PIR - Referensi 04a

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kursus : Pemmbinaan Iman Remaja
Nama Pelajaran : Kebutuhan dan Masalah Remaja
Kode Pelajaran : PIR-P04

Referensi PIR-R04a diambil dari:

Judul Buku : 9 Masalah Utama Remaja
Penulis : Roswitha Ndrana dan Julianto Simanjuntak
Penerbit : Yayasan Peduli Konseling Indonesia, Tangerang, 2009
Halaman : 7 - 16

REFERENSI PELAJARAN 04a - KEBUTUHAN DAN MASALAH REMAJA

IDENTITAS DIRI

Percaya diri (harga diri, citra diri) adalah faktor pembentuk identitas diri. Pada awalnya manusia memiliki identitas diri yang sehat karena dia memandang kehidupan ini dari sudut pandang Allah, lewat Alkitab sebagai kebenaran mutlak (Kejadian 1:27). Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Penciptanya, Manusia memiliki karakter Allah dan bicara secara personal dengan Dia. Allah memberi tanggung jawab kepada manusia untuk mengelola dan memelihara ciptaan lainnya.

Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, identitas dirinya berubah. Sekarang dia memandang (menilai) dirinya dari sudut pandangnya sendiri (self centered), yang sudah dipengaruhi oleh dosa. Image of God dalam diri manusia tercemar oleh dosa. Inilah penyebab orang memiliki perasaan pesimis terhadap hidup, kurang percaya diri, berusaha menjadi orang lain daripada diri sendiri, atau suka memberi julukan negatif pada dirinya. Jika remaja kita memiliki ciri-ciri demikian, kita perlu melihat adanya masalah dalam hal identitas diri. Penilaian yang salah terhadap diri sendiri dapat berakibat remaja melakukan bunuh diri, kecanduan drugs, pornografi, alkohol, seks bebas, dsb.

Dalam hal ini orang tua perlu membimbing remajanya menemukan kembali identitas dirinya di dalam Kristus. Bagaimana caranya?

  1. Remaja kita perlu menerima penebusan Kristus. Ini akan mengubah dia secara status karena anugerah Allah dan secara karakter. Perubahan karakter ini memerlukan proses dan tanggungjawabnya sebagai remaja.

  2. Melalui penebusan Kristus akar dosa telah dicabut, tetapi kita masih harus terus berjuang, mengatasi gejala-gejala dosa dalam diri kita. Dengan demikian sebagai remaja yang sudah ditebus, dia dituntut tetap bergantung kepada Allah. Sekarang, remaja kita telah memiliki identitas baru sebagai anak Allah. Dia perlu menanamkan dalam dirinya bahwa:

    1. Saya telah dipilih sebelum dunia dijadikan (Efesus 1:4)
    2. Saya telah ditebus oleh darah Kristus (Efesus 1:7)
    3. Saya telah diberikan tempat di sorga (Efesus 2:6)
    4. Saya telah diangkat menjadi anggota keluarga Allah (Efesus 2:19)
    5. Saya berharga di mata Allah (Yesaya 43:4)

Sebab itu, tidak ada alasan baginya untuk menilai diri berdasarkan sudut pandang pribadi. Self concept-nya adalah kembali menjadi image of God. Sedang dalam self esteem-nya, dia ada dalam penebusan dan kasih Allah melalui darah Kristus. Selanjutnya self identity-nya adalah anak Allah.

Bagi orang tua, kesadaran bahwa anak kita harus memiliki identitas diri yang benar di dalam Tuhan akan mempengaruhi cara kita berlaku terhadap diri kita, membangun relasi dengan anak dan remaja kita, juga dengan Allah. Ini akan membentuk sikap dan respons orang tua terhadap berbagai persoalan yang menyangkut remajanya.

Secara garis besar faktor pembentuk utama kepribadian manusia adalah relasi dengan orang tua. Terutama secara biologis/genetik, pada masa prenatal (dalam kandungan), dan lingkungan, khususnya pola asuh orang tua. Dengan demikian pembentukan identitas diri yang sehat dalam diri seorang remaja dimulai dari cara orang tua memperlakukan dia sejak dalam kandungan. Jika masa-masa perkembangan kepribadiannya terakomodasi dengan baik, anak kita akan lebih mudah mengenal Allah Penciptanya dan menerima penebusan Kristus dalam hidupnya.

Berikut ini adalah contoh sikap dan perlakuan positif orang tua yang menolong anak menemukan identitas dirinya dengan baik:

  1. Dihargai sebagaimana adanya
  2. Dikasihi, didengarkan, diperhatikan
  3. Dipuji saat berhasil, diterima saat gagal
  4. Diarahkan dalam eksplorasi dan difasilitasi dengan baik

Perlakuan berikut ini akan membuat remaja kehilangan identitas dirinya:

  1. Tidak dikasihi
  2. Sering dikritik dan dilecehkan
  3. Mengalami kekerasan fisik
  4. Kurang perhatian
  5. Tuntutan tinggi yang tidak seimbang dengan kemampuannya (perfeksionis)

Pengalaman Kami

September lalu (2008), Moze (11 tahun 2 bulan, kelas 6) pulang dengan wajah berseri-seri. Dia baru saja mengikuti debat mengenai Sejarah Yunani dan Romawi di sekolah, yang disajikan dalam bahasa Inggris. Dia mendapat standing applause dari audience, termasuk "medali emas" ("Medalinya sudah habis kumakan," katanya pada saya. Rupanya, "medali"-nya adalah coklat berbungkus kertas emas), dan karangan daun di kepala. Sudah berhari-hari dia mempersiapkan acara ini. Menurut wali kelasnya, Moze dipilih mewakili kelas dengan suara terbanyak.

Persiapan Moze untuk event ini cukup baik. Kami membeli beberapa buku mengenai Ancient Greece dan Ancient Rome. Kami juga membuka internet untuk tahu perkembangan sejarah kedua negara ini, dihubungkan dengan peran serta Yunani dan Romawi dalam kebudayaan dunia. Karena akan menekankan pembahasannya di bidang perkembangan demokrasi, saya mengajak Moze mempelajari sejarah demokrasi di Amerika, Perancis, dan Indonesia sendiri.

Untuk dirinya sendiri Moze menulis banyak hal tentang Ancient Greece. Semua dalam bahasa Inggris. Tulisan-tulisannya kreatif; karena itu, dibukukan di kelas, dibaca oleh teman-temannya, dan dipuji oleh guru Social Studies dan wall kelas. Hasilnya dia petik hari ini.

Cenderung Rendah Diri

Beberapa tahun lalu guru di TK memberi laporan menantang waktu kami menerima rapor Moze. Guru mengatakan Moze punya kecenderungan rendah diri. Bagaimana bisa? Kami merasa, dia baik-baik saja. Tetapi, sebagai ibu, lama-kelamaan saya merasakan, penilaian guru Character Building-nya itu ada benarnya. Feeling saya dibuktikan dengan seringnya Moze "bertingkah" macam-macam di kelas. Dia sangat cepat belajar. Akibatnya, di kelas dia banyak "menganggur". Maka kami kerjasama dengan guru kelas, guru CB, kepala sekolah untuk menolong Moze. Kami bersyukur untuk kedekatan kami dengan pihak sekolah.

Pemeriksaan psikologis Moze saat dia berusia 9 tahun lebih (kelas 4) menunjukkan hasil kurang balk: ada kesenjangan yang tajam antara potensi dengan aktualisasi. Ini berarti Moze gelisah karena tidak mendapat rangsangan yang cukup dari luar dirinya. Ini kegagalan kami sebagai orang tuanya.

Rangsangan yang diperlukan Moze bukan hanya dalam hal akademik, juga sosial. Untuk beberapa lama, Moze kesulitan bergaul. Dia kurang suka main dengan teman. Dia lebih memilih main catur (Moze bawa papan catur ke sekolah) atau membaca di jam istirahat. Dia juga tidak biasa jajan. Moze cemerlang jika mengerjakan proyek pribadi. Tapi dia ketinggalan jika proyek dilakukan dalam kelompok. Keluhannya selalu, "Teman-teman tidak mengajak aku!"

Yang Kami Lakukan

Melihat kesulitan ini kami bekerja sama dengan sekolah. Saya menyadari bahwa anak-anak sekarang mempunyai lebih banyak waktu di sekolah. Moze berangkat pukul 06.30 dan tiba kembali di rumah pukul 15.30.

Karena Moze suka membaca, kami menyediakan mini library-nya di sekolah. Tentu saja, akhirnya teman-temannya ikut antusias membaca bersama Moze. Secara teratur kami mengganti buku-buku lama dengan judul-judul baru, baik yang berbahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Sekolah juga punya ekstrakurikuler catur, dan Moze masuk di dalamnya.

Selain itu, kami mengantar Moze main ke rumah teman-temannya atau menemani jika teman-temannya datang ke rumah. Seringkali kami main basket atau bulutangkis dengan Moze atau teman-temannya. Walaupun pada awalnya sulit melatih Moze tekun main piano (les-nya berkali-kali berhenti, sambung-putus), kami terus dorong dia belajar.

Komunikasi dengan orang tua juga sangat penting. Papanya memelihara waktu bersama Moze untuk main catur, nonton, atau sekedar ngobrol di mal sambil makan kentang goreng. Biarpun tidak sering, papanya suka bercerita sebelum tidur (atau sambil bermalas-malasan di bawah selimut saat bangun pagi).

Upaya ini berlangsung selama kurang-lebih enam tahun, sampai Moze merasa nyaman dengan teman dan lingkungan sekolahnya. Hasilnya adalah dia menonjol di sekolah untuk bidang-bidang tertentu (tentu tidak semua). Ini menolong dia punya percaya diri yang sehat.

Tips menolong remaja memiliki identitas diri yang sehat.

  1. Sebagai orang tua, kita harus menyadari bahwa sikap dan penerimaan orang tua akan membantu anak menemukan identitas dirinya.
  2. Orang tua juga perlu mempelajari beberapa hal dari perkembangan kepribadian anak dan remaja. Dengan demikian, orang tua mampu mengerti dan mengapresiasi berbagai perubahan dalam diri remajanya.
  3. Tugas utama orang tua dalam hal ini adalah mengenalkan anak pada identitas diri yang benar di dalam Kristus, bukan pada penilaian dirinya sendiri.
  4. Jangan segan mencari pertolongan profesional jika diperlukan.
Taxonomy upgrade extras: