Hal Keuangan

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Masalah keuangan dan pengelolaannya merupakan hal yang sangat penting. Ada orang Kristen yang tidak bahagia dan memiliki hidup yang tidak berkemenangan hanya karena masalah materi. Melalui artikel berikut, kita akan belajar salah satu kunci dalam mengatasi masalah keuangan yaitu "Mencukupkan Diri". Mari kita bersama-sama menyelidiki hal ini dari Filipi 4:10-13.

Sikap yang benar terhadap pemberian

Bagian ini merupakan respons Paulus terhadap bantuan yang diberikan jemaat Filipi kepadanya, ketika ia berada dalam penjara rumah di Roma atau Kaisarea (Filipi 1:12-14; Filipi 2:25). Bantuan ini merupakan pemberian materi yang jemaat Filipi berikan kepada Paulus untuk kesekian kalinya (band. Filipi 4:10, 15-16). Bagaimana Paulus memberikan respons terhadap hal ini?

Pertama-tama, ia mengekspresikan sukacitanya yang besar di dalam Tuhan (Filipi 4:10a) -- Paulus tidak langsung menunjukkan ucapan terima kasihnya kepada jemaat Filipi, seakan-akan merekalah aktor paling penting dalam pemberian ini (Filipi 4:10a), artinya ia percaya bahwa di balik pemberian jemaat Filipi, ada tangan Tuhan yang kuat yang telah menggerakkan mereka (Filipi 2:12-13). "Bersukacita" merupakan konsep yang dominan dalam surat Filipi (muncul sekitar 16 kali).

Kedua, ia memfokuskan ucapan syukurnya pada pikiran, perasaan, dan pikiran jemaat Filipi (Filipi 4:10b), bukan pemberian mereka. Seseorang yang baru saja mendapatkan bantuan materi, biasanya cenderung "terikat" pada pentingnya pemberian itu. Dalam bagian ini Paulus justru melihat hal yang lebih penting daripada pemberian itu, yaitu kasih jemaat Filipi kepada Paulus. Di bagian selanjutnya ia lebih menyoroti hasil dari pemberian itu, bukan pemberian itu sendiri (Filipi 4:17).

Ketiga, ia tidak mengeksploitasi kekurangannya (Filipi 4:11a). Frasa "kukatakan ini bukan karena kekurangan" merupakan antisipasi Paulus terhadap kesalahpahaman yang mungkin muncul dari pihak jemaat Filipi. Di Filipi 4:10 ia mengatakan, perhatian jemaat Filipi akhirnya bertumbuh kembali. Dalam bahasa Yunani, kata "hdh pote" (LAI-TB "akhirnya") menyiratkan durasi waktu yang sangat lama. Sebagian versi Inggris dengan tepat menerjemahkan dengan "sekarang setelah sekian lama" (now at length, ASV/RSV/YLT). Kalimat ini bisa berpotensi menimbulkan kesan bahwa, Paulus mengeluh atau menyindir jemaat Filipi karena mereka kurang tanggap terhadap kebutuhan Paulus. Karena itu, ia menjelaskan bahwa ketiadaan bantuan hanya masalah kesempatan yang belum ada (Filipi 4:10b). Ia juga menegaskan bahwa ucapannya di Filipi 4:10 bukan dimaksudkan sebagai upaya untuk meminta-minta secara halus kepada jemaat Filipi. Paulus secara eksplisit menyatakan bahwa pemberian mereka sudah lebih dari cukup (Filipi 4:18).

Mengapa Paulus bisa memberikan respons seperti ini? Bukankah orang cenderung mengungkapkan ketergantungannya kepada si pemberi, dengan cara memuji si pemberi atau mengeksploitasi kekurangan si penerima bantuan? Bagaimana ia bisa memiliki cara pandang yang benar seperti itu? Apa rahasianya? Jawabannya, Paulus mencukupkan diri! (Filipi 4:11).

Dalam bagian ini kita akan menyelidiki tiga konsep yang benar tentang mencukupkan diri.

1. Mencukupkan diri merupakan hasil belajar (Filipi 4:11b)

Mayoritas orang cenderung memiliki sikap tamak. Kondisi ini merupakan akibat dari natur manusia yang berdosa, karena dosa Adam (Mazmur 51:7; Roma 5:12-21). Manusia tidak pernah puas dengan apa yang sudah mereka miliki, sehingga tidak heran kita sering mendengar orang kaya selalu mengeluhkan "kekurangan" mereka. Ya! Perasaan cukup adalah hasil dari proses pembelajaran. Berdasarkan struktur kalimat Yunani yang dipakai, ayat 11b seharusnya diterjemahkan "aku sendiri [bukan orang lain] sungguh-sungguh belajar...". Istilah "belajar" (mantanw) sebenarnya dipinjam dari kosakata filsafat "Stoa" yang menekankan disiplin/pengendalian diri, sehingga seseorang tidak dipengaruhi oleh situasi di sekitarnya. Ide tentang "mendisiplinkan diri" (belajar) diambil dari filsafat "Stoa", tetapi konsep Paulus sangat berbeda dengan "Stoa". Filsafat "Stoa" bersifat "anthroposentris" (berpusat pada kemampuan manusia), sedangkan konsep Paulus bersifat "theosentris" (berpusat pada Allah).

Ayat 11b menunjukkan bahwa Paulus berusaha keras mendisiplin (mengontrol) diri supaya mendapatkan kecukupan yang sebenarnya. "Cukup" bukan masalah jumlah, tetapi kedisiplinan rohani untuk kepuasan dengan apa yang telah Allah berikan kepada kita.

2. Mencukupkan diri mencakup segala situasi (Filipi 4:12)

Dalam ayat ini Paulus menggunakan kata Yunani "pas" (segala/setiap) sebanyak dua kali. Kata "pas" juga dipakai Filipi 4:13, "segala perkara...". Penggunaan "pas" di Filipi 4:12 seharusnya diterjemahkan "setiap (pas) hal dan segala (pas) perkara", karena "pas" yang pertama berbentuk tunggal, sedangkan yang kedua berbentuk jamak. Dengan kata lain, Paulus bukan hanya membicarakan beragam situasi secara umum, tetapi juga setiap detail situasi. Rasa cukup dengan Allah tetap harus ada, meskipun berada dalam kekurangan dan kelaparan (Filipi 4:12). Dalam 1 Timotius 6:8 Paulus menjelaskan salah satu batasan "cukup", yaitu asal ada makanan dan pakaian.

Manusia cenderung menentukan sendiri batasan "cukup" dalam hidup mereka. Tidak jarang batasan ini telah memperbudak mereka untuk bekerja di luar batas waktu yang wajar, sampai mengabaikan hal-hal lain yang lebih penting, misalnya waktu keluarga dan waktu beribadah kepada Tuhan. Batasan ini sering kali membuat orang terlalu kikir/pelit (berhemat melewati batas) dan menghalangi mereka untuk memberi materi lebih banyak bagi orang lain maupun gereja (Tuhan). Batasan ini juga membuat orang sulit merasa cukup dengan berkat Tuhan yang ada. Seandainya setiap kita mengikuti prinsip "cukup" seperti yang tertulis di kitab Filipi 4:11 ini, maka kita tidak akan mudah bersungut-sungut kepada Tuhan maupun mengeluh kepada suami/istri/orang tua kita. Apa pun keadaan kita, kita harus menyadari bahwa memiliki Allah dan dimiliki oleh-Nya adalah lebih daripada cukup. Ingat, "enough is more than more" (cukup adalah lebih dari lebih). Orang kaya yang sesungguhnya adalah mereka yang selalu merasa cukup dengan apa yang ia telah terima dari Tuhan.

3. Mencukupkan diri membutuhkan kekuatan Tuhan (Filipi 4:13)

Bagian ini merupakan kontras yang tegas antara penganut "Stoa" dan Paulus. Paulus meyakini bahwa kemampuan untuk merasa cukup dalam setiap situasi hanya bisa tercipta melalui kekuatan Tuhan. Kata "menguatkan" (endunamow) menyiratkan ide pemberian kekuatan dari dalam. Secara logika, tidak ada manusia yang merasa cukup ketika ia kekurangan atau kelaparan. Perasaan cukup dan usaha untuk berdisiplin diri supaya cukup, hanya bisa terjadi kalau Tuhan yang memberi kekuatan supranatural.

Disunting dari:

Nama situs : GKRI Exodus
Alamat URL : http://www.gkri-exodus.org/page.php?XSER-Keuangan-Keluarga
Judul asli artikel : Keluarga dan Keuangan (Filipi 4:10-13)
Penulis : Yakub Tri Handoko, Th.M.
Tanggal Akses : 25 Februari 2011
Kategori: 
Umum: