"Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan." Maka hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali. Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut bea Bait Allah kepada Petrus dan berkata: "Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?" Jawabnya: "Memang membayar." Dan ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan: "Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?" Jawab Petrus: "Dari orang asing!" Maka kata Yesus kepadanya: "Jadi bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga." (Mat 17:22-27)
· Hidup sebagai warganegara memang terikat oleh aneka tata tertib dan aturan serta harus melaksanakan-nya sebaik dan seoptimal mungkin. Salah satu tata tertib atau aturan yang secara umum berlaku di seluruh dunia adalah 'kewajiban membayar pajak'. Salah satu yang menjadi dukungan kemajuan dan perkembangan hidup warganegara adalah ketertiban dan kedisiplinan pembayaran dan pengelolaan pajak. Mayoritas pemasukan anggaran pendapatan suatu Negara berasal dari pembayaran pajak, dan jumlah dana pajak yang masuk difungsikan untuk aneka pelayanan bagi warganegara. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan bahwa Yesus bersama para rasul setia membayar pajak agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Maka kami berharap kepada segenap umat beriman atau beragama untuk setia membayar pajak, dan tentu saja para pengurus dan pengelola pajak juga melaksanakan tugas dan fungsinya sebaik dan sejujur mungkin, tidak melakukan korupsi sedikitpun. Maklum jika dicermati para pengurus dan pengelola pajak di negeri kita tercinta ini tidak jujur dan dampaknya para wajib pajak pun juga mangkir untuk membayar pajak atau kong-kalingkong dengan petugas pajak. Kami berharap kepada mereka yang berpengaruh dalam hidup bersama dapat menjadi teladan dalam kewajiban membayar pajak, dan para petugas, pegawai dan pengurus jujur dalam menjalankan tugasnya. Ingatlah dan sadari bahwa tindakan korupsi para petugas dan pengelola pajak telah menjadi batu sandungan banyak warganegara untuk membayar pajak seenaknya. Para pegawai negeri atau pemerintahan kami harapkan juga dapat menjadi teladan dalam hal kejujuran, karana imbal jasa atau gaji bagi anda sekalian berasal dari rakyat, dan hendaknya sungguh berusaha untuk melayani dan mensejahterakan rakyat. Pajak berasal dari rakyat dan harus kembali kepada rakyat dalam aneka bentuk pelayanan bagi rakyat.
(Ign Sumarya SJ)
Shalowm, semoga bermanfaat.
~Oktavianus~




sabda.org
Tulisan yang menarik Pak
Tulisan yang menarik Pak Oktav. Karena masalah ini menjadi salah satu perbincangan yang hangat di negara kita. Semakin menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap aparatur negara karena berbagai skandal kasus korupsi yang tidak pernah terselesaikan dan semakin menjamur di negeri ini. Pertanyaannya jika mereka yang mengelola sudah tidak memiliki hati, bagaimana mereka meyakinkan rakyatnya untuk memiliki hati? Sangat beruntung kita memiliki Alkitab yang mengajarkan berbagai prinsip kekristenan yang dapat kita jadikan pedoman hidup kita.