Teologi Injil Yohanes

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Teologi Injil Yohanes

Oleh: Shinwook

Wahyu, Pemuliaan, Kemuliaan, Tanda, Melihat, &Percaya

Kata benda "kemuliaan" dan kata kerja "memuliakan/mempermuliakan" muncul 52 kali dalam Injil Yohanes. Memang dua kata itu merupakan tema penting dalam Injil yang keempat/Fourth Gospel. Yesus menyatakan kemuliaan-Nya dengan menjadi manusia (daging/sarx secara harfiah) (Yohanes 1:14). Hal yang unik dalam Injil Yohanes adalah ketiga peristiwa, yaitu, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan, ini dianggap sebagai satu peristiwa di mana Yesus dimuliakan. Yesus bukan hanya dimuliakan ketika Dia dibangkitkan dan naik ke sorga, tetapi juga dimuliakan ketika Dia disalibkan. Yohanes memakai kata "ditinggikan" (Yohanes 3:14; 8:28; 12:32-34) dengan makna yang sama. Jadi, Yohanes melihat sesuatu yang hina sebagai sesuatu yang sangat mulia.

Pemuliaan Yesus itu berkaitan dengan "saat-Nya" atau "waktu-Nya". Dalam Injil Yohanes, semua kisah menuju ke "saat-Nya". Pada awalnya. "saat/waktu" Yesus belum tiba (Yohanes 2:4; 7:6, 8). Dalam dua konteks ini, "saat-Nya" adalah saat untuk Yesus menampakan diri-Nya. Pertama, Yesus menolak permintaan dari ibu-Nya untuk mengadakan tanda ajaib. Kedua, Dia menolak desakan dari saudara-saudara-Nya untuk pergi ke Yerusalem untuk menampakan diri-Nya kepada dunia. Pada awalnya, Dia menolak karena saat-Nya belum tiba. Akan tetapi, Dia mengabulkan permintaan dari Ibu-Nya dengan mengadakan tanda ajaib (Yohanes 2:1-11). Dan Dia berziarah keY erusalem, pusat Yudea, pada hari raya Pondok Daun untuk menampakkan diri-Nya (Yohanes 7:1-10). Kemudian Yesus tidak ditangkap karena "saat-Nya belum tiba" (Yohanes 7:30; 8:20).

Akhirnya telah "tiba saat-Nya" untuk Anak manusia dimuliakan (Yohanes 12:23). Saat itu adalah saat untuk Dia mati (Yohanes 12:23-25). Maka hati-Nya cemas (terjemahan sehari-hari), tetapi Yesus tidak berdoa kepada Bapa supaya diselamatkan dari saat itu (Yohanes 12:27) karena justru untuk itulah Dia datang ke dalam saat itu (Yohanes 12:28). Dan Dia berdoa, "Bapa, muliakanlah nama-Mu!" Karena dengan kematian-Nya Dia akan memuliakan nama Bapa. Dia akan mati dengan ditinggikan dari bumi (Yohanes 12:32). Ditinggikan itu termasuk kebangkitan dan kenaikan ke sorga, tetapi orang banyak hanya menangkap hal pertama, yaitu penyaliban (Yohanes 12:34) dari perkataan Yesus.

Yohanes melanjutkan tema "saat-Nya". "Saat-Nya" adalah saat untuk Dia beralih dari dunia ini kepada Bapa (Yohanes 13:1), yaitu saat-Nya untuk dimuliakan (Yohanes 13:31-32; 17:1, 5). Jadi, pemuliaan itu sama dengan "pergi kepada Bapa". Yesus pergi kepada Bapa melalui SALIB. Dan tema "pergi kepada Bapa" itu (Yohanes 7:33-35; 8:14, 21-22; 13:1-3, 33-36; 14:3-6, 12, 28; 16:10, 17, 28) diuraikan dalam pasal 13-17. Dengan menderita/disalibkan, dibangkitan, dan naik ke sorga, Yesus menyatakan kemuliaan-Nya (Yohanes 19-21) sebagai Anak Tunggal Allah yang kekal (Yohanes 20:28, 31).

Walaupun Yesus akan menyatakan kemuliaan-Nya dengan disalibkan, dibangkitkan, dan dinaikkan (sekali lagi, ketiga peristiwa itu dianggap sebagai satu peristiwa di mana Yesus dimuliakan), Dia juga menyatakan kemuliaan-Nya dengan mengadakan tanda. (Saya lebih suka terjemahan sehari-hari dan terjemahan Kitab Suci Injil yang menterjemahkan kata "semeion" itu dengan frasa "tanda ajaib" daripada kata "tanda".)

Maka, walaupun "saat-Nya" belum tiba untuk dimuliakan (Yohanes 2:4), Yesus tetap menyatakan kemuliaan-Nya (Yohanes 2:11) dengan mengadakan tanda ajaib, yaitu membuat air menjadi anggur (Yohanes 2:1-11). Dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya (Yohanes 2:11). Dan pegawai istana dan seluruh keluarganya percaya kepada Yesus melalui tanda ajaib yang kedua di Kana (Yohanes 4:43-54).

Namun, orang pecaya dengan iman yang dangkal apabila dia hanya melihat tanda-tanda ajaib (2:23) dan tidak meliaht kemuliaan-Nya dalam tanda ajaib itu. Dan Yesus tidak memercayakan diri-Nya kepada mereka karena Dia tahu apa yang ada dalam manusia (Yohanes 2:24-25). Dan banyak dari mereka akan menyangkal Yesus dan mengundurkan diri pada kemudian hari (Yohanes 6:66).

Menurut Yesus, mereka tidak melihat tanda ajaib, tetapi hanya makan roti sampai kenyang (Yohanes 6:26). Dari satu sisi orang banyak itu melihat tanda ajaib (Yohanes 6:14), tetapi dari sisi lain, mereka tidak melihat tanda ajaib, tetapi hanya makan roti sampai kenyang (Yohanes 6:20). Alkitab Terjemahan Baru menghilangkan satu dari kedua arti dari kata tanda ajaib itu "ambigious meanings of sign" dengan menerjemahkan kata "semeion" itu dengan kata "mujizat" (Yohanes 6:2, 14; 7:31; 9:16; 11:47; 12:18, 37; 20:31). Yohanes menggunakan kata "semeion" 17 kali dan kata "teras" 1 kali (Kata "teras" diterjemahkan dengan kata "mukjizat" -- Yohanes 4:48) dan tidak memakai kata "dunamis" yang diterjemahkan dengan kata "mukjizat" atau "kuasa" dalam Injil Sinoptika. Dengan menerjemahkan kata "semeion" dengan kata mukjizat dalam ayat-ayat di atas ini, TB tidak membingungkan pembaca. Akan tetapi, "two levels of meaning" itu hilang. Dalam Injil Yohanes beberapa kata kunci mempunyai "two levels of meaning", yakni melihat, datang, kenal/tahu, dst..

Jadi, isu kunci adalah apakah orang melihat kemuliaan Yesus dalam tanda ajaib, atau mereka hanya melihat tanda ajaib dan tidak melihat kemuliaan-Nya. Tujuan tanda ajaib itu adalah menyatakan kemuliaan-Nya (Yohanes 2:11; 11:4, 10). Penulis Injil Yohanes mencantumkan tujuh tanda ajaib supaya para pembaca percaya bahwa Yesus adalah Kristus dan Anak Allah (Yohanes 20:31). Namun, kalau orang tidak melihat kemuliaan Yesus dalam tanda ajaib itu, mereka hanya akan menuntut tanda ajaib lain (Yohanes 2:18, 6:30), dan tidak akan percaya kepada Yesus walaupun Dia mengadakan banyak tanda-tanda ajaib (Yohanes 12:37). Orang yang melihat kemuliaan-Nya dalam tanda-tanda ajaib itu dipersiapkan untuk melihat penyataan kemuliaan yang jauh lebih dahsyat, yaitu pemuliaan Yesus (penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan).

Melihat itu adalah salah satu aspek percaya dalam Injil Yohanes. Penulis Injil Yohanes menggunakan beberapa kata kerja untuk menunjukkan berbagai aspek percaya. Pertama dia melakukan itu dengan menggunakan parallelisme. Menerima Yesus adalah percaya dalam nama-Nya (Yohanes 1:12). Orang yang percaya kepada Anak adalah orang yang TAAT kepada-Nya (Yohanes 3:36). Orang yang mendengar perkataan Yesus adalah orang yang percaya kepada Bapa yang mengutus-Nya (Yohanes 5:24). Orang yang datang kepada Yesus adalah orang yang percaya kepada-Nya (Yohanes 6:35). Orang yang melihat Anak juga percaya kepada-Nya (Yohanes 6:40). Dan orang yang percaya kepada-Nya adalah orang yang tahu/mengetahui bahwa Dia adalah Yang Kudus dari Allah (Yohanes 6:69). Ada juga aspek percaya lain dalam Injil Yohanes, seperti tinggal/tetap dan mengikuti. Dan aspek-aspek percaya itu diuraikan dalam Injil Yohanes.

Kata kerja melihat muncul lebih dahulu dalam pendahuluan Yohanes 1:14, 18. Dua ayat ini dianggap sebagai dua nas yang paling penting dalam Injil Yohanes yang merupakan tema utama dalam Injil Yohanes: Dengan menjadi manusia Yesus menyatakan Allah. Dan tema ini diuraikan dalam Injil dengan menguraikan kata melihat. Orang yang lahir dari atas/dari air dan Roh melihat kerajaan Allah, yaitu masuk ke dalam kerajaan Allah (Yohanes 3:3-5). Sebaliknya, dia tidak melihat (mengalami) maut (Yohanes 8:51-52). Orang percaya melihat terang dunia ini (Yohanes 11:9). Akhirnya, Yesus mengajar bahwa orang yang melihat Dia, melihat Bapa yang mengutus-Nya (Yohanes 12:45). Dan itulah jawaban Yesus kepada Filipus ketika dia meminta kepada Yesus "Tunjukkanlah Bapa kepada kami." (Yohanes 14:7-9). Dan melalui pemuliaan-Nya para murid akan melihat/memandang kemuliaan Yesus yang Bapa berikan kepada-Nya sebelum dunia dijadikan (Yohanes 17:24). Dan penulis Injil menekankan hal ini dengan menafsirkan penampakan Yahweh/ penglihatan kemuliaan Yahweh yang disaksikan oleh Yesaya (Yes 6:1-13) sebagai penampakan Yesus/penglihatan kemuliiaan Yesus (Yohanes 12:41).

Sumber Referensi

  1. Brown, R. E. The Gospel according to John; Introduction, Translation, and Notes, 2 vols, (Geoffery Chapman/ Doubleday, 1966-71)
  2. Carson, D. A. The Gospel according to John (Inter-Varsity Press/ Eerdmans, 1991)
  3. Johnson, Luke Timothy The Writings of the New Testament: An Interpretation (Fortress Press 1986, rev. ed. 2002).
  4. Ladd, Geroge Eldon A Theology of the New Testament Revised Edition Edited by Donald Hagner(Eerdmans, 1993)
  5. Ladd, George Eldon TeologiPerjanjianBaru
  6. Morris, Leon The Gospel according to John (Eerdmans, 1971)
  7. Morris, Leon New Testament Theology (Zondervan, 1986)
  8. Morris, Leon Teologi Perjanjian Baru(Gandum Mas, 2000)
  9. Smalley, Stephen S John: Evangelist & Interpreter(Inter Varsity Press 1978, 2nd ed. 1998)
  10. Wilkins, Michael J. Following the Master: Discipleship in the Steps of Jesus (Zondervan, 1992)
Kategori: