Dibutuhkan: Sebuah Model yang Lain

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Kita membutuhkan sebuah model yang lain bagi gereja. Sebenarnya, model yang kita butuhkan adalah model yang sudah lama. Meskipun saya menulis sebuah buku tentang hal itu, saya tidak yakin bagaimana menyebutnya. "Seadanya"? "Historis"? "Alkitabiah"?

Sederhananya, kita membutuhkan gereja-gereja yang secara sadar diri berbeda dari kebudayaan. Kita membutuhkan gereja-gereja yang indikator utama kesuksesannya bukanlah hasil-hasil yang kelihatan, melainkan pemeliharaan kesetiaan terhadap Alkitab. Kita membutuhkan gereja-gereja yang dapat menolong kita untuk memulihkan aspek-aspek kekristenan yang berbeda dari dunia, dan yang mempersatukan kita.

Hal selanjutnya tidak hanya dimaksudkan sebagai suatu gambaran penuh dari model baru (tetapi lama) dari gereja, tetapi sebagai sebuah resep yang tepat. Hal itu berpusat pada dua kebutuhan dasar di dalam gereja-gereja kita: pemberitaan firman dan pemuridan.

PEMBERITAAN FIRMAN

Lima tanda pertama dari "tanda-tanda gereja yang sehat" yang akan kita bahas, kesemuanya mencerminkan perhatian untuk memberitakan firman Allah dengan benar. TANDA PERTAMA, adalah tentang pemberitaan itu sendiri. Tanda pertama merupakan suatu pembelaan terhadap keunggulan khotbah eksposisi sebagai suatu refleksi dari sentralitas firman Allah.

Mengapakah firman itu begitu sentral? Mengapakah firman merupakan instrumen pencipta iman? Jawabannya adalah karena firman Tuhan membawa objek iman kepada kita. Firman menyampaikan janji Allah kepada kita -- dari segala macam janji pribadi (di sepanjang Alkitab), semuanya merupakan jalan kepada janji agung, pengharapan agung, objek agung dari iman kita, yaitu Kristus. Firman menyampaikan apa yang harus kita percayai.

TANDA KEDUA, kita membahas kerangka firman: teologi yang alkitabiah. Kita harus memahami kebenaran Allah sebagai suatu keseluruhan yang koheren, yang sampai kepada kita pertama-tama dan terutama sebagai penyataan dari diri-Nya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan tentang siapa Allah dan seperti apakah Dia tidak pernah dapat dipandang tidak relevan bagi hal-hal praktis dari kehidupan gereja. Pemahaman yang berbeda tentang kehendak Allah memimpin kita kepada penyembahan kepada-Nya dengan cara-cara yang berbeda, dan jika beberapa dari pemahaman tersebut keliru, beberapa cara Anda mendekati Dia dapat menjadi keliru pula. Hal ini, bagaimanapun, adalah sebuah tema utama di dalam Alkitab, meskipun hal itu hampir sepenuhnya diabaikan dewasa ini.

TANDA KETIGA, kita membahas inti dari pesan Kristen ketika kita mencari suatu pemahaman yang alkitabiah tentang Injil. Berapa banyak pesan lain yang gereja perhatikan sebagai Kabar Baik yang menyelamatkan dari Yesus Kristus? Bagaimana ketajaman kita dalam memahami Injil, bagaimana kita mengajarkannya, dan bagaimana kita melatih orang lain untuk mengetahuinya? Apakah pesan kita, meskipun dipenuhi dengan kesalehan Kristen, pada dasarnya adalah sebuah pesan tentang keselamatan oleh diri sendiri, atau adakah sesuatu yang lebih di dalamnya? Apakah Injil kita hanya mengandung kebenaran-kebenaran etis secara universal bagi kehidupan sehari-hari atau di dalamnya ada tindakan penyelamatan dari Allah secara historis di dalam Kristus sekali untuk selamanya? Hal ini membawa kita kepada penerimaan terhadap pesan tersebut.

TANDA KEEMPAT, suatu pemahaman alkitabiah tentang pertobatan. Salah satu tugas paling berat yang dihadapi para pendeta adalah usaha untuk memperbaiki kesalahpahaman para petobat palsu yang terlalu cepat dan secara serius diyakinkan oleh penginjil bahwa mereka adalah orang-orang Kristen. Tindakan yang terlihat murah hati seperti itu memang bisa membawa orang kepada kegairahan, keterlibatan, dan perhatian sesaat; tetapi jika sesuatu yang kelihatan sebagai pertobatan tidak menghasilkan perubahan hidup, maka seseorang mulai melihat betapa jahatnya meyakinkan orang-orang demikian, hanya karena mereka pernah berdoa, mereka telah meneliti sepenuhnya pengharapan yang dimiliki Allah bagi mereka dalam kehidupan ini. "Jika hal tersebut gagal", kita akan menyebabkan mereka berpikir, "Kekristenan tidak memiliki sesuatu yang lebih untuk ditawarkan kepada saya. Tidak ada pengharapan yang lebih. Tidak ada kehidupan yang lebih. Saya berusaha, tetapi hal itu tidak berhasil." Kita membutuhkan gereja-gereja yang memahami dan mengajarkan apa yang diajarkan Alkitab tentang pertobatan. Hal itu membawa kita kepada pekerjaan khusus dalam penyebaran Injil.

TANDA KELIMA, memberikan suatu pemahaman alkitabiah tentang penginjilan. Jika dalam penginjilan kita, kita menyiratkan bahwa menjadi seorang Kristen adalah sesuatu yang dapat kita kerjakan sendiri, kita mendatangkan bencana dengan meneruskan kesalahpahaman kita tentang Injil dan pertobatan. John Broadus, sarjana Perjanjian Baru dan pengkhotbah yang terkenal dari abad ke-19, menulis sebuah katekismus tentang ajaran Alkitab dan di dalamnya menulis pertanyaan, "Apakah iman ada sebelum kelahiran baru?" dan dia menjawab, "Tidak, hanya hati yang baru yang sungguh-sungguh bertobat dan percaya." Broadus memahami bahwa dalam penginjilan, kita harus menjadi rekan Roh Kudus Allah untuk menyadarkan orang akan keberdosaannya serta meyakinkan dan mempertobatkan secara benar. Apakah gereja Anda atau praktik penginjilan Anda sejalan dengan kebenaran agung ini?

PEMURIDAN

Masalah utama lain di dalam gereja-gereja masa kini berkaitan dengan pelaksanaan yang benar dari pembatas dan penanda identitas Kristen. Secara umum, hal itu berkaitan dengan masalah pemuridan.

Pertama, dalam TANDA KEENAM, ada pertanyaan tentang seluruh kerangka bagi pemuridan: suatu pemahaman alkitabiah tentang keanggotaan gereja. Dalam abad yang silam, orang Kristen memiliki semuanya, tetapi mengabaikan ajaran Alkitab tentang natur korporat dari mengikut Kristus. Gereja kita terombang-ambing dalam keegoisan narsisisme, individualisme yang terlalu dijunjung tinggi, yang samar-samar terungkap dalam segala sesuatu, mulai dari "inventaris karunia" hingga "gereja-gereja sasaran" yang "bukan untuk setiap orang". Pada waktu kita kembali kepada 1 Yohanes atau bahkan Injil Yohanes, kita mulai melihat bahwa Yesus tidak pernah menghendaki kita menjadi orang Kristen saja, dan kasih kita bagi orang lain yang tidak sama dengan kita dipahami sebagai petunjuk apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Allah. Pada hari ini, di dalam gereja-gereja kita, ada masalah dengan definisi dasar tentang apa artinya menjadi seorang murid.

TANDA KETUJUH, kita menggali suatu pemahaman alkitabiah tentang disiplin gereja. Adakah perilaku yang tidak seharusnya ditoleransi oleh gereja? Apakah pengajaran di dalam gereja-gereja kita "di luar batas"? Apakah gereja-gereja kita menunjukkan suatu perhatian terhadap hal-hal selain kelangsungan hidup dan perluasan lembaganya sendiri? Apakah kita menunjukkan suatu pemahaman bahwa kita membawa nama Allah dan hidup bagi kehormatan-Nya atau untuk membuat-Nya malu? Kita membutuhkan gereja-gereja yang dapat memulihkan praktik disiplin gereja yang memiliki kasih, diterapkan terus-menerus dan secara bijaksana.

TANDA KEDELAPAN, kita memeriksa pemuridan dan pertumbuhan Kristen. Penginjilan yang tidak menghasilkan pemuridan bukan hanya penginjilan yang tidak lengkap, melainkan seluruhnya keliru. Masalahnya bukan perlunya melakukan lebih banyak penginjilan, sebaliknya kita perlu melakukannya secara berbeda. Kita tidak sekadar perlu ingat untuk memberi tahu orang-orang supaya datang ke gereja sesudah kita berdoa bersama dengan mereka; kita perlu memberi tahu mereka untuk menghitung harga sebelum mereka mengucapkan doa tersebut!

Akhirnya, dalam TANDA KESEMBILAN, kita melihat bahwa kita perlu memulihkan suatu pemahaman alkitabiah tentang kepemimpinan gereja di dalam gereja-gereja kita. Kepemimpinan di dalam gereja tidak seharusnya diberikan sebagai suatu tanggapan terhadap bakat-bakat atau posisi sekuler, terhadap hubungan-hubungan keluarga, atau dalam pengakuan tentang durasi penatalayanan di gereja. Kepemimpinan di dalam gereja seharusnya ditanamkan pada orang-orang yang terlibat dalam kehidupan mereka dan yang sanggup mengembangkan karya Roh Kudus yang mendidik dan menguduskan secara keseluruhan dalam kehidupan jemaat.

Akhir dan tujuan dari semua ini adalah kemuliaan Allah pada waktu kita memperkenalkan-Nya. Di sepanjang sejarah, Allah telah berkehendak menyatakan diri-Nya. Itulah sebabnya, Dia membebaskan Israel dari Mesir dalam peristiwa Eksodus, dan mengapa Dia membebaskan mereka sekali lagi dari pembuangan Babel. Hal itu demi kemuliaan-Nya sendiri, untuk menyatakan diri-Nya. Banyak perikop di dalam Alkitab yang memberi tahu tentang kehendak Allah untuk menyatakan diri-Nya (misalnya Keluaran 7:5; Ulangan 4:34-35; Ayub 37:6-7; Mazmur 22:21-22; 106:8; Yesaya 49:22-23; 64:4; Yehezkiel 20:34-38; 28:25-26; 36:11; 37:6; Yohanes 17:26). Ia menciptakan dunia dan mengerjakan semuanya supaya nama-Nya dipuji. Hal itu adalah baik dan benar bagi-Nya untuk melakukan demikian.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul asli buku : 9 Marks of a Healthy Church
Judul buku terjemahan : 9 Tanda Gereja yang Sehat
Judul bab : Sebuah Model yang Lain
Penulis : Mark Dever
Penerjemah : Ichwei G. Indra
Penerbit : Momentum, Surabaya 2010
Halaman : 23 -- 27
Kategori: