Menerima Didikan Tuhan

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

"... Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya." (Ibrani 12:5)

Ibrani 12:5-6

Tidak semua didikan memurnikan para penerimanya. Sebagian malah semakin mengeraskan hatinya, sebagian lainnya justru mengalami kehancuran karenanya. Kebanyakan tergantung pada roh yang menerima didikan itu. Ujian dan kesulitan itu sendiri, pada hakikatnya tidak bersifat bajik. Hanya jika Allah memberkati ujian dan kesulitan itu, barulah umat Kristen dapat memetik manfaatnya. Seperti yang dikatakan dalam Ibrani 12:11, mereka yang mengeluarkan "buah kebenaran yang memberikan damai" adalah mereka yang "dilatih dengan cambuk Allah". Hati nurani yang peka dan lembut merupakan pelengkap yang dibutuhkan.

Dalam ayat utama kita di atas, orang Kristen diperingatkan tentang dua bahaya yang berbeda: jangan anggap enteng dan jangan putus asa. Inilah kedua perbedaan tajam yang harus diwaspadai. Seperti halnya setiap kebenaran dalam Alkitab mempunyai bagian-bagian yang saling menyeimbangkan, demikian pula setiap hal yang jahat memiliki bagian-bagian kelamnya? Di satu sisi, ada roh yang congkak, yang menertawakan didikan Allah, suatu kemauan yang keras kepala, yang tidak mau rendah hati. Di sisi lain, ada jiwa yang putus asa yang benar-benar hancur di bawah cambuk-Nya dan menyerah pada kekecewaan. Spurgeon berkata, "Jalan kebenaran merupakan sebuah jalan kecil yang sulit, yang terletak di antara gunung kesalahan. Dan, rahasia utama kehidupan kristiani adalah berusaha untuk dapat melewatinya dengan jalan memutar melewati lembah yang sempit tersebut."

1. Menganggap enteng didikan Tuhan.

Ada sejumlah cara yang dapat dilakukan orang Kristen untuk bersikap "menganggap enteng" didikan Allah; empat cara di antaranya adalah:

a. Dengan mengeraskan hati. Menganut sikap stoik (pengekangan nafsu sekaligus perasaan -- Red.) merupakan hikmat duniawi, yakni melakukan yang terbaik dari suatu pekerjaan yang buruk. Manusia di dunia ini tidak memiliki rencana yang lebih baik, selain menahan diri dan menantang masalah yang malah mengacaukan segalanya. Karena tidak memiliki Penghibur, Penasihat, ataupun Tabib Ilahi, ia pasti jatuh kembali pada kekuatannya sendiri yang sangat rapuh (tabiat lamanya yang buruk). Sungguh kesedihan yang tidak terekspresikan bila kita melihat seorang anak Allah berperilaku sama seperti anak Iblis. Bagi seorang Kristen, menolak penderitaan berarti "menganggap enteng" didikan. Bukannya mengeraskan diri bertahan dengan tanpa perasaan, ia seharusnya mengalami pelembutan hati.

b. Dengan mengeluh. Inilah yang dilakukan oleh bangsa Ibrani di padang gurun, dan masih ada banyak lagi penggerutu di perkemahan bangsa Israel. Sakit sedikit saja sudah membuat kita marah-marah sehingga teman-teman kita takut berada di dekat kita. Beberapa hari harus berbaring di tempat tidur sudah membuat kita menggerutu dan marah ibarat seekor sapi yang belum terbiasa memakai kuk. Dengan jengkel, kita bertanya, "Mengapa penderitaan seperti ini yang saya alami? Kesalahan apa yang telah saya perbuat sehingga saya pantas mendapat penderitaan ini?" Kita memandang sekeliling kita dengan tatapan mata penuh rasa iri dan tidak puas karena beban yang dipikul orang lain tampak lebih ringan. Berhati-hatilah, para pembaca sekalian: kesulitan akan menimpa para penggerutu. Allah akan mengganjar dua kali lipat bila kita tidak merendahkan hati pada didikan-Nya yang pertama. Senantiasa ingatkan diri Anda tentang betapa banyak kotoran yang masih menempel pada emas. Lihatlah keburukan hati Anda, dan takjublah bila Allah belum mengganjar Anda dua kali lebih berat. "Hai anakku, jangan anggap enteng didikan Tuhan."

c. Dengan mengkritik. Betapa sering kita mempertanyakan manfaat didikan. Sebagai orang Kristen, tampaknya pemahaman rohani kita tidak lebih baik dibandingkan dengan hikmat yang secara alamiah kita miliki sebagai anak-anak. Sebagai anak-anak, kita berpikir bahwa cambuk tidak diperlukan di rumah. Demikian pula anak-anak Allah. Ketika segalanya berjalan sesuai dengan harapan kita atau ketika kita dilimpahi berkat yang tidak terduga, tidak sulit bagi kita untuk menganggap semuanya itu berasal dari Sang Pemelihara yang mahabaik. Namun, tatkala rencana kita gagal atau kita mengalami banyak kerugian, maka tanggapan kita pun akan sangat berbeda. Akan tetapi, bukankah ada tertulis, "(Akulah) yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini" (Yesaya 45:7)?

Didikan Tuhan

Betapa sering kita mengeluhkan apa yang kita peroleh, "Mengapakah engkau membentuk aku demikian?" (Roma 9:20). Kita berkata, "Aku tidak melihat manfaat dari hal ini untuk jiwaku. Jika kesehatanku lebih baik, aku dapat lebih sering datang ke rumah doa! Jika aku dihindarkan dari kerugian dalam bisnisku, aku dapat memberi lebih banyak sumbangan untuk pekerjaan Tuhan! Manfaat apa yang dapat saya petik dari bencana ini?" Seperti halnya Yakub, kita pun berseru, "Aku inilah yang menanggung segala-galanya itu!" (Kejadian 42:36). Apakah artinya perkataan seperti itu selain hanya "menganggap enteng" cambuk Allah? Dapatkah kebodohan kita menantang hikmat Allah? Dapatkah pandangan kita yang dangkal menyalahkan kemahatahuan Allah?

d. Dengan kecerobohan. Begitu banyak orang gagal memperbaiki jalan mereka. Peringatan dalam ayat utama pasal ini sangat dibutuhkan oleh kita sekalian. Banyak orang yang telah "menganggap enteng" didikan-Nya sehingga tidak mendapat manfaat darinya. Banyak orang Kristen yang telah dikoreksi Allah, tetapi sia-sia belaka. Penyakit, kemalangan, rasa kehilangan berdatangan, tetapi itu semua belum dimurnikan dengan tindakan menguji diri sendiri dalam doa.

Saudara-saudara, perhatikan, jika Allah sedang mendidik Anda, "perhatikanlah keadaanmu!" (Hagai 1:5), "tempuhlah jalan yang rata" (Amsal 4:26). Yakinlah, pasti ada alasan di balik didikan itu. Banyak orang Kristen yang tidak akan dihajar dua kali lebih berat bila mereka dengan tekun menyelidiki penyebab hajaran itu.

2. Putus asa karena didikan itu.

Setelah diperingatkan agar tidak "menganggap enteng" didikan Tuhan, kini kita diingatkan untuk tidak menyerah pada kekecewaan karena didikan itu. Setidaknya, ada tiga hal yang menyebabkan orang Kristen "putus asa" akibat didikan Tuhan:

Kelulusan kelas DIK

a. Ketika ia sudah kehabisan tenaga. Hal ini terjadi ketika kita larut dalam kesedihan yang mendalam. Orang yang telah dipukul cambuk berkesimpulan bahwa penderitaan ini telah melampaui kekuatannya. Hatinya mengalahkannya: kegelapan menelannya, matahari pengharapan telah terbenam, dan suara syukur telah membisu. "Putus asa" berarti menuduh diri sendiri tidak cakap dalam melaksanakan tugas. Ketika seseorang sedang putus asa, ia cenderung tidak bertindak apa-apa. Betapa banyak orang Kristen yang siap untuk menyerah kalah saat kesengsaraan melanda hidup mereka. Betapa banyak yang menjadi tidak aktif dalam kekristenannya tatkala dirinya mengalami kesulitan. Betapa banyak yang berkata melalui perbuatan mereka, "Tangan Allah sungguh berat menekanku. Aku tidak mampu berkutik." Oh saudaraku terkasih, "Jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan" (1 Tesalonika 4:13); "Janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya." Datanglah kepada Tuhan, sadarilah tangan-Nya yang memegang cambuk itu. Ingatlah, penderitaan Anda berada di tengah "segala sesuatu" yang bekerja sama untuk mendatangkan kebaikan bagi Anda.

b. Ketika ia mempertanyakan keberadaannya sebagai anak Allah. Tidak sedikit orang Kristen yang ketika menerima didikan keras Allah, menyimpulkan bahwa sebenarnya mereka bukan anak-anak Allah. Mereka lupa bahwa ada tertulis, "Kemalangan orang benar banyak" (Mazmur 34:20), dan bahwa "untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus melewati banyak kesengsaraan" (Kisah Para Rasul 14:22). Seseorang pernah berkata, "Seandainya saya anak-Nya, saya seharusnya tidak berada dalam kemiskinan, kesengsaraan, dan penderitaan seperti ini." Perhatikan Ibrani 12:8, "Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang." Maka dari itu, belajarlah untuk memandang berbagai-bagai ujian sebagai bukti kasih Allah. Dia menyucikan Anda dari dosa, memangkas hal-hal yang buruk, dan memurnikan Anda. Seorang bapa dalam suatu keluarga tidak akan mencemaskan hal-hal di luar rumah tangganya. Mereka yang merupakan anggota keluarganyalah yang ia lindungi dan pimpin, pelihara dan atur sesuai kehendaknya. Demikian juga halnya dengan Allah.

c. Ketika ia kehilangan harapan. Sebagian orang membayangkan bahwa mereka tidak akan pernah bisa keluar dari kesulitan yang dihadapinya. Seseorang pernah berkata, "Saya sudah berulang kali berdoa, tetapi awan itu tidak kunjung diangkat." Hiburlah diri Anda dengan refleksi ini: hanya melalui kegelapan malam yang paling kelam, fajar pagi datang [masa-masa yang paling kelam senantiasa mendahului masa-masa yang indah]. Oleh karenanya, "Jangan putus asa" apabila Anda diperingatkan-Nya. Namun, ada juga orang lain yang berkata, "Saya telah memohon janji-Nya, tetapi segalanya tidak menjadi lebih baik. Saya berpikir Dia melepaskan mereka yang berseru kepada-Nya dari segala kesulitan; saya telah berseru kepada-Nya, tetapi Dia belum menjawab, dan saya takut Dia tidak akan pernah mau menjawabnya." Anak Allah macam apa itu, membicarakan tentang Bapa-Nya dengan sedemikian buruk! Anda mengatakan bahwa Dia takkan mau berhenti menghajar hanya karena Ia telah menghajar begitu lama? Saharusnya, Anda mengatakan bahwa Dia telah menghajar saya sedemikian lama, pasti sebentar lagi saya segera dibebaskan dari derita ini. Jangan anggap enteng, jangan putus asa. Kiranya kasih karunia Allah melindungi Anda dan saya dari pandangan ekstrem yang penuh dosa itu.

Audio Menerima Didikan Tuhan

Diambil dari:
Judul buku : Penghiburan Bagi Orang Percaya
Judul asli artikel : Menerima Didikan Tuhan
Penulis artikel : Arthur W. Pink
Penerbit : Momentum, Surabaya: 2012
Halaman : 65 -- 71
Kategori: 

Komentar