OBITUARI : UNBROKEN - LOUIS ZAMPERINI

Mulai hari Jumat 13 Februari 2015, film “UNBROKEN” diputar di seluruh bioskop XXI di Indonesia. Film yang disutradarai oleh Angelina Jolie ini diangkat dari sebuah kisah nyata dari Louis Zamperini seorang atlet Olimpiade dari Amerika yang kemudian terlibat dalam Perang Dunia kedua.

Pesawat Louis jatuh di samudra Pasifik di mana dia harus bertahan hidup selama 47 hari, untuk selanjutnya ditangkap oleh Jepang yang menyiksanya dengan brutal sampai akhir perang. Di masa setelah perang, Zamperini mengalami penderitaan akibat taruma penyiksaan selama menjadi tawanan perang, sampai dia bertemu dengan Billy Graham yang mengajarkan tentang pengampunan Kristus.

Sebuah film yang menguatkan mengenai perubahan hidup karena pengampunan dan kasih yang menjadi berkat bagi banyak orang. Obituarinya ada di artikel di bawah ini : “Obituari : Unbroken - Louis Zamperini.”

Tetap semangat di dalam Firman Tuhan dan Langkah Iman.

GBU
(Indriatmo)

* * * * *

OBITUARI : UNBROKEN - LOUIS ZAMPERINI

Louis Zamperini adalah seorang atlet olimpiade dari Amerika dan awak pesawat dengan kisah luar biasa dalam ketahanan hidup setelah pesawatnya jatuh dalam perang dunia kedua - menjadi tokoh dalam sebuah buku biografi yang laris, yaitu: “Unbroken” (Tak Terpatahkan).

PROLOG

Louis Zamperini, meninggal di usia 97, adalah seorang remaja Amerika bintang di Olimpiade Berlin tahun 1936, tetapi kemudian diuji dengan mengerikan ketika menjadi tawanan Jepang selama Perang Dunia Kedua. Siksaan membuatnya nyaris tidak selamat yang tergambar pada daya ketahanan hidup yang luar biasa dalam menghadapi kebrutalan yang mengerikan.

Zamperini diperkirakan tewas setelah kecelakaan pendaratan pada pesawat pembom USAAF di laut Pasifik Selatan tahun 1943. Dia bertahan hidup dengan rakit selama 47 hari, kemudian ditangkap oleh Jepang, dipenjara di beberapa kamp tahanan, dipukuli hampir setiap hari selama dua tahun dan dalam setengah tahun terus menerus dalam kelaparan.

Lebih dari sepertiga dari 35.000 prajurit AS yang ditangkap Jepang meninggal karena dipukuli, kelaparan, dehidrasi, dijadikan eksperimen medis atau dipaksa menjadi pekerja paksa. Jika dibandingkan dengan angka kematian Amerika di kamp-kamp tawanan perang Jerman, jumlahnya hampir satu persen. Tapi meskipun mengalami perlakuan tidak manusiawi, Louis Zamperini termasuk beruntung di mana ketenarannya sebagai seorang atlet Olympide dan potensi sebagai alat propaganda bisa menyelamatkan hidupnya, ketika ia ditangkap setelah hampir tujuh minggu terapung di laut dan ditangkap di pulau Kwajalein, pulau karang yang dikuasai Jepang di Kepulauan Marshall, yang dikenal sebagai “Pulau Eksekusi.”

Setelah dipindahkan dari satu kamp ke kamp yang lain, Louis Zamperini tiba di daerah Omori di luar Tokyo di mana ia bertemu dengan pria yang terbukti menjadi musuh bebuyutannya, seorang kopral psikopat yang bernama Mutsuhiro Watanabe, yang dikenal sebagai si "Burung". Sipir yang sangat kejam ini menyiksa Louis setiap hari. Dia memerintahkan para tawanan perang untuk saling menyiksa satu sama lain. Satu kali, atas perintah Watanabe, Louis dipukuli di wajah oleh 220 teman-temannya sendiri yang dilakukan secara berurutan.

Dengan sifat sadis yang aneh, Watanabe sering memukuli Louis di kuil dengan ikat pinggang kuningannya yang berat, kemudian membantunya mengeluarkan darah dan membisikkan kata-kata penghiburan sebelum menyerang lagi dengan cara yang sama persis.

Ketika arah peperangan berbalik melawan Jepang, sang "Burung" melakukan kekerasan dengan semakin kejam terhadap Louis. Mereka berdua menjadi “pasangan” yang dalam perlombaan untuk bertahan hidup, di mana Louis tidak tahu apakah Watanabe akan membunuh dia sebelum pembebasan, atau apakah Jepang akan menjalankan perintah kaisar untuk menyerah dan "membunuh” semua tawanan.

Setelah perang, nama Watanabe muncul di daftar penjahat perang Jepang di peringkat yang sejajar dengan perdana menteri negara itu, Hideki Tojo. Pada tahun-tahun sesudah Perang Dunia II, Louis Zamperini berupaya keras untuk melacak keberada para penyiksanya, hanya untuk mengetahui bahwa mereka telah bunuh diri atau menghilang tanpa jejak.

Biarpun mencoba dengan keras, Louis Zamperini tidak pernah bisa menghapus ingatan perlakuan kejam di tangan Watanabe. Setengah abad penuh telah berlalu ketika pada tahun 1996, Peter Hadfield, seorang wartawan Inggris di Tokyo, berhasil melacak keberadaan Watanabe sebuah wawancara dengannya di koran Daily Mail.

Ketika seorang produser jaringan televisi CBS Amerika mengatakan pada Louis Zamperini bahwa Watanabe masih hidup, ia tercengang. CBS berusaha membuat film wawancara dengan mantan penjaga kamp penjara, tetapi meskipun Louis Zamperini bersedia untuk bertemu penyiksanya di sebuah hotel di Tokyo, tapi keluarga Watanabe menolak. Setelah menghindari keadilan dengan bersembunyi, Watanabe meninggal sebagai orang bebas pada bulan April 2003.

MASA MUDA

Louis Silvie Zamperini, anak pekerja imigran Italia, lahir di Olean, New York, pada tanggal 26 Januari 1917. Ketika berumur dua tahun, keluarga ayahnya pindah ke Torrance, California, bekerja sebagai tukang listrik kereta api. Di rumah dia dikenal sebagai Toots, menghabiskan masa kanak-kanak sebagai tukang berkelahi, mencuri, menjual besi tua hasil curian dan menyerang polisi. Pada saat sekolah di SMA Torrance, dia adalah pembuat masalah di mana-mana.

Tapi setelah didorong dan dilatih oleh kakaknya, Pete, Louis yang unggul di atletik dan tapi hancur di pelajaran sekolah, bisa berlari satu mil (1.600 meter) dalam waktu 4 menit 42 detik. Pada tahun 1934, ketika berusia 17 tahun, ia memecahkan rekor nasional SMA di Southern California Atletik Championship dengan waktu 4 menit 21,3 detik dan mendapat julukan "Tornado dari Torrance.”

Ketika ia lulus pada bulan Desember 1935, Louis bertekad untuk masuk di Olimpiade Berlin tahun berikutnya dan mulai pelatihan untuk nomer 1.500 meter.

Meskipun ia gagal seleksi di nomer 1.500 meter, ia menjadi pelari jarak jauh termuda di tim Olimpiade Amerika, finish di tempat ketujuh pada nomer 5.000 meter, setelah menyelesaikan lap terakhir hanya dalam waktu 56 detik. Louis diperkenalkan kepada Adolf Hitler, yang mengucapkan selamat kepadanya dengan kalimat, "Ah, kamu anak yang berlari cepat di garis finish."

Saat pulang ke Torrance dan disambut sebagai pahlawan, Louis sudah menetapkan targetnya untuk bertanding di Olimpiade Tokyo tahun 1940. Tapi mimpinya untuk berlari satu mil dalam waktu empat menit hancur karena datangnya perang, pembatalan Olimpiade, pendaftarannya di Angkatan Udara AS tahun 1941 dan serangan Jepang atas Pearl Harbor di bulan Desember 1941.

IKUT BERPERANG

Pada bulan Agustus 1942, Louis Zamperini lulus dari Sekolah Penerbang Midland Army dengan pangkat letnan dua, ditempatkan di pangkalan udara USAAF di Ephrata, Washington. Dia ditugaskan ke skuadron no.372 dari grup pesawat pembom ke-307, Angkatan Udara Ketujuh. Dia menjadi pembom di pesawat bomber B-24 Liberator yang dinamakan Super Man, tapi dijuluki "Peti Mati Terbang" karena bobot pesawat yang berlebihan, kokpit sempit dan banyak hal yang tidak dapat diandalkan. Selama ditempatkan di Hawaii, dalam pelatihan untuk penyelamatan laut, Louis terus berlari memutari lapangan udara untuk melatih dirinya untuk agar selalu siap menghadapi Olimpiade.

Pada malam Natal 1942, setelah pindah ke Midway, unitnya menyerang pangkalan Jepang di atol Wake yang merupakan serangan terbesar dalam perang Pasifik. Beberapa minggu kemudian, Louis Zamperini yang berada di pesawat Super Man, diserang oleh sekelompok pesawat Zero Jepang ketika melakukan pemboman di pulau karang Nauru yang kaya fosfat. Pesawatnya tertatih-tatih kembali ke pangkalannya di pulau kecil Funafuti, di mana petugas darat heran karena menemukan pesawat Super Man-nya penuh dengan 594 lubang peluru.

Ketika pesawat liberator Louis rusak parah dalam serangan bom Jepang di pangkalan Funafuti pada bulan April 1943, dia dan pilotnya, Russell Allen Phillips, dipindahkan ke skuadron no.42 dari grup pembom ke-11 dan ditugaskan ke pesawat pembom B-24 yang lain, yang dijuluki Green Hornet yang berbasis di pangkalan Kuala di pulau Oahu kepulauan Hawaii. Fancis McNamara bergabung dengan mereka sebagai penembak di ekor pesawat.

GREEN HORNET DAN HIU ABU-ABU

Pada bulan Mei 1943, Louis Zamperini dan para krunya kembali ke Kahuku. Alih-alih istirahat, mereka sepakat untuk terbang dalam misi pencarian dan penyelamatan ke Palmyra, di mana diduga ada seorang awak pesawat yang jatuh di laut.

Pada tanggal 27 Mei, Letnan Russell Allen Phillips (Phil) dan sembilan anggota krunya naik Green Hornet. Mereka sepakat untuk mengambil penumpang lain yaitu seorang perwira yang ingin mengunjungi Palmyra dan diharapkan akan pulang untuk makan malam setelah mengisi bahan bakar di atol. Phil duduk di kursi pilot karena rekan pilotnya, CH Cupernell, telah meminta untuk bertukar tempat pagi itu.

Sesampainya di zona pencarian yang tertutup awan, Phil menurunkan pesawatnya sampai 800 meter. Mereka tidak melihat adanya puing-puing pesawat atau bukti kecelakaan. Lalu ... mesin sebelah kiri tiba-tiba RPM-nya turun ... dan mati.

Phil memanggil teknisi, awak pesawat yang baru tiba dari Amerika untuk memperbaiki mesin propeler yang mati. Tapi dia keliru mematikan mesin nomer dua yang membuat Green Hornet sama sekali tidak memiliki kekuatan di sisi kiri.

Pada ketinggian 800 meter, Phil dihadapkan dengan keadaan darurat mendadak. Dengan tidak ada waktu untuk me-restart mesin nomer 2, dia mengatakan kepada seluruh krunya:

“Bersiap di posisi masing-masing untuk menghadapi benturan.”

B-24 yang sulit untuk terbang, tapi juga bahkan lebih buruk untuk mendarat di air. Beringsut lebih dekat ke laut, dengan kekuatan hanya pada sisi kanan pesawat, Phil melakukan yang terbaik yang dia bisa lakukan untuk menjaga Green Hornet tetap stabil. Tapi tetap tidak ada gunanya.

Pesawat membelok ke kiri, hidung dan sayap kiri menghantam air pada waktu yang sama. Pesawat terpelanting, lalu meledak. Semua orang di sisi kiri tewas.

Louis berada pada posisi penembak lambung kanan, akhirnya masuk ke dalam laut dengan kedalaman mencapai tujuh puluh kaki sebelum akhirnya muncul ke permukaan. Phil yang duduk di sisi kanan pesawat keadaannya sangat buruk, menderita perdarahan karena kepala luka. Francis McNamara - penembak di bagian ekor - berada di belakang Louie pada saat kecelakaan itu, terlempar keluar ketika benturan benturan terjadi. Dia sangat ketakutan, tetapi secara fisik tidak terluka.

Pembom B-24, seperti semua pesawat tempur, dilengkapi dengan alat-alat survival, termasuk rakit. Louis menemukan dua rakit kuning, memberikan kepada yang selamat untuk menggunakannya.

Ketiga orang itu yakin regu pencari dan penyelamat akan segera menemukan mereka. Jarak mereka hanya 200 km sebelah utara dari Palmyra, dapat ditempuh dengan penerbangan selama sembilan puluh menit. Ketika Green Hornet tidak kembali ke pangkalan, petugas pangkalan bertanggung jawab mengirimkan pesawat untuk mencari dan menemukan mereka.

Dua hari kemudian, tiga orang yang selamat yaitu Phil, Louis dan Mac mendengar suara dari B-24 mendekat. Pesawat itu terbang rendah. Louis mengakui itu dari skuadron mereka. Tapi tidak satu pun pesawat pencari yang melihat rakit. Pesawat Sekutu tidak menemukannya, sebaliknya pesawar Zero Jepang melihat dan memberondong mereka, menembus rakit dengan 46 lubang peluru.

Mereka terapung-apung selama berhari-hari, kemudian berminggu-minggu, di tempat terasing tanpa makanan atau air minum. Mereka semua tahu daerah itu penuh dengan ikan hiu. Seorang pilot bisa selamat dari kecelakaan, tetapi hanya untuk dimakan hidup-hidup oleh ikan hiu. Segera ikan-ikan hiu menemukan mereka. Mereka bahkan diteror oleh hiu Great White.

Ketika elang mendarat di rakit, Louie menangkap dan mereka memakannya mentah-mentah. Air hujan yang turun bisa memuaskan kehausan mereka, tapi jarang turun.

MacNamara yang terbaring di dalam rakit akhirnya meninggal dalam tubuh sangat lemah karena kelaparan. Phil dan Louis menguburkannya ke dalam laut dengan sebuah doa pelepasan. Doa itu bukan sesuatu yang secara alami diucapkan Louis, karena dia tidak benar-benar tahu bagaimana caranya berbicara kepada Allah. Ia membacakan doa seperti yang didengarnya dalam film.

KWAJELEIN - PULAU EKSEKUSI

Phil dan Louie terapung-apung selama empat belas hari lagi setelah Mac meninggal. Mereka melihat daratan, pulau Wotje Island, pada hari ke-47.

Mereka tidak dapat menghindari deteksi oleh Jepang, sehingga keduanya segera ditahan begitu sampai di darat. Anehnya, mereka diobati, tetapi terkejut ketika melihat kehilangan banyak berat badan, hanya tersisa sekitar 100 pon. Mereka juga diperingatkan tentang perhentian berikutnya yaitu pulau Kwajalein, yang juga merupakan bagian dari kepulauan Marshall. Pulau Kwajelein dikenal sebagai "Pulau Eksekusi," sesuai dengan cerita beberapa tawanan Sekutu yang bertahan hidup. Di pulau itu semua tawanan perang diperlakukan lebih buruk dari binatang.

Dalam bukunya “Iblis di tumit saya” Louis memberitahu kita bagaimana reaksinya ketika tiba di pulau Kwajalein:

“Ketika membuka kesadaran saya dan mata bergetar melihat keadaan yang tidak bisa diterima kenyataan. Setelah hampir dua bulan terapung-apung di bawah langit terbuka dan laut yang tak terbatas, saya menemukan diri saya terkunci dalam kurungan seukuran kerangkeng anjing.”

Phil dan Louis tidak hanya diinterogasi dan dipukuli di Kwajalein, tetapi mereka juga digunakan sebagai alat eksperimen medis. Mereka berdua disuntik untuk penelitian demam berdarah.

Meskipun awalnya tidak disadari, ketenaran Louie sebagai seorang atlet Olimpiade akhirnya diketahui penangkapnya. Mereka kemudian memiliki rencana yang lain untuk Phil dan Louis, dan orang Jepang memutuskan untuk memindahkan mereka dari Pulau Eksekusi.

Setelah 43 hari di kurungan yang bau pengap, mereka naik kapal ke pulau Truk, bagian dari Kepulauan Caroline, di mana Jepang memiliki pangkalan angkatan laut utama. Dari sana, mereka terus ke Yokohama, dekat Tokyo, di sebuah kamp rahasia untuk tawanan perang yang disebut kamp Ofuna. Yang tinggal di kamp itu tidak terdaftar sebagai tawanan. Tidak ada yang perduli apakah Phil dan Louis Zamperini masih hidup.

KAMP TAWANAN - OFUNA DAN OMORI

Phil dan Louis meninggalkan lagunTruk enam bulan sebelum Sekutu meluncurkan "Operasi batu hujan es" pada tanggal 17 Februari 1944. Selama serangan itu, Jepang kehilangan lebih dari tujuh puluh pesawat dan empat puluh kapal.

Ada sedikit harapan dalam hidupLouis hari-hari itu. Dari Truk, dia dan Phil berlayar ke kamp rahasia tawanan perang di Yokohama, dekat Tokyo. Awalnya, mereka bersemangat karena berpikir bisa berbicara dengan tahanan Sekutu yang lain. Tapi ketika tiba di Ofuna, mereka menemukan kenyataan yang berbeda. Mereka dilarang berbicara dengan tawanan yang lain!

