Ketidakterselaman Ilahi dan Pengetahuan tentang Allah

Definisi

Mengatakan bahwa Allah tidak terselami berarti dengan sukacita mengakui bahwa Allah Tritunggal yang mulia, sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Suci, berada dalam kategori yang sepenuhnya unik. Oleh karena itu, Dia tidak dapat diselami dalam hakikat, pengetahuan, dan karya-karya-Nya. Namun, melalui penyataan diri-Nya yang penuh kasih karunia, baik dalam wahyu umum maupun wahyu khusus, kita dapat mengenal Allah yang tidak terselami itu secara benar, meskipun tidak pernah secara penuh atau menyeluruh.

Ringkasan

Artikel ini menjelaskan bahwa pengetahuan tentang Allah merupakan pusat dari tujuan penciptaan kita dan inti dari seluruh refleksi teologis. Artikel ini juga bergumul dengan pertanyaan bagaimana manusia dapat mengenal Allah sebagai satu-satunya Pencipta dan Tuhan -- Dia yang sepenuhnya unik dan berbeda dari kita, dan karena itu tidak terselami. Pada akhirnya, artikel ini menegaskan bahwa pengetahuan kita tentang Allah tidak bersifat menyeluruh, tetapi objektif benar, berotoritas, dan mencukupi karena penyataan diri Allah yang penuh kasih karunia melalui alam dan Kitab Suci.

Katekismus Singkat Westminster dimulai dengan pertanyaan yang terkenal: "Apakah tujuan utama manusia?" Jawaban yang juga terkenal berbunyi: "Tujuan utama manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya." Dalam Kitab Suci, inti dari memuliakan Allah terletak pada pengetahuan tentang Allah itu sendiri. Bahkan, tujuan penciptaan kita adalah untuk mengenal dan mengasihi Allah sebagai gambar-Nya dan sebagai umat perjanjian-Nya (Mat. 22:37-40). Hal ini terlihat jelas dalam gambaran hubungan perjanjian yang baru antara Allah dan umat-Nya: "Mereka tidak akan lagi mengajar sesamanya atau saudaranya dengan berkata: Kenallah TUHAN, karena mereka semua akan mengenal Aku, dari yang paling kecil di antara mereka sampai yang paling besar,’ firman TUHAN" (Yer. 31:34, AYT). Tidak ada panggilan yang lebih tinggi dan tidak ada hal yang lebih mendesak bagi manusia sebagai ciptaan Allah -- dan terlebih lagi bagi umat Allah yang telah ditebus di dalam Kristus -- selain mengenal Allah Tritunggal kita dalam seluruh keagungan, keindahan, dan kemuliaan-Nya yang kudus (Mzm. 89:16; Yes. 11:9; Yoh. 17:3). Kehidupan dan kesehatan gereja secara langsung bergantung pada pengetahuan kita tentang Allah.

Studi teologi, atau dogmatika, jika dipahami dengan benar, tidak lebih dan tidak kurang dari pengetahuan tentang Allah yang diterapkan ke dalam setiap bidang pemikiran dan kehidupan. Herman Bavinck menangkap pokok ini dengan sangat baik ketika dia menulis:

"Dengan demikian, pengetahuan tentang Allah adalah satu-satunya dogma, isi eksklusif, dari seluruh bidang dogmatika [teologi]. Semua doktrin yang dibahas dalam dogmatika -- baik yang berkaitan dengan alam semesta, manusia, Kristus, dan seterusnya -- tidak lain adalah penjelasan dari satu dogma pusat, yaitu pengetahuan tentang Allah. Segala sesuatu dipertimbangkan dalam terang Allah, ditempatkan di bawah Dia, dan ditelusuri kembali kepada-Nya sebagai titik awal. Dogmatika selalu dipanggil untuk merenungkan dan menggambarkan Allah, dan hanya Allah saja... Pengetahuan tentang Dialah yang harus ditampilkan oleh dogmatika." (Herman Bavinck, "God and Creation", jilid 2 dari "Reformed Dogmatics", ed. John Bolt, terj. John Vriend [Grand Rapids: Baker Academic, 2004], 29).

Namun, bagaimana kita dapat mengenal dengan benar Allah Kitab Suci yang mulia, yang sepenuhnya tidak sama dengan kita? Jarak antara Allah dan kita terletak pada perbedaan antara Pencipta dan ciptaan, antara kekekalan dan waktu, antara Dia yang tidak terbatas dalam keberadaan, pengetahuan, dan kesempurnaan, dan manusia yang terbatas dalam segala hal. Selain itu, sejak Kejadian 3, kita bukan hanya terbatas, tetapi juga jatuh sebagai pemberontak yang ingin menempuh jalan kita sendiri dan memikirkan pikiran kita sendiri. Dengan kondisi seperti ini, bagaimanakah pengetahuan tentang Allah mungkin terjadi?

Allah Tritunggal Ada dan Dia Telah Berfirman kepada Kita

Jawaban yang diberikan Kitab Suci adalah ini: pengetahuan tentang Allah dimungkinkan karena Allah Tritunggal, Pencipta dan Allah perjanjian, sungguh-sungguh ada dan telah berfirman kepada kita. Jawaban ini dapat diuraikan ke dalam dua arah utama.

Pertama, agar pengetahuan tentang Allah menjadi mungkin, Allah harus mengambil inisiatif untuk berfirman kepada kita. Ibrani 1:1-2 dimulai dengan kata-kata ini: "Setelah di masa yang lampau, Allah berulang kali berbicara kepada nenek moyang kita melalui para nabi, pada hari-hari terakhir ini, Allah berbicara kepada kita melalui Anak-Nya." (AYT) Ayat-ayat ini mengingatkan kita akan kebenaran yang pertama dan mendasar -- kebenaran yang menjadi dasar bagi pengetahuan kita tentang Allah dan, sebagai akibatnya, bagi segala sesuatu yang kita pikirkan dan katakan tentang Dia. Tanpa Allah Tritunggal dan inisiatif-Nya untuk berfirman kepada kita, bukan saja alam semesta tidak akan ada (Kej. 1:1-3), tetapi kita juga tidak akan memiliki dasar bagi pengetahuan tentang Allah, kebenaran, dan kemungkinan untuk berteologi, setidaknya teologi yang objektif benar (principium cognoscendi, yaitu "prinsip mengetahui," atau dasar pengetahuan). Tidak diragukan lagi, ciptaan menyatakan Allah dan diperlukan untuk mengenal Allah (Mzm. 19; Rm. 1:18-32). Namun, untuk mengenal Allah lebih dari sekadar mempelajari ciptaan -- untuk mengenal hakikat, karakter, kehendak, dan janji-janji-Nya, serta untuk masuk ke dalam hubungan perjanjian dengan-Nya -- kita membutuhkan firman Tuhan. Kita membutuhkan Allah untuk menyatakan kepada kita siapa Dia, apa rencana kekal-Nya, dan bagaimana kita ditempatkan di dalam rencana itu demi kemuliaan Allah (Rm. 11:33-36). Untuk mengenal Allah dan berteologi dalam pengertian Kristen historis apa pun, firman ilahi merupakan keharusan, dan patut disyukuri bahwa Allah tidak membiarkan kita bergantung pada pendapat semata dan subjektivitas manusia.

Poin ini sangat penting bagi gereja untuk dipertahankan pada masa kini. Zaman kita, setidaknya di dunia Barat, ditandai oleh hilangnya kebenaran secara besar-besaran, yang pada akhirnya bersumber pada penolakan terhadap Allah Tritunggal dan firman Tuhan. Masyarakat kita kerap digambarkan sebagai budaya pascamodern dan pluralistik. Artinya, kita telah kehilangan dasar bagi kebenaran objektif karena berusaha menemukan "kebenaran" baik di dalam dunia naturalistis yang terus berubah maupun di dalam diri individu. Karena itu, tidak mengherankan jika masyarakat memandang "kebenaran" hanya sebagai perspektif belaka, sementara, dan selalu tidak lengkap. Dengan menjadikan rasio manusia yang terbatas sebagai standar tertinggi, segala upaya untuk memperoleh "sudut pandang Allah" menjadi tidak masuk akal, bahkan mustahil. Namun, seperti yang kita saksikan di sekitar kita, pandangan ini tidak menghasilkan damai dan ketenangan, tetapi justru mengarah pada totalitarianisme yang semakin meningkat, yang berusaha membungkam segala pemikiran dan perkataan yang mengklaim kebenaran objektif.

Pandangan Alkitab tentang bagaimana kita mengenal Allah merupakan kebalikan dari pandangan zaman kita. Mengapa demikian? Karena Allah Tritunggal yang sungguh ada itu telah berfirman, sehingga kita dapat berpikir dan berbicara dengan benar tentang dia. Yang "Benar," yang "Baik," dan yang "Indah" tidak semata-mata ditentukan oleh sudut pandang manusia; semuanya berakar di dalam Allah dan firman Tuhan. Akibatnya, berteologi bukan hanya mungkin, tetapi juga menjadi panggilan tertinggi kita -- mengasihi Tuhan dengan akal budi dan dengan seluruh hidup kita, ketika kita "memikirkan pikiran-Nya menurut Dia" dan "menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus" (2Kor. 10:5). Gereja dipanggil kepada hak istimewa tertinggi untuk terlibat dalam sukacita bernalar, memahami, dan merenungkan seluruh firman Tuhan. Hanya di atas dasar inilah kita mengenal Allah, teologi dapat dikerjakan, hidup berakar dalam kebenaran, gereja berdiri teguh, dan kita terhindar dari pasir hisap gagasan-gagasan palsu yang menentang Kristus.

Kedua, agar pengetahuan tentang Allah menjadi mungkin, Allah yang spesifik harus ada, yaitu Allah Tritunggal yang dinyatakan dalam Kitab Suci (principium essendi, yaitu "prinsip keberadaan," atau dasar keberadaan). Dia adalah Allah yang sekaligus tak terbatas, berdaulat, absolut, namun juga personal, bahkan tri-personal. Dari Kejadian hingga Wahyu, Allah Tritunggal disajikan sebagai Pencipta dan Tuhan atas alam semesta -- dia yang tidak diciptakan, mandiri, dan mencukupi diri-Nya sendiri (Kej. 1-2; Mzm. 50:12-14; Kis. 17:24-25; bdk. Yoh. 1:1). Kebenaran ini menetapkan pembedaan yang mendasar dalam seluruh teologi, yaitu pembedaan antara Pencipta dan ciptaan. Pembedaan ini menyingkirkan gagasan-gagasan keliru tentang Allah, menempatkan Allah dalam kategori yang sepenuhnya berbeda dari ciptaan-Nya, dan memberikan pemahaman yang jelas tentang relasi antara Allah dan dunia, yang berbeda dari pemikiran non-Kristen. Hanya Allah adalah Allah; segala sesuatu yang lain adalah ciptaan yang sepenuhnya bergantung kepada-Nya untuk hidup dan untuk segala sesuatu (Kol. 1:15-17).

"Ketidakterselaman" adalah istilah teologis yang berupaya menangkap cara Alkitab menyajikan Allah Tritunggal dalam seluruh keunikan, transendensi, dan kemuliaan-Nya. Namun, dalam sejarah teologi, sebagian orang menggunakan konsep ketidakterselaman Allah ini untuk menarik kesimpulan yang keliru, seolah-olah Allah begitu berbeda dari kita sehingga pengetahuan tentang dia hanya mungkin melalui "jalan penyangkalan" (via negativa). Mereka yang menempuh jalan ini sering menyebut pendekatan mereka sebagai teologi apofatik, yaitu usaha menggambarkan Allah dengan menekankan keterbatasan bahasa manusia dan hanya mengatakan apa yang bukan Allah. Dalam pandangan ini, Allah dianggap berada di luar deskripsi dan definisi, sehingga dia dinyatakan tidak terselami.

