Referensi

Taxonomy upgrade extras: 

PPL-Referensi 01c

Nama Kursus : PENGANTAR PERJANJIAN LAMA
Nama Pelajaran : Pentingnya Mempelajari Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : PPL-R01c

Referensi DIK-R01a diambil dari:

Judul Buku : Survei Perjanjian Lama
Judul artikel : PPendekatan Kepada Perjanjian Lama
Penulis : Andrew Hill, dkk.
Penerbit : Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1991
Halaman : 3-8

REFERENSI PELAJARAN 01c - PETINGNYA MEMPELAJARI PERJANJIAN LAMA

PENDEKATAN KEPADA PERJANJIAN LAMA

Mempelajari Perjanjian Lama adalah tugas yang amat besar, tetapi persiapan yang tepat dapat menolong mahasiswa untuk menuai panen yang melimpah. Allah yang berdaulat yang menciptakan alam semesta, yang mengawasi sejarah, dan yang akan menyelesaikan rencanaNya tepat pada waktu yang sudah ditetapkanNya yang telah memutuskan untuk berbicara. Hal itu sendiri telah merupakan tindakan anugerah, dan kita berkewajiban untuk mendengarkan. Walaupun demikian, mendengarkan dapat terhalang oleh banyak faktor yang menyulitkan. Pertama, wahyu atau penyataan Allah tidak disampaikan dalam bahasa atau kebudayaan kita. Sebagai akibatnya, kita barangkali harus bekerja lebih keras untuk dapat menerima berita yang disampaikan dengan jelas. Semakin paham para mahasiswa akan kebudayaan Timur Dekat purba, khususnya kebudayaan Israel, selama zaman Perjanjian Lama, semakin mampulah mereka menyingkirkan penghalang-penghalang yang ada.

Faktor kedua yang mempersulit adalah bahwa kendati kita mendengarkan, kita cenderung untuk memilih-milih apa yang kita dengar atau mencoba untuk menyesuaikan berita itu dengan apa yang kita ingin dengar. Jalan keluar untuk ini adalah dengan mengizinkan Alkitab berbicara sendiri. Kita semua mempunyai berbagai praduga tentang Alkitab. Praduga-praduga ini perlu dievaluasi terus-menerus dan disaring agar jangan sampai memutarbalikkan ajaran Alkitab. Tujuan para penulis Alkitab tidak boleh ditempatkan lebih rendah terhadap maksud tujuan kita sendiri, betapapun berguna maksud tujuan kita itu. Banyak hal yang sangat berharga dapat dipelajari dari Perjanjian Lama, tetapi tidak semuanya itu hendak diajarkan oleh Perjanjian Lama. Jika para mahasiswa berkeinginan untuk memeproleh pengajaran yang absah dari teks Perjanjian lama, maka harus belajar untuk menambah ide-ide mereka sendiri pada teks tersebut. Apabila Alkitab diizinkan untuk berbicara dari ketinggiannya sendiri dan menurut agendanya sendiri, pembaca akan dapat menjadi lebih terbuka untuk memepelajari apa yang hendak diajarkan oleh Alkitab.

PERNYATAAN DIRI

Sebagai penyataan diri Allah sasaran Perjanjian Lama adalah agar pembaca akan mengenal Allah dengan lebih baik. Namun, proses ini tidak dimaksudkan untuk sekedar mengetahui bahwa Allah ada. Sebaliknya pengenalan akan Allah ini tercapai dengan cara mengalami sifat- sifatNya. Mampu mencatat semua sifat Allah tidak penting. Yang harus kita capai adalah bahwa sifat-sifatNya itu menjadi kerangka dari pandangan hidup kita. Yang kami maksudkan dengan ini adalah bahwa pandangan kita terhadap diri sendiri, masyarakat kita, dunia kita, sejarah kita, perilaku kita, keputusan-keputusan kita - segala sesuatu - harus disatukan dengan pandangan yang jelas dan terpadu tentang Allah. Sasaran Perjanjian Lama bukanlah kehidupan yang diubah, kendatipun pengenalan akan Allah sudah seharusnya mengubah kehidupan seseorang. Sasaran Perjanjian Lama bukanlah menyetujui suatu sistem nilai, kendatipun suatu sistem nilai tentu saja akan merupakan akibat dari mengenal Allah dengan sungguh-sungguh. Perjanjian Lama bukanlah tempat penyimpan berbagai model peran historis, kidung-kidung yang berdebu, dan perkataan nubuat yang tidak jelas, tetapi merupakan ajakan Allah untuk mendengarkan kisahNya.

Kisah Allah ini diawali dengan penciptaan. Akan tetapi, yang ditegaskan bukanlah bagaimana dunia mulai, tetapi bagaimana rencana itu dimulai. Segala sesuatunya sudah tepat untuk pelaksanaan rencana Allah. Dalam pengertian itu, penciptaan hanya merupakan pendahuluan dari sejarah. Kedaulatan Allah pada awalnya dijamin oleh kenyataan bahwa Ia menciptakan. Meskipun kenyataan ini mau tidak mau menyangkal kedaulatan ilah-ilah lain, maksud tujuannya bukanlah membuka polemik melawan politeisme kafir pada zaman itu. Tetapi daripada mengadakan pendekatan negatif yang mencela dan membuktikan ketidakbenaran ilah- ilah lain, Perjanjian Lama mengadakan pendekatan positif dengan memberitahukan seperti apa Allah yang esa dan benar itu dan apa yang sudah dikerjakanNya.

Sewaktu sejarah mulai, akan terlihat bahwa Perjanjian lama tidak memberikan perhatian utama pada aspek-aspek politik dan sosial dari sejarah. Yang terutama diperhatikan dari sejarah ini adalah bagaimana Allah sudah menyatakan diriNya kepada orang-orang pada masa lalu. Hal ini dicerminkan dalam nama-nama Allah yang memenuhi halaman-halaman Perjanjian lama. Nama-nama ini menggambarkan Dia sebagai Allah ayng kudus, mahakuasa, mahatinggi, dan yang menyebabkan terjadinya segala sesuatu. Akan tetapi, Ia juga adalah Allah yang mendengar, melihat, dan menyediakan. Pembrontakan dan kelemahan yang biasa terdapat pada umat manusia menunjukkan Dia sebagai Allah yang penuh kesabaran dan kasih karunia.

Sebagaimana halnya penciptaan memasuki sejarah, demikian juga sejarah memasuki nubuat. Rencana Allah diawali pada permulaan, dijalankan sepanjang sejarah, dan akan terus berlangsung sampai semua tercapai. Dengan melihat rencana Allah dijalankan pada masa lalu (Pentateukh dan kitab-kitab sejarah dan dimaksudkan untuk masa depan kitab-kitab para nabi), kita mulai menghargai hikmat yang tidak terduga dari Allah yang layak dipuji dan disembah (Mazmur-mazmur dan sastra hikmat). Dengan demikian, Perjanjian Lama harus dilihat sebagai penyajian sifat-sifat Allah dalam perbuatan. Kita dapat mengetahui siapa Allah itu dan seperti apa Dia dengan jalan mendengar apa yang sudah ada yang akan dilakukanNya. Sesudah kita mengethui siapa Dia itu, dan seperti apa Dia, maka tanggapan yang selayaknya adalah penyembahan, komitmen, dan pelayanan.

PERJANJIAN ALLAH

Di bagian inti dari penyataan-diri ini, yang menggambarkan rencana Allah, terdapat perjanjian Allah (covenant). Bahkan nama "Perjanjian Lama" menunjukkan bahwa covenant itu merupakan konsep inti dari kumpulan kitab-kitab ini. Melalui covenant atau perjanjian ini Allah menyatakna seperti apa Dia dan mengharuskan diriNya untuk menuruti kelakukan tertentu. KesetiaanNya (hesed) pada covenant itu sering kali menyebakan Dia melakukan tindakan kasih karunia dan kemurahan, namun keadilan juga tercakup dalam covenant untuk memastikan pemberian pertanggungjawaban oleh umatNya. Karena covenant itu merupakan sarana yang digunakan Allah untuk mengadakan penyataan diri, Perjanjian Lama sering kali tampil sebagai sejarah covenant, atau dari berbagai aspeknya, lebih dari sekedar sejarah Israel. Jadi kitab Kejadian 12-50 adalah sejarah pengadaan perjanjian Abraham (atau Abrahamic Covenant). Kitab Keluaran sampai dengan kitab Ulangan adalah sejarah mengenai penetapan perjanjian di Sinai. Kitab Yosua adalah catatan mengenai kesetiaan Allah terhadap perjanjian itu, sedangkan kitab Hakim-hakim adalah catatan mengenai ketidak-setiaan Israel terhadap perjanjian tsb. Kitab Samuel dan Raja-raja adalah sejarah perjanjian kerajaan (Perjanjian Daud atau Davidic Covenant). Perjanjian itu sebagai rencana Allah terlihat dengan lebih jelas daripada orang-orang yang terlibat dari generasi ke generasi.

Beberapa pendekatan yang berbeda-beda terhadap Perjanjian Lama dapat dibedakan satu daripada yang lain melalui paham setiap pendekatan itu mengenai gagasan perjanjian dan kaitan berbagai perjanjian itu terhadap satu sama lain. Adakah banyak perjanjian yang berbeda-beda yang terlepas dari yang lain mengatur berbagai periode sejarah, ataukah hanya ada satu atau dua perjanjian yang mengatur yang memiliki beberapa perjanjian tambahan lainnya yang menawarkan perluasan dan penjelasan? Adakah satu perjanjian yang tidak bersyarat yang terdiri atas beberapa perjanjian bersyarat sebagai bagian pelangkapnya, ataukah keseluruhannya merupakan perjanjian bersyarat?

Pertanyaan-pertanyaan ini yang dijawab dalam berbagai cara oleh para sarjana yang berbeda-beda, menjelaskan berbagai kontroversi teologis tentang Perjanjian Lama, hubungannya dengan Perjanjian Baru dan keterkaitannya dengan kita dewasa ini. Namun jawaban-jawaban yang diberikan untuk pertanyaan-pertanyaan ini tidak mengubah citra Allah yang diberikan oleh perjanjian itu. Hanya bentuk teologinyalah yang dipertaruhkan dalam persoalan ini, dan bukan sifat Allah sebagaimana Ia dinyatakan dalam Perjanjian Lama. Bahkan, jika seandainya pun ada yang cenderung untuk membuat garis-garis pemisah yang jelas di antara perjanjian-perjanjian itu, kesatuan organik dari perjanjian- perjanjian tersebut tidak boleh diabaikan.

Ciri kesatuan organik inilah yang menolong kita untuk melihat rencana Allah sebagai suatu wujud yang konsisten dan menyatu. Dalam pandangan ini, perjanjian dengan Abraham menetapkan Israel sebagai umat Allah "yang menyatakan Allah" maksudnya melalui umat Israel Allah berkenan menyatakan diriNya kepada dunia. Taurat yang diberikan di Sinai merupakan satu bagian utama dari penyataan yang akan diberikan oleh perjanjian yang ditetapkan sebagai sasarannya. Pada waktu yang sama, kitab Imamat, Ulangan, dan Yosua berisi pembaharuan perjanjian yang memperkuat persetujuan itu. Perjanjian Daud (Davidic Covenant) menggenapi beberapa dari janji-janji mula-mula Allah kepada Abraham (misalnya, raja-raja akan berasal dari dia) dan pada waktu yang sama memperluas persetujuan itu untuk mencakup suatu garis keturunan dinasti. Para nabi berbicara tentang perjanjian yang akan datang (bandingkan Yesaya 61:8; Yeremia 31:31-34; Yehezkiel 16:60-63; 34:25- 30; 37:19-28; Hosea 2:18:20), dan semua ini biasanya berhubungan dengan penggenapan yang akan datang dari aspek-aspek perjanjian terdahulu yang sama sekali tidak terwujud karena kegagalan umat Israel. --cut---

OTORITAS

Kendatipun tidaklah salah untuk mempelajari Alkitab dari perspektif sastra dan menghargai sebagai karya sastra yang agung, kita tidak dapat berhenti di situ. Jika Alkitab hendak dikenal sebagai penyataan diri Allah, maka Alkitab harus dipandang sebagai karya yang tidak sekedar mengetengahkan pandangan-pandangan umat yang saleh. Dengan kata lain, jika Allah tidak dipahami sebagai sumber Perjanjian Lama, maka Perjanjian Lama itu bukan penyataan-diri Allah. Jika Allah adalah sumber Perjanjian Lama, maka dapat dimengerti bahwa Perjanjian Lama memiliki otoritas. Kita menelaah Alkitab karena kita berharap akan memperoleh firman yang memiliki otoritas dari Allah, bukan berbagai pendapat yang subjektif dari manusia, betapapun berharga atau benar pendapat-pendapat tersebut. Otoritaslah yang menjadikan Perjanjian Lama lebih dari sekedar sastra yang bagus. Oleh karena itu Perjanjian Baru mengacu kepada Perjanjian Lama sebagai tulisan yang dinapaskan Allah, atau "diilhami". Pengilhaman adalah sifat yang menunjukkan Allah sebagai sumber dan menjamin bahwa karya tulisan yang dihasilkan memiliki otoritas (II Timotius 3:16).

Maka dapat dimengerti bahwa jika kita mengharapkan Alkitab berisi penyataan yang berkuasa dan absah dari Allah maka otoritas tersebut harus terdapat dalam apa yang hendak dikomunikasikan oleh Alkitab, bukan dalam apa yang pembaca ingin dengar. Dalam hal ini pun Alkitab berbeda dari kepustakaan yang lain. Bila kita membaca sebuah novel atau syair, daya atau kekuatan buku atau tulisan itu dapat diukur melalui kemampuannya untuk membangkitkan tanggapan dari pembaca dan memadu hal itu dengan gagasan dari pengarangnya untuk menciptakan dan menciptakan kembali "berbagai arti" baru setiap kali buku itu dibaca. Dalam cara ini sebuah syair dapat berarti satu hal bagi seorang pembaca, sedangkan bagi pembaca lain syair tersebut mempunyai makna yang lain sama sekali. Kendatipun dinamika seperti ini dapat merupakan hasil dari proses penerapan ketika membaca Perjanjian Lama, kenyataan bahwa firman tertulis itu memiliki otoritas sedangkan tanggapan pembaca tidak, hendaknya menjadi peringatan agar kita tidak dapat merasa pias dengan mempelajari pelajaran-pelajaran kita sendiri dari Alkitab, betapa pun bernilainya pelajaran-pelajaran tersebut. Kita harus berusaha untuk menemukan apa yang hendak dikumunikasikan oleh penulis, karena disitulah terkandung otoritas.

Apakah implikasi-implikasi dari otoritas yang dimiliki oleh teks? Yang pertama adalah bahwa kita menerima apa yang dikatakan teks sebagai kebenaran. Jika Allah tidak pernah mengadakan perjanjian dengan Abraham atau tidak pernah berfirman kepada Musa di Sinai; jika penaklukkan negeri perjanjian hanya sekedar suatu polemik khayal bagi Israel untuk memebela ekspansi wilayahnya; jika perjanjian Daud tidak lebih dari suatu siasat politik yang dilakukan oleh orang-orang Daud untuk menyatakan bahwa Allah membenarkan keberlangsungan dinasti mereka, maka Alkitab bukanlah penyataan-diri Allah, melainkan sekedar propaganda dan tidak ada sangkut paut sama sekali dengan kita. Jika ada pengertian meskipun sedikit, yang menunjukkan bahwa Alkitab adalah firman Allah, maka Alkitab harus diterima sebagai kebenaran.

Implikasi kedua adalah bahwa kita perlu menanggapinya. Jika Alkitab benar-benar pernyataan-diri Allah yang berwenang, maka kita tidak boleh mengabaikannya ataupun tidak mengambil peduli. Allah tidak hanya menghendaki penyembahan, tetapi juga ketaatan, keadilan, kesetiaan, kekudusan, kebenaran, dan kasih. Singkatnya, Ia ingin agar kita menjadi seperti Dia - itulah salah satu alasan Ia menyatakan diri sebagaimana adanya itu.

Taxonomy upgrade extras: 

PPL-Referensi 03c

Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03b

Nama Kursus : PENGANTAR PERJANJIAN LAMA
Nama Pelajaran : Sejarah Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : PPL-R03c

Referensi PPL-R03c diambil dari:

Judul Buku : THE BIBLE KNOWLEDGE COMMENTARY
Judul Bagan : Bagan Sejarah Perjanjian Lama
Editor : John F. Walvoord & Roy B. Zuck
Penerbit : Victor Books
Tahun : 1985
Halaman : 13

REFERENSI PELAJARAN 03c - SEJARAH PERJANJIAN LAMA

BAGAN SEJARAH PERJANJIAN LAMA

             Yakub pindah     Eksodus     Bgs. Israel Penaklukan  Hakim-
                ke Mesir     Pengembaraan  Menyeberang  Tanah      hakim
Penciptaan                Di padang Gurun  S. Yordan  Perjanjian  Mulai
                 1876sm        1446sm        1406sm     1399sm     1350sm

  !                !              !             !         !          !
  !  Kejadian      !    Keluaran  ! Im, Bil, Ul !         !  Yosua   !
  !==================> ===========> ============> ===================>
  !                !   (430 thn.) !  (40 thn.)  ! (7 thn.)! (49 thn.)!
  !                !              !             !         !          !




                                          Kerajaan
                                           Pecah
                                           (931)  I Raj.12-     Asyur
Hakim-     Saul       Daud      Salomon          II Raj.17   Menakluk-
hakim   Memerintah Memerintah  Memerintah    ==ISRAEL======>  kan Israel
Mulai                                        !    (209 thn.)     722sm
1350sm    1051sm     1011sm       971sm      !
                                             !
  !Hakim-2   !          ! II Sam & ! I Raj.  !
  ! & Ruth   ! I Sam.   ! 1 Taw.   !  1-11   !
  !==========> =========> =========> =======>!
  !(299 thn.)!(40 thn.) !(40 thn.) !(40 thn.)!
  !          !          !          !         !                      Babilon
                                             ! I Raj.12- II Raj. 24 Menakluk
                                             !   & II Taw. 10-36    kan
                                             ==YEHUDA==============>Yehuda
                                                  (345 thn.)        586sm





Babilon
Menakluk-                Bait Allah           Masa PL
kan Yehuda              Dibangun lagi         Selesai
  586 sm                     515sm              430sm

   !                           !                  !
   !   Penawanan di Babilon    !                  !
   !===========================> =================!
   !        (70 thn.)          !    (85 thn.)     !
   !                           !                  !

Taxonomy upgrade extras: 

PPL-Referensi 04a

Nama Kursus : Pengantar Perjanjian Lama
Nama Pelajaran : Budaya Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : PPL-R04a

Referensi PPL-R04a diambil dari:

Judul Buku : Memahami Perjanjian Lama I
Judul Artikel : Masyarakat Dan Agama
Penulis : John Drane
Penerbit : Persekutuan Pembaca Alkitab, Jakarta, 2002
Halaman : 79 - 83

REFERENSI PELAJARAN 04a - MEMAHAMI PERJANJIAN LAMA

Tahun-tahun di antara pemerintahan Saul dan Salomo menyaksikan pembentukan masyarakat Israel yang unik untuk pertama kalinya. Walaupun sistem kerajaan menimbulkan masalah, ide tentang kerajaan tetap diterima orang-orang Israel, dan sekalipun ketika sepuluh suku memisahkan diri di bawah pimpinan Yerobeam, mereka tidak banyak berusaha mengubah penampilan luar masyarakat yang telah ditegakkan oleh Salomo: mereka hanya menjelaskannya dengan cara yang berbeda.

Jadi, tidaklah mengejutkan bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi di tahun-tahun yang sulit ini akan meletakkan pola untuk kehidupan Israel untuk masa mendatang. Inilah yang kita temukan ketika kita membaca kitab-kitab PL, khususnya pada kitab Mazmur dan "literatur hikmat" dari PL karena walaupun para editor kitab-kitab sejarah Israel dapat melihat banyak hal yang memalukan dari aktivitas Daud dan Salomo, dengan segera kedua raja itu mendapat kehormatan dalam tradisi agamawi rakyat mereka. Daud dianggap sebagai pengarang sebagian besar kitab Mazmur, dalam PL, sementara Salomo dianggap sebagai pendiri "gerakan hikmat" pada masa Israel kuno. Tidak banyak ahli sekarang yang mau menerima tradisi ini sebagaimana adanya. Tetapi, jelas bahwa kedua raja ini dan para penerusnya di Yerusalem telah membawa pengaruh yang besar dalam kehidupan agamawi dan kebudayaan rakyat mereka.

Berita agamawi yang penting dari kitab-kitab PL ini akan dikupas secara mendetail dalam pasal 11 dan 12. Tetapi, tepat juga di sini bila kita memperhatikan beberapa aspek gambaran kehidupan agamawi dan kebudayaan dari Israel kuno yang ada di dalam kitab-kitab tersebut.

Mazmur

Kitab Mazmur dalam PL berisi 150 bagian terpisah yang terdiri dari lagu-lagu atau puisi agamawi, disusun dalam 5 bagian "buku" sebagai satu koleksi untuk digunakan pada ibadah di Bait Allah yang dibangun kembali di Yerusalem sekitar 520 SM, setelah pembuangan di Babel (lihat pasal 7). Sewajarnyalah beberapa mazmur ditulis pada masa itu (Mzm. 137) meski kebanyakan tidak. Banyak ahli yang berpendapat bahwa mazmur-mazmur itu berasal dari ibadah kepada Allah oleh Israel purba selama periode antara 1000 - 586 sM. Banyak mazmur memiliki judul, tetapi judul ini bukan bagian dari komposisi aslinya. Tepat sekali apabila versi modern seperti Good News Bible menurunkannya sebagai catatan kaki (cat. penyunting: Alkitab Kabar Baik versi LAI tidak memberikan no. ayat bagi judul-judul mazmur). Beberapa dari judul ini memuat arahan musik, mengindikasikan nada yang harus dinyanyikan untuk gubahan tertentu, atau instrumen musik yang digunakan untuk mengiringinya. Judul yang lain mengindikasikan bahwa mazmur tertentu dihubungkan dengan Daud, putra-putra Korah, putra-putra Asaf, dll. Judul judul ini sering tidak jelas artinya yang tepat. Bahkan, istilah "Mazmur Daud" juga bisa berarti "Mazmur untuk Daud , dan tidak harus berarti sebagai pernyataan bahwa Daud adalah penulisnya. Judul seperti itu juga dapat mengindikasikan bahwa mazmur itu pada awalnya ada di dalam koleksi lagu-lagu yang dikeluarkan oleh rumah kerajaan Daud di Yerusalem, atau ditulis untuk raja di sana, yang tentunya adalah keturunan Daud. Kebanyakan ahli sekarang tidak menolak kemungkinan bahwa beberapa dari mazmur ini ditulis oleh Daud sendiri. Tetapi, kita tidak mungkin mengetahuinya secara pasti.

Kehidupan selalu bagaikan kaleidoskop dari pengalaman dan emosi yang berkonflik - dan kita dapat menemukan variasi ini direfleksikan di dalam isi mazmur-mazmur PL. Tidak semua mazmur sama isinya. Beberapa mazmur adalah himne agung yang berisi pujian bagi Allah, merefleksikan kesukacitaan penyembah yang meluapkan kebahagiaannya yang merasa damai dengan Allah dan dunia (Mzm. 145-150). Sebaliknya, ada mazmur yang merefleksikan momen-momen gelap dari pengalaman manusia. Kadang-kadang penyembah menyadari bahwa kesalahan diri sendiri sebagai penyebab kesusahan (Mzm. 51:130). Tetapi, pada kesempatan lainnya si penyembah protes bahwa ia sungguh-sungguh tidak bersalah, dan dari mulanya tidak seharusnya ia menderita (Mzm. 13:71). Emosi seperti ini cukup akrab bagi kita semua karena merupakan bagian penting dari kehidupan di segala tempat dan waktu.

Dalam mazmur lainnya, kita dapat melihat bagaimana seluruh bangsa mungkin bereaksi pada saat ada malapetaka nasional atau ketidakpastian (Mzm. 44; 74; 80; 83). Kita pun dapat turut mengambil bagian dalam upacara-upacara penting dari kehidupan nasional, seperti peneguhan seorang raja atau pernikahan raja. (Mzm. 45). Ada pula mazmur yang memberikan bagi kita pandangan sekilas ke dalam perasaan syukur yang mendalam kepada Allah yang dialami oleh pribadi penyembah yang telah diselamatkan dari beberapa pencobaan pribadi (Mzm. 30; 92; 116).

Pada tahun-tahun awal dari abad ini, mazmur-mazmur diklasifikasikan menurut pembagian seorang ahli dari Jerman, Hermann Gunkel. Menurutnya, mazmur-mazmur ini dapat dibagi menjadi 5 kategori: Himne Pujian, Lagu Ratapan Pribadi, Ratapan Umat, Ucapan Syukur Pribadi, dan Mazmur Kerajaan. Klasifikasinya telah melalui ujian waktu, walau di dalam beberapa hal kurang memuaskan. Sebagai contoh, Gunkel cenderung memisahkan secara tajam antara mazmur pribadi dengan mazmur umat. Sejumlah mazmur yang dimulai dengan kata-kata dari satu orang terus selanjutnya berbicara bukan tentang seorang individu, tetapi tentang seluruh umat Israel (Mzm. 51; 102; 130). Kategori "Mazmur Raja" juga bisa dipertanyakan karena semua Mazmur Kerajaan dapat dengan mudah dicocokkan ke dalam kategori-kategori yang lainnya, dan hanya acuan jelas tentang raja yang mengelompokkan mazmur-mazmur itu ke dalam kategori ini.

Mazmur pasti telah digunakan dalam berbagai cara. Sebagai contoh, Gunkel mengasumsikan bahwa hampir semua mazmur merupakan ekspresi kesalehan pribadi, yaitu sejenis puisi yang akan digunakan oleh siapa pun sebagai penyembah untuk mengekspresikan perasaan terdalamnya tentang kehidupan dan tentang Allah. Sedangkan, ahli lain berpendapat bahwa mazmur-mazmur itu tidak merefleksikan pengalaman pribadi, tetapi pengalaman seluruh bangsa Israel dalam bentangan waktu yang panjang. Bahkan diusulkan bahwa mazmur-mazmur itu adalah sejenis diagram temperatur rohani dari sejarah Israel dari masa paling awal sampai sesudah pembuangan. Kedua unsur ini tidak diragukan kehadirannya. Tetapi, hal yang fundamental terhadap berbagai pikiran dari mazmur adalah pengalaman agamawi yang mendalam yang diketahui pengarang-pengarangnya sebagai sangat relevan dengan seluruh kehidupan, karena kesadaran akan realitas Allah dapat langsung muncul dari alam (Mzm. 8; 104), juga dari sejarah Israel (Mzm. 78; 105), atau dari pengalaman pribadi si penulis (Mzm. 31; 130).

Mazmur Dan Ibadah Israel

Beberapa ahli berpendapat bahwa mazmur lebih fundamental di dalam ibadah Israel daripada yang sudah kita usulkan di sini, dan bahwa di dalam mazmur kita dapat menemukan catatan detail tentang aktivitas agamawi di Bait Allah Yerusalem pada periode sebelum pembuangan ke Babel. Secara khusus, dua hal berikut banyak menolong pengertian kita akan subjek ini:

Sebagian besar mazmur bisa dimengerti bukan hanya sebagai lagu pujian, tetapi juga sebagai liturgi yang lebih komprehensif. Mazmur tersebut bukan hanya merefleksikan pujian dan penyesalan para penyembah, namun juga memuat respons Allah atas ibadah itu (misalnya, Mzm. 2, 12, 20, 21, 45, 50, 81, 89, 91, 95, 108, 110, 132). Respons-respons ini sering mirip dengan berita dari para nabi PL, baik dalam gaya maupun substansinya. Karenanya ada pendapat bahwa di Bait Allah Yerusalem ada sekelompok nabi yang pekerjaannya, bersama dengan para imam, memimpin umat di dalam ibadah. Pendapat ini, ketika pertama kali dikemukakan sangat mengejutkan banyak ahli PL. Pada abad ke-19, sering dianggap begitu saja bahwa pada masa PL, para nabi dan imam sangat bertolak-belakang satu sama lain; bahwa para imam memperhatikan penampilan mekanis dari ritus "agama" sedangkan para nabi memberikan perhatian terhadap wahyu sejati, yaitu membawa firman hidup dari Allah untuk umat mereka. Tentu saja benar bahwa kebanyakan nabi sering menyampaikan berita yang keras tentang penampilan yang tak berarti dari ritus agamawi yang kosong. Tetapi, pembedaan yang tajam antara imam dengan nabi ini sering kali disebabkan lebih oleh pandangan anti-Katolik yang kuat dari para ahli, daripada karena fakta PL. Bahkan, Amos, yang sering dianggap sebagai salah satu dari mereka yang paling keras melawan ritus agamawi, jelas menyampaikan beritanya di dalam konteks pelaksanaan ibadah yang terorganisasi di Betel. Sedangkan kitab Yeremia tidak hanya mendaftarkan para nabi dan para imam bersama-sama sebagai pemimpin dari umat (Yer. 18:18), tetapi juga memberikan indikasi lain tentang para nabi yang dikaitkan dengan Bait Allah Yerusalem (contoh: Yer. 5:30-31; 23:11; 26:7,16; 27:16; 29:26). Para nabi ini sering disebut "nabi ibadah" (cultprophets) untuk membedakannya dari orang-orang seperti Amos atau Yeremia. Pada masa Yeremia, kebanyakan dari mereka memberikan jaminan palsu kepada umat, dan akibatnya jabatan mereka hilang setelah pembuangan Babel. Tetapi, kitab Mazmur memberikan beberapa indikasi bahwa pada masa yang lebih awal mereka mempunyai peranan penuh dan sah di dalam ibadah kepada Allah di Bait Allah.

Berdasarkan kitab Mazmur, sejumlah ahli juga mengatakan bahwa raja memainkan peranan penting di dalam ibadah di Bait Allah. Mereka memperhatikan bahwa di tempat-tempat lain di dunia kuno, raja sering dianggap sebagai yang Ilahi atau makhluk semi ilahi, yang kesejahteraannya menentukan kelanjutan kesejahteraan umatnya. Keikutsertaan raja dalam ritus agamawi sering dihubungkan dengan siklus musim. Sebagai contoh, di Babel terhadap raja, muncul dalam perayaan Tahun Baru sebagai personifikasi dari dewa, yang kematian dan kebangkitan ritualnya melambangkan kematian dan pembaruan vitalitas alam. Kita telah memperhatikan bahwa dalam sejumlah kesempatan, Daud dan Salomo memainkan peranan penting di dalam ibadah Israel - sudah pasti penerusnya pun melakukan hal yang sama. Tentunya, tidak ada di antara raja-raja ataupun rakyat mereka yang pernah berpikir bahwa mereka adalah Tuhan, sekalipun memiliki kedudukan khusus sebagai berkat Allah atas mereka (Mzm. 2:7). Tetapi, masih ada saja ahli yang menekankan bahwa perayaan tahunan pun ada di Israel. Pada saat itu, raja menjalani ritus perendahan (humiliation) dan pemulihan (restoration) seperti perayaan di Babel. Ahli Skandinavia, Sigmund Mowinckel, memberikan pendapat yang lebih berdasar ketika ia mengatakan bahwa perayaan peringatan Tahun Baru di Israel lebih berpusat pada penakhtaan Allah sendiri, dan perayaan akan kesinambungan kuasa-Nya atas kuasa kekacauan dan ketidakteraturan. Sarjana-sarjana yang lain menolak pendapat ini karena mereka lebih melihat bahwa festival Tahun Baru di Israel (pesta Pondok Daun) adalah kesempatan untuk memperbaharui dengan sungguh-sungguh perjanjian yang dibuat di Gunung Sinai - bisa juga sebagai peringatan tahunan atas penetapan keluarga kerajaan Daud. Tentunya sulit untuk menerima bahwa raja di zaman Israel purba, secara keseluruhan, atau bahkan secara utama menjalankan fungsi agamawi. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa ide Babel tentang ke-raja-an diterima secara luas oleh dunia purba. Sebagai tambahan, banyak dari teori itu bersandar pada rekaan yang cerdik yang terlalu menekankan mazmur dan kurang memperhatikan bagian PL lainnya. Harus diakui, di bagian lain dari PL ada penekanan bahwa raja Yehuda telah ditunjuk dan dipilih oleh Allah sendiri. Tetapi, kebanyakan dari pendapat-pendapat tersebut merupakan suatu komentar teologis terhadap fakta sederhana dari kehidupan, dan kesan keseluruhan yang diberikan PL tentang raja ialah bahwa raja adalah manusia yang aktivitasnya (secara natural dan tidak terelakkan) memiliki beberapa interaksi dengan ibadah agamawi, tetapi wilayah operasinya yang utama ada di bidang lain, yaitu dalam fungsi yudisial dan diplomatik kerajaan kuno.

Taxonomy upgrade extras: 

PPL-Referensi 05a

Nama Kursus : Pengantar Perjanjian Lama
Nama Pelajaran : Kanon Alkitab Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : PPL-R05a

Referensi PPL-R05a diambil dari:

Judul Buku : Survei Perjanjian Lama
Judul Artikel : Pembentukan Kitab-kitab Perjanjian Lama
Penulis/Editor : Andrew E. Hill & John H. Walton
Penerbit : Gandum Mas, 1991
Halaman : 19 - 27

REFERENSI PELAJARAN 05a - PEMBENTUKAN KITAB-KITAB PERJANJIAN LAMA

Perjanjian Lama disusun selama periode seribu tahun lebih yang kira- kira dimulai sekitar pertengahan milenium kedua sampai ke pertengahan milenium pertama SM. Walaupun Perjanjian Baru menguraikan bahwa Allah adalah pengarang Perjanjian Lama dengan ilham Roh Kudus (2Timotius 3:16), paling tidak empat puluh orang telah disebut sebagai penulisnya. Teks Perjanjian Lama semula dicatat dalam dua bahasa, bahasa Ibrani klasik atau alkitabiah dan bahasa kerajaan Aram (Kejadian 31:47; Yeremia 10:11; Ezra 4:8 - 6:18; 7:12-26 saja). Di antara para penulis kuno itu terdapat tokoh-tokoh Alkitab yang terkenal seperti Musa, Daud, dan Salomo. Penulis-penulis yang kurang dikenal termasuk wanita-wanita Ibrani seperti Debora (bandingkan Hak. 5:1) dan Miriam (bd. Keluaran 15:20-21) serta orang bukan Ibrani seperti Agur dan Lemuel (bd. Amsal 30:1; 31:1). Perjanjian Lama terdiri atas empat gaya atau jenis sastra dasar, termasuk hukum, kisah sejarah, syair, dan perkataan nubuat.

TEKS DAN TRANSMISI

Tulisan Dalam Masa Timur Dekat Kuno

Sistem tulisan paling awal yang dimiliki oleh manusia telah ada sebelum 3000 SM dan dibuktikan dalam kehidupan masyarakat kuno baik di Mesir maupun di Mesopotamia. Tingkat awal dalam pengembangan tulisan adalah piktogram, di mana gambar-gambar melambangkan obyek-obyek material yang sama (gambar 2.1). Akhirnya piktogram berkembang menjadi ideogram di mana simbol-simbol gambar mengetengahkan ide-ide juga. Seiring dengan perjalanan waktu, piktogram dan ideogram ini menjadi lebih abstrak (sejenis steno atau tulisan cepat) dan menandakan kata (logogram) dan suku kata. Tingkat terakhir dari tulisan merupakan peralihan dari sistem penulisan suku kata kepada tulisan bersifat abjad, di mana satu simbol melambangkan satu huruf dari sistem penulisan abjad.

Bahasa Ibrani dari Perjanjian Lama adalah suatu sistem penulisan abjad dan tergolong sebagai bahasa Semit Barat Laut yang berbeda dengan sistem penulisan suku kata dari Asyur dan Babilonia di Mesopotamia (gambar 2.2). Bahasa Ibrani dan Fenisia, Moab, Amon Edom, dan Ugarit semuanya adalah dialek abjad yang diperoleh dari suatu sistem bahasa abjad proto-Semit yang lazim (lihat Yesaya 19:18, di mana nabi menyebut bahasa Ibrani sebagai suatu dialek orang Kanaan).

Bahan-bahan untuk Tulis

Berbagai macam bahan dipergunakan sebagai permukaan untuk menulis oleh bangsa-bangsa dari Timur dekat kuno. Berbagai inskripsi penting terpelihara di tembok-tembok batu dan lempengan-lempengan batu (lihat daftar ilustrasi). Misalnya, inskripsi Behistun yang tersohor dalam tiga bahasa dari Raja Darius dari Persia itu digoreskan ada permukaan batu dari sebuah tebing. Batu Roseta dan batu Moab merupakan contoh- contoh lain yang terkenal dari dokumen-dokumen yang diukirkan pada batu padat. Perjanjian Lama menunjukkan bahwa Dekalog (Sepuluh Hukum) dituliskan pada "loh-loh batu" (Keluaran 32:15-16) dan bahwa kemudian Yosua membuat salinan dari Hukum Musa di atas batu (Yosua 8:32).

Bahan-bahan kuno lain untuk tulis menulis termasuk lempengan tanah liat dan kayu (terutama di Mesopotamia, tetapi juga dikenal di Siro- Palestina di Ebla dan Ugarit, bdg Yesaya 30:8; Habakuk 2:2), manuskrip dan kitab gulungan dari papirus (dipergunakan mulai dari milenium ketiga sampai milenium pertama SM, bdg. Ayub 8:11, Yesaya 18:2), dan perkamen kulit binatang yang disamak). (Kitab gulungan Yeremia yang dibakar oleh Raja Yoyakim mungkin merupakan papirus atau perkamen bdg. Yeremia 36:2). Ostraka (pecahan-pecahan tembikar) biasanya dipergunakan sebagai bahan untuk tulis yang bukan hanya berlimpah ruah tetapi juga tidak mahal di seluruh wilayah Timur Dekat Kuno, kendatipun bahan itu tidak disebut dalam Perjanjian Lama. Kitab gulungan logam yang ditempa kadang-kadang dipergunakan untuk suatu tujuan khusus. (Sebuah kitab gulungan tembaga ditemukan di antara tulisan-tulisan yang ditinggalkan dalam gua-gua sepanjang Laut Mati oleh masyarakat Qumran; lihat pasal 5 untuk suatu uraian tentang kitab-kitab gulungan Laut Mati.

Perjanjian Lama tidak menyebut penggunaan tinta untuk menulis pada kitab gulungan, tetapi menulis mengenai besi pengukir atau pena besi (Ayub 19:24; Yeremia 17:1), pena buluh (Yeremia 8:8), pisau raut untuk menajamkan pena (Yeremia 36:23), dan tempat tinta (Yeremia 36:18) sebagai alat-alat yang dipergunakan untuk menulis. Sifat dari proses penyalinan dengan tangan dalam dunia kuno sangat mengutamakan pendengaran, penghafalan, dan pembacaan dokumen-dokumen di hadapan umum - karena itu Perjanjian Lama selalu menekankan hal "mendengarkan" firman Tuhan. Menyebarluaskan perkataan yang tertulis juga menyebabkan diperlukannya pelayan-pelayan seperti pelari cepat pembawa kabar, bentara yang mengumumkan berita, dan juru tulis (bdg. 2Samuel 18:19- 23; Daniel 3:4).

Para Juru Tulis Perjanjian Lama

Pengembangan sistem menulis di Timur Dekat Kuno menyebabkan munculnya golongan juru tulis yang profesional. Hal ini juga berlaku bagi masyarakat Ibrani pada zaman Perjanjian Lama. Di Israel pada masa sebelum pembuangan para sekretaris atau panitera negara merupakan tokoh penting baik di bidang keagamaan maupun di pemerintahan sipil (lihat 2Samuel 8:16-17; 20:23-26).

Selama zaman kerajaan-kerajaan Ibrani para juru tulis sedikit banyak berfungsi sebagai "diplomat" karena keahlian mereka dalam bahasa- bahasa dan kesusastraan pada waktu itu memudahkan hubungan surat- menyurat secara internasional (bdg. 2Raja-Raja 18:18-26). Para juru tulis ini juga menulis surat-surat pribadi dan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat umum (misalnya, Yesaya 50:1; Yeremia 36:18) dan mencatat data yang sah mengenai kemiliteran dan keuangan untuk kerajaan (bdg. 1Raja-Raja 4:3; 2Raja-Raja 22:3-4; 2Tawarikh 24:11; 26:11). Orang -orang Lewi juga melayani sebagai juru tulis dan pencatat untuk Bait Allah (2Tawarikh 34:13,15).

Sesudah kejatuhan kerajaan Ibrani golongan juru tulis pada masa pasca pembuangan Israel semata-mata dihubungkan dengan Bait Allah dan fokus pekerjaan mereka lebih dipersempit. Para juru tulis Bait Allah ini pada dasarnya adalah cendekiawan yang mengabdikan diri mereka untuk menyalin, melestarikan, menerbitkan, dan menafsirkan Hukum Musa. Ezra sering kali disebut sebagai pelopor dari golongan ahli kitab atau ahli Taurat ini (Ezra 7:1-10). Pada masa Perjanjian Baru, para ahli Taurat merupakan suatu golongan agama dan politik yang berpengaruh di kalangan Yudaisme. Mereka merupakan penentang utama dari pelayanan Yesus, menuduh Dia telah melanggar hukum-hukum Yahudi (bdg. Matius 23:2).

Teks dan Berbagai Versi Perjanjian Lama

Naskah-naskah yang paling awal dari Perjanjian Lama ditulis dalam dua puluh dua huruf konsonan dari abjad Ibrani. Tulisannya diatur dalam baris-baris berlajur tanpa disertai pemisahan kata-kata untuk menghemat tempat. Para ahli kitab melanjutkan pemindahan teks-teks konsonan itu sampai pada zaman para Masoret (kira-kira tahun 500-900 TM). Para Mazoret adalah cendekiawan dan ahli kitab Yahudi yang memperbaiki pembagian kata-kata dan menambahkan huruf hidup atau tanda huruf hidup, tanda baca, dan pembagian ayat pada Perjanjian Lama Ibrani. Sekarang ini teks Ibrani Perjanjian Lama disebut teks Masoret (MT), yang menunjukkan pentingnya sumbangan para Masoret pada pemeliharaan Alkitab Ibrani.

Di samping catatan-catatan di pinggir halaman yang dibuat oleh para Masoret yang menunjukkan peningkatan atau pembetulan versi dari kata- kata atau ayat-ayat, maka perkembangan-perkembangan yang terjadi kemudian dalam Alkitab Ibrani meliputi pembagian tambahan dari kitab- kitab Perjanjian Lama ke dalam pasal-pasal. Pertama kalinya diperkenalkan dalam Alkitab bahasa Latin oleh Stephen Langdon (1150- 1228), pembagian pasal-pasal dipergunakan di Alkitab Ibrani dalam tahun 1518 (Edisi Bomberg). Pasal-pasal diberi nomor dalam Alkitab Ibrani oleh Arius Montanus (sekitar tahun 1571), sedangkan cara ini sudah dipakai dalam Perjanjian Lama edisi Latin (sekitar 1555).

Perubahan nasib dalam sejarah dan politik yang dialami bangsa Israel mengharuskan penerjemahan Alkitab Ibrani ke dalam bahasa- bahasa lain. Beberapa versi kuno ini masih tersedia dalam bentuk manuskrip dan dianggap sebagai saksi-saksi penting sehubungan dengan teks Perjanjian Lama Ibrani. Versi yang lebih penting lagi termasuk Pentateukh versi Samaria (Alkitab orang Samaria yang tanggalnya ditentukan sekitar abad keempat atau kelima SM), Targum versi Aram (saduran pra-Kristen dari Perjanjian Lama dalam bahasa Aram, bahasa pergaulan dari zaman Babilonia dan awal zaman Persia, bdg. Neh. 8:8). Septuaginta Yunani (hasil tambahan dari dampak Helenisme pada bangsa Yahudi, sekitar tahun 250 SM), Vulgata Latin dari Hieronimus (382-405 TM) dan Pesyita Siria (sekitar tahun 400 Tm).

Kritik Teks

Penyalinan dan penerjemahan Perjanjian Lama Ibrani selama berabad-abad telah melipatgandakan jumlah naskah yang tersedia sehingga terdapat beribu-ribu salinan yang masih ada dalam bahasa yang berbeda-beda dari berbgai periode. Dengan sendirinya proses penyalinan yang terus dilakukan dengan tangan menyebabkan terjadinya berbagai kekeliruan transmisi. Kekeliruan-kekeliruan dari penglihatan, pendengaran, tulisan, daya ingat dan penilaian manusia ini disebut sebagai varian (ejaan atau bunyi yang berbeda-beda dari kata yang sama) atau bacaan yang berbeda dari teks.

Kritik teks, atau kritik rendah terhadap penulisan Alkitab adalah ilmu pengetahuan perbandingan naskah. Tujuan penelitian naskah adalah menetapkan atau memulihkan teks tertulis Perjanjian Lama sedapat mungkin kepada bacaannya yang asli. Praktik atau metodologi penelitian naskah termasuk mengumpulkan, menyortir, dan mengevaluasi bacaan- bacaan yang berbeda-beda dari ayat atau bagian tertentu di Alkitab, kemudian dilanjutkan dengan menilai bukti naskah itu untuk memilih bacaan yang paling cocok dari teks yang diteliti atas dasar data yang tersedia (bdg. catatan tepi dalam Alkitab bahasa Inggris modern di 1Samuel 13:1, di mana penelitian naskah digunakan untuk memperbaiki angka yang menunjukkan lama pemerintahan Raja Saul).

Sepatah kata peringatan diperlukan di sini, agar kita tidak disesatkan oleh orang-orang yang menekankan berbagai varian dalam naskah-naskah Perjanjian Lama sebagai bukti yang menentang integritas dan kebenaran Alkitab. Mengingat usianya yang sudah berabad-abad, Perjanjian lama sebenarnya berada dalam keadaan terpelihara yang sangat baik. Hal ini antara lain disebabkan oleh prosedur penyalinan yang cermat sekali dari para ahli kitab Ibrani dan Kristen, penyaluran naskah-naskah Alkitab ke mana-mana sejak awal, dan sikap hormat dan komitmen terhadap Alkitab sebagai "Firman Allah yang diilhami" baik oleh orang Ibrani maupun orang Kristen selama berabad-abad. Yang sama pentingnya adalah pekerjaan Roh Kudus, yang mengilhami penulis manusia, menerangi para pembacanya, dan menjadi pengawas dalam proses kanonisasi.

Taxonomy upgrade extras: 

PPL-Referensi 05b

Nama Kursus : Pengantar Perjanjian Lama
Nama Pelajaran : Kanon Alkitab Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : PPL-R05b

Referensi PPL-R05b kami ambil dari:

Judul Buku : Mari Mengenal Perjanjian Lama
Judul Artikel : Susunan Perjajian Lama (Kanon)
Penulis/Editor : Dr. David Baker
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta 1997
Halaman : 15 - 20

REFERENSI PELAJARAN 05b - SUSUNAN PERJANJIAN LAMA (KANON

Dalam mempelajari setiap buku, sangat penting kita mengetahui susunan isinya. Demikian juga untuk Alkitab, dan dalam hal ini perlu diketahui suatu istilah, yaitu "kanon", yang berarti "susunan kitab- kitab Alkitab" atau "daftar isi Alkitab". Ada dua kanon Perjanjian Lama yang penting, yakni "Kanon Ibrani" dan "Kanon Yunani". Isinya sebenarnya sama, hanya susunan kitab-kitabnya yang berbeda.

Kanon Ibrani ialah daftar isi yang berlaku untuk Alkitab dalam bahasa Ibrani. Kanon Ibrani itu terdiri dari 24 kitab, yang dibagi atas tiga kelompok sebagai berikut:

KANON IBRANI = SUSUNAN ALKITAB BAHASA IBRANI

1. TAURAT
(bahasa Ibrani: tora) 1. Kejadian
2. Keluaran
3. Imamat
4. Bilangan
5. Ulangan

2. NABI-NABI (a) Nabi-nabi yang dahulu
(bahasa Ibrani: nevi'im) 6. Yosua
7. Hakim-hakim
8. Samuel
9. Raja-raja

  (b) Nabi-nabi yang kemudian
  10. Yesaya
11. Yeremia
12. Yehezkiel
13. 12 nabi

3. KITAB-KITAB
(bahasa Ibrani: ketuvim) 14. Mazmur
15. Amsal
16. Ayub
17. Kidung Agung
18. Rut
19. Ratapan
20. Pengkhotbah
21. Ester
22. Daniel
23. Ezra-Nehemia
24. Tawarikh

Yesus menyebut ketiga bagian kanon Ibrani dalam Lukas 24:44 (bagian ketiga disebut "Mazmur", sesuai dengan nama kitab yang pertama dan terpenting dalam bagian itu). Dalam Matius 23:35 Dia menyebut dua pembunuhan, yaitu yang pertama dan yang terakhir dilaporkan dalam kanon Ibrani (Kej 4:8; 2Taw 24:20-21). Agaknya Yesus membaca Alkitab dalam bahasa Ibrani dan mengenal Kanon Ibrani, sebagaimana biasa di antara orang-orang Yahudi di Palestina pada zaman itu.

Kanon Yunani berlaku untuk Alkitab berbahasa Yunani dan juga dipakai untuk Alkitab dalam bahasa Indonesia. Dalam Kanon Yunani beberapa kitab yang terdiri dari lebih dari satu bagian dihitung sesuai dengan jumlah bagian tersebut, misalnya Kitab Samuel menjadi 39, yang dibagi atas empat kelompok sebagai berikut:

KANON YUNANI = SUSUNAN ALKITAB BAHASA YUNANI/INDONESIA

1. TAURAT 1. Kejadian
2. Keluaran
3. Imamat
4. Bilangan
5. Ulangan

2. SEJARAH (a) Sejarah yang pertama
  6. Yosua
7. Hakim-hakim
8. Rut
9. 1Samuel
10. 2Samuel
11. 1Raja-raja
12. 2Raja-raja

(b) Sejarah yang kedua
13. 1Tawarikh
14. 2Tawarikh
15. Ezra
16. Nehemia
17. Ester

3. SASTRA 18. Ayub
19. Mazmur
20. Amsal
21. Pengkhotbah
22. Kidung Agung

4. NUBUAT (a) Kitab-kitab nabi besar
23. Yesaya
24. Yeremia
25. Ratapan
26. Yehezkiel
27. Daniel

(b) Kitab-kitab nabi kecil 28. Hosea
29. Yoel
30. Amos
31. Obaja
32. Yunus
33. Mikha
34. Nahum
35. Habakuk
36. Zefanya
37. Hagai
38. Zakaria
39. Maleakhi

Kalau kita membandingkan Kanon Ibrani dengan Kanon Yunani, ternyata bahwa urutan kitab-kitab adalah sama dalam kedua kanon untuk kelompok kitab yang merupakan dasar Perjanjian Lama, yakni "Taurat". Kitab- kitab yang lain disusun menjadi tiga kelompok, sesuai dengan jenis masing-masing kitab, yaitu sejarah, sastra dan nubuat. "Nabi-nabi yang dahulu" sebenarnya mengandung lebih banyak sejarah daripada nubuat, maka digolongkan sebagai sejarah. Sedangkan "Nabi-nabi yang kemudian" kebanyakan terdiri dari nubuat-nubuat dan digolongkan dalam bagian terakhir sebagai nubuat. Kelompok "Kitab-kitab" dibagi dalam kanon Yunani menurut jenis masing-masing: Rut, Ester, Ezra-Nehemia dan Tawarikh berjenis sejarah; Mazmur, Amsal, Ayub, Kidung Agung dan Pengkhotbah dikumpulkan sebagai tulisan-tulisan sastra; dan Ratapan serta Daniel digolongkan sebagai kitab nubuat.

Kanon Yunanilah yang dikenal oleh orang Kristen pada umumnya, karena diikuti oleh Alkitab dalam bahasa Latin, Inggris, Indonesia dan hampir semua terjemahan Kristen. Oleh karena itu maka kanon Yunani yang menjadi dasar buku pengantar ini.

Perjanjian Lama boleh dilukisan sebagai suatu perpustakaan kecil, yang terdiri dari 39 kitab pada 6 rak, sesuai dengan pembagian kanon Yunani, sebagaimana nampak dalam gambar berikut ini:

TAURAT SEJARAH I SEJARAH II SASTRA NABI-NABI BESAR NABI-NABI KECIL
KEL
KEJ
IM
BIL
UL
YOS
HAK
RUT
1SAM
2SAM
1RAJ
2RAJ
1TAW
2TAW
EZR
NEH
EST
AYB
MZM
AMS
PKH
KID
YES
YER
RAT
YEH
DAN
HOS
YL
OB
YUN
MI
NAH
HAB
ZEF
HAG
ZA
MAL

1.4 Kitab-kitab Apokrifa/Deuterokanonika

Kitab-kitab Perjanjian Lama yang disebut di atas adalah kitab-kitab yang diterima oleh gereja-gereja Protestan (Reformasi). Perlu diketahui bahwa ada juga beberapa tulisan yang diterima oleh gereja Katolik Romawi dan termuat dalam Alkitab terbitan pihak Katolik dan dalam beberapa Alkitab terbitan ekumenis, yaitu:

  • riwayat Tobit;
  • riwayat yudit;
  • Kitab I dan II Makabe;
  • Kebijaksanaan Salomo;
  • hikmat Yesus bin Sirakh;
  • Kitab Barukh serta Surat Yeremia;
  • tambahan-tambahan pada Kitab Ester dan Daniel.

Tulisan-tulisan tersebut dinamakan "Apokrifa" ('tersembunyi') atau "Deuterokanonika" ('kanon yang kedua').

Pada umumnya kitab-kitab Apokrifa/Deuterokanonika dikarang sesudah Perjanjian Lama yang lain, dan sebagian dikarang dalam bahasa Yunani, sehingga tidak termuat dalam Alkitab bahasa Ibrani. Sewaktu Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta) maka kitab-kitab tersebut diikutsertakan, ditambah juga dengan beberapa tulisan lainnya.

Agama Yahudi dan gereja-gereja Prostestan hanya menerima kitab-kitab dari Perjanjian Lama Ibrani sebagai firman Allah, sedangkan gereja Katolik Romawi menerima juga beberapa kitab dari Septuaginta. Akibatnya, kitab-kitab Aprokifa/Deuterokanonika dianggap sebagai buku bacaan saja oleh gereja Protestan; sedangkan oleh gereja Katolik Romawi diakui sebagai kitab suci.

Taxonomy upgrade extras: 

PPL-Referensi 01a

Nama Kursus : Pengantar Perjanjian Lama
Nama Pelajaran : Pentingnya Mempelajari Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : PPL-R01a

Referensi PPL-R01a diambil dari:

Judul Buku : Survei Perjanjian Lama
Judul Artikel : Pendekatan Kepada Perjanjian Lama
Penulis : Andrew Hill, dkk.
Penerbit : Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1991
Halaman : 3 - 8

REFERENSI PELAJARAN 01a - PENDEKATAN KEPADA PERJANJIAN LAMA

Mempelajari Perjanjian Lama adalah tugas yang amat besar, tetapi persiapan yang tepat dapat menolong mahasiswa untuk menuai panen yang melimpah. Allah yang berdaulat yang menciptakan alam semesta, yang mengawasi sejarah, dan yang akan menyelesaikan rencanaNya tepat pada waktu yang sudah ditetapkanNya yang telah memutuskan untuk berbicara. Hal itu sendiri telah merupakan tindakan anugerah, dan kita berkewajiban untuk mendengarkan. Walaupun demikian, mendengarkan dapat terhalang oleh banyak faktor yang menyulitkan. Pertama, wahyu atau penyataan Allah tidak disampaikan dalam bahasa atau kebudayaan kita. Sebagai akibatnya, kita barangkali harus bekerja lebih keras untuk dapat menerima berita yang disampaikan dengan jelas. Semakin paham para mahasiswa akan kebudayaan Timur Dekat purba, khususnya kebudayaan Israel, selama zaman Perjanjian Lama, semakin mampulah mereka menyingkirkan penghalang-penghalang yang ada.

Faktor kedua yang mempersulit adalah bahwa kendati kita mendengarkan, kita cenderung untuk memilih-milih apa yang kita dengar atau mencoba untuk menyesuaikan berita itu dengan apa yang kita ingin dengar. Jalan keluar untuk ini adalah dengan mengizinkan Alkitab berbicara sendiri. Kita semua mempunyai berbagai praduga tentang Alkitab. Praduga-praduga ini perlu dievaluasi terus-menerus dan disaring agar jangan sampai memutarbalikkan ajaran Alkitab. Tujuan para penulis Alkitab tidak boleh ditempatkan lebih rendah terhadap maksud tujuan kita sendiri, betapapun berguna maksud tujuan kita itu. Banyak hal yang sangat berharga dapat dipelajari dari Perjanjian Lama, tetapi tidak semuanya itu hendak diajarkan oleh Perjanjian Lama. Jika para mahasiswa berkeinginan untuk memeproleh pengajaran yang absah dari teks Perjanjian lama, maka harus belajar untuk menambah ide-ide mereka sendiri pada teks tersebut. Apabila Alkitab diizinkan untuk berbicara dari ketinggiannya sendiri dan menurut agendanya sendiri, pembaca akan dapat menjadi lebih terbuka untuk memepelajari apa yang hendak diajarkan oleh Alkitab.

PENYATAAN DIRI

Sebagai penyataan diri Allah sasaran Perjanjian Lama adalah agar pembaca akan mengenal Allah dengan lebih baik. Namun, proses ini tidak dimaksudkan untuk sekedar mengetahui bahwa Allah ada. Sebaliknya pengenalan akan Allah ini tercapai dengan cara mengalami sifat- sifatNya. Mampu mencatat semua sifat Allah tidak penting. Yang harus kita capai adalah bahwa sifat-sifatNya itu menjadi kerangka dari pandangan hidup kita. Yang kami maksudkan dengan ini adalah bahwa pandangan kita terhadap diri sendiri, masyarakat kita, dunia kita, sejarah kita, perilaku kita, keputusan-keputusan kita - segala sesuatu - harus disatukan dengan pandangan yang jelas dan terpadu tentang Allah. Sasaran Perjanjian Lama bukanlah kehidupan yang diubah, kendatipun pengenalan akan Allah sudah seharusnya mengubah kehidupan seseorang. Sasaran Perjanjian Lama bukanlah menyetujui suatu sistem nilai, kendatipun suatu sistem nilai tentu saja akan merupakan akibat dari mengenal Allah dengan sungguh-sungguh. Perjanjian Lama bukanlah tempat penyimpan berbagai model peran historis, kidung-kidung yang berdebu, dan perkataan nubuat yang tidak jelas, tetapi merupakan ajakan Allah untuk mendengarkan kisahNya.

Kisah Allah ini diawali dengan penciptaan. Akan tetapi, yang ditegaskan bukanlah bagaimana dunia mulai, tetapi bagaimana rencana itu dimulai. Segala sesuatunya sudah tepat untuk pelaksanaan rencana Allah. Dalam pengertian itu, penciptaan hanya merupakan pendahuluan dari sejarah. Kedaulatan Allah pada awalnya dijamin oleh kenyataan bahwa Ia menciptakan. Meskipun kenyataan ini mau tidak mau menyangkal kedaulatan ilah-ilah lain, maksud tujuannya bukanlah membuka polemik melawan politeisme kafir pada zaman itu. Tetapi daripada mengadakan pendekatan negatif yang mencela dan membuktikan ketidakbenaran ilah- ilah lain, Perjanjian Lama mengadakan pendekatan positif dengan memberitahukan seperti apa Allah yang esa dan benar itu dan apa yang sudah dikerjakanNya.

Sewaktu sejarah mulai, akan terlihat bahwa Perjanjian lama tidak memberikan perhatian utama pada aspek-aspek politik dan sosial dari sejarah. Yang terutama diperhatikan dari sejarah ini adalah bagaimana Allah sudah menyatakan diriNya kepada orang-orang pada masa lalu. Hal ini dicerminkan dalam nama-nama Allah yang memenuhi halaman-halaman Perjanjian lama. Nama-nama ini menggambarkan Dia sebagai Allah ayng kudus, mahakuasa, mahatinggi, dan yang menyebabkan terjadinya segala sesuatu. Akan tetapi, Ia juga adalah Allah yang mendengar, melihat, dan menyediakan. Pembrontakan dan kelemahan yang biasa terdapat pada umat manusia menunjukkan Dia sebagai Allah yang penuh kesabaran dan kasih karunia.

Sebagaimana halnya penciptaan memasuki sejarah, demikian juga sejarah memasuki nubuat. Rencana Allah diawali pada permulaan, dijalankan sepanjang sejarah, dan akan terus berlangsung sampai semua tercapai. Dengan melihat rencana Allah dijalankan pada masa lalu (Pentateukh dan kitab-kitab sejarah dan dimaksudkan untuk masa depan kitab-kitab para nabi), kita mulai menghargai hikmat yang tidak terduga dari Allah yang layak dipuji dan disembah (Mazmur-mazmur dan sastra hikmat). Dengan demikian, Perjanjian Lama harus dilihat sebagai penyajian sifat-sifat Allah dalam perbuatan. Kita dapat mengetahui siapa Allah itu dan seperti apa Dia dengan jalan mendengar apa yang sudah ada yang akan dilakukanNya. Sesudah kita mengethui siapa Dia itu, dan seperti apa Dia, maka tanggapan yang selayaknya adalah penyembahan, komitmen, dan pelayanan.

PERJANJIAN ALLAH

Di bagian inti dari penyataan-diri ini, yang menggambarkan rencana Allah, terdapat perjanjian Allah (covenant). Bahkan nama "Perjanjian Lama" menunjukkan bahwa covenant itu merupakan konsep inti dari kumpulan kitab-kitab ini. Melalui covenant atau perjanjian ini Allah menyatakna seperti apa Dia dan mengharuskan diriNya untuk menuruti kelakukan tertentu. KesetiaanNya (hesed) pada covenant itu sering kali menyebakan Dia melakukan tindakan kasih karunia dan kemurahan, namun keadilan juga tercakup dalam covenant untuk memastikan pemberian pertanggungjawaban oleh umatNya. Karena covenant itu merupakan sarana yang digunakan Allah untuk mengadakan penyataan diri, Perjanjian Lama sering kali tampil sebagai sejarah covenant, atau dari berbagai aspeknya, lebih dari sekedar sejarah Israel. Jadi kitab Kejadian 12-50 adalah sejarah pengadaan perjanjian Abraham (atau Abrahamic Covenant). Kitab Keluaran sampai dengan kitab Ulangan adalah sejarah mengenai penetapan perjanjian di Sinai. Kitab Yosua adalah catatan mengenai kesetiaan Allah terhadap perjanjian itu, sedangkan kitab Hakim-hakim adalah catatan mengenai ketidak-setiaan Israel terhadap perjanjian tsb. Kitab Samuel dan Raja-raja adalah sejarah perjanjian kerajaan (Perjanjian Daud atau Davidic Covenant). Perjanjian itu sebagai rencana Allah terlihat dengan lebih jelas daripada orang-orang yang terlibat dari generasi ke generasi.

Beberapa pendekatan yang berbeda-beda terhadap Perjanjian Lama dapat dibedakan satu daripada yang lain melalui paham setiap pendekatan itu mengenai gagasan perjanjian dan kaitan berbagai perjanjian itu terhadap satu sama lain. Adakah banyak perjanjian yang berbeda-beda yang terlepas dari yang lain mengatur berbagai periode sejarah, ataukah hanya ada satu atau dua perjanjian yang mengatur yang memiliki beberapa perjanjian tambahan lainnya yang menawarkan perluasan dan penjelasan? Adakah satu perjanjian yang tidak bersyarat yang terdiri atas beberapa perjanjian bersyarat sebagai bagian pelangkapnya, ataukah keseluruhannya merupakan perjanjian bersyarat?

Pertanyaan-pertanyaan ini yang dijawab dalam berbagai cara oleh para sarjana yang berbeda-beda, menjelaskan berbagai kontroversi teologis tentang Perjanjian Lama, hubungannya dengan Perjanjian Baru dan keterkaitannya dengan kita dewasa ini. Namun jawaban-jawaban yang diberikan untuk pertanyaan-pertanyaan ini tidak mengubah citra Allah yang diberikan oleh perjanjian itu. Hanya bentuk teologinyalah yang dipertaruhkan dalam persoalan ini, dan bukan sifat Allah sebagaimana Ia dinyatakan dalam Perjanjian Lama. Bahkan, jika seandainya pun ada yang cenderung untuk membuat garis-garis pemisah yang jelas di antara perjanjian-perjanjian itu, kesatuan organik dari perjanjian- perjanjian tersebut tidak boleh diabaikan.

Ciri kesatuan organik inilah yang menolong kita untuk melihat rencana Allah sebagai suatu wujud yang konsisten dan menyatu. Dalam pandangan ini, perjanjian dengan Abraham menetapkan Israel sebagai umat Allah "yang menyatakan Allah" maksudnya melalui umat Israel Allah berkenan menyatakan diriNya kepada dunia. Taurat yang diberikan di Sinai merupakan satu bagian utama dari penyataan yang akan diberikan oleh perjanjian yang ditetapkan sebagai sasarannya. Pada waktu yang sama, kitab Imamat, Ulangan, dan Yosua berisi pembaharuan perjanjian yang memperkuat persetujuan itu. Perjanjian Daud (Davidic Covenant) menggenapi beberapa dari janji-janji mula-mula Allah kepada Abraham (misalnya, raja-raja akan berasal dari dia) dan pada waktu yang sama memperluas persetujuan itu untuk mencakup suatu garis keturunan dinasti. Para nabi berbicara tentang perjanjian yang akan datang (bandingkan Yesaya 61:8; Yeremia 31:31-34; Yehezkiel 16:60-63; 34:25- 30; 37:19-28; Hosea 2:18:20), dan semua ini biasanya berhubungan dengan penggenapan yang akan datang dari aspek-aspek perjanjian terdahulu yang sama sekali tidak terwujud karena kegagalan umat Israel.

OTORITAS

Kendatipun tidaklah salah untuk mempelajari Alkitab dari perspektif sastra dan menghargai sebagai karya sastra yang agung, kita tidak dapat berhenti di situ. Jika Alkitab hendak dikenal sebagai penyataan diri Allah, maka Alkitab harus dipandang sebagai karya yang tidak sekedar mengetengahkan pandangan-pandangan umat yang saleh. Dengan kata lain, jika Allah tidak dipahami sebagai sumber Perjanjian Lama, maka Perjanjian Lama itu bukan penyataan-diri Allah. Jika Allah adalah sumber Perjanjian Lama, maka dapat dimengerti bahwa Perjanjian Lama memiliki otoritas. Kita menelaah Alkitab karena kita berharap akan memperoleh firman yang memiliki otoritas dari Allah, bukan berbagai pendapat yang subjektif dari manusia, betapapun berharga atau benar pendapat-pendapat tersebut. Otoritaslah yang menjadikan Perjanjian Lama lebih dari sekedar sastra yang bagus. Oleh karena itu Perjanjian Baru mengacu kepada Perjanjian Lama sebagai tulisan yang dinapaskan Allah, atau "diilhami". Pengilhaman adalah sifat yang menunjukkan Allah sebagai sumber dan menjamin bahwa karya tulisan yang dihasilkan memiliki otoritas (II Timotius 3:16).

Maka dapat dimengerti bahwa jika kita mengharapkan Alkitab berisi penyataan yang berkuasa dan absah dari Allah maka otoritas tersebut harus terdapat dalam apa yang hendak dikomunikasikan oleh Alkitab, bukan dalam apa yang pembaca ingin dengar. Dalam hal ini pun Alkitab berbeda dari kepustakaan yang lain. Bila kita membaca sebuah novel atau syair, daya atau kekuatan buku atau tulisan itu dapat diukur melalui kemampuannya untuk membangkitkan tanggapan dari pembaca dan memadu hal itu dengan gagasan dari pengarangnya untuk menciptakan dan menciptakan kembali "berbagai arti" baru setiap kali buku itu dibaca. Dalam cara ini sebuah syair dapat berarti satu hal bagi seorang pembaca, sedangkan bagi pembaca lain syair tersebut mempunyai makna yang lain sama sekali. Kendatipun dinamika seperti ini dapat merupakan hasil dari proses penerapan ketika membaca Perjanjian Lama, kenyataan bahwa firman tertulis itu memiliki otoritas sedangkan tanggapan pembaca tidak, hendaknya menjadi peringatan agar kita tidak dapat merasa pias dengan mempelajari pelajaran-pelajaran kita sendiri dari Alkitab, betapa pun bernilainya pelajaran-pelajaran tersebut. Kita harus berusaha untuk menemukan apa yang hendak dikumunikasikan oleh penulis, karena disitulah terkandung otoritas.

Apakah implikasi-implikasi dari otoritas yang dimiliki oleh teks? Yang pertama adalah bahwa kita menerima apa yang dikatakan teks sebagai kebenaran. Jika Allah tidak pernah mengadakan perjanjian dengan Abraham atau tidak pernah berfirman kepada Musa di Sinai; jika penaklukkan negeri perjanjian hanya sekedar suatu polemik khayal bagi Israel untuk memebela ekspansi wilayahnya; jika perjanjian Daud tidak lebih dari suatu siasat politik yang dilakukan oleh orang-orang Daud untuk menyatakan bahwa Allah membenarkan keberlangsungan dinasti mereka, maka Alkitab bukanlah penyataan-diri Allah, melainkan sekedar propaganda dan tidak ada sangkut paut sama sekali dengan kita. Jika ada pengertian meskipun sedikit, yang menunjukkan bahwa Alkitab adalah firman Allah, maka Alkitab harus diterima sebagai kebenaran.

Implikasi kedua adalah bahwa kita perlu menanggapinya. Jika Alkitab benar-benar pernyataan-diri Allah yang berwenang, maka kita tidak boleh mengabaikannya ataupun tidak mengambil peduli. Allah tidak hanya menghendaki penyembahan, tetapi juga ketaatan, keadilan, kesetiaan, kekudusan, kebenaran, dan kasih. Singkatnya, Ia ingin agar kita menjadi seperti Dia - itulah salah satu alasan Ia menyatakan diri sebagaimana adanya itu.

Taxonomy upgrade extras: 

PPL-Referensi 03a

Nama Kursus : Pengantar Perjanjian Lama
Nama Pelajaran : Sejarah Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : PPL-R03a

Referensi PPL-R03a diambil dari:

Judul Buku : Survei Perjanjian Lama
Judul Artikel : Tinjauan Sejarah Perjanjian Lama
Penulis : Andrew E. Hill & John H. Walton
Penerbit : Penerbit Gandum Mas, 1991
Halaman : 41--43, 52--56

REFERENSI PELAJARAN 03a - TINJAUAN SEJARAH PERJANJIAN LAMA

Kronologi

Sepatah kata tentang kronologi perlu untuk suatu tinjauan sejarah masa Perjanjian Lama. Para pembaca barangkali bertanya-tanya bagaimana tanggal-tanggal dapat ditetapkan untuk semua peristiwa dan tokoh dari sejarah dahulu kala bilamana catatan-catatan, paling banter, hanya mengetengahkan sebuah ungkapan seperti "Dalam tahun ketiga pemerintahan raja X." Ada banyak sumber dari Israel dan Timur Dekat Kuno yang memberikan kronologi yang relatif (tahun ketiga seorang raja anu adalah tahun pertama raja yang lain), dan dari data tersebut maka suatu kerangka yang berkenaan dengan berbagai orang dan peristiwa dapat disusun. Untuk menetapkan suatu kronologi yang pasti (raja mulai pemerintahannya pada thun 465 SM), suatu waktu yang pasti harus ditentukan yang dapat dikaitkan dengan jaringan kronologi yang relatif itu.

Untuk Timur Dekat Kuno, waktu yang pasti ini disediakan oleh daftar Eponim dari Asyur. Daftar Eponim setiap tahunnya mencatat pejabat tertentu yang mendapatkan penghargaan dengan menamai tahun itu menurut nama pejabat tersebut. Dalam daftar tersebut namanya dicatat bersama-sama dengan satu atau dua peristiwa yang paling penting dari tahun"nya", biasanya aksi militer. Secara kebetulan, dalam tahun Ishdi- Sagale, gubernur Guzana, daftarnya melaporkan terjadinya gerhana matahari. Para ahli astronomi dapat menghitung kapan gerhana matahari terjadi, oleh karena itu tahun Ishdi-Sagale dapat ditentukan dengan pasti sebagai tahun 763 SM. Ini merupakan tautan utama untuk kronologi yang pasti dari Timur Dekat Kuno, dan hal itu tidak ditentang. Sebagai akibatnya, dapat dipastikan bahwa daftar Eponim meliputi tahun 893-666 SM. Karena setiap raja Asyur selama masa ini (sudah dapat dikethaui termasuk diantara orang-orang yang dihormati, maka tanggal-tanggal kerajaan Asyur dapat ditetapkan untuk masa yang lebih dari dua abad itu. Ini adalah zaman Kerajaan Neo-Asyur, jadi semua peristiwa dari kebanyakan bangsa Timur Dekat Kuno disinkronisasikan dengan Asyur pada waktu itu. Dengan demikian Asyur sudah menjadi dasar untuk kronologi Timur Dekat Kuno.

Akan tetapi, kita tidak boleh menganggap bahwa dengan demikian semua persoalan kronologis terpecahkan. Seringkali data yang bertentangan dengan skema kronologi relatif yang memperkenalkan ketidakpastian untuk penentuan tanggal yang pasti. Dalam kesempatan lain berbagai peristiwa atau tokoh tidak berhubungan dalam materi naskah dengan jaringan kronologi relatif - misalnya kelalaian kitab Keluaran untuk menyebutkan nama firaun yang memerintah waktu itu. Persoalan-persoalan lain lagi terjadi manakala sumber-sumber kuno tidak mencatat secara memadai kerumitan dari suatu keadaan - misalnya berbagai kesenjangan dalam kronologi, pemerintahan oleh seorang wali dinasti atau penguasa yang memerintah dalam waktu yang bersamaan dengan dinasti atau penguasa lain dalam negara yang sama.

Yang terakhir, beberapa sumber menyediakan informasi mengenai jangka waktu yang lebih panjang. Misalnya, dalam catatan Tiglat-Pileser I dari Asyur dinyatakan bahwa bait suci yang dibangun oleh Shamshi-Adad I sudah mau runtuh dalam waktu lebih dari 641 tahun; dalam doa Salomo yang tercatat di I Raja-raja 6:1 dinyatakan bahwa 480 tahun sudah berlalu antara peristiwa Keluaran dan Penahbisan bait Allah oleh Salomon. Fakta-fakta ini dapat menimbulkan berbagai masalah jika tidak bertautan dengan informasi yang disediakan oleh jaringan kronologi relatif.

Akibatnya ialah bahwa masih ada banyak ketidakpastian tentang kronologi yang tepat. Dalam hal raja-raja Israel dan Yehuda, ketidakpastian itu biasanya hanya sekitar satu atau paling banyak dua tahun, walaupun kadang-kadang sebanyak dua belas tahun membedakan teori yang satu dari yang lain. Semakin jauh seseorang kembali ke dalam sejarah, semakin banyaklah ketidakpastian yang terjadi. Peristiwa paling awal dari Perjanjian Lama yang dapat disinkronkan 2dengan seseorang yang dikenal dari catatan Timur Dekat Kuno adalah serangan yang dilakukan oleh Sisak (Sheshonk I), raja Mesir, terhadap Yerusalem pada tahun kelima masa pemerintahan Rehabeam (925 SM, I Raja-raja 14:25-26). Dengan demikian, maka masa hakim-hakim dan oleh karena itu masa para bapa leluhur, tetap terselubung dalam misteri kronologis dan karenanya dijadikan sasaran dari banyak penetapan yang spekulatif.

Beberapa orang percaya bahwa Alkitab menyediakan kunci untuk menguak misteri-misteri kronologis. Teks yang kami kutip dalam I Raja-raja 6:1 tampaknya menentukan tanggal terjadinya peristiwa Keluaran pada tahun 1446 SM, sedangkan Keluaran 12:40 menunjukkan bahwa Israel tinggal di Mesir selama 430 tahun. Berdasarkan data ini, Yakub dan keluarganya pindah ke Mesir pada tahun 1876 SM, dan dengan demikian usia yang diberikan untuk para patriarkh akan menghasilkan suatu tabel kronologis yang mundur sampai Abraham. Akan tetapi, ahli-ahli yang lain tidak dapat menerima sistem ini, karena mereka berpendapat bahwa hal itu bertentangan dengan informasi arkheologis yang sudah tersedia selama satu abad yang terakhir. Jadi, angka-angka dalam I Raja-raja dan Keluaran kadang-kadang dianggap sebagai perkiraan atau diartikan dalam cara-cara yang tidak harfiah, dan kronologi masih tetap menimbulkan pertentangan.

IMPERIUM DAUD DAN SALOMO (1000-900)

Zaman Besi II berlangsung dari tahun 1000 sampai 586 SM, tetapi adalah lebih baik untuk meliput masa sejarah ini dalam bagian-bagian yang lebih singkat. menjelang akhir masa hakim-hakim orang Filistin telah ditahan oleh kegiatan-kegiatan Simson, kendatipun mereka menguasai Yehuda (Hakim-Hakim 15:11). Selama masa Samuel mereka menduduki daerah perbukitan dan menghancurkan Silo (I Samuel 4), tetapi kemudian dapat dipukul mundur (I Samuel 7) Saul berhasil memelihara keseimbangan hampir sepanjang pemerintahannya, tetapi sesudah pertempuran di Gunung Gilboa (di mana Saul terbunuh), orang Filistin menduduki bagian terbesar dari wilayah Kanaan Tengah.

Ketika Daud naik takhta, salah satu tugas pertamanya ialah merebut kembali kekuasaan atas daerah Israel. Hal ini dilaksanakannya dari Yerusalem, kubu pertahanan yang barn direbutnya. Sesudah orang Filistin ditaklukkan, keberhasilan militer Daud diteruskan dengan menaklukkan hampir seluruh daerah Siro-Palestina pada akhirnya. Beberapa negara dicaplok, yang kemudian diperintah oleh gubemur militer menggantikan raja-raja yang asli (misalnya, Amon); negara-negara lainnya ditaklukkan tetapi memerintah di bawah Israel (misalnya, Moab); beberapa negara yang lain membayar upeti dan menjadi daerah penduduk pasukan-pasukan Israel (misalnya, Aram-Damsyik, Edom); dan negara-negara yang lain lagi secara sukarela takluk (misalnya, Hamat).

Sebagai akibat dari keberhasilan Daud, Salomo mewarisi kerajaan yang membentang dari sungai Efrat di utara sampai ke Mesir di selatan. Bahkan Mesir mengadakan persekutuan melalui hubungan perkawinan dengan dia (putri Firaun menjadi anggota harem Salomo) ketika ia membangun .angkatan laut dan memperluas perdagangannya sampai daerah-daerah yang jauh di Laut Tengah dan ke selatan di sepanjang pesisir Laut Merah. Sekalipun keberhasilannya di bidang ekonomi, kemampuan militer Salomo tidak menandingi kemampuan ayahnya. Kendatipun ia membangun benteng sekeliling kota-kota yang strategis seperti Megido, Hazor, dan Geser dan menambah pasukan berkuda dan barisan kereta, sedikit sekali keberhasilan militer yang dicatat untuk Salomo dalam Perjanjian Lama (II Tawarikh 8:3-6). Meskipun hikmatnya diakui di mana-mana dan kemakmuran kerajaannya tidak tertandingi, kerajaan itu mengalami kemunduran di bawah kepemimpinannya dan berada di ambang keruntuhan ketika Rehabeam, putranya, naik takhta menggantikannya. Kurangnya perhatian terhadap kemiliteran dan pembebanan pajak yang sangat berat terhadap rakyat tampaknya merupakan kesalahan politik Salomo yang paling jelas, dan para penglis kitab Raja-Raja dan Tawarikh juga menunjukkan kegagalan rohaninya.

Kekacauan di dalam negeri dan pemberontakan yang tidak dapat dipadamkan di antara negara-negara taklukan menyebabkan Rehabeam hanya menguasai ibu kota dan padang belantara yang terdapat di selatan. Kerajaan itu semakin memburuk beberapa tahun kemudian ketika Shishak (yang dikenal sebagai Sheshonk I dalam catatan orangorang Mesir), firaun Mesir, menyerang Yehuda, merusak banyak kota berkubu dan mendapatkan upeti yang besar karena dalam serangan itu Yerusalem dilewati.

BANGKITNYA ORANG ARAM (950-800)

Bahkan pada waktu salah seorang dari pegawai-pegawai Salomo, Yerobeam, memperoleh kekuasaan atas kerajaan Israel sebelah utara, kendali kekuasaan politik di kawasan itu jatuh ke tangan negara-negara bagian orang Aram dari Siria. Sebagai suatu kaum orang Aram pertama kali disebutkan sebagai orang yang tinggal sepanjang hulu Sungai Efrat menjelang akhir Zaman Perunggu. Segera sesudah serangan Orang-orang Laut, mereka mulai memasuki Siria. Sesudah memperoleh kemerdekaan dari Israel dalam tahun-tahun terakhir pemerintahan Salomo, Damsyik menjadi pusat suatu negara bagian Aram yang bare yang mencapai kesatuan pada pertengahan abad ke-9. Selama sebagian besar abad ke-9 Aram merupakan kekuatan politik yang utama di barat. Aram memimpin negara-negara barat dalam koalisi melawan ancaman Asyur yang sedang berkembang dan banyak kali bermanfaat sebagai tenaga penahan antara orang Asyur dan Israel. Banyak pertempuran juga terjadi antara orang Aram dan kerajaan Israel di utara, dan orang Aram tetap lebih untung secara meyakinkan. Sementara abad ke-9 menjelang akhimya, Hazael, raja Aram, berhasil menyerbu dan menduduki bagian terbesar wilayah Israel.

ANCAMAN PERTAMA DARI ASYUR DAN KEBANGKITAN KEMBALI ISRAEL (850-750)

Hampir bersamaan dengan bangkitnya orang Aram terjadi juga kebangkitan imperialisme Asyur. Kebangkitan ini mulai dalam pemerintahan Asyumasirpal II, yang mengadakan sejumlah aksi militer setiap tahun di sepanjang hulu Sungai Efrat, sambil menteror penduduk setempat dengan politik intimidasi yang kejam. Kebijakan ini dikembangkan menjadi suatu strategi militer yang lebih logis oleh penggantinya, Salmaneser III, yang memusatkan perhatian pada penguasaan bagian hulu Sungai Efrat. Kemudian pada tahun 853 Salmanaser mengarahkan perhatiannya kepada ekspansi ke barat dan mulai mengadakan ekspedisi ke Aram. Di Qarqar daerah sungai Orontes ia berhadapan dengan koalisi negara-negara barat yang bergabung dengan Benhadad, raja Aram, dan Ahab, raja Israel. Kendatipun Salmanaser mengklaim kemenangan, bukti-bukti menunjukkan bahwa koalisi itu berhasil menghalang-halangi usahanya untuk masuk ke kawasan barat.

Israel dan Yehuda terus menghadapi perjuangan sepanjang abad ke9. Di kerajaan utara, Israel, Yerobeam sibuk dengan tugas berat untuk mengadakan reorganisasi agar dapat memperoleh otonomi total dari Yerusalem. la berusaha untuk membawakan dirinya sebagai seorang yang mengadakan perbaikan dan bukan sebagai seorang pembaharu, tetapi dengan melakukan hal itu ia menimbulkan kemarahan orangorang yang setia pada Bait Allah di Yerusalem dan mendatangkan hukuman atas kerajaannya yang dirunut secara sistematis sepanjang kitab Raja-Raja. Putra Yerobeam menggantikan dia, tetapi dibunuh sesudah memerintah dua tahun saja.

Dinasti berikutnya didirikan oleh Baesa, yang menumpas seluruh garis keturunan Yerobeam. Pada saat inilah peningkatan ketegangan antara Israel dan Yehuda membawa orang Aram masuk ke Israel, Keturunan Baesa pun tidak bertahan lama, tetapi diganti oleh wangsa Omri yang berhasil secara politik. Selama keunggulan wangsa Omri ibu kota kerajaan utara dipindahkan ke Samaria. Masa itu merupakan masa kubangan damai dan bahkan meliputi perkawinan dengan keturunan Daud dari Yerusalem. Ahab, putra Omri, menikah dalam persekutuan politik dengan putri raja Tirus, Izebel. Kendatipun secara politik pernikahan ini mendatangkan manfaat, itu terbukti mendatangkan malapetaka bagi Israel karena Izebel dengan segala daya upaya membksakan penyembahan terhadap dewa Baal Melkart, dewa negeri asalnya, kepada penduduk Israel. Pelanggaran yang terangterangan terhadap perjanjian ini dengan giat ditentang oleh nabi Elia dan pada akhirnya mendatangkan protes keras dan reaksi yang tidak menyenangkan dari rakyat yang meruntuhkan keturunan Omri.

Yehu mengadakan pembersihan melalui pertumpahan darah dan juga menata kembali hubungan politik dengan kerajaan-kerajaan asing. Yehu membayar upeti kepada Salmanaser III dan menjalin kerja lama dengan Asyur sebagai kerajaan taklukan. Sementara pengaruh Asyur di barat semakin merosot menjelang akhir abad itu, dinasti Yehu sekali lagi terlibat dalam pertempuran kecil-kecilan dengan orang Aram, dan pada akhir abad itu menjadi negara bagian yang diduduki Aram.

Yehuda mengalami kestabilan lebih banyak hanya karena dinasti yang sama tetap memegang pemerintahan sepanjang abad itu. Namun, keturunan Daud lalai mempertahankan sikap rohani yang patut dicontoh dan tetap terpencil dari politik internasional. Pada paruh pertama abad itu, Asa dan putranya, Yosafat, berusaha untuk mengadakan pembaharuan rohani, tetapi sebagian besar usaha itu tidak terwujud karena persekutuan Yosafat dengan keluarga Ahab, yang menyebabkan dia mengimpor Baalisme di bawah pengaruh Izebel. Selanjutnya, pada waktu Yehu menghancurkan wangsa Omri di utara, Yehuda juga kehilangan seorang raja (Ahazia, cucu Yosafat), dan garis keturunan Daud nyaris musnah. Bayi Yoas diselamatkan dan kembali pada takhta enam tahun kemudian.

Yehuda tidak terlibat dalam konflik baik dengan Aram ataupun Asyur. Jalur lalu lintas perdagangan melewati negara mereka, dan karena itu sedikit sekali artinya bagi penguasa-penguasa asing.

Awal abad ke-8 menyaksikan kemunduran baik Asyur maupun Aram. Asyur disibukkan dengan kesulitan-kesulitan di dalam negeri dan tekanan dari Urartu. Yerobeam II, raja yang paling berhasil dari dinasti Yehu, mendapatkan kembali daerah kekuasaan Israel dari orang Aram dan menjadikan Hama dan Damsyik negeri taklukannya. Sementara itu di selatan, Azaria (Uzia) memungut upeti dari orang Amon dan berhasil mengalahkan orang Filistin dan Arab. Antara Yerobeam II dan Azaria, daerah yang dikuasai oleh mereka hampir sama besar dengan daerah yang dikuasai Daud. Ini merupakan masa kemakmuran bagi Israel dan Yehuda, tetapi keberhasilan militer ternyata membawa kemerosotan moral dan kehancuran rohani. Kemerosotan inilah yang mempersiapkan keadaan bagi pelayanan para nabi, karena kendatipun Israel dan Yehuda itu otonomi dan bebas dari kesukaran, suatu krisis besar berada di hadapan mereka.

Taxonomy upgrade extras: 

PPL-Referensi 03b

Nama Kursus : Pengantar Perjanjian Lama
Nama Pelajaran : Sejarah Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : PPL-R03b

Referensi PPL-R03b diambil dari:

Judul Buku : Pengenalan Perjanjian Lama
Judul Artikel : Sejarah Perjanjian Lama
Penulis : Denis Green
Penerbit : Penerbit Gandum Mas, Malang
Halaman : 5 -- 12

REFERENSI PELAJARAN 03b - SEJARAH PERJAJIAN LAMA

  1. Zaman Dari Adam Sampai Abraham

    Perlu dikatakan terlebih dahulu bahwa keterangan/data-data tentang penentuan waktu dalam zaman ini sangat kurang sekali. Oleh karena itu terdapatlah beberapa pendapat. Ada sarjana-sarjana yang menempatkan Adam antara th. 4000 sampai dengan 5000 B.C. (Sebelum Masehi), dan ada lagi yang memperhatikan bukti ilmiah bahwa sebangsa manusia sudah ada di bumi jauh sebelum itu (misalnya, R.K. Harrison, Introduction to the Old Testament - sekitar 150,000 th. B.C.; sarjana-sarjana lain mengemukakan waktu sampai 500,000 th. B.C.).

    Mengenai hal ini perlu disadari bahwa Alkitab tidak dimaksudkan untuk menjadi suatu catatan kronologis (berturut-turut) yang teliti, mulai dari penciptaan dan seterusnya. Tujuan Alkitab ialah untuk mencatat peristiwa peristiwa penting yang berhubungan dengan tindakan-tindakan Allah terhadap manusia - misalnya penciptaan manusia yang pertama, dan selanjutnya urusan Allah dengan manusia, pertama-tama secara umum/menyeluruh, kemudian melalui satu bangsa, yaitu Israel.

    Pada abad ke-17, Uskup James Ussher di negara Inggris mencoba untuk menentukan waktu penciptaan Adam dengan cara menjumlahkan ke belakang genealogi-genealogi (silsilah) dan data-data kronologis lain yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Dengan demikian dia menentukan th. 4004 B.C. sebagai waktu penciptaan Adam. Akan tetapi dengan perkembangan ilmu arkeologi dalam jaman modern ini, boleh dikatakan bahwa perhitungan Ussher tersebut tidak berlaku lagi. Lebih dari itu, perhitungan Ussher itu didasarkan atas perkiraan bahwa silsilah-silsilah Perjanjian Lama semua lengkap (tidak ada nama-nama yang hilang) dan bahwa jangka-waktu yang tercatat untuk kehidupan setiap nama berturut-turut. Akan tetapi kalau silsilah-silsilah yang terdapat dalam I Tawarikh dibandingkan dengan silsilahsilsilah dalam bagian-bagian Perjanjian Lama yang lain, ternyata kadang kadang tidak cocok, misalnya ada nama-nama yang masuk dalam satu kitab tetapi tidak ada pada kitab yang lain, demikian pula jangka-waktu atau lamanya hidup orang-orang tertentu kadang-kadang berbeda.

    Oleh karena itu kita terpaksa mencari keterangan dari sumber-sumber di luar Alkitab, walaupun ini jugs hanya memungkinkan penentuan waktu yang kira-kira saja. Salah satu usaha ialah untuk menyesuaikan latar belakang historis daripada kejadian-kejadian Perjanjian Lama dengan periode kebudayaan tertentu yang telah ditetapkan oleh para ahli arkeologi daerah Mesopotamia, sebagaimana berikut:

    Sebelum th. 8000 B.C. - Jaman Batu Kuno (Paleolithic Period)
    th. 8000 - 6000 B.C. - Jaman Batu Tengah (Mesolithic Period)
    th. 6000 - 4500 B.C. - Jaman Batu Baru (Neolithic Period)
    th. 4500 - 3000 B.C. - Jaman Tembaga (Chalcolithic Period)
    th. 3200 - 2000 B.C. - Jaman Perunggu Pertama (Early Bronze Age)
    th. 2100 - 1550 B.C. - Jaman Perunggu Tengah (Middle Bronze Age)
    th. 1500 - 1200 B.C. - Jaman Perunggu Terakhir (Late Bronze Age)
    th. 1200 - 300 B.C. - Jaman Besi (Iron Age)

    Kemudian, di antara Periode-periode tersebut di manakah letak peristiwa peristiwa besar yang tercatat dalam Kej. 1-11? Menjawab pertanyaan ini memang tidak mungkin bicara dengan pasti, tetapi ada beberapa komentar yang dapat diberikan, sebagaimana berikut:

    1. Pengusiran Adam dari Taman Eden mungkin merupakan penjelasan ten'ang ledakan peradaban di Mesopotamia, yang kemudian menyebar ke pulau reta di bagian Barat dan Hindia di bagian Timur, akhirnya sampai ke Eropa dan Tiongkok. Sebagaimana diceritakan dalam Kej. 1-3, Allah meletakkan pengetahuan dekat dengan tangan manusia, is merampasnya dan tidak lama lagi peradaban yang pertama muncul.

    2. Telah diakui oleh sarjana-sarjana sekuler bahwa peradaban yang pertama muncul pada Jaman Tembaga, kira-kira th. 4500 B.C., di Sumer. Bandingkanlah keterangan ini dengan Kej. 4:16,17 yang menceritakan pembangunan sebuah kota oleh Kain di tempat bernama Henokh, yang terletak di sebelah Tenggara Eden, yaitu daerah yang diberi nama "Sin ear" (Babel) dalam Alkitab. Kalau begitu, dapat ditafsirkan bahwa penciptaan Adam terjadi kira-kira 100 tahun sebelumnya.

    Jadi, berdasarkan data dan tafsiran di atas, sebagian sarjana mengambil kesimpulan bahwa Adam diciptakan sesudah atau paling lama pada th. 5000 B.C. Namun pendapat ini belum memuaskan bagi banyak sariana lain karena keterangan-keterangan ilmiah yang mengemukakan adanya manusia di pelbagai tempat di dunia jauh sebelum waktu tersebut. Usaha-usaha untuk mencocokkan keterangan Alkitab dengan keterangan ilmiah telah menimbulkan beberapa teori, misalnya:

    1. Di antara Kej. 1:1 dan 1:2 ada selang waktu. Kej. 1:1 menceritakan penciptaan yang pertama, termasuk manusia, dan dunia purba itu berjalan cukup lama untuk meliput: semua periode ilmiah yang sekarang dikemukakan oleh para ahli geolog. Jadi "fossil" (tulang-tulang bekas) baik dari binatang maupun manusia yang ditemukan sekarang berasal dari penciptaan pertama itu, bukan dari penciptaan kedua mulai dari Kej. 1:3. Penciptaan pertama itu dimusnahkan oleh Tuhan karena terjadinya sesuatu hal yang mengharuskannya - biasanya dikemukakan bahwa hal itu ialah pemberontakan Iblis sebagaimana disebutkan dalam Yes. 14:12-15; Yehez. 28:11-19. Kemudian bumi yang telah dikembalikan pada keadaan tanpa bentuk dan kosong, dibentuk dan diisi baru seperti ceritanya Kej. 1:3-31.

    2. Kej. I menceritakan tentang semacam penciptaan umum, termasuk manusia, selama puluhan atau ratusan ribu tahun. Walaupun ada sejenis manusia yang sudah diciptakan dan hidup di bumi, belum tentu bahwa bentuk dan sifatnya persis sama dengan manusia yang diciptakan "menurut gambar dan rupa Allah". Fossil-fossil kuno yang telah ditemukan adalah dari manusia primitif itu, bukan dari keturunan Adam. Kemudian Tuhan menciptakan Adam secara khusus, yaitu menurut gambar dan rupa-Nya sendiri, sebagai makhluk tertinggi dan pusat perhatian-Nya selanjutnya (Kej. 2:8 dst.)

    3. Dalam silsilah kitab Kejadian terdapat lowongan-lowongan ribuan atau puluhanribu tahun lamanya, cukup untuk memungkinkan berlalunya semua periode ilmiah antara peristiwa penciptaan Adam dan peristiwa penting yang berikut, yaitu Air Bah.

    Sampai sekarang sarjana-sarjana belum dapat mencapai suatu konsensus mengenai teori-teori di atas, yang masing-masing juga mempunyai banyak variasi.

    Air Bah (Kej. 6:13 - 9:17)

    Sekali lagi, sukar sekali untuk menentukan waktu terjadinya peristiwa yang hebat ini. Kesimpulan tentang keterangan-keterangan di atas ini tentu saja juga akan mempengaruhi pertimbangan di sini. Jadi, Ussher menentukan terjadinya Air Bah pada th. 2348 B.C., dengan cara menghitung umur para patriarkh dari Adam sampai dengan Nuh (Kej. 5). Lamanya ialah 1656 tahun, yang diambilnya dari tanggal 4004 B.C., dengan hasil 2348 B.C.

    O.T. Allis berpendapat bahwa silsilah yang tercatat dalam kitab Kejadian barangkali kurang lengkap, maka jangka waktu 1656 tahun antara Adam dan Nuh terlalu pendek sekali. Dia lebih cenderung pada teori sarjanasarjana lain bahwa Air Bah terjadi antara th. 5000 - 8000 B.C.

    Zondervan Pictorial Bible Dictionary mendukung waktu kira-kira th. 7000 B.C., tetapi juga menyebutkan beberapa faktor yang menunjuk pada suatu waktu lebih dekat. Walaupun ada lowongan-lowongan di dalam silsilahsilsilah Alkitab, jangka-waktu selama 5000 tahun antara Abraham (kira-kira th. 2000 B.C.) dan Air Bah tidak mudah diterima. Dipandang dari segi lain, hukuman Tuhan atas Babel (Kej. 11) barangkali tidak terjadi lebih dari 1000 tahun sesudah Air Bah, sebab rupanya pada waktu itu manusia masih tinggal di satu daerah itu saja. Dalam Kej. 11, hanya tiga orang saja yang disebutkan sebagai orang yang lahir antara peristiwa Babel dan Kelahiran Terah, ayah Abraham. Kemungkinan hidupnya tiga orang itu terpisah dengan ribuan tahun adalah kecil sekali, sebab ilmu arkeologi telah membuktikan bahwa beberapa kota yang mendapatkan nama dari mereka semua muncul kira-kira pada waktu yang sama. Keterangan ini menunjuk pada suatu jangka-waktu.yang cukup pendek antara peristiwa menara Babel dan Abraham, dan dengan demikian juga mendukung pendapat bahwa Air Bah terjadi antara kira-kira 1000-1500 th. sebelum kelahiran Abraham.

    Akhirnya, dapat diperhatikan pula kesamaan antara riwayat Air Bah di dalam Alkitab dengan sebuah kisah tentang air bah yang berasal dari Babel kira-kira th. 3000 B.C.

    Menara Babel (Kej. 11:1-9)

    Tentang peristiwa ini sekali lagi terdapat pendapat yang bermacammacam. Juga, pendapat seseorang akan dipengaruhi oleh kesimpulankesimpulannya tentang hal penciptaan dan Air Bah. Mungkin hanya dapat dikatakan bahwa terjadinya peristiwa Menara Babel seharusnya tidak lama setelah Air Bab (sebab semua manusia masih tinggal di satu daerah itu), tetapi juga tidak jauh sebelum kelahiran Abraham - yaitu pada masa seribu tahun yang ke-3 B.C. (2000-3000 B.C.).

  2. Zaman Patriarkh-patriarkh (kira-kira th. 2000-1400 B.C.)

    Waktu kejadian-kejadian yang diceritakan dalam Kej. 12-50 tentang para patriarkh tidak dapat ditentukan dengan pasti. Riwayat-riwayat tersebut sama sekali tidak menyebutkan tokoh-tokoh/kejadian dari sejarah bangsa-bangsa lain, demikian pula tulisan-tulisan sejarah bangsa-bangsa yang lain itu tidak menyebutkan nama-nama para patriarkh Israel. Oleh sebab itu, tidak ada kemungkinan untuk mencocokkan waktu-waktu bersejarah dari bangsa lain dengan masa patriarkh-patriarkh Israel. Tetapi dapat dikatakan dengan yakin bahwa cerita-cerita tentang para patriarkh cocok sekali dengan lingkungan kebudayaan periode th. 1600-2000 B.C. Cara hidup para patriarkh sebagai pengembara juga cocok dengan keterangan dari tulisan-tulisan Mesir tentang daerah Sabit Subur pada zaman tersebut, yaitu bahwa orang dapat berjalan dengan bebas antara Mesopotamia (tempat asal Abraham) dan Palestina; bahwa Palestina pada waktu itu jarang ada penduduknya; dan bahwa daerah pengembaraan mereka, yaitu Pegunungan Tengah di Palestina, padang gurun Negeb dan daerah di sebelah Timur Sungai Yordan, memang merupakan daerah yang cukup subur di mana mereka dapat memelihara ternak mereka dengan baik.

    Untuk mencoba menentukan waktu yang lebih pasti untuk Abraham, cara yang biasanya dipakai ialah menghitung ke belakang mulai dari waktu Keluaran bani Israel dari Mesir.

  3. Peristiwa Keluaran

    Di sini pun juga perlu diakui adanya beberapa pendapat yang berlainan. Pendapat-pendapat itu rupanya dapat digolongkan demikian:

    1. Peristiwa Keluaran terjadi kira-kira th. 1450 B.C.

    2. Peristiwa Keluaran terjadi kira-kira th. 1290 B.C.

    Ada dua periode pasti yang disebutkan di dalam Firman Tuhan yang seharusnya dapat menolong di sini. Sayangnya, periode-periode tersebut juga dapat ditafsirkan dengan berbagai cara. Periode yang pertama adalah 480 tahun yang disebutkan di I Raja-raja 6:1 sebagai masa yang berlalu antara peristiwa Keluaran dan tahun ke-4 dari kerajaan Salomo waktu dia mulai membangun Bait Suci. Biasanya dianggap betul bahwa Salomo menjadi raja pada th. 970 B.C., yang berarti Keluaran terjadi kira-kira th. 1446 B.C. Jadi mereka yang ingin menentukan waktu kira-kira th. 1290 B.C. untuk Keluaran harus mengurangi masa pemerintahan Hakim-hakim sebanyak 150 th. menjadi kira-kira 250 tahun, sedangkan silsilah-silsilah Alkitab untuk masa itu dari Musa sampai Samuel menuntut kira-kira 400 th. Sarjana-sarjana tersebut menjelaskan persoalan itu dengan mengatakan bahwa kadangkadang lebih dari satu orang hakim memerintah pada waktu yang sama; akan tetapi hal itu tidak dapat dibuktikan dengan keterangan Firman Tuhan.

    Periode yang kedua adalah 430 tahun yang disebutkan dalam Keluaran 12:40,41 sebagai lamanya orang Israel tinggal di Mesir. Mengenai periode ini pun terdapat dua pendapat utama - ada sarjana-sarjana yang mengatakan bahwa masa 430 th. itu berlangsung dari waktu Yakub masuk Mesir sampai dengan waktu terjadinya Keluaran dari Mesir; ada pula mereka yang percaya bahwa masa tersebut dimulai dengan perjanjian Allah kepada Abraham dan diakhiri dengan peristiwa Keluaran dari Mesir. Pendapat terakhir itu mendapat dukungan dari Rasul Paulus dalam Gal. 3:16,17 yang mengatakan bahwa antara waktu Tuhan memberi janji kepada Abraham (Kej. 12) dan Keluaran dari Mesir adalah periode 430 th. Dari sejarah sekuler ada bukti juga bahwa pengaruh dan perbatasan negara Mesir pada waktu itu telah mencapai Sungai Efrat. Jadi waktu Abraham mentaati panggilan Tuhan untuk meninggalkan Haran dan pergi ke Kanaan, dengan itu is sudah memasuki wilayah Mesir, maka periode 430 th. itu telah mulai berjalan. Periode itu kemudian terbagi menjadi dua periode 215 th. masing-masing - satu periode 215 th. sampai Yakub masuk Mesir (Kej. 12:4; 21:5; 25:26; 47:9), dan satu periode 215 th. lagi sampai orang Israel keluar dari Mesir. Tetapi mereka yang berpendapat bahwa periode 430 th. mulai dengan masuknya Yakub ke Mesir mempunyai tiga pilihan - yaitu bahwa peristiwa Keluaran terjadi kira-kira th. 1250 - 1290 B.C., atau bahwa Yakub dan Abraham dilahirkan jauh sebelum waktu yang biasanya diterima, atau bahwa periode 430 th. itu bukan suatu periode yang sungguh-sungguh demikian lamanya dan boleh diperpendek jika perlu.

    Bukti tentang waktu Yakub masuk Mesir juga terdapat di dalam keterangan tentang pemerintahan Mesir pada waktu itu. Catatan sejarah Mesir menunjukkan bahwa antara th. 1710 - 1570 B.C. negara Mesir dirajai oleh orang "Hyksos", suatu golongan yang berasal dari Kanaan bagian Selatan dan yang merebut pemerintahan dari orang-orang Mesir asli. Jadi orang Hyksos tersebut berasal dari lingkungan kebudayaan yang hampir sama dengan orang Israel yang dipimpin oleh Yakub. Maka keadaan demikian merupakan kesempatan yang baik bagi Yusuf untuk menjadi orang berwibawa di Mesir, dan tidak.begitu mengherankan kalau Firaun Mesir menyambut dengan baik transmigrasi orang Israel dari Kanaan ke Mesir dibawah pimpinan Yakub. Kemudian, orang-orang Mesir asli merebut kembali pemerintahan dari orang Hyksos, sehingga terjadi apa yang tercatat dalam Kel. 1:8 - "bangkitlah seorang raja yang tidak mengenal Yusuf." Pemerintahan Mesir yang baru itu tidak begitu mengerti adanya suatu golongan orang asing di negara Mesir, dan juga tidak merasa adanya suatu kesamaan dengan orang asing itu. Kalau diperkirakan kurang-lebih 100 tahun setelah masa pemerintahan Hyksos untuk perkembangan rasa permusuhan yang makin meningkat terhadap orang Israel, maka sekali lagi terdapat waktu kira-kira th. 1450 B.C. untuk peristiwa Keluaran. Musa, yang sudah berumur 80 tahun pada waktu Keluaran terjadi, barangkali dilahirkan tidak lama sesudah Firaun yang baru itu mulai memerintah (Kel. 1; 2). Cara menghitung lagi ialah menambahkan 215 tahun pada tanggal Keluaran kira-kira th. 1450 B.C., yang menentukan th. 1665 B.C. untuk Yakub masuk Mesir, yaitu waktu yang juga jatuh pada masa pemerintahan orang Hyksos tersebut.

BAGAN SEJARAH PERJANJIAN LAMA

             Yakub pindah     Eksodus     Bgs. Israel Penaklukan  Hakim-
                ke Mesir     Pengembaraan  Menyeberang  Tanah      hakim
Penciptaan                Di padang Gurun  S. Yordan  Perjanjian  Mulai
                 1876sm        1446sm        1406sm     1399sm     1350sm

  !                !              !             !         !          !
  !  Kejadian      !    Keluaran  ! Im, Bil, Ul !         !  Yosua   !
  !==================> ===========> ============> ===================>
  !                !   (430 thn.) !  (40 thn.)  ! (7 thn.)! (49 thn.)!
  !                !              !             !         !          !




                                          Kerajaan
                                           Pecah
                                           (931)  I Raj.12-     Asyur
Hakim-     Saul       Daud      Salomon          II Raj.17   Menakluk-
hakim   Memerintah Memerintah  Memerintah    ==ISRAEL======>  kan Israel
Mulai                                        !    (209 thn.)     722sm
1350sm    1051sm     1011sm       971sm      !
                                             !
  !Hakim-2   !          ! II Sam & ! I Raj.  !
  ! & Ruth   ! I Sam.   ! 1 Taw.   !  1-11   !
  !==========> =========> =========> =======>!
  !(299 thn.)!(40 thn.) !(40 thn.) !(40 thn.)!
  !          !          !          !         !                      Babilon
                                             ! I Raj.12- II Raj. 24 Menakluk
                                             !   & II Taw. 10-36    kan
                                             ==YEHUDA==============>Yehuda
                                                  (345 thn.)        586sm





Babilon
Menakluk-                Bait Allah           Masa PL
kan Yehuda              Dibangun lagi         Selesai
  586 sm                     515sm              430sm

   !                           !                  !
   !   Penawanan di Babilon    !                  !
   !===========================> =================!
   !        (70 thn.)          !    (85 thn.)     !
   !                           !                  !

*) Daftar Nama Nabi-nabi (periode Kerajaan Pecah sampai periode Pembuangan

Elia
Elisa
Yunus, Amos
Mikha
Hosea, Yoel
Yesaya, Nahum
Habakuk
Zefanya, Obaja
Yeremia
Yehezkiel
Zakharia, Daniel
Haggai
Maleaki

Taxonomy upgrade extras: 

PPL-Referensi 06b

Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06a |

Nama Kursus : PENGANTAR PERJANJIAN LAMA
Nama Pelajaran : Hubungan PL dan PB
Kode Pelajaran : PPL-R06b

Referensi PPL-R06b diambil dari:

Judul Buku : BAGAIMANA MEMAHAMI PERJANJIAN LAMA III
Judul Artikel : Yang Lama dan Yang Baru; Masalahnya
Penulis/Editor : John Drane
Penerbit : Persekutuan Pembaca Alkitab, Jakarta, 2003
Halaman : 116 - 120

REFERENSI PELAJARAN 06b - HUBUNGAN PL DENGAN PB

YANG LAMA DAN YANG BARU

Bagi orang Kristen, PL senantiasa penting karena kutipannya terdapat pada hampir setiap halaman PB. Namun, PL juga menjadi masalah bagi kekristenan dan bahkan sejak masa awal gereja makna dan relevansi PL telah menjadi sumber perdebatan dan kontroversi yang hangat. Hal-hal tersebut merupakan salah satu isu yang menyebabkan gesekan dan perpecahan dari gereja-gereja muda di tahun-tahun segera setelah kematian dan kebangkitan Yesus. Yesus sendiri telah mengklaim bahwa hidup-Nya sendiri adalah penggenapan PL. Namun banyak tindakan-Nya seakan mengabaikan pengajaran-pengajaran utama PL (Mat. 5:17), terutama pada subjek seperti peraturan Sabat (Mrk 2:23-28), hukum mengenai makanan (Mrk. 7:14-23), bahkan juga beberapa pengajaran moralnya (Mat. 5:21-48). Jadi, otoritas seperti apakah seharusnya dimiliki PL dalam kehidupan pengikut-pengikut Yesus?

Tidak timbul masalah khusus bagi generasi pertama Kristen yang adalah juga orang Yahudi. Sejauh ini, mereka terus mengikuti cara hidup yang sudah mereka terima sejak kecil, yang mendasarkan diri kepada PL sesuai yang dimengerti oleh agama Yahudi abad pertama. Namun, setelah jelas bahwa berita Kristen ditujukan kepada orang-orang non-Yahudi, dan bahwa orang Romawi dan Yunani juga bisa menjadi pengikut Yesus, pertanyaan mengenai otoritas PL muncul dalam bentuk yang lebih mendesak. Apakah orang kafir perlu menjadi Yahudi terlebih dahulu sebelum menjadi Kristen? Paulus dan penulis PB dengan tegas menjawab: tidak perlu (Gal., lPet., Ibr.). Namun, mereka tetap menerima PL sebagai kitab suci mereka, dan sering menggunakannya sebagai dasar penjelasan iman Kristen.

Justru di sinilah letak masalahnya. Kalau bagian-bagian tertentu PL bisa diabaikan sebagai tidak relevan lagi bagi iman dan tindakan Kristen, bagaimana kita bisa membedakannya, dan apa yang harus kita lakukan dengan bagian sisanya?

Mencari Jalan Keluar

Pertanyaan mengenai hubungan antara PL dan PB diungkapkan dengan lantang oleh seorang Kristen abad ke-2, Marcion. Ia bukan hanya melihat sikap para rasul yang ambigu mengenai masalah ini, tetapi ia juga memperhatikan masalah-masalah lain di dalam kepercayaan Kristen kepada PL. Yesus telah berbicara tentang kasih Allah yang memedulikan kesejahteraan semua manusia. Akan tetapi, ketika membaca PL, Marcion sering melihat gambaran Allah yang agak berbeda, di mana Ia kelihatannya dihubungkan dengan kekejaman dan kebuasan yang ekstrem. Jauh dari kehendak menyelamatkan manusia, Ia kadang-kadang dihubungkan dengan penghancuran mereka. Tentu saja, Marcion sedikit melenceng di dalam melihat gambaran itu: penghakiman yang keras merupakan bagian penting dari pengajaran Yesus, dan kasih Allah tidak pernah absen dari iman PL, seperti yang telah kita lihat dalam berbagai cara.

Namun, bagaimanapun pembaca modern seringkali merasakan hal yang sama, dan beberapa orang Kristen sekarang akan mengalami kesulitan untuk mendamaikan beberapa aspek dari pandangan PL tentang Allah dengan apa yang mereka anggap sebagai pandangan umum Kristen tentang PB. Selain permasalahan yang diangkat oleh Marcion, mereka juga menunjuk kepada perbedaan antara berita kasih Allah yang universal dalam Yesaya 40-55 dengan apa yang tampak sebagai suatu nasionalisme sempit dari kitab seperti Ezra. Bahkan penafsir yang ulung sekalipun sangat kesulitan untuk mendamaikan sikap sentimentil Mazmur 137:8-9 dengan pernyataan untuk mengasihi musuh di dalam khotbah di bukit Yesus (Mat. 5:43-48). Juga, banyak orang sekarang ini sulit memahami beberapa aspek ibadah PL, terutama persembahan korban yang (paling tidak menurut pandangan barat) kelihatannya primitif dan kejam, bahkan sama sekali tidak masuk akal.

Jawaban Marcion terhadap semua ini adalah sederhana: robek PL dan buang ke dalam tempat sampah! Namun pandangan itu tidak didukung secara luas oleh gereja awal, terlebih karena Marcion juga ingin menyingkirkan sebagian besar PB. Hal itu kelihatannya menimbulkan tanda tanya terus akan kesejatian iman Kristennya.

Namun, para pemimpin gereja mula-mula dapat mengerti dengan cukup baik permasalahan yang dipertanyakan Marcion. Pertanyaan mengenai PL itu sungguh nyata. Kalau kedatangan Yesus adalah tindakan yang baru dan menentukan dari Allah dalam dunia ini, lalu apa relevansinya yang dapat dimiliki sejarah umat purba untuk iman di dalam Yesus?

Jawaban umum yang diberikan ialah bahwa ketika PL dimengerti dengan tepat maka PL akan mengatakan hal yang persis sama dengan yang dikatakan PB. Namun, untuk dapat membuktikan hal ini maka perlulah menafsirkan PL sedemikian sehingga dapat menunjukkan bahwa arti sebenarnya entah bagaimana tersembunyi bagi pembaca biasa.

Secara kebetulan, sarjana-sarjana Yahudi telah menghadapi pertanyaan ini dalam konteks yang berbeda. Lebih dari satu abad sebelumnya, penafsir agung Yahudi, Filo (sekitar 20SM-45M), yang tinggal di Aleksandria, Mesir, telah mencoba menyelaraskan PL dengan pemikiran para filsuf besar Yunani. Ada sedikit kaitan yang jelas antara PL dengan filsafat Yunani. Namun, dengan menerapkan penafsiran alegoris yang mistis terhadap PL, Filo berhasil menunjukkan (paling tidak sampai ia merasa puas) bahwa Musa dan para penulis PL lainnya sebenarnya telah menyatakan kebenaran-kebenaran filsafat Yunani beberapa abad sebelum para pemikir Yunani memikirkannya!

Beberapa pemimpin Kristen awal, terutama mereka yang di Aleksandria, mengadopsi pendekatan seperti ini dengan penuh semangat. Mereka segera juga menggunakan teknik yang sama untuk menunjukkan bahwa PL memuat segala sesuatu yang ada dalam PB, bagi mereka yang memiliki mata untuk melihat.

Bahkan hal-hal mendetail yang kelihatannya tidak penting dari kisah PL dijadikan lambang-lambang bagi Injil Kristen. Apa pun yang berwarna merah dapat dimengerti sebagai referensi kepada kematian Yesus di kayu Salib (sebagai contoh, lembu betina merah dari Bil.19, tali kirmizinya Rahab dari Yos. 2:18). Air kemudian menjadi gambaran akan baptisan Kristen. Kisah Keluaran, dengan kombinasi dengan darah (di ambang pintu pada saat Paskah) dan air (ketika menyeberangi laut Teberau), menghasilkan banyak penjelasan yang kompleks akan hubungan antara salib dan keselamatan Kristen, juga dengan dua sakramen Kristen, baptisan dan perjamuan kudus!

Uskup Hilary dari Poitiers, Perancis (315-368 M) menjelaskan cara pembacaan PL ini sebagai berikut:

"Setiap karya yang termuat di dalam kitab-kitab suci mengumumkan melalui kata, menjelaskan melalui fakta, dan mensahkan melalui contoh- contoh kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus .... Sejak permulaan dunia ini, Kristus melalui prafigurasi yang otentik dan mutlak dalam pribadi para patriakh melahirkan, membersihkan, menguduskan, memilih, memisahkan dan menebus gereja: melalui tidurnya Adam, banjir besar pada masa Nuh, berkat dari Melkisedek, pembenaran Abraham, kelahiran Ishak, penawanan Yakub ... Tujuan karya ini adalah untuk menunjukkan bahwa dalam setiap pribadi dalam setiap masa, dan dalam setiap tindakan, gambaran tentang kedatangan, pengajaran, kebangkitan-Nya, dan tentang gereja kita direfleksikan seperti pada cermin" (Hilary, Introduction to The Treatise of Mysteries).

Tidak semua pemimpin gereja senang dengan pendekatan terhadap PL di atas: terutama mereka yang berhubungan dengan pusat Kekristenan besar lainnya di Antiokhia, Siria. Namun, biasanya diterima begitu saja bahwa PL adalah kitab Kristen, dan dengan satu dan lain cara isinya berkaitan dengan kepercayaan mendasar teologi Kristen.

Selama Reformasi Protestan, keseluruhan pokok pembicaraan ini sekali lagi dibuka untuk diperiksa. Martin Luther (1483-1546) dan John Calvin (1509-1564) menekankan pentingnya mengerti iman PL berdasarkan konteks sejarah dan sosialnya. Dalam hal ini, pendekatan mereka tidaklah berbeda dari pendekatan banyak sarjana modern. Namun, Luther ingin membedakan nilai PL dari PB dengan melihat PL sebagai Taurat dan PB sebagai Injil. Hal ini memberikan kepadanya alat yang baik untuk memisahkan gandum Injil sejati (menurut Luther ditemukan pada surat- surat Paulus) dari jerami legalisme yang sudah diganti (diidentifikasikan dengan PL dan kekristenan Yahudi). Pemikiran ini telah sangat mempengaruhi kesarjanaan Alkitab sampai masa kini. Akan tetapi, pandangan ini keliru dalam beberapa hal mendasar:

  • Pandangan ini mengabaikan fakta bahwa Taurat bukan dasar iman PL dan juga tidak sama sekali tidak ada di dalam PB. Di dalam PL maupun PB, Taurat diletakkan di dalam konteks pemahaman perjanjian dengan kasih Allah sebagai prinsip dasarnya.

  • Luther sangat keliru mengidentifikasikan Yudaisme dengan legalisme moralistis. Hal ini sangat tidak adil bahkan terhadap pandangan Farisi yang jelas-jelas ditolak oleh Paulus. Dalam hal ini, Luther membiarkan reaksinya sendiri terhadap kekristenan Roma Katholik untuk mewarnai pandangannya terhadap iman PL.

Calvin mengenali beberapa kekurangan ini, dan sebaliknya menekankan kepentingan dari tema perjanjian di PL dan PB. Dengan perbandingan yang teliti akan hubungan Allah dengan umat Israel purba dan dengan gereja Kristen, Calvin mampu mengklaim bahwa dua bagian dari Alkitab Kristen tersebut disatukan oleh suatu pewahyuan yang progresif, di mana janji-janji purba yang diberikan kepada Israel dalam PL mencapai puncaknya di dalam kehidupan gereja Kristen. Pandangan ini bukan tidak memiliki kesulitannya sendiri. Namun, paling tidak pandangan ini mencoba untuk melihat iman PL secara serius. Pandangan Calvin ini masih dipegang oleh banyak orang dari kelompok Kristen konservatif.

Setelah Reformasi, pertanyaan mengenai PL sebagai kitab Kristen tersimpan dengan rapi sampai pada generasi kita. Zaman pencerahan Eropa, dengan tekanan kepada memahami PL sebagai koleksi kitab-kitab kuno dalam konteks masanya sendiri, membawa penyelidikan para sarjana ke arah lain. Namun, dalam 100 tabun terakhir atau lebih ini, pertanyaan teologis tadi telah mencuat ke permukaan lagi. Hal penting yang mendorongnya adalah gerakan Nazi di negara Jerman modern. Perasaan anti Yahudi yang diciptakan oleh Nazi telah berdampak pada gereja-gereja Jerman sendiri, dan kehadiran PL di dalam Alkitab Kristen menjadi isu politis yang membara sekaligus menjadi bahan kajian teologis. Sejumlah teolog Jerman mulai mengadopsi sikap yang sama seperti Marcion. Namun, banyak sarjana Kristen Jerman yang memberikan penilaian positif terhadap signifikansi PL, walaupun mereka menghadapi tekanan secara politik. Sarjana-sarjana seperti Walter Eichrodt dan Gerhard von Rad bahkan juga teolog Swiss, Karl Barth, justru menghasilkan karya-karya yang paling kreatif pada masa tersebut.

Sekarang ini, umat Kristen mengadopsi berbagai sikap terhadap nilai PL:

  • Ada yang ingin memberikan PL nilai dan otoritas yang sama dengan PB, dengan dasar bahwa setiap kata di dalam keduanya adalah kata-kata Allah sendiri secara langsung. Namun, kita harus cukup berhati-hati untuk tidak terlalu gampang menerima gambaran seperti ini karena ada sejumlah pengajaran Yesus sendiri yang dalam berita-Nya jelas menunjukkan sikap penolakan atau perevisian yang sangat radikal terhadap beberapa aspek mendasar dari pengajaran PL.

  • Orang lain memperdebatkan bahwa PL digantikan seluruhnya oleh PB, sehingga bisa disingkirkan. Di sini kita juga harus memelihara suatu keseimbangan yang teliti yang kita temukan pada pengajaran Yesus sendiri karena Yesus juga menguraikan pelayanan-Nya dalam segi tertentu menggenapi PL. Kita bisa secara sah mendebatkan artinya, namun ini pastilah harus mengikutsertakan asumsi bahwa PL memiliki sesuatu untuk kekristenan dan karenanya memiliki tempat yang sah di dalam Alkitab Kristen.

  • Beberapa orang mencoba membedakan antara beberapa bagian dari PL. Mereka akan memisahkan hal-hal seperti hukum-hukum tentang imam, persembahan korban, dan ketahiran (yang tidak lagi dilakukan oleh Kristen) dari bagian-bagian lain seperti Dekalog dan pengajaran- pengajaran moral dari para nabi (yang dianggap masih relevan). Calvin melakukan pembagian yang serupa. Namun, jauh lebih mudah membagi seperti itu daripada membuktikan kebenarannya. Dengan menyingkirkan unsur-unsur yang kelihatannya tidak relevan itu, kita sebenarnya sedang menggeser beberapa aspek paling dasar dari iman PL. Sebagai tambahan, PB justru paling sering menemukan korelasi antara iman PL dengan kepercayaan Kristen tentang Yesus di dalam konsep-konsep seperti persembahan kurban.

  • Juga umum bagi orang Kristen untuk berbicara tentang pewahyuan progresif kehendak dan sifat Allah yang mengaliri kedua perjanjian tersebut. Pandangan ini mengatakan bahwa kehendak Allah dinyatakan melalui sejumlah tahapan, disesuaikan secara kasar dengan kapasitas manusia untuk memahaminya. Jadi, beberapa dari bagian yang lebih sulit dari PL dapat dijelaskan sebagai sesuai dengan masa primitif, yang kemudian diganti dengan pandangan yang lebih maju, dan memuncak pada pengajaran Yesus tentang Allah yang adalah kasih. Namun ini adalah ide yang tidak menolong karena didasarkan kepada ide evolusioner yang sudah ketinggalan zaman mengenai perkembangan moral yang tidak terhindarkan dalam diri manusia. Pandangan ini juga mencampuradukkan pernyataan tentang Allah sebagaimana Dia adanya dengan pernyataan tentang apa yang manusia, pikirkan tentang Dia. Sebagai tambahan pandangan ini memuat juga implikasi yang meragukan bahwa orang modern pasti mengetahui lebih banyak mengenai kehendak Allah dan lebih taat kepadanya daripada para bapa leluhur, nabi-nabi, dan tokoh-tokoh utama kisah PL.

