Orang Bodoh Berkata dalam Hatinya

Bagi orang Kristen yang sungguh-sungguh peduli pada teologi dan apologetika, salah satu isu terbesar yang kerap muncul dalam percakapan pribadi maupun di dunia daring adalah ateisme. Jika kita ingin terlibat secara efektif dengan para ateis dengan pengharapan yang pasti yang kita miliki di dalam Yesus, kita perlu memahami apa itu ateisme dan latar belakang orang-orang yang menganutnya. Itu merupakan tugas yang jauh lebih besar daripada yang dapat kita selesaikan bersama di sini. Namun, jika kita tertipu untuk mengira bahwa persoalan ini semata-mata berkaitan dengan argumen rasional dan bukti ilmiah, kita berisiko melebih-lebihkan ateisme sekaligus meremehkan kekristenan. Karena itu, sebagai seorang teolog yang pernah benar dan pernah keliru dalam hal ini, saya ingin membagikan lima kebenaran penting dan berguna untuk diingat ketika kita, sebagai orang Kristen, menimbang klaim-klaim ateisme atau terlibat dalam percakapan dengan para ateis.

1. Ateisme adalah sebuah sistem kepercayaan, sama seperti pandangan dunia lainnya.

Ketika saya menyebut ateisme, besar kemungkinan pembaca paling akrab dengan apa yang dikenal sebagai Ateisme Baru, sebuah gerakan militan yang secara terbuka bersikap antiagama dan biasanya dikaitkan dengan empat penulis terkemuka: Richard Dawkins, Sam Harris, Daniel Dennett, dan Christopher Hitchens.

Ateisme Baru (New Atheism) adalah gerakan ateisme lantang yang muncul pasca peristiwa 9/11, dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Richard Dawkins, Sam Harris, Daniel Dennett, dan Christopher Hitchens. Gerakan ini dicirikan oleh kritik militannya terhadap agama, yang mereka anggap irasional, berbahaya, serta tidak sejalan dengan sains dan akal budi modern.

Para ateis agresif ini, yang dikenal sebagai empat penunggang kuda Ateisme Baru, secara signifikan meningkatkan serangan mereka terhadap agama setelah serangan teroris 11 September 2001 di New York dan Washington DC. Pada awalnya, mereka terutama menargetkan Islam, tetapi dengan cepat memperluas kritik publik mereka terhadap seluruh iman dan agama sebagai sesuatu yang bukan hanya irasional dan ketinggalan zaman, tetapi juga secara aktif berbahaya dan merusak. Mereka menulis sejumlah buku laris yang menentang agama pada pertengahan tahun 2000-an dan kemudian menjadi sangat berpengaruh melalui tulisan, ceramah, serta debat publik.

Pada masa itulah saya mengalami perdebatan sengit pertama saya dengan seorang pengikut fanatik para ateis baru ini. Sebut saja dia Max. Dia muncul di rumah seorang teman bersama karena tahu bahwa saya akan berada di sana. Dia tidak tertarik untuk mengenal saya atau memahami sudut pandang saya, tetapi terus melontarkan satu poin pembicaraan ateis demi poin pembicaraan ateis lainnya secara bertubi-tubi. Max hanya ingin memancing konflik dengan seorang Kristen yang berkomitmen, dan saya adalah target pilihannya.

Sebuah sistem kepercayaan dapat dipahami sebagai sebuah kisah besar tentang hakikat sejati dari segala sesuatu, sebuah kisah yang mengklaim memberikan makna dan tujuan menyeluruh bagi kehidupan. Karena itu, sistem ini berfungsi sebagai panduan tentang bagaimana para penganutnya seharusnya hidup di dalam dunia yang mereka pahami melalui kisah tersebut. Kekristenan jelas lebih dari sekadar sebuah sistem kepercayaan -- dengan cara yang membuatnya unik, yang akan dibahas kemudian -- tetapi pada satu tingkat, kekristenan tetap dapat dipahami sebagai sebuah sistem kepercayaan di antara berbagai klaim kebenaran religius lainnya serta berbagai kisah besar lain yang mengaku tidak bersifat religius.