Namun, Kitab Suci mengajarkan bahwa Allah sekaligus tidak terselami dan dapat dikenal. Allah yang sama, yang adalah Pencipta dan Tuhan, juga adalah Allah perjanjian yang sungguh hadir dan berelasi dengan ciptaan-Nya. Dia secara bebas, berdaulat, dan dengan tujuan yang jelas menopang serta memerintah segala sesuatu menuju tujuan yang dia kehendaki (Mzm. 139:1-10; Kis. 17:28; Ef. 1:11; 4:6). Dia memerintah dengan kuasa, pengetahuan, dan kebenaran yang sempurna (Mzm. 9:8; 33:5; 139:1-4, 16; Yes. 46:9-11; Kis. 4:27-28; Rm. 11:33-36) sehingga dia sungguh dapat dikenal oleh kita (Kis. 17:24-28). Sebagai Tuhan, Allah bertindak di dalam, bersama, dan melalui ciptaan-Nya untuk melaksanakan rencana dan tujuan-Nya (Ef. 1:11). Sebagai pribadi, Allah memerintah, mengasihi, menghibur, dan menghakimi secara konsisten dengan diri-Nya sendiri dan sesuai dengan relasi perjanjian yang dia tetapkan dengan kita. Allah Tritunggal, satu-satunya Pencipta dan Tuhan, mencipta, memerintah, dan menebus supaya para pembawa gambar-Nya mengenal dia dalam relasi perjanjian. Bahkan, sepanjang sejarah penebusan, Allah Tritunggal menyatakan diri-Nya secara unik melalui inkarnasi Anak, dan di dalam Kristus kita ditebus, diperdamaikan, dibenarkan, serta dibawa masuk ke dalam persekutuan dengan Allah Tritunggal (Yoh. 1:1-18; Yoh. 14-16; Yoh. 17:1-5; 1Kor. 1:9; Ef. 1:3-14; Why. 21-22).

Karena alasan inilah, Allah yang tak terbatas, absolut, dan melampaui pemahaman kita tetap dapat dikenal oleh kita. Tidak diragukan, sebagai makhluk yang terbatas -- dan juga telah jatuh ke dalam dosa -- kita tidak akan pernah mampu memahami Allah sepenuhnya. Allah berada di luar jangkauan pemahaman dan deskripsi kita secara menyeluruh. Namun, hal ini tidak berarti bahwa Allah sama sekali tidak dapat dipahami. Ketidakterselaman Allah paling tepat dipahami dalam arti bahwa dia tidak terhingga untuk diselami. Sebagai Allah Tritunggal, keberadaan-Nya mandiri, mencukupi diri-Nya sendiri, dan sederhana, sehingga tidak mungkin diselami secara tuntas. Sebagai Allah yang mengetahui dan merencanakan segala sesuatu, pikiran-pikiran-Nya terlalu dalam untuk diselami. Bahkan di dalam kekekalan, ketika kita berada dalam keadaan yang telah dimuliakan, kita tetaplah makhluk yang terbatas. Karena itu, kita tidak akan pernah sepenuhnya menyelami kedalaman pengetahuan dan keberadaan Allah (Mzm. 145:3,7; Mzm. 139:6; Yes. 40-48; Yes. 55:8-9; Rm. 11:33-36). Seperti yang dengan tepat diajarkan oleh teologi Reformasi, sejalan dengan seluruh sejarah gereja, "Yang terbatas tidak dapat memuat yang tak terbatas."

Dalam memikirkan ketidakterselaman Allah, khususnya berkaitan dengan pengetahuan-Nya, penting untuk diingat bahwa pikiran Allah bukan sekadar lebih besar secara kuantitatif daripada pikiran kita, tetapi berbeda secara kualitatif. Dia adalah arketipe dari segala pengetahuan. Tidak diragukan, kita dapat mengatakan bahwa "objek" pikiran Allah dan pikiran manusia adalah sama, tetapi proses berpikir Allah sepenuhnya berbeda, terlebih lagi isi pemikiran-Nya. Sebagai contoh, pemikiran Allah bersifat kreatif, sedangkan pemikiran kita tidak. Pemikiran dan pengetahuan kita hanyalah ektipe dari pengetahuan-Nya yang menyeluruh dan lengkap. Bahkan, pikiran dan firman Allah menciptakan dunia-dunia dan mewujudkan segala sesuatu (Kej. 1:1, 3, 6, 9, 14, 20, 24; Ef. 1:11). Pikiran kita tidak pernah bersifat kreatif; pikiran kita hanya menerima dan merekonstruksi pemikiran, pengetahuan, dan karya Allah yang telah lebih dahulu membentuk dunia. Pikiran Allah juga merupakan standar kebenaran. Apa yang Allah pikirkan dan rencanakan menentukan apa yang benar, dan secara moral, kehendak serta hakikat-Nya menjadi standar bagi benar dan salah. Karena alasan inilah, Allah adalah standar kebenaran dan penentu apa yang secara moral benar (Kej. 18:25; Mat. 4:4). Tidak ada satu pun dalam pemikiran manusia yang sebanding dengan hal ini.

Namun, karena penyataan diri Allah yang penuh kasih karunia, Allah yang tidak terselami itu dapat dikenal oleh kita. Pengetahuan kita tentang Dia tidak pernah bersifat menyeluruh, bahkan di dalam kekekalan, tetapi pengetahuan itu tetap benar sejauh selaras dengan penyataan diri-Nya. Berbeda dengan pemikiran non-Kristen masa kini yang beranggapan bahwa kebenaran objektif hanya mungkin jika kita mengetahui segala sesuatu secara menyeluruh -- dan bahwa jika tidak demikian, kita hanya memiliki perspektif-perspektif yang terbatas -- pandangan Kristen tentang pengetahuan menegaskan bahwa kita dapat memiliki pengetahuan yang terbatas tetapi objektif benar. Hal ini dimungkinkan karena pengetahuan kita merupakan bagian dari pengetahuan Allah yang menyeluruh dan lengkap tentang segala sesuatu. Itulah sebabnya teologi Kristen dipahami sebagai "iman yang mencari pengertian," yaitu iman yang berakar dan berdasar pada wahyu ilahi, sehingga Allah yang tidak terselami itu sungguh dapat dikenal oleh kita.

Lokus Wahyu Ilahi

Agar Allah Tritunggal yang tidak terselami itu benar-benar dikenal oleh kita, dia harus mengambil inisiatif untuk menyatakan diri-Nya kepada kita. Tanpa inisiatif ini, kita tidak akan memiliki dasar yang universal dan objektif untuk mengenal Allah. Namun, pertanyaan selanjutnya adalah ini: di manakah kita menemukan wahyu Allah? Inilah yang disebut sebagai pertanyaan tentang "lokus." Dalam teologi Kristen, sering dibuat pembedaan antara cara Allah berbicara secara "umum" -- yang bersifat universal atau alami -- dan cara Allah berbicara secara "khusus" -- yang bersifat partikular, supranatural, dan menyelamatkan. Pembedaan inilah yang dikenal sebagai wahyu umum dan wahyu khusus.

Meskipun wahyu umum memiliki peranan penting dalam teologi Kristen, fokus utama kita diarahkan pada penyataan diri Allah melalui firman ilahi, yaitu Kitab Suci. Kitab Suci adalah firman perjanjian Allah, hasil dari tindakan-Nya yang berdaulat melalui Firman dan oleh Roh Kudus, sehingga para penulis manusia, dengan kebebasan penuh, menuliskan persis apa yang Allah kehendaki untuk dituliskan (2Tim. 3:15-17; 2Ptr. 1:20-21). Justru karena Kitab Suci adalah firman Tuhan yang tertulis, Kitab Suci memiliki otoritas penuh, dapat dipercaya, dan tanpa kesalahan. Seseorang tidak dapat memahami hakikat Kitab Suci tanpa mengakui Allah Tritunggal yang memberikannya melalui tindakan-Nya yang berdaulat, providensial, dan luar biasa di dalam dan melalui para penulis manusia. Karena Kitab Suci merupakan firman Tuhan yang disampaikan melalui penulis manusia, bahasanya -- sekalipun bersifat manusiawi dan terbatas -- dipilih secara ilahi, benar, dan memadai untuk menyatakan siapa Allah itu. Ketika Allah menggambarkan diri-Nya di seluruh kanon Kitab Suci, dia menggunakan ungkapan yang tepat dan mencukupi, sehingga kita sungguh memiliki pemahaman tentang siapa Dia. Tidak diragukan, pengetahuan kita tentang Allah tidak pernah bersifat menyeluruh, tetapi berdasarkan wahyu, kita benar-benar mengenal Allah.

Lebih jauh lagi, sepanjang sejarah penebusan, Allah telah masuk ke dalam relasi perjanjian dengan umat-Nya. Pada setiap tahap sejarah tersebut, dia memberikan firman tertulis supaya kita memiliki kepercayaan penuh terhadap segala sesuatu yang telah dia janjikan dan nyatakan (Ul. 5:22, 32; Ul. 29:9; Ul. 30:15-16; Yos. 1:7-8). Kini, di dalam Kristus -- Sang Firman yang menjadi manusia -- semua janji Allah telah mencapai penggenapannya (Ibr. 1:1-2), sehingga kanon Kitab Suci ditutup. Sekarang, di dalam Kristus, seluruh Kitab Suci diberikan untuk pengajaran kita supaya gereja dibangun di dalam kebenaran dan ajaran yang sehat. Standar yang digunakan gereja untuk mengenal Allah, berteologi, dan menilai segala gagasan adalah Kitab Suci, karena Kitab Suci adalah firman Tuhan. Bahkan, tidak memercayai atau tidak menaati Kitab Suci sama artinya dengan tidak memercayai atau tidak menaati Allah (Yes. 66:1-2). Satu-satunya tanggapan yang tepat terhadap firman Tuhan adalah percaya dan taat. Hal ini menuntut pembacaan dan penafsiran Kitab Suci yang setia pada maksudnya sendiri, mengikuti alur kisah perjanjian yang berkembang dari penciptaan hingga ciptaan baru, serta menerapkan seluruh kanon dalam kehidupan kita di dalam terang Kristus dan kedatangan zaman perjanjian baru. Betapa patutnya kita bersyukur karena Allah tidak membiarkan kita bergantung pada pemikiran kita sendiri, tetapi telah memberikan kepada kita firman yang pasti, yang dapat dipercaya sepenuh hati dan tidak akan pernah menyesatkan kita.

Pengetahuan Kita tentang Allah Tritunggal yang Tidak Terselami Bersifat Analogis

Kitab Suci, sebagai firman Tuhan yang tertulis, memberikan kepada kita pengetahuan yang benar tetapi terbatas tentang Allah. Namun, penting untuk diingat bahwa semua bahasa Alkitab yang merujuk kepada Allah adalah benar, tetapi bersifat analogis. Artinya, kita tidak boleh menyamakan ucapan "harfiah" tentang Allah dengan bahasa yang bersifat univokal, maupun ucapan "tidak harfiah" dengan bahasa yang bersifat analogis. Sebaliknya, di bawah kategori yang lebih luas dari predikasi analogis -- yaitu bahasa yang diterapkan kepada Allah dan manusia dengan cara yang serupa tetapi tidak identik -- kita harus menempatkan baik ucapan "harfiah" maupun "tidak harfiah" tentang Allah. Dengan kata lain, baik bahasa "harfiah" maupun "tidak harfiah" dalam Kitab Suci tentang Allah sama-sama bersifat analogis. Pemahaman ini memungkinkan kita untuk secara konsisten mempertahankan pembedaan antara Pencipta dan ciptaan, sekaligus menegaskan bahwa semua bahasa Alkitab tentang Allah bersifat analogis, diakomodasikan, dan merupakan bahasa manusia yang dipilih Allah untuk menyatakan diri-Nya -- bahasa yang benar-benar menyampaikan siapa Dia, tetapi tidak secara menyeluruh.

Dalam ucapan "harfiah," kata-kata dan frasa digunakan dalam arti yang biasa dan normal sesuai dengan konvensi bahasa, kecuali jika terdapat petunjuk konteks yang jelas yang menuntut pemahaman lain. Sebagai contoh, pernyataan "Allah adalah kasih" merupakan deskripsi "harfiah" tentang Allah. Sebaliknya, ucapan "tidak harfiah," yang mencakup bahasa figuratif dan metaforis, menggunakan kata-kata dan frasa dengan cara yang tidak biasa, sebagaimana dimaksudkan oleh pembicara atau penulis. Contohnya, pernyataan "Allah adalah Gembala" atau "Allah adalah gunung batu" merupakan deskripsi "tidak harfiah" atau "metaforis" tentang Allah. Namun, baik ucapan harfiah maupun tidak harfiah tentang Allah -- Allah ada, Allah kudus, Allah adalah kasih, Allah adalah Gembala, Allah adalah gunung batu -- semuanya bersifat analogis dan bukan univokal. Dengan demikian, ketika kita mengatakan bahwa Allah kudus, Allah adalah kasih, atau Allah adalah gunung batu, kita menegaskan bahwa sifat-sifat dan gambaran tersebut benar tentang Allah dengan cara yang serupa tetapi berbeda dari manusia atau realitas ciptaan. Namun, jika kita menyamakan makna "harfiah" dengan makna univokal, lalu mengatakan bahwa Allah adalah kasih atau Allah kudus dengan cara yang persis sama seperti manusia mengasihi atau menjadi kudus, kita melakukan kesalahan teologis yang mendasar. Kesalahan ini mereduksi Pencipta menjadi ciptaan dan merusak ajaran Alkitab tentang keunikan dan ketidakterselaman Allah yang mutlak. Semua bahasa Alkitab yang merujuk kepada Allah adalah benar, tetapi tidak pernah bersifat satu-banding-satu dengan ciptaan; bahasa tersebut selalu merupakan bentuk predikasi analogis. Karena itu, dalam setiap deskripsi Alkitab tentang Allah -- baik yang "harfiah" maupun yang "tidak harfiah" -- pembedaan antara Pencipta dan ciptaan harus senantiasa dipertahankan.

Poin ini sangat penting dalam penafsiran Kitab Suci dan harus mengarahkan cara kita memahami seluruh bahasa Alkitab tentang Allah. Pada akhirnya, prinsip ini juga harus membentuk cara kita berteologi dengan benar tentang siapa Allah itu, hakikat-Nya, atribut-atribut-Nya, karya-karya-Nya, dan relasi-Nya dengan dunia. Hal ini menuntut agar dalam mengenal Allah melalui Kitab Suci, kita memperhatikan dengan saksama bukan hanya apa yang Kitab Suci katakan, tetapi juga bagaimana Kitab Suci mengatakannya. Allah adalah Pencipta yang tidak terselami, tetapi Dia juga adalah Allah Tritunggal yang personal, yang telah menyatakan diri-Nya kepada kita di dalam konteks perjanjian dan dalam sejarah yang nyata. Karena Kitab Suci diberikan oleh Allah sendiri, bahasa yang digunakan-Nya untuk menggambarkan diri-Nya bersifat tepat, benar, dan dapat diandalkan, tetapi tidak menyeluruh, tidak univokal, dan tidak pula equivokal, melainkan analogis. Untuk mengenal Allah dengan benar, yang dibutuhkan adalah membiarkan seluruh Kitab Suci berbicara dengan sendirinya -- dalam kategori-kategorinya sendiri, dalam cara penyajiannya sendiri, dan di seluruh kanon. Ketika kita melakukan hal ini, kita dapat yakin bahwa Allah Tritunggal kita yang mulia dan tidak terselami itu sungguh dikenal oleh kita, meskipun untuk selama-lamanya kita tidak akan pernah menghabiskan pemahaman tentang siapa Allah itu dalam seluruh keagungan, transendensi, serta kasih dan kesetiaan perjanjian-Nya di dalam Kristus Yesus.

Bacaan lanjutan:
- Bavinck, Herman. God and Creation. Jilid 2 dari Reformed Dogmatics. Disunting oleh John Bolt. Diterjemahkan oleh John Vriend. Grand Rapids: Baker Academic, 2004.
- Caneday, Ardel B. "Veiled Glory: God’s Self-Revelation in Human Likeness." Dalam Beyond the Bounds: Open Theism and the Undermining of Biblical Christianity, disunting oleh John Piper, Justin Taylor, dan Paul K. Helseth, 149 -- 201. Wheaton: Crossway, 2003.
- Frame, John M. The Doctrine of the Knowledge of God. Phillipsburg: P&R, 1987.
- Horton, Michael S. "Hellenistic or Hebrew? Open Theism dan Metode Teologi Reformed." Dalam Beyond the Bounds: Open Theism and the Undermining of Biblical Christianity, disunting oleh John Piper, Justin Taylor, dan Paul K. Helseth, 202 -- 236. Wheaton: Crossway, 2003.
- Muller, Richard A. The Divine Essence and Attributes. Jilid 3 dari Post-Reformation Reformed Dogmatics: The Rise and Development of Reformed Orthodoxy, ca. 1520 -- 1725. Grand Rapids: Baker Academic, 2003.

(t/Jing-jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : The Gospel Coalition
Alamat situs : https://www.thegospelcoalition.org/essay/divine-incomprehensibility-and-the-knowledge-of-god/
Judul asli artikel : Divine Incomprehensibility and the Knowledge of God
Penulis artikel : Stephen Wellum