MDD - Referensi 06a

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kursus : Manusia Dan Dosa
Nama Pelajaran : Jaminan Keselamatan
Kode Pelajaran : MDD-R06a

Referensi MDD-R06a diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Teologi Dasar (2)
Judul artikel : Penerapan Keselamatan
Penulis : Charles C. Ryrie
Penerbit : Yayasan Andi, Yogyakarta 1993
Halaman : 83 - 88

Referensi Pelajaran 6a - Penerapan Keselamatan

Penerapan Keselamatan

Dalam pasal ini kita akan memikirkan pelayanan-pelayanan yang termasuk dalam penerapan keselamatan. Menurut sejarah, pemikiran ini telah dinamakan ordo salutis atau jalan keselamatan. Pemikiran ini mencoba untuk menyusun dalam urut-urutan menurut logika (bukan menurut urut-urutan waktu) seluruh tindakan yang termasuk dalam menerapkan keselamatan terhadap individu. Tetapi seperti persoalan urut-urutan ketetapan dalam lapsarianisme, dalam kenyataannya ordo salutis tidak membantu banyak. Hal yang paling banyak dipermasalahkan adalah hubungan antara kelahiran kembali dan iman yang akan kita bicarakan kemudian. Sebenarnya, yang lebih berguna daripada sekadar mencoba menetapkan urut-urutan adalah memperhatikan pelayanan-pelayanan manakah yang semata-mata dari Allah (panggilan, kelahiran kembali), dan pelayanan-pelayanan manakah yang juga melibatkan manusia (keinsafan/keyakinan, pertobatan).

  1. Keinsafan
    1. Apakah Keinsafan Itu?

      Seperti dikatakan. dalam Yoh. 16:8-11, Tuhan berjanji bahwa setelah Pantekosta, Roh Kudus akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman. Apakah keinsafan? Hal tersebut tidak sama dengan pertobatan. Itu meyakinkan atau membuktikan kesalahan musuh sehingga ia menempatkan persoalannya di hadapan dirinya dengan terang-benderang apakah bukti itu ia terima atau tolak. "Gagasan tentang 'keinsafan' adalah rumit Hal itu meliputi gambaran-gambaran tentang pemeriksaan yang berwenang, bukti yang tak dapat disangkal, penilaian yang tegas, kuasa yang menghukum. Apa pun masalahnya yang menentukan, ia yang 'menghukum' orang lain menempatkan kebenaran yang dipermasalahkan itu dengan terang dan tegas di depannya, sehingga hal itu harus dilihat dan diakui sebagai kebenaran. Ia yang kemudian menolak kesimpulan dari penjelasan tadi, menolaknya dengan mata terbuka dan atas risikonya sendiri. Kebenaran yang dilihat sebagai kebenaran mengakibatkan penghukuman bagi semua orang yang tidak mau menerimanya" (B.F. Westcott, The Gospel according to St. John [London: Murray, 19081], 2:219). Perhatikanlah pemakaian kata itu dalam Mat. 18:15. Orang yang dihardik atau dihukum mungkin menerima bukti itu dan bertobat. Tetapi, mungkin juga ia tidak mau menerimanya dan akan mengakibatkan konfrontasi yang lebih lanjut. Jadi, keinsafan memberikan bukti, tetapi tidak menjamin bahwa kebenaran itu akan diterima; hal ini memerlukan pertobatan.

    2. Siapakah yang Diinsafkan?

      Dunia. Apakah ini hanya orang-orang terpilih saja yang dimaksudkan? Tidak, karena pelayanan untuk menginsafkan ini mengetahui bahwa ada orang yang tidak akan menerima kebenaran itu. Apakah setiap orang di dunia yang dimaksudkan? Juga tidak, sebab hal ini mencakup seluk-beluk dosa, kebenaran, dan penghakiman, bukan hanya sekadar keinsafan pada umumnya yang berasal dari penyataan secara alami. Yang dimaksudkan pasti banyak orang, lebih banyak daripada orang-orang yang terpilih, tetapi bukan setiap orang (band. Yoh. 12:19).

    3. Tentang Apakah Mereka Diinsafkan?

      Keinsafan memasuki bidang tertentu dari dosa, kebenaran, dan penghakiman. Kata "hotis" dapat berarti "karena" atau "yaitu" atau suatu campuran dalam tiga klausa. Misalnya, jika artinya "karena", maka dunia diinsafkan akan dosa karena ketidakpercayaannya. Jika artinya "yaitu", maka dunia diinsafkan akan dosa yaitu ketidakpercayaannya. Kebenaran tersebut adalah yang disediakan oleh Kristus di kayu salib, yang dipertahankan dengan kenaikan-Nya kepada Bapa. Penghakiman mungkin adalah penghakiman yang akan datang bagi orang-orang berdosa, dikuatkan oleh penghakiman yang telah dilaksanakan terhadap Setan, atau mungkin juga menunjuk kepada penghakiman Setan di kayu salib (ayat 31).

      Urutan-urutan ini adalah secara logika. Manusia perlu untuk melihat keadaan dosanya, menerima bukti kebenaran yang disediakan Juru Selamat, dan diingatkan bahwa jika ia tidak mau menerima Juru Selamat, maka ia pasti menghadapi penghukuman.

    4. Bagaimana Keinsafan Itu Dikerjakan?

      Sangat mungkin beberapa cara dipakai. Roh Kudus mungkin berbicara secara langsung kepada suara hati manusia, yang meskipun dapat dibuang namun tetap dapat menghukum juga. Ia mungkin berbicara melalui firman yang tertulis. Ia mungkin juga memakai kesaksian secara lisan atau firman yang dikhotbahkan. Tetapi apakah orang terlibat dalam menjalankan pelayanan keinsafan ini atau tidak, jika keinsafan datang kepada seseorang pasti Roh Kuduslah yang mengerjakan hal itu. Kita dengan mudah mengakui bahwa kelahiran kembali adalah pekerjaan Roh Kudus, tetapi kadang-kadang kita membiarkan diri kita sendiri mengira bahwa penyampaian kita yang pandai dan meyakinkan itulah yang dapat menginsafkan. Hal tersebut adalah salah! Hal itu pun pasti dikerjakan Allah juga.

  2. PANGGILAN
    1. Panggilan Umum

      Perjanjian Baru hanya satu kali atau dua kali mempergunakan kata "panggilan" untuk menyatakan gagasan tentang panggilan umum kepada orang-orang yang terpilih dan tidak terpilih secara bersama-sama. Mat. 22:14 dengan jelas mendukung konsep itu, sedang 9:13 mungkin juga. Akan tetapi, idenya secara jelas dinyatakan dalam ayat-ayat seperti Luk. 14:16-24 dan Yoh. 7:37. Ini adalah undangan umum dari Allah kepada manusia supaya datang kepada-Nya.

    2. Panggilan Efektif

      Ini adalah panggilan yang hanya dijawab oleh orang-orang terpilih melalui iman dan yang menghasilkan keselamatan bagi mereka (Rom. 8:30; 1 Kor. 1:2). Hal ini merupakan pekerjaan Allah, meskipun Ia menggunakan pernyataan firman Tuhan (Rom. 10:17). Panggilan itu adalah kepada persekutuan (1 Kor. 1:9), terang (1 Ptr. 2:9), kemerdekaan (Gal. 5:13), kekudusan (1 Tes. 4:7), dan kepada Kerajaan-Nya (1 Tes. 2:12).

  3. Kelahiran Kembali
    1. Arti Kelahiran Kembali

      Hanya dua kali Perjanjian Baru menggunakan kata yang artinya dilahirkan kembali (Mat. 19:28; Tit. 3:5). Kata yang artinya dilahirkan dari atas (anothen) terdapat dalam Yoh. 3:3, dan barangkali juga mengandung arti dilahirkan kembali (lihat pemakaian anothen dalam Gal. 4:9). Hal itu adalah pekerjaan Allah yang memberikan kehidupan baru kepada orang percaya.

    2. Cara Kelahiran Kembali

      Allah melahirkan kembali (Yoh. 1:3) menurut kehendak-Nya (Yak. 1:18) oleh Roh Kudus (Yoh. 3:5) pada saat seseorang percaya (1:12) akan Injil seperti yang dinyatakan dalam firman-Nya (1 Ptr. 1:23).

    3. Hubungan Antara Kelahiran Kembali dan Iman

      Dalam pernyataan Reformasi tentang ordo salutis, kelahiran kembali mendahului iman. Sebab, menurut pandangan ini, seorang yang berdosa harus diberi kehidupan baru agar dapat percaya. Memang hal ini tak dapat disangkal hanya dinyatakan sebagai suatu urut-urutan secara logika. Namun demikian, tidaklah bijaksana sama sekali untuk menekankan hal itu. Sebab bisa dipermasalahkan juga bahwa jika seorang berdosa memperoleh kehidupan baru melalui kelahiran kembali, mengapa ia masih perlu percaya? Tentu saja, tidak ada urutan secara kronologis; baik kelahiran kembali maupun percaya harus terjadi pada saat yang sama. Jelasnya, iman adalah bagian dan kesatuan dalam keselamatan yang merupakan karunia Allah (Ef. 2:9); namun iman harus dimiliki agar dapat diselamatkan (Kis. 16:31). Keduanya adalah benar.

    4. Buah dari Kelahiran Kembali

      Kehidupan baru pasti akan menghasilkan buah baru. Dalam 1 Yoh. 2:29; 3:9; 4:7; 5:1,4, dan 18, beberapa hasil dari kehidupan baru antara lain: kebenaran, tidak berbuat dosa, saling mengasihi, dan mengalahkan dunia.

  4. Iman
    1. Arti Iman

      Iman berarti keyakinan, kepercayaan, menganggap sesuatu adalah benar. Tentu saja, iman harus mempunyai isi; harus ada kepercayaan atau keyakinan tentang sesuatu. Mempunyai iman kepada Kristus untuk keselamatan berarti mempunyai keyakinan bahwa Ia dapat menghilangkan kesalahan dosa dan mengaruniakan hidup kekal.

    2. Perlunya Iman

      Keselamatan selalu melalui iman, bukan karena iman (Ef. 2:8). Iman adalah terusan yang menjadi jalan bagi kita untuk menerima karunia hidup kekal dari Allah; hal itu bukanlah sebabnya. Itulah sebabnya manusia tidak bisa membanggakan 'diri, sekalipun karena imannya Tetapi iman diperlukan sebagai jalan satu-satunya (Yoh. 5:24,17:3).

      Biasanya dalam Perjanjian Baru kata percaya (pisteuo) digunakan dengan kata depan "eis" (Yoh. 3:16), yang berarti menggantungkan diri atau percaya sungguh-sunggguh kepada obyeknya. Kadang-kadang kata itu diikuti dengan "epi", yang menekankan bahwa percaya itu adalah berpegang teguh pada obyek iman itu (Rm. 9:33; 10:11). Kadang-kadang kata itu diikuti oleh anak kalimat yang menerangkan isi iman itu (10:9). Kata kerjanya (percaya) dipakai dengan suatu bentuk datif dalam Roma 4:3. Tetapi apa pun bentuknya, arti kata itu adalah memercayakan atau menggantungkan diri pada sesuatu atau seseorang.

    3. Macam-macam Iman

      Alkitab kelihatannya membedakan empat macam iman.

      1. Iman intelektual atau historis. Iman macam ini melihat atau memahami kebenaran secara intelektual sebagai suatu hasil pendidikan, tradisi, pemeliharaan, dan sebagainya. Iman ini bersifat manusiawi dan tidak menyelamatkan (Mat. 7:26; Kis. 26:27-28; Yak. 2:19).

      2. Iman mukjizat. Ini adalah iman untuk melakukan atau memberikan perintah untuk melakukan suatu mukjizat dan mungkin disertai dengan keselamatan atau mungkin juga tidak (Mat. 8:10- 13; 17-20; Kis. 14:9).

      3. Iman Sementara Luk. 8:13 menerangkan macam iman ini. Tampaknya mirip dengan iman intelektual, tetapi di sini lebih melibatkan kepentingan pribadi.

      4. Iman yang menyelamatkan. Iman macam ini merupakan kepercayaan sepenuh kepada kebenaran Injil seperti yang dinyatakan dalam firman Allah.

    4. Segi-segi Iman
      1. Segi intelektual. Hal ini menyebabkan pengenalan yang sesungguhnya dan positif terhadap kebenaran Injil dan pribadi Kristus.

      2. Segi emosional. Kebenaran dan pribadi Kristus di sini dilihat dengan penuh perhatian dan kesungguhan.

      3. Segi kehendak/kemauan. Di sini orang itu menerima secara pribadi ke kebenaran dan pribadi Kristus serta sungguh-sungguh percaya kepada Dia.

      Ketiga segi ini dapat dibedakan, tetapi harus disatupadukan pada saat iman yang menyelamatkan terjadi. Orang itu percaya kepada Kristus dengan seluruh keberadaannya, tidak hanya dengan. intelek, emosi, atau kehendaknya saja.

      Barangkali salah satu pernyataan yang paling jelas tentang kadar yang diperlukan untuk iman yang menyelamatkan terdapat dalam firman Tuhan kepada wanita Samaria yang penuh dengan dosa itu. Ia berfirman, "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu, 'Berilah Aku minum!' niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup" (Yoh. 4:10). Kenalilah karunia dan Pribadi Allah, kemudian mintalah dan terimalah kehidupan yang kekal.