PIR - Pelajaran 03

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kursus : Pembinaan Iman Remaja
Nama Pelajaran : Perkembangan Remaja
Kode Pelajaran : PIR-P03

Daftar Isi

  1. Karakteristik Remaja Umur 12 -- 14 tahun
    1. Perkembangan Fisik
    2. Perkembangan Mental
    3. Perkembangan Emosi
    4. Perkembangan Sosial
    5. Perkembangan Rohani
  2. Karekateristik Remaja Umur 15 -- 18 tahun
    1. Perkembangan Fisik
    2. Perkembangan Mental
    3. Perkembangan Emosi
    4. Perkembangan Sosial
    5. Perkembangan Rohani

Doa

PERKEMBANGAN REMAJA

Pada pelajaran ini, kita hanya akan membahas karakteristik perkembangan manusia pada fase remaja. Telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya bahwa masa remaja (adolescence) ialah suatu periode transisi dari masa awal anak-anak hingga masa awal dewasa. Karakteristik pada perkembangan pada fase remaja adalah sebagai berikut.

  1. Karakteristik Remaja Umur 12 -- 14 Tahun

    Masa remaja pada usia 12 hingga 14 tahun digolongkan sebagai remaja awal atau pra-remaja.

    1. Perkembangan Jasmani (Fisik)

      Perkembangan fisik remaja pada usia ini terjadi begitu pesat karena mereka mengalami suatu masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa yang lebih dewasa. Perubahan pertama yang mungkin akan sangat tampak sekali adalah tinggi badan dan berat badan yang bertambah dengan cepat. Biasanya, anak perempuan akan mengalami perkembangan yang lebih cepat dibandingkan dengan anak laki-laki, karena secara teori, perempuan memiliki kedewasaan fisiologis dua tahun lebih cepat dibandingkan dengan laki-laki.

      Dalam hal seksual, anak perempuan akan mengalami menstruasi sedangkan anak laki-laki akan mulai mengalami mimpi basah. Pertumbuhan payudara pada anak perempuan akan mulai tampak ditandai dengan bentuknya yang mulai menonjol sedangkan pada anak laki-laki ukuran kelamin dan testis mulai membesar. Pada anak laki-laki juga mulai tumbuh rambut-rambut halus di wajah, seperti kumis. Peningkatan produksi dan pengeluaran keringat serta minyak pada rambut dan kulit akan terjadi. Tidak hanya itu saja, perkembangan pita suara mereka juga akan memengaruhi bentuk suara sehingga terkesan semakin dewasa dibandingkan dengan masa sebelumnya.

      Perubahan-perubahan fisik ini membuat mereka mengalami rasa canggung dan akan membuat mereka mudah tersinggung apabila perubahan fisik mereka dijadikan bahan pembicaraan atau ejekan. Akan sangat baik apabila masalah-masalah yang berhubungan dengan fisik tidak disinggung secara terbuka.

    2. Perkembangan Mental

      Mental merupakan sesuatu yang berhubungan dengan jiwa, watak, atau batin. Seperti halnya dalam perubahan fisik, perkembangan mental yang terjadi pada anak pra-remaja sangat drastis. Pada masa inilah, seorang anak akan dipenuhi perasaan ingin tahu dan amat berminat atas segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Hal tersebut sebagai wujud kepekaan intelektual mereka yang begitu tinggi sehingga gemar mengadakan eksplorasi (penjelajahan). Rasa keingintahuan remaja juga memicu mereka untuk melakukan perdebatan dan mengkritisi orang lain yang kadang-kadang dilakukan dengan cara yang tidak sopan. Pemahaman mereka terhadap segala sesuatu dipenuhi dengan logika sehingga mereka sering kali menolak segala sesuatu yang dianggapnya tidak logis. Ciri khas lain yang mungkin akan sangat berisiko adalah sikap mereka yang cenderung terlalu cepat mengambil suatu keputusan tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi nantinya. Di balik pola pikir mereka yang selalu menuntut hal-hal logis, mereka juga sangat senang berimajinasi yang mana imajinasi tersebut akan mendasari berbagai pengharapan dan tujuan yang ada dalam hatinya.

      Pada masa ini, akan muncul banyak hal pada diri remaja yang tidak sesuai dengan pola pikir orang dewasa. Sikap dan perkataan remaja bagi orang dewasa mungkin terkesan buruk, tetapi memang itulah cara yang bisa dilakukan anak pra remaja untuk mengetahui dunia di sekitarnya. Mereka terkadang bersikap sok tahu, meskipun pada kenyataanya mereka tidak memiliki pengalaman apa pun. Kesabaran adalah sikap yang sangat bijak untuk menghadapi mereka. Lebih baik menghargai daripada menuntut terlalu banyak.

    3. Perkembangan Emosi

      Pengaruh dari perkembangan yang drastis berakibat pada ketidakseimbangan koordinasi tubuh remaja. Tidak heran apabila pada masa ini anak remaja akan mengalami kondisi emosi yang tidak stabil. Dampak yang ditimbulkan dari kondisi tersebut adalah perubahan suasana hati yang sangat cepat, misalnya ketika mereka marah, dalam waktu yang cepat mereka bisa berubah menjadi sangat senang, atau sebaliknya. Kemarahan yang dialami oleh anak pada usia ini sering kali tak terkendali. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi emosi mereka yang kuat dan tak terduga. Mereka kadang juga menganggap diri sebagai seseorang yang sudah dewasa, tetapi justru sifat kekanak-kanakan mereka yang muncul, terutama ketika mengalami stress. Pada usia ini, anak akan sulit diatur karena mereka cenderung ingin menunjukkan identitas diri mereka dan cara yang mereka lakukan adalah dengan menyangkal masukan-masukan dari orang-orang di sekitarnya, termasuk orang tua.

      Pada usia ini, anak akan sering mengalami keresahan, kebimbangan, bahkan tekanan oleh karena ketidakstabilan emosi mereka. Karena itu, orang dewasa tidak perlu ikut terbawa emosi apabila mereka menunjukkan kemarahan atau sikap lain yang kita anggap tidak sopan. Sebaliknya, kesabaran adalah cara terbaik untuk menanggapinya.

    4. Perkembangan Sosial

      Perkembangan sosial anak pra-remaja ditunjukkan dengan sikap mereka yang senang bersosialisasi. Tujuan utama mereka bersosialisasi adalah untuk mendapatkan status tertentu dalam suatu kelompok. Untuk memperoleh status atau mempertahankannya, mereka akan melakukan cara apa saja. Perkembangan sosial lainnya juga ditunjukkan melalui ketertarikan mereka kepada lawan jenis yang semakin kuat. Hubungan ini kadang menjurus kepada hal-hal yang kurang sehat, misalnya berciuman, bergandengan atau hal-hal lain yang dapat memberikan kepuasan batin bagi mereka. Hal yang lebih menakutkan lagi adalah seiring dengan berkembangnya cara bersosialisasi dengan lingkungan luar, mereka justru mulai menjaga jarak dari keluarga.

      Cara bersosialisasi mereka memang harus menjadi perhatian utama, pasalnya mereka akan sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan yang mendominasi dirinya dan yang membuatnya merasa nyaman. Pembina harus mengarahkan mereka kepada lingkungan yang baik, yaitu persekutuan dalam gereja dan kelompok sel. Melarang mereka untuk tidak bergaul adalah tindakan yang kurang tepat karena dapat menghambat perkembangan mereka. Mereka hanya perlu diarahkan dengan siapa mereka harus bergaul.

    5. Rohani

      Meski pada masa kecil seorang anak mengikuti kelas sekolah minggu, tetapi pada usia remaja mereka akan memiliki pemahaman tentang iman yang samar-samar. Hal ini disebabkan oleh sikap mereka yang cenderung menilai kebenaran agama secara praktis. Tidaklah mengherankan apabila mereka sulit memahami beberapa ajaran Alkitab yang terkesan tidak masuk akal. Kalaupun terkadang remaja tampak bertumbuh, itu bukan pertumbuhan yang akan memberikan jaminan bahwa iman mereka akan baik-baik saja. Dan yang lebih parah lagi adalah ketertarikan remaja pada hal-hal kerohanian berkurang secara drastis karena pengaruh dari teman-teman yang sangat kuat. Kurangnya ketertarikan mereka terhadap hal-hal rohani membuat mereka jarang bertanya atau membahas hal-hal yang berhubungan dengan kerohanian. Sebaliknya, dalam menjalani pergaulan di luar, remaja akan mencari hal-hal baru oleh karena pengaruh teman-temannya di sekolah. Mereka mulai gemar melakukan hal-hal yang disukai kelompoknya atau idolanya. Pada usia ini remaja juga sering mengalami kesulitan dalam pengambilan keputusan sehubungan dengan kerohanian ketika diperhadapkan dengan suatu pilihan sulit. Hal inilah yang menyebabkan gejolak kerohanian sering muncul dalam diri mereka. Maka, tidak jarang jika keputusan yang diambil remaja selalu bertentangan dengan suara hati.

      Karena mereka selalu menuntut hal logis, maka kita harus menanamkan nilai-nilai agama secara praktis disertai dengan keteladanan. Karena mereka lebih menyukai keteladanan daripada sekadar teori yang disampaikan. Meskipun mereka tidak begitu peduli dengan hal kerohanian, namun setiap pesan yang mereka terima akan mereka simpan baik-baik dan menjadi pegangan dalam hidup mereka hingga mereka memasuki masa dewasa nantinya.

  2. Karekateristik Remaja Umur 15-18 tahun

    Perkembangan remaja pada usia 15 hingga 18 tahun merupakan kelanjutan dari perkembangan sebelumnya yaitu perkembangan usia 12-14 tahun. Masa remaja pada usia ini disebut sebagai masa remaja tengah.

    1. Perkembangan Jasmani

      Secara fisik, proses perkembangan yang terus-menerus terjadi mencakup dua hal yaitu percepatan pertumbuhan dan proses kematangan. Pada masa ini seksualitas terus berkembang, demikian juga tinggi dan berat badan mereka akan mengalami perkembangan hingga mencapai 85% dari usia pada masa dewasa. Otot-otot juga mulai berkembang sehingga mereka cenderung mengikuti latihan atau aktifitas-aktifitas yang berhubungan dengan pembentukan fisik. Bagi laki-laki, bulu-bulu pada kaki, ketiak dan dada juga mulai bertumbuh lebih lebat dibandingkan pada saat memasuki usia pra-remaja. Dapat dikatakan bahwa pertumbuhan pubertas pada tahapan ini sudah sempurna, namun di sisi lain pertumbuhan fisik pada perempuan mulai melambat, sedangkan remaja laki-laki terus berlanjut.

      Pada masa ini, anak remaja mulai bangga terhadap tubuhnya. Mereka tidak lagi mudah tersinggung apabila seseorang bertanya tentang fisik mereka. Pembicaraan ke arah seksualitas dan hal-hal lain yang berhubungan dengan fisik dapat mereka terima dengan baik. Namun demikian, keadaan ini tidak terjadi pada semua anak, karena setiap anak memiliki proses perkembangan yang berbeda-beda.

    2. Perkembangan Mental

      Keingintahuan mereka semakin bertambah sehingga memicu sikap gemar bertanya dan menuntut bukti nyata sebelum dia bisa menerima pendapat tertentu. Kemampuan berfikir terus meningkat dan sudah mulai mampu menetapkan sebuah tujuan. Ia mulai tertarik pada hal-hal yang lebih rasional dan mulai berfikir tentang makna sebuah kehidupan. Mereka mulai mempertajam prinsip-prinsip yang mereka miliki dan memiliki kesungguhan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkannya untuk dicapainya.

      Orang dewasa sudah seharusnya memberikan dukungan atas hal-hal positif yang dilakukannya. Sebuah dukungan ketika mereka gagal dan bantu mereka untuk membangkitkan kembali semangatnya. Kita harus mulai belajar menerima masukan dari mereka meskipun terkadang menurut kita hal itu sangat tidak masuk akal, karena mereka sangat membutuhkan sebuah penghargaan.

    3. Perkembangan Emosi

      Kondisi emosi remaja pada fase ini lebih baik dibandingkan dengan fase pra-remaja. Kestabilan emosi sudah mulai terlihat sehingga mereka lebih mudah mengendalikan kemarahan, rasa senang dan hal-hal lain yang berhubungan dengan emosi mereka. Namun yang perlu diingat, jangan membuat remaja pada masa ini marah. Karena tidak menutup kemungkinan bahwa mereka akan menunjukkan rasa marah yang lebih besar dan lebih berani dibandingkan pada fase pra-remaja. Memberikan waktu bagi mereka untuk berfikir dengan kepala dingin ketika mereka marah, akan memperbaiki keadaan daripada mengajak mereka berdebat dalam kemarahan mereka.

    4. Perkembangan Sosial

      Dalam bersosialisasi, mereka suka berkelompok-kelompok dan ingin dikelilingi oleh teman-teman yang dianggapnya istimewa serta melibatkan diri secara intens dengan kegiatan yang disenangi. Mereka mulai memilih teman-teman dekat yang dapat diajak untuk bertukar pikiran atau hanya sekedar bermain. Cara berfikir mereka cukup kritis sehingga sangat senang sekali untuk memberikan pendapatnya. Namun, karena tidak tahu bagaimana seharusnya menyampaikan pendapat, maka seringkali mereka terkesan sangat kasar bagi orang dewasa. Kepekaan mereka terhadap sesuatu mulai berkembang, namun mereka akan menjadi sosok yang paling mudah dipengaruhi oleh lingkungannya. Bagi mereka, apa yang dipikirkan oleh kelompoknya adalah pasti baik untuk dilakukan. Hal yang sangat mengkhawatirkan adalah kecenderungan mereka untuk menjauh dari orang tua dan ingin bebas dari orang tua. Kecenderungan tersebut muncul karena pengaruh teman sebaya jauh lebih kuat daripada pengaruh gereja maupun orang tua.

      Seringkali remaja di usia ini tidak menyadari pentingnya peran serta orang tua dan orang dewasa sehingga mereka berpendapat bahwa dia dan kelompoknya bisa mengambil keputusan sendiri. Kedekatan orang tua dengan mereka harus dibina dengan baik, dan orang tualah yang harus memulainya. Demikian juga bagi seorang pembina remaja juga harus dapat membina hubungan yang baik dengan mereka. Mereka akan lebih suka apabila kita berperan sebagai sahabat mereka dibandingkan sebagai boss yang hanya bisa mengatur dan memerintah.

    5. Perkembangan Rohani

      Masa remaja tengah memiliki kondisi kerohanian yang lebih baik dibandingkan dengan masa remaja awal. Pada masa ini, anak akan mulai mengalami perkembangan dalam pengenalan akan nilai-nilai sosial dan kerohanian. Mereka mulai berfikir bahwa apabila mereka jatuh pada pergaulan yang buruk, maka daya tarik mereka dalam keluarga maupun lingkungan akan hilang dan nama baik mereka akan tercemar. Namun, bagi anak-anak tertentu yang telah terlanjur terjerumus dalam pergaulan yang buruk, akan sangat sulit dibawa kembali pada kondisi yang lebih baik. Nilai-nilai rohani yang telah ditanamkan gereja pada saat mereka berada di masa pra remaja akan menjadi dasar pemikiran mereka untuk menjalani kehidupan rohani mereka di masa ini. Dan apabila anak pada usia pra remaja belum mendapatkan dasar kerohanian yang baik, maka akan sulit pula untuk menanamkan suatu pola pikir rohani yang baik dalam diri mereka di masa ini.

      Pembina remaha harus memberikan pemahaman tentang pengajaran-pengajaran Alkitab yang lebih mendalam karena mereka sudah mulai bisa menerima hal-hal yang bersifat spiritual. Pengarahan terhadap hal-hal positif akan sangat menolong mereka untuk menjauhkan diri dari tindakan yang tidak baik menurut pandangan agama Kristen.

      Untuk mencapai sebuah keberhasilan dalam melakukan pembinaan adalah mengenal dengan baik pribadi yang kita bina. Sebagai seorang pembina, kita tentunya ingin menjadi seorang yang tidak hanya memberikan mereka pengajaran, melainkan mengenal mereka seperti mengenal diri kita sendiri. Maka dari itu, penting bagi kita untuk mengenal bagaimana mereka berkembang daripada hanya sekedar menilai kekurangan mereka.

Akhir Pelajaran (PIR-P03)

DOA

Bapa di dalam surga, terima kasih untuk pelajaran tentang karakteristik pra remaja dan remaja. Aku berdoa kiranya Engkau senantiasa menolongku sehingga pelayananku kepada mereka dapat membawa mereka lebih dekat kepada-Mu. Berilah kekuatan kepadaku supaya aku senantiasa bergantung kepada-Mu. Amin.

Taxonomy upgrade extras: 

Komentar