PIR - Referensi 01c

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kursus : Pembinaan Iman Remaja
Nama Pelajaran : Pengertian Pembinaan Iman Remaja
Kode Pelajaran : PIR-P01

Referensi PIR-R01c diambil dari:

Judul Buku : Tujuh Hukum Mengajar
Penulis : John Milton Gregory
Penerbit : Gandum Mas, Malang
Halaman : 19 - 29

REFERENSI PELAJARAN 01c - PENGERTIAN PEMBINAAN IMAN REMAJA

HUKUM YANG BERSANGKUTAN DENGAN
GURU

  1. Kebenaran inti dari semua cabang ilmu pengetahuan modern adalah bahwa hukum berlaku secara universal. Semua sumber daya manusia maupun sumber daya alam tunduk kepada hukum tanpa kecuali. Tiada pengaruh atas pikiran manusia maupun atas alam terjadi tanpa "diatur" oleh hukum. Bukti paling sederhana mengenai adanya hukum alam adalah bahwa tenaga alam yang sama berlaku di semua tempat dan bekerja dengan cara yang seragam pula. Ada suatu proses sebab dan akibat, dan tiap akibat mempunyai sebabnya sendiri. Semuanya tunduk kepada hukum-hukum yang tak terelakkan. Suatu keadaan tertentu berkembang begini atau begitu, itu sudah ada hukumnya yang tertentu. Karena itu dengan mempelajari asas hukum suatu perkara, kita akan mengetahui hakekat kebenaran terpenting yang bisa diketahui mengenai perkara itu. Keseragaman yang terdapat dalam alam inilah yang menjadi landasan bagi semua cabang ilmu dan kesenian. Baik di "dunia" pikiran maupun di dunia konkret, semua cabang ilmu pengetahuan bertumpu pada kenyataan adanya hukum-hukum yang berlaku secara universal dan pasti. Pikiran manusia memang merdeka, tetapi hanya sampai batas-batas tertentu yang telah ditetapkan oleh hukum-hukum, tetapi mustahil menghasilkan sesuatu yang berlawanan dengan hukum-hukum tersebut. Maka itu, fungsi seorang guru pun tidak luput dari hukum, tak ubahnya seperti juga bintang-bintang yang bercahaya di langit atau kapal yang berlayar di laut. Untuk jabatan dan tugas seorang guru ada cukup banyak persyaratan yang diakui penting; dan seandainya ada guru yang dapat memenuhi seluruh persyaratan itu, maka ia benar-benar akan menjadi guru teladan yang sempurna, karena di dalam dirinya terhimpun kecakapan-kecakapan yang tak ada taranya. Watak dan akhlak yang baik tentu termasuk dalam persyaratan yang dicari pada seorang guru yang akan mengajar anak-anak yang masih kecil. Lagi pula, hal itu menjamin bahwa ia akan melakukan tugasnya dengan baik, setidak-tidaknya teladan yang diberikannya tak akan membawa efek negatif. Tetapi, sekiranya hal-hal yang tidak mutlak perlu kita coret satu per satu dari daftar persyaratan utama yang harus dipenuhi oleh seorang guru, maka akhirnya hanya ada satu persyaratan mutlak, yaitu bahwa guru itu harus mengetahui apa yang akan diajarkannya.

    Oleh karena itu, hukum yang bersangkutan dengan Guru - asas yang sekaligus merumuskan segala-galanya tentang dirinya - adalah: Seorang guru harus memahami bahan yang diajarkannya.

    Falsafah di Balik Hukum Ini

  2. Sudah jelas, mengajar tanpa memiliki pengetahuan apa-apa itu tidak mungkin, sehingga hal ini tidak memerlukan pembuktian lebih jauh. Bagaimana sesuatu yang berisi dapat berasal dari sesuatu yang kosong? Atau bagaimana kegelapan dapat menghasilkan terang? Dengan menegaskan hukum ini, kita seolah-olah mengemukakan sesuatu yang lumrah yang sudah diketahui semua orang. Tetapi seandainya hal ini kita selidiki lebih dalam, kita akan menemukan suatu asas kebenaran, yaitu: hukum yang bersangkutan dengan guru. Tak ada persyaratan lain yang begitu mendasar dan penting. Seandainya kalimat hukum tadi kita balik pun, kita mendapat lagi suatu sisi kebenaran yang lain: Apa yang diketahui oleh guru harus diajarkannya.

  3. Kata mengetahui merupakan kata kunci dalam asas keguruan ini. Pengetahuan adalah bahan baku bagi pekerjaan seorang guru dan alasan pertama bagi hukum ini menyangkut sifat pengetahuan itu sendiri. Apa yang oleh manusia disebut pengetahuan terdiri dari berbagai tingkatan, mulai dari setitik sinar kebenaran yang mula-mula terlihat sampai kepada tingkat pengertian yang matang. Tingkat pengalaman hidup umat manusia sementara diperolehnya tahap demi tahap, disifatkan dengan:

    1. Pengenalan yang samar-samar.
    2. Kemampuan untuk mengingat sendiri atau menguraikan apa yang telah kita belajar itu kepada orang lain secara garis besar.
    3. Kemampuan untuk langsung menerangkan, membuktikan, melukiskan dan menerapkannya.
    4. Tahap di mana pengetahuan serta penghargaan mengenai kebenaran itu dalam artinya yang sedalam-dalam dan seluas-luasnya sudah sedemikian rupa sehingga oleh karena kepentingannya kita bertindak - sikap (kelakuan) kita berubah olehnya. Sejarah baru bernilai sejarah bagi orang yang telah membaca dan mengetahuinya. Tahap pengetahuan atau pengalaman terakhir inilah yang dimaksudkan dalam hukum yang berlaku untuk seorang guru yang sejati.
  4. Itu tidak berarti bahwa orang yang belum lengkap pengetahuannya sama sekali tidak bisa mengajar, juga tidak berarti bahwa orang yang dengan sempurnanya menguasai bahan pelajaran itu pasti akan berhasil sebagai seorang guru. Tetapi bila pengetahuan guru belum sempurna, jelas hal itu akan ternyata dalam cara mengajar yang tidak sempurna pula. Apa yang tidak diketahui seseorang, tak mungkin diajarkannya dengan berhasil. Tetapi hukum keguruan ini baru satu di antara tujuh hukum mengajar itu. Maka kegagalan bisa juga terjadi karena ada hukum lain yang dilanggar, bukan hukum yang satu ini saja. Demikian pula, sampai batas tertentu sukses mungkin saja dicapai karena ketaatan terhadap hukum-hukum yang lainnya. Namun demikian, pengajaran pasti akan timpang dan penuh keraguraguan, jika gurunya tidak cukup memahami apa yang harus diajarkan.

  5. Suatu segi kebenaran dapat diketahui karena mirip dengan sesuatu yang sudah diketahui, karena itu lebih mudah untuk dilihat bila diperbandingkan dengan segi-segi kebenaran yang lain. Murid-murid hendaknya jangan melihat segi kebenaran itu berdiri sendiri, melainkan harus melihat kaitannya dengan kebenaran-kebenaran yang seluruhnya dalam semua hubungannya yang bermanfaat satu sama lain. Prinsip-prinsip besar biasanya ditemukan dalam kaitan dengan fakta-fakta dan konsep-konsep yang sudah diketahui. Kemampuan untuk melukiskan, yaitu salah satu segi yang paling penting dari seni mengajar, hanya akan timbul dari pengetahuan yang sudah jelas dan umum diketahui. Guru yang tidak cukup pengetahuannya sama seperti orang buta yang mencoba membimbing orang buta lain dengan penerangan lampu yang sudah padam.

  6. Ambillah contoh misalnya, pengetahuan umum ilmu bumi (geografi) yang diajarkan di sekolah - mengenai bentuk bumi yang bulat, samudera dan benua-benua yang luas, gunung, sungai, negara dan kota yang berpenduduk, dan sebagainya - betapa dangkal dan menjemukannya hal-hal itu bagi seorang guru, dan murid-muridnya yang kurang mempelajarinya. Tetapi betapa mengasyikkan materi tersebut bagi tokoh-tokoh geografi. Di depan matanya seolah-olah terbentang sejarah bumi ini dari zaman ke zaman sampai mencapai bentuknya yang bulat sekarang ini. Bagi guru-guru seperti itu, ilmu bumi merupakan sebuah pasal yang tidak terlepas dari seluruh khazanah ilmu mengenai asal-usul sejarah alam semesta. Demikian pula halnya, apabila kita mengajar kebenaran dari Alkitab. Bagi pembaca yang acuh tak acuh atau guru yang tidak cukup mendalam mempelajarinya, semua itu hanya menjadi fakta-fakta yang kering tanpa ada artinya. Tetapi bagi orang yang benar-benar menyelidikinya, kebenaran tersebut menjadi hidup dan luas artinya, karena disoroti dengan pengetahuan lain, seperti sejarah, ilmu pengetahuan dan berbagai pengalaman yang pernah tercatat oleh manusia.

  7. Tetapi hukum yang bersangkutan dengan guru lebih dalam lagi. Sebelum suatu kebenaran itu sungguh-sungguh dapat dihayati, terlebih dahulu ia harus dimengerti dengan jelas. Hanyalah orang yang benar-benar mempelajari suatu ilmu dapat merasa bersemangat mengenainya. Keluwesan kata-kata yang menakjubkan dari seorang pujangga atau ahli pidato bersumber dari wawasan mereka yang begitu luas. Tidak heran bahwa merekalah yang jadi perintis jalan bagi umat manusia di zaman mereka. Sudah pasti, guru yang hanya setengah-setengah mengetahui bahan yang akan diajarkannya akan menimbulkan kesan yang dingin dan menjemukan. Sebaliknya, guru yang begitu menghayati apa yang diajarkannya, dengan semangatnya akan membuat murid-murid ketularan minatnya yang besar itu.

  8. Rahasia dari semangat berapi-api yang begitu kita kagumi dan puji pada seorang guru dan pengkhotah adalah, bahwa disamping pengertian yang jelas tentang kebenaran yang diungkapkannya, mereka juga benar-benar menghayatinya dengan perasaan mereka. Bagi guru semacam itu kebenaran yang biasa seolah-olah menjadi hidup. Sejarah berubah menjadi suatu panorama kehidupan yang amat menarik; ilmu bumi berkembang menjadi suatu perjalanan yang mengasyikkan melihat benua-benua dengan berbagai suku bangsa yang menghuninya; astronomi (ilmu perbintangan) berubah seakan menjadi suatu pameran raksasa yang memperkenalkan dunia-dunia yang lain dengan sistem-sistemnya yang tersendiri. Bagaimana seorang guru tidak memukau karena kesungguhannya, apabila bahan pelajaran yang diberikannya itu begitu kaya dengan hal-hal yang mempesonakan?

  9. Karena pengetahuan yang begitu dikuasainya, semua kemampuan yang ada pada sang guru mulai hidup sendiri. Tetapi sebaliknya pula, pengetahuan itulah memungkinkan dia untuk mengembangkan dan menggunakan semua kemampuan tersebut. Seorang guru yang benar-benar memahami pelajarannya tidak akan terikat seperti seorang budak kepada textbook, tetapi dengan mudah akan mengemukakan semua yang terdapat dalam buku pedomannya itu, sambil mengawasi murid-muridnya dan dengan tangkas membimbing arah pemikiran mereka. la benar-benar siap untuk mengenali bagaimana dan sampai di mana mereka mulai mengerti kebenaran itu. la langsung dapat menyingkirkan hal-hal yang dapat merintangi kemajuan mereka serta membantu dan memberi semangat kepada mereka.

  10. Pengetahuan guru yang benar-benar matang dengan sendirinya akan menolong menambahkan kepercayaan para murid. Umumnya kita lebih senang dan dengan penuh perhatian mengikuti penjelasan seorang penunjuk jalan yang sudah hafal benar jalan yang akan ditempuh bersama. Tetapi sebaliknya betapa segan dan jemunya kita mengikuti petunjuk seorang pemimpin yang tidak tahu apa-apa dan kurang kompeten. Anak-anak tidak senang diberi pelajaran oleh seorang guru yang kurang mereka percayai. Dan bukan itu saja. Sarjana-sarjana besar - seperti Newton, Humboldt dan Huxley - membangkitkan minat orang lain untuk mempelajari ilmu mereka. Demikian pula seorang guru yang benar-benar telah mempersiapkan diri membangkitkan dalam murid-muridnya keinginan untuk memperdalam studi mereka. Sayang sekali, pernah terjadi bahwa pengetahuan yang begitu banyak tidak diimbangi dengan kemampuan untuk membangkitkan minat belajar pada murid-murid. Hal ini menyebabkan gagalnya pengajaran, terutama jika anak-anak itu masih muda. Lebih baik seorang guru dengan pengetahuan terbatas, tetapi dengan kemampuan untuk membangkitkan semangat murid-murid, daripada seorang cendekiawan yang tidak punya kemampuan demikian.

  11. Demikianlah falsafah di balik hukum mengajar yang pertama ini. Dilihat dari sudut ini, maka kita mulai mempunyai gambaran seorang guru yang ideal. Hanya Tuhan Yesus sebagai Guru Teladan yang sudah memenuhi harapan tersebut, tetapi semua guru yang sejati harus berusaha mencapainya. Hukum ini dengan tepat menunjukkan semua sumber daya yang harus digunakan oleh seorang guru dalam pekerjaannya. Mulai dari seorang ibu yang mengajar anaknya yang kecil, sampai kepada mahaguru yang mengajarkan ilmu yang paling abstrak sekalipun, atau orator yang bicara di hadapan wakil-wakil rakyat, atau pengkhotbah yang bicara di depan jemaatnya di gereja yang besar, hukum ini berlaku tanpa ada kekecualian dan tak sudi dilanggar begitu saja tanpa konsekuensi tertentu. Dengan tegas hukum ini mengatakan bahwa di mana pun juga seorang guru harus mengetahui apa yang akan diajarnya.

Taxonomy upgrade extras: 

Komentar