Taxonomy upgrade extras: 

PPL-Referensi 02b

Nama Kursus : Pengantar Perjanjian Lama
Nama Pelajaran : Latar Belakang Geografis Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : PPL-R02b

Referensi PPL-R02b diambil dari:

Judul Buku : Survei Perjanjian Lama
Judul Artikel : Negeri Palestina
Penulis : Andrew Hill, dkk.
Penerbit : Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1991
Halaman : 75 - 81

REFERENSI PELAJARAN 02b - NEGERI PALESTINA

Negeri Palestina dinamai menurut bangsa Filistin (Pelishtim dalam bahasa Ibrani) yang menetap di daerah pantai Laut Tengah dari Yope sampai Gaza sekitar tahun 1300-1200 SM. Menurut Alkitab, orang-orang Filistin berhubungan dengan orang Kaftor, yang biasanya dikaitkan dengan pulau Kreta (Yeremia 47:4; Amos 9:7). Sebelum orang Filistin bermigrasi daerah itu dikenal sebagai Kanaan. Nama ini mengandung arti "negeri ungu" dan barangkali nama itu diambil dari bahan pewarna ungu yang dihasilkan oleh orang pribumi dari sejenis kerang-kerangan yang banyak terdapat sepanjang pantai Laut Tengah.

Palestina seringkali disebut sebagai pusat geografis dan teologis dari dunia purbaka. Negeri ini tidak hanya terletak di persimpangan jalan jalur-jalur perdagangan yang penting pada zaman purbakala tetapi juga di daerah Yudaisme, Kekristenan, dan Islam mengawali keberadaan mereka. Luas negeri itu sekitar 242 km dari Dan ke Bersyeba (utara- selatan) dan 160 km dari Laut Tengah ke sungai Yordan (timur-barat). Iklimnya normal bagi daerah Timur Dekat, musim dinginnya sejak sampai dingin bergantung pada ketinggiannya, dengan sedikit salju di tempat- tempat yang lebih tinggi. Musim hujan berlangsung dari Oktober sampai April, dengan musim panas yang kering, tidak berawan dari bulan Mei sampai Agustus.

Negeri Palestina terbagi dengan mudah dalam empat daerah geografis utama yang membujur dari utara ke selatan: dataran pantai, daerah perbukitan tengah, celah Yordan, dan dataran tinggi Transyordania. Pembagian geografis utama Palestina yang melintang dari timur ke barat berkaitan dengan segi-segi geografis negeri itu dan tapal batas politis dari dua kerajaan Israel yang pecah. Pembagian ini meliputi daerah Galilea di utara, Samaria dan di daerah utaran-tengah Palestina. Yehuda di bagian selatan-tengah Palestina, dataran Negev (atau padang rumput "kering") di selatan, dan semenanjung Sinai yang membentuk perintang besar antara Palestina dan Mesir (lihat peta dan gambar 4.1).

Dataran Pantai

Dataran pantai secara berangsur-angsur meluas sejauh 16 sampai 19 km mil di Palestina selatan. Hamparan tanah subur ini menerima lebih dari 75 cm curah hujan setiap tahun dekat Laut Tengah. Tiga dataran berbeda dikenali sepanjang pantai: Akre (Akko), membentang ke utara dari Gunung Karmel; (sekitar 40 km panjangnya dan 8 sampai 13 km lebarnya); Saron, antara Gunung Karmel dan Yope, kota Pelabuhan (sekitar 80 km panjangnya dan 16 km lebarnya); dan dataran Filistin di bagian paling selatan dari Yope ke Gaza. Dari segi geografis dataran pantai tidak pernah memegang peranan yang sangat penting bagi umat Ibrani selama sejarah Perjanjian Lama. Orang Fenesia menguasai dataran sebelah utara, orang Filistin menguasai dataran selatan dan dataran Saron merupakan gurun, rawa, dan hutan yang lebat pada zaman dahulu kala.

Daerah Perbukitan Tengah

Daerah perbukitan tengah secara geografis paling beraneka ragam dan secara historis paling penting pada masa Perjanjian Lama. Kebanyakan kota-kota Israel terletak di daerah ini, dan wilayah tersebut merupakan bagian terbesar yang dikuasai oleh kerajaan Ibrani ketika masih bersatu dan ketika terpecah. Daerah yang berbukit-bukit membentuk punggung, atau tulang belakang dari Palestina barat dan umumnya terbagi atas tiga bagian utama: Galilea, Samaria, dan Yehuda. Daerah-daerah yang landai mencapai ketinggian 900 m - 990 m; daerah tersebut menerima curah hujan yang memadai dan cocok sekali bagi orang-orang ibrani untuk mengembangkan pertanian, termasuk gandum, kebun anggur, buah-buahan dan rumpun-rumpun pohon zaitun.

Bagian-bagian utama Galilea meliputi Gunung Tabor (Hakim-Hakim 4:6, 12) dan lembah Yizrel. Kota Sikhem, diapit oleh Gunung Ebal dan Gunung Gerizim, yang dikuasai oleh Samaria (Yosua 8:30-35). Yerusalem terletak secara menonjol di persimpangan jalur-jalur lalu lintas perdagangan di Yehuda (2Samuel 5:6-12). Bidang tanah di antara dataran pantai di selatan dan daerah pegunungan di bagian tengah dikenal sebagai shephelah. Daerah luas subur (atau dataran tinggi antara pantai dan pegunungan) adalah daerah hutan pada zaman Perjanjian Lama dan diduduki oleh orang Filistin (bd. Hakim-Hakim 14-15; 1Samuel 17). Selama masa kerajaan Yehuda, Bet-Semes dan Lakhis merupakan kubu-kubu pertahanan penting di sisi barat daya Yehuda (2Tawarikh 25:17-28).

Lembah Yordan

Lembah Sungai Yordan atau celah Yordan, adalah lembah geologis besar yang mulai di Siria di pegunungan Libanon dan membujur ke selatan sampai ke Teluk Akaba dan Laut Merah. Lembah Sungai Yordan yang membentuk perbatasan timur Palestina adalah bagian dari parit geologis yang berigi-rigi ini.

Sungai Yordan bermula pada lereng-lereng bagian bawah dari Gunung Hermon dan timbul dari tiga anak sungai yang mendapat airnya dari sumber-sumber. Sungai Yordan mengalir ke selatan dari Gunung Hermon ke Danau Hula dan rawa-rawa dan selanjutnya dengan deras mengalir turun sekitar 270 m, dan bermuara di Danau Galilea. Danau air tawar di daerah pedalaman ini berada 195 m di bawah permukaan laut dan dikelilingi oleh bukit-bukit kecil. Danau itu sendiri sekitar 21 km lebarnya dan 11 km panjangnya. Dari Danau Galilea itu Sungai Yordan mengalir ke selatan, berkelok-kelok menuju ke Laut Garam atau Laut Mati yang besar, sekitar 390 m di bawah permukaan laut - bagian yang paling rendah di muka bumi.

Dahulu kala daerah sekitar Danau Galilea berpenduduk sangat padat dan secara intensif dan ditanami dengan memakai irigasi. Lebih jauh lagi ke selatan, lembah sungai itu menyempit dan dipadati tumbuh-tumbuhan hingga berupa hutan, tempat tinggal binatang-binatang liar pada masa Perjanjian Lama (bd. Yeremia 49:19; 50:44; Zakharia 11:3). Sebagian besar wilayah ujung selatan dari lembah sungai ini tidak ada penduduknya, kecuali di tempat Sungai Yabok memasuki Yordan dan di Oasis yang diairi sumber-sumber di Yerikho. Bukit-bukit tanah liat yang licin dan berlumpur dan tumbuh-tumbuhan yang lebat yang berjajar sepanjang lembah Yordan membuatnya tetap merupakan perintang alam antara Palestina dan dataran tinggi Transyordan.

Laut Mati tidak mempunyai saluran keluar yang alami, dan airnya yang melimpah dengan mineral mengandung kadar garam sampai 30 persen. Tebing-tebing batu kapur yang berjajar sepanjang pantai barat Laut mati dipenuhi gua-gua yang dipergunakan sebagai tempat persembunyian untuk penyamun, pelarian politik, dan komunitas-komunitas berbagai sekte keagamaan. Di tempat inilah di antara gua-gua dengan pemandangan "yang kurang menyedapkan" ini ditemukan gulungan-gulungan naskah Laut Mati atau gulungan-gulungan naskah komunitas Qumran. Di sebelah selatan Laut Mati, lembah Araba membentang sejauh beratus-ratus km ke arah Teluk Kaba. Penduduk di pinggiran daerah padang gurun yang kering dan terpencil ini menambang endapan-endapan biji besi dan tembaga yang dijumpai di daerah bukit-bukit di perbatasan Araba, atau giat dalam perdagangan dengan kafilah-kafilah yang melintasi daerah itu.

Dataran Tinggi Transyordania

Istilah Transyordania berarti "di seberang Yordan". Dalam arti yang paling luas wilayah ini mencakup seluruh negeri di sebelah timur Sungai Yordan sampai ke Gurun Siria yang luas. Wilayah ini meliputi tanah di bagian timur Lembah Yordan Atas dan juga tanah di bagian timur dan tenggara Laut Mati. Pada umumnya, dataran tinggi Transyordania merupakan dataran luas yang menjulang dengan ketinggian sekitar 600-1800m di atas permukaan laut antara Sungai Yordan dan daerah paling utara dari gurun Arabia. Daerah ini menghasilkan beberapa jenis mineral dan cocok untuk gaya hidup pertanian dan penggembalaan. Empat wadi utama atau anak sungai mengalir ke Sungai Yordan dari dataran tinggi ini, termasuk Yarmuk, Yabok, Arnon, dan Zered.

Dataran tinggi Transyordania ini dapat dibagi menjadi tiga dataran tinggi utama: dataran tinggi Gunung Seir di selatan (dari Teluk Elat sampai Sungai Zered), daerah Moab dan Gilead di Transyordania tengah (membentang dari Zered ke Sungai Yarmuk), dan dataran tinggi Basan di utara (memanjang dari Yarmuk sampai Dan). "Jalan raya raja" menyusur sepanjang dataran tinggi Transyordan dan Bozra ke Damsyik.

Dataran tinggi Seir merupakan daerah yang paling tidak datar dari ketiga daerah tersebut, dengan puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi sampai hampir 1800 m. Di sini orang Edom dan kemudian orang Nabeta membangun kota-kota mereka di antara tebing-tebing karang yang curam. Moab dan Gilead mempunyai tanah subur untuk bercocok tanam dan bidang tanah berumput yang luas untuk kawanan ternak. Sisa-sisa hutan lebat masih dapat dijumpai di Gilead. Dataran tinggi yang paling luas dan subur adalah daerah Basan. Di sini dataran tinggi itu terletak sekitar 900-1500 m di atas permukaan laut, yang mengizinkan curah hujan yang memadai untuk pertanian. Tanah gunung berapi subur dari dataran Basan menjadikannya padang-padang rumput yang terbaik di seluruh daerah Levantin di sebelah timur Laut Tengah (bdk. Mazmur 22:13; Amos 4:1).

Daerah Trans-yordania adalah daerah yang pertama-tama didiami oleh orang-orang Ibrani sebagai bagian dari penaklukkan Palestina sesudah peristiwa-peristiwa Keluaran dari Mesir (Yosua 13:24-31). Sepanjang sejarah PL daerah dataran tinggi ini sering kali merupakan ajaran pertempuran militer sewaku orang Ibrani, orang Aram, orang Asyur, orang Moab dan orang Amon semua berlomba-lomba untuk menguasai pusat- pusat perdagangan sepanjang jalan raya raja dan daerah subur di Gilea dan Basan, suatu komoditi yang sangat bernilai di lingkungan gurun pasir dan kering dari bagian terbesar wilayah Timur Dekat.

Taxonomy upgrade extras: 

PPL-Referensi 04b

Nama Kursus : Pengantar Perjanjian Lama
Nama Pelajaran : Budaya Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : PPL-R04b

Referensi PPL-R04b diambil dari:

Judul Buku : Tema-Tema Dalam Teologi Perjanjian Lama
Judul Artikel : Hukum Dalam Masyarakat
Penulis : William Dyrness
Penerbit : Penerbit Gandum Mas, Malang, 1979
Halaman : 114 - 120

REFERENSI PELAJARAN 04b - TEMA-TEMA TEOLOGI PERJANJIAN LAMA

  1. Keutamaan Perjanjian

    Telah kita ketahui bahwa hukum Taurat sebagai pernyataan perjanjian merupakan dasar kehidupan masyarakat Israel. Sebagai pencerminan sifat Allah hukum Taurat harus membentuk kehidupan masyarakat menjadi wahana kehadiran Allah di dalam dunia. Inilah suatu cita-cita yang seeing ditinggalkan Israel, namun secara terus-menerus mempengaruhi cara hukum itu dimengerti dalam perjalanan sejarah Israel. Pada saat itu tanggung jawab untuk mengadili mempunyai arti yang jauh lebih luas daripada sekarang ini. Seperti dijelaskan oleh de Vaux, seorang hakim "lebih merupakan pembela keadilan ketimbang penghukum kejahatan. Ia adalah seorang wasit yang adil" (de Vaux, I, 157; lihat Ayub 9:33). Jadi, kedudukan hukum Taurat di dalam masyarakat senantiasa berada di pihak bangsa itu sebagai suatu keseluruhan, tidak sebagai hak istimewa segolongan tertentu saja.

    Hukum secara khusus dipercayakan kepada para imam. Tetapi yang ditekankan adalah pengajaran hukum itu sehingga umat itu mengerti apa yang diinginkan Allah (Ulangan 33:10). Lalu ada orangorang tertentu yang dipercaya untuk "menghakimi", seperti misalnya Musa (Keluaran 18:16) dan Yosua (Ulangan 34:9) dalam sejarah Israel yang mula-mula. Kemudian hari terdapat orang-orang yang disebut hakim; Samuel merupakan contoh yang paling menonjol di antara mereka (I Samuel 7:15-17). Perhatikanlah bahwa dari hal Samuel dikatakan is memerintah sebagai hakim (ayat 15). Patut diperhatikan bahwa waktu Israel mempunyai seorang raja, raja itu tidak pernah dianggap sebagai seorang pemberi hukum. Juga tidak terdapat hukum yang berasal dari raja. Sesungguhnya raja pun berada di bawah hukum seperti seluruh rakyatnya (II Samuel 11-12), meskipun raja berfungsi sebagai semacam mahkamah agung dalam soal-soal hukum (II Samuel 15:2-6).

    Bahwa hukum berfungsi secara lancar dalam konteks kehidupan sehari-hari terlihat dengan jelas dalam jabatan para tua-tua kota. Kelihatannya mereka dipercayakan tanggung jawab untuk mengadili perselisihan-perselisihan di antara rakyat (Ulangan 21:19) dan melaksanakan ketetapan-ketetapan hukum (Ulangan 19:12; 25:7-10). Kadang-kadang mereka diangkat secara resmi (II Tawarikh 19:4-11), tetapi biasanya mereka adalah anggota masyarakat yang lebih tua dan lebih dihormati. Para hakim ini menjelaskan bahwa titik pusat perjanjian adalah rumah tangga dan kehidupan sehari-hari; ketentuanketentuannya harus diwujudkan di dalam keluarga dan di antara sesamanya. Beberapa sarjana berpendapat bahwa dalam hubungan ini tumbuh semacam kecurigaan pada orang yang tinggal di pedalaman terhadap kota-kota yang memberikan kesempatan berkembang bagi gerakan kenabian.

  2. Hukum Dalam Kitab Nabi-Nabi.

    Dengan para nabi tercapailah suatu tingkat baru dalam pengertian mengenai kekudusan Allah dan arti hukum Taurat. Akan tetapi, mereka tidak berfungsi sebagai pembaharu hukum, melainkan lebih sebagai orang yang menyerang pelanggaranpelanggaran terhadap perjanjian kuno itu dan syarat-syaratnya yang sah. Dalam bahasan kita mengenai ibadah, kita akan bertanya apakah para nabi ingin meniadakan aspek-aspek seremonial hukum tersebut. Di sini paling tidak dapat dikatakan bahwa nabi-nabi itu mempunyai visi yang begitu luar biasa tentang kekudusan Allah serta tuntutantuntutannya sehingga, jika dibandingkan, upacara-upacara ibadah terlihat menjadi kurang penting. Sesungguhnya, tanpa disertai cara hidup yang penuh kebenaran, ibadah mereka dapat dinyatakan sebagai sesuatu yang keji (Yesaya 1 dan Amos 5:21-24). Jika hukum Taurat dipahami secara benar sebagai pencerminan penyerahan batin umat itu kepada Allah, maka para nabi sebenarnya hanya kembali kepada maksud sebenarnya dari perjanjian. Pada saat yang sama, visiun mereka tentang Allah dan maksud-maksud-Nya demikian nyata, hingga seluruh gagasan Taurat mulai mendapat segi pandangan yang baru. Hukum Taurat mengusahakan kerangka acuan yang lebih universal dan mendalam. Semuanya dapat dirangkum dalam kalimat Nabi Mikha, "berlaku adil, mencintai kesetiaan" (Mikha 6:8). Tetapi untuk ini dibutuhkan perubahan yang begitu radikal sehingga mencapai dasar hati. Tepat seperti apa yang dikatakan Yehezkiel, umat Allah memerlukan hati yang taat ketimbang hati yang keras (Yehezkiel 36:26-27). Yeremia menjelaskannya sebagai perjanjian baru. Pada saat itu hukum akan dituliskan dalarn bati mereka (Yeremia 31:31-34). Jadi, dalam Perjanjian Lama sudah terasa gerak hati, bukan untuk menyingkirkan hukum, melainkan meneguhkannya dalam cara yang lebih dalam daripada yang dapat diperkirakan Israel.

  3. Perkembangan Setelah Masa Pembuangan.

    Kalau kita mengakhiri diskusi kita mengenai hukum Taurat pada titik ini, akan terasa sulit untuk memahami perlawanan Perjanjian Baru terhadap cara berpikir Yahudi mengenai hukum Taurat itu. Kristus mengeluh terhadap orang Farisi, "Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri!" (Markus 7:9). Apa sajakah adat istiadat ini?

    Selama masa pembuangan, perubahan-perubahan yang sangat penting telah terjadi dalam kehidupan Israel. Semua lembaga yang mendukung hukum Taurat telah musnah-raja, bait Allah dan pelayanan ibadah para imam yang dilakukan secara teratur. Karena hukum yang tertulis itu merupakan peninggalan penting yang masih menghubungkan mereka dengan masa lalu, maka mereka mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Pada masa itu' perhimpunan orang-orang yang mempelajari hukum Taurat merupakan hal yang biasa (Yehezkiel 33:30-33). Perhimpunan-perhimpunan ini yang bakal menjadi lembaga sinagog. Membaca dan mempelajari Taurat menggantikan upacaraupacara korban dalam bait suci.

    Setelah masa pembuangan, hukum Taurat tetap mendapat tempat terutama dalam kehidupan masyarakat. Kita telah melihat bahwa perjanjian yang diakui Israel di hadapan Ezra adalah "sumpah kutuk untuk hidup menurut hukum Allah yang diberikan dengan perantaraan Musa, hamba Allah itu" (Nehemia 10:29). Karena mereka memandang musibah nasional yang menimpa bangsa mereka sebagai hukuman Allah atas kegagalan mereka menaati hukum Taurat tersebut, maka mereka memutuskan bahwa hal itu tidak akan terjadi lagi. Mereka masih mengerti tentang hukum itu dalam hubungannya dengan urusan Allah dengan para leluhur (Nehemia 9) dan sebagai pernyataan perjanjian yang dibuat Allah dengan mereka, tetapi kesadaran untuk memenuhi kewajiban kepada hukum dan syarat-syaratnya, cenderung mengalahkan semua hal lain yang berkenaan dengan keagamaan.

    Lagi pula, sebagai akibat dari penelaahan dan perenungan mereka, timbullah hukum lisan yang menjadi sama-sama berwewenang dengan hukum yang tertulis. Penyebabnya sederhana saja. Di satu pihak, karena kedudukan utama hukum Taurat dalarn Yudaisme pada masa sesudah pembuangan maka sangatlah penting untuk menghindari pelanggaran-pelanggaran hukum. Pada saat yang sama, hukum yang tertulis tak mungkin dapat merangkum semua keadaan yang disebabkan pernerintahan bangsa Persia dan Roma. Karena demikian timbullah kecenderungan untuk menafsirkan hukum Taurat dan menyesuaikannya pada keadaan-keadaan waktu itu. Walaupun mereka selalu berusaha untuk mendirikan tradisi ini dalam Alkitab (sesungguhnya Alkitab sendiri meramalkan perlunya penyesuaian seperti itu-Ulangan 17:8-26:19), ternyata wewenangnya menyaingi wewenang Alkitab itu sendiri.

    Yang terpenting adalah sikap•terhadap hukum ini. Hukum lisan ini dianggap sebagai titik pusat dalam kehidupan seseorang. Ketaatan kepada hukum Taurat adalah cara mendapatkan perkenanan dari Allah. Walau bahaya legalisnie senantiasa ada, kita harus juga ingat bahwa bagi banyak orang hal menaati hukum merupakan kesenangan; orang percaya menemukan sukacita besar dalam menaati tuntutantuntutannya. Lagi pula, ketaatan kepada hukum harus disertai dengan maksud-maksud yang suci (IBD, III, 94). Pandangan ini yang dinamai "nomisme"-yaitu, menjadikan hukum pusat dan inti kehidupan seseorang-menjadi latar belakang untuk memahami kritik-kritik

    Kristus terhadap orang Farisi dan rujukan-rujukan Rasul Paulus mengenai hukum. Tradisi mereka itu sendiri tidak salah, tetapi menun= jukkan segi pandangan yang salah. Apabila hukum Taurat menjadi alat untuk memelihara hubungan dengan Allah, maka mudah sekali melupakan bahwa janji Allah itu adalah dasar pengharapan kita. Dengan cara ini orang-orang Farisi cenderung menyatakan firm an Allah "tidak berlaku" demi adat istiadat mereka (Markus 7:13).

Sifat Hukum Taurat

  1. Jangkauan yang Luas.

    Hukum Taurat meliputi banyak hal dalam jangkauannya. Pengertian yang tepat tentang hukum Taurat menyebabkan kita mengerti bahwa seluruh kehidupan berada dalam kontrol kehendak Allah, apakah seseorang sedang bangun pagi, duduk untuk makan, berjalan-jalan atau pergi tidur. Apakah mengenai kehidupan dalam segi pemerintahan atau ibadah, dalam usaha atau dalam rumah, tidak ada yang terletak di luar bidang hukum. Karena seluruh kehidupan terbuka di hadapan Allah, maka terdapatlah kaitan yang tersembunyi antara hukum yang berlaku dalam pemerintahan dan yang ada sangkut-pautnya dengan ibadah. Eichrodt menjelaskan bahwa "terdapat pengertian perihal pengaturan total kehidupan manusia sebagai suatu penyingkapan kehendak-Allah yang bersifat menyelamatkan" (Eichrodt, I, 92).

    Berdasarkan perkataan tersebut di atas, perlu sekali ditekankan bahwa hukum sebab-akibat tidak nampak. Yaitu, tak ada usaha untuk menganjurkan hukum bagi setiap peristiwa yang dapat dipikirkan. Prinsip-prinsip dasar diberikan dan dijelaskan; penerapannya terserah pada "rasa keadilan yang sehat", seperti disebut oleh Eichrodt (Eichrodt, I, 77). Kita telah lihat di atas bahwa hukum yang bersifat negatif lebih sering diberikan daripada yang bersifat positif. Jadi, tujuannya adalah menghindari kesalahan-kesalahan, sehingga tercipta kebebasan untuk mengejar suatu kehidupan yang berkelimpahan. Semuanya ini dirangkum dalam pernyataan Perjanjian Lama tentang "jalan". Taat kepada hukum adalah suatu cara hidup, suatu cara berjalan pada jalan yang benar (Mazmur 1). Tujuannya adalah berjalan dan hidup bersama Allah, karena untuk itulah manusia diciptakan (Yesaya 2:3).

  2. Imbauan yang Bersifat Pribadi.

    Walaupun jangkauan hukum itu luas, imbauannya bersifat pribadi juga. Pertama-tama, ini berarti bahwa Taurat dikemukakan berdasarkan apa yang telah diperbuat Allah untuk Israel. Terminologinya bukan penjelasan hukum, melainkan imbauan yang .bersifat pribadi. Sering kali hukum-hukum itu disertai anak kalimat yang memberikan satu alasan yang membenarkan (Keluaran 22:21; 20:5 dan Ulangan 22:24). Terutama sekali, mereka harus ingat siapa yang telah memanggil mereka dan perbuatan-perbuatan besar yang telah diperbuat-Nya bagi mereka. Mereka harus ingat (sebuah kata yang penting dalam Perjanjian Lama) dan mematuhi katakata ini, karena "Akulah Allahmu dan kamulah umat-Ku" (lihat Ulangan 10:16-22).

    Jadi, alasan yang paling kuat untuk taat kepada hukum haruslah hati yang tergugah, suatu keputusan batin dan moral yang pribadi. "Pilihlah pada hari ini," Yosua mendorong bangsa Israel di Sikhem (Yosua 24:15). Paksaan dari luar melulu tidak akan pernah cukup, juga bukan ini merupakan maksud Allah. Seperti yang diterangkan oleh Kristus dalam Perjanjian Baru, seluruh hukum Taurat dapat diringkaskan dalam hal mengasihi Allah (Ulangan 6:5 dan Matius 22:37), dan kalau sampai mengungkapkan apa yang diperlukan dari masing-masing orang dalam masyarakat, maka seluruh hukum Taurat dapat diringkas menjadi "kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri" (Imamat 19:18). Janji pribadi kepada Tuhan seperti ini menolong menempatkan hukum Taurat dalam perspektifnya yang benar. Belajar ilmu hukum di luar konteks kelima kitab Musa akan membuat orang tidak dapat memahami kesaksian Daud bahwa Taurat itu "lebih indah daripada emas" dan "lebih manis daripada madu, bahkan daripada madu tetesan dari sarang lebah" (Mazmur 19:11).

  3. Kekuatan Mutlak.

    Hukum Taurat juga bersifat mutlak dalam kekuatannya. Karena didasarkan atas kekudusan Allah, maka hukum ini menuntut kesempurnaan pada pihak umat-Nya (Imamat 11:44). Jadi, setiap orang yang tidak terus menaati seluruh perkataan hukum Taurat dikutuk (Ulangan 27:26). Apabila Israel melawan hukum Taurat maka tak dapat tidak mereka akan mendatangkan murka dan penghukuman Allah ke atas diri mereka (Ulangan 31:16). Tuhan telah menyadari bahwa mereka tidak akan menaati hukum Taurat itu dengan sepenuhnya. Tetapi seperti yang akan kita lihat dalam bab berikut ini, hal ini tidak dapat diabaikan begitu saja. Kemurahan Allah tidak berarti bahwa la akan membiarkan dosa. Sebaliknya, la menyediakan ketentuan-ketentuan yang memungkinkan penebusan bagi orang berdosa. Bahkan dalam menindak pelanggaran-pelanggaran terhadap hukum, hukum Taurat itu sendiri harus dibiarkan _utuh. Dengan demikian Kristus sendiri, sebagai pemberi hukum terbesar, dapat berkata bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum, melainkan untuk menggenapinya (Matius 5:17).

  4. Penerapan Universal.

    Akhirnya, kita harus mengerti bahwa hukum Taurat berlaku untuk umum. Pada mulanya ini berarti bahwa hukum itu berlaku untuk seluruh Israel tanpa mempedulikan status sosial atau politik masing-masing. Memang benar bahwa hukum Taurat bangsa Israel merupakan sesuatu yang unik di antara sekalian bangsa di bumi, tetapi hal itu bukan karena kaitannya terbatas pada bangsa Israel itu sendiri, melainkan karena sesungguhnya tak ada bangsa lain yang mengenal hukum yang serupa.

    Sejak permulaan, hukum Taurat bergerak melampaui batas-batas nasionalnya, seperti yang tampak jelas dalam kasus Rut. Hukum Taurat dengan mudah diperluas kepada tamu dan orang asing. Bahkan musuh seseorang pun mempunyai beberapa hak tertentu di bawah hukum Taurat. ""Apabila engkau melihat lembu musuhmu atau keledainya yang sesat, maka segeralah kaukembalikan binatang itu. Apabila engkau melihat rebah keledai musuhmu karena berat bebannya, maka janganlah engkau enggan menolongnya, dengan membongkar muatan keledainya" (Keluaran 23:4-5 dan lihat Amsal 25:21).

    Israel tidak selalu setia dalam peranannya sebagai terang dan berkat bagi semua bangsa. Tetapi keberadaan bangsa itu dan perjanjian yang mendasarinya berbicara mengenai hari itu ketika semua orang, dari yang paling hina hingga yang paling mulia, akan mengenal Tuhan. Pada hari itu semua bangsa akan naik ke gunung Tuhan untuk belajar tentang jalan-jalan Tuhan (Yesaya 2:2-4). Sebagai wahana visiun itulah Israel "menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan" (Yesaya 42:6-7). Untuk memainkan peranan yang demikian diperlukan seorang yang lebih besar daripada Musa, yaitu Tuhan Yesus, yang dalam khotbah pertamanya mengutip Yesaya (61:1-2) dan berkata bahwa memberikan penglihatan kepada orang buta dan pembebasan bagi orang tawanan telah digenapkan pada hari itu sewaktu mereka mendengarnya (Lukas 4:18-21). Ialah yang menjadi perantara perjanjian baru yang diramalkan Yeremia, di mana hukum akan dituliskan dalam hati orang-orang, dan ketegangan yang terjadi antara perbuatan lahiriah dan maksud batiniah akhirnya dapat diatasi (Yeremia 31:31-34).

Taxonomy upgrade extras: 

PPL-Referensi 06a

Nama Kursus : Pengantar Perjanjian Lama
Nama Pelajaran : Hubungan PL dan PB
Kode Pelajaran : PPL-R06a

Referensi PPL-R06a diambil dari:

Judul Buku : Bagaimana Memahami Perjanjian Lama III
Judul Artikel : Yang Lama dan Yang Baru; Masalahnya
Penulis : John Drane
Penerbit : Persekutuan Pembaca Alkitab, Jakarta 2003
Halaman : 116 - 120

REFERENSI PELAJARAN 06a - YANG LAMA DAN YANG BARU

Bagi orang Kristen, PL senantiasa penting karena kutipannya terdapat pada hampir setiap halaman PB. Namun, PL juga menjadi masalah bagi kekristenan dan bahkan sejak masa awal gereja makna dan relevansi PL telah menjadi sumber perdebatan dan kontroversi yang hangat. Hal-hal tersebut merupakan salah satu isu yang menyebabkan gesekan dan perpecahan dari gereja-gereja muda di tahun-tahun segera setelah kematian dan kebangkitan Yesus. Yesus sendiri telah mengklaim bahwa hidup-Nya sendiri adalah penggenapan PL. Namun banyak tindakan-Nya seakan mengabaikan pengajaran-pengajaran utama PL (Mat. 5:17), terutama pada subjek seperti peraturan Sabat (Mrk 2:23-28), hukum mengenai makanan (Mrk. 7:14-23), bahkan juga beberapa pengajaran moralnya (Mat. 5:21-48). Jadi, otoritas seperti apakah seharusnya dimiliki PL dalam kehidupan pengikut-pengikut Yesus?

Tidak timbul masalah khusus bagi generasi pertama Kristen yang adalah juga orang Yahudi. Sejauh ini, mereka terus mengikuti cara hidup yang sudah mereka terima sejak kecil, yang mendasarkan diri kepada PL sesuai yang dimengerti oleh agama Yahudi abad pertama. Namun, setelah jelas bahwa berita Kristen ditujukan kepada orang-orang non-Yahudi, dan bahwa orang Romawi dan Yunani juga bisa menjadi pengikut Yesus, pertanyaan mengenai otoritas PL muncul dalam bentuk yang lebih mendesak. Apakah orang kafir perlu menjadi Yahudi terlebih dahulu sebelum menjadi Kristen? Paulus dan penulis PB dengan tegas menjawab: tidak perlu (Gal., lPet., Ibr.). Namun, mereka tetap menerima PL sebagai kitab suci mereka, dan sering menggunakannya sebagai dasar penjelasan iman Kristen.

Justru di sinilah letak masalahnya. Kalau bagian-bagian tertentu PL bisa diabaikan sebagai tidak relevan lagi bagi iman dan tindakan Kristen, bagaimana kita bisa membedakannya, dan apa yang harus kita lakukan dengan bagian sisanya?

Mencari Jalan Keluar

Pertanyaan mengenai hubungan antara PL dan PB diungkapkan dengan lantang oleh seorang Kristen abad ke-2, Marcion. Ia bukan hanya melihat sikap para rasul yang ambigu mengenai masalah ini, tetapi ia juga memperhatikan masalah-masalah lain di dalam kepercayaan Kristen kepada PL. Yesus telah berbicara tentang kasih Allah yang memedulikan kesejahteraan semua manusia. Akan tetapi, ketika membaca PL, Marcion sering melihat gambaran Allah yang agak berbeda, di mana Ia kelihatannya dihubungkan dengan kekejaman dan kebuasan yang ekstrem. Jauh dari kehendak menyelamatkan manusia, Ia kadang-kadang dihubungkan dengan penghancuran mereka. Tentu saja, Marcion sedikit melenceng di dalam melihat gambaran itu: penghakiman yang keras merupakan bagian penting dari pengajaran Yesus, dan kasih Allah tidak pernah absen dari iman PL, seperti yang telah kita lihat dalam berbagai cara.

Namun, bagaimanapun pembaca modern seringkali merasakan hal yang sama, dan beberapa orang Kristen sekarang akan mengalami kesulitan untuk mendamaikan beberapa aspek dari pandangan PL tentang Allah dengan apa yang mereka anggap sebagai pandangan umum Kristen tentang PB. Selain permasalahan yang diangkat oleh Marcion, mereka juga menunjuk kepada perbedaan antara berita kasih Allah yang universal dalam Yesaya 40-55 dengan apa yang tampak sebagai suatu nasionalisme sempit dari kitab seperti Ezra. Bahkan penafsir yang ulung sekalipun sangat kesulitan untuk mendamaikan sikap sentimentil Mazmur 137:8-9 dengan pernyataan untuk mengasihi musuh di dalam khotbah di bukit Yesus (Mat. 5:43-48). Juga, banyak orang sekarang ini sulit memahami beberapa aspek ibadah PL, terutama persembahan korban yang (paling tidak menurut pandangan barat) kelihatannya primitif dan kejam, bahkan sama sekali tidak masuk akal.

Jawaban Marcion terhadap semua ini adalah sederhana: robek PL dan buang ke dalam tempat sampah! Namun pandangan itu tidak didukung secara luas oleh gereja awal, terlebih karena Marcion juga ingin menyingkirkan sebagian besar PB. Hal itu kelihatannya menimbulkan tanda tanya terus akan kesejatian iman Kristennya.

Namun, para pemimpin gereja mula-mula dapat mengerti dengan cukup baik permasalahan yang dipertanyakan Marcion. Pertanyaan mengenai PL itu sungguh nyata. Kalau kedatangan Yesus adalah tindakan yang baru dan menentukan dari Allah dalam dunia ini, lalu apa relevansinya yang dapat dimiliki sejarah umat purba untuk iman di dalam Yesus?

Jawaban umum yang diberikan ialah bahwa ketika PL dimengerti dengan tepat maka PL akan mengatakan hal yang persis sama dengan yang dikatakan PB. Namun, untuk dapat membuktikan hal ini maka perlulah menafsirkan PL sedemikian sehingga dapat menunjukkan bahwa arti sebenarnya entah bagaimana tersembunyi bagi pembaca biasa.

Secara kebetulan, sarjana-sarjana Yahudi telah menghadapi pertanyaan ini dalam konteks yang berbeda. Lebih dari satu abad sebelumnya, penafsir agung Yahudi, Filo (sekitar 20SM-45M), yang tinggal di Aleksandria, Mesir, telah mencoba menyelaraskan PL dengan pemikiran para filsuf besar Yunani. Ada sedikit kaitan yang jelas antara PL dengan filsafat Yunani. Namun, dengan menerapkan penafsiran alegoris yang mistis terhadap PL, Filo berhasil menunjukkan (paling tidak sampai ia merasa puas) bahwa Musa dan para penulis PL lainnya sebenarnya telah menyatakan kebenaran-kebenaran filsafat Yunani beberapa abad sebelum para pemikir Yunani memikirkannya!

Beberapa pemimpin Kristen awal, terutama mereka yang di Aleksandria, mengadopsi pendekatan seperti ini dengan penuh semangat. Mereka segera juga menggunakan teknik yang sama untuk menunjukkan bahwa PL memuat segala sesuatu yang ada dalam PB, bagi mereka yang memiliki mata untuk melihat.

Bahkan hal-hal mendetail yang kelihatannya tidak penting dari kisah PL dijadikan lambang-lambang bagi Injil Kristen. Apa pun yang berwarna merah dapat dimengerti sebagai referensi kepada kematian Yesus di kayu Salib (sebagai contoh, lembu betina merah dari Bil.19, tali kirmizinya Rahab dari Yos. 2:18). Air kemudian menjadi gambaran akan baptisan Kristen. Kisah Keluaran, dengan kombinasi dengan darah (di ambang pintu pada saat Paskah) dan air (ketika menyeberangi laut Teberau), menghasilkan banyak penjelasan yang kompleks akan hubungan antara salib dan keselamatan Kristen, juga dengan dua sakramen Kristen, baptisan dan perjamuan kudus!

Uskup Hilary dari Poitiers, Perancis (315-368 M) menjelaskan cara pembacaan PL ini sebagai berikut:

"Setiap karya yang termuat di dalam kitab-kitab suci mengumumkan melalui kata, menjelaskan melalui fakta, dan mensahkan melalui contoh- contoh kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus .... Sejak permulaan dunia ini, Kristus melalui prafigurasi yang otentik dan mutlak dalam pribadi para patriakh melahirkan, membersihkan, menguduskan, memilih, memisahkan dan menebus gereja: melalui tidurnya Adam, banjir besar pada masa Nuh, berkat dari Melkisedek, pembenaran Abraham, kelahiran Ishak, penawanan Yakub ... Tujuan karya ini adalah untuk menunjukkan bahwa dalam setiap pribadi dalam setiap masa, dan dalam setiap tindakan, gambaran tentang kedatangan, pengajaran, kebangkitan-Nya, dan tentang gereja kita direfleksikan seperti pada cermin" (Hilary, Introduction to The Treatise of Mysteries).

Tidak semua pemimpin gereja senang dengan pendekatan terhadap PL di atas: terutama mereka yang berhubungan dengan pusat Kekristenan besar lainnya di Antiokhia, Siria. Namun, biasanya diterima begitu saja bahwa PL adalah kitab Kristen, dan dengan satu dan lain cara isinya berkaitan dengan kepercayaan mendasar teologi Kristen.

Selama Reformasi Protestan, keseluruhan pokok pembicaraan ini sekali lagi dibuka untuk diperiksa. Martin Luther (1483-1546) dan John Calvin (1509-1564) menekankan pentingnya mengerti iman PL berdasarkan konteks sejarah dan sosialnya. Dalam hal ini, pendekatan mereka tidaklah berbeda dari pendekatan banyak sarjana modern. Namun, Luther ingin membedakan nilai PL dari PB dengan melihat PL sebagai Taurat dan PB sebagai Injil. Hal ini memberikan kepadanya alat yang baik untuk memisahkan gandum Injil sejati (menurut Luther ditemukan pada surat- surat Paulus) dari jerami legalisme yang sudah diganti (diidentifikasikan dengan PL dan kekristenan Yahudi). Pemikiran ini telah sangat mempengaruhi kesarjanaan Alkitab sampai masa kini. Akan tetapi, pandangan ini keliru dalam beberapa hal mendasar:

* Pandangan ini mengabaikan fakta bahwa Taurat bukan dasar iman PL dan juga tidak sama sekali tidak ada di dalam PB. Di dalam PL maupun PB, Taurat diletakkan di dalam konteks pemahaman perjanjian dengan kasih Allah sebagai prinsip dasarnya.

* Luther sangat keliru mengidentifikasikan Yudaisme dengan legalisme moralistis. Hal ini sangat tidak adil bahkan terhadap pandangan Farisi yang jelas-jelas ditolak oleh Paulus. Dalam hal ini, Luther membiarkan reaksinya sendiri terhadap kekristenan Roma Katholik untuk mewarnai pandangannya terhadap iman PL.

Calvin mengenali beberapa kekurangan ini, dan sebaliknya menekankan kepentingan dari tema perjanjian di PL dan PB. Dengan perbandingan yang teliti akan hubungan Allah dengan umat Israel purba dan dengan gereja Kristen, Calvin mampu mengklaim bahwa dua bagian dari Alkitab Kristen tersebut disatukan oleh suatu pewahyuan yang progresif, di mana janji-janji purba yang diberikan kepada Israel dalam PL mencapai puncaknya di dalam kehidupan gereja Kristen. Pandangan ini bukan tidak memiliki kesulitannya sendiri. Namun, paling tidak pandangan ini mencoba untuk melihat iman PL secara serius. Pandangan Calvin ini masih dipegang oleh banyak orang dari kelompok Kristen konservatif.

Setelah Reformasi, pertanyaan mengenai PL sebagai kitab Kristen tersimpan dengan rapi sampai pada generasi kita. Zaman pencerahan Eropa, dengan tekanan kepada memahami PL sebagai koleksi kitab-kitab kuno dalam konteks masanya sendiri, membawa penyelidikan para sarjana ke arah lain. Namun, dalam 100 tabun terakhir atau lebih ini, pertanyaan teologis tadi telah mencuat ke permukaan lagi. Hal penting yang mendorongnya adalah gerakan Nazi di negara Jerman modern. Perasaan anti Yahudi yang diciptakan oleh Nazi telah berdampak pada gereja-gereja Jerman sendiri, dan kehadiran PL di dalam Alkitab Kristen menjadi isu politis yang membara sekaligus menjadi bahan kajian teologis. Sejumlah teolog Jerman mulai mengadopsi sikap yang sama seperti Marcion. Namun, banyak sarjana Kristen Jerman yang memberikan penilaian positif terhadap signifikansi PL, walaupun mereka menghadapi tekanan secara politik. Sarjana-sarjana seperti Walter Eichrodt dan Gerhard von Rad bahkan juga teolog Swiss, Karl Barth, justru menghasilkan karya-karya yang paling kreatif pada masa tersebut.

Sekarang ini, umat Kristen mengadopsi berbagai sikap terhadap nilai PL:

* Ada yang ingin memberikan PL nilai dan otoritas yang sama dengan PB, dengan dasar bahwa setiap kata di dalam keduanya adalah kata-kata Allah sendiri secara langsung. Namun, kita harus cukup berhati-hati untuk tidak terlalu gampang menerima gambaran seperti ini karena ada sejumlah pengajaran Yesus sendiri yang dalam berita-Nya jelas menunjukkan sikap penolakan atau perevisian yang sangat radikal terhadap beberapa aspek mendasar dari pengajaran PL.

* Orang lain memperdebatkan bahwa PL digantikan seluruhnya oleh PB, sehingga bisa disingkirkan. Di sini kita juga harus memelihara suatu keseimbangan yang teliti yang kita temukan pada pengajaran Yesus sendiri karena Yesus juga menguraikan pelayanan-Nya dalam segi tertentu menggenapi PL. Kita bisa secara sah mendebatkan artinya, namun ini pastilah harus mengikutsertakan asumsi bahwa PL memiliki sesuatu untuk kekristenan dan karenanya memiliki tempat yang sah di dalam Alkitab Kristen.

* Beberapa orang mencoba membedakan antara beberapa bagian dari PL. Mereka akan memisahkan hal-hal seperti hukum-hukum tentang imam, persembahan korban, dan ketahiran (yang tidak lagi dilakukan oleh Kristen) dari bagian-bagian lain seperti Dekalog dan pengajaran- pengajaran moral dari para nabi (yang dianggap masih relevan). Calvin melakukan pembagian yang serupa. Namun, jauh lebih mudah membagi seperti itu daripada membuktikan kebenarannya. Dengan menyingkirkan unsur-unsur yang kelihatannya tidak relevan itu, kita sebenarnya sedang menggeser beberapa aspek paling dasar dari iman PL. Sebagai tambahan, PB justru paling sering menemukan korelasi antara iman PL dengan kepercayaan Kristen tentang Yesus di dalam konsep-konsep seperti persembahan kurban.

* Juga umum bagi orang Kristen untuk berbicara tentang pewahyuan progresif kehendak dan sifat Allah yang mengaliri kedua perjanjian tersebut. Pandangan ini mengatakan bahwa kehendak Allah dinyatakan melalui sejumlah tahapan, disesuaikan secara kasar dengan kapasitas manusia untuk memahaminya. Jadi, beberapa dari bagian yang lebih sulit dari PL dapat dijelaskan sebagai sesuai dengan masa primitif, yang kemudian diganti dengan pandangan yang lebih maju, dan memuncak pada pengajaran Yesus tentang Allah yang adalah kasih. Namun ini adalah ide yang tidak menolong karena didasarkan kepada ide evolusioner yang sudah ketinggalan zaman mengenai perkembangan moral yang tidak terhindarkan dalam diri manusia. Pandangan ini juga mencampuradukkan pernyataan tentang Allah sebagaimana Dia adanya dengan pernyataan tentang apa yang manusia, pikirkan tentang Dia. Sebagai tambahan pandangan ini memuat juga implikasi yang meragukan bahwa orang modern pasti mengetahui lebih banyak mengenai kehendak Allah dan lebih taat kepadanya daripada para bapa leluhur, nabi-nabi, dan tokoh-tokoh utama kisah PL.

Taxonomy upgrade extras: 

PPL-Referensi 02a

Nama Kursus : Pengantar Perjanjian Lama
Nama Pelajaran : Latar Belakang Geografis Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : PPL-R02a

Referensi PPL-R02a diambil dari:

Judul Buku : Pengenalan Perjanjian Lama
Judul Artikel : Ilmu Bumi Perjanjian Lama
Penulis : Denis Green
Penerbit : Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1984
Halaman : 1 - 5

REFERENSI PELAJARAN 02a - ILMU BUMI PERJANJIAN LAMA

  1. Daerah Timur Kuno

    Daerah kejadian-kejadian Perjanjian lama pada garis besarnya termasuk lembah utara dan delta/beting sungai Nil, semenanjung Sinai, negara- negara Palestina, Fenesia, Aram (Siria), lembah- lembah sungai Efrat, Tigris, dan negara Persia (Iran). Sekarang seluruh daerah yang luas itu disebut "Sabit Subur" (Fertile Crescent).

    1. Penduduknya mendiami daerah yang berbentuk seperti dua garis memanjang yang merupakan lengan daripada suatu sudut, dengan ujung sudut itu terletak di dekat mata air sungai Efrat. Garis timur dari sudut tersebut menuju ke arah Selatan melalui lembah Efrat sampai ke Teluk Persia. Pada garis itu terdapat bangsa Asyur, Babel dan Persia. Pada garis Barat-daya, terdapat bangsa Aram (Siria), Fenesia, Israel dan Mesir.

    2. Kedua sistem sungai yang besar, yaitu sungai Nil (bagian Barat daya) dan Efrat-Tigris (bagian Timur laut) memungkinkan tanah datar yang luas dan berpengairan. Kedua daerah daratan tersebut menjadi pusat daripada dua kekuasaan besar pada masa Perjanjian Lama, yaitu Mesir dan Mesopotamia (Babel).

    3. Perhatikanlah letak Israel di antara kedua kekuasaan besar tersebut. Mula-mula Mesir, kemudian Asyur, setelah itu Babel, Persia dan kerajaan-kerajaan Ptolemy dan Seleucus (raja-raja Yunani/Gerika), sangat mempengaruhi jalannya sejarah Israel. Dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan yang kuat itu, Israel kelihatan kecil dan tidak berdaya, bahkan tidak berarti bagi pandangan duniawi. Akan tetapi Israel telah menandai dan mempengaruhi sejarah dunia dari segi agama dengan cara yang tidak tercapai oleh kerajaan-kerajaan yang lain itu.

  2. Palestina

    Tanah Palestina atau Kanaan adalah daerah yang terletak di antara Lautan Tengah sebagai batas Barat dan Padang Gurun Arab sebagai batas Timur. Batas Utara dan Selatan tidak ditetapkan dengan pasti, tetapi kira-kira sesuai dengan ucapan yang sering kali terdapat dalam Perjanjian Lama, yaitu "dari Dan sampai Bersyeba" (Hakim-hakim 20:1; II Sam. 3:10; 17:11; I Tawarikh 21:2; II Tawarikh 30:5). Namun ""Palestina" berasal dari nama "Filistin" sebab orang-orang itu menduduki dataran pantai.

    Panjang Tanah Palestina dari Dan sampai Barsyeba kurang lebih 240 km, sedangkan lebarnya kalau dihitung dari sungai Yordan ke pantai kurang lebih 95 km di bagian Selatan, dan kurang lebih 50 km di bagian Utara. Di sebelah Timur sungai Yordan, garis perbatasan agak kurang jelas.

    1. Sifat Umum - pada umumnya, tanah Palestina berupa daerah pegunungan. Di antara gunung-gunung itu, terdapat lembah-lembah yang cukup subur. Sebagai orang yang biasa hidup di daerah pegunungan, bani Osrael kurang pandai berperang di tanah datar (Hakim-hakim 1:9), walaupun kemudian mereka mulai memakai pasukan kuda untuk melawan Siria dan Asyur. Oleh sebab itu bani Israel tidak dapat mempertahankan bagian dataran pantai dalam waktu yang lama, sedangkan Dataran Esdralon sering menjadi perjuangan, yang tidak selalu berhasil baik bagi tentara Israel.

    2. Bagian-bagian Umum - Tanah Palestina dengan sendirinya terbagi menjadi empat bidang dengan arah Utara-Selatan. (a) "Dataran Pantai", yang menyusur Lautan Tengah dari Gunung Karmel ke Selatan. (b) "Pegunungan Tengah", yang mulai dari Libanon dan mengarah terus ke padang gurun Selatan, dengan Datar Esdralon (Yiztreel) di pertengahannya. (c) "Lembah Yordan" termasuk Laut Galilea dan Laut Mati. (d) "Pegunungan Timur", mulai dari G. Hermon sampai ke tanah Moab.

      1. Dataran Pantai: Lebarnya berubah-ubah dari 8 sampai 24 km. Di sebelah Utara G. Karmel terletak Fenesia dengan pelabuhan-pelabuhannya yang terkenal yaitu Tirus dan Sidon. Tetapi dari Karmel ke Selatan, garis pantai lurus saja dengan hanya satu tempat sebagai kemungkinan pelabuhan, yaitu Yope (Jaffa), yang sejak semula menjadi pelabuhan Kota Yerusalem.

      2. Pegunungan Tengah:

        1. Bagian Utara - Disini sebenarnya terdapat dua pegunungan, yaitu Libanon dan Anti-Libanon. Di antara dua pegunungan tersebut terdapat rute yang biasa dipakai oleh penyerbu- penyerbu dari Utara/Timur. Para pemazmur dan nabi sering menyebutkan tentang salju, pohon-pohon cedar, sungai- sungai, keindahan dan kesuburan daerah Libanon itu (Yer. 18:14; Kidung Agung 4:15; Yes. 60:13). Gunung yang paling tinggi di bagian ini adalah Hermon (2800 m) yang ditutupi oleh salju, juga disebut "Siryon" di Perjanjian Lama (Ul. 3:9; Maz. 42:7; 89:13; 133:3). Menuju ke Selatan pegunungan Libanon (Barat) menjadi pegunungan Galilea, yang tidak setinggi pegunungan Libanon. Bagian ini jarang masuk sejarah Perjanjian Lama karena jauh dari pusat kejadian-kejadian besar. Namun, pada zaman Perjanjian Baru, daerah Galilea itu menjadi tempat yang sangat penting.

        2. Pegunungan Samaria - sebelah Selatan Dataran Esdralon, Pegunungan Tengah memasuki daerah "pegunungan Samaria", tanah yang berbukit-bukit dengan lembah-lembah yang subur, misalnya Dataran Dotan di mana kakak-kakak Yusuf menggembalakan kambing domba ayah mereka (Kej. 37:17). Di Samaria juga terdapat beberapa kota yang terkenal pada zaman Perjanjian Lama, misalnya kota Sikhem (terletak di antara G. Ebal & Gerizim) yang ada hubungannya dengan Abraham (Kej. 12:6) dan Yakub (Kej. 33:18), dan juga menjadi tempat perkumpulan sidang-sidang besar orang Israel (Yos. 24).

        3. Pegunungan Yudea - Menuju ke Selatan lagi, terdapat "pegunungan Yudea". Pada batas Utaranya terdapat banyak benteng-benteng, yang menceritakan peperangan-peperangan antara Yehuda dan Israel. Di bagian Selatan terletak kota Betlehem, tempat lahirnya Daud (I Sam. 16:1) dan tempat kejadian kisah Rut (Rut 1:1,19). Agak ke Selatan lagi terletak Hebron, kota yang paling tua di Palestina, dimana para kepala bangsa (patriarkh) dikuburkan di dalam Gua Makhpela (Kej. 23:19; 25:9; 50:13), dan yang dijadikan ibu kota Yehuda oleh Daud sebelum Yerusalem ditaklukkan (I Taw. 11:1,2).

      3. Lembah Yordan

        1. Sungai Yordan - mata airnya terletak di sebelah Barat G. Hermon, kurang lebih 525m. di atas permukaan laut. Dia mengalir ke Selatan melalui dua danau, yaitu mata air Meron (Danau Huleh) (Yos. 11:1-9) dan Laut Galilea, akhirnya masuk Laut Mati kira-kira 400m. di bawah permukaan laut. Sebab daerahnya menurun, sungai itu mengalir cukup deras dan tidak dapat dilayari secara praktis. Tetapi sungai Yordan dapat diseberangi dengan memakai arungan yang terletak misalnya di Yerikho, dan di beberapa tempat di sebelah Utara Yabok. Di tempat penyeberangan Yabok itu Yakub bergulat pada waktu malam (Kej. 32:33 dst.).

        2. Laut Galilea - panjangnya 20 km. sedangkan pada bagian yang paling lebar 12 km. Letaknya berupa tempat dalam (210m di bawah permukaan laut), dikelilingi bukit-bukit tinggi. Laut ini jarang disebutkan dalam Perjanjian Lama, kecuali dengan memakai nama "Kinerot" (Yos. 11:2) atau "Kineret" (Ul. 3:17).

        3. Laut Mati - disebut "Laut Asin" dalam Perjanjian Lama (Kej. 14:3; Bil. 34:3), atau "Laut Araba" (Ul. 3:17). Panjangnya 69 km, lebarnya 5 km. sampai 14 km, dan merupakan genangan air yang paling rendah di dunia (397m. di bawah permukaan laut). Oleh sebab itu, iklimnya panas sekali. Tidak ada saluran keluar, dan kalau air meluap, akhirnya menguap. Oleh karena itu airnya penuh dengan garam dan mineral- mineral lain. Di sebelah barat terletak jurang-jurang En- Gedi, tempat di mana Daud menyembunyikan dirinya (I Sam. 24:1).

      4. Pegunungan Timur Di bagian ini terdapat tanah berbukit-bukit yang cukup subur, dengan hutan dan kebun buah-buahan. Di sini juga terdapat dataran tinggi Basan, yang terkenal karena lembu-lembunya (Amos 4:1; Ul. 32:14) dan kota-kotanya yang besar. Ke Selatan lagi terletak Gilead, yang terkenal karena rempah-rempahnya (Kej. 37:25), dan tanah Amori yang rajanya Sihon dikalahkan oleh Israel (Bil. 21:21 dst.). Di daerah ini juga terletak Yabesy-Gilead, tempat Saul pertama kali muncul sebagai seorang yang berkuasa di Israel (I Sam. 11); juga Ramot-Gilead, dimana raja Ahab dikalahkan oleh Aram dan mati (I Raja-raja fas. 22). Lebih ke Selatan lagi, yaitu dekat Laut Mati dan sebelah Timurnya, terdapat bani Amon dan Moab, tetangga yang sering menyerang Israel. Daerah paling Selatan didiami bani Edom. Oleh karena daerah ini sukar sekali dipertahankan, maka Israel tidak dapat menegakkan diri secara tetap di sebelah Timur sungai Yordan.

      5. Dataran Esdralon Daerah yang bersegi-tiga ini sangat penting di dalam sejarah Perjanjian Lama, maka karena itu diperhatikan secara khusus. Letaknya di antara Galilea dan Samaria; pegunungan Galilea sebagai batas Utara, pegunungan Karmel sebagai batas Barat- daya, dan pegunungan Gilboa sebagai batas Timur. Sungai Kison mengalir daripadanya ke Lautan Tengah. Jalan keluar dari sebelah Timur ke lembah Yordan ialah melalui lembah Yizreel (dalam bahasa Yunani "Esdralon""). Dataran ini sangat penting karena letaknya sangat strategis. Pedagang-pedagang dari Damsyik, Arabia dan Mesopotamia yang menuju ke pantai Siria atau Mesir, biasanya melewati dataran Esdralon. Tanahnya juga subur sekali, maka dari itu dipandang sebagai tanah yang berharga dan baik dimiliki. Oleh karena daerah ini mudah dimasuki baik dari sebelah Timur maupun dari sebelah Barat, maka menjadi medan peperangan Israel. Terutama, pernah terjadi empat perang besar di sini: (i) Sisera, panglima Kanaan, dikalahkan oleh Debora dan barak (Hakim-hakim 5:19-21) (ii) orang Midian dihancurkan oleh Gideon dengan 300 prajuritnya di kaki Gunung Gilboa (Hakim-hakim fas 7). (iii) Raja Saul dan anaknya Yonathan dibunuh di G. Gilboa oleh orang filistin (I Sam. 31) (iv) Raja Yosia mati waktu dia berusaha menghalangi Firaun Nekho memasuki Dataran Esdralon melalui jalan Megido (II Raja-raja 23:29, 30). Di G. Karmel, Elia mengadakan pengujian terhadap nabi-nabi Baal (I Raja-raja 18:20 dst.) Kota Yizreel kadang-kadang menjadi tempat tinggal Raja Ahab, dan di lereng gunung tersebut terletak kebun anggur Nabot yang dirampas Ahab dengan tipu muslihat (I Raja-raja 21:1 dst).

      6. Letak kota Yerusalem Yerusalem terletak 700m di atas permukaan laut, di daerah pegunungan Yudea. Sebenarnya tempat itu kurang baik sebagai lokasi ibu kota negara - jauh dari laut (54km), tidak terletak di tepi sungai besar, tidak dekat dengan jalan raya/dagang, persediaan airnya kurang bagus dan termasuk daerah kurang subur. Namun demikian, tidak ada sebuah kota lain yang telah sedemikian rupa mempengaruhi sejarah dunia.

Taxonomy upgrade extras: 

PPL-Referensi 05c

Nama Kursus : Pengantar Perjanjian Lama
Nama Pelajaran : Kanon Alkitab Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : PPL-R05c

Referensi PPL-R05c diambil dari:

Judul Buku : Ensiklopedi Alkitab Masa Kini (Jilid A-L)
Judul Artikel : Kanon Perjanjian Lama
Penulis/Editor : J.D. Douglas
Penerbit : Yayasan Komunikasi Bina Kasih, Jakarta, 1993, 1994
Halaman : 510 - 511

REFERENSI PELAJARAN 05c - KANON PERJANJIAN LAMA

  1. Nama dan Konsepsi

    Kata Yunani kanon, berasal dari bahasa Semit (bnd Ibrani qaneh, Yeh. 40:3 dst). Pada mulanya berarti alat pengukur, kemudian dalam arti kiasan berarti 'peraturan'. Kata itu mendapat tempat dalam bahasa gerejawi. Pertama, menunjukan kepada rumusan pengakuan iman, khususnya simbol (pengakuan) baptis, atau gereja pada umumnya. Kata kanon juga dipakai mengacu pada peraturaran-peraturan gereja yang sifatnya berbeda-beda, tapi hanya dalam arti 'daftar', 'rentetan'. Baru pada pertengahan abad 4 kata itu diterapkan kepada Alkitab. Dalam pemakaian Yunani kata 'kanon' agaknya menunjuk hanya kepada daftar tulisan- tulisan kudus, tapi dalam bahasa Latin kata ini juga menjadi sebutan bagi Alkitab sendiri, jadi menyatakan bahwa Alkitab menjadi patokan bagi perbuatan yang mempunyai kuasa ilahi. Maksud yang terkandung dalam pemakaian istilah 'Kanon PL' ialah bahwa PL adalah wujud lengkap dan utuh dari kumpulan Kitab-Kitab yang tak boleh dikutak-kutik lagi, yaitu Kitab-Kitab yang diilhamkan oleh Roh Allah. Dan Kitab-Kitab itu mempunyai wibawa normatif serta dipakai sebagai patokan bagi kepercayaan dan kehidupan kita.

  2. Sifatnya membuktikan keotentikannya

    Kitab-kitab PL sama dengan Kitab-kitab PB, yakni dilhamkan oleh Allah. *ILHAM, PENGILHAMAN. Tapi Roh Kudus bekerja dalam hati umat Allah, sehingga mereka menerima Kitab-kitab itu sebagai Firman Allah, dan menundukkan diri kepada wibaan ilahinya. Pemeliharaan Allah secara khusus meliputi baik asal usul masing-masing kitab maupun pengumpulannya, oleh pemeliharaan Allah secara khusus inilah maka bilangan-bilangan Kitab PL seperti yang ada sekarang ini, tidak lebih dan tidak kurang.

    Inilah kebenaran asasi mengenai Kanon PL dan asal usulnya. Dan apa yang telah dikatakan di atas mengandung gagasan, bahwa Allah menyediakan Kanon, Ia memakai manusia sebagai alat-Nya; perbuatan- perbuatan dan pemikiran-pemikiran manusia turut berperan dalam seluruh proses ini. Karena itu timbul persoalan. Apakah yang kita ketahui mengenai perbuatan-perbuatan dan penalaran manusia itu? Sejak kapan Kanon ini atau bagian-bagiannya diakui kanonik? Bagaimana cara pengumpulan Kitab-kitab kudus itu? Pengaruh siapa yang berperan dan menentukan dalam tahapan-tahapan perkembangannya yang bermacam-macam?

    Data-data berikut perlu guna menjawab persoalan-persoalan itu. Tapi baiklah di perhatikan, bahwa data-data itu sedikit sekali, justru tidak dapat menarik kesimpulan yang pasti berdasarkan data itu. Penelitian historis hanya menunjukkan sedikit peranan sinode-sinode atau lembaga-lembaga berwenang mengenai rumusan Kanon PL. Hal ini dapat dimaklumi, sebab tidak dapat menarik kesimpulan yang pasti berdasarkan data itu. Penelitian historis hanya menunjukkan sedikit peranan sinode-sinode atau lembaga-lembaga berwenang mengenai rumusan Kanon PL. Hal ini dapat di maklumi, sebab itu diperlukan badan atau lembaga berwibawa seperti itu yang harus mendapat peranan besar dalam perumusannya. Alkitab memiliki wibawanya bukan dari pernyataan- pernyataan gerejawi, juga bukan dari wibawa manusia apa pun.

    Alkitab bersifat autopistos, 'membuktikan sendiri keotentikannya' dengan menyinarkan sendiri wibawa ilahinya. Karena kesaksian Roh Kudus maka orang di mampukan menjadi cakap menangkap terang ini. Seperti dikatakan oleh Confessio Belgica (Pengakuan Iman Gereja-gereja di Nederland), art 5, 'Kita percaya tanpa sedikit meragukan segala sesuatu yang tercakup di dalamnya; bukan karena gereja menerimanya dan menganggapnya demikian, tapi khususnya Roh Kudus memberi kesaksian di dalam hati kita, bahwa kitab-kitab itu datangnya dari Allah'(bdn Westminster Confession, I, 4, 5). Konsili-konsili gereja dan badan- badan yang berwibawa lainnya telah mengambil kesimpulan mengenai kanon itu, dan pertimbangan-pertimbangan ini memang mempunyai fungsi penting dalam menjadikan Kanon itu diakui. Tapi bukan suatu konsili gereja, juga bukan wibawa manusia apa pun yang lain, yang membuat Kitab-kitab dari Alkitab itu menjadi Kanon atau yang memberikan wibawa ilahi kepadanya. Kitab-kitab itu pada dirinya memiliki sendiri dan menggunakan sendiri wibawa ilahinya sebelum badan-badan seperti itu membuat pernyataan mereka; wibawa kitab-kitab itu diakui dikelompok besar ataupun kelompok kecil. Konsili-konsili gerejawi tidak memberikan wibawa ilahi kepada Kitab-kitab itu, tapi mereka justru beroleh dan mengakui bahwa Kitab-kitab itu memiliki wibawa dan menggunakannya.

  3. Pengakuan terhadap masing-masing Kitab

    Kita akan membicarakan data-data yang disajikan sendiri oleh PL, berkaitan dengan pengumpulan dan pengakuan terhadap Kitab-kitab itu. Dalam rangka ini kita akan mengikuti urutan Kitab-kitab itu sesuai Alkibar Ibrani. Sambil lalu baiklah mengamati bahwa kehadiran beberapa dari kitab itu secara tersendiri, berkaitan dengan pekerjaan pengumpulan yang mendahuluinya. Hal ini menjadi amat jelas, antara lain, dengan Mazmur (lihat ump Mazmur 75:20) dan Amos (lih ump Amsal 25:1).

    1. Taurat

      Sedini zaman Musa, pengumpulan hukum Taurat disertai pelestariannya dalam bentuk tertulis. Seperti nampak dari Kel. 24:4-7, Musa membuat 'kitab perjanjian' dan orang-orang mengakui wibawa ilahinya. Ul.31:9- 13 (lih juga ay 24 dab) memberitakan bahwa Musa menulis 'hukum Taurat itu', yakni inti UI, dan mengambil langkah-langkah untuk memastikan, bahwa wibawa ilahinya akan diakui sampai jauh di masa depan. Perlu diperhatikan, di sini telah dinubuatkan bahwa umat itu akan sering gagal untuk mengakui wibawa ilahi itu. Banyak kesaksian menunjukkan bahwa sepanjang sejarah Israel, Taurat Musa dipandang sebagai tolok ukur ilahi bagi iman dan hidup (ump Yos 1:7,8; 1Raj 2:3; 2Raja 14:6, dab). Kita tidak tahu pasti bilamana Pentaeukh (Kitab Lima Jilid) lengkap seutuhnya, tapi boleh dianggap, bahwa sejak awal telah dihormati berwibawa tinggi. Pentateukh berisi hukum Taurat yang diberikan Allah kepada Israel dengan perantaraan Musa, dan sebagai tambahan, laporan tentang awal sejarah Israel, yakni perlakuan Allah terhadap umat pilihanNya. Dua catatan dapat ditambahkan.

      1. Pada zaman dahulu orang tidak memperlakukan Kitab-kitab yang dianggap Kudus sebagaimana kita memperlakukannya sekarang. Dalam beberapa kitab ada bagian-bagian--kecil atau besar--yang dianggap tambahan dari zaman yang lebih kemudian. Satu hukum dapat diganti dengan hukum lain, karena keadaan-keadaan yang berubah mengharuskan kebijaksanaan itu (bnd Bil. 26:52-56 dengan 27:1-11;36; dan bnd Bil. 15:22 dab dengan Im 4). Sekalipun demikian, jelas orang Israel sangat berhati-hati dalam memperlakukan naskah-naskah tertulis yang berisi sejarah Israel atau hukum-hukum mereka. Penambahan atau perubahan agaknya terbatas dan hanya dilakukan oleh orang-orang yang berwenang berbuat demikian karena jabatan mereka. Sekedar catatan bernada lebih umum dapat diberikan: kenyataan bahwa orang Israel sangat hati-hati memperlakukan tulisan-tulisan kudusnya nampak dari cara para penulis PL memakai sumber-sumber mereka. Mereka tidak memperlakukan seperti para penulis modern, tapi menyalin bagian-bagian yang perlu seharafiah mungkin.

      2. PL mencatat bahwa pada dua kesempatan, orang Israel dengan tulus berjanji untuk mentaati kitab Taurat yang diberikan Allah dengan perantaraan Musa, yakni pada pemerintahan Yosua (2Raj. 22, 23; 2Taw. 34, 35; 'kitab Taurat' mungkin berarti Kitab UI) dan pada zaman Ezra dan Nehemia (Ezr. 7:6, 14; Neh. 8-10; 'kitab Taurat' di sini mungkin berarti seluruh Pentateukh).

    2. Nabi-nabi

      Tiga faktor khusus memberi sumbangan kepada pengakuan terhadap 'nabi- nabi terdahulu' (Yos, Hak, Sam, Raj) sebagai Kitab-kitab yang berwibawa. Pertama, Kitab-kitab ini menguraikan perlakuan Allah terhadap umat-Nya yang telah dipilih-Nya. Kedua, Kitab-kitab ini menguraikan perlakuan Allah terhadap pilihan-Nya itu dalam jiwa hukum Taurat dan para Nabi-nabi. Ketiga, para penulis Kitab itu tentu adalah penjabat khusus, dalam arti setidak-tidaknya demikian. Menarik sekali membaca Yosua 24:26, bahwa beberapa tambahan kemudian diberikan kepada 'kitab perjanjian Allah', yang anaknya ialah kitab hukum Taurat yang disebutkan dalam Ul. 31:24, dab.

      Karena sifatnya khas maka tulisan 'nabi-nabi yang kemudian' (Yes, Yer, Yeh dan ke-12 'Nabi-nabi kecil') dihormati berwibawa sejak semula oleh kelompok kecil atau besar. Bahwa nubuat-nubuat mereka mengenai bencana digenapi dalam Pembuangan, secara pasti mendampakkan peluasan wibawa mereka. Fakta bahwa seorang nabi kadang-kadang mengutip nabi lain, jelas menyatakan bahwa mereka mengakui wibawa nabi terdahulu itu. Justru lebih dari sekali seorang nabi memarahi Israel karena mereka tidak mendengarkan para nabi yang mendahuluinya (bnd Za. 1:4 dab; Hosea 6:5, dst). Yesaya 34:16 agaknya menyebut gulungan yang di dalamnya dituliskan nubuat-nubuat Yesaya dan disebut sebagai 'kitab Tuhan'. Daniel 9:2 menyebut 'kumpulan Kitab' yang dengannya jelas dimaksudkan kumpulan tulisan nabi-nabi, di antaranya termasuk nubuat- nubuat Yeremia. Dari hubungannya jelas bahwa tulisan para nabi ini dihormati sebagai memiliki wibawa ilahi.

    3. Tulisan-tulisan

      Bagian ketiga dari Kanon Ibrani berisi Kitab-kitab yang sifatnya berbeda-beda, sehingga beberapa dari antara kitab itu dihormati sebagai tulisan kudus. Mengenai Kid sering dikemukakan, bahwa tempatnya di dalam Kanon adalah disebabkan oleh penafsiran alegoris yang dikenakan kepadanya. Tapi keterangan ini tak dapat dibuktikan. Pertama, penempatan demikian bermula pada suatu konsepsi yang keliru tentang 'kanonisasi' (lih butir II di atas). Kedua, sekalipun seandainya Kid belum lengkap seutuhnya sebelum Zaman Pembuangan, namun kitab itu masih memuat bahan-bahan kuno (ump Kid. 6:4). Tiada alasan untuk menyangkal kemungkinan, bahwa pada zaman kuno kidung-kidung cinta ini, yang di dalamnya Salomo menjadi salah seorang tokoh utama, pada dasarnya dipandang tulisan kudus. Akhirnya, seruan bagi pengakuan-pengakuan formal dalam kepustakaan Yahudi (ump di Aboth de- Rabbi Nathan, 1) adalah lemah, karena pengakuan-pengakuan formal itu tidak berasal dari zaman.

      Tak perlu mempersoalkan mengapa Mazmur dihormati sebagai tulisan kudus. Banyak dari mazmur mungkin berfungsi sebagai rumusan-rumusan bagi tempat kudus; Daud memberi sumbangan penting dalam penulisan mazmur; beberapa mazmur bernada nubuat (ump Mazmur 50; 81; 110), mengenai Kitab-kitab hikmat, diantaranya Amsal dan Pengkotbah dan, sampai taraf tertentu, Ayub, baiklah diingat, bahwa hikmat dan khususnya kuasa untuk berbuat sebagai guru hikmat, dipandang sebagai kekecualian anugerah Allah (bnd 1Raj. 3:28; 4:29; Ayb. 38, dab; Mzm. 49:1-4; Ams. 8; Pengkotbah 12:11, dst).

      Kenyataan bahwa banyak Amsal berasal dari Salomo tentu telah memberi sumbangan bagi pengakuan amsal. Pengamatan-pengamatan yang sama seperti di lakukan dibutir (b) di atas, dapat diterapkan atas Kitab- kitab historis dan nabiah: Ezr, Neh, Rut, Est dan Rat. Halnya sama dengan kedua Kitab Tawarikh, yang sekalipun dengan cara yang berbeda dengan Kitab Raja-Raja, namun ditulis dalam jiwa hukum Taurat dan Nabi-nabi.

      Sajian di atas tentu sama sekali tidak menjawab segala persoalan yang mungkin timbul. Marilah kita bahas salah satu dari persoalan itu. Mengapa sumber-sumber yang dipakai bagi penulisan Tawarikh tidak dimasukkan ke dalam Kanon? Benar, bahwa beberapa kitab yang ada selama waktu penulisan Kitab-kitab PL telah hilang, ump 'Kitab Orang Jujur' (Yos. 10:13; 2Sam.1:18). Tapi bertalian dengan sumber-sumber Tawarikh persoalan lebih gawat dan hangat, karena Kitab-kitab sumber data itu ada selama waktu penyusunan Tawarikh, dan karena Kitab-kitab sumber itu ditulis, paling sedikit sebagian, oleh nabi-nabi (ump 1 Taw. 29:29; 2Taw. 9:29; 32:32). Kita harus menganggap bahwa kitab-kitab itu - atau apakah itu satu kitab? - diungguli dan diganti oleh Tawarikh.

Taxonomy upgrade extras: