PIR - Pelajaran 05

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kursus : Pembinaan Iman Remaja
Nama Pelajaran : Kurikulum dan Metode Pelayanan Remaja
Kode Pelajaran : PIR-P05

Daftar Isi

  1. Kurikulum Pembinaan Iman Remaja
    1. Definisi Istilah
    2. Tujuan Kurikulum
    3. Isi Kurikulum
  2. Metode Pelayanan Pembinaan Remaja
    1. Definisi Istilah
    2. Macam-Macam Metode

Doa

KURIKULUM PEMBINAAN IMAN REMAJA

  1. Kurikulum Pembinaan Iman Remaja
    1. Definisi Istilah

      Secara umum, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kurikulum diartikan sebagai seperangkat mata pelajaran yang diajarkan pada suatu lembaga pendidikan. Secara praktis, kurikulum berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik untuk mengarahkan pendidikan menuju ke arah pembelajaran secara menyeluruh.

      Secara khusus dalam konteks kekristenan, kurikulum pembinaan iman remaja (PIR) adalah seperangkat mata pelajaran (pengajaran-pengajaran Firman Tuhan) dan kegiatan-kegiatan pembinaan yang berisi rencana pengajaran yang akan diberikan remaja gereja dalam suatu periode tertentu.

    2. Tujuan Kurikulum PIR

      Tujuan kurikulum PIR harus dijabarkan dari tujuan umum kekristenan, yaitu membentuk remaja-remaja Kristen yang mengenal dan mengasihi Tuhan sehingga menghasilkan hidup yang berbuah bagi kemuliaan nama Tuhan.

      Untuk mencapai tujuan itu, kurikulum PIR harus mencakup pengajaran Alkitab mengenai hal-hal berikut ini.

      1. Allah
      2. Manusia dan Dosa
      3. Keselamatan dalam Yesus Kristus
      4. Pertumbuhan Iman
      5. Kualitas Karakter Remaja Kristen
    3. Isi Kurikulum PIR

      Sebagaimana ditunjukkan pada tujuan kurikulum PIR, maka isi kurikulum PIR harus berdasar pada pengajaran firman Tuhan (Alkitab). Berikut adalah pokok-pokok kurikulum yang dapat digunakan sebagai acuan untuk melakukan pembinaan iman bagi remaja.

      1. Pokok Pengajaran tentang Allah
        1. Sifat-sifat Allah.
        2. Hukum-hukum Allah.
        3. Rencana/kehendak Allah.

        Tujuan:

        Agar remaja Kristen mengenal dengan benar siapa sesungguhnya Allah. Ia bukan hanya Allah yang Mahakuasa dan Mahakasih, tetapi juga Mahaadil dan Mahabenar. Dengan pemahaman ini, remaja diharapkan memiliki hati yang besar karena mengenal Allah yang besar dan dengan sungguh-sungguh memiliki hati yang hormat maupun takut akan Allah.

        Berikut ini beberapa contoh topik yang dapat dijadikan penuntun untuk kurikulum pengajaran tentang Allah.

        • Sifat-sifat Allah: Allah itu Esa, Allah itu Kekal, Allah itu Kasih, dll..
        • Hukum-hukum Allah: Hukum Taurat Musa, hukum yang utama, dan hukum kasih.
        • Rencana/kehendak Allah: Tujuan penciptaan alam dan manusia.
      2. Pokok Pengajaran tentang Manusia dan Dosa
        1. Kejatuhan manusia dalam dosa.
        2. Hukuman dosa.
        3. Macam-macam dosa.

        Tujuan:

        Agar remaja Kristen dapat mengerti kengerian akibat dosa dan bagaimana hal itu memengaruhi hubungan manusia dangan Allah. Kesucian Allah tidak dapat bersatu dengan dosa. Karena itu, manusia berdosa harus berpisah dengan Allah selama-lamanya.

        Berikut ini beberapa contoh topik yang dapat dijadikan penuntun untuk kurikulum pengajaran tentang manusia dan dosa.

        • Kejatuhan manusia dalam dosa: Keadaan manusia sebelum dan sesudah jatuh dalam dosa.
        • Hukuman dosa: Kerusakan manusia dan kematian kekal.
        • Macam-macam dosa: Dosa asal dan dosa perbuatan.
      3. Pokok Pengajaran tentang Keselamatan
        1. Yesus Kristus sebagai rencana keselamatan Allah bagi manusia.
        2. Manusia sebagai ciptaan baru di dalam Roh.
        3. Rencana kekal Allah bagi manusia.

        Tujuan:

        Agar remaja Kristen mengenal rencana keselamatan yang Allah sediakan bagi mereka, yaitu apabila mereka percaya dan beriman dalam Tuhan Yesus Kristus. Melalui kuasa Roh Kudus, keselamatan itu akan melahirbarukan mereka supaya menjadi ciptaan baru untuk melaksanakan rencana kekal Allah.

        Berikut ini beberapa contoh topik yang dapat dijadikan penuntun untuk kurikulum pengajaran tentang keselamatan.

        • Tuhan Yesus Kristus: Kelahiran, kematian, dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.
        • Keselamatan kekal: Lahir baru, pertobatan, dan hidup baru.
        • Rencana kekal Allah: Tujuan hidup manusia, hidup yang berbuah, dan menjadi saksi Kristus.
      4. Pokok Pengajaran tentang Sarana Pertumbuhan Iman
        1. Firman Tuhan (Alkitab).
        2. Gereja Tuhan.
        3. Misi dan penginjilan.

        Tujuan:

        Agar remaja Kristen yang telah memperoleh hidup baru dapat terus bertumbuh melalui sarana-sarana anugerah yang telah disediakan Allah. Dengan begitu, mereka dapat menjadi berkat bagi kerajaan Allah, komunitas Kristen, dan masyarakat pada umumnya.

        Berikut ini beberapa contoh topik yang dapat dijadikan penuntun untuk kurikulum pengajaran tentang pertumbuhan iman.

        • Firman Tuhan: Alkitab adalah Firman Tuhan, satu-satunya otoritas tertinggi, dan penuntun hidup.
        • Gereja Tuhan: Hakikat gereja, ibadah, dan persekutuan orang percaya.
        • Misi dan penginjilan: Misi Allah bagi dunia, arti penginjilan, dan arti pelayanan.
      5. Pokok Pengajaran tentang Karakter Kristen
        1. Karakter Kristus.
        2. Dewasa di dalam Kristus.
        3. Hidup yang berbuah.

        Tujuan:

        Agar remaja Kristen memiliki hidup yang terus-menerus diperbarui sehingga menjadi makin serupa dengan Kristus. Seorang remaja yang memiliki kehidupan rohani yang dewasa akan menjadi saksi hidup bagi Kristus dan memiliki hidup yang berbuah bagi kemuliaan Kristus.

        Berikut ini beberapa contoh topik yang dapat dijadikan penuntun untuk kurikulum pengajaran tentang karakter Kristen.

        • Karakter Kristus: Kasih, sukacita, adil, dll..
        • Dewasa di dalam Kristus: Hidup bagi Kristus, rela menderita, belajar Firman Tuhan, dll..
        • Hidup yang berbuah: Melayani orang lain, menjadi teladan, dan memiliki hidup yang bermisi.

        *) Catatan penting dalam menyusun kurikulum:

        • Harus memiliki pandangan yang benar mengenai Alkitab.
        • Pengajaran harus meliputi seluruh Alkitab PL dan PB.
        • Harus sesuai dengan pengertian usia/umur.
        • Harus mendorong minat belajar dengan variasi metode yang sesuai.
  2. Metode Pelayanan PIR
    1. Definisi Metode

      Metode berasal dari bahasa Yunani "methodos" yang berarti cara atau jalan yang ditempuh untuk mencapai tujuan; atau bagaimana cara melakukan atau membuat sesuatu. Dalam pembelajaran, metode belajar sangat dibutuhkan untuk membuat kelas atau proses pembelajaran menjadi lebih hidup, kreatif, dan inovatif. Selain itu, metode yang baik akan membantu remaja memahami isi pelajaran yang diajarkan dan bagaimana mengaplikasikannya. Remaja dapat terlibat dalam proses pembelajaran sehingga tidak berperan sebagai penonton, tetapi menjadi pelaku.

    2. Macam-macam Metode Pelayanan PIR

      Ada banyak sekali metode yang bisa dipakai untuk diterapkan dalam proses belajar mengajar di pembinaan remaja. Beberapa contohnya adalah sebagai berikut.

      1. Penggalian Alkitab: Studi Alkitab Induktif

        Salah satu metode penggalian Alkitab yang cocok untuk remaja adalah Studi Alkitab induktif. Metode ini akan mengajak remaja untuk teliti mempelajari fakta-fakta yang terdapat dalam teks Alkitab dan membiarkan fakta-fakta itu berbicara sehingga memberikan kesimpulan yang logis. Penggalian dengan metode Studi Alkitab Induktif biasanya memakai tiga langkah utama:

        1. Observasi
          Tujuan: melakukan pengamatan untuk menemukan dengan jelas, fakta-fakta apa saja yang secara tersurat dikatakan di dalam teks Alkitab yang sedang dibaca. Langkah observasi dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan 5W1H (what, when, where, who, why, dan how) kepada teks Alkitab.

        2. Interpretasi

          Tujuan: melakukan penafsiran untuk mengetahui dan menemukan lebih dalam apa maksud-maksud penulis ketika menuliskan teks Alkitab tersebut.

        3. Aplikasi
          Tujuan: melakukan aplikasi untuk menerapkan kebenaran yang telah ditemukan dalam mempelajari teks Alkitab supaya kebenaran itu menjadi hidup di dalam hidup remaja yang kita bimbing dan memberi pengaruh perubahan hidup yang makin berkenan kepada Allah.

      2. Metode Tanya Jawab

        Metode ini mendorong remaja untuk aktif berpartisipasi. Bentuk pertanyaan harus bervariasi supaya tidak hanya untuk mendapatkan informasi saja, tetapi juga untuk menganalisa supaya remaja memiliki pemikiran yang mendalam.

        1. Pertanyaan yang sifatnya mencari informasi.
        2. Pertanyaan tertutup dan terbuka, yaitu pertanyaan yang hanya perlu dijawab dengan betul atau salah, dan juga pertanyaan yang harus dipikirkan secara luas, terutama alasan dan kemungkinan-kemungkinan lain sehingga memperluas wawasan.
        3. Pertanyaan yang menuntut pemikiran, yaitu yang bukan hanya menuntut fakta, melainkan dapat menunjukkan sebab, arti, dan perasaan.
      3. Metode Diskusi

        Metode ini sangat menolong agar pembina tidak hanya berbicara satu arah, tetapi dapat remaja ikut bergumul dalam menemukan kebenaran-kebenaran yang sedang diajarkan. Pembina mengajukan pertanyaan. Sebaliknya, remaja juga dapat bertanya untuk merangsang dialog yang akan membangkitkan minat murid untuk berperan secara positif.

        1. Studi Kasus

          Studi kasus dapat diutarakan dengan bentuk yang berbeda-beda. Uraikan secara terinci keadaan yang terdapat dalam sebuah kasus, dan ajak murid untuk mencari cara penyelesaian yang mungkin dapat dipakai. Beberapa contoh bentuk studi kasus adalah mengutarakan sebuah cerita yang belum selesai dengan mengutip laporan surat kabar dan mengajukan suatu masalah kejiwaan. Bisa juga dengan mengutarakan gambar, atau memakai riwayat hidup para tokoh, memberikan laporan sejarah, catatan statistik, dan sebagainya.

        2. Debat

          Dua orang atau dua kelompok remaja diajak untuk memperdebatkan satu masalah dari segi pro dan kontranya. Dari proses perdebatan itu, murid dapat memahami pandangan-pandangan yang timbul dari konsep-konsep yang berbeda. Mereka yang ikut serta dalam perdebatan haruslah memunyai pengenalan yang cukup dan persiapan yang mantap tentang soal yang didiskusikan.

        3. Metode-metode diskusi lainnya:
          • Penyelesaian/pemecahan masalah (problem solving).
          • Pengumpulan gagasan secara mendadak (brainstorming).
          • Kelompok berbincang-bincang (buzz group/two by two).
      4. Metode Drama

        Bentuk dari metode drama, antara lain:

        1. Peragaan Gambar

          Metode ini cocok untuk anak-anak remaja. Urutannya adalah sebagai berikut.

          • Pilihlah sebuah gambar yang berkaitan dengan isi pelajaran.
          • Diskusikan inti pelajaran tersebut.
          • Tirukan sikap dari tokoh yang terdapat dalam gambar.
        2. Monolog

          Mintalah seorang murid untuk mempersiapkan dengan baik suatu presentasi, misalnya dengan memerankan diri sebagai salah seorang tokoh Alkitab/tokoh cerita. Lalu, dengan memakai kata ganti orang pertama, murid mengisahkan riwayat hidup, perasaan, ataupun konsep yang dimiliki tokoh-tokoh tersebut.

        3. Metode-metode drama lainnya adalah:
          • Pantomim.
          • Dramatisasi.
          • Peragaan peran (role playing).
      5. d. Metode Ceramah

        Melalui ceramah seorang guru atau pembina dapat menyampaikan satu pokok pelajaran kepada murid secara teratur dan sistematis seperti dalam bentuk pidato. Hal-hal penting yang harus diperhatikan, antara lain:

        1. Sasaran dari pokok pelajaran harus jelas.
        2. Kumpulkan bahan-bahan yang cukup kaya dengan prinsip-prinsip Alkitab.
        3. Berusahalah untuk menggunakan istilah-istilah yang sederhana.
        4. Jangan memakai suara yang datar (monoton). Perhatikanlah kecepatan tinggi dan rendahnya nada suara kita.
        5. Ingatlah bahwa isi ceramah harus teratur dan sistematis supaya pendengar mudah mengerti dan mengingatnya.
        6. Jangan memakai waktu yang terlalu panjang, tetapi libatkan pendengar dengan tanya jawab di akhir ceramah.
        7. Pakailah alat-alat peraga yang menarik, misalnya video pendek, gambar, lagu, atau slide powerpoint.
      6. Metode Kelompok Pendengar

        Pembina membacakan sebuah laporan atau naskah dengan membagi remaja menjadi dua atau beberapa kelompok. Mintalah setiap kelompok menyimak butir-butir penting yang telah ditentukan (misalnya kelompok pertama memperhatikan hal yang positif sedangkan kelompok dua memperhatikan hal yang negatif). Kemudian, setiap kelompok harus kembali memberikan laporan kepada guru dan teman-teman sekelasnya. Setelah itu, pembina baru bisa mengadakan diskusi.

      7. Metode Simposium

        Simposium adalah serangkaian ceramah pendek yang disampaikan oleh sekelompok kecil orang kepada seluruh kelas remaja. Metode ini memungkinkan untuk mengundang para ahli sebagai pembicara atau meminta remaja sendiri untuk mempersiapkan diri sebagai narasumber. Di bawah pengawasan dan arahan pembinanya, para remaja bisa menyampaikan segi-segi dan konsep-konsep sehubungan dengan topik ceramah.

      8. Metode Peninjauan ke Lapangan

        Metode peninjauan ke lapangan adalah mengadakan survei, yaitu mencari informasi bersama-sama dengan teman-teman sekelas secara terpimpin dan terarah untuk memperoleh bahan dan pengalaman yang orisinal. Berikut ini langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk metode peninjauan ke lapangan.

        1. Mengatur dan menghubungi tempat yang akan menjadi lokasi survei terlebih dahulu, mempersiapkan transportasi, dan penanggung jawab.
        2. Berilah petunjuk kepada murid mengenai hal-hal dan bagian-bagian penting yang perlu diteliti.
        3. Membuat laporan tentang hal-hal yang telah didengar, dilihat, dan dipelajari sewaktu murid mengadakan penelitian di lapangan.
      9. Metode dengan Memanfaatkan Kemajuan Teknologi

        Saat ini, metode pelayanan PIR yang dapat memanfaatkan kemajuan teknologi adalah kebutuhan yang cukup mendesak. Mengapa? Sebab, sebagian besar produk teknologi digunakan secara aktif oleh para remaja. Oleh karena itu, sebagai pembina remaja, kita juga dapat memanfaatkan kemajuan teknologi sebagai kesempatan untuk melayani mereka, misalnya melalui media sosial di internet seperti Facebook, What's Up, Path, atau komunitas digital lainnya. Lalu, penting juga untuk mengadakan pertemuan melalui fitur "hang out" di Google Groups.

        Tren "gadget" yang populer di antara remaja sangat bermanfaat untuk digunakan menjaring remaja-remaja baru yang belum mengenal Kristus. Misalnya, dengan mengadakan lomba-lomba atau kegiatan secara online, dsb..

        Perlu disadari bahwa metode ini tentu tidak dapat menggantikan pertemuan secara langsung. Pembina harus tetap melakukan usaha-usaha pertemuan darat supaya remaja tidak terlepas dari dunia nyata, tetap bisa menjadi dirinya sendiri, dan mempertanggungjawabkan setiap tindakannya.

Akhir Pelajaran (PIR-P05)

DOA

"Bapa di surga, berikan aku hikmat supaya dapat mengajar dan membawa remaja-remaja yang Engkau percayakan sehingga mereka dapat mengenal-Mu dan hidup seturut dengan rencana dan kehendak-Mu. Namun, sebelum itu, jadikanlah aku saksi-Mu supaya aku bisa menjadi teladan bagi mereka. Kiranya tangan kasih-Mu senantiasa memelihara dan membentuk kami untuk bertumbuh bersama-sama. Amin.

Taxonomy upgrade extras: