Di Indonesia, menginjak bulan November biasanya hujan sudah mulai menampakkan diri. Hujan biasanya datang semakin rutin datang pada bulan Desember dan Januari. Dalam bahasa Jawa ada permainan kata yang disebut "Keroto Boso" yaitu memecah kata berdasarkan kesamaan intonasi/akhiran, dimana Desember di-keroto boso sebagai "gedhe-gedhene sumber" (besar-besarnya sumber) , dan Januari sebagai "hujan sehari-hari".
Karena sumber mata air dari langit yang besar sehingga mendatangkan hujan tiap hari - maka semua orang sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi banjir terutama di Jakarta. Sebentar saja hujan lebat, pasti banjir di mana-mana. Apalagi kalau hujan berhari-hari; maka ketinggian air yang menggenang bukan lagi dalam kisaran centi tetapi bisa lebih dari satu merter - terutama di daerah bantaran kali Ciliwung. Bahkan ada teman di daerah Cipinang maupun di Pluit yang selalu menyiapkan perahu karet di lantai dua rumahnya.
* * * * *
Walaupun musim hujan, tetapi bulan-bulan itu dianggap sebagai bulan "baik" bagi masyarakat Indonesia untuk melaksanakan pernikahan karena sudah selesai bulan puasa dan memasuki bulan haji. Jika perhelatan dilakukan di gedung resepsi atau di ballroom hotel, maka hujan yang turun bisa diartikan sebagai "turunnya rejeki". Dalam beberapa kepercayaan tradisional, orang yang punya kerja, justru mengharapkan hujan turun - seperti pendapat umum yang mengatakan bahwa kalau hari raya Imlek pasti turun hujan.
Akan tetapi jika pesta pernikahan dilaksanakan di halaman rumah dengan membuka tenda, maka hujan turun berarti musibah besar. Kebiasaan orang Betawi dalam menggelar hajatan bisa dirayakan lebih dari satu hari. Selama hari-hari itu tamu datang dan pergi, dan si tuan rumah mulai menghitung jumlah angpao yang masuk ke kotak sumbangan. Jika hujan turun, apalagi sampai banjir, maka bisa dipastikan tamu undangan yang hadir pasti akan menyusut bahkan menghilang, dan ujungnya bandar bisa rugi besar, alias tidak balik modal.
Untuk mencegah terjadinya musibah finansial karena faktor alam yang tidak dikehendaki, maka sudah jamak jika pihak tuan rumah meminta bantuan pawang hujan, untuk menahan supaya hujan tidak turun selama perhelatan berlangsung. Pawang hujan dikenal sebagai orang yang memiliki kemampuan supranatural untuk mencegah hujan turun atau mengalihkan hujan untuk turun di daerah lain.
Nah yang cukup seru adalah jika di satu daerah ada beberapa orang yang menyelenggarakan pesta perkawinan, dan saat itu awan merata di daerah itu. Pada saat itu, menurut cerita masyarakat yang banyak beredar, akan terjadi adu kesaktian antar pawang hujan, dan yang kalah akan kebagian derasnya hujan yang turun - sementara di tempat yang lain tamu bisa leluasa hadir karena cuaca terang.
Adapun cara-cara yang dilakukan seorang pawang hujan bisa dari menancapkan cabe merah dan bawang merah di sapu lidi yang didirikan, menaburkan garam ke atap rumah, membakar kemenyan, mengucapkan mantera-mantera sampai pada hal yang cukup aneh, yaitu melemparkan cd (underwear) ke atap rumah. Mungkin dengan melihat itu dewa hujan di langit diharapkan akan merasa gerah dan enggan untuk menjatuhkan titik-titk hujan. Ada-ada saja ...
Benar atau tidaknya kemampuan seorang pawang hujan untuk bisa menghentikan atau mengalihkan hujan, sampai saat ini belum pernah dibuktikan secara ilmiah. Akan tetapi umumnya orang Indonesia yang dibesarkan di lingkungan budaya yang cukup mistis, pasti tidak asing dengan istilah pawang hujan.
* * * * *
Perumahan tempat saya tinggal berlokasi di dekat pasar induk sayur dan buah. Nah biasanya, walaupun Jakarta atau daerah sekitarnya diguyur hujan deras - namun di perumahan tetap saja terang dan kering kerontang. Paling susah turun hujan. Masih berkisar soal rumor mistis, katanya orang di pasar induk selalu mempergunakan jasa pawang hujan yang kondang untuk memastikan supaya hujan tidak turun.
Bisa dibayangkan kerugian besar yang akan dihadapi para juragan sayur dan buah yang beromzet miliaran rupiah sehari jika hujan terus menerus turun. Dagangan mereka bisa cepat busuk dan tidak laku. Itu juga merupakan rumor yang santer dibicarakan saat warga di perumahan mengeluh kesulitan air, sementara hujan sudah mulai mengguyur Jakarta dan sekitarnya.
* * * * *
Sedangkan teman-teman di Surabaya akhir-akhir merasakan cuaca yang semakin panas. Memang kadang ada sedikit awan menggumpal di langit, tetapi sebentar kemudian lenyap dihembus angin laut. Walaupun dari "sono"nya kota Surabaya dan sekitarnya memang memiliki cuaca harian dengan temperatur yang selalu tinggi dan angin laut yang kering, tetapi peningkatan temperatur ini tak urung membuat warga menjadi tidak nyaman. Lalu apa hubungannya dengan pawang hujan ?
Terhadap hal ini ada rumor mistis yang beredar, bahwa konon kabarnya hujan enggap turun di Surabaya dan sekitarnya adalah karena ulah dari para pawang hujan kondang yang disewa oleh pihak pengelola Lapindo. Karena jika hujan turun maka lumpur Lapindo akan meluap dan membuat kerugian pengelola lapindo membengkak karena harus membangun tangul-tanggul tambahan serta memberikan ganti rugi kepada warga sekitar yang rumahnya terendam lumpur panas.
Namanya juga rumor mistis, orang bisa percaya atau menolak - atau paling tidak ada yang bisa dijadikan kambing hitam sehingga membuat hati lega pada saat merasakan keringat bercucuran di siang hari yang panas terik di Surabaya.
* * * * *
Ada lagi cerita dari kakak kandung saya yang menjadi TNI AL. Dia bercerita, paling pusing adalah saat ditunjuk menjadi perwira upacara (pimpinan event organizer upacara) di hari TNI Angkatan Laut. Seorang perwira upacara harus memastikan semua kegiatan seremonial berjalan dengan tertib dan lancar dari awal sampai akhir. Itu juga berarti selama upacara dan defile berlangsung cuaca harus cerah, padahal hari jadi TNI AL itu jatuh pada tanggal 5 Desember.
Bisa dibayangkan, bagaimana seorang perwira upacara memastikan bahwa di tempat itu, saat itu, di tanggal 5 Desember, hari cerah dan tidak hujan - sehingga upacara kebesaran bisa berlangsung tertib dan hikmat.
Walaupun para perwira AL adalah orang yang sangat mengandalkan logika, strategi dan ilmu pengetahuan - tapi tak urung secara tidak resmi jasa pawang hujan akhirnya tetap dilirik untuk memerangi dan menghalau pasukan air hujan yang bisa membahayakan karier dan jabatan.
* * * * *
Di Jepang musim hujan disebut dengan "tsuyu". Hujan turun di peralihan musim semi dan musim panas, yaitu sekitar awal Juni sampai pertengahan bulan Juli. Nah pada bulan-bulan itu semua orang memiliki kebiasaan untuk melihat ramalan cuaca yang disiarkan di semua stasiun TV di pagi hari. Jika penyiar di TV mengatakan bahwa pagi hari di kota itu akan hujan, maka semua orang yang keluar rumah sudah siap membawa payung. Semua yang berjalan kaki, baik perempuan maupun laki-laki menenteng payung di tangan. Ada payung lipat, ada payung yang panjang dan ada yang membawa memakai jas hujan. Tidak ada satupun yang merasa malu berangkat ke kantor dengan stelan rapi jas berdasi, tangan kanan menenteng tas kerja sedangkan tangan satunya membawa payung hitam panjang.
Pernah suatu kali saya keluar hotel tidak membawa payung karena saya pikir ramalan cuaca itu hanya prakiraan seperti yang biasa disiarkan di TV Indonesia. Di jalan saya melihat orang-orang menenteng payung, dan saya merasa beruntung tidak termakan oleh ramalan sang penyiar di TV. Tetapi baru berjalan beberapa langkah, ternyata ramalan itu terbukti dengan ampuh. Hujan turun dan semua orang dengan serempak membuka payung yang ditenteng - dan wajah-wajah mereka terlihat lega, karena telah mempercayai ramalan penyiar di TV. Sedangkan saya sendiri langsung balik kanan bubar jalan, buru-buru kembali ke kamar hotel untuk mengambil payung.
Ternyata para peramal cuaca di Jepang itu memang ampuh. Apa yang dikatakan hampir semuanya terbukti, karena ternyata badan meterologi di sana sudah canggih luar biasa - dengan didukung banyak satelit cuaca mengamati dari ketinggian dan jaringan pemantau cuaca elektronik tersebar rapat di setiap sudut wilayah negri tanpa kecuali.
Setelah tahu kesaktian para penyiar yang menyampaikan ramalan cuaca di TV, maka setiap pagi saya juga ikut-ikutan menyimak apa yang mereka sampaikan - dan mematuhi dengan tepat saran yang mereka berikan untuk membawa payung. Mungkin pepatahnya di sini bukan lagi berbunyi "sedia payung sebelum hujan", tetapi menjadi "sedia payung, seperti kata penyiar TV".
Karena masih dalam suasana musim semi, orang kadang masih menyempatkan untuk melakukan kegiatan outdoor atau piknik di akhir minggu. Maka sebelum berangkat piknik, ramalan cuaca pasti mendapat perhatian utama. Saat penyiar mengatakan cuaca cerah dan cocok untuk piknik, maka orang berbondong-bondong ke taman kota, pantai atau sungai atau tempat piknik keluarga yang lain.
Memang ada kalanya hujan tetap saja turun walaupun penyiar TV yang cantik dan sakti sudah mengatakan hujan tidak turun. Jika begitu, maka suasana ceria akan berubah menjadi sendu dan kelabu. Tetapi walau bagaimana, penyiar TV tetap tidak pernah salah - dan tuduhan tuduhan seperti itu adalah sangat tidak sopan. Jadi sebetulnya hujan memang rencananya tidak turun seperti kata penyiar.
Nah kalau hujan melanggar ramalan yang sudah dikatakan penyiar TV maka itu pasti karena ada penyebab yang lain. Yang salah tetap bukan si penyiar yang cantik dan sakti, tapi karena ada seseorang yang bawaannya mendatangkan hujan. Orang Jepang menyebutnya sebagai "ameotoko" (ame=hujan, otoko=manusia).
Dari pengalaman pertemanan dan kekerabatan yang telah terjalin bertahun-tahun, maka ada orang-orang yang dinobatkan sebagai "ameotoko". Jika ameotoko ini ikut rombongan piknik, maka cuaca yang tadinya cerah dan terang benderang, bisa sontak berganti mendung dan langit mencurahkan hujan. Dan jika gelar ini sudah melekat, jangan harap orang tersebut diajak untuk beramai-ramai bergembira menikmati kegiatan outdoor, baberque atau piknik.
Ameotoko adalah orang yang harus dihindari karena di mana pun dia berada, hujan akan turun menyambutnya. Untung sampai saat ini saya tidak menyandang gelar ini, sehingga selalu aman untuk bergabung dengan teman-teman menikmati keceriaan suasana piknik.
GBU
Indriatmo