Rangkuman Diskusi AUA I Juli/Agustus 2015

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Termin I

Topik 1

Subjek: Apologetika Alkitabiah

Pertanyaan: Bila ada seseorang mengajak kita berdebat atau berdiskusi tentang salah satu ajaran Alkitab, bagaimana kita tahu bahwa kita sedang berapologetika alkitabiah atau sekadar debat kusir? Bagaimana membedakannya?

Debat Alkitabiah:

  • Sumber yang digunakan adalah Alkitab.
  • Isi yang dibicarakan adalah Pengajaran dalam Alkitab.
  • Menyertakan referensi sumber yang jelas dan akurat.
  • Bukan untuk menjatuhkan namun untuk saling membangun.
  • Mengupas isu-isu apologetik dengan mendalam dan menemukan kesimpulan.
  • Apabila pada akhirnya memiliki pendapat yang berbeda, tidak terjadi permusuhan dan penghakiman.
  • Motivasinya benar-benar murni untuk menggali kebenaran.
  • Debat Kusir

  • Saling mengadu pendapat dengan berbagi bukti.
  • Terjadi saling adu mulut, bahkan sampai terjadi permusuhan.
  • Tidak menemukan titik tengah dalam proses berdialog.
  • Biasanya tidak fokus dalam mengupas suatu masalah, malah bisa lari kemana-mana.
  • Topik 2

    Subjek: Sikap Berapologetika

    Pertanyaan: Banyak kali sikap kita berapologetika menjadi hambatan dan masalah untuk menjangkau jiwa-jiwa yang belum mengenal Kristus (misalnya, kurang menghormati orang lain, sombong/arogan, menghakimi, tidak mau mendengarkan, hanya mau menang sendiri, dll..). Bagaimana sebaiknya sikap kita dalam berapologetika?

    Sikap yang harus kita gunakan dalam berapologetika adalah:

  • Berserah pada pimpinan Roh Kudus.
  • Tetap berdoa dan memohon belas kasih Allah.
  • Mempunyai strategi dalam menyampaikan pendapat.
  • Menguasai situasi.
  • Merendahkan hati.
  • Bersikap ramah dan lemah lembut.
  • Tidak memancing amarah yang berkepanjangan.
  • Bijaksana dalam mengungkapkan pendapat maupun kata, ataupun teguran.
  • Mengendalikan emosi serta intonasi suara.
  • Menyadari diri sebagai hamba yang harus berserah pada Allah.
  • Mengetahui kapan harus bicara dan akapan harus berdiam diri.
  • Tegas pada pendirian.
  • Lawan apologetika adalah teman dalam kelanjutannya.
  • Lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni.
  • Menghindari unsur SARA dan diskriminasi, atau menganggap diri hebat.
  • Termin II

    Topik 1

    Subjek: Ketergantungan pada Allah

    Pertanyaan: Betulkah perbedaan yang paling mendasar antara iman Kristen dan non-Kristen adalah pada prinsip ketergantungannya pada Allah?
    Bagaimana menolong orang non-Kristen melihat bahwa tanpa Allah hidup manusia tidak berguna (sia-sia)? Berikan contoh-contoh kongkretnya (ilustrasi, gambaran, ayat, kesaksian dll.)?

    Pandangan yang menyatakan tidak setuju

    Tidaklah betul bahwa perbedaan yang paling mendasar antara iman Kristen dan non-Kristen adalah pada prinsip ketergantungannya pada Allah, selama ini non Kristenpun percaya bahwa manusia tergantung pada Allah mungkin hanya atheis saja yang tidak mengakui itu. Hanya yang membedakan antara iman Kristen dan non Kristen adalah mereka tidak mengakui bahwa Yesus itu Tuhan dan Juru Selamat. Dan satu-satunya menolong mereka yaitu menceritakan kepada mereka siapa sebenar Yesus itu.

    Pandangan yang menyatakan setuju

    1. Benar. Akan tetapi, yang utama adalah bahwa prinsip ketergantungan iman Kristen adalah pada Yesus Kristus yang adalah Firman Tuhan itu sendiri. Menolongnya adalah dengan cara menjelaskan bahwa hidup ini dipenuhi dengan hal-hal yang banyak tidak mengerti yang tergantung karena pertolongan Tuhan saja. Contohnya dalam realita hidup secara komunal yang saling tolong menolong itu menunjukan ketergantungan manusia sehingga hidup tanpa bersosial dengan sesamanya adalah kehampaan dan terasing sendiri tak berguna apalagi dengan Tuhannya.
    2. Iman Kristen berdasarkan kepada percaya kepada Tuhan Yesus Kristus yang menyelamatkan manusia dari hukuman dosa. Orang non Kristen ada yang mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan ada pula yang tidak. Hal lain yang membedakan adalah prinsip setelah kematian orang yg percaya kepada Tuhan Yesus pasti akan diselamatkan. Di sini kita tidak mengatakan orang Kristen, karena belum tentu orang Kristen mempercayai bahwa Tuhan Yesus telah menyelamatkannya dari hukuman dosa. Bagi orang-orang di luar Kristen kehidupan setelah kematian diukur oleh perbuatan baik, amal ibadah pada saat di dunia. Bahkan di aliran sepupu kita mempercayai bahwa setelah kematian mereka harus melewati seutas rambut yang dibelah tujuh dibawah jembatan api (neraka). Jika perbuatan baik mereka tidak seimbang maka mereka akan jatuh kebawah (neraka). Hal yang dapat menolong mereka melewati jembatan seutas rambut yang dibelah tujuh adalah korban yang mereka sumbangkan/berikan pada saat hari raya korban. Cara menolong orang-orang yang tidak mengenal Kristus adalah dengan memberikan kesaksian.

    Topik 2

    Subjek: Pandangan Alkitab

    Pertanyaan: Untuk berapologetika, mengapa kita harus terlebih dahulu memahami dengan jelas pandangan Alkitab tentang penciptaan manusia sebelum jatuh dalam dosa dan juga sesudah manusia jatuh dalam dosa? apa yang berubah dan mengapa demikian? Jelaskan!

    Pentingnya memahami kebenaran Alkitab setelah manusia jatuh dalam dosa dan sesudahnya adalah:

    1. Kita mengetahui bahwa letak awal dimulainya segala macam hal tentang kehidupan manusia baik yang mempelajari maupun yang mengkritisi. Yang berubah adalah hubungan antara manusia dengan Allah menjadi terputus, karena mereka telah melakukan dosa melanggar perintah Allah yang paling pokok.
    2. Supaya kita bisa mengerti perbedaan perilaku manusia sebelum dan sesudah manusia jatuh dalam dosa. Ketika kita memahami pandangan Alkitab dengan tepat, kita bisa mempertanggungjawabkan dasar iman kita dengan benar, sehingga kita mampu beraplogetika sesuai dengan firman Tuhan dan dapat lebih bertanggung jawab.
    3. Alkitab adalah dasar dari berapologetika. Pandangan Alkitab mengenai penciptaan manusia sebelum jatuh dan sesudah jatuh kedalam dosa jelas ada dalam Alkitab. Bahkan karya penebusan akibat dosa manusia juga dijelaskan dalam Alkitab. Yang berubah dari kejadian manusia sebelum dan sesudah manusia berbuat dosa adalah adanya penghalang yang menghalangi komunikasi antara Allah dan manusia. Manusia sebelum jatuh kedalam dosa dapat berbicara langsung kepada Allah. Namun akibat dari dosa maka komunikasi antara Allah dan manusia tidak dapat langsung atau terputus. Pada zaman Perjanjian Lama, apabila manusia ingin mengaku dosa dapat dilakukan dengan cara perwakilan melalui para lewi dan imam dan harus membawa korban bakaran. Namun sejak Perjanjian Baru manusia dapat berkomunikasi dengan Allah melalui doa. Berarti jembatan penghubung antara Allah dan manusia ada dalam penebusan Tuhan Yesus dengan mati di kayu salib. Hal lain yang berubah adalah sifat tergantung manusia dengan Allah. Kehidupan zaman sekarang ini, Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih jalan hidupnya. Namun tetap tidak dapat dipungkiri bahwa manusia tetap tergantung kepada Allah. Bukan berarti ketergantungan manusia kepada Allah pada saat manusia belum jatuh kedalam dosa tidak ada. Ketergantungan manusia terhadap Allah tetap ada ketika manusia belum jatuh kedalam dosa. Yang membedakan adalah ketika manusia belum jatuh kedalam dosa ketergantungan manusia terhadap Allah sangat kental. Manusia menyadari bahwa Allah adalah sumber kehidupan manusia. Namun ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Ketergantungan manusia tidak sepenuhnya. Sebagian dari manusia hanya mengandalkan akal dan pikirian juga kekuatan yang berasal dari diri manusia itu sendiri. Hal inilah yang cendrung mengakibatkan dosa kesombongan.
    4. Sebelum jatuh dalam dosa, manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah secara khusus. Dan manusia yang diciptakan Allah ini adalah sempurna. "... Allah telah menjadikan manusia yang jujur." (Pengkhotbah 7:29)
    5. Sebelum kejatuhannya dalam dosa, manusia merupakan gambar dan rupa Allah yang tanpa dosa. Di taman Eden, Adam dan Hawa hidup secara harmonis dengan Allah. Mereka berjalan di hadapan Allah tanpa malu. Paulus menjelaskan tahap ini sebagai: "... pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya." (Kolose 3:10)
      Di bagian lain, Paulus mengatakan bahwa apabila seseorang diperbaharui menurut karakter Adam yang semula, maka ia telah:"... diciptakan ... di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya." (Efesus 4:24)

