MDD - Referensi 05a

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kursus : Manusia Dan Dosa
Nama Pelajaran : PKeselamatan
Kode Pelajaran : MDD-R05a

Referensi MDD-R05a diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : 5 Menit Teologi
Judul artikel : Pembenaran, Penebusan dan Pengampunan
Penulis : DR. Rick Cornish
Penerbit : Pionir Jaya, Bandung 2004
Halaman : 223 - 229; 233 - 235

Referensi Pelajaran 5a - Pembenaran, Penebusan dan Pengampunan

PEMBENARAN

Pengampunan Allah

Pengadilan modern menggunakan bukti DNA untuk menjatuhkan hukuman atau membebaskan si terdakwa. Bahkan, kita mendengar bahwa tahanan dapat dibebaskan karena telah ditemukan bukti-bukti baru DNA. Gambaran hukum ini mengilustrasikan doktrin pembenaran tetapi dengan sebuah catatan. Pengertian modern kita mengenai pembebasan biasanya berarti si terdakwa tidak melakukan kejahatan. Pembenaran yang dimaksudkan Alkitab bukan berarti kita tidak pernah melakukan dosa, melainkan pembenaran yang membebaskan kita karena orang lain telah membayar hukuman yang seharusnya kita tanggung. Dengan kata lain, Allah tidak mungkin salah menghukum kita akibat suatu dosa yang tidak kita lakukan. Kita sungguh-sungguh berhadapan dengan keadilan-Nya, tetapi Ia membebaskan kita karena hukuman itu telah dibayar Kristus.

Pembenaran merupakan pengakuan Allah bahwa kita benar di hadapan-Nya. Bahasa Yunani "dikaio" berarti "membenarkan", berlawanan dengan "menghukum". Paulus mengontraskan kedua hal ini di dalam Roma 8:33-34, "Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka?" Pembenaran melebihi sekadar pengampunan, yang akan membuat kita netral dalam pandangan Allah; pembenaran merupakan pernyataan yang mengakui kita benar. Dasar pernyataan ilahi ini bahwa Allah menimpakan hukuman kita kepada Kristus dan melimpahkan kebenaran Kristus kepada kita. Karena kebenaran Kristus sungguh-sungguh diperhitungkan menjadi milik kita, pembenaran itu bukanlah permainan kata-kata seolah-olah Allah berpura-pura memandang kita sebagai sesuatu yang bukan kita. Allah tidak mengabaikan tuntutan benar-Nya, tetapi Ia mempertemukan tuntutan itu di dalam Kristus. Ia tetap adil ketika membenarkan kita (Roma 3:25-26).

Kita menerima pembenaran dari Allah yang murah hati itu semata-mata karena iman (Roma 3:22; 5:1; Galatia 2:16). "Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat" (Roma 3:28). Iman kita tidak diperhitungkan sebagai perbuatan yang layak menerima pembenaran dari Allah. "Iman" semacam itu akan merupakan suatu usaha, yang mengharuskan Allah membayar upah untuk usaha-usaha yang kita lakukan (Roma 4:4). Iman semata-mata merupakan instrumen yang dengannya kita dapat menerima bahwa karya Kristus diperhitungkan kepada kita (Roma 4:23-25).

Bagaimana dengan kontradiksi antara iman yang dimaksud Paulus dan perbuatan-perbuatan Yakobus? (Roma 3:28, "Manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat," dan Yakobus 2:24, "Manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman"). Karena mereka sedang menghadapi serangan-serangan yang menentang Injil, kadang-kadang kita dibingungkan ketika membandingkan ayat-ayat itu. Paulus mengecam legalisme yang memandang kita diselamatkan hanya karena melakukan hukum Taurat. Yakobus menentang kerohanian anarkis yang mengabaikan etika Kristen. Jadi, Paulus dan Yakobus menggunakan kata "perbuatan-perbuatan" untuk acuan konsep yang berbeda. Perbuatan-perbuatan yang dimaksudkan Paulus misalnya ketaatan terhadap Hukum Musa untuk memperoleh keselamatan. Karena kita tidak diselamatkan dengan cara itu, ia mengecam "perbuatan-perbuatan." Yakobus membicarakan perbuatan-perbuatan yang dihasilkan dari iman yang menyelamatkan kita. Karena perbuatan-perbuatan itu membuktikan bahwa iman kita nyata, ia memuji "perbuatan-perbuatan" itu. Pengajaran para rasul bersifat saling melengkapi dan tidak ada yang saling bertentangan. Pengakuan iman yang menyelamatkan kita (Paulus) diperkuat dengan perbuatan-perbuatan nyata kita (Yakobus).

Pembenaran merupakan isu paling praktis dari semuanya karena isu ini membahas persoalan bagaimana kita dapat diterima oleh Allah. "Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus" (Roma 5:1). Pembenaran merupakan pernyataan Allah mengenai keputusan atau hasil final pada hari penghakiman-Nya yang terakhir. "Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah" (Roma 5:9). Allah telah menukar kesalahan dan hukuman kita dengan kebenaran Kristus, dan untuk selamanya kita diyakinkan pada pengharapan, sukacita, dan kepastian bahwa kita tidak akan pernah hilang.

PENEBUSAN

Rancangan Allah

Tidak seperti agama-agama dunia lainnya, Kekristenan berpusat pada kematian daripada pengajaran para pendirinya. Kekristenan mempercayai kematian Kristus bukanlah suatu kecelakaan sejarah, suatu akhir tragis dari penghakiman keji Roma yang dilakukan oleh lawan-lawan-Nya di kalangan pemimpin Yahudi. Tetapi, kematian-Nya merupakan klimaks dari rancangan Allah untuk membuat perubahan atau "menebus" dosa kita.

Kata asli Ibrani untuk penebusan berarti "menutupi atau membatalkan," merupakan konsep teologis mengenai penghapusan dosa. Kita membutuhkan penebusan ini karena ketika Adam berdosa seluruh umat manusia turut dihukum tanpa pengharapan. "Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu ... bahwa tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia" (Efesus 2:1, 12). Paulus memproklamasikan kepada semua orang bahwa "upah dosa ialah maut" (Roma 6:23).

Kebutuhan akan penebusan melanggar karakter adil Allah jika pengampunan-Nya ditawarkan tanpa pembayaran dosa. Oleh sebab itu, setiap orang perlu memperoleh pengampunan ilahi-Nya. Syarat untuk penebusan juga berasal dari karakter Allah, yang karena kasih-Nya menawarkan Putera-Nya sendiri sebagai bayaran. Jadi, penebusan menggambarkan keadilan Allah, yang mengharuskan pembayaran untuk dosa-dosa, dan kasih-Nya memenuhi tuntutan itu.

Karena tidak terjadi tarik-menarik antara keadilan Allah dan kasih-Nya, tidak ada tarik-menarik antara Sang Bapa dan Sang Anak. Kristus bukanlah partisipan yang tidak rela bila rencana Sang Bapa terlaksana. Kristus berkata, "Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya ... Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri" (Yohanes 10:11, 18). Tidak pernah Sang Anak menghindari murka Allah, yang akan dicurahkan oleh Sang Bapa kepada kita. Dengan cara sebaliknya Paulus memberitahu kita, "Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus" (2 Korintus 5:19). Bapa adalah sang penyedia Kristus, yang penuh belas kasihan, kerelaan, kurban yang taat.

Dengan ketaatan-Nya, aktif dan pasif, Kristus telah memenuhi persyaratan untuk menjadi kurban penebusan. Ketaatan aktif-Nya merupakan kehidupan-Nya yang sempurna, yang memenuhi tuntutan hukum Taurat. Ketaatan pasif-Nya adalah kematian-Nya di kayu salib, yang menebus hukuman dosa. Tema utama dari kematian-Nya adalah substitusi atau penggantian. la mati menggantikan kita, seperti dijelaskan oleh Yesaya, "Yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak" (Yesaya 53:12). Kristus bertindak sebagai imam besar yang mempersembahkan kurban, tetapi kurban itu adalah diri-Nya sendiri (Ibrani 9:11-15). Dan tidak seperti imam-imam lain yang berulang kali mempersembahkan hewan kurban, Kristus mempersembahkan diri-Nya satu kali, dan efektif sepenuhnya untuk selamanya, "Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang la kuduskan" (Ibrani 10:14).

Karena kita telah jatuh dan mati rohani, kita tidak dapat melakukan apa pun untuk memenuhi kebutuhan kita. Tetapi dosa-dosa kita telah lunas dibayar oleh Kristus, dan kebenaran-Nya diperhitungkan kepada kita. Kita dapat menerima karya-Nya semata-mata hanya karena iman. Lebih lanjut, karena Allah yang memulai dan menyelesaikan penebusan, kita tidak dapat melakukan apa pun untuk mengembalikan atau mencegah terjadinya penebusan itu. Murka Allah tidak akan ditujukan ke arah kita. Kita terjamin secara permanen di dalam Kristus. Jangan pernah menganggap sia-sia keselamatan kita yang mahal harganya itu, tetapi bersyukurlah kepada Allah karena belas kasihan-Nya sembari kita menjalani hidup yang sepenuhnya berkenan kepada Allah.

PENGAMPUNAN

Yang Lama Sudah Berlalu

Beberapa orang berpikiran bahwa semua agama sama saja. Jika kita hanya mengamati di permukaannya, kita memang akan melihat kepercayaan-kepercayaan yang mirip. Tetapi, pembandingan yang jujur akan menyingkapkan perbedaan-perbedaan penting, bahkan dalam gagasan-gagasan yang mendasar. Sebagai contoh, konsep pengampunan merupakan keunikan kekristenan dan Yudaisme. Di antara kitab-kitab suci dunia, hanya Alkitab yang mengajarkan bahwa Allah yang berpribadi dan tak terbatas mengampuni dosa sepenuhnya. Dan pengampunan-Nya itu tidak dilakukan dengan bersungut-sungut dan setengah hati. Allah berkata, "Aku akan memulihkan mereka dari penyelewengan, Aku akan mengasihi mereka dengan sukarela, sebab murka-Ku telah surut dari pada mereka" (Hosea 14:5).

Kata-kata Ibrani dan Yunani untuk pengampunan berarti menutupi pelanggaran, atau menghilangkan, mengesampingkan, membiarkan dosa itu pergi. Pengampunan menghalau rasa bersalah yang berasal dari kebersalahan, kemudian memulihkan hubungan. Secara teologis, pengampunan merupakan perbuatan Allah melepaskan orang berdosa dari penghakiman. Menurut pengertian Kristen, pengampunan selalu ditawarkan atas inisiatif Allah, dan Ialah satu-satunya yang dapat mengampuni dosa (Lukas 5:21).

Pengampunan berasal dari dalam karakter Allah karena Ia adalah "Allah yang sudi mengampuni, yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya" (Nehemia 9:17). Tetapi, Allah juga bebas. Ia tidak harus mengampuni dosa; pengampunan itu tidak otomatis. Lebih lanjut, keadilanNya menuntut pembayaran untuk dosa. Dengan kata lain, Allah ingin mengampuni tetapi tidak dapat tanpa memuaskan keadilan-Nya. Imam-imam Perjanjian Lama mempersembahkan kurban demi memenuhi tuntutan itu. "Dengan demikian imam itu mengadakan pendamaian bagi mereka, sehingga mereka menerima pengampunan" (Imamat 4:20). Tetapi, kurban-kurban itu hanyalah simbol dari kurban permanen yang dinyatakan di dalam Perjanjian Baru.

Di dalam Markus 2 Yesus mengejutkan orang banyak, ketika "Berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: 'Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!'" (ayat 5). Para pemimpin agama memahami implikasi dari pernyataan itu, maka mereka bertanya, "'Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?(ayat 7). Teologi mereka tidak bercacat, tetapi mereka tidak dapat membawa diri sendiri pada kesimpulan yang benar - Yesus ini adalah Allah. Ia dapat memaklumatkan pengampunan karena Ia adalah Allah dan kurban tebusan dosa (Ibrani 9:15). Kematian-Nya merupakan kurban permanen yang "Merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan" antara manusia dan Allah (Efesus 2:14).

Pengampunan bukanlah keseluruhan dari rencana keselamatan Allah, tetapi merupakan bagian yang penting dari berita Injil: "Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan" (Kisah Para Rasul 3:19).Bahkan ketika seorang Kristen berdosa, pengampunan tersedia melalui pengakuan (1 Yohanes 1:9) karena Kristus "Dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib" (Kolose 2:14).

Pengampunan melebihi sekadar isu keselamatan. Paulus memberitahu kita, "Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian" (Kolose 3:13). Dan Allah berkata pengampunan kita seharusnya tidak terbatas (Matius 18:21-22). Allah akan membayar keadilan apa pun yang perlu dilaksanakan, "Saudara-saudaraku yang kekasih janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku" (Roma 12:19). Dengan tidak memendam kepahitan atau bersungut-sungut, kita menunjukkan kebaikan karakter Allah kita yang mengampuni.