerti apa yang sedang dilakukan oleh Tuhan dalam diri Maria, ia tetap memercayai kedaulatan dan kebaikan Tuhan. Pengorbanan kita dalam Tuhan tidak pernah akan sia-sia. Martin Luther pernah berkata: "Saya pernah menggenggam banyak hal dalam tangan saya, dan sekarang semuanya telah hilang; akan tetapi apapun saya taruh dalam tangan Tuhan, saya tetap memilikinya." Mari kita belajar taat kepada Tuhan. Ketaatan selalu membawa berkat.

Kategori: