Mencari Tuhan dan Tahu Bagaimana Menghargai Sesama

Ayat: Roma 2:5-11

Dalam Roma 1 ditekankan bahwa Tuhan menyatakan diri melalui ciptaan, ciptaan ini menyatakan diri Tuhan kepada pikiran manusia. Hati manusia harus kembali kepada Tuhan karena Tuhan menyatakan diri. Tuhan bukanlah allah asing yang tidak terlihat dan tidak bisa dijangkau karena Dia menyatakan kemuliaanNya dengan cara yang terlihat. Itu sebabnya dalam teologi Kristen kita membagi antara diri Allah dan apa yang Allah nyatakan. Allah dalam diri-Nya sendiri, tidak ada yang bisa tahu. Saudara tidak bisa mengetahui Tuhan lewat cara kita berpikir yang dikondisikan untuk mengenal ciptaan. Kita hanya bisa mengenal ciptaan yang Tuhan nyatakan dengan pikiran kita yang terbatas ini. Namun, kita tidak mungkin mengenal Tuhan dengan sempurna. Namun demikian Tuhan juga mengizinkan kita boleh kenal Dia, bukan mengenal Dia dalam keseluruhan diri-Nya, tetapi mengenal Dia melalui apa yang Dia nyatakan kepada kita. Dalam tradisi Yahudi, anak-anak sampai remaja sudah dibiasakan untuk mengenal ajaran-ajaran inti dari ajaran Yahudi tentang Tuhan. Mereka harus mengenal Tuhan, mereka harus mewarisi tradisi yang mereka miliki dari leluhur mereka. Demikian juga Kekristenan mula-mula, anak-anak diajarkan katekismus, apa yang gereja gumulkan dalam sejarah itu yang diwariskan dan itu yang harus dipelajari orang Kristen, baik orang tua maupun anak kecil. Maka pengertian yang dalam dari sejarah untuk mengenal Tuhan itu harus diwariskan sehingga generasi yang muda mengetahui apa yang sudah digumulkan di generasi sebelumnya. Namun, sayang kalau kita melihat zaman sekarang yang sangat sekuler. Itu adalah problem karena orang menyingkirkan Tuhan, berusaha menemukan ilmu, berusaha untuk menemukan cara mengenal alam tanpa Tuhan. Pengertian ini merusak pemikiran yang Tuhan mau ada pada diri kita. Pada abad ke-20, Amerika menawarkan pragmatisme, orang seperti John Dewey, William James dan lain-lain mengatakan bahwa kalau kamu ingin tahu yang benar, hanya berguna kalau bisa dipraktekan sekarang dan orang banyak langsung setuju. Popularitas, massa, dan juga aplikasi langsung itu menjadi pengukur mana benar yang baik dan yang tidak berguna. Sehingga penyelidikan yang dalam, tema-tema penting dari Kekristenan semua dibuang karena tidak bisa langsung dipraktekkan. Itu sebabnya kegagalan mempraktekan iman Kristen ada pada orang yang mendengar ajaran Kristen lalu tidak mengerti bagaimana mengubah cara pandang akan dunia ini lewat firman. Dalam struktur dari revolusi science yang dikeluarkan oleh Thomas Kuhn dikatakan bahwa yang membuat revolusi ilmu terjadi itu karena ada cara pandang yang beda. Alkitab mengajarkan untuk meruntuhkan cara pikir yang lama, berpusat kepada dunia dan diri. Lalu, membangun cara pikir yang baru di mana Tuhan bertahta di atas semua bidang.

"Bagaimana menjadikan Tuhan bertahta di seluruh bidang hidup saya?" Itulah yang sedang dibentuk oleh Kitab Suci. Jika kita mengerti yang sedang dikerjakan Kitab Suci, kita tidak mudah meremehkan ajaran-ajaran yang dibagikan hanya kita kurang bisa menangkap apa gunanya sekarang. Pdt. Antonius Un mengutip Richard Baxter mengatakan orang Kristen kedagingan senang khotbah-khotbah gampang. Senang khotbah yang gampang karena langsung bisa mengerti. Namun, ketika Saudara membaca Alkitab, sepertinya begitu sulit, asing dan kita mungkin cuma bisa mengerti beberapa kalimat yang kita rasa cukup akrab. Namun, ketidak-mengertian itu bukan karena kita bodoh, cara kita berpikir belum diubah. Pelan-pelan cara berpikir akan diubah dan akan ada satu titik yang saya sebut dengan titik eureka. Itu adalah titik ketika Saudara mengatakan "oh, ternyata selama ini maksudnya ini", titik ini akan terjadi kalau kita rendah hati mau menerima firman. Saudara tidak akan menyesal kalau Saudara menghabiskan begitu banyak waktu untuk konsentrasi mendengarkan firman karena firman akan mengubah cara kita berpikir dan ketika cara kita berpikir pelan-pelan berubah, ada saat di mana kita mengatakan "ternyata seluruh firman relevan untuk hidup saya".

Paulus mengatakan bahwa semua orang melakukan yang jahat, lalu menghakimi yang lain. "Kamu yang jahat, kamu hakimi orang lain juga", "memang benar orang yang saya hakimi adalah orang yang dosanya beda dengan saya". Jadi, saya punya dosa, engkau punya dosa, bolehkah kita saling menghakimi? Kalau kita mengatakan "tidak", maka kita akan masuk ke dalam keadaan masyarakat yang kacau balau. Paulus sangat brilian, tentu kita mengakui hal ini, dia memberikan surat kepada jemaat Roma dengan pergumulan yang bersifat etika, sosial dan politik. Salah satu yang menjadi pergumulan orang Yunani, orang Roma banyak ambil teori Yunani untuk dipraktekan sehingga banyak orang ahli sejarah mengatakan "Yunani adalah bangsa yang berteori, tetapi Roma adalah bangsa yang praktekan teori". Dalam sejarah Yunani klasik, salah satu yang berpikir sangat tajam adalah Protagoras. Ia dianggap sebagai pencetus atheisme pada zaman yang kuno sekali. Protagoras mulai berpikir "mengapa dalam masyarakat kita ada aturan, yang membuat aturan itu siapa?", "kalau benar ada lembaga bisa membuat aturan, saya ingin tahu aturan lembaga ini berdasarkan siapa?" pertanyaan susah dijawab. Siapa pemegang otoritas final untuk mengatakan "iya, aturan ini boleh. Tidak, aturan ini tidak boleh". Lembaga-lembaga memiliki otoritas membuat aturan karena mereka bijak. Bijak itu apa? Bijak berarti mereka tahu mana baik mana salah. Dari mana mereka tahu? Dari bijaksana mereka. Bijaksananya dari mana? Protagoras mulai pikirkan, apakah masyarakat diatur oleh sekelompok orang yang merasa diri berhak menentukan mana baik mana salah. Kalau begitu sekelompok orang ini mesti buktikan apa hak mereka boleh menentukan mana benar mana salah. Mengapa mereka bisa tentukan, mengapa orang bisa tentukan "inilah kelompok yang boleh menentukan mana baik, mana salah", apakah dari diri mereka sendiri? Jangan-jangan mereka atur sistem supaya mereka untung? Jadi, dari mana tahu kalau aturan ini benar? Protagoras sangat pesimis sampai ada orang mengatakan kepada dia "tahu tidak, bijaksana itu dari para dewa, dewa beri bijaksana maka orang bisa bijak". Namun, Protagoras mengkritik dewa-dewa, makanya dia dibilang atheis. Dia mengatakan "dewa-dewa muncul dari mana? Jangan-jangan dewa-dewa hanya hayalan orang yang mencari keuntungan saja. Kalau dulu orang-orang mengatakan "dewa-dewa berkata", Protagoras bilang "yakin dewa berkata atau kamu yang berkhayal dewa berkata seperti itu?", ini membuat Protagoras dihakimi banyak orang "kamu orang atheis". Setelah itu ada Socrates yang dibilang hal yang sama.

Terus dari mana peraturan? Plato memberikan jawaban dalam 2 buku, Politeia dan Nomos yang sangat penting. Dalam buku Nomos, Plato mengatakan aturan yang kita jalankan tidak semudah itu dipahami datang dari mana. Saudara tidak bisa dengan gampang mengatakan mana baik karena kita semua adalah subjek yang sedang dihakimi dan juga potensi melanggar mana baik mana jahat, mana benar mana salah. Sehingga kita tidak boleh menentukan, tidak seorang pun boleh. Bahkan pemimpin, pembuat keputusan yang paling tinggi tidak pernah berhak mengatakan mana boleh mana tidak karena mereka sendiri adalah yang diatur oleh hukum itu, dan mereka sendiri berpotensi melanggar hukum itu. Kalimat-kalimat seperti ini masuk dalam tata negara Kekaisaran Roma. Maka Paulus mengatakan "hai kamu manusia, siapa pun engkau, engkau yang menghakimi orang lain, engkau sendiri berbuat salah. Apa fakta engkau boleh menghakimi orang lain, dari mana kamu punya hak untuk mengatakan ini orang salah, ini orang benar". Paulus katakan di pasal 2 siapakah law’s maker, siapa pembuat hukum, siapa hakim, siapa boleh bilang ini orang benar ini orang salah, siapa otoritas final? Coba beri tahu satu saja. Kalau Saudara mengatakan "si itu" atau "si ini", siapa pun itu, maka Paulus mengatakan "kenapa bisa dia yang punya otoritas itu", "karena dia yang paling kita hargai". Paulus mengatakan kalau kamu jadi hakim, kamu tidak bisa secara konsisten pegang kedudukan itu karena kamu sendiri bisa bersalah. Plato mengatakan aturan ini yang membuat hakim bisa mengatakan mana benar mana salah, aturan ini lebih tinggi dari hakim. Jadi, hakim tidak boleh menentukan sendiri. Ini yang Plato juga katakan, aturan harus lebih tinggi dari orang. Namun, kalau aturan lebih tinggi dari orang, siapa yang bikin? Di atasnya orang. Kalau di atasnya orang berarti dewa? Jadi, dewa membuat aturan supaya orang jalankan, ini memperbaiki Protagoras yang mengatakan "kalau dewa jalankan, maka dewa itu adalah manipulasi dari pemimpin. Maka pemimpin membuat dewa berdasarkan image mereka sendiri", ini kata-kata dari Protagoras. Namun, Plato mengatakan "tidak, dewa pun diatur oleh peraturan ini". Plato mengatakan bukankah tradisi dari dewa-dewa kita sendiri mengatakan demikian? Dewa-dewa diatur masa berkuasanya oleh aturan yang tidak jelas dari mana. Jadi, dewa-dewa diikat oleh aturan, karena itu aturan lebih tinggi dari pada para dewa. Plato mengatakan yang lebih tinggi dari dewa adalah dunia ide yang mutlak, yang paling tinggi, paling agung dan itu satu, inilah yang mengatur segala sesuatu. Itu yang Plato katakan the good, ini yang para filsuf etika katakan sebagai aturan yang mengikat kita. Tidak tahu apa pokoknya ada yang atur, yang paling tinggi ini sedikit memberikan pencerahannya ke dalam hati kita, ini ajaran stoik. Yang paling tinggi dan mutlak inilah yang disebut macam-macam. Kahn menyebutnya sebagai prinsip moral yang membuat kita tunduk. Hegel menyebutnya sang ide atau sang roh, kalau kita datang ke situ pasti akan dapat bijaksana. Namun, aturan itu seperti apa, tidak ada yang tahu. Nanti sampai abad 20, ada seorang bernama Heidegger yang mengatakan jangan pikir terlalu rumit, yang paling besar dan paling tinggi ini sebenarnya namanya ada, dan ada itu ada di sekitar kita. Ini tema yang rumit sekali. Lalu, siapa yang bisa menentukan aturan ini? Sang ada itu yang orang Kristen bilang Tuhan. Pokoknya Tuhan yang atur semua. Paulus rasa ada masalah mengenai ini karena yang atur ini tidak peduli kehidupan manusia karena dia tidak berinteraksi dengan kehidupan manusia. Dia tidak berinteraksi dengan kehidupan manusia karena dia tidak bisa dipahami oleh manusia. Siapa dia kita tidak tahu, pokoknya ada aturan besar di langit sana yang harus kita taati. Dan, kalau aturan itu tidak ada, maka kita mesti berantem satu dengan yang lain untuk memutuskan mana yang baik dan jahat, membuat konsensus. Akhirnya konsensus mana baik dan jahat menjadi sangat gampang berubah sehingga tidak bisa pegang apa pun lagi. Semakin lama akan semakin kacau. "Tapi itu kacau menurut kamu, tidak tentu menurut saya". Parsialitas seperti ini bahaya sekali, karena akhirnya mulai curiga dengan apa pun yang mengatakan ini mutlak sebagai otoritas yang menindas. Kalau saya mengatakan "ini dosa", Saudara bilang "hak apa kamu bilang begitu?" Ketika orang menjalankan pernyataan "kamu benar, kamu salah", apa hakmu mengatakan ini benar? dari Tuhan.

"Bagaimana kamu tahu bahwa Tuhan mengatakan ini dan Dia harus dipegang pengertiannya? Paulus pakai konsep Yahudi dari Perjanjian Lama, penghakiman adalah untuk perbaikan. Tuhan tidak pernah melakukan tindakan apa pun kecuali untuk kebaikan pada akhirnya karena dari awal Tuhan adalah Tuhan yang terlibat aktif dalam ciptaan. Ini yang tidak ada dalam konsep orang Yunani, percaya ada kuasa yang mengikat para dewa dan manusia, tetapi kuasa itu kuasa yang sangat gelap, kita tidak mengerti siapa dia. Dia tidak pernah berinteraksi dengan kita karena dia bukan person, dia bukan pribadi. Kuasa paling tinggi bukan bersifat personal, ini yang dari awal Kekristenan kritik. Kalau Saudara mengatakan "yang paling tinggi adalah kasih", kasih itu abstrak, harus ada pribadi yang mengasihi. Namun, di mana ada kasih yang juga pribadi? Hanya dalam Allahnya Alkitab yang mengatakan Allah saling mengasihi karena itu disebut Allah adalah kasih. Dan, ini diajarkan tradisi Kuyperian, dalam tradisi Kekristenan mereka banyak menggali ini, bahwa apa pun yang abstrak dikecualikan dari rencana Tuhan itu berhala. Berhala adalah yang ditarik keluar dari Tuhan. Namun, kalau kita tidak punya berhala maka kita tahu segala konsep yang kita pahami semuanya satu dalam rancangan Tuhan dan berkait dengan sifat-sifat Tuhan. Maka kalau Saudara mengatakan, "Mengapa kita harus mengasihi?" Karena Allah adalah kasih. Dan, kalau Allah ini tidak pernah terlibat dengan ciptaan, maka segala pengertian-Nya adalah pengertian abstrak yang tidak realistis. Namun Alkitab mengatakan dalam Perjanjian Lama, apa pun yang Tuhan nyatakan karena Dia memedulikan ciptaan ini. Dia yang menangani ciptaan ini, Dia juga yang menyertai Adam meskipun sudah jatuh dalam dosa, Dia yang memberikan pakaian. Ini indah sekali, Tuhan adalah Tuhan yang penuh dengan cinta kasih dan pengampunan. Kalau Saudara jadi tuhan, mungkin Saudara akan lemparkan bajunya "tuh, ambil sendiri". Tuhan pakaikan dengan penuh cinta kasih, Tuhan terlibat dalam penciptaan, Tuhan terlibat dalam penebusan. Tuhan terlibat begitu intim dalam semua periode sejarah. Itu sebabnya dalam pengertian dari Paulus, Roma dan seluruh kemampuan berpolitiknya tidak bisa menghindar dari kesulitan ini. Maka kita harus tahu kita menghakimi bukan sebagai keputusan final , tetapi berdasarkan aturan dari Sang Hakim sejati di mana saya sendiri pun terikat olehnya. Itu sebabnya aturan yang digumulkan dan didetailkan dari firman itu aturan yang akan sangat memberkati masyarakat. Dooyeweerd mengatakan sistem Reformed itu yang paling baik karena berusaha untuk memadukan secara utuh dari Augustinus sampai Calvin, bahwa Tuhan yang mengatur seluruh ciptaan. Maka kalau semua ditarik akan berakhir pada Tuhan sebagai pemberi keputusan final. Itu sebabnya ketika Tuhan menyatakan kedaulatanNya sedemikian, kita tahu satu hal bahwa aturan akan berjalan baik karena Tuhan yang memberikan penghakiman yang bertujuan membuat hal menjadi baik. Paulus mengatakan kalau kamu menjalankan aturan yang baik ini, tidak mungkin tidak ada faedah, Saudara akan bahagia.

Karena apa yang kita miliki adalah hati, yang sebenarnya sangat bersentuhan dengan hukum-Nya Tuhan, Roma 1. Kamu punya hati yang bersentuhan dengan hukum Tuhan, tetapi kamu abaikan Tuhan, maka hatimu menjadi kacau dan kamu mengikuti aturan dari dunia ini, aturan yang membinasakan kamu. Dari sini, kita bisa menikmati banyak sekali aspek yang praktis dalam hidup. Paulus mengatakan di bagian yang kita sudah bahas, kemuliaan, kehormatan, damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik sebab Allah tidak memandang bulu. Ini peraturan yang global, semua peraturan dari Tuhan akan dijalankan berdasarkan hati nurani. Maka Paulus mengatakan Tuhan itu adil, siapa yang benar-benar mencari, Tuhan akan berikan. Siapa yang tidak pedulikan, Tuhan akan abaikan. Maka pencarian akan aturan hidup yang baik adalah bijaksana yang Paulus tawarkan kepada jemaat Roma. Kamu sudah punya pencarian, sudah ingin cari cara hidup yang baik atau tidak? Kita akan masuk keadaan Tuhan murka. Tuhan murka karena manusia hidupnya ngawur dan rusak luar biasa. Kita bisa lepas dari ini semua ketika kamu sadar bahwa Tuhan adalah Pembuat hukum yang mau kita menjalani apa yang Dia perintahkan. Maka Surat Roma dimulai dengan keharusan untuk hidup harmonis dalam masyarakat, keharusan untuk hidup benar di tengah-tengah masyarakat. Dari sini, kita akan lihat yang punya pencarian akan hidup benar dan orang yang rusak sekali hidupnya. Sehingga tema berpusat ke diri dan berpusat ke masyarakat demi kebaikan juga menjadi tema yang penting dalam Surat Roma. Kitab Imamat punya tujuan yaitu membuat orang tidak berpusat ke diri namun berpusat ke Tuhan lewat fokus ke masyarakat. Kita tahu berpusat kepada Tuhan dengan fokusmu ke sekelilingmu, fokusmu ke sesamamu. Waktu saya berjuang untuk sesama, pada waktu itu saya sadar saya beribadah kepada Tuhan dengan cara yang harmonis pada perlakuan saya ke sesama. Orang Farisi adalah orang yang beribadah kepada Tuhan, tetapi perlakuannya kepada sesama tidak harmonis. Mereka rasa dekat kepada Tuhan , tetapi mereka tidak pernah melakukan apa pun yang membuat kehidupan sesamanya menjadi lebih baik. Mengapa orang bisa menjadi begitu kacau kehidupannya? Karena terlalu banyak toleransi.

Maka Saudara akan menggumulkan apa yang Paulus katakan ini. Kalau kita menjadi orang yang mencari kemuliaan, kebenaran, ketidak-binasaan, kita sebenarnya satu jalur dengan ibadah kita. Saya ingin kita bergumul juga bahwa kalau ibadah saya benar, hidup yang sejalur adalah hidup yang secara konsisten mencari kebenaran dan kebaikan dan kebahagiaan secara bersama. Orang Reformed adalah orang yang hedonis komunal, maksudnya kita ingin senang-senang , tetapi bersama-sama, satu jalur dengan apa yang Tuhan mau dan bersama-sama. Bukan hedonis bareng-bareng, pesta bareng-bareng. Inilah tema disebut human flourishing. Dalam tafsiran Mazmur, Calvin mengatakan Tuhan ingin kita berbagian dalam kenikmatan hidup dalam cara menjadikan sekelompok besar orang hidupnya lebih baik. Caranya dengan berbagian dalam pekerjaan saya, sesuai dengan aturan yang Tuhan mau. Maka kalau kita dengan tekun berusaha mencari hal-hal seperti ini, Tuhan akan berkenan kepada kita.

Paulus mengingatkan di ayat 12, semua orang yang berdosa tanpa Hukum Taurat akan binasa tanpa Hukum Taurat. Semua orang berdosa di bawah Hukum Taurat akan dihakimi oleh Hukum Taurat. Bangsa yang tidak kenal Hukum Taurat akan menjadi pendosa. Masyarakat hancur karena tidak ada lagi kompas untuk menentukan yang baik dan yang jahat. Ini yang Paulus katakan "tanpa Taurat, kamu tetap dihakimi karena kamu menjalankan dosa yang akan merusak hidupmu sendiri". Namun, banyak orang yang katakan Tuhan terlalu ketat dan terlalu jahat. Orang sudah kena dusta, susah sekali berubah. Begitu kena dustanya setan "Tuhan itu jahat", "kalau Tuhan tidak jahat, mengapa keluargaku seperti ini?", Alkitab sudah jelaskan bahwa kamu sedang hidup di padang gurun, kamu sedang hidup menanti keadaan bahagia itu, kamu sedang ada dalam peperangan di masyarakat, pemerintahan, gereja, dunia kerja, diri sendiri, dosa, ini fakta Alkitab sudah bagikan. Namun, sudah diberi tahu, masih juga melawan "pokoknya Tuhan jahat. Kalau Dia baik mengapa begini?", Ketika Tuhan sudah dianggap sebagai musuh yang jahat, maka kita pelan-pelan akan tinggalkan Dia. Kita mulai jauh dari Tuhan itu berarti bebas, Tuhan membuat aturan untuk kita terkekang. Namun, Tuhan mengatakan semua aturan yang dibuat untuk kelimpahan menjadi manusia. Kebebasan itu yang ditawarkan di Kitab Suci.

Jadi, orang tanpa Hukum Taurat akan rusak karena menganggap bahwa moral kompasnya sudah cukup kuat, padahal tidak. Bangsa yang memiliki Taurat akan dihakimi oleh Taurat dan justru disitulah kebebasan, ketika kejahatan Saudara dibongkar dan diarahkan untuk ada jalan keluar. Itu sebabnya Paulus mengatakan mengerti Taurat tanpa mengerti solusi, itu menjadikan Taurat menjadi belenggu. Taurat tanpa Kristus membuat hidup dengan belenggu yang keras sekali. Namun, kalau Taurat adalah yang mengarahkan kita untuk melihat Kristus, maka kita melihat ada Taurat yang menunjukan bobrok kita dan ada Taurat yang menunjukan kepada solusi yaitu Kristus. Bukan hanya sekedar percaya setelah itu hidup kita beres, harus ikut Kristus. Meneladani Dia dalam Roh Kudus.

Maka Paulus punya solusi adalah Roh Kudus yang memperbaiki hidup Saudara dengan cara menyatukan kita kepada Kristus. Ini yang Paulus katakan di Roma 8, kesatuan kita dengan Kristus oleh pekerjaan Roh Kudus membuat kita menjadi anak-anak Allah. Anak itu adalah kehidupan, tindakan hidup. Anak dibentuk oleh orang tua, anak mengikuti orang tua. Ini yang Paulus katakan mengapa kita bisa menjadi anak-anak Allah? Karena kita menerima Taurat dan solusinya. Taurat yang akan membuat saya semakin mengerti penghakiman Tuhan sebagai sesuatu yang akan menjadikan baik. Di ayat 16, Saudara akan tahu yang Saudara kerjakan akan nampak baiknya ketika Allah sesuai dengan Injil akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi, oleh Kristus Yesus. Paulus sedang mengatakan semua bangsa mencari bagaimana hidup beres, tetapi Saudara dan saya hidup beres dalam Tuhan dan pimpinan-Nya. Mengetahui bahwa Tuhan yang membuat aturan adalah Tuhan yang concern yang memberikan kebaikan. Jadi, kalau ada yang ingin kesempurnaan, dia memberikan ajaran dan aturan, dia adalah orang yang benar-benar ingin kita dengar. Ini yang C.S. Lewis pernah katakan, kalau kamu cuma melihat tindakan , tetapi tidak melihat si pemberi tindakan, kamu akan mudah sekali tertipu. Kalau Saudara ingin seperti Plato ada peraturan di luar sana yang tidak memedulikan kita, Saudara bisa stress. Saudara akan diikat oleh pengatur yang tidak peduli Saudara. Namun, kalau Saudara kembali kepada Alkitab, Paulus mengatakan yang mengatur kita adalah yang peduli kita. Di situ, kita akan mendapatkan sukacita mencari kebenaran, berjuang untuk hidup baik, berjuang untuk menaati Tuhan, karena Tuhan ingin kita berada dalam keadaan baik.

Diambil dari:
Nama situs : GRII Bandung
Alamat situs : https://griibandung.org/reformed-theology/surat-roma/mencari-tuhan-dan-tahu-bagaimana-menghargai-sesama/
Judul artikel : Mencari Tuhan dan Tahu Bagaimana Menghargai Sesama
Penulis artikel : Pdt. Jimmy Pardede