      Dari bagian firman Tuhan ini, ada kualitas penting dari manusia sebelum jatuh dalam dosa yang dapat kita lihat. Tuhan mempunyai "pengetahuan yang benar" (Kolose 3:10). Dengan kata lain, Adam dan Hawa tidak pernah melupakan perbedaan Pencipta dan ciptaan dalam hubungan dengan pengetahuan mereka. Mereka bergantung pada penyataan Allah akan diri-Nya sendiri sebagai sumber dari kebenaran mereka, dan mereka menyamakan semua pemikiran mereka dengan standar dari kebenaran yang Allah nyatakan. Oleh karena itu, Adam dapat diberi tugas yang sukar, yakni untuk memelihara taman dan menamai setiap binatang di bumi. Dia secara sadar tahu akan kebutuhannya untuk mendengarkan Allah dalam setiap keadaan apabila ia menghendaki pengetahuan yang benar. Sebelum kejatuhan dalam dosa, pengetahuan manusia akan kebenaran dibarengi dengan karakter moralitasnya, di mana Adam memiliki "pengetahuan yang benar dan suci". Adam mengerti bahwa karena sifat dari Pencipta-Nya, maka ia harus mempelajari apa yang sepatutnya dan yang tidak sepatutnya dari Allah. Oleh karena bersandar pada pengetahuan Allah, Adam dan Hawa taat secara sempurna pada semua perintah Allah dan hidup secara damai dengan-Nya sebelum jatuh dalam dosa. Sebelum jatuh dalam dosa, dalam segala keadaan, manusia mengetahui kebenaran dan hidup sesuai dengan kebenaran itu.

    Termin III

    Topik 1

    Subjek: Iman dan Rasio

    Pertanyaan: Iman dan rasio memegang peranan sangat penting dalam sistem apologetika. Ada 3 pendapat tentang peran iman dan rasio. Manakah yang paling Anda setujui:

    1. Rasio di atas iman
    2. Iman di atas rasio
    3. Iman dan rasio sejajar

    Lalu jelaskan, mengapa Anda berpendapat demikian?

    Dalam topik diskusi kali ini, terdapat tiga pandangan dari peserta diskusi:

    1. Pandangan iman di atas rasio.
    2. Pandangan ini disetujui oleh beberapa peserta, karena peserta mengacu pada Ibrani 11:1 bahwa, "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." Dapat disimpulkan dari ayat ini bahwa iman yang mendahului rasio. Iman yang akan memimpin rasio pada kebenaran.

    3. Pandangan iman sejajar dengan rasio
    4. Pandangan yang mengatakan bahwa iman sejajar dengan rasio disetujui oleh beberapa peserta karena iman adalah kekuatan mengatasi akal pikiran, tetapi akal pikiranlah yang memproses apa yang kita lihat, dengar, renungkan dan segala hal lainnya. Allah memberi manusia akal pikiran supaya bisa mencerna rahasia firman Tuhan.

    5. Pandangan yang lainnya
    6. Sementara itu, ada pula peserta yang mengemukakan bahwa ada satu pandangan lagi, yaitu iman adalah rasio yang telah ditaklukan oleh kebenaran Allah. Rasio yang sudah ditaklukan adalah rasio yang sudah menerima anugerah pembenaran dari Allah dan mampu mengerti kebenaran Allah. Rasio yang dibenarkan melalui penebusan Kristus dan takluk di bawah kebenaran Allah itulah iman.

    Topik 2

    Subjek: Filsafat non-Kristen

    Pertanyaan: Apakah filsafat non-Kristen boleh dipelajari oleh orang Kristen? Apakah manfaatnya bagi kepentingan apologetika? Rambu-rambu apa yang harus ditaati agar orang Kristen tidak tersesat ketika mempelajari filsafat non-Kristen?

    Orang Kristen boleh dan bisa belajar Filsafat non-Kristen. Mengapa orang percaya diperbolehkan untuk belajar filsafat? Karena dari filsafat, kita adapat memahami jalan pikiran dan kedalaman ajaran kepercayaan lain berdasarkan filosofinya. Dengan belajar filsafat di luar kekristenan, kita dapat mencerna nilai dari kebenaran mereka. Lalu, kita dapat pula menyatakan Injil kepada mereka. Sebab, Injil dapat menerobos semua dimensi, termasuk ilmu filsafat.

    Kendati demikian, ada rambu-rambu yang harus kita pegang supaya tidak tersesat saat belajar filsafat. Rasio dan pengetahuan kita harus ditaklukkan kepada kebenaran Allah, penting bagi kita meminta hikmat dan pimpinan Roh Kudus, sehingga iman kita kokoh dan tidak terombang-ambingkan oleh pengajaran-pengajaran di luar Kristus.

    Sebagaimana pernah kita dengar bahwa filsafat adalah "master of science", tetapi dengan iman dan rasio yang sudah ditaklukkan kepada kebenaran Kristus, kita dapat mengambil satu kebenaran bahwa semua hikmat dan pengetahuan yang ada di dunia ini adalah berasal dari Tuhan. "Science" yang kita pelajari harus kita uji kebenaran. Bagaimana cara mengujinya? Dengan Alkitab. Sebab, segala ilmu, hikmat dan pengetahuan yang bertolakbelakang dengan Alkitab, tidak boleh kita imani. Dari topik ini, satu penekanan utama yang harus kita ingat saat mempelajari filsafat adalah keterbukaan mencerna ilmu filsafat, tetapi dalam keterbukaan itu kita harus tetap menundukkan iman dan rasio di bawah Kristus.

    Termin IV

    Topik 1

    Subjek: Mitos Netralitas

    Pertanyaan: Mengerti perbedaan filsafat non-Kristen dan Kristen membuat kita mengambil kesimpulan bahwa di luar dua filsafat inil tidak ada pilihan yang lain. Atau dengan perkataan lain, tidak ada daerah netral di antara keduanya. Setujukah Anda? Apa alasan jawaban Anda?

    Seorang Kristen secara otomatis hidup dalam dan dengan pemikiran-pemikiran Kristen yang diterima melalui kebenaran Alkitab. "Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan." (Matius 12:30). Di luar pemikiran Kristen, semua pemikiran, gagasan, dan cara hidup termasuk dalam filsafat non-Kristen. Lalu bagaimana tentang netralitas? ini adalah sebuah mitos belaka, seperti ayat di atas sebutkan, siapa tidak bersama (tinggal) dengan Allah, maka ia menjadi lawan Allah dan kebenarannya. Memang ada konsep dualisme disini, karena kebenaran Kristen adalah mutlak dan ekslusif.

    Meski sebenarnya netralitas hanyalah sebuah mitos, orang Kristen berusaha untuk menemukan tempat netral sebagai suatu celah. Bahkan konsep daerah netral di antara orang non-Kristen dan Kristen telah merupakan konsep dasar yang banyak dipakai dalam berapologetika di masa lampau. Pada dasarnya, orang-orang Kristen berusaha mencari titik pertemuan pada dasar yang sama dengan orang non-Kristen di mana di atasnya mereka ingin membangun kredibilitas kristiani. Sangatlah penting dalam perkembangan apologetika untuk melihat beberapa hal yang dikatakan atau dianggap sebagai konsep netral dan melihat mengapa mereka sebenarnya sama sekali tidak netral.

    Konsisten dalam logika merupakan prinsip yang disuguhkan, di mana orang Kristen dan orang non-Kristen bersepakat. Apabila kita bermaksud untuk memerlihatkan kebenaran kekristenan kepada orang non-Kristen, maka kita dapat memberikan logika dari kepercayaan kita pada Allah, Kristus, dan Alkitab. Dengan suatu pengharapan bahwa penjelasan berdasarkan logika ini dapat meyakinkan atau memenangkan mereka ke dalam Kerajaan Allah, atau paling tidak ke arah itu. Namun, walaupun kita setuju akan keharusan berpikir secara logis, pengertian kristiani akan keterbatasan dan fungsi logika sangat berbeda dengan apa yang dimengerti oleh orang-orang non-Kristen. Pemikiran manusia, dalam bentuk yang paling murni dan yang paling lengkap, tetap tidak lebih dari pemikiran makhluk yang diciptakan Allah dan yang telah dipengaruhi oleh bentuk pemikiran yang subjektif. Jadi pada dasarnya, logika pun tidak ada yang bersifat netral.

    Topik 2

    Subjek: Panggilan Berapologetika

    Pertanyaan: Karena berapologetika adalah tugas panggilan setiap orang Kristen, apakah usul Anda agar setiap orang Kristen dapat diperlengkapi dan bisa selalu siap sedia dalam mempertanggungjawabkan iman percayanya?

    Dari Dalam:

    1. Membangun relasi dengan Allah dan firman-Nya
    2. Pendalaman Alkitab (Study pribadi)
    3. Bersekutu dengan saudara seiman (Study bersama, pemuridan)
    4. Mengadakan dan mengikuti seminar terkhusus dalam doktrin, misi, dan apologetika
    5. Mengikuti diskusi-diskusi dan kursus Teologi (PESTA, Bible Study, STT online, dsb)

    Dari Luar:

    1. Berelasi dengan banyak orang diluar Kristen (membangun jiwa sosial dan komunikasi)
    2. Belajar filsafat dan budaya yang ada disekitar.
    3. Baca buku-buku atau artikel-artikel terkait dengan sudut pandang agama lain tentang kekristenan.