Seperti semua orang lainnya, para ateis juga menganut kisah-kisah besar yang mereka yakini mampu menjelaskan alam semesta dengan lebih baik daripada alternatif-alternatif yang ada. Mereka membentuk komunitas yang saling berbagi dan mengembangkan keyakinan tersebut. Kita bahkan dapat melihat keempat penunggang kuda itu sebagai empat penginjil ateisme -- rasul-rasul yang mengangkat diri sendiri -- yang mendorong para pengikut mereka yang lebih militan untuk pergi dan menjadikan murid, menyingkirkan apa yang mereka anggap sebagai kegelapan agama, serta menyebarkan kebenaran ateisme ke mana-mana.

Dan seperti para penganut sistem kepercayaan lainnya, ateis yang bersemangat cenderung mengutamakan apa pun yang mendukung pandangan dunia mereka, bahkan ketika hal-hal itu tidak sepenuhnya benar. Hal ini terutama terlihat dalam cara mereka memperlakukan sejarah. Seorang ateis yang sangat cermat dan penuh pertimbangan bahkan telah menyusun sebuah laman web yang luar biasa telitinya berjudul "Mitos-Mitos Besar". Tujuan laman ini adalah meyakinkan sesama ateis untuk berhenti mengulang berbagai kepalsuan sejarah hanya karena narasi-narasi tersebut mudah digunakan untuk menyerang agama.

Tidak semua orang Kristen dipanggil untuk menjadi ahli sejarah. Sebagian besar orang yang mengulang mitos-mitos semacam ini melakukannya karena tidak mengetahui fakta yang sebenarnya. Saya sendiri memiliki beberapa gelar di bidang sejarah, dan tetap menemukan sejumlah detail di laman tersebut sebagai informasi baru. Namun, ketika orang lain menyampaikan klaim sejarah dalam sebuah percakapan atau debat, banyak dari kita cenderung menerimanya begitu saja. Sikap seperti itu tidak bijaksana. Sebagaimana orang Kristen yang berpengetahuan seharusnya menyadari banyak tindakan umat percaya dalam sejarah yang tidak layak bagi Tuhan kita, demikian pula kita perlu menyadari betapa banyaknya narasi sejarah antiagama yang sepenuhnya keliru beredar di internet. Karena itu, jika seorang ateis menyerang kekristenan secara keseluruhan berdasarkan klaim-klaim sejarah, kehati-hatian terhadap keakuratan klaim tersebut sangat diperlukan.

Dan bahkan jika suatu peristiwa sejarah tertentu terbukti akurat, hal itu tidak otomatis berarti bahwa penafsiran ateis terhadap peristiwa tersebut juga akurat dalam upaya mereka untuk menggulingkan, merusak, atau membantah kekristenan.

Dengan demikian, ateisme pun merupakan sebuah sistem kepercayaan tersendiri. Hanya saja, ini adalah sistem kepercayaan yang sangat mengkhawatirkan.

2. Ketika para ateis berargumen melawan Allah, mereka sedang membelanjakan uang pinjaman

Orang Kristen perlu memahami hal ini. Setiap kali seseorang yang menyangkal keberadaan Allah menggunakan logika, akal budi, atau argumen yang disusun dengan cermat untuk melawan Sang Pencipta, orang tersebut sebenarnya seperti anak bungsu yang memboroskan uang ayahnya untuk membiayai pemanjaan dirinya sendiri.

Max, orang yang saya temui itu, membombardir saya dengan berbagai pertanyaan -- "bagaimana dengan ini" dan "apa jawabanmu terhadap itu" -- selama berjam-jam. Pada akhirnya, saya benar-benar harus pergi dan berjalan menuju mobil saya. Max mengikuti saya ke luar dan tidak mengendur sedikit pun. Saya akhirnya kehabisan kesabaran dan mengatakan sesuatu seperti ini, "Max, ini konyol. Apa kamu mendengar dirimu sendiri? Sepanjang sore kamu menyerang Allah dan kekristenan, tetapi kamu tidak punya pijakan apa pun. Apa alternatifmu? Ketidakbermaknaan dan kebetulan buta?" Saat itu sudah benar-benar gelap, dan langit dipenuhi bintang-bintang. Saya berkata lagi, "Lihat sekelilingmu, kawan. Menurut kerangkamu sendiri, kamu tidak punya alasan untuk mengharapkan apa pun ada sama sekali, apalagi sesuatu yang dapat diandalkan atau objektif benar. Kamu justru membutuhkan kekristenan untuk menjadi benar agar kamu memiliki dasar untuk melawannya."

Para ateis terus-menerus memanfaatkan sumber daya intelektual dan retoris yang keberadaannya mereka sangkal. Hal ini mengingatkan pada sebuah kisah yang pernah dibagikan oleh apologet Cornelius Van Til. Dia menceritakan pengalamannya berada di dalam sebuah gerbong kereta dan melihat seorang gadis kecil di seberang lorong duduk di pangkuan ayahnya sambil bermain. Tiba-tiba, gadis itu mengulurkan tangannya dan menampar wajah sang ayah. Van Til berpikir dalam hati bahwa itulah yang dilakukan para ateis setiap kali mereka menggunakan akal budi untuk mencoba berargumen melawan Allah yang merancang dan menopang segala sesuatu di dalam alam semesta yang teratur dan penuh makna.

Cornelius Van Til adalah seorang teolog dan apologet Reformed abad kedua puluh yang paling dikenal melalui apologetika presuposisional. Dia berpendapat bahwa segala bentuk penalaran selalu bertumpu pada komitmen iman tertentu, dan bahwa hanya teisme Kristen yang menyediakan dasar yang diperlukan bagi pemikiran rasional.

Bagaimana mungkin akal budi dapat diandalkan di dalam dunia yang dibentuk dan diarahkan oleh ketiadaan dan menuju ketiadaan? Keberadaan serta keandalan akal budi dan logika justru memproklamasikan keberadaan Allah yang maha bijaksana, sepenuhnya konsisten dengan diri-Nya sendiri, dan berdaulat sempurna. Gadis kecil itu hanya dapat menjangkau wajah ayahnya karena sang ayah sedang memangkunya.

3. Pada dasarnya, ateisme bukanlah masalah rasional. Ini adalah masalah hati.

Allah adalah sumber, dasar, dan syarat bagi segala rasionalitas. Namun, keyakinan kita tentang Allah -- seperti keyakinan kita tentang diri kita sendiri atau tentang orang lain -- selalu bersifat relasional. Keyakinan semacam ini melibatkan keseluruhan pribadi. Dengan kata lain, dalam istilah Alkitab, ateisme adalah masalah hati.

Hal ini tidak berarti bahwa para ateis tidak memiliki alasan. Artinya, hati manusia akan selalu menemukan alasan. Seperti yang pernah dikatakan oleh filsuf Kristen Blaise Pascal, "Hati mempunyai alasannya sendiri yang tidak dikenal oleh akal." Pascal sedang berbicara tentang cara mengenal kebenaran melalui lebih dari sekadar akal budi, khususnya kebenaran tentang Allah. Namun, dalam kasus seorang ateis yang penuh gairah, hati yang memberontak terhadap Allah justru mencari alasan-alasan yang membenarkan pelariannya. Itu adalah penggunaan akal budi yang keliru.

Setelah respons saya yang penuh kejengkelan kepada Max di tengah gelap, di samping mobil saya, dia terdiam total untuk beberapa saat. Lalu -- dan saya tidak melebih-lebihkan -- dia menatap mata saya dan berkata, "Kamu benar. Aku membenci hidupku. Aku membenci Allah. Dan aku berharap aku tidak pernah dilahirkan."

Blaise Pascal adalah seorang matematikawan, fisikawan, penemu, dan filsuf Prancis abad ketujuh belas. Refleksinya tentang akal, iman, dan kondisi manusia menjembatani masa sains yang sedang bertumbuh dengan teologi Kristen klasik.

Bukan hanya relasi seorang ateis dengan Allah yang menjadi persoalan. Relasinya dengan orang lain juga kerap bermasalah. Beberapa ateis bersikap tidak tertahankan; mereka menertawakan orang-orang beragama sebagai naif, lemah, atau penuh kebutuhan. Namun, banyak orang tertarik kepada ateisme melalui pengalaman traumatis, luka batin yang mendalam, atau didikan tanpa pengenalan akan Allah -- atau bahkan melalui bentuk didikan religius yang keliru. Sebagai orang Kristen, kita tidak mengetahui kisah pribadi setiap ateis yang Allah hadirkan dalam hidup kita. Namun, kita mengetahui satu hal yang pasti: Allah menghadirkan orang-orang tersebut sebagai pribadi-pribadi yang diciptakan menurut gambar-Nya, dengan martabat dan nilai, meskipun hidup dalam pemberontakan atau kekerasan hati.

Ateisme adalah masalah hati, jadi kita perlu menjangkau hati. Ateisme juga merupakan masalah relasional, jadi kita perlu peduli secara pribadi kepada orang-orang. Jika kita ingin para ateis belajar menaati perintah terbesar yang pertama, "Kasihilah Tuhan, Allahmu," maka kita juga harus mengingat perintah yang kedua, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Matius 22:36-40).

4.Ateisme praktis adalah masalah yang jauh lebih besar daripada ateisme teoretis

Selama dua puluh tahun terakhir, banyak orang Kristen telah melakukan pekerjaan apologetika yang baik dalam menanggapi para ateis baru dengan kebenaran Alkitab, kehati-hatian teologis, dan hikmat pastoral. Namun, banyak dari kita masih menyimpan kesan bahwa gelombang besar pengaruh budaya ateisme militan ini terus meninggi dan semakin mendominasi.

Pada kenyataannya, banyak orang Kristen mungkin tidak menyadari bahwa pengaruh besar ateisme yang berkomitmen dalam budaya yang lebih luas sebenarnya telah mereda sejak pertengahan tahun 2010-an. Salah satu alasannya adalah karena keempat penunggang kuda itu berpisah atau kehilangan kredibilitas. Hitchens meninggal pada tahun 2011. Dennett meninggal tahun lalu. Dawkins, yang paling menonjol di antara para ateis baru, selama bertahun-tahun secara terbuka menyebut dirinya sebagai seorang "Kristen kultural" yang menikmati warisan budaya Kristen di Inggris, meskipun dia tidak memercayai kebenaran iman Kristen itu sendiri. Bandingkan dua pernyataan berikut dari dua wawancara yang berbeda:

"Saya pikir mendasarkan moralitas Anda pada Alkitab, sungguh, adalah hal yang mengerikan untuk dilakukan. Jika Anda benar-benar melihat Alkitab, melihat hampir semua pelajaran moral yang dapat Anda ambil darinya ...."[1]

"Anda tahu, saya mencintai himne dan lagu Natal, dan saya merasa cukup betah dalam etos Kristen. Dan saya mendapati bahwa saya suka hidup di negara yang secara budaya Kristen, meskipun saya tidak memercayai satu kata pun dari iman Kristen ...."[2]

Dawkins menyerupai seseorang yang ingin tinggal di antara para Hobbit di Shire dan menikmati semua berkat yang mengalir dari nilai-nilai mereka, tetapi tidak memiliki rasa hormat terhadap nilai-nilai Hobbit itu sendiri yang menjadikan Shire seperti apa adanya. Tidak banyak kredibilitas yang tersisa dalam sikap semacam ini.

Izinkan saya mengatakannya dengan cara lain. Di tempat-tempat seperti Amerika Serikat, ateisme sebenarnya tidak sebesar yang dibayangkan, baik oleh para ateis yang berkomitmen maupun oleh orang Kristen yang berkomitmen. Jika kekristenan dianggap memiliki persoalan jumlah di Barat modern yang sekuler, maka persoalan ateisme justru jauh lebih serius. Kita berhadapan dengan kelompok kecil orang yang memiliki pengaruh intelektual yang jauh lebih besar daripada proporsi jumlah mereka dalam budaya intelektual selama beberapa dekade terakhir. Orang-orang yang mengidentifikasi diri sebagai ateis -- bukan sekadar peragu, tetapi mereka yang memiliki keyakinan bahwa Allah tidak ada -- mewakili kurang dari 5 persen populasi Amerika Serikat dan sekitar 10 persen populasi Eropa secara rata-rata. Dari jumlah itu, hanya sebagian kecil yang bersuara lantang dan menonjol.

Sebagian besar ateis yang menyatakan diri tinggal di beberapa negara dengan rezim komunis yang secara eksplisit menegakkan ateisme pada tingkat negara. Di tempat-tempat ini, otoritas negara secara sistematis menghalangi atau bahkan secara terang-terangan menganiaya siapa pun yang tidak mengikuti garis partai. Namun, bahkan di negara-negara tersebut, seperti Tiongkok, sekitar 40 persen penduduk tidak menganggap diri mereka ateis. Jumlah orang yang sebenarnya bukan ateis kemungkinan jauh lebih tinggi, karena berbagai praktik seperti pemujaan leluhur atau spiritualitas rakyat sering kali tidak diklasifikasikan sebagai agama.

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, memudarnya pengaruh budaya para ateis baru menunjukkan bahwa ateis yang lantang dan bangga bukan hanya sedikit jumlahnya. Mereka juga tidak lagi dianggap menarik atau relevan. Lalu, apa yang menggantikan tren ateisme tersebut? Pada dasarnya, hal yang sama yang sejak lama jauh lebih meluas, yaitu ateisme praktis yang tenang dan santai.

Ateisme teoretis adalah penyangkalan eksplisit atas keberadaan Allah sebagai sebuah keyakinan atau posisi filosofis. Ateisme praktis, sebaliknya, adalah cara hidup seolah-olah Allah tidak ada, terlepas dari apa pun yang seseorang nyatakan sebagai keyakinannya.

Para teolog membedakan dua istilah untuk dua jenis ateis yang sangat berbeda ini. Ateis teoretis adalah orang yang telah memikirkan persoalan ini secara mendalam dan berpegang pada ateisme sebagai sebuah pandangan dunia. Dia berkomitmen pada keyakinan intelektual bahwa Allah sama sekali tidak ada dan bahwa tidak ada komitmen religius yang benar. Kelompok ini merupakan minoritas yang sangat kecil.

Jauh lebih umum adalah jenis ateis yang kedua. Ateis praktis adalah orang-orang yang berpikir, merasa, berbicara, dan bertindak seolah-olah Allah memang sebaiknya tidak ada, terlepas dari apa pun yang mereka katakan mereka percayai. Meningkatnya kategori survei religius populer seperti "spiritual tetapi tidak religius" atau "tidak berafiliasi" dalam beberapa dekade terakhir sebagian besar mencerminkan ateisme praktis, bukan ateisme teoretis. Ateis praktis mungkin mengakui atau menolak keberadaan dewa-dewa, atau bahkan mengaku percaya kepada Allah yang benar menurut Alkitab, tetapi dalam kehidupan sehari-hari mereka menundukkan hidup pada pemahaman, perasaan, politik, atau suasana hati mereka sendiri, bukan kepada Allah dan firman Tuhan yang dinyatakan.

Karena itu, ateisme praktis merupakan masalah yang jauh lebih besar daripada ateisme teoretis. Dan persoalan ini tidak hanya ditemukan di luar gereja, tetapi juga di dalam gereja. Ketika saya mengatakan bahwa kita perlu mengenali ateisme praktis sebagai masalah di dalam gereja, saya tidak hanya berbicara tentang orang Kristen yang tidak tulus atau belum dewasa. Saya berbicara tentang kenyataan bahwa ateisme praktis adalah pergumulan di dalam setiap hati orang Kristen sejati. Inilah salah satu alasan mengapa terkadang orang Kristen justru mendorong para ateis untuk menolak percaya kepada Allah. Kita dipanggil untuk menunjukkan seperti apa Tuhan kita dengan mencerminkan karakter-Nya. Apa yang seharusnya kita harapkan ketika orang-orang yang tidak percaya melihat kesombongan, ketidaktahuan, kemarahan, atau kemunafikan, sementara kita memberitakan Allah yang penuh kasih karunia, hikmat, kesabaran, dan kesetiaan? Saya pernah membaca sebuah pernyataan yang mengatakan, "Hanya ada dua alasan mengapa seseorang bukan orang Kristen: karena dia belum pernah bertemu seorang Kristen, atau karena dia sudah pernah."

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa para ateis atau orang-orang non-Kristen lainnya tidak bertanggung jawab atas ketidakpercayaan mereka sendiri. Namun, kita sebagai orang Kristen tidak seharusnya berbicara atau bertindak dengan cara-cara yang memberi orang lain lebih banyak alasan untuk membenarkan ketidakpercayaan mereka. Jika kita ingin memberikan kesaksian yang jelas di hadapan ateisme, kita tidak boleh hidup seolah-olah kita sendiri adalah ateis praktis.

5. Injil adalah jawaban bagi semua orang yang menolak atau mengabaikan keberadaan Allah

Kita semua pernah mendapati diri kita membenarkan apa yang diinginkan hati kita dengan alasan-alasan yang buruk, dalam satu cara atau cara yang lain. "Orang bodoh berkata dalam hatinya, tidak ada Allah." (Mazmur 14:1, AYT) Berapa kali saya sendiri menjadi orang bodoh? Karena itu, orang Kristen seharusnya mampu memahami dari mana para ateis berasal. Anda pun pernah menjadi anak yang hilang yang memboroskan harta ayahnya untuk membenarkan kehidupan yang dikuasai dosa atau apati. Saya mungkin bukan ateis yang vokal, tetapi saya telah mengucapkan banyak kata melawan Allah dan melakukan banyak perbuatan yang tidak saleh. Terkadang kita gagal mengakui Allah melalui apa yang kita lakukan, dan terkadang -- seperti pengalaman saya dengan Max -- melalui apa yang tidak kita lakukan.

Saya masih mengingat dengan jelas apa yang saya katakan kepada Max ketika dia mengikuti saya ke luar malam itu, lebih dari dua puluh tahun yang lalu, serta apa yang dia katakan sebagai balasannya tentang kebenciannya terhadap Allah dan terhadap dirinya sendiri. Namun, saya tidak pernah bisa mengingat apa yang saya katakan setelah itu, atau apakah saya mengatakan sesuatu sama sekali. Yang terus menghantui saya adalah kenyataan bahwa saya tidak ingat melakukan hal yang paling penting yang seharusnya saya lakukan malam itu. Saya tidak ingat menunjukkan Injil kepadanya. Dan saya tidak mendapatkan kesempatan kedua. Kami tidak pernah berbicara lagi. Ketika saya mendengar kabar tentang dia untuk terakhir kalinya, dia sudah meninggal. Max telah mengakhiri hidupnya sendiri.

Saya tidak bermaksud menyiratkan bahwa semua ateis seperti Max, atau bahwa mereka akan berakhir seperti Max. Saya berdoa bahwa jika saya tidak setia bersaksi kepada Max tentang kasih karunia Allah di dalam Yesus, maka Allah telah mempersiapkan orang lain untuk memberikan pembelaan atas pengharapan yang ada di dalam kita. Tidak ada argumen atau retorika yang sanggup mengubah hati seseorang. Namun, kita semua sangat membutuhkan Allah untuk mengubah kita -- untuk menanamkan di dalam hati kita pengharapan yang benar-benar memuaskan jiwa. Pengharapan yang hanya Yesus berikan. Kita membutuhkan Allah yang menjadi masalah terbesar kita untuk menjadi satu-satunya solusi kita.

Yesus adalah Jalan, dan Kebenaran, dan Hidup yang kekal bagi semua orang yang berbalik dari ketidakpercayaan kepada iman (Yohanes 14:6). Inilah inti perbedaan antara kekristenan dan setiap sistem kepercayaan lainnya. Semua pandangan dunia lain berusaha memahami realitas dengan menceritakan sebuah kisah yang menempatkan saya sebagai pahlawan agar hidup ini masuk akal dan berjalan dengan baik. Namun, kita selalu gagal. Dalam kekristenan, justru saya yang perlu diselamatkan karena kegagalan saya, dan Yesus adalah pahlawan sejati yang tidak pernah gagal menyelamatkan. Ini bukan sekadar sebuah kisah, melainkan sebuah fakta yang ditegaskan dua ribu tahun lalu melalui salib yang nyata dan kubur yang sungguh-sungguh kosong, yang memproklamasikan Allah yang nyata. Inilah jawaban bagi orang Kristen seumur hidup yang bergumul dengan dosa yang masih melekat dan dengan keraguan; bagi mantan ateis yang dahulu menolak percaya tetapi telah bertobat; bahkan bagi para ateis masa kini yang suatu hari akan berbalik dari ketidakpercayaan mereka dan memercayai Yesus untuk hidup dan pengharapan.

Injil ini juga merupakan jawaban bagi para ateis praktis yang akan menyadari bahwa mereka bangkrut secara rohani tanpa iman yang hidup kepada Allah yang hidup. Bahkan, Injil adalah jawaban bagi ateis praktis kecil yang hidup di dalam setiap hati orang percaya, "yang cenderung mengembara... cenderung meninggalkan Allah yang saya kasihi."

Satu-satunya Allah yang berhikmat adalah satu-satunya solusi bagi orang-orang bodoh yang hidup tanpa Allah.

Catatan Kaki
[1] "Christianity Is an Evil Religion" -- Richard Dawkins, mulai pada 23:30.
[2] "Richard Dawkins -- I'm a Cultural Christian".

(t/Jing-jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Modern Reformation
Alamat situs : https://www.modernreformation.org/resources/essays/the-fool-says-in-his-heart
Judul asli artikel : The Fool Says in His Heart
Penulis artikel : Brannon Ellis