“Ofuna adalah kamp rahasia, kamp interogasi dengan rahasia tingkat tinggi yang dibuat oleh Angkatan Laut Jepang, tersembunyi dari masyarakat dan badan-badan bantuan sosial. Tidak ada pengawasan Palang Merah, tidak ada perawatan kesehatan. Tidak ada kemanusiaan. Saya tidak terdaftar sebagai tawanan perang resmi. Orang meninggalkan kamp untuk dieksekusi atau dipindahkan. Jika Anda meninggal di sana, tak seorang pun akan tahu.”

Ada hal lain yang mengganggu tentang Ofuna. Salah satu interogator utama Louis Zamperini adalah seorang mahasiswa Jepang yang dikenalnya di USC. Namanya Jimmie Sasaki, di mana tahanan lain menyebutnya si "Tampan Harry" - yang menjadi informan Jepang bahkan semenjak dia kuliah.

Tawanan di Ofuna ditempatkan di sel sempit seukuran tikar tidur mereka. Selimutnya adalah kertas dan bantalnya jerami. Kebanyakan mereka mengenakan pakaian yang sama dengan ketika mereka ditangkap. Karena Ofuna adalah kamp rahasia, para sipir mengabaikan hukum internasional. Tawanan tidak makan daging seminggu sekali. Mereka hidup hanya dari beras, yang kadang-kadang tercampur dengan jerami atau kotoran tikus.

Sekali, ketika Louis Zamperini di Ofuna, para tawanan mengeluh karena tidak mendapat daging. Mereka kemudian belajar untuk tidak pernah melakukan protes lagi setelah sipir kamp mengirimkan sebuah truk penuh berisi ikan busuk:

“Bahkan sebelum pengemudi mengeluarkan isi truk, bau busuk memenuhi ruangan. Seluruh benda itu tampak bergerak. Ternyata gerakan itu berasal dari ribuan belatung ... saya membantu menyekopnya ke dalam panci sup yang besar. Kita semua mendapat hasilnya, sup panas keesokan harinya ... Belatung-belatung mengambang di atas sup seolah-olah kolam renang pribadi mereka ... Beberapa orang menganggap belatung bergizi, jijik, dan muntah-muntah.”

Tawanan di Ofuna, seperti yang ada di kamp-kamp tawanan di seluruh Jepang, adalah pekerja paksa. Beberapa bekerja di dapur, yang lain melakukan bersih-bersih. Untuk sementara waktu, Louis Zamperini adalah tukang cukur kamp.

Kebanyakan penjaga, kecuali Komine yang dikenal sebagai "Musang", memberi dia tips dengan nasi kepal - cukup membantu karena Louie beratnya hanya sekitar 80 pon. Sebagai imbalan karena kurangnya tips, Louis Zamperini mencukur sebagian besar alis mata si Musang. Setelah perang, “Musang” - juga dikenal sebagai "Tuan Raja" - menerima hukuman empat puluh tahun untuk kejahatan perang.

Sueharu Kitamura, yang disebut "Quack," adalah penjaga paling ganas di Ofuna. Pada bulan September 1944, dia memukuli Bill Harris - orang Amerika yang berpendidikan tinggi di bidang fotografi memori - sehingga Harris kehilangan ketajaman intelektualnya untuk sementara waktu. Meskipun akhirnya pulih, memori semua pemukulan sadis tidak pernah meninggalkan dia. Setelah perang, Quack dihukum mati karena banyak melakukan kejahatan perang.

Ketika tawanan perang meninggalkan Ofuna, mereka keluar belok kanan atau belok kiri. Louis segera mengerti bahwa belok kanan berarti dipindah ke kamp lain. Adapun belok kiri berarti eksekusi. Tiga bulan setelah tiba di Ofuna, Phil keluar berbelok ke kanan. Ia dikirim ke kamp tawanan bagi perwira Sekutu di bagian selatan Honshu.

Setelah menghabiskan setahun di Ofuna, Louis juga keluar belok kanan. Ia dikirim ke Omori, sebuah pulau buatan di antara Yokohama dan Tokyo, di mana terdapat ratusan tahanan. Pada bulan September 1944, dia bertemu Mutsuhiro Watanabe - para tawanan perang menyebutnya "burung".

Kondisi kehidupan di Omori mengerikan. Para tawanan meninggal karena siksaan, penelantaran dan kekurangan gizi.

Orang Jepang tahu bahwa dia adalah bintang Olimpiade terkenal dan ingin menggunakan Louis untuk tujuan propaganda, berbicara melalui Radio Tokyo. Masih tidak menyadari rencana yang sebenarnya, Louis dibawa ke sebuah studio pada 18 November 1944. Dia membuat siaran radio untuk memberitahu keluarganya dan seluruh dunia bahwa dia masih hidup.

NAOETSU DAN KAMP B-4

Ketika Louis menolak untuk melakukan siaran propaganda lagi maka dia dipindahkan ke kamp tawanan yang lain, di Naoetsu, di sisi barat Honshu, yang tidak lebih baik daripada kamp kerja paksa lainnya. Tapi setidaknya dia berpikir bisa berpisah dari si “burung”.

Setelah naik kereta dua belas jam ke Naoetsu - sebuah kota di utara Nagano (tempat Olimpiade Musim Dingin tahun 1998) - Louie ditempatkan di Camp 4B, dan yang menyambutnya adalah ... si “burung.”

KETIKA LOUIS BERTEMU BILLY

Setelah perang, Louis Zamperini bertemu kembali dengan keluarganya. Di permukaan, semuanya tampak normal, sampai sesuatu yang menekan Louis terlihat. Semua trauma siksaan sebagai tawanan perang muncul ke permukaan, mengejutkan orang-orang yang mencintainya. Dia sulit menyesuaikan diri dengan kehidupan sipil, dan sangat membenci si “burung” dan ingin pergi ke Jepang untuk membunuhnya.

Pada bulan Maret 1946, Lous menerima tawaran pemerintah untuk memberikan istirahat dan relaksasi di salah satu resort. Dalam keputusan yang mengubah hidup, Louis memilih resort di Miami Beach.

Ketika mengunjungi klub Macfadden-Deauville Klub, dia melihat seorang gadis muda yang cantik bernama Cynthia Applewhite. Dari keluarga kaya, Cynthia lebih muda dari Louis. Orangtuanya tidak setuju tapi Cynthia tetap menikah Louis pada tanggal 25 Mei 1946.

Di awal pernikahan mereka memiliki uang 10.000 dollar dari pembayaran sebagai tawanan perang dan 1.600 dari hasil asuransi jiwa. Uang itu diinvestasikan dalam berbagai usaha, tapi kemudian gagal dan kehabisan uang, sehingga hidupnya semakin memburuk.

Pada tahun 1949, setelah kelahiran putri mereka, Cissy, Cynthia bisa memenangkan Louis untuk sementara waktu. Tapi ketika Cissy rewel, kembali Louis gelisah. Suatu malam dia bermimpi sangat buruk dan ketika bangun dia mendapati tangannya sedang mencekik leher Cynthia. Cynthia tidak tahan lagi dan akan mengakhiri pernikahan. Tetapi Cynthia ingin membuat perubahan dalam hidupnya. Pada bulan September tahun 1949, dia belajar dari seorang pengkhotbah muda yang bernama Billy Graham.

Billy datang ke LA, dari Minneapolis, mendirikan sebuah tenda KKR yang besar di sudut Hill dan Washington Streets. Billy Grahan berencana untuk mengadakan pertemuan kebangunan rohani selama beberapa minggu, dan karena banyak yang hadir maka dia setuju untuk tinggal lebih lama. Cynthia ingin mengetahui apa yang terjadi di dalam tenda KKR.

Karena tidak berhasil mengajak suaminya, Cynthia pergi sendirian. Malam itu, setelah Louis kembali tengah malam dalam keadaan mabuk seperti yang sering dilakukan, istrinya tampak sangat berbeda. Dia bertanya mengapa, dan Cynthia menjelaskan,

“Oh, Louis. Kamu tahu mengapa aku selalu berkata ada sesuatu yang hilang dalam hidup kita? Sekarang aku tahu apa itu. Untuk pertama kalinya aku memiliki kedamaian di dalam hati.”

Cynthia telah mendengarkan Billy Graham dan keputusannya tepat. Dia menjadi seorang Kristen.

Selama berhari-hari berikutnya Cynthia mengajak suaminya pergi ke KKR Billy Graham, tapi selalu ditolak. Satu satu malam, ia mendengarkan tapi keluar tenda KKR lebih awal. Mimpi buruk Louis semakin parah, dia terus melihat “burung”. Pada siang hari, Cynthia terus memintanya untuk kembali pergi ke tenda KKR.

“Saya merenung dan mengabaikan semua desakan Cynthia untuk pergi ke tenda KKR malam itu. Tapi dia tidak menyerah. Setelah berdebat selama berjam-jam, saya setuju untuk kembali, dengan satu syarat. Ketika pengkhotbah berkata, ‘Setiap kepala tertunduk dan setiap mata ditutup,’ maka kita keluar dari sana.”

Louis Zamperini kembali ke tenda KKR dan berencana untuk keluar pada waktu yang telah ditentukan. Kemudian, ia mendengar Billy mengucapkan kata-kata:

“Kehidupan macam apa yang engkau jalani? Apakah engkau puas dengan hidupmu?”

Louis bereaksi terhadap kata-kata Dr. Graham:

“Saat itu, seluruh kehidupan saya yang busuk penuh dosa lewat di depan mata dan saya mulai mendapatkan firasat untuk melakukan sesuatu yang saya takut untuk dilakukan. Hanya saya tidak ingin melakukannya. Mengapa? Laki-laki lebih memilih kegelapan daripada cahaya. Bagaimana aku bisa meninggalkan pesta dan minuman keras serta hidup sesaat yang menyenangkan?”

Louis Zamperini meraih tangan Cynthia dan mengatakan ‘mereka harus pergi.’ Ketika ia sampai di gang, sesuatu membuatnya berubah pikiran:

“Saya sampai gang. Saya melangkah ke jalan dan tahu itu persimpangan untuk membuat keputusan. Saya berjuang melawan itu, mungkin lebih sulit daripada semua peperangan yang pernah saya alami. Tetapi akhirnya saya membuat keputusan. Saya berbalik ke arah Billy Graham dan melepaskan tangan Cynthia ... “

Ketika Louis bertemu Billy, ia memutuskan untuk menempatkan hidupnya di jalur yang berbeda.

PENGAMPUNAN

Setelah malam itu di tenda KKR, dengan Billy Graham, Louie Zamperini mengubah jalan hidupnya. Dia ingat doanya ketika berada di rakit penyelamat, di tengah-tengah Samudera Pasifik:

“Jika Engkau menyelamatkan aku,
aku akan melayani Engkau selamanya.”

Dia telah diselamatkan, dari kematian di laut lepas dan dari kematian di tangan penyiksanya. Dia berhasil melewati penghinaan tak berujung dan penghinaan kehidupan di kamp penjara, di kerangkeng anjing, di sebuah kamp penjara yang dipenuhi tikus.

Dia berhasil melewati bagian pertama dari permintaannya - "Jika Anda akan menyelamatkan saya" - tapi ia lupa tentang bagian kedua. Dia menunutut terlalu banyak untuk meminta bahwa ia menyerah untuk membalas dendam terhadap si “burung.” Setelah Louis bertemu Billy, mantan tawanan perang itu tidak pernah lagi menjadi tawanan mimpi buruk perang. Dia kehilangan keinginannya untuk membunuh si “burung”. Dia tidak lagi membenci para sipir yang telah menyiksanya. Dia memaafkan Jimmie Sasaki yang berpura-pura menjadi temannya. Gejolak hidupnya digantikan oleh ketenangan dan keyakinan bahwa dia menemukan jalan yang benar. Louis mulai berbicara tentang pengalamannya. Dia tidak takut untuk berbicara tentang iman barunya, tapi ia memutuskan tidak memaksakan pemikirannya pada siapa pun.

Louie percaya bahwa cara terbaik untuk menjalani hidupnya sendiri adalah untuk mencoba dan melakukan hal yang benar. Tapi bagaimana jika melakukan hal yang benar, jika itu berarti melakukan apa yang tidak bisa dia tolerir? Bagaimana jika itu berarti akan kembali ke Jepang, untuk bertemu orang-orang yang telah menyiksa dan menghinanya? Bagaimana jika itu berarti berbicara dengan para sipir yang memukuli dan membuatnya kelaparan? Bagaimana jika itu berarti ... memaafkan mereka? Mengapa ia kembali ke tempat di mana ia dipaksa untuk melakukan hal-hal yang tak terkatakan?

“Aku tidak tahan di Jepang. Kenangan perang - seperti, kali kami harus mematangkan kentang dan wortel dengan kotoran kita sendiri, dan kemudian makan hasilnya ...”

Meskipun awalnya menolak, Louis akhirnya yakin dia harus kembali ke Jepang. Pada bulan Oktober tahun 1950, dia tiba di Tokyo. Kota ini pulih dari pemboman selama tahun 1945, dan Louis terkejut dengan kemajuannya.

Setelah mengunjungi kamp Ofuna dan Omori, Louis nemelpon kantor Jenderal MacArthur meminta izin untuk mengunjungi Penjara Sugamo. Banyak mantan sipir yang menyiksanya menjalani hukuman di sana.

Jika Louis benar-benar serius tentang memaafkan semua orang, dia akan tahu dengan apa yang terjadi di Sugamo di mana semua penjahat perang Jepang menjalani hukuman. Sebanyak 850 orang dari mereka tinggal di satu tempat.

Dia bertemu si Musang, Sasaki, dan bahkan Quack. Dia terkejut melihat Kano, sipir yang baik yang selalu membantu dan tidak merugikan para tawanan. Dia bertemu para mantan sipir yang lain, tetapi satu orang yang hilang ... yaitu si “burung.” Apakah dia tidak dijatuhi hukuman sebagai penjahat perang? Watanabe si “burung” berada di nomor 23 dari top-40 penjahat perang. Mungkin dia telah ditangkap, diadili, dan kemungkinan menerima hukuman mati.

Louie memaafkan para mantan sipirnya, selama pertemuan dengan mereka di tahun 1950. Pada tahun 1952, Presiden Truman memberikan Amnesty Umum dan para penjahat perang di penjara dibebaskan. Setelah itu, si “burung” muncul kembali. Dia bersembunyi di sebuah pondok kayu di daerah terpencil dekat Nagano selama bertahun-tahun.

Setelah masa berlalu, daerah terpencil di Nagano itu menjadi arena ski terkenal. Pada tahun 1998, daerah itu menjadi itu tempat dilangsungkannya Olimpiade Musim Dingin. Louis, pada usia 81 tahun, membawa obor Olimpiade. Bagian dari rutenya berlari melewati kamp tahanannya di Naoetsu.

Pada malam upacara penutupan, CBS menayangkan sebuah cerita khusus yang membungkus Olimpiade tahun 1998 tersebut. Kisah itu mengenai Louis Zamperini dan apa yang telah terjadi padanya selama siksaan yang panjang dalam kamp tawanan perang Jepang. Termasuk dalam siaran itu sebuah wawancara dengan ... si “burung”. Ketika ia mendengar Watanabe masih hidup, Louis benar-benar terkejut.

Meskipun si “burung” mengatakan dia bersedia untuk bertemu dengan Louis yang telah memaafkannya, namun pertemuan tersebut tidak pernah terjadi. Keluarga Watanabe yang tidak tahu tentang masa lalunya atau statusnya dalam daftar kejahatan perang, tidak menghendaki dia bertemu dengan Louis Zamperini.

Pertemuan dengan si “burung” secara pribadi tidak begitu penting bagi Louis daripada mengetahui bahwa memaafkan orang lain telah membentuk hidupnya sendiri menjadi positif.

Louis berusia 93 tahun ketika Laura Hillenbrand menerbitkan bukunya yang laris, “Unbroken”. Selama hidupnya yang panjang, ia telah menjadi pembicara di seluruh dunia. Dia menuliskan presentasi selama tiga puluh menit mengenai "Iblis di tumit saya," menjadi sebuah buku. Dia menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membantu anak-anak dengan berbagai cara, termasuk melalui Victory Camp yang diselenggarakannya. Dia menikah selama 55 tahun sebelum Cynthia meninggal karena kanker pada tahun 2001.

Louis Zamperini mengatakan bahwa dia adalah orang yang diberkati. Mungkin, karena dia ingat, kemudian bertindak - terhadap janji yang telah dibuatnya 71 tahun lalu:

“Jika Engkau menyelamatkan aku,
aku akan melayani Engaku selamanya.”

EPILOG

Di usia 97 tahun, Louis Zamperini meninggal pada tanggal 2 Juli 2014. Pada hari kematiannya, keluarganya merilis pernyataan ini:

“Setelah rintangan dapat diatasi di setiap kesempatan dalam hidupnya, pelari Olimpiade dan pahlawan Perang Dunia Kedua, Louis Zamperini tidak pernah kalah dari tantangan. Dia baru-baru ini menghadapi tantangan terbesar dalam hidupnya yaitu penyakit pneumonia yang mengancam jiwanya. Setelah pertempuran panjang selama 40 hari untuk hidupnya, dia meninggal dengan damai di hadapan seluruh keluarganya, meninggalkan warisan yang telah menyentuh begitu banyak kehidupan. Keberanian dan semangat juang yang gigih itu tidak pernah lepas di hari-hari terakhirnya.”

----

Tetap semangat di dalam Firman Tuhan dan Langkah Iman

GBU
(Indriatmo/PD Yoel)

(sumber: --http://www.telegraph.co.uk/news/obituaries/10942801/Louis-Zamperini-obituary.html --https://www.awesomestories.com/asset/view/FORGIVENESS-Unbroken-Louis-Zamperini-Story)

* * * * *

“Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” (Roma 12:17-21)

“Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.” (1 Petrus 4:8)