Membaca email bebas mengenai laron.
Laron bersarang di dalam tanah dengan akses keluar masuknya melalui lubang / pori-pori tanah, pada saat hujan air akan masuk ke dalam tanah dan laron akan menghindari air demi kelangsungan hidupnya. Di siang hari laron bisa menghindar dengan bantuan sinar matahari terang benderang namun di malam hari laron tidak dapat melihat apa-apa kecuali cahaya terang dari lampu baik yang ada di jalanan bahkan di rumah-rumah.
Biasanya dengan keluarnya laron dari sarang adalah suatu pertanda air sungai akan naik dari biasanya, seperti banjir
Laron sangat membutuhkan cahaya atau terang.
Laron biasanya muncul pada malam hari ketika dekat dekat pergantian musim. Mereka menyerbu tempat - tempat yang terang di rumah kita seperti Lampu Listrik. dan tentunya sangat mengganggu jika jumlahnya terlalu banyak.
Biasanya... untuk menghindarinya, kita akan mematikan lampu, sehingga Laron tersebut akan meninggalkan daerah yg gelap tersebut, tapi tentunya akan datang lagi kalau lampunya dinyalakan..
Teringat Firman Tuhan:
Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. (Mat. 5:15; Markus 4:21; Luk 11:33)
Allah, menghendaki anak-anak-Nya untuk menjadi "terang" dan "menerangi" bukan malah menjadi "laron" yang mencari terang.
Sering tanpa kita sadari, kita berprilaku seperti laron. Kita lebih terkesan pada 'sesuatu' entah itu tokoh, bait Allah, pendeta, yang bersinar-sinar, cemerlang, terkenal. Kita akan bangga mengenal mereka ataupun menjadi anggota mereka.
Hal ini tidaklah salah, tetapi tidak juga benar. Berada di dalam lingkungan yang bersih akan memicu diri kita untuk bersih pula. Demikian juga jika berada di dalam lingkungan yang baik, sedikit banyak pasti berpengaruh juga. Tetapi harus diingat, bahwa kita diutus untuk menjadi terang. Bukan menempel pada terang.
Terang yang sesungguhnya sudah diberikan kepada kita masing-masing. (Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Yoh.1:9) Terang yang ada di dunia ini, baik itu tokoh agama, pendeta, bait Allah, tidak bersifat kekal, sementara. Jikalau kita mencari Allah dengan cara memandang 'terang' orang lain, ada kemungkinan kita akan kecewa nantinya.
Firman menegaskan bahwa kita ini adalah anak-anak terang (Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang. Yoh. 12:36) Kita tidak membutuhkan terang lagi. Kita bisa berdiri dimanapun juga. Malahan kita diharuskan untuk menjadi terang bagi sekeliling kita. Kita dtuntut untuk menjadi terangnya yang bersumber pada-Nya, terang yang abadi. Bukan menjadi laron.
Seperti kelahiran-Nya sudah ditentukan Allah untuk merubah segala-galanya. Supaya manusia bisa mendapatkan Terang Allah secara pribadi.
Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.
Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.
Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; (Yohanes 1: 4,5,9-12)
Salam Natal...
naomi