Paskah-Pelajaran 02

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kursus : Paskah
Nama Pelajaran : Paskah dalam Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : PAS-P02

Pelajaran 02 - PASKAH DALAM PERJANJIAN LAMA

Daftar Isi

  1. Sejarah Paskah dalam Perjanjian Lama
    1. Paskah pertama dalam Alkitab
    2. Paskah pertama di Tanah Kanaan
  2. Perayaan Paskah dalam Perjanjian Lama
  3. Kekhasan Paskah dalam Perjanjian Lama
    1. Roti Tak Beragi
    2. Sayur Pahit
    3. Kurban Persembahan
    4. Nyanyian Musa dan Mazmur Pujian

DOA

A. Sejarah Paskah dalam Perjanjian Lama

1. Paskah pertama dalam Alkitab

Paskah pertama kali disebutkan dalam kitab Keluaran 12:1-14, yaitu seekor domba atau kambing dari sekawanan ternak akan dikurbankan, direbus, dan dimakan oleh orang Israel dengan "pinggang berikat, kasut pada kaki, dan tongkat di tangan (Keluaran 12:11)" , hal ini berarti sebuah sikap yang siap melakukan perjalanan dengan segera dan siap untuk meninggalkan tanah Mesir. Sedikit dari darah hewan kurban tersebut dibubuhkan atau ditaruh pada ambang pintu dan kedua tiang rumah orang Israel sebagai tanda bagi Allah yang akan melewati rumah-rumah mereka sehingga anak sulung mereka dibiarkan tetap hidup.

Bersama dengan daging kurban, orang Israel harus makan roti yang tidak beragi dan sayur pahit. Pada saat bangsa Israel meninggalkan Mesir, mereka tetap harus membawa roti tidak beragi (Keluaran 12:34) dan ketika mencapai Sukot, mereka akan membuat kue dari roti tidak beragi yang telah mereka bawa tersebut. Rangkaian peristiwa ini diperingati pada hari raya Roti Tak Beragi, yang dituliskan dalam Keluaran 12:15-20 dan menandakan bahwa bangsa Israel sangat tergesa-gesa untuk meninggalkan Mesir. Dalam arti yang semula, Paskah berasal dari bahasa Ibrani "Pesakh" yang artinya "melewati" atau "dilewatkan". Bentuk kata kerjanya adalah "Pasakh" yang hanya terdapat dalam Keluaran 12:13, 23, dan 27. Dalam Keluaran 12:21 dan seterusnya, Musa melakukan perintah Allah yang telah diberikan kepadanya dalam ayat 1-14, ia memerintahkan orang Israel untuk "menyembelih domba Paskah" tanpa menerangkan istilah itu. Jadi, banyak ahli Biblika percaya bahwa Musa berbicara tentang sesuatu yang sudah diketahui, mungkin pesta musim semi yang biasa dilakukan oleh masyarakat penggembala. Demikian pula, hari raya Roti Tak Beragi mungkin berasal dari pesta tani musim semi. Ada bukti yang meyakinkan bahwa perayaan-perayaan ini ada sebelum zaman Musa dan peristiwa Keluaran. Meskipun demikian perayaan tersebut ditafsirkan kembali secara radikal sebagai akibat pembebasan yang dramatis dari Mesir. Apa pun artinya yang semula, sejak saat itu pesta-pesta semacam itu telah mengingatkan orang Israel tentang karya pembebasan Allah yang penuh kemurahan bagi umat-Nya.

Sejak keluarnya bangsa Israel dari Mesir sekitar tahun 1445 SM, orang Ibrani (kemudian disebut orang Yahudi) telah merayakan Paskah setiap tahun di musim semi (umumnya dekat hari Jumat Agung dan Paskah).

Setelah menjadi budak di Mesir selama lebih dari empat ratus tahun, Allah menetapkan untuk membebaskan keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub dari perbudakan. Ia membangkitkan Musa dan menugaskannya untuk memimpin keluar bangsa Israel dari tanah Mesir (Keluaran 3:1-4:31). Dalam ketaatan kepada kehendak Allah, Musa menghadapi Firaun dengan mandat Allah, "Biarkanlah umat-Ku pergi." Untuk menekankan kesungguhan amanat Tuhan ini kepada Firaun, maka Musa, dengan kuasa Allah, mendatangkan berbagai tulah atas Mesir sebagai hukuman. Ketika terjadi beberapa tulah, Firaun bersedia melepaskan umat Israel, tetapi ia menarik kembali keputusan itu setelah tulahnya hilang. Tibalah saatnya untuk tulah ke-10 dan terakhir, tulah yang mengharuskan orang Mesir membiarkan orang Israel pergi. Allah mengutus malaikat kematian ke seluruh tanah Mesir untuk membunuh "semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang" (Keluaran 12:12).

