PRK-Referensi 06a

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06b

Nama Kursus : Pembentukan Kerohanian Kristen
Nama Pelajaran : Dasar Pembentukan Rohani Kristen dan Disiplin Rohani
Kode Pelajaran : PRK-R06a

Referensi PRK-R06a diambil dari:

Judul artikel : Bagaimana Orang Kristen Dapat Beroleh Anugerah Baru untuk Memperbaharui Kehidupan Rohani Mereka
Judul buku : Kemuliaan Kristus
Penulis : John Owen
Penerbit : Surabaya: Momentum, 1998
Halaman : 98-105

REFERENSI PELAJARAN 06a - Dasar Pembentukan Rohani Kristen dan Disiplin Rohani


Orang percaya dapat mengalami pencobaan serta kejenuhan di dalam kehidupan rohani mereka.

Namun, orang percaya sejati akan segera menyadari bilamana mereka menderita suatu penyakit rohani, selain juga selalu merindukan agar dapat dipulihkan sedini mungkin. Merupakan suatu pengalaman menyedihkan yang dialami oleh semua orang percaya di semua gereja di seluruh dunia, bila kelemahan umum dalam kehidupan rohani mereka telah menyebabkan hilangnya kasih, pekerjaan baik, maupun iman mereka yang mula-mula. Ini benar-benar terjadi dalam kehidupan jemaat gereja-gereja di Asia, bagi siapa Yohanes telah menuliskan Kitab Wahyu pasal 2 dan 3.

Ada pula pencobaan yang datang secara mendadak, tetapi yang membawa akibat yang berkepanjangan. Daud mengungkapkannya dalam Mazmur 38. Ia merasa terpisah dari Allah, dan dengan bodohnya ia tetap melanjutkan berkubang dalam lumpur dosa dan bukannya berusaha memohonkan belas kasihan-Nya. Ia mengetahui kesedihan Allah dan merindukan untuk dibawa keluar dari penderitaan tersebut. Kita mungkin belum pernah mengalami seperti yang dialami Daud, namun apapun tingkatan dosa kita, hati akan mengenal kepedihannya sendiri (Amsal 14:10). Ada banyak hal yang dapat menyebabkan terkikisnya kehidupan dan kekuatan rohani kita. Kita telah begitu terbiasa dengan kegiatan ibadah gereja ataupun acara penyembahan pribadi, sehingga mulai tidak dapat meresapi maknanya. Kita dapat pula menjadi terlalu sibuk dengan berbagai kesenangan dan masalah kehidupan, dan tidak berusaha mematikan dosa-dosa yang secara alamiah memang begitu menarik bagi kita.

Sebagian orang yang menyebut diri mereka Kristen, tidak lagi menikmati suatu kehidupan dan kepenuhan yang bersumber dari kepercayaan mereka pada janji-janji Allah. Mereka perlu disadarkan akan keadaan mereka yang sakit dan perlu segera mendapat pertolongan. Banyak orang percaya yang telah mengijinkan hadirnya kemalasan, kelalaian, ataupun berbagai pencobaan lainnya dalam kehidupan mereka. Daud mengenal semua itu dan mengungkapkan perasaan sukacitanya setelah beroleh kesembuhan dalam Mazmur 103:1-5. Allah telah memberikan peringatan keras tentang bahaya dari suatu keadaan merana secara rohani, namun sekaligus memberikan janji-janji besar untuk memampukan kita sembuh kembali. Jika Saudara tidak pernah memiliki pengalaman semacam ini, maka itu mungkin karena jiwa Saudara belum pernah berada dalam kondisi yang kuat dan sehat. Seseorang yang sakit dan lemah seumur hidupnya tidak akan dapat memahami bagaimana rasanya menjadi orang yang kuat dan sehat itu. Ada sementara orang yang melakukan segala jenis kejahatan. Jika Saudara mengingatkan mereka akan kejahatan mereka dan akan betapa pentingnya mereka disembuhkan, maka Saudara akan dihina oleh mereka sebagaimana Lot yang dihina oleh bakal menantunya: "Tetapi ia dipandang oleh kedua bakal mantunya itu sebagai orang yang berolok-olok saja" (Kejadian 19:14). Orang-orang semacam itu seharusnya bertanya pada diri mereka sendiri, apakah mereka benar-benar telah mengetahui makna dari anugerah Allah? Atau mungkinkah, Saudara sendiri pun telah ikut terbius di dalam suatu perasaan aman yang membabi-buta? Keadaan Saudara bagaikan jemaat gereja di Laodikia yang berkata "tidak kekurangan apa-apa", dan tidak tahu bahwa mereka sebenarnya "melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang" (Wahyu 3:17). Seperti Efraim, rambut Saudara sudah beruban dan Saudara dalam keadaan sekarat namun Saudara "tidak berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan tidak mencari Dia kendati semuanya ini." (Hosea 7:9,10). Saudara sama seperti mereka yang oleh Kristus disebut sebagai "orang sehat", yang tidak memerlukan tabib. Padahal, Kristus "datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa" (Markus 2:17).

Apakah dapat dikatakan bahwa sebagian besar kita telah merasa jenuh dengan Allah, sebagaimana umat-Nya dalam Perjanjian Lama. "Engkau tidak bersusah-susah karena Aku, hai Israel" (Yesaya 43:22). Kerapkali kita gagal untuk secara teratur menyelenggarakan kegiatan doa keluarga, dan tidak memiliki kerinduan yang sejati untuk menghadiri acara-acara penyembahan. Namun, bahkan di tempat di mana kegiatan semacam itu dapat terselenggara secara teratur pun, masih terdapat bahaya kejenuhan yang sering kali membuat kita menghampiri Allah hanya dengan bibir kita, sementara hati kita menjauh daripada-Nya (lihat Matius 15:8). Ada banyak alasan yang membuat kita perlu berdoa dan berjaga-jaga. Ada ribuan masalah dalam kehidupan kita sehari-hari -- yang secara alamiah dapat membawa kita ke dalam suatu kejenuhan -- yang dapat menghalangi kita dalam menyatakan semua anugerah yang telah diberikan Allah bagi kita. Dan khususnya, setiap dosa dalam kehidupan kita yang tidak segera kita bereskan, akan menjadikan penyembahan sebagai suatu beban yang sangat membosankan.

Hal-hal yang paling membawa kemuliaan bagi Allah adalah kerendahan hati-Nya, dukacita-Nya terhadap dosa, sukacita, dan kerelaan-Nya di dalam jalan Allah, kasih-Nya, serta penyangkalan diri-Nya. Apakah kita dapat menghasilkan buah dalam hal-hal sedemikian, bahkan di usia lanjut kelak? (lihat 2 Petrus 1:8). Kita dapat menguji diri kita sendiri dengan merenungkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Apakah kita memunyai selera rohani yang baik terhadap Firman Allah dan memiliki pengalaman tentang anugerah Allah? Ada sebagian orang yang mendengarkan khotbah semata-mata demi mendapatkan pembenaran atas pikiran mereka sendiri. Sebagian lainnya bahkan bertujuan untuk menghakimi sang pengkhotbah. Hanya sebagian kecil dari mereka yang benar-benar mempersiapkan diri untuk menerima Firman Allah di dalam hati mereka. Ketika usia kita semakin tua, secara alamiah kita akan kehilangan sebagian besar selera makan kita. Kita mengatakan bahwa rasa makanan-makanan tersebut tidak senikmat seperti ketika kita masih muda dulu. Namun sesungguhnya, diri kitalah yang sedang mengalami perubahan, bukan makanan-makanan tersebut. Demikian pula halnya dengan Firman Allah yang oleh Pemazmur dikatakan lebih manis daripada madu, bahkan madu yang berasal dari tetesan sarang lebah (Mazmur 19:11). Jika kita sedang lapar, kita akan menemukan kemanisan bahkan di dalam teguran yang paling pahit sekali pun.
  2. Apakah kita menjadikan agama sebagai pusat perhatian dalam kehidupan kita? Bagi sebagian besar kita, segala sesuatu boleh didahulukan dibandingkan satu hal mendasar -- kesejahteraan rohani kita. Jika kita terus-menerus disibukkan oleh hal-hal duniawi dan hanya sesekali saja memikirkan realiti-realiti rohani, maka itu merupakan tanda yang jelas betapa kita telah menelantarkan kehidupan rohani kita. Bila itu terjadi, kita akan kehilangan kasih terhadap sesama saudara seiman kita, dan kita pun tidak akan memiliki kerelaan untuk menjawab panggilan Allah yang mengajak kita bertobat dan mengubah cara hidup kita.

Ada sejumlah cara untuk memelihara kekuatan serta kepenuhan rohani kita, bahkan di usia senja nanti:

  1. Tak seorang pun akan kehabisan pengharapan, bahkan meski ia telah jatuh ke tingkat yang sangat rendah sekalipun. Namun, kita hendaknya menggunakan sarana penyembuhan yang tepat. Pohon yang telah tua dan tak lagi dapat berbuah, dapat dihidupkan kembali dengan menggali tanah di sekelilingnya, sebelum kemudian melanjutkannya dengan pemberian pupuk; dan bukannya dicabut dari tempatnya untuk selanjutnya ditanam di tempat lain. Sebagian orang yang mengaku percaya, namun kemudian berpaling kepada kepercayaan lain demi memperoleh pertolongan telah menjadi layu dan akhirnya mati. Seandainya mereka menggunakan sarana yang tepat, mungkin sekarang mereka telah beroleh kesembuhan.
  2. Perbuatan dosa harus dimatikan dan semua pengajaran Kristus harus ditaati secara hati-hati. Tentu saja, kita hendaknya berhati-hati agar tidak sampai jatuh ke dalam kesalahan yang sama dengan orang Farisi. Pengakuan dosa, ziarah, puasa, ataupun doa tidak serta-merta menjadikan kita berkenan kepada Allah. Harus ada suatu usaha ekstra keras untuk mematikan dosa. Membaca Alkitab secara teratur, mendengarkan pemberitaan firman Tuhan, dan berdoa serta berjaga-jaga terhadap dosa, mutlak diperlukan. Dengan begitu, pikiran kita akan tetap bersifat rohani dan sorgawi, baik dalam hal cara berpikir maupun minatnya. Akan tetapi, semua hal ini tidak dapat dilakukan dengan kekuatan kita sendiri. Kita tidak "sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah" (2 Kor 3:5). Iman membutuhkan pertolongan Kristus di dalam usaha apapun yang dilakukannya. Tanpa iman, segala sesuatu yang kita lakukan akan menjadi tidak berguna dan tidak berkenan kepada Allah.
  3. Pemulihan orang percaya yang telah kehilangan kesehatan dan kekuatan rohaninya merupakan karya dari suatu anugerah yang berdaulat, karya Allah Yang Mahakuasa, yang kasih dan anugerahNya tak dapat dibendung oleh siapapun. Allah telah menyediakan janji-janji yang besar dan mulia yang dapat kita gunakan seturut dengan rencanaNya. Marilah kita melhat beberapa janji tersebut dalam Hosea 14:

Ayat 2: Israel, umat kepunyaan Allah, kaum pilihanNya, telah tergelincir karena kesalahannya. Hosea telah menubuatkan suatu hukuman yang mengerikan atas kekejian bangsa ini. Namun demikian, tidak ada yang dapat menghalangi Allah yang Mahakuasa itu untuk melaksanakan -- berdasarkan anugerahNya -- rencana-Nya bagi umat-Nya. Allah akan tetap menjadi "Tuhan Allahmu", dan meskipun mereka telah jatuh, mereka dengan penuh kemurahan selalu dipanggil untuk kembali.

Ayat 3: Melalui nabiNya ini, Allah telah menunjukkan kepada Israel, bagaimana mereka seharusnya memohon kepadaNya: "Ampunilah segala kesalahan, sehingga kami mendapat yang baik." Tidak ada dosa yang dihapuskan begitu saja. Ketika pengampunan dosa telah diperoleh dan Israel kembali menikmati kasih Allah, maka akan timbul kerinduan untuk mengetahui bagaimana Allah telah mengampuni mereka tanpa syarat dan bahwa mereka tidak lagi berada di bawah murkaNya.

Ayat 4: Allah mengharapkan suatu pengakuan dosa yang tulus ikhlas atas dua jenis dosa yang telah menghancurkan Israel, yakni kebergantungan mereka kepada sesama manusia, serta penyembahan berhala. "Asyur tidak dapat menyelamatkan kami,... kami tidak akan berkata lagi: Ya, Allah kami! Kepada buatan tangan kami. Karena Engkau menyayangi anak yatim."

Ayat 5: Meskipun Allah akan menyembuhkan kebebalan kita dan mengasihi kita tanpa syarat, namun kita dituntut untuk bertobat, dan Ia memberi kita anugerah untuk melakukannya. Allah menyebut diriNya sendiri sebagai "Tuhan yang menyembuhkan engkau" (Keluaran 15:26). Satu-satunya alasanNya untuk menyembuhkan kita adalah kasihNya yang tak ternilai dan tak bersyarat itu. PenyembuhanNya tersebut mencakup pengampunan dosa-dosa kita di masa lampau maupun pemberian anugerah yang memampukan kita untuk berbuah di dalam ketaatan. "Aku akan seperti embun bagi Israel" (ayat 5).

Benar-benar merupakan suatu anugerah bila kebebalan kita dapat disembuhkan, dan bila kita dapat merasakan betapa keindahan serta kemuliaan kasih Allah, belas kasihan dan anugerahNya bekerja lagi di dalam hidup kita. Jangan pernah berhenti berharap untuk menerima mata air anugerah yang demikian menyegarkan itu. Berusahalah mendapatkannya melalui iman Saudara di dalam janji-janji Allah, karena janji-janji tersebut telah ditawarkan melalui Yesus Kristus, Sang Pengantara yang mulia itu.

Semua anugerah yang kita terima hanya bersumber dari Yesus Kristus sendiri. "Di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa". "Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku" (Yohanes 15:5; Galatia 2:20). Satu-satunya cara untuk kita dapat memperoleh anugerah dan kekuatan rohani dariNya adalah melalui iman. Melalui iman, Ia hidup di dalam hati kita; melalui iman, Ia bertindak di dalam kita; dan melalui iman juga, kita hidup di dalam Anak Allah. Itulah satu-satunya cara untuk kita dapat dipulihkan dan disembuhkan dari kebebalan kita, agar kita dapat berbuah lebat, bahkan juga di hari tua. Kita harus memiliki suatu pandangan yang mantap terhadap kemuliaan Kristus, baik di dalam karakter khususNya, maupun di dalam karya dan anugerahNya, yang dinyatakan kepada kita melalui Alkitab. Di Mazmur 34:6 Daud berkata: "Tujukanlah pandanganmu kepadaNya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu." Iman mereka terlihat di dalam usaha mereka mencari Dia, yakni mencari Kristus, atau juga mencari kemuliaan Allah di dalam Dia. Sikap percaya mereka timbul dari suatu perenungan tentang apa dan siapa Dia sebenarnya. Mereka telah disegarkan oleh terang rohani yang menyelamatkan, yang telah mereka terima dariNya. Demikian pula halnya dengan kita, saat kita memandang dengan iman (yang sama itu) kepada Yesus Kristus (yang sama pula itu). "Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi" (Yesaya 45:22). Keselamatan kita secara keseluruhan, termasuk segala hal di dalam kehidupan rohani kita, bergantung kepada arah pandangan kita ini. Beginilah cara kita menerima anugerah dan kemuliaan, "Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu Tuhan, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku." (Mikha 7:7).

Suatu pandangan yang berkesinambungan terhadap kemuliaan Kristus akan menghasilkan berkat yang mengubahkan kita semakin dan semakin menyerupai Kristus. Bila cara dan sarana lain telah gagal untuk menjadik an kita serupa dengan Kristus, maka marilah kita mencoba cara ini. Sebagian besar kelemahan rohani serta kegagalan kita untuk berbuah disebabkan karena kita membiarkan hal-hal duniawi memenuhi pikiran kita. Bila kita membiarkan pikiran kita dipenuhi oleh Kristus serta kemuliaan-Nya, dan hati kita dibakar oleh kasih yang besar akan Dia, maka tak mungkin ada satu ruang pun dalam pikiran kita yang akan diisi oleh hal-hal yang lain (lihat Kol 3:1-5). Hanya dengan mengarahkan pandangan kita secara terus-menerus kepada Kristus serta kemuliaan-Nya, kita akan dapat senantiasa dibangkitkan dan dikuatkan untuk terus-menerus berjaga-jaga dan berjuang dalam melawan kelicikan dosa yang menyesatkan. Pengalaman dalam melakukan hal-hal yang mempermuliakan Kristus itu berkuasa membangkitkan keinginan dalam diri kita untuk hanya melakukan hal-hal yang berkenan kepada-Nya.