MDD - Referensi 06b

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kursus : Manusia Dan Dosa
Nama Pelajaran : Jaminan Keselamatan
Kode Pelajaran : MDD-R06b

Referensi MDD-R06b diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Teologi Sistematika (Doktrin Keselamatan)
Judul artikel : Pertobatan
Penulis : Louis Berkhof
Penerbit : LRII, Jakarta 1997
Halaman : 149 - 158

Referensi Pelajaran 6b - Pertobatan

Pertobatan

Dari pembicaraan dalam bab terdahulu, sekarang kita beralih membicarakan pertobatan. Melalui satu tindakan khusus dari Roh Kudus, kelahiran kembali dan panggilan yang efektif kemudian membawa seseorang kepada pertobatan. Pertobatan mungkin menjadi sebuah krisis yang jelas terlihat dalam hidup seseorang, tetapi mungkin juga muncul dalam sebuah proses yang berlangsung perlahan-lahan. Dalam psikologi agama pada umumnya keduanya dianggap sama. Semua ini menunjukkan hubungan yang dekat di antara keduanya.

  1. A. Istilah Alkitab untuk Pertobatan
    1. Istilah dalam Perjanjian Lama. Perjanjian Lama terutama memakai dua istilah untuk pertobatan, yaitu:
      1. Nacham, yang mengandung arti adanya perasaan yang dalam, baik perasaan menderita (bentuk niphal) atau perasaan terlepas (bentuk piel). Dalam bentuk niphal kata itu berarti menyesal,' penyesalan ini sering disertai juga dengan adanya perubahan dalam rencana dan tindakan, sedangkan dalam bentuk piel. itu menunjukkan arti menghibur atau menghibur diri sendiri Sebagai kata yang menunjuk arti penyesalan - dan inilah yang kita bicarakan di sini - kata ini dipakai bukan saja manusia, tetapi juga Tuhan, Kej. 6:6,7; Kel. 32:14; Hak. 2; 1 Sam. 15:11

      2. Shubh, yang merupakan kata yang paling umum untuk pertobatan berarti berbalik, berbalik kembali, atau kembali. ini sering dipakai dalam pengertian harfiah baik oleh Tuhan maupun oleh manusia, tetapi kata itu kemudian mendapat satu arti penting yang bersifat religius atau etis. Arti ini paling jelas dalam perkataan para nabi, yang menunjukkan bagaimana Israel berbalik kepada Tuhan, setelah Israel meninggalkan Dia. Kata itu dengan jelas menunjukkan bahwa apa yang disebutkan oleh Perjanjian Lama sebagai pertobatan adalah kembali, kepada Dia dari dosa yang telah memisahkan manusia dengan Tuhan. Elemen ini sangat penting dalam pertobatan. Dengan kita melihat makna ini di dalam perkataan si anak yang hilang "Aku akan kembali dan pergi kepada bapaku" (Luk. 15:11-32)

    2. Kata yang dipakai dalam Perjanjian Baru. Terutama ada tiga kata yang perlu kita bicarakan di sini:
      1. Metanoia (bentuk kata kerjanya adalah metanoeo). Kata paling umum dipakai untuk menunjukkan pertobatan di dalam Perjanjian Baru, dan juga merupakan istilah yang paling mendasar untuk dipakai. Kata itu berasal dari dua kata yaitu "meta" dan "nous" yang kemudian lagi dikaitkan dengan kata kerja "ginosko"(dalam bahasa Latin "noscere", dalam bahasa Inggris to know), dan semua kata itu menunjukkan kesadaran dalam hidup manusia. Dalam bahasa Inggris kata itu diterjemahkan "repentance", tetapi sebenarnya penerjemahan ini kurang memperhatikan bentuk aslinya, sebab memberikan elemen yang justru tidak sesuai dengan elemen emosional. Trench mengemukakan bahwa dalam bahasa Yunani klasik kata itu berarti: (1) mengetahui sesudahnya; pengetahuan yang diperoleh kemudian; (2) berubah pikiran sebagai hasil dari pengetahuan yang diperoleh itu; (3) dalam kaitan dengan perubahan dalam pikiran ini, berarti menyesali jalan yang semula diambil; dan (4) suatu tingkah laku untuk masa depan, yang terpancar dari apa yang sudah mendahului. Kata ini dapat juga menunjukkan adanya perubahan ke arah yang buruk sama halnya adanya kemungkinan berubah ke arah yang baik, dan tidak hares mencakup adanya "resipiscentia" - kembali menjadi bijaksana. Akan tetapi, dalam Perjanjian Baru artinya kemudian menjadi lebih dalam lagi, dan pertama-tama kata itu menunjukkan suatu perubahan dalam pikiran, yang melihat masa lalu dengan lebih bijaksana termasuk juga menyesali segala kekeliruan yang dilakukan kemudian, dan kemudian mengubah hidup menuju ke arah yang lebih baik. Di sini kita menjumpai elemen dari "rescipicentia" itu. Walden dalam bukunya yang berjudul The Great Meaning of Metanoia menyimpulkan bahwa kata itu mengandung arti "suatu perubahan secara menyeluruh dalam pikiran, yang dalam kepenuhannya menjadi suatu kelahiran kembali secara intelektual dan moral". Pada saat kita berpegang bahwa kata itu Pertama sekali menunjukkan arti suatu perubahan dalam pikiran, kita juga tidak boleh kehilangan pandangan pada kenyataan bahwa arti katanya tidak terbatas pada kesadaran intelektual dan teoretis belaka, tetapi juga mencakup kesadaran moral dan juga hati nurani. Baik pikiran dan hati nurani telah mengalami kenajisan, Tit. 1:15, dan ketika nous dari seseorang telah diubah, ia bukan saja menerima pengetahuan, tetapi juga mendapatkan arah yang jelas dari kehidupannya yang ia sadari, dan kualitas-kualitas moralnya juga diubahkan. Untuk lebih khusus, perubahan yang ditunjukkan dalam hidupnya itu mempunyai arah yang jelas, yaitu (1) pada kehidupan intelektual, 2 Tim. 2:25, kepada pengetahuan yang lebih baik tentang Allah dan kebenaran-Nya, dan penerimaan keselamatan daripadanya (sama dengan tindakan iman); (2) hidup dengan kekuatan kesadaran, sejauh perubahan ini disertai dengan dukacita Ilahi, 2 Kor. 7:10, dan membuka ladang yang baru bagi sukacita bagi orang berdosa. Dalam,semua kaitan ini metanoia mencakup suatu permusuhan yang benar-benar disadari dengan hidup di masa sebelumnya. Elemen ini sangat penting dalam pertobatan, dan dengan demikian harus sungguh-sungguh diperhatikan. Dipertobatkan bukan sekedar beralih dari satu arah yang disadari menuju ke arah lain, tetapi melakukan hal itu dengan satu sikap yang jelas membenci arah yang semula. Dengan kata lain, metanoia bukan saja memiliki sisi positif tetapi juga memiliki sisi negatif; metanoia melihat ke belakang dan juga ke depan. Orang yang bertobat menyadari segala ketidakacuhannya serta kesalahannya, kemauan dan kegagalannya. Pertobatannya mencakup iman dan penyesalan akan dosa. Ada satu hal yang menyedihkan, yaitu gereja perlahan-lahan kehilangan pandangan dari arti semula dari kata metanoia. Teologi Latin Lactantius menganggapnya sebagai "rescipicentia", menjadi bijak kembali, seolah-olah kata itu diturunkan dari kata "meta" dan "anoia" dan keduanya menunjukkan perubahan dari kebodohan atau kekeliruan. Akan tetapi, sebagian besar para penulis Latin lebih suka menganggapnya sebagai "poenitentia", satu kata yang menunjukkann kesedihan dan penyesalan yang mengikuti ketika seseorang telah melakukan kesalahan atau telah melakukan suatu kekeliruan dari bentuk apapun juga. Kata ini kemudian dipakai dalam Vulgate sebagai yang menunjukkan anti metanoia, dan di bawah pengaruh vulgate para penerjemah bahasa Inggris menganggap kata-kata bahasa Yunani itu sebagai "repentance", yang menekankan elemen emosional dan menjadikan metanoia setara dengan kata "metameleia". Dalam beberapa hal kekeliruan ini menjadi lebih parah. Gereja Roma Katolik mengeluarkan pengertian tentang penyesalan akan dosa dalam sakramen mereka sehingga metanoiete dari Perjanjian Baru bahasa Yunani (Mat. 3:2) menjadi "poenitentiam agite" dalam versi bahasa Latinnya.

      2. Epistrophe (bentuk kata kerjanya epistrepho). Kata ini memiliki arti penting nomor dua setelah metanoia. Sekalipun dalam Septuaginta metanoia adalah salah satu kata yang dipakai untuk menerjemahkan "nacham". Kata "epistrophe" dan "epistrepho" menerjemahkan kata bahasa Ibrani "teshubhah" dan "shubh". Kata-kata itu terus dipakai dalam pengertian berbalik lagi, atau berbalik kembali. Kata-kata Yunani itu harus dipahami dari pengertian kata Ibraninya, supaya dapat menunjukkan titik penting bahwa perubahan itu pada kenyataan merupakan sesuatu yang berbalik kembali. Dalam Perjanjian Baru kata benda "epistrophe" hanya dipakai satu kali saja, yaitu dalam Kis. 15:3, tetapi kata kerjanya muncul berulang kali. Kata itu kadang-kadang mempunyai arti yang sedikit lebih luas dari "metanoeo", dan sesungguhnya menunjukkan langkah terakhir dalam pertobatan. Kata itu bukan sekedar menunjukkan arti suatu perubahan dalam nous atau pikiran seseorang, tetapi menekankan kenyataan bahwa suatu hubungan yang baru sudah ditetapkan, dan bahwa kehidupan yang aktif ditujukan ke arah yang lain. Hal ini harus senantiasa diingat dalam menafsirkan Kis. 3:19, di mana kedua kata itu dipakai secara berdampingan. Kadang-kadang metanoeo mengandung pengertian mengakui dosa-dosa saja, sedangkan epistrepho selalu mencakup elemen iman. Metanoeo dan "pisteuein" dapat dipakai berdampingan satu sama lain; tetapi "epistrepho" dan "pisteuein" tidak demikian.

      3. "Metameleia" (bentuk kata kerjanya metamelomas). Hanya bentuk kata kerjanya saja yang dipakai dalam Perjanjian Baru, dan secara harfiah berarti menjadikan perhatian kepada seseorang sesudahnya. Kata ini merupakan salah satu kata yang juga dipakai untuk menerjemahkan kata bahasa Ibrani nicham dalam Septuaginta. Dalam Perjanjian Baru kata ini hanya dijumpai lima kali, yaitu dalam Mat. 21:29,32; 27:3; 2 Kor. 7:10; Ibr. 7:21. Terlihat dari ayat-ayat itu bahwa kata itu menekankan elemen penyesalan akan dosa, walaupun tidak selalu menunjukkan penyesalan akan dosa yang sesungguhnya. Dalam kata itu elemen negatif, retrospektif dan emosional menjadi elemen yang paling diutamakan, sedangkan metanoeo juga mencakup elemen kekuatan dan menunjukkan perubahan yang energetik dari kehendak seseorang. Walaupun metanoeo kadang-kadang dipakai dalam bentuk imperatif, tetapi tidak selalu menjadi kasus bagi "metamelomai". Perasaan tidak pernah memperkenankan dirinya sendiri untuk diperintah. Kata ini lebih sesuai dari kata bahasa Latin "peonitentia" daripada kata "metanoeo".

  2. Pengertian Alkitab tentang Pertobatan

    Doktrin tentang pertobatan tentu saja, seperti halnya doktrin-doktrin yang lain, berdasarkan pada Alkitab dan harus diterima sebagai dasar. Karena pertobatan adalah suatu pengalaman yang disadari dalam hidup banyak orang, kesaksian akan pengalaman itu dapat ditambahkan pada Firman Tuhan, akan tetapi kesaksian ini betapa pun berharganya, sama sekali tidak menambahkan kepastian pada doktrin yang diajarkan dalam kitab. Kita boleh bersyukur bahwa pada tahun-tahun belakangan ini Psikologi Agama sangat memperhatikan kenyataan pertobatan, tetapi kita juga harus senantiasa ingat bahwa kendatipun psikologi agama itu membawa fakta-fakta yang menarik tentang pertobatan, mereka sama sekali tidak menjelaskan tentang fakta dari pertobatan itu sebagai suatu fenomena religius. Doktrin Alkitab tentang pertobatan didasarkan bukan hanya pada ayat-ayat yang mengandung satu atau dua istilah yang disebutkan di muka, tetapi banyak yang lain lagi d imana fenomena pertobatan dijabarkan atau dipaparkan secara tepat dalam contoh-contoh yang hidup. Alkitab tidak selalu berbicara tentang pertobatan dalam pengertian yang selalu sama. Kita membedakan beberapa hal ini:

    1. Pertobatan secara nasional.

      Pada zaman Musa, Yosua, dan juga para hakim, bangsa Israel berulang kali berubah setia ada Tuhan dan setelah mereka mengalami murka Tuhan, mereka menyesali dosa-dosa mereka dan berbalik kepada Tuhan ada satu pertobatan secara nasional di kerajaan Yehuda pada zaman Hizkia dan sekali lagi pada zaman Yosia. Setelah mendengar khotbah Yunus, orang-orang Niniwe menyesali dosa mereka dan diselamatkan oleh Tuhan, Yun. 3:10. Pertobatan nasional ini sebenarnya hanya merupakan reformasi moral. Kemungkinan besar pertobatan itu disertai juga dengan pertobatan keagamaan yang sesungguhnya datang pada masing-masing individu, tetapi masih belum memiliki pertobatan yang benar pada seluruh bangsa itu. Sebagai suatu kebiasaan, penyesalan akan kesalahan itu hanya bersifat luar saja. Mereka menunjukkan sikap itu karena ada seorang pemimpin yang disegani, tetapi ketika pemimpin itu kemudian digantikan oleh pemimpin lain yang jahat, maka bangsa itu segera kembali pada kebiasaan lama mereka.

    2. Pertobatan sementara.

      Alkitab juga mengisahkan pertobatan orang-orang secara pribadi yang tidak menunjukkan adanya perubahan dalam hati, dan dengan demikian hanya menunjukkan kesementaraan saja. Dalam perumpamaan tentang penabur, Tuhan Yesus berbicara tentang orang-orang yang mendengar Firman Tuhan dan segera menerimanya dengan suka cita, tetapi tidak berakar dalam, karena itu hanya dapat tumbuh sebentar. Ketika kesulitan dan penderitaan datang melanda, segera mereka menjadi layu dan mati, Mat. 13:20,21. Paulus menyebut tentang Himeneus dan Aleksander yang telah kandas imannya (1 Tim. 1:19,20, band. 2 Tim 2:17,18). Dan dalam 2 Tim. 4:10, ia menyebut tentang Demas yang meninggalkan dia, sebab kasih kepada dunia lebih diutamakan. Penulis surat Ibrani berbicara tentang sebagian orang yang jatuh, "Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia surgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum (Ibr. 6:4-6). Akhirnya Yohanes berbicara tentang beberapa orang yang membelakangi orang yang setia, ".... sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita" (1 Yoh. 2:19). Pertobatan-pertobatan seperti itu untuk suatu waktu tertentu tetap memiliki arti sebagai pertobatan yang benar.

    3. Pertobatan yang benar (Conversis Actualis Prima).

      Pertobatan yang benar dilahirkan dari dukacita Ilahi, dan kemudian nampak dalam suatu hidup yang menyembah kepada Allah, 2 Kor. 7:10. Perubahan ini berakar pada karya kelahiran kembali, dan dinyatakan dalam suatu kehidupan yang sadar oleh orang berdosa karena pekerjaan Roh Kudus; suatu perubahan cara berpikir dan berpendapat, perubahan pada keinginan dan perbuatan, yang mencakup juga pengakuan bahwa arah yang sebelumnya diambil dalam hidupnya adalah suatu arah yang salah dan kemudian ia mengubah seluruh arah perjalanan hidupnya. Ada dua sisi dari pertobatan ini, yang satu aktif dan yang lain pasif; yang aktif adalah perbuatan Allah sendiri yang olehnya Ia mengubah arah dari kehidupan sadar manusia, dan segi pasif dari pertobatan ini yang merupakan hasil dari cara bagaimana kemudian manusia itu mengubah arah hidupnya dan berbalik kepada Tuhan. Akibatnya, ada dua definisi yang harus kita berikan mengenai pertobatan: (a) pertobatan yang aktif adalah tindakan Allah dimana Ia menyebabkan orang berdosa yang telah mengalami kelahiran kembali, dalam hidupnya yang disadari, berbalik kepada-Nya dalam penyesalan akan dosa dan iman. (b) Secara pasif pertobatan adalah tindakan yang disadari yang merupakan hasil perbuatan orang berdosa di mana ia, melalui anugerah Tuhan, berbalik kepada Tuhan dalam kelahiran kembali dan iman. Pertobatan yang benar inilah yang pertama kali bersangkutpaut dengan kita dalam teologi. Firman Tuhan berisi contoh-contoh yang mengagumkan tentang pertobatan sejati ini, misalnya pertobatan Naaman, 2 Raj. 5:15; Manaseh, 2 Taw. 33:12,13; Zakheus, Luk. 19:8,9; orang yang buta sejak lahirnya, Yoh. 9:38; perempuan Samaria, Yoh. 4:29,39; sida-sida dari Etiopia, Kis. 8:30 dst.; Kornelius, Kis. 10:44 dst.; Paulus, Kis. 9:5 dst.; Lidia, Kis. 16:14, dan lain-lainnya.

    4. Pertobatan yang diulang.

      Alkitab juga berbicara mengenai suatu pertobatan yang diulang, di mana orang yang bertobat itu dalam suatu waktu mengalami kejatuhan dalam dosa, kemudian berbalik lagi kepada Tuhan. Strong lebih suka untuk tidak memakai istilah "pertobatan" untuk perubahan ini, tetapi ia lebih memilih istilah seperti "memutuskan, meninggalkan, kembali dari pelanggaran" dan "kembali lagi kepada Kristus, dan lebih bersandar lagi kepada-Nya". Akan tetapi Alkitab sendiri memakai kata "pertobatan" untuk kejadian-kejadian itu, misalnya Luk 22:32; Why. 2:5,16,21,22; 3:3,19. Akan tetapi harus dipahami bahwa pertobatan dalam pengertian soteriologis yang ketat tidak pernah diulang. Mereka yang pernah mengalami pertobatan yang benar mungkin saja untuk suatu waktu jatuh dalam dosa; bahkan mungkin juga orang tersebut berjalan terlalu jauh dari tempat asalnya; akan tetapi hidup yang baru pastilah akan mendapatkan kedudukannya yang semula lagi dan pasti akan membawanya kembali kepada Tuhan dengan hati yang penuh penyesalan.