Orang Israel pada saat itu juga mendiami tanah Mesir, bagaimana mereka bisa luput dari malaikat maut ini? Tuhan memberi perintah khusus kepada umat-Nya; untuk menaati setiap firman Tuhan yang disampaikan oleh Musa, sehingga Tuhan akan melindungi setiap keluarga Ibrani dan anak sulung mereka. Setiap keluarga harus mengambil seekor anak domba jantan berumur satu tahun dan tanpa cacat untuk dibunuh pada waktu senja pada tanggal empat belas bulan Abib; keluarga yang kecil dapat berbagi seekor anak domba (Keluaran 12:4). Sebagian darah anak domba yang tersembelih itu harus dipercikkan pada kedua tiang pintu dan ambang atas rumah mereka. Ketika malaikat maut melewati daerah itu, ia akan melewati rumah-rumah yang tiang pintu dan ambang atasnya telah diperciki darah. Demikianlah oleh darah anak domba yang tersembelih orang Israel luput dari hukuman yang menimpa semua anak sulung Mesir. Allah memerintahkan tanda darah itu bukan karena Ia tidak bisa membedakan orang Israel dari orang Mesir, tetapi karena Ia ingin mengajar umat-Nya tentang pentingnya ketaatan dan penebusan dengan darah, dan dengan demikian mempersiapkan bagi "Anak Domba Allah" yang sekian abad kemudian akan menghapus dosa dunia (Yohanes 1:29).

Pada malam itu pula orang Israel sudah harus siap untuk berangkat (Keluaran 12:11). Mereka diperintahkan untuk memanggang, tidak merebus anak domba yang tersembelih, serta menyediakan sayur pahit dan roti yang tidak beragi. Ketika malam tiba, mereka sudah siap untuk memakan makanan itu dan berangkat dengan cepat ketika orang Mesir datang dan memohon mereka untuk meninggalkan negeri itu. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan apa yang dikatakan Tuhan (Keluaran 12:29-36).

2. Paskah pertama di Tanah Kanaan

Menuju tanah Kanaan, bangsa Israel yang semula dipimpin oleh Musa kemudian kepemimpinan digantikan oleh Yosua. Musa tidak diperkenankan Tuhan untuk memasuki tanah Kanaan, oleh sebab itu Tuhan menunjuk Yosua sebagai pengganti Musa dan bertugas memimpin dan membawa bangsa Israel memasuki tanah Perjanjian. Proses menaklukan tanah Kanaan tidak semudah yang dipikirkan, di tanah itu dihuni oleh beberapa suku bangsa, dari suku bangsa Amori, Hewis, Het, Yebus, Amalek, Filistin dan suku-suku bangsa yang lainnya. Ada juga manusia raksasa di sana, lagi pula penduduk Kanaan memiliki kebiasaan yang jauh berbeda dengan orang Israel, mereka menyembah Baal, melakukan pelacuran bakti dan sering kali membakar hidup-hidup anak mereka sebagai kurban persembahan kepada Molokh (dewa kesuburan orang Kanaan), semua hal ini membuat orang-orang Kanaan dianggap sebagai suatu bangsa yang paling keji pada masa lalu. Oleh sebab itu, Tuhan memerintahkan Yosua dan seluruh umat Israel untuk memusnahkan semua penduduk asli Kanaan, sebab Tuhan menginginkan umat Israel hidup kudus dan menjaga kekudusan mereka sebagai umat yang dipilih Allah.

Sesudah bangsa Israel berhasil menyeberangi sungai Yordan, Tuhan memerintahkan penyunatan secara nasional pada bangsa Israel. Upacara semacam ini telah diabaikan selama bertahun-tahun dalam masa pengembaraan dan bangsa itu tidak dianggap lagi berada dalam persekutuan dengan Allah. Pembaharuan penyunatan merupakan sejenis pengumuman resmi bahwa kedudukan Israel dengan Allah telah dipulihkan kembali. Pada peristiwa itu juga, bangsa Israel memperbarui perayaan Paskah setelah selang waktu selama 39 tahun (Bilangan 9:5). Empat hari sesudah Paskah, bangsa Israel memakan makanan dari hasil tanah negeri perjanjian, lalu manna pun berhenti. Dengan demikian, peristiwa keluarnya bangsa Israel secara resmi telah berakhir.

B. Perayaan Paskah dalam Perjanjian Lama

Menjelang persiapan perayaan hari raya Paskah, setiap keluarga akan menyembelih seekor domba atau kambing jantan yang berumur setahun dan mengoleskan darahnya pada kedua tiang pintu rumah mereka. Mereka akan memanggangnya lengkap dengan kepala dan isi perutnya. Sementara ini, anak-anak akan mencari sisa-sisa ragi roti di dalam rumah dan membuangnya. Sementara ibu akan menyalakan lilin Paskah, yang kemudian dilanjutkan dengan pemberkatan lilin dan cawan anggur pertama dan pencucian tangan.

Setelah itu, hal yang akan pertama dilakukan adalah memecahkan roti tidak beragi dan memakannya, serta kenari makanan pencuci mulut yang disembunyikan di dalam roti tak beragi, mereka biasa menyebutnya dengan "afikomen". Setelah selesai memakan afikomen, akan dilanjutkan dengan memakan salad yang dicelupkan ke dalam cuka dan air garam sebagai hidangan pembuka. Kemudian, para tamu akan memakan sayur pahit dan campuran kenari, buah-buahan, dan anggur, yang disebut dengan "haroseth". Kemudian, anak-anak terkecil dalam sebuah keluarga tersebut akan bertanya kepada ayah atau kakeknya dengan pertanyaan-pertanyaan yang dikenal dengan empat pertanyaan sebagai berikut:

Apakah yang berubah, malam ini, dibanding semua malam lain,

  1. "Pada malam lain, kita makan roti beragi atau roti tak beragi, tetapi mengapa malam ini kita hanya makan roti tak beragi?"
  2. "Pada malam lain, kita makan makanan yang dimasak, dipanggang, atau direbus, tetapi mengapa malam ini hanya masakan yang dipanggang?"
  3. "Pada malam lain, kita mencelup hanya satu kali, tetapi mengapa malam ini kita mencelup dua kali?"
  4. "Pada malam lain, kita makan sambil duduk atau bersandar, tetapi mengapa malam ini kita semua duduk bersandar?"

Setelah mendengar pertanyaan tersebut, seorang ayah atau kakek akan menceritakan kisah mengenai masa perbudakan bangsa Israel di tanah Mesir. Kisah perbudakan akan diceritakan dengan sangat kronologis, dimulai ketika Yakub dan keluarganya pergi ke Mesir saat kelaparan melanda tanah Kanaan, dilanjutkan dengan kehidupan bangsa Israel di tanah Gosyen, dan Firaun mulai menindas mereka. Firaun yang tidak mengenal siapa Yusuf, berlaku kejam kepada bangsa Israel, mereka harus bekerja keras membuat batu bata dan membangun kota perbekalan seperti Phytom dan Raamses. Bangsa Mesir semakin menindas bangsa Israel setelah itu mereka akan menceritakan siapa itu Musa, dan kesepuluh tulah, hingga akhirnya mereka bisa keluar dari Mesir setelah tulah yang kesepuluh, yaitu kematian anak sulung pada manusia dan ternak.

Usai menceritakan kisah itu, seluruh keluarga akan meminum anggur yang kedua dan mencuci tangan untuk yang kedua kalinya, serta dilakukan dengan pemberkatan dan memakan roti tak beragi, makan sayur pahit dan makanan penutupnya. Setelah semua tahap tersebut berakhir, kemudian akan dilanjutkan dengan tahap perjamuan festival dan kembali memakan afikomen. Di antara tahap minum dan makan, dinyanyikan Mazmur Pujian yang diambil dari Mazmur 113-114 pada bagian pertama dan Mazmur 115-118 pada bagian penutup sebagai Mazmur Paskah.

Hidangan terakhir adalah domba Paskah yang berumur setahun. Setelah itu, dinyanyikan mazmur-mazmur pujian dan meminum anggur keempat. Segala sisa makanan yang tersisa hingga keesokan harinya dibakar.

C. Kekhasan Paskah dalam Perjanjian Lama

1. Roti Tak Beragi

Roti tak beragi adalah lempengan bundar roti yang tipis dan tidak diberi ragi. Roti itu digunakan pada kesempatan mendadak (Kejadian 18:6; 19:3), dalam saat panen (Yosua 5:11; Rut 2:14), dalam kurban (Imamat 23:18), sebagai roti unjukkan dan digunakan selama tujuh hari pada perayaan roti tak beragi (Keluaran 12:15-20; 23:15; Ulangan 16:1-8). Di dalam Keluaran 23:15 hari raya Roti tak beragi adalah hari raya pertama dari ketiga perayaan utama, yang mewajibkan setiap orang Israel menampakkan diri di depan Allah. Roti yang dipakai dalam ibadat harus tanpa ragi, sebab orang memandang ragi sebagai gejala kebusukan. Oleh karena itu di dalam arti kiasan ragi berarti: pengaruh yang buruk (Matius 16:6,12) atau keburukan dari kepercayaan kafir (1Korintus 5:7-8).

2. Sayur Pahit

Sayur pahit dituliskan dalam Misnah (Pesahim 2:6) bahwa sayur pahit terdiri dari slada, andewi, tanaman yang akarnya dibakar sebagai pengganti kopi, tanaman yang dipercaya bahwa akarnya bisa menyembuhkan gigitan ular, sebuah tanaman yang bernama Latin mentha piperita, dan sejenis rumput berbunga kuning sebagai dapat diterima untuk sayur pahit. Semua ini dimaksudkan untuk "mengingat kembali segala kepahitan hidup yang dialami Israel ketika berada di Mesir, dan kepahitan sayur ini akan dikalahkan oleh kelezatan dari daging panggang anak domba itu". Jenis sayur-sayuran seperti andewi, selada liar, atau jelantang menjadi bahan makanan yang penting bagi bangsa Mesir kuno, tampaknya bahan-bahan tersebut menjadi sayur pahit pada saat perayaan Paskah, dan lebih khusus lagi sebab bahan-bahan ini masih dinikmati oleh bangsa Yahudi di daerah Timur sekarang ini.

3. Kurban Persembahan

Kurban persembahan Paskah harus seekor domba atau kambing jantan yang berumur satu tahun, sehingga biasa juga disebut dengan anak domba Paskah. Namun, mempersembahkan anak domba pada waktu itu apakah dianggap lazim? Dalam Ulangan 16:2 mengenai pemilihan hewan sembelih telah ditulis dengan lebih rinci dan mendalam, sedangkan beberapa ahli teologi menyatakan bahwa hewan kurban dalam Keluaran 12:3-5 hanya sebatas penafsiran saja. Kata yang tertulis dalam bahasa Ibrani di ayat 3 "Seh" yang berarti adalah anak domba, sedangkan ayat 5 menggunakan kata "Ben-syana" yang secara harafiah berarti "anak berumur setahun". Maka, untuk menjelaskan dengan domba Paskah ini, Talmud memberikan pernyataan bahwa domba Paskah harus berumur satu tahun, dan haruslah domba atau kambing jantan. Domba Paskah harus dipersiapkan satu tahun sebelum Paskah, selang delapan hari setelah kelahiran seorang domba, pemilik binatang tersebut akan memilih dan menentukan, domba atau kambing manakah yang akan digunakan sebagai kurban persembahan Paskah.

Domba Paskah akan disembelih dan dipanggang beserta dengan kepala dan isi perutnya, namun semua tulang-tulangnya tidak ada yang dipatahkan, hal ini sesuai dengan hukum Taurat dan peraturan Paskah yang tertulis dalam "Haggada". Sebelum Bait Allah dibangun, kurban dan disembelih di rumah dan akan dimakan bersama-sama, namun setelah Bait Allah dibangun, kurban-kurban persembahan akan di bawa ke Yerusalem dan darah anak domba akan dicurahkan di mezbah persembahan oleh para imam.

4. Nyanyian Musa dan Mazmur Pujian

Paskah orang Israel telah disusun berdasarkan tahapan-tahapan yang sudah ditentukan dengan sedemikian rupa. Perjamuan Paskah akan selalu dilakukan pada malam hari. Di sela-sela tahapan minum anggur dan makan, akan diisi dengan menyanyikan pujian. Pertama-tama, mereka akan menyanyikan nyanyian Musa yang tertulis dalam Kitab Kejadian, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan mazmur-mazmur pujian yang biasa disebut dengan "Hallel", yang diambil dari Mazmur 113-114. Menurut John Drane, "Hallel" adalah mazmur-mazmur yang khas dan dipujikan pada saat perayaan dan ibadah untuk memuji dan mengagungkan Allah Israel.

DOA

"Sungguh besar Engkau, Ya Tuhan. Engkau melakukan segala sesuatu yang dahsyat dan ajaib. Engkau membuatku mengenal rancangan-Mu yang agung, benar dan mulia. Aku bersyukur dapat memahami Paskah dan bersyukur sebab Tuhan menjadikan umat pemenang." Amin