MDD - Referensi 04a

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading
Nama Kursus : Manusia Dan Dosa
Nama Pelajaran : Konsep Anugerah
Kode Pelajaran : MDD-R04a

Referensi MDD-R04a diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Mari Berpikir Tentang Teologi Apa yang Kita Yakini?
Judul artikel : Wahyu Khusus: Tuhan Menyatakan Diri Melalui Firman-Nya, Yaitu Alkitab, Supaya Kita Dapat Mengenal-Nya secara Pribadi
Penulis : Mark Tabb
Penerbit : Yayasan Gloria, Yogyakarta 2011
Halaman : 36 - 41

Referensi Pelajaran 04a - Wahyu Khusus

Wahyu umum mengatakan kepada kita bahwa Tuhan benar ada. Meskipun demikian, jika hanya itu saja yang kita bicarakan, kita tak akan pernah tahu siapa Tuhan ini. Di sinilah peran wahyu khusus Tuhan. Wahyu khusus adalah "penyataan diri Tuhan kepada orang-orang tertentu, pada waktu dan tempat tertentu, yang memungkinkan orang-orang tersebut memasuki hubungan dengan Tuhan yang menyelamatkan. "Melalui wahyu khusus, Tuhan melangkah keluar dari balik tirai dan menyatakan kepada kita bukan saja tentang pribadi-Nya, tetapi lebih penting lagi, bagaimana kita dapat mengenal-Nya secara pribadi dan intim.

Perlunya Wahyu Khusus

Wahyu khusus memungkinkan kita mengenal Tuhan. Perbedaan antara Tuhan dan manusia itu begitu besar sehingga pikiran kita yang terbatas tidak mampu memahami Tuhan yang tak terbatas kecuali Dia sendiri menjelaskan diri-Nya kepada kita. Dibandingkan dengan Tuhan, seorang manusia lebih mirip seperti amuba yang duduk di atas Empire State Building [gedung pencakar langit 102 tingkat di New York City, Amerika Serikat]. Dari awal keberadaan kita, kita berjuang untuk memahami sifat-sifat alam semesta yang secara fisik ada di sekitar kita, tetapi Alkitab mengatakan bahwa Tuhan mengukur luasnya angkasa hanya dengan jari-jari-Nya (lihat Yesaya 40:12). Jelas bahwa Tuhan tidak mempunyai tangan-tangan lahiriah, tetapi Yesaya menggunakan analogi ini untuk menunjukkan betapa Tuhan jauh lebih besar daripada yang dapat dibayangkan oleh pikiran kita. Jika kita tidak sepenuhnya dapat memahami alam semesta, betapa lebih sulitnya bagi kita untuk memahami Pribadi yang merancangnya.

Keterbatasan pikiran manusia dalam hubungan dengan Tuhan lebih dirumitkan lagi oleh keterpisahan yang sekarang terjadi di antara Tuhan dan kita, sebuah keterpisahan yang disebabkan oleh dosa kita. Roma 1:21 mengatakan kepada kita bahwa dosa telah membuat pikiran kita menjadi gelap dan bingung. Sebagai akibatnya, hikmat manusia tidak akan pernah memimpin seorang pun kepada Tuhan (lihat 1 Korintus 1:21). Dalam kondisi alaminya, pikiran manusia tidak dapat memahami kebenaran Tuhan. Semua kebenaran itu hanya terdengar sebagai kebodohan (lihat 1 Korintus 2:14). Kecuali Tuhan sendiri berfirman, kita tak akan pernah menemukan-Nya dengan upaya kita sendiri. Kita hanya akan meraba-raba dalam gelap, mencari-cari jalan menuju Tuhan dalam permainan petak umpet surgawi.

Sifat Wahyu Khusus

Tuhan adalah Pribadi yang personal, dan penyataanNya tentang diri-Nya mencerminkan hal ini. Melalui penyataan-Nya, Dia menunjukkan kepada kita siapa Dia sebenarnya dan seperti apa sifat-sifat-Nya. Ketika Tuhan menyatakan diri-Nya kepada Musa di semak-semak yang terbakar, Dia mengidentifikasi diri-Nya dengan nama, "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu." (Keluaran 3:14). Memberikan nama-Nya adalah tindakan yang lebih dari sekadar menunjukkan bahwa Dia layak disembah. Nama-Nya, dan penyataan diri-Nya, membawa kita untuk mengenali siapa Dia sesungguhnya.

Ketika memutuskan untuk menyatakan diri-Nya kepada manusia, Tuhan tidak hanya menjatuhkan setumpuk fakta tentang diri-Nya dari surga. Penyataan-Nya lebih dari itu. Alkitab berkata kepada kita, "Allah adalah kasih" (1 Yohanes 4:8). Ketika Tuhan berinteraksi dengan manusia, kita belajar apa arti sesungguhnya dari penyataan ini. Dia berkata kepada Yesaya, "Dapatkah seorang perempuan melupakan bayi yang disusuinya sehingga ia tidak menyayangi anak yang dilahirkannya? Sekalipun ia melupakannya, Aku tidak akan melupakanmu! Lihat, Aku telah melukiskanmu di telapak tangan-Ku" (Yesaya 49:15-16 NIV). Dengan membaca kata-kata ini, kita tidak saja mengetahui lebih banyak informasi tentang Tuhan, tetapi kita juga dibawa untuk berinteraksi dengan-Nya secara pribadi. Kita merasakan kedalaman kasih-Nya dan mendengar intensitas gairah-Nya. Ketika kita merasakannya, kita menemukan jiwa kita ditarik kepada Dia yang mengasihi kita dengan suatu kasih yang melampaui pemahaman kita.

Meskipun demikian, penyataan diri Tuhan itu juga lebih dari sekadar pernyataan yang sifatnya pribadi. Ketika Dia menyatakan diri-Nya, Tuhan menyatakan kebenaran yang abadi. Yesus sendiri berkata kepada Bapa-Nya, "Firman-Mu itulah kebenaran" (Yohanes 17:17). Sekali lagi, titik awal kita ialah bahwa Tuhan itu ada, dan Dia telah berfirman. Ketika Dia berfirman, Dia menyatakan diriNya dan kebenaran tentang dunia di sekitar kita. Dia bukan sekadar menunjukkan diri-Nya kepada kita dan membiarkan kita mencari tahu sendiri hal-hal lainnya. Penyataan diri Tuhan juga berisi kebenaran yang dapat menjadi tumpuan bagi pencarian kita akan kebenaran dalam setiap bidang lainnya. Memahami bahwa Tuhan selalu menyatakan kebenaran, apa lagi yang kita harapkan dapat ditemukan dalam penyataan-penyataan-Nya selain kebenaran demi kebenaran? Seperti yang dikatakan Ibrani 6:18, "Allah tidak mungkin berdusta."

Beberapa orang telah berusaha untuk mengecilkan aspek kebenaran dalam penyataan diri Allah. Para teolog abad kedua puluh seperti Emil Brunner menyatakan bahwa jika suatu wahyu dipandang sebagai sarana mengomunikasikan kebenaran-kebenaran proposisional maka iman tidak lebih dari suatu persetujuan mental terhadap kebenaran-kebenaran tersebut. Aspek perasaan ditinggalkan. Akan tetapi, menurut Brunner, jika suatu wahyu dipandang sebagai penyataan yang mewakili Pribadi maka iman merupakan tindakan kepercayaan dan komitmen yang sifatnya pribadi [subjektif, ed.], kepada Tuhan yang personal.

Kekhawatiran yang disuarakan Brunner dan para teolog lainnya itu wajar. Meskipun demikian, dalam kasus ini kita tidak perlu memilih salah satu di antaranya. Tuhan menyatakan keduanya: Pribadi-Nya, serta kebenaran-kebenaran abadi tentang diri-Nya dan ciptaan-Nya. Iman didasarkan kepada kebenaran-kebenaran yang nyata, tetapi seperti yang akan kita lihat di bab 5, percaya itu lebih dari sekadar persetujuan mental terhadap informasi. Murid-murid Yesus memahami kebenaran bahwa Yesus sesungguhnya adalah Sang Mesias. Mereka menjawab kebenaran tersebut dengan meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti-Nya. Bagi mereka, penyataan Tuhan berisi informasi [Yesus adalah Mesias] sekaligus bersifat pribadi [Yesus memanggil mereka untuk mengikuti Dia]. Perpaduan yang ditemukan dalam penyataan-penyataan khusus Tuhan ini terbukti mengubahkan hidup, baik dulu maupun sekarang.

Wahyu Khusus dan Alkitab

Wahyu khusus dan Alkitab tidaklah sama. Wahyu ialah tindakan atau peristiwa yang melaluinya Tuhan menyatakan siapa diri-Nya; Alkitab adalah catatan tertulis tentang penyataan tersebut. Tidak semua wahyu khusus dicatat di Alkitab, dan tidak semua yang dicatat dalam Alkitab berangkat dari wahyu khusus. Karena Yesus adalah Anak Allah maka segala sesuatu yang dilakukan-Nya atau diucapkan-Nya merupakan wahyu khusus dari Allah BapaNya. "Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa!" kata Yesus kepada murid-murid-Nya di dalam Yohanes 14:9. Namun, hanya sebagian kecil dari kata-kata dan tindakan-tindakan Yesus yang dicatat di dalam Alkitab. Yohanes mengatakannya sebagai berikut: "Tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, kupikir dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu" (Yohanes 21:25). Jelas, tidak setiap penyataan khusus Tuhan tentang diri-Nya dicatat dan dilestarikan.

Demikian juga tidak semua hal yang dicatat di dalam Alkitab berangkat dari suatu wahyu khusus. Ketika Musa mencatat bagaimana Firaun memaksa bangsa Israel membuat batu-batu bata tanpa menyediakan jerami (Keluaran 5), ia menulis apa yang diamatinya secara langsung. Tuhan tidak perlu muncul di hadapannya dan menunjukkan peristiwa-peristiwa ini kepadanya dengan cara yang ajaib. Tuhan menggerakkan roh Musa sehingga ia tahu mana dari peristiwa-peristiwa ini yang harus dimasukkan ke dalam kitab Keluaran, tetapi Tuhan tidak perlu mengungkapkan kejadian-kejadian ini dengan cara yang khusus kepadanya.

Alkitab juga mencatat beberapa percakapan di antara orang-orang yang berisi berbagai ide yang salah dan kebohongan. Misalnya, kitab Ayub mencatat percakapan panjang antara Ayub dan teman-temannya, yaitu Elifas, Bildad, dan Zofar. Meskipun kata-kata Elifas, Bildad, dan Zofar dicatat dengan akurat, hal-hal yang mereka katakan itu tidak benar. Tuhan sendiri menegur para penghibur Ayub di pasal terakhir buku tersebut, dengan berkata kepada mereka, "Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub" (Ayub 42:7). Perkataan ketiga orang ini mungkin ada di dalam Alkitab, tetapi tidak mencerminkan Tuhan yang menyatakan diriNya kepada mereka dengan cara yang khusus.

Melestarikan Penyataan Allah: Inspirasi

Wahyu khusus adalah penyataan Tuhan untuk membuat diri-Nya dikenal oleh orang-orang tertentu, pada waktu dan tempat tertentu, yang memungkinkan orang-orang tersebut memasuki hubungan dengan Tuhan yang menyelamatkan. Tanpa penyataan yang khusus seperti itu, tak seorang pun akan pernah dapat mengenal Tuhan secara pribadi. Meskipun demikian, karena Tuhan ingin seluruh dunia mengenal-Nya, Dia menggerakkan orang-orang tertentu untuk mencatat penyataan diri-Nya di dalam Alkitab. Catatan ini tidak saja meliputi pesan-pesan khusus dari Tuhan (seperti pesan-pesan para nabi yang dimulai dengan "Berfirmanlah Tuhan"), tetapi juga kisah tentang bagaimana Tuhan bekerja di dalam kehidupan berbagai macam orang untuk membuat diri-Nya dikenal oleh dunia.