MDD - Referensi 03b

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading
Nama Kursus : Manusia Dan Dosa
Nama Pelajaran : Natur Dosa
Kode Pelajaran : MDD-R03b

Referensi MDD-R03b diambil dari:

Situs : www.buletinpillar.org
Alamat URL : http://www.buletinpillar.org/artikel/krisis-pengertian-akan-dosa
Judul artikel : Krisis Pengertian Akan Dosa
Penulis : Mejlina Tjoa
Tanggal akses : 30 September 2013

Referensi Pelajaran 03b - Krisis Pengertian akan Dosa

Siapakah yang mengerti dosa? Dosa yang sudah menguasai seluruh dunia. Bagaimana manusia yang dikuasai dapat mengerti kuasa yang membelenggu mereka? Manusia yang jatuh tidak mengetahui betapa tidak berdayanya mereka di bawah kuasa dosa.

Melalui penerangan Kitab Suci, umat Kristen percaya bahwa semua manusia telah berdosa. Akan tetapi seringkali kita mengungkapkan pernyataan ini begitu saja tanpa merenungkan arti yang sebenarnya. Kita meremehkan dosa dan kuasanya yang menakutkan. Banyak orang Kristen sekarang yang bahkan tidak dapat membedakan dosa dari buah dosa, walaupun perbedaan ini sangat penting.

Kurangnya pengertian ini telah mengakibatkan banyak kesalahan aplikasi, baik dalam kehidupan pribadi maupun masyarakat. Bahkan seringkali sekalipun orang-orang Kristen memiliki pengertian dosa yang benar secara “teori”, saat menerapkannya mereka menjadi tidak konsisten dan kadang-kadang berlawanan arah, seakan-akan mereka tiba-tiba mempunyai posisi yang berbeda ketika berurusan dengan “praktek”. Ternyata memang mudah memisahkan pengetahuan dari aplikasi. Kontradiksi ini pun merupakan salah satu akibat dosa. Maka sangatlah perlu direnungkan bagaimana pengertian akan doktrin dosa yang benar dapat diterapkan secara konsisten di dalam hidup kita sehari-hari dan pandangan kita terhadap kebudayaan, sistem, dan semua aspek penting dalam kehidupan manusia.

Kita sering berdoa agar Tuhan mengampuni dosa kita dan kita memanggil orang-orang untuk percaya kepada Yesus Kristus dan bertobat dari dosa mereka. Tetapi di dalam rutinitas hidup, kita sepertinya tidak percaya bahwa kita adalah orang berdosa. Kita mengakui bahwa semua manusia sudah berdosa dan tidak ada yang benar, tidak ada yang baik, akan tetapi kita masih menganggap anak kesayangan kita adalah seorang malaikat yang innocent. Kita berkhotbah bahwa upah dosa adalah maut, akan tetapi kita tidak dapat menerima kenyataan ketika seseorang yang kita kasihi, yang juga manusia berdosa, meninggal dunia. Kita mengatakan bahwa tanah telah terkutuk karena dosa, dan kita harus berjerih payah seumur hidup untuk mencari nafkah dan tanah akan menghasilkan semak duri, akan tetapi kita masih bingung kenapa hidup ini susah sekali dan masih mengharapkan segala sesuatu berjalan lancar sesuai kemauan kita. Kita percaya ini adalah dunia yang sudah jatuh tetapi kita masih berasumsi dunia ini adalah sorga. Apakah kita benar-benar percaya kita adalah manusia berdosa dan dunia ini sudah jatuh? Seringkali pengharapan kita dan perlakuan kita terhadap kehidupan di dunia ini bertolak belakang dengan pengakuan iman kita.

Tidak banyak orang Kristen yang hidup konsisten sesuai dengan pengertian yang benar akan dosa dan dengan kesadaran akan kenyataannya. Bahkan yang mengerti pun cenderung hanya membatasi pengertian dan aplikasi kepada kehidupan pribadi dan lingkungan mereka. Sebenarnya yang lebih serius adalah cengkeraman dosa atas sistem dan kebudayaan masyarakat. Dosa perorangan memang serius, akan tetapi yang lebih menakutkan adalah ketika dosa menguasai sedemikian rupa ke dalam sistem dan kebudayaan sehingga orang-orang seakan-akan tidak dapat mencari nafkah jika mereka tidak ikut melakukan dosa. Dalam keadaan yang seperti ini, hal-hal yang salah “terpaksa” dilakukan. Lambat laun, orang-orang menjadi ahli dan terbiasa melakukan hal-hal yang salah. Mereka tidak lagi merasa bersalah karena mereka sepertinya tidak ada pilihan lain dalam sistem yang demikian.

Misalnya, kelemahan sistem di Indonesia sudah melahirkan sebuah kebudayaan yang malas dan menerima penyuapan. Ada terlalu banyak contoh bagaimana hukum dapat dimanipulasi dengan mudah di Indonesia, dari masalah-masalah kecil sampai masalah-masalah besar. Dengan kondisi sistem dan budaya sudah seperti ini, sangat sulit dan kadang-kadang hampir tidak mungkin bagi seseorang untuk menjalankan pekerjaannya kalau ingin menaati hukum yang tertulis. Kebudayaan yang seperti ini menyebabkan masyarakat kehilangan harapan dan hormat terhadap hukum.

Umat Kristen perlu mengerti kerumitan sistem dan budaya yang berdosa ini, dan tidak hanya menganggap bahwa mereka cuma perlu berusaha untuk tidak menyuap. Melawan sebuah sistem yang buruk dari bawah sama seperti membunuh nyamuk-nyamuk tanpa membersihkan selokan di mana mereka bertelur dan berkembang biak. Jelas-jelas tindakan ini tidak banyak manfaatnya. Sudah pasti akar masalah perlu diatasi. Tetapi yang justru sering terjadi adalah orang-orang Kristen juga mulai menikmati keuntungan-keuntungan pribadi yang bisa mereka dapatkan melalui sistem yang buruk, dan dengan senang hati mempergunakan lubang-lubang sistem sebagai jalan pintas dalam bisnis mereka, yang nantinya mereka memberikan persembahan kepada gereja dan bersyukur kepada Tuhan akan bisnis yang berjalan lancar. Sungguh ironis keadaan Kekristenan demikian yang berada di bawah sistem dan budaya yang dikuasai dosa.

Para pemimpin Kristen terutama harus peka terhadap perangkap dosa di dalam sistem dan budaya karena Allah mempercayakan mereka posisi di mana mereka seharusnya dapat mempengaruhi gereja dan masyarakat. Mereka perlu peka dalam menilai sistem-sistem yang ada. Sistem yang buruk adalah sistem yang mendorong penyalahgunaan kebebasan dan munculnya kejahatan. Ini selalu terjadi ketika sebuah sistem tidak memiliki pertanggungjawaban dan penyeimbangan kekuasaan. Penyuapan dan kemalasan misalnya tidak akan menjadi sebuah kebudayaan yang mendarah daging jikalau sistem yang ada lebih transparan serta setiap angka dan fakta dipertanggungjawabkan.

Di antara semua sistem yang buruk, sistem yang paling menakutkan adalah sistem di mana pemimpinnya memiliki kekuasaan mutlak. Semakin besar kekuasaan yang tidak perlu dipertanggungjawabkan, semakin gelap dan rusak para pemimpin yang terlibat di dalamnya. Umat Kristen tidak semestinya mendukung sistem yang seperti ini, karena doktrin dosa dengan jelas mengajarkan betapa kuat kuasa dosa atas umat manusia dan ini mengimplikasikan bahwa akan ada malapetaka kalau manusia berdosa diberikan kekuasaan tanpa diharuskan memberi pertanggungjawaban yang sejajar. Sangatlah memalukan jika seorang Kristen yang memiliki posisi yang sangat berpengaruh dalam sistem negara yang memiliki kekuasaan pemerintahan mutlak, yang menikmati keuntungan pribadi dari ketidakadilan sistem ini, untuk tidak berdiri bagi kebenaran, melainkan sengaja menghindari orang-orang untuk mengerti keberdosaan sistem dengan menganjurkan mereka untuk berhenti memikirkan hal ini dan mengalihkan perhatian mereka kepada seribu hal-hal yang lain. Memang hal-hal detil masih perlu diperhatikan dan dilakukan, akan tetapi seorang pemimpin Kristen memiliki tanggungjawab untuk mencerahkan pengertian orang banyak akan gambaran besar terutama di dalam ketidakadilan sistem, bukannya membuat mereka buta, agar setiap hal yang mereka lakukan mengandung makna dan memiliki arah yang benar sesuai nilai-nilai Kekristenan.

Alkitab menyatakan bahwa dosa (dalam bentuk tunggal) adalah status umat manusia yang diakibatkan oleh kejatuhan Adam dalam sejarah (Rom. 5:12). Dosa adalah suatu kuasa yang memperbudak seluruh umat manusia dan ia telah mencemari setiap aspek kemanusiaan kita. Manusia sudah mati secara rohani dan alam juga ikut dikutuk bersama dengan kejatuhan manusia. Dalam kondisi yang seperti ini, manusia sudah kehilangan arah dan daya untuk melakukan kebenaran dan secara natur manusia berpaling kepada kejahatan (Rom. 3:10-18). Pengertian akan dosa yang seperti ini perlu dikejar melampaui batasan akademis dan perdebatan di kelas, dan ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bagaimana kita membentuk pandangan kita terhadap isu-isu yang relevan dan worldview kita terhadap sistem-sistem dan aspek-aspek penting dalam kehidupan di dunia berdosa ini.

Tanpanya, pengertian kita tentang dosa akan sangat dangkal. Kita akan hanya sibuk memperhatikan buah-buah dosa, seperti tindakan-tindakan melanggar hukum atau hal-hal menyebabkan perasaan bersalah dalam hati kita. Karena kita terlalu menggampangkan keseriusan masalah dosa itu sendiri, cara kita menanganinya menjadi terlalu sederhana, seperti, yang penting jangan menyuap, yang penting jangan menipu dan marilah kita melakukan pekerjaan sosial untuk membantu orang-orang miskin. Pandangan yang seperti ini mungkin dapat memberikan kelegaan yang sementara, akan tetapi jikalau hