Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading
Apologetika untuk awam

Saat mendengar kata apologetika, persepsi yang muncul di pikiran saya adalah “debat”. Saya juga tidak tahu mengapa kata itu yang pertama kali terpikir. Mungkin karena selama ini, saya mengkaitkan apologetika dengan acara debat terbuka. Atau mungkin saat mendengar kata apologetika, saya teringat akan beberapa artikel yang pernah saya baca. Artikel-artikel tersebut berisi tentang iman Kristen yang dijelaskan secara keras dan menyerang kepercayaan lain.

Karena pengalaman itulah, saya punya persepsi negatif tentang apologetika. Menurut saya selama ini, apologetika berarti menang sendiri dan benar sendiri. Saya yang benar, yang lain salah. Saya yang lurus, yang lain sesat. Begitulah persepsi saya tentang apologetika.

Syukurlah persepsi itu tidak bertahan lama di pikiran saya. Pembelajaran tentang apologetika yang saya dapat di kelas virtual PESTA memberikan saya pemahaman dan pengertian yang baru. Apologetika dibahas dari berbagai hal yang terkait, mulai dari panggilan apologetika, sikap berapologetika, mitos netralitas, kedudukan rasio dan iman, dan lain sebagainya. Pembahasan yang beragam memberi saya wawasan baru tentang apologetika.

Dari semua hal yang dibahas dalam kelas virtual ini, yang paling penting bagi saya adalah pemahaman bahwa apologetika harus dimotivasi oleh satu hal yang terutama, yaitu kasih. Tanpa kasih, apologetika akan menjadi debat kusir. Tanpa kasih, apologetika -yang sejatinya adalah pertanggungjawaban iman- akan menjadi pengejawantahan sifat arogan. Bukan arogansi yang seharusnya menjadi motivasi apologetika, karena apologetika yang benar adalah apologetika yang diawali dengan pengkudusan Kristus di dalam diri (1Pet3:15). Dengan adanya hati yang dikuasai oleh Kristus, maka tertanggungjawaban iman bisa dilakukan dengan lemah lembut dan hormat.

Semoga saya dimampukan untuk mempertanggungjawabkan iman pada setiap waktu, dengan lemah lembut dan penuh hormat.