Paskah-Pelajaran 03

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kursus : Paskah
Nama Pelajaran : Paskah dalam Perjanjian Baru
Kode Pelajaran : PAS-P03

Pelajaran 03 - PASKAH DALAM PERJANJIAN BARU

Daftar Isi

  1. Terminologi Paskah dalam Perjanjian Baru
  2. Perayaan Paskah dalam Perjanjian Baru
  3. Paskah dan Tuhan Yesus
    1. Perjamuan Terakhir
    2. Minggu Terakhir Kehidupan Tuhan Yesus

DOA

A. Terminologi Paskah dalam Perjanjian Baru

Bagi orang Kristen, Paskah penuh dengan lambang yang bersifat nubuat karena merujuk kepada Tuhan Yesus Kristus. Perjanjian Baru dengan tegas mengajarkan bahwa hari raya Yahudi merupakan "bayangan dari apa yang harus datang" (Kolose 2:16-17; Ibrani 10:1), yaitu penebusan melalui darah Yesus Kristus. Perhatikan hal-hal yang tercatat dalam Keluaran 12:1-51 yang mengingatkan kita pada Sang Juru Selamat dan kehendak-Nya bagi kita.

Paskah merujuk pada Perjamuan Kudus, yang didasarkan pada Perjamuan Malam, perjamuan perpisahan antara Yesus dan murid-murid Yesus. Pada malam itu sebelum Yesus dihukum mati, Yesus memberikan makna baru bagi Paskah Yahudi. Roti melambangkan tubuh Yesus dan anggur melambangkan darah Yesus. Jadi, keduanya merupakan perlambangan diri Yesus sebagai korban Paskah.

Rasul Yohanes dan Paulus mengaitkan kematian Yesus sebagai penggenapan Paskah Perjanjian Lama (Yesus wafat pada saat domba-domba Paskah Yahudi dikurbankan di Bait Allah). Kematian dan kebangkitan Yesus inilah yang kemudian diasosiasikan dengan istilah Paskah dalam kekristenan.

Karena Paskah dirayakan oleh gereja-gereja Kristen dengan Perjamuan Kudus, maka sakramen tersebut dapat pula disebut sebagai Perjamuan Paskah Kristen, atau Perjamuan Kudus Jumat Agung, yang berbeda dari Perjamuan Paskah Yahudi. Banyak gereja Kristen saat ini merayakan perjamuan tersebut lebih dari sekali selama setahun agar jemaat gereja selalu mengingat akan peristiwa Paskah.

B. Perayaan Paskah dalam Perjanjian Baru

Perayaan Paskah dalam Perjanjian Baru sama dengan perayaan Paskah dalam Perjanjian Lama, sebab peraturan Musa mengenai Paskah dan perayaannya yang tertulis dalam kitab Taurat dilakukan oleh orang Israel secara terus-menerus dan turun-temurun. Pada waktu matahari mulai terbenam, seluruh anggota keluarga harus mengikuti perjamuan. Kepala keluarga akan mengambil piala pertama yang berisi anggur merah dan mengucap syukur. Kemudian meminumnya secara bergiliran menurut urutan dari yang tua kepada yang muda dalam keluarga. Apabila kepala keluarga tidak ada, maka anak sulung yang menggantikan posisi kepala keluarga untuk memimpin perjamuan malam Paskah.

Dalam Perjanjian Lama, setiap orang yang mengikuti perjamuan harus mencuci tangan secara bergiliran. Setelah mencuci tangan, dilanjutkan memakan gulai pahit sesuai peraturan Musa dalam Keluaran 12:8. Kepala keluarga akan mencelupkan gulai pahit ini ke dalam air garam, lalu memberikannya kepada seluruh keluarga.

Perayaan Paskah dilanjutkan dengan menuang anggur yang kedua. Lalu anggota keluarga yang paling muda harus menanyakan sejarah Paskah, dan kepala keluarga akan menceritakan sejarah Paskah dalam Perjanjian Lama mulai dari Terah sampai peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir dan menjelaskan kata-kata dalam Ulangan 26:5-11. Acara dilanjutkan dengan mengambil satu pinggan besar berisi daging kambing, roti tidak beragi, dan gulai pahit. Setelah itu, kepala keluarga menerangkan arti dari setiap makanan tersebut. Sementara itu, dalam Perjanjian Baru disebutkan bahwa Tuhan Yesus justru mencuci kaki murid-murid-Nya (Yohanes 13:3-11)

C. Paskah dan Tuhan Yesus

1. Perjamuan Terakhir

Perjamuan terakhir yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya sering kali disebut juga sebagai perjamuan Paskah. Perjamuan Paskah berbeda dengan perjamuan suci. Perjamuan Paskah adalah merupakan pelambangan penebusan. Perjamuan Paskah didasarkan pada aliran darah anak domba, yang dilepaskan dari kematian sesuai dengan apa yang tertulis dalam Keluaran 12:1-20. Sedangkan, perjamuan suci adalah tanda perjanjian baru supaya dengan mengikuti-Nya, orang Kristen dapat hidup dan bersekutu dengan Tuhan dan mengingat akan kasih Tuhan (Lukas 22:19-26).

2. Minggu Terakhir Kehidupan Tuhan Yesus

Apa yang terjadi pada minggu terakhir Tuhan Yesus hidup tidak dituliskan dalam Injil secara khusus. Masing-masing Injil menulis bagian-bagian dari kisah Tuhan Yesus pada minggu terakhir sebelum penyaliban-Nya di bukit Golgota. Dalam minggu terakhir Tuhan Yesus hidup, Ia memfokuskan pelayanan-Nya di kota Yerusalem. Berikut ini rangkaian kehidupan Tuhan Yesus pada minggu terakhir sebelum penyaliban.

a. Tuhan Yesus naik keledai masuk ke kota Yerusalem

Tuhan Yesus masuk ke kota Yerusalem dengan menaiki seekor keledai muda sesuai dengan nubuatan nabi Zakharia yang dituliskan dalam Zakharia 9:9. Dengan kemahatahuan-Nya, Tuhan Yesus menyuruh murid-Nya untuk masuk ke sebuah kampung dan membawa seekor keledai yang terikat. Keledai itu adalah keledai muda yang belum pernah dinaiki oleh siapa pun. Maka, murid-murid pun membawa keledai itu, mengalasi punggung keledai itu dengan kain, dan membiarkan Tuhan Yesus naik ke atasnya. Pada saat menaiki keledai itu, Tuhan Yesus menyatakan bahwa Ia adalah Raja Damai, sebab bagi orang Israel, keledai melambangkan kedamaian. Pada saat Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya memasuki kota Yerusalem, orang banyak menyambut dan menyatakan bahwa Tuhan Yesus adalah pengharapan bagi mereka. Orang-orang bersorak, "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!" Teriakan dan sorak-sorai orang banyak sesungguhnya tidak sebatas ucapan saja, tetapi seruan mereka menyatakan bahwa Tuhan Yesus sungguh-sungguh Anak Daud, Ia adalah seorang Raja dan Mesias. Kata "hosana" memiliki arti bahwa Tuhan Yesus adalah seorang Juru Selamat, sebab kata "hosana" sejajar dengan kata "saviour." Oleh sebab itu, Tuhan Yesus masuk ke Yerusalem sesungguhnya sebuah pernyataan bahwa Dialah Raja, Dialah Tuhan, Dialah Mesias yang dijanjikan Allah untuk menyelamatkan bangsa Israel.

b. Tuhan Yesus mengutuk pohon ara yang tidak berbuah

Usai peristiwa memasuki Yerusalem, keesokan harinya Tuhan Yesus mengutuk pohon ara (Matius 21:18-20). Menurut kitab Injil, pada waktu itu memang bukan musim musim buah pohon ara. Di daerah Palestina pohon ara akan dipanen dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan ke enam dan ke delapan. Biasanya, pohon ara yang berdaun lebat memiliki buah. Beberapa penafsiran menyatakan bahwa pohon ara melambangkan kekuasaan agama Yahudi. Bahkan, Penulis Perjanjian Lama sering kali menyebut orang-orang Israel sebagai pohon ara. Mereka kelihatan religius, tapi itu hanya lahiriah karena mereka tidak menghasilkan buah-buah rohani dalam kehidupannya. Hal ini dipertegas oleh Dr. Peter Wongso yang menyatakan bahwa, "Pohon ara melambangkan orang-orang Yahudi. Mereka "berbaju" agama tetapi tidak mempunyai hidup. Mereka dikutuk sebab tak berbuah dan tak dapat membantu orang lain."

