PIR - Pelajaran 02

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kursus : Pembinaan Iman Remaja
Nama Pelajaran : Dasar Alkitab Pembinaan Iman Remaja
Kode Pelajaran : PIR-P02

Daftar Isi

  1. Pembinaan Iman Remaja dalam Perjanjian Lama
    1. Latar Belakang Perjanjian Lama
    2. Pembinaan dalam Perjanjian Lama
  2. Pembinaan Iman Remaja dalam Perjanjian Baru
    1. Latar Belakang Perjanjian Baru
    2. Pembinaan dalam Perjanjian Baru
  3. C. Pembinaan Iman Remaja Menurut Yesus
    1. Latar Belakang Injil
    2. Yesus Sebagai Guru Besar
    3. Amanat Agung Yesus (Matius 28:16-20)
    4. Peranan Roh Kudus dalam Mengajar (Yohanes 14:26)

Doa

DASAR ALKITAB PEMBINAAN IMAN REMAJA

Pembinaan iman remaja merupakan suatu pembinaan yang didasari dengan kebenaran Alkitab karena lahirnya konsep Pembinaan Iman Remaja dilatarbelakangi oleh kebenaran yang terkandung dalam Alkitab. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenal sejarah pembinaan iman dalam Alkitab dan fakta-fakta yang melatarbelakanginya. Prinsip-prinsip pembinaan iman dalam Alkitab memberikan banyak kontribusi terhadap pembinaan iman terhadap remaja yang dijalankan oleh gereja saat ini. Karena itu, mari kita melihat pembinaan dari dasar-dasar Alkitab.

  1. Pembinaan Iman Remaja dalam Perjanjian Lama
    1. Latar Belakang Perjanjian Lama

      Latar belakang Perjanjian Lama (PL) adalah bangsa Yahudi dengan seluruh budaya dan agamanya. Bangsa Yahudi memiliki agama yang disebut sebagai 'Yudaisme', menganut kepercayaan kepada Allah, menyimpan pengajaran tersebut dengan tekun, serta menjaga kemurniannya dari generasi ke generasi.

    2. Pembinaan dalam Perjanjian Lama

      Prinsip pembinaan agama bangsa Yahudi sangat kuat, mereka menempatkan kebenaran Allah sebagai kebenaran yang mutlak. Mereka percaya bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Allah (Kejadian 1:1), maka dari itu seluruh kehidupan jasmani dan rohani berada dalam naungan Allah. Mereka percaya bahwa Allah telah membuktikan keberadaan-Nya melalui wahyu sehingga hal itu membuat mereka selalu menjaga rasa hormat dan takut akan Allah. Bangsa Yahudi sangat menjunjung tinggi kebenaran Allah sehingga dalam hal pembinaan keagamaan pun mereka menjadikan Allah sebagai pusatnya (Habakuk 2:10). Sementara itu, yang menjadi buku pegangan bangsa Yahudi adalah Kitab Taurat untuk mempelajari tentang Allah dan karya-Nya. Bagi bangsa Yahudi, pendidikan adalah kegiatan utama mereka yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Kitab Ulangan 6:4-9 mengonfirmasikan bahwa bangsa Yahudi memiliki sistem pendidikan nasional, walaupun saat itu belum dikenal sistem pendidikan formal (sekolah).

      Pada awalnya, pembinaan agama bangsa Yahudi dijalankan di rumah, dilakukan oleh orang tua. Ibu memiliki peran yang besar karena bertanggung jawab memberikan pembinaan kerohanian kepada anak sebelum mereka mengenal dunia luar dan membaur dengan masyarakat dan lingkungan, yaitu ketika mereka masih berumur di bawah 5 tahun. Tujuannya supaya anak memiliki dasar-dasar yang benar dari keluarga sebelum mereka belajar di luar rumah. Peranan ayah adalah sebagai kepala keluarga dan sekaligus menjadi imam keluarga. Ia memberikan pembinaan kepada seluruh keluarga dengan membacakan ayat-ayat dalam PL serta melakukan renungan firman Tuhan. Bagi anak-anak perempuan, ibu melanjutkan pembinaan di rumah dengan memperkenalkan tanggung jawab seorang istri dan ibu untuk mempersiapkan mereka berkeluarga nanti. Sementara itu, ayah melanjutkan pembinaan rohani anak laki-laki yang sudah berumur di atas 5 tahun dengan membawa mereka ke tempat pekerjaan ayah.

      Pada masa Pembuangan, bangsa Israel mengalami "pembaharuan" iman karena kesadaran bahwa mereka telah menyia-nyiakan anugerah sebagai umat pilihan Allah. Kesadaran itu membuat mereka mulai kembali menghargai hak istimewa sebagai umat pilihan Allah sehingga mereka mulai mempraktikkan kembali ibadah kepada Allah yang Esa dan mempelajari semua hukum-hukum Allah untuk diajarkan kepada anak-anak mereka. Kemudian, lahirlah sinagoge sebagai tempat bagi masyarakat Yahudi berkumpul, beribadah, dan mengajarkan semua tradisi Yahudi (yang akhirnya disebut sebagai ajaran Yudaisme).

  2. Pembinaan Iman Remaja dalam Perjanjian Baru
    1. 1. Latar Belakang Perjanjian Baru

      Tradisi yang bangsa Israel lakukan selama masa Pembuangan, yaitu beribadah dan belajar Yudaisme di sinagoge akhirnya dibawa sampai masa PB. Umat Allah pada masa PB terus memelihara ajaran kitab-kitab PL (Taurat) dan dengan rajin mempelajari semua isinya. Mereka juga merayakan hari-hari raya khusus Yahudi dan mewajibkan sunat bagi setiap anak laki-lakinya. Sedikit perbedaan dalam PL, bangsa Yahudi dalam PB telah berbaur dengan kehidupan bangsa Yunani sehingga masa itu diwarnai dengan pengajaran tentang filsafat dan budaya Yunani.

      Masa PB disebut sebagai masa isolasi karena saat itu bangsa Yahudi tunduk di bawah kekuasaan bangsa Romawi. Mereka dipaksa untuk memuja kaisar Roma sebagai dewa atau tuhan mereka. Bukan hanya itu, sejak munculnya ajaran Kristen, mereka yang percaya kepada Yesus akan mendapat penganiayaan dari bangsa Romawi. Kepercayaan bangsa Yahudi terhadap Kristus dan hukum-hukum dalam Alkitab sangat bertolak belakang dengan kepercayaan bangsa Romawi yang percaya kepada dewa-dewi.

    2. Pembinaan dalam Perjanjian Baru

      Pembinaan iman pada masa PB hampir mirip dengan pembinaan yang dilakukan dalam PL. Pada masa ini, anak-anak di bawah umur 5 tahun sepenuhnya dididik oleh sang ibu. Baru setelah itu, dididik secara formal di sinagoge (tempat ibadah bangsa Yahudi). Adapun isi pengajarannya adalah kitab-kitab Taurat sampai mereka cukup dewasa. Hal yang membuat pengajaran dalam PB berbeda dengan pengajaran dalam PL adalah dalam PB orang tua bukanlah pengajar utama karena anak lebih banyak menghabiskan waktu belajarnya bersama guru di kelas.

      Pembinaan iman pada masa Perjanjian Baru memiliki prinsip yaitu menyampaikan (mengomunikasikan) suatu kebenaran (2Timotius 3:16). Mereka percaya bahwa pengajaran atau pembinaan yang benar itu merupakan perintah langsung dari Allah (Matius 28:16-20). Sebab itulah, mereka tidak berani mengabaikan pembinaan terhadap anak-anak mereka.

  3. Pembinaan Iman Remaja dalam Pengajaran Yesus
    1. Latar Belakang Yesus

      Yesus adalah Seorang Anak yang dilahirkan oleh seorang perawan yang bernama Maria. Ia lahir di tengah-tengah keluarga tukang kayu yang secara ekonomi masuk dalam golongan menengah. Dalam Markus 6:3 Yesus hanya disebut sebagai "Anak Maria", dari sini dapat ditafsirkan bahwa ada kemungkinan bahwa Yusuf meninggal saat Yesus masih muda. Kemungkinan besar karena nama Yusuf tidak pernah disebut lagi setelah masa kelahiran Yesus dan masa remaja-Nya. Injil Lukas 2:42 yang menceriterakan tentang perdebatan antara Yesus dan ahli-ahli Taurat menjadi bukti bahwa pengetahuan Yesus akan kitab Taurat cukup tinggi, meskipun secara formal Tuhan Yesus tidak mendapatkan pendidikan yang cukup tinggi. Pada masa hidup-Nya, Tuhan Yesus taat dan menjadi seorang Yahudi yang baik. Ia belajar kitab Taurat dan ikut serta dalam perayaan-perayaan yang diadakan oleh kaum Yahudi. Di lain sisi, Tuhan Yesus tidak menaati hukum-hukum yang dibuat berdasarkan tradisi Yahudi, yaitu hukum-hukum yang dapat mematikan kasih dan aplikasi yang harafiah.

    2. Yesus Sebagai Guru Besar

      Istilah yang biasa dipakai oleh orang Yahudi untuk menyebut seorang guru besar adalah "epistates" (Lukas 5:5). Pada masa pelayanan-Nya, Tuhan Yesus mendapatkan gelar semacam itu. Hal ini sangat beralasan karena dalam pelayanan terhadap orang-orang Yahudi saat itu, Yesus membuat banyak mujizat. Karena itu, tidak mengherankan jika hampir semua orang yang mengenal-Nya, memanggil Dia dengan sebutan 'Guru'.

      Sebagai seorang guru, Tuhan Yesus telah mengajarkan banyak hal kepada orang-orang, khususnya orang-orang Yahudi. Tujuan dari pengajaran Yesus ialah untuk memberikan hidup dan hidup yang berkelimpahan (Yohanes 10:10). Satu hal yang membedakan Yesus dengan guru-guru Yahudi lain karena Tuhan Yesus mengajar dengan kuasa atau otoritas Allah (Matius 7:28-29).

      Dalam memberikan pengajaran kepada para murid, Tuhan Yesus memiliki prinsip yang mendasari pengajaran-Nya seperti yang tertulis dalam Yohanes 3:1-12. Dalam pengajaran-Nya, Yesus memulai dari mana murid berada. Selanjutnya, untuk menanamkan suatu pengajaran tertentu, Yesus selalu memfokuskan pengajaran sesuai dengan talenta yang dimiliki oleh masing-masing murid sehingga murid-murid dapat mengembangkan pengajaran itu melalui talenta yang mereka miliki (Matius 25:14-39). Dan yang terakhir, Tuhan Yesus sangat menekankan perubahan sikap hati seseorang daripada sekadar pengetahuan yang luas. Dalam memberikan pengajaran-Nya, Tuhan Yesus memakai beberapa metode, di antaranya adalah metode bercerita, menggunakan perumpamaan, diskusi atau tanya jawab, memberi tugas, khotbah, dan alat peraga. Metode-metode ini juga dilakukan oleh pengajar-pengajar pada masa kini.

    3. Amanat Agung Yesus (Matius 28:16-20)

      Pada masa hidupnya, Yesus mengambil waktu hanya selama tiga tahun untuk melakukan pelayanan dan pengajaran. Akan tetapi, dari semua pengajaran yang Ia berikan, ada satu pesan yang menurut Yesus begitu penting, yaitu Amanat Agung, yang dalam bahasa Inggris disebut "The Great Commission". Yesus menginginkan bahwa Amanat-Nya tersebut tidak hanya disampaikan di Yerusalem melainkan di Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi.

      Amanat Agung berisi tiga poin utama yaitu, "pergilah", "baptislah", dan yang terakhir "ajarlah". Pada perintah "Pergilah dan jadikan semua bangsa murid-Ku", kata kerja "pergilah dan jadikan" merupakan dua kata kerja perintah yang aktif. Bila itu adalah perintah yang aktif, berarti orang Kristen harus berinisiatif menaati-Nya. Memberitakan Injil bukan lagi suatu pilihan, tetapi suatu keharusan dan tanggung jawab orang percaya. Setiap orang percaya harus berani menjadi saksi untuk memberitakan pesan Injil supaya orang yang mendengar-Nya boleh diselamatkan. Bila hal ini terjadi, akan ada suatu transformasi dari dalam diri orang itu. Transformasi inilah yang akan menciptakan suatu hubungan yang erat dan komitmen yang dalam dari orang itu dengan Tuhan Yesus.

      Kedua, mengenai kalimat "... baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus." Sebagai orang Kristen, kita dipangil bukan hanya untuk percaya, tetapi setelah dibina dengan baik, ia harus menerima baptisan air. Baptisan air penting karena orang yang menerima baptisan itu bukan hanya menggenapkan kehendak Allah, tetapi juga sebagai simbol persekutuan antaranggota keluarga Allah.

      Terakhir, kalimat "Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” Panggilan Gereja bukan saja menginjili orang-orang yang belum percaya, tetapi setelah bertobat mereka perlu diajar. Kata kerja "ajarlah" yang dimaksud dalam ayat ini adalah dimuridkan. Pemuridan adalah suatu proses membantu umat Allah bertumbuh menjadi semakin menyerupai Kristus dalam perasaan, pikiran, dan perbuatan.

    4. Peranan Roh Kudus dalam Mengajar (Yohanes 14:26)

      Alkitab menjelaskan bahwa Roh Kudus adalah Pribadi dan bukan suatu kekuatan yang impersonal. Roh Kudus setara dengan Allah Bapa dan Allah Anak (Kisah Para Rasul 5:3-4; 2 Korintus 3;17; Mazmur 139:7-8). Karena Roh Kudus merupakan Pribadi, kita dapat dan harus memiliki hubungan pribadi dengan-Nya (Yohanes 16:13; 2 Korintus 13:13; Yohanes 14:26)."

      Seperti halnya peran serta Roh Kudus yang begitu penting untuk memelihara kehidupan orang percaya, demikian juga dalam hal pengajaran, Roh Kudus memiliki peran yang sangat besar. Berdasarkan pernyataan Yesus dalam Yohanes 14:26, ada dua hal utama yang akan menjadi pokok pembahasan kita.

      Pertama, dalam kalimat "Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu". Dalam konteks ini, pengajaran yang dimaksud adalah seluruh pengetahuan tentang Firman Tuhan. Roh Kudus akan mengajari seseorang untuk menjadi bijaksana sehingga mereka tidak mudah digoyahkan imannya atau dipengaruhi oleh pengajaran-pengajaran palsu karena Roh Kudus mengurapi (1 Yohanes 2:27). Selain itu, dalam (Efesus 1:17), Roh Kudus juga berfungsi sebagai Pemberi Wahyu sehingga di kemudian hari orang-orang percaya akan diajari wawasan-wawasan tentang kehidupan yang dapat menolong mereka memahami kuasa Allah yang bekerja dalam hidup mereka. Fungsi Roh Kudus yang berikutnya adalah sebagai Roh kebenaran (Yohanes 14:17). Sebagai Roh Kebenaran, segala sesuatu yang diajarkan Roh Kudus ditandai dengan kebenaran. Ini berarti bahwa pelajaran-pelajaran yang disampaikan Roh Kudus adalah kebenaran yang bersifat kekal sehingga orang Kristen mengalami perubahan orientasi hidup, dari hal-hal fana kepada hal-hal yang tidak fana.

      Kedua, dalam kalimat "mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu". Bisa dibayangkan bagaimana mungkin para murid pada saat itu bisa mengingat segala sesuatu yang telah disampaikan oleh Yesus kepada Mereka. Namun, maksud dari pernyataan Yesus adalah mengingatkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebenaran Injil, atau lebih tepatnya supaya para murid mampu memegang Injil itu sampai selama-lamanya, bahkan sampai diberitakan kepada semua orang dari generasi ke generasi, sebagaimana orang-orang Yahudi yang terus memelihara kemurnian kitab Taurat. Demikian juga para murid harus memegang kemurnian Injil. Penyertaan Roh Kudus dalam konteks ini telah mengingatkan akan sifat 'providensia' Allah, yaitu penyertaan Allah yang dengan setianya memelihara kehidupan umat-Nya. Roh Kudus yang adalah Allah juga akan memelihara umat-Nya sampai selama-lamanya sehingga setiap pengajaran yang telah diberikan oleh Yesus dapat terpelihara dengan baik.

      Alkitab telah menunjukkan kepada kita akan pentingnya suatu pembinaan iman. Bangsa Yahudi telah begitu setia menjaga kemurnian ajaran Hukum Taurat, demikian juga Tuhan Yesus telah melaksanakan tugas-Nya sebagai seorang Pendidik dan Pengajar kebenaran Allah yang memiliki kedaulatan dan kuasa penuh. Hal tersebut membuktikan keseriusan Allah dalam menjaga pembinaan iman umat-umat-Nya sehingga umat Allah tidak akan pernah kehilangan jati diri mereka sebagai anak Allah. Dari masa ke masa Allah senantiasa mendidik dan mengingatkan anak-anak-Nya untuk tetap percaya dan menyembah-Nya supaya anak-anak-Nya boleh hidup dalam kemenangan. Karena itu, adalah suatu kewajiban bagi gereja masa kini mengikuti jejak bangsa Yahudi dan Tuhan Yesus untuk senantiasa mengajarkannya kepada generasi gereja berikutnya supaya iman mereka di dalam Yesus Kristus tetap terpelihara dengan baik.

Akhir Pelajaran (PIR-P02)

DOA

"Bapa dalam surga, aku berterima kasih karena telah mengenal Yesus dan menerima Roh Kudus yang Bapa janjikan bagi setiap umat-Mu. Ajar aku untuk dapat melakukan Amanat Agung, memberitakan Injil, dan menjadi saksi-saksi Kristus yang setia. Amin."

Taxonomy upgrade extras: