Berkat, Syukur & Fokus

Berkat akan selalu berhubungan dengan syukur. Seperti biasa orang akan bersyukur karena merasa diberkati. Berkat itu sendiri terbagi-bagi. Ada yang bilang berkat utama yaitu nafas hidup dan berkat lainnya. Berkat lainnya ini, ada yang bilang terbagi-bagi lagi. Ada berkat rohani, yang berarti juga ada berkat materi. Berkat materi masih dibagi juga dimana ada berkat jasmani, misalnya kesehatan, berkat pengertian, keselamatan, perlindungan, kecukupan dan masih banyak lagi. Untuk berkat rohani misalnya mengenal Yesus, mengerti sedikit dari Firman Tuhan, mengalami penyertaan iman dsb. Dan untuk mengungkapkan kalau kita sudah diberkati biasanya kita akan mengucap syukur. Berkat dan syukur, adalah dua hal yang boleh dikatakan saling berhubungan dan tak terpisahkan.

Lalu, bagaimana dengan fokus? Adakah hubungan fokus dengan keduanya?
Sebenarnya saya sendiri juga tidak tahu hubungan fokus ini, tetapi karena ada pertanyaan dari seseorang yang tidak pernah terpikirkan, jadinya muncul ide ini yang semula tertutupi hanya pada hubungan berkat dan syukur saja.

Pertanyaan itu demikian. Apakah masih ada syukur kalau Tuhan menutup berkat bagi kita? Pertanyaan ini muncul disaat saya merasa bersyukur atas berkat rohani yang saya rasakan dalam beribadah selama ini. Dan pertanyaan atau tepatnya sanggahan ini dipakai sebagai dasar bahwa ada keegoisan diri dalam pelayanan kita selama ini. Mungkin maksudnya demikian, kita akan cenderung melayani atau bertahan di zona nyaman karena ada berkat disana. Nah, makanya sewaktu kita bersyukur, pertanyaan ini dimunculkan; akankah kita masih bisa bersyukur kalau berkat itu di tutup oleh Tuhan...

Dari pertanyaan itu saya baru tahu bahwa hubungan berkat dengan syukur itu ternyata sangat berkaitan dengan fokus. Maksudnya demikian; apa sih fokus kita dalam memandang berkat? Kalau ternyata berkat itu hanya kita fokuskan pada sesuatu yang nampak atau yang langsung dapat kita rasakan, sudah tentu kemungkinan untuk kehilangan syukur akan selalu ada. Contohnya, saat kita sedang mengeluh.

Keluhan secara tidak langsung mengungkapkan rasa ketidakpuasan. Sedang ketidakpuasan itu sendiri muncul karena ada berkat yang mungkin kita rasa kurang. Barangkali ada berkat yang ditutup (seperti pertanyaan tadi). Sehingga ungkapan yang keluar bukanlah syukur, tetapi keluhan.
Tetapi jika fokus kita hanya kepada berkat yang satu ini, yaitu janji Allah, yaitu berkat yang akan datang, berkat kehidupan yang kekal di kerajaan Allah nanti di Surga. Ceritanya akan menjadi lain lagi.

Allah sudah berjanji kepada domba-domba yang mengenalNya. Allah pasti akan menepati. Allah berjanji akan mendatangkan seorang Juruselamat, Allah sudah menepati. Allah sudah berjanji kepada kita umatNya, mengenai kehidupan yang akan datang; dan akan kita peroleh nanti setelah kematian.

Maka selama kita mengingat Janji Allah itu, pastilah kita tidak akan pernah merasa kehabisan syukur karena berkat yang ditutup. Asalkan kita menjadi salah satu dari domba-domba itu. Apa berkatnya? Ya nanti kalau sudah mati. Apa yang disyukuri? Ya janji Allah tadi. Syukur Allah sendiri yang berjanji, syukur Allah sendiri yang mengupayakan keselamatan kita. Meskipun ada kalanya kita sakit, syukur itu akan tetap ada jika kita berfokus pada 'janji' tadi. Jadi selama hati dan pikiran kita tidak sakit, pasti kita akan tetap bisa mengingat 'janji' itu sehingga kita bisa bersyukur walau dalam keadaan apapun, dan terus bersyukur sambil menantikan berkat itu.

Tentunya pertanyaan di atas menjadi tidak berlaku lagi. Karena Tuhan tidak mungkin menutup berkat yang sudah Dia janjikan. Masalah bukan lagi pada 'bagaimana menjawab pertanyaan tadi dengan tepat'. Melainkan, tidak perlu lagi untuk bingung-bingung menjawab. Karena di jawab setepat apapun tidak akan klop mengingat fokus si penanya dan yang ditanya tidak sama. Semoga fokus kita bisa seragam sebagaimana Yesus sudah mengajarkan.

...sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."
(Mat.16:23; Mar.8:33)

Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. (Kolose 3:2)
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu
seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kol.3:23)

Merry Christmas 2008