c. Tuhan Yesus menyucikan Bait Allah

Peristiwa Tuhan Yesus menyucikan Bait Allah dituliskan dalam Injil Yohanes. Dalam Yohanes 2, diceritakan bahwa Tuhan Yesus menyucikan Bait Allah untuk pertama kali, yaitu pada awal pelayanan Tuhan Yesus. Sedangkan menjelang Paskah, Tuhan Yesus menyucikan Bait Allah untuk mengakhiri pekerjaan dan pelayanan-Nya. Di Israel sendiri, haruslah seorang imam besar yang menyucikan Bait Allah. Dalam 2 Tawarikh 29:15-19 dituliskan bahwa sebelum imam besar melakukan pekerjaannya, Bait Allah harus disucikan terlebih dahulu. Penulis surat Ibrani menyebutkan bahwa Tuhan Yesus menyucikan Bait Allah sebab Dia adalah Imam Besar, menyucikan Bait Allah sebagai pernyataan bahwa Tuhan Yesus sedang mempersiapkan Diri-Nya sendiri sebagai domba Paskah bagi penebusan manusia (Ibrani 3:12).

Dari serangkaian peristiwa minggu terakhir Tuhan Yesus, sesungguhnya perayaan Paskah sudah dipersiapkan sesuai apa yang tertulis dalam kitab-kitab Perjanjian Lama. Di mulai dengan Tuhan Yesus yang memasuki kota Yerusalem sampai menyucikan Bait Allah sebagai salah satu upacara penahbisan yang dilakukan oleh imam besar sebelum melaksanakan tugas keimaman di Bait Allah.

d. Tuhan Yesus menyuruh murid-murid-Nya untuk menyediakan Perjamuan Paskah

Pada hari Kamis pagi, para murid Tuhan Yesus mulai kebingungan karena hari Kamis adalah hari pertama pesta tahunan. Akan tetapi, mereka belum mempersiapkan apa pun untuk merayakan Paskah. Oleh sebab itu, murid-murid bertanya kepada-Nya, "Di manakah Engkau ingin makan Paskah?" Murid-murid menanyakan kepada Tuhan Yesus, sebab pada hari pertama perayaan Paskah mereka harus memulai perjamuan Paskah. Kemudian, Tuhan Yesus memilih Petrus dan Yohanes supaya mereka berdua pergi dan menyiapkan perjamuan makan Paskah di Yerusalem. Tuhan Yesus telah mengatakan supaya mereka pergi ke Yerusalem, dan saat mereka memasuki kota, mereka akan melihat seorang laki-laki membawa sebuah kendi air dan menunggu untuk bertemu dengan mereka.

Menjelang malam, Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya berkumpul di ruang atas di Yerusalem untuk merayakan Paskah. Sebagaimana dalam masa Perjanjian Lama, Paskah merupakan sebuah pesta tahunan yang dilakukan dari tahun ke tahun. Kali ini, Paskah bukan sebatas rutinitas saja, sebab kali ini murid-murid merayakan Paskah bersama Tuhan Yesus, Sang Mesias, dan sekaligus perpisahan dengan Tuhan Yesus, sebelum Dia akan diserahkan dan disalibkan. Pada saat itu juga, perjamuan Paskah dilakukan. Tidak hanya memakan santapan Paskah, Tuhan Yesus juga mengajar murid-murid untuk saling mengasihi, melayani dengan rendah hati, dan rela berkorban untuk melayani orang lain. Saat itu juga, Tuhan Yesus mengatakan bahwa Yudas akan mengkhianati-Nya dan menyerahkan Dia untuk disalibkan.

e. Pengkhianatan Yudas

Saat perjamuan Paskah masih dilakukan, Tuhan Yesus memberikan roti kepada Yudas. Peristiwa ini menyatakan dengan jelas siapa yang akan menyerahkan Dia, tetapi murid-murid tidak curiga. Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dia sudah mengetahui niat hati Yudas, sebab Tuhan Yesus adalah Allah yang Mahatahu dan mengetahui isi hati manusia (Yohanes 2:24-25). Pada saat itu pula, Tuhan Yesus memperingatkan Yudas untuk bertobat sebab pada waktu itu, Setan telah menaruhkan niat yang buruk dalam hati Yudas. Tuhan Yesus memberikan roti kepada Yudas, menyatakan bahwa Tuhan Yesus memberi hidup kepada Yudas, asalkan Yudas mau menolak tipu daya iblis.

Namun, Yudas memutuskan untuk menerima tipu daya Iblis dan pergi meninggalkan perjamuan Paskah. Usai perjamuan makan, Tuhan Yesus segera pergi ke sebuah taman yang bernama Getsemani untuk berdoa di sana. Tuhan Yesus mengajak Petrus, Yohanes, dan Yakobus untuk berjaga-jaga, sementara Ia berdoa. Pada saat yang sama, Yudas membawa pasukan dengan membawa pedang, obor, dan tali. Dengan keji, Yudas menyerahkan Tuhan Yesus dan memberikan sebuah tanda kepada musuh dengan mengatakan, "Orang yang akan kucium, tangkaplah Dia." Setelah itu, Tuhan Yesus ditangkap sebagai tawanan. Tuhan Yesus yang tidak berdosa justru menggantikan manusia yang berdosa. Pada saat Tuhan Yesus ditangkap, murid-murid melarikan diri. Bahkan, Petrus pun menyangkal Tuhan Yesus sampai tiga kali.

f. Tuhan Yesus Diadili dan Disalibkan

Setelah ditangkap, Tuhan Yesus dibawa dan diadili. Pada pengadilan yang pertama, Tuhan Yesus dibawa ke hadapan Hanas. Hanas adalah orang yang menjabat Imam Besar pada tahun itu. Oleh sebab itu, orang yang ditangkap sebagai orang yang bersalah harus dibawa ke hadapannya terlebih dahulu. Saat itu, hari masih sangat pagi, sehingga semua anggota sidang majelis belum datang, maka Tuhan Yesus diadili terlebih dahulu di hadapan Imam Besar. Menurut peraturan orang Yahudi, pengadilan hanya membuktikan tuduhan saksi, tidak menurut pengakuan orang yang dituduh.

Kemudian, Tuhan Yesus dibawa untuk diadili adalah Kayafas. Pada saat itu ada tujuh puluh orang yang berkumpul. Mereka adalah imam besar, ahli Taurat, tua-tua, penghulu imam, Hanas, dan sidang majelis. Tujuan dari pengadilan ini adalah untuk mencari saksi untuk menjatuhkan hukuman mati kepada Tuhan Yesus. Dari pengadilan ini, tidak ditemukan satu kesalahan pun dalam Diri Tuhan Yesus, sehingga mereka tidak dapat memberikan hukuman mati. Terakhir kalinya, Tuhan Yesus dibawa kepada Pontius Pilatus, seorang prokurator (wali negeri) Yudea pada waktu itu. Di hadapan Pilatus, orang-orang Yahudi mengatakan bahwa Tuhan Yesus telah berbuat jahat sehingga Tuhan Yesus harus dijatuhi hukuman yang paling berat, yaitu hukuman mati. Pilatus sendiri mengetahui bahwa Tuhan Yesus tidak berdosa, tetapi imam besar, para penghulu dan majelis yang merencanakan bagaimana membunuh Tuhan Yesus. Karena itu, pada akhir pengadilan ini, Pilatus mengatakan "Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!" (Matius 27:24).

Usai melewati serangkai pengadilan yang panjang, Tuhan Yesus disalibkan di bukit Golgota yang artinya adalah bukit Tengkorak (Lukas 23:33). Sebelum disalib, pasukan Romawi memberi Tuhan Yesus anggur yang dicampur dengan empedu, kemudian di atas salibnya dipakukan tulisan INRI (Iesus Nazarenus Rex Iudaerum) yang berarti "Yesus Orang Nazaret Raja Orang Yahudi". Ini menunjukkan tuduhan kesalahan Tuhan Yesus. Berikut ini 7 perkataan Tuhan Yesus yang terakhir sebelum Ia menyerahkan nyawa-Nya ke dalam tangan Bapa.

  1. Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. (Lukas 23:34).
  2. Sudah genap (Yohanes 19:30).
  3. Hari ini juga engkau bersama-sama Aku di Firdaus (Lukas 23:43).
  4. Ibu, Inilah Anakmu (Yohanes 19:26).
  5. Aku haus (Yohanes 19:28).
  6. Sudah genap (Yohanes 19:30).
  7. Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku (Lukas 23:46).

Dengan selesainya perkataan Tuhan Yesus di kayu salib, maka Tuhan Yesus menyerahkan nyawa-Nya ke dalam tangan Bapa. Dan, digenapilah nubuat dalam Kitab Suci bahwa Mesias yang dijanjikan akan mati bagi dosa-dosa manusia. Darah-Nya yang tercurah sebagai kurban pendamaian, dengan salib-Nya manusia diperdamaikan dengan Allah, dengan salib-Nya manusia memperoleh jalan untuk datang kepada Allah Bapa.

Doa

"Sungguh besar kasih dan pengurbanan-Mu bagiku ya Tuhan. Pengurbanan-Mu di kayu salib yang telah menyelamatkan dan menebus aku. Terima kasih Tuhan untuk karya keselamatan yang telah Tuhan Yesus kerjakan bagiku." Amin.