Komentar

1 Timotius

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Bila dianggap bahwa Paulus dibebaskan dalam tahun 60 atau 61 setelah dia naik banding kepada Kaisar, pada waktu itulah dia menghidupkan lagi kegiatan pelayanannya. Berlawanan dengan sangkaannya semula (Kisah Para Rasul 20:38), masih terbuka kesempatan baginya untuk mengunjungi kembali jemaat-jemaat di Asia. Rupanya ada beberapa penyelewengan di antara mereka, karena Paulus menasihati Timotius untuk "menasihatkan orang-orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain ataupun sibuk dengan dongeng dan silsilah yang tiada putus-putusnya ... " (1 Timotius 1:3-4). Mereka ingin menjadi pengajar hukum Taurat, meskipun mereka belum berpengalaman dan belum memahami seluruh misterinya (1:7). Di samping mereka yang kurang berpengetahuan adalah mereka yang rusak moralnya, seperti Himeneus dan Aleksander (1:20) yang telah dijatuhi disiplin yang terberat. Perbantahan yang sia-sia (1:6) dan kebobrokan jiwa mengikuti kecenderungan ini.

Organisasi gereja berkembang menjadi makin rumit. Jabatan-jabatan telah ditetapkan dan dikejar oleh sementara orang yang ingin dianggap penting, sehingga martabat kedudukan itulah yang dikejar bukan tujuannya yang utama. Uskup, diaken, dan penatua semuanya disebutkan, meskipun mungkin kelas yang pertama dan ketiga adalah sama. Para janda yang mendapat sokongan harus "didaftarkan", dan harus mengemban suatu tugas khusus dalam pelayanan sosial gereja (5:9). Kebaktian di dalam gereja mempunyai beberapa kebiasaan khusus: berdoa dengan menadahkan tangan (2:8), kealiman dan kepatuhan wanita (2:11), membaca, berkhotbah, dan mengajar (4:13), menumpangkan tangan untuk memberikan karunia (4:14). Ketika generasi kedua dan ketiga gereja mulai timbul, teologi gereja makin dianggap sebagai sesuatu yang sudah semestinya dan makin kurang dianggap penting. Pertengkaran dan perdebatan berkembang dari titik-titik perbedaan; ajaran sesat menjadi suatu bahaya yang mengancam.

Riwayat Hidup Timotius

Timotius

Diri Timotius sendiri merupakan sesuatu yang menarik untuk dipelajari. Dilahirkan di Listra dari seorang ayah Yunani dan ibu Yahudi, dia dididik dalam adat istiadat Yahudi dan diajari Kitab Suci sejak masih kanak-kanak. Paulus menjadikannya sebagai muridnya dalam perjalanannya yang kedua (Kisah Para Rasul 16:1-3), dan sejak itu Timotius selalu menyertainya ke mana pun dia pergi. Dia turut mengabarkan Injil di Makedonia dan Akhaya dan membantu Paulus waktu dia mengajar di Efesus selama tiga tahun, di mana dia menjadi sangat mengenal kota itu serta kebutuhan-kebutuhan jemaat di sana. Dia adalah salah seorang delegasi yang ditunjuk ke Yerusalem (20:4) dan mungkin menyertai Paulus dalam perjalanan kembali ke kota itu. Dia berada di Roma bersama Paulus pada masa pemenjaraannya yang pertama, karena namanya muncul dalam kepala surat Kolose (1:1) dan Filemon (1). Setelah Paulus dibebaskan, dia mengadakan perjalanan kembali bersama Paulus dan rupanya ditinggalkan di Efesus untuk menjernihkan kekacauan yang telah berkembang di sana, sedang Paulus melanjutkan kunjungannya ke gereja-gereja di Makedonia. Pada akhir hidup Paulus, dia mendampinginya di Roma (2 Timotius 4:11, 21), dan dia sendiri juga dipenjarakan (Ibrani 13:23), tetapi dibebaskan kembali.

Timotius adalah orang yang dapat dipercaya, tetapi kurang bersemangat. Dia terkesan sebagai seseorang yang belum dewasa meskipun dia pasti telah berusia sekurang-kurangnya 30 tahun ketika Paulus menugaskan dia untuk memimpin gereja di Efesus (1 Timotius 4:12). Dia penakut (2 Timotius 1:6,7) dan sering terganggu pencernaannya (1 Timotius 5:23). Surat yang memakai namanya ini dimaksudkan untuk membesarkan hati dan meneguhkan dia untuk menerima tugas berat yang dilimpahkan Paulus kepadanya.

-- cut --

Isi

Suatu ikhtisar yang terpadu dari surat ini sulit untuk dibuat karena bentuknya yang berupa percakapan dan sifatnya yang sangat pribadi. Beberapa kalimat tampaknya berada di luar konteksnya, seperti perintah, "Jangan lagi minum air saja" (5:23). Ini adalah suatu ucapan yang lumrah dalam suatu pembicaraan tidak resmi, di mana si pembicara dapat menyelipkannya begitu saja saat terpikir olehnya tanpa merencanakan suatu esai yang resmi. Kata pengantar (1:3-17) menggambarkan garis besar dari keadaan darurat yang menyebabkan Paulus meninggalkan Timotius di Efesus. Dia mengingatkan bagi Timotius pengalamannya sendiri, yang merupakan suatu pola dari panggilan untuk melayani. Dia berulang kali mengingatkan Timotius akan tanggung jawab dari panggilan itu (1:18; 4:6,12,16; 5:21; 6:11,20), seolah-olah untuk mencegahnya menarik diri dari suatu tugas yang sulit. Pelimpahan tugas ini yang dibuka oleh kata-kata "Tugas ini kuberikan kepadamu ..." (1:18), menyangkut masalah kepentingan organisasi di dalam gereja. Persoalan-persoalan ibadah jemaat, kepengurusan dan doktrin gereja dijelaskan, dan kebijaksanaan tentang kepemimpinan gereja ditegaskan. Dalam bagian teguran pribadi (4:6-6:19), Paulus menegaskan hubungan sang penginjil dengan pelayanannya sendiri serta dengan pihak-pihak di dalam jemaat, untuk menunjukkan bagaimana harus menghadapi mereka masing-masing. Himbauan Paulus yang terakhir kepada Timotius sebagai hamba Allah adalah suatu karya yang indah. Dalam keempat perintahnya, jauhilah, kejarlah, bertandinglah, rebutlah (6:11-12,14), Paulus menguraikan dengan ringkas unsur-unsur dari kehidupan pelayanan pribadi.

Titus

Latar Belakang

Menurut urutan waktunya Titus mengikuti 1 Timotius. Paulus, setelah meninggalkan Efesus, pergi ke Makedonia dan mungkin dari sana berlayar ke Kreta, di mana dia pernah singgah dalam pelayarannya ke Roma. Dalam kesempatan ini, dia tinggal selama beberapa lama di sana, lalu meninggalkan Titus untuk menyelesaikan pengukuhan jemaat dan memperbaiki kesalahan-kesalahan di jemaat. Ada yang bertanya-tanya apakah Paulus merasa bahwa waktunya tidak banyak dan dia ingin kembali ke Efesus karena dia berbicara mengenai mengirimkan Tikhikus ke Kreta (Titus 3:12) dalam waktu dekat. Tujuannya yang terakhir adalah Nikopolis (mungkin di Epirus), di mana dia merencanakan untuk tinggal selama musim dingin.

Keadaan di Kreta sangat mengecewakan. Gereja tidak terorganisasi dan tingkah laku para anggotanya sangat ceroboh. Bila perintah dalam pasal 2 adalah suatu petunjuk dari apa yang dibutuhkan oleh jemaat di sana, maka para prianya lalai dan ceroboh, wanita-wanita yang tua suka bergunjing dan bermabuk-mabukan, dan wanita-wanita mudanya malas dan genit. Mungkin pemberitaan Injil karunia telah memberi kesan kepada orang-orang di Kreta bahwa keselamatan oleh iman tidak ada hubungannya dengan hidup tekun dan saleh. Enam kali (1:16; 2:7, 14; 3:1,8,14) dalam surat yang pendek ini orang-orang Kristen diminta untuk melakukan perbuatan baik. Meskipun Paulus mengatakan bahwa keselamatan tidak dapat diperoleh karena perbuatan baik yang kita lakukan (3:5), dia menyatakan dengan tidak kalah tegasnya bahwa orang-orang yang percaya memelihara perbuatan baik dengan seksama.

Kerusuhan di Kreta ini disebabkan oleh gabungan dari kelemahan moral yang berasal dari sifat bawaan bangsa Kreta (1:12-13) dan perintah serta omongan sia-sia yang disebarluaskan oleh penganut Yudaisme, yang menyangkal Allah (1:16), tidak tertib (1:10), suka mengacau (1:11) dan hanya mencari keuntungan bagi diri sendiri (1:11). Guru-guru ini berbeda dengan mereka yang mengacau Galatia, karena kesalahan mereka berupa kejahatan moral, sedang yang di Galatia bersifat kepicikan pelaksanaan hukum. Keduanya dikecam oleh surat ini.

Baik 1 Timotius maupun Titus ditulis untuk menasihati seorang murid yang tengah memecahkan persoalan-persoalan yang sulit sebagai gembala sidang. Titus, penerima surat ini, telah menjadi kenalan dan rekan Paulus selama 15 tahun atau lebih. Dia adalah seorang bukan Yahudi yang menjadi percaya pada masa-masa awal di Antiokhia, yang pertobatannya begitu meyakinkan hingga dijadikan teladan dari orang-orang percaya bukan Yahudi yang tidak bersunat ketika Paulus dan Barnabas pergi ke Yerusalem untuk menghadiri sidang (Galatia 2:1-3). Pasti dia menyertai Paulus dalam perjalanannya yang ketiga, karena dia bertindak sebagai utusan Paulus pada masa-masa yang sulit ketika ada pemberontakan gereja di Korintus, dan dia telah berhasil membangkitkan sesal dan mengembalikan kesetiaan mereka (2 Korintus 7:6-16). Dia telah berkeliling di Makedonia untuk menjalankan pengumpulan dana yang diprakarsai oleh Paulus, dan telah dipuji dengan tulus oleh Paulus (8:16, 19, 23). Mungkin dia termasuk di antara "kami" dalam Kisah Para Rasul 20:5, meskipun dia tidak pernah disebutkan namanya di mana pun di dalam Kisah Para Rasul. Penyebutan namanya yang terakhir dalam Perjanjian Baru menyatakan bahwa dia telah pergi ke Dalmatia (2 Timotius 4:17). Tampaknya dia mempunyai watak yang lebih kuat daripada Timotius dan lebih mampu menghadapi perlawanan.

-- cut --

Isi

Secara umum isi dari Titus serupa dengan 1 Timotius, kecuali pada penekanan yang lebih kuat pada perumusan pengakuan iman. Paulus menyatakan suatu rumusan kepercayaan Kristen yang paling lengkap dalam seluruh Perjanjian Baru dalam dua paragraf (2:11-14; 3:4-7). Perhatikanlah unsur-unsur yang terkandung dalam kedua paragraf ini:

-- cut --

Titus adalah suatu ringkasan yang baik dari pengajaran azas gereja waktu dia sampai pada tahap pelembagaan. Meskipun dia ditulis bagi seorang penginjil perintis, dia mewakili suatu gereja yang telah melewati era perintisan dan telah memiliki kebijaksanaan dan iman yang mantap. Kata "sehat" menyiratkan bahwa suatu standar azas yang resmi telah ditetapkan, dan harus diikuti oleh kehidupan dan pengajaran yang benar.

2 TIMOTIUS

Latar Belakang

Apakah keinginan Paulus untuk mengunjungi Spanyol pernah terwujud atau tidak, tidak diketahui. Klemens dari Roma (tahun 95) mengatakan di dalam suratnya bahwa Paulus "... mengajarkan kebenaran kepada seluruh dunia, dan ketika dia telah mencapai batas wilayah Barat, dia memberikan kesaksiannya kepada para penguasa ...." Bila Klemens menulis dari Roma, adalah sama janggalnya bila dia menyebut Roma sebagai "batas wilayah Barat" seperti seseorang yang tinggal di Chicago menyebut kota itu sebagai batas wilayah Barat dari Amerika Serikat. Klemens tidak menyebut Spanyol, dan mungkin dia hanya menduga-duga apa yang telah dilakukan Paulus bila dianggap bahwa niatnya sudah terwujud. Akan menarik sekali bila kita dapat mengetahui apakah Paulus jadi mengabarkan Injil di sana atau tidak, dan apakah gereja yang mula-mula didirikan di Afrika Utara dan Britania telah didirikan oleh murid-murid asuhannya.

Mengapa dia ditangkap juga tidak diketahui. Bila Aleksander si tukang tembaga yang disebutkan di dalam 2 Timotius 4:14 adalah sama dengan Aleksander dalam Kisah Para Rasul 19:33, orang akan menduga bahwa dia adalah pandai besi bangsa Yahudi yang bersungut-sungut terhadap Paulus karena dua hal: pemberitaan Paulus tentang berkat yang cuma-cuma bagi bangsa-bangsa lain dan kelesuan perdagangan kuil-kuilan dewi di Efesus karena kecaman Paulus yang penuh semangat menentang pemujaan berhala. Keadaan di Efesus sangat panas. Paulus berbicara dalam 2 Korintus 1:8 tentang "penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami." Dalam Kisah Para Rasul 20:19, dia menyinggung tentang "pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku." Mungkin Aleksander, yang masih merasa sakit hati atas larinya Paulus dari Efesus dan atas kerugian yang diderita perusahaannya dan perusahaan kawan-kawannya, telah mengadukannya kepada pemerintah Roma yang akhirnya menjatuhkan hukuman atasnya. Aleksander juga dikenal oleh Timotius, dan nasihat Paulus untuk berhati-hati terhadapnya menyiratkan bahwa dia berada di mana Timotius berada, mungkin di Efesus.

Maka perjalanan ke Spanyol pada masa-masa itu pastilah suatu tafsiran semata, dan jalur yang tertera pada peta paling-paling hanyalah suatu kemungkinan. Bila perjalanan Paulus tepat mengikuti jalur yang dinyatakan di dalam surat ini, berarti dia berhenti di Korintus (4:20), di mana Erastus memilih untuk tinggal di Miletus, di mana dia meninggalkan Trofimus yang sakit, dan di Troas (4:13). Urut-urutan yang benar dari perjalanan ini tidak diberikan oleh si pembawa cerita. Dia tidak singgah di Efesus, tetapi mengirimkan Tikhikus ke sana. Pasti dia ditangkap secara tiba-tiba dan dibawa ke Roma, karena dia meninggalkan rencananya yang belum selesai. Buku-buku yang ketinggalan di Troas mungkin dimaksudkan untuk diambilnya kembali nanti, tetapi dia tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan itu. Di mana dia ditangkap tidak diketahui; mungkin di Troas atau di Nikopolis.

Kesan umum dari surat-surat penggembalaan ini mengungkapkan suatu gereja yang tengah mempertahankan diri melawan kedengkian dan keirihatian orang-orang Yahudi yang frustrasi dan melawan ketidakacuhan yang makin parah dari orang-orang kafir yang tidak bermoral. Paulus, yang mewakili generasi perintis penyebar Injil dari masa yang lalu, melimpahkan tanggung jawabnya kepada para pembantunya yang lebih muda dan lebih bersemangat. Beberapa di antaranya, seperti Titus dan Timotius, adalah pengganti-pengganti yang baik, dan yang lain-lainnya, seperti Demas, tidak setia (2 Timotius 4:10). Kedua Timotius adalah pesan terakhirnya bagi para pembantu dan sahabatnya sebelum dia menghilang dari sejarah.

-- cut --

Isi

Isi surat yang terakhir ini adalah suatu panduan dari ungkapan perasaan pribadi dan kebijaksanaan kepemimpinan gereja, yang berupa kenangan dan perintah, kesedihan, dan keyakinan. Tujuan utamanya adalah untuk memperteguh Timotius untuk menerima tugas berat yang dalam waktu dekat akan dilepaskan oleh Paulus. Dia menguraikan pola penggembalaan jemaat dengan pertama-tama mengingatkan Timotius akan pengalaman pribadinya, dan dengan mengikutsertakan dia di dalamnya, "Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, ... berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri" (2 Timotius 1:9). Berdasarkan panggilan ini, dia mendorong Timotius untuk menerima segala kesulitan seperti seorang prajurit yang maju berperang (2:3), dengan memasrahkan perencanaan strategi pada pimpinannya, dan mengabdi dengan sepenuh hati dan tanpa pernah mengeluh di mana pun tenaganya dibutuhkan. Dalam kehidupan pribadi dan dalam hubungan kemasyarakatan dengan jemaat, dia harus berlaku sebagai hamba Tuhan, tidak suka berselisih tetapi selalu siap untuk membantu semua orang memahami kebenaran Tuhan.

Gambaran tentang hari-hari terakhir, seperti paragraf yang serupa dalam 1 Timotius 4:1-3, adalah serangkaian ramalan yang melukiskan ciri-ciri dari keadaan yang kelak akan dihadapi gereja. Perisai yang dirumuskan Paulus untuk menahan arus kefasikan adalah pengetahuan akan Kitab Suci "yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus" (2 Timotius 3:15). Perintah terakhir (4:1-6) adalah suatu karya yang indah, dan harus dipelajari dengan seksama oleh setiap calon penginjil.

Diambil dari:
Judul buku : Survei Perjanjian Baru
Pengarang : Merrill C. Tenney
Penerbit : Gandum Mas, Malang, 1995
Halaman : 413 - 422
Kategori: