PIR - Referensi 02c

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kursus : Pembinaan Iman Remaja
Nama Pelajaran : Dasar Alkitab Pembinaan Iman Remaja
Kode Pelajaran : PIR-P02

Referensi PIR-R02c diambil dari:

Judul Buku : Survei Perjanjian Baru
Penulis : Merrill C.Tenney
Penerbit : Gandum Mas, Malang, 1995
Halaman : 120 - 123

REFERENSI PELAJARAN 02c - DASAR ALKITAB PEMBINAAN IMAN REMAJA

SISTEM KEPENDIDIKAN

Di antara Yahudi Perserakan, pendidikan pasti sudah sejak lama mendapat tempat yang penting, karena hanya keyakinan nasional mereka sajalah yang membuat mereka tetap bertahan. Jauh dari tanah airnya, dan tanpa kekuatan militer, mereka hanya dapat memelihara kepribadian nasional mereka dengan mempertahankan diri sebagai suatu kelompok yang terpisah dengan kebudayaan dan kehidupan rohaniah mereka sendiri. Sejak zaman Ezra, sudah ada pembacaan hukum Taurat secara umum dan penjelasan mengenai artinya - semacam pendidikan bagi orang dewasa yang dipertahankan dengan konsisten oleh sinagoge.

Sekolah berkembang sejalan dengan sinagoge. Dalam Yudaisme tidak pemah ada kewajiban bersekolah seperti di Amerika dewasa ini; tetapi masyarakat Yahudi biasanya menyediakan semacam pendidikan bagi anak-anak agar mereka dapat membaca Taurat, menulis, dan berhitung sederhana.

Sekolah-sekolah di Palestina pada masa Kristus, konon adalah hasil pengaruh seorang Farisi dan ahli taurat, Simon bin Shatakh, yang hidup sekitar tahun 75 SM. Menurut Talmud, ia mengeluarkan suatu peraturan bahwa semua anak harus memasuki sekolah dasar. Namun kata-katanya yang dikutip mempunyai dua arti. Yaitu dapat berarti bahwa semua anak harus memasuki sekolah-sekolah yang sudah ada, atau bahwa harus didirikan sekolah-sekolah untuk mereka. Bagaimanapun, Simon telah berjasa mengadakan suatu pembaharuan hingga negara menyediakan guru bagi anak laki-laki di propinsi-propinsi dan mendirikan sekolah di kota-kota kecil. Joshua bin Gamla mengadakan sekolah-sekolah umum bagi anak laki-laki berusia enam atau tujuh tahun di semua kota di Palestina. Seorang guru disediakan bagi setiap dua puluh lima orang anak. Bila ada empat puluh orang anak di sekolah itu sang guru diberi seorang pembantu.

Pendidikan memang terbatas tapi mendasar. Sebelum seorang anak masuk sekolah ia sudah belajar di rumah tentang Shema, atau pengakuan iman Yahudi (Ulangan 6:4), yang disinggung oleh Yesus ketika la ditanyai, mengenai hukum yang terutama (Matius 22:35-38). la juga sudah menghafal beberapa ayat dari kitab Taurat, beberapa amsal yang sederhana, dan beberapa ayat pilihan dari kitab Mazmur. Di sekolah ia akan menghafal kalimat-kalimat Taurat yang diajarkan oleh gurunya. Biasanya sang guru duduk di sebuah mimbar rendah, dan murid-muridnya duduk di tanah di hadapannya dalam setengah lingkaran, seperti Paulus yang duduk, "di bawah pimpinan Gamaliel" (Kisah Para Rasul 22:3). Setelah lebih maju dalam pelajarannya ia akan mendengarkan ajaran nenek moyang yang diwariskan secara lisan (yang kemudian dibukukan dalam Misynah dan Talmud), dan bila ia kelihatan cerdas dan cepat menangkap pelajarannya mungkin akhirnya akan dikirimkan ke sekolah-sekolah untuk calon ahli Taurat.

Pendidikan Yahudi memang sempit namun amat saksama. Murid-murid dilatih untuk membedakan pelbagai permasalahan dengan jelas dan mengingat apa yang sudah mereka pelajari dengan tepat. Mereka menguasai betul apa yang mereka pelajari, dan mampu menafsirkan hukum dari pelbagai segi. Namun mereka tidak dilatih dalam kreativitas dan penyelidikan ilmiah. Para rabi dalam zaman Kristus amat cakap dalam menafsirkan hukum sampai hal yang sekecil-kecilnya dan menguraikan pertanyaan-pertanyaan yang menjebak, tetapi mereka tidak banyak mempunyai pengetahuan tentang alam semesta yang merupakan mata pelajaran utama dalam sekolah-sekolah modern.

Sistem pendidikan Yahudi amat terpadu, karena semua cabang pengetahuan Yahudi selalu dikaitkan dengan teologi. Hukum adalah inti kurikulum. Di sekolah-sekolah yang paling maju, sedikit pengetahuan mengenai bahasa Yunani dan mungkin Latin diizinkan, tetapi banyak rabi yang tidak menyetujui pengetahuan asing yang bukan Yahudi, dan tidak mengizinkan murid-muridnya untuk mempelajarinya.

Orang Yahudi lebih menyukai pendidikan kejuruan. Para rabi mempunyai suatu pepatah "Barangsiapa tidak mengajarkan suatu keterampilan kepada anaknya ia menyuruhnya menjadi maling." Hampir semua anak Yahudi belajar bekerja dengan menggunakan tangannya yang akan digunakan untuk menunjang hidupnya kelak. Menurut Injil, Tuhan Yesus adalah seorang tukang kayu (Markus 6:3), atau mungkin seorang tukang batu, karena kata Yahudi yang diterjemahkan menjadi tukang kayu dapat pula berarti tukang bangunan atau tukang batu. Paulus adalah seorang tukang kemah (Kisah Para Rasul 18:3). Kecenderungan yang sehat dalam pendidikan keterampilan ini membuat pria Yahudi menjadi mandiri. Keterampilan fisiknya mengimbangi kekurangannya dalam pengetahuan teoritis hingga mereka mampu mendapatkan pekerjaan yang menguntungkan.

Pada umumnya anak perempuan tidak dididik dalam sekolah sinagoge. Mereka dididik di rumah dalam keterampilan rumah tangga sebagai persiapan untuk menikah.

Dengan jatuhnya kerajaan Yahudi, maka Helenisme menyusup ke dalam Yudaisme waktu di pengasingan (Diaspora). Di Palestina sekolah-sekolah Yahudi menolak pengetahuan Yunani dan menanamkan suatu sistem yang ketat yang masih mewarnai paham Yahudi ortodoks hingga saat ini.

Semangat belajar yang tinggi adalah suatu ciri dalam kehidupan Yahudi. Mempelajari Taurat adalah tanda kesalehan, dan orang Yahudi yang taat meluangkan banyak waktu untuk mempelajari hukum. Karena pembinaan pendidikan dianggap sebagai suatu kewajiban agama, bangsa Yahudi memiliki suatu standar intelektual yang tidak dimiliki oleh banyak bangsa asing. Seperti yang dikatakan oleh Moore, "... upaya untuk mendidik seluruh rakyat dalam pengetahuan keagamaannya menimbulkan suatu sistem pendidikan semesta yang unik, yang unsur-unsurnya tidak hanya terdiri dari membaca dan menulis, tetapi juga suatu pelajaran bahasa kuno beserta kesusasteraan klasiknya. Nilai-nilai intelektual serta keagamaan yang tinggi yang diterapkan oleh pendidikan akan membekas selamanya dalam ingatan, dan dapat dikatakan dalam watak bangsa Yahudi, dan lembaga yang diciptakan untuk itu tetap bertahan hingga hari ini.

Taxonomy upgrade extras: 

Komentar