MDD - Referensi 02a

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading
Nama Kursus : Manusia Dan Dosa
Nama Pelajaran : PKeberadaan Manusia yang Berdosa
Kode Pelajaran : MDD-R02a

Referensi MDD-R02a diambil dari:

Judul buku : Teologi Dasar 1
Judul artikel : Orang Kristen Dan Dosa
Penulis : Charles C. Ryrie
Penerbit : Yayasan ANDI, Yogyakarta 1991
Halaman : 311 - 317

Referensi Pelajaran 02b - Orang Kristen dan Dosa

  1. Standar Bagi Orang Kristen

    Menjadi seorang Kristen tidak berarti langsung bebas dari berbuat dosa maupun dari ketaatan terhadap ajaran Kristus. Sering terdapat kesalahpahaman mengenai relasi orang Kristen dengan dosa. Yaitu, pertama soal kesempurnaan yang palsu dan kedua soal keadaan tidak berhukum (antinomianisme).

    Ada sementara pihak yang mengajarkan bahwa orang percaya tidak lagi mungkin berbuat dosa. Pandangan seperti ini disebut kesempurnaan (perfeksionisme) yang tidak berdasarkan Alkitab. Orang percaya dianggap telah tercabut dari akar dosa. Padahal tidak ada seorang Kristen pun yang dapat mengalami kesempurnaan yang sama sekali bebas dari pengaruh dosa di masa hidup ini sebelum tiba masa kebangkitan. Ada pula ajaran yang sedikit dimodifikasi yang menyatakan bahwa hidup sempurna tanpa dosa hanyalah dalam arti bahwa orang Kristen dapat hidup tanpa melakukan dosa selama jangka waktu tertentu. Tetapi tidak melakukan dosa juga berarti hidup menjadi serupa dengan kehendak Allah. Kesempurnaan tanpa dosa berarti lebih daripada soal ketiadaan dosa. Kenyataannya, pengajaran Alkitab tentang kesempurnaan berarti kematangan, kedewasaan, kepenuhan dan kelengkapan. Kesempurnaan menurut Alkitab tidak bertentangan terhadap keadaan berdosa melainkan terhadap ketidakdewasaan dan merupakan sesuatu yang diharapkan dari orang-orang percaya di dunia ini (Pembahasan yang bagus mengenai dia ini ditulis oleh W.H. Griffith Thomas, "The Biblical Teaching Concerning Perfection," The Sunday School Times, July 22, 1944, hal. 515-516).

    Antinomianisme mengajarkan bahwa orang Kristen tidak lagi terikat oleh hukum Taurat. Pandangan antinomianisme mengenai kemerdekaan dari hukum seringkali menuju kepada kebebasan. Antinomianisme kadang-kadang diartikan sama dengan kebebasan Kristen dan sudah tentu penyamaan ini keliru. Lawan dari kebebasan adalah perhambaan dan orang percaya telah dibawa dari perhambaan terhadap dosa menuju suatu kedudukan yang merdeka dari perhambaan itu di dalam Kristus. Lawan dari antinomianisme adalah ketaatan kepada hukum. Pertanyaannya adalah hukum yang mana. Sebab ada beberapa hukum di sepanjang sejarah menurut Alkitab. Bagi orang percaya sekarang tentu yang dimaksudkan adalah hukum Kristus (Gal. 6:2).

    Apakah standar yang Alkitabiah bagi orang Kristen? Yang jelas bukanlah kesempurnaan tanpa dosa ataupun antinomianisme. Standar itu adalah hidup di dalam terang (1 Yoh. 1:7). Allah itu terang atau kudus. Standar absolut ini selalu ada di hadapan orang percaya. Namun tidak ada orang percaya yang hidup tanpa dosa seperti Allah, dalam kehidupan ini. Apakah Allah lalu merendahkan kita? Sama sekali tidak. Sebaliknya, Ia menyesuaikan persyaratan-Nya untuk kita masing-masing agar kita dapat mengalami pertumbuhan rohani. Caranya adalah dengan hidup di dalam terang kekudusan-Nya. Jika kita berkata bahwa kita tidak memiliki prinsip dosa (seperti yang ditekankan oleh para penganut kesempurnaan) kita berdusta (ayat 8). Begitu juga, jika kita berkata bahwa kita tidak berbuat dosa di sepanjang waktu tertentu (seperti yang diajarkan oleh penganut kesempurnaan yang dimodifikasi) kita menjadikan Allah sebagai pendusta (ayat 10). Jika kita hidup di dalam terang, kita tidak akan terperosok ke dalam kesalahan dari ajaran antinomianisme, karena kita melakukan perintah-perintah-Nya (1 Yoh. 2:4,6; 3:24).

    Setiap orang percaya dapat memenuhi persyaratan untuk hidup di dalam terang. Banyaknya terang yang dimiliki setiap orang itu berbeda-beda, namun respon yang harus diberikan oleh semua orang percaya terhadap hal itu sama. Sementara kita bertumbuh, lingkaran terang itu akan bertambah luas. Semakin kita memberikan respon terhadap terang itu, semakin kita menerima terang yang lebih besar dan begitu seterusnya. Tetapi untuk tiap tingkat pertumbuhan tuntutannya adalah sama, yaitu hidup di dalam terang.

    Ringkasnya, standar kehidupan Kristen adalah kesucian Allah. Tuntutan yang harus kita penuhi adalah hidup di dalam terang. Pengalaman kita haruslah senantiasa bertumbuh menjadi dewasa. Inilah kesempurnaan yang sesungguhnya menurut Alkitab.

  2. Musuh Orang-Orang Percaya

    Orang percaya terus menerus dimusuhi oleh dunia, kedagingan dan si jahat.

    1. Dunia

      Kita telah membicarakan konsep tentang sistem dunia ini yang berada di bawah kuasa iblis secara lebih terperinci. Cukuplah memberikan beberapa tambahan dalam penjelasan berikut.

      1. Penjabarannya. Iblis berdiri sebagai kepala dan kuasa pengendali sistem dunia. Ia bersandiwara atau mengenakan topeng dan memakai berbagai taktik untuk mengalahkan orang percaya. Seringkali persoalan-persoalan yang tidak menentu merupakan hal yang paling sukar untuk dibedakan dan diputuskan.

      2. Pertahanan kita. Ada sejumlah hal yang dapat digunakan orang percaya untuk menolak tipuan dunia, yaitu perlengkapan senjata Allah (Ef. 6:13-18), pengetahuan tentang strategi iblis (2 Kor. 2:11), kesadaran atau kewaspadaan (1 Ptr. 5:8). Barangkali iman harus ditempatkan pada urutan teratas. Iman kita mengalahkan dunia (1 Yoh. 5:4-5), yakni iman yang membuat kita dapat mengenal karya Kristus di atas salib. Setiap orang percaya memiliki iman seperti itu, karena itu ia memiliki pertahanan yang cukup kuat terhadap serangan dunia. Namun iman semacam itu memerlukan latihan yang terus-menerus untuk bisa mendapatkan kemenangan (1 Tim. 6:12).

    2. Daging
      1. Pengertian. Daging merupakan prinsip dosa yang ada di dalam diri kita semua. Beberapa orang menyamakannya dengan tabiat dosa. Daging menghasilkan perbuatan (Gal. 5:19), yang diwarnai oleh hawa nafsu dan keinginan (ayat 24; 1 Yoh. 2:16), dan hal itu dapat memperhamba orang percaya (Rm. 7:26). Tidak ada yang baik di dalamnya (ayat 18), tetapi kehadiran hidup baru di dalam Kristus menjadikan segala hal yang berhubungan dengan kedagingan usang dan tidak berguna. Hal tersebut termasuk kejahatan yang terselubung maupun hal-hal yang amoral, dan kadang-kadang merupakan perkara-perkara yang tampaknya baik namun tidak menyenangkan Tuhan karena semua itu merupakan perbuatan daging.

      2. Pengendalian. Kedagingan hanya dapat dikendalikan dengan cara memandang diri kita telah tersalib bersama dengan Kristus. Kita telah menyalibkan sifat kedagingan, yaitu dipisahkan dari kuasanya dengan terhisapnya kita ke dalam kematian Kristus bagi dosa-dosa (Gal. 5:24). Kita dapat mengalami hidup berkemenangan hanya dengan cara hidup dalam ketergantungan kepada Roh Kudus yang memberi kuasa (ayat 16), bukan dengan cara membasmi kedagingan.

    3. Si Jahat

      Telah dibicarakan soal iblis dalam bagian sebelumnya, sebab itu penjelasan berikut hanya berkaitan dengan cara-caranya dalam menyerang orang percaya.

      1. Strateginya terencana. Iblis merencanakan berbagai metode, menggunakan segala macam strategi, dan mempekerjakan segala makhluk yang bersifat supranatural untuk menjebak orang percaya (2 Kor. 2:11; Ef 6:11).

      2. Strateginya kukuh. Ia terus menerus mengganggu orang percaya, mencari kesempatan yang tepat untuk menyerang (1 Ptr. 5:8).

      3. Strateginya kuat. Orang percaya harus bergumul sungguh sungguh untuk melawan iblis, dan jangan sekali-kali memandang rendah kuasanya (Ef. 6:12; 1 Yoh. 4:4;Yud. 9).

  3. Hukuman Bagi Dosa
    1. Bagi Orang yang Tidak Percaya

      Orang yang tidak percaya yang mati tanpa pengampunan dosa pasti akan menderita siksaan kekal di dalam lautan api (Why. 20:15).

    2. Bagi Orang Percaya yang Berdosa
      1. Persekutuan. Dosa merusak persekutuan (1 Yoh. 1:3,6,7).
      2. Sukacita. Dosa menyebabkan orang percaya kehilangan sukacita (Yak. 5:11; Gal. 5:22).
      3. Cara hidup. Dosa membuat orang percaya hidup di dalam kegelapan (1 Yoh. 1:6; 2:10).
      4. Doa. Dosa mengakibatkan kurangnya kepercayaan dalam doa (1 Yoh. 3:19-22).
    3. Bagi Orang Percaya yang Terus-menerus Berdosa

      Jika seorang yang percaya tetap hidup di dalam dosa, maka akibat berikut akan dialaminya.

      1. Hukuman. Ia akan mengalami ganjaran (Ibr. 12:5-11). Penyakit dapat merupakan bentuk hukuman yang dimaksud (1 Kor. 11:30).
      2. Pengucilan. Pengucilan yang dilakukan oleh jemaat amatlah perlu (Mat. 18:17; 1 Kor. 5).
      3. Kematian fisik. Dalam beberapa kasus kematian mungkin merupakan hukuman bagi dosa yang dilakukan terus-menerus (1 Kor. 11:30; 1 Yoh. 5:16).

      Bapa Surgawi yang Maha Pengasih selalu sabar terhadap kecenderungan kita yang berbuat dosa, tidak langsung memberikan hukuman yang kejam kepada kita. Tetapi janganlah kita sampai lupa bahwa dosa selalu menuntut bayarannya, baik secara internal maupun eksternal, sekalipun kelihatannya tidak ada penghukuman yang jelas terjadi. Dan pada saat penghakiman tiba, di atas takhta-Nya Kristus akan menguji kita atas segala sesuatu yang telah kita perbuat (2 Kor. 5:10).

  4. Pencegahan Terhadap Dosa

    Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati dan Allah memang telah menyediakan jalan bagi kita untuk mencegah dosa di dalam hidup ini. Hal ini berfungsi seperti memberi vaksinasi guna mencegah penyakit yang mematikan.

    1. Firman Allah

      Firman Allah di dalam hati kita berkuasa untuk mencegah kita dari berbuat dosa, karena firman itu akan memberikan peringatan, dorongan, kekuatan dan bimbingan manakala kita menghadapi godaan (Mzm. 119:11).

    2. Doa Syafaat Kristus

      Tuhan Yesus pernah berdoa bagi kita di masa hidup-Nya di bumi ini (Ibr. 7:25). Salah satu doa-Nya adalah agar kita tidak berbuat dosa. Perhatikan peristiwa yang dialami Petrus dalam (Luk. 22:32) dan juga pernyataan-Nya yang langsung dalam (Yoh. 17:15). Kita tidak dapat memahami semua maksudnya sebelum kita tiba di surga, dan bahkan sekalipun di sana kelak mungkin kita juga tidak diberitahu.

    3. Kehadiran Roh Kudus

      Kebanyakan pelayanan Roh Kudus di dalam kehidupan orang percaya sekarang ini berkaitan dengan pencegahan terhadap dosa, namun ada beberapa yang tampak menonjol.

      1. Membuat nyata aspek posisi kita di dalam Kristus. Sebagai contoh, kita telah mati terhadap daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya, namun kita perlu hidup di dalam Roh untuk membuat pengalaman ini nyata (Gal. 5:16-24).

      2. Mengajar. Roh Kudus memberikan pengajaran yang dalam tentang firman Tuhan sehingga menolong kita untuk mampu membedakan antara yang baik dengan yang jahat (1 Kor. 2:10; Ibr. 5:14). Pengetahuan superfisial bisa mencegah dosa-dosa nyata, tetapi pengetahuan yang lebih dalam tentang firman Tuhan dapat mencegah lebih banyak dosa.

      3. Memimpin dalam doa Pada waktu memimpin kita di dalam doa, Roh Kudus dapat membimbing kita untuk memikirkan cara-cara mencegah dosa dalam kehidupan kita (Mat. 6:13; Rm. 8:34; Ef. 6:18).

      4. Memberi kemampuan untuk melayani. Roh Kudus memampukan kita untuk melayani (Yoh. 7:37-39), sehingga memelihara kita dari penggunaan waktu, uang dan energi secara sia-sia yang bisa membawa kita jatuh ke dalam dosa (Why. 12:11).

  5. Penawar Dosa

    Penawar bagi dosa-dosa orang percaya bisa dinyatakan dengan satu ungkapan, yaitu "pengakuan dosa" (1 Yoh. 1:9). Pengakuan dosa di sini tidak sekedar dalam arti ucapan bibir belaka. Kita perlu memandang dosa itu sebagaimana Allah memandangnya. Sikap yang demikian membawa kita kepada pertobatan dan keinginan tulus untuk berubah. Jika dosa yang sama terjadi lagi, maka penawarnya juga tetap sama, yaitu pengakuan dosa itu kepada Allah.

  6. Pemikiran Terakhir

    Apabila kita memikirkan dosa-dosa orang yang tidak percaya tampaknya tidak begitu sukar untuk bisa memahami kedahsyatan dosa itu, karena kita tahu hukumannya adalah perpisahan kekal dari Allah. Namun apabila kita memikirkan tentang dosa orang-orang percaya, kita memandangnya secara ringan dan kurang serius. Tetapi janganlah keliru tentang perkara itu. Semua dosa mendukakan Allah. Kristus harus mati bagi dosa-dosa kita, baik yang kita lakukan sebelum atau pun sesudah kita diselamatkan. Kematian-Nya adalah hukuman bagi semua dosa. Kenyataan bahwa kita adalah anggota keluarga Allah bisa membuat duka yang lebih dalam terhadap Bapa Surgawi apabila kita berbuat dosa. Kita harus mengetahuinya lebih baik. Kita harus menggunakan kuasa yang telah Ia berikan. Kita wajib menyenangkan Dia. Kita harus bergumul dan berpegang lebih giat serta menggunakan setiap senjata yang telah Ia berikan. Namun di atas segalanya, kita harus membuat kemajuan dan menunjukkan pertumbuhan dalam kehidupan.

    "Kita mungkin merasa tenang jika kita mengetahui segala sesuatu tentang peperangan dan konflik batiniah. Hal itu merupakan kesucian Kristen sejati yang tiada taranya. Apakah di dalam hati kita ada pergumulan rohani? Apakah kita merasakan sesuatu tentang daging yang berjuang melawan Roh dan Roh melawan daging, sehingga kita tidak dapat melakukan hal-hal yang sesungguhnya ingin kita perbuat? Apakah kita menyadari akan adanya dua prinsip dalam diri kita yang saling berjuang? Apakah kita merasakan peperangan dalam diri kita? Baiklah, kita harus bersyukur kepada Allah atas hal itu! Itu merupakan suatu tanda yang baik. Hal itu adalah bukti yang kuat tentang pekerjaan pengudusan, suatu hal yang lebih baik daripada kelesuan, kemacetan, kematian, dan ketidakacuhan" (J.C. Ryle, Holiness, [London: Hunt, 1839], hal. 82).

    Saudara-saudara sesama anggota keluarga Allah, marilah kita berusaha untuk mencapai kedewasaan (Mrk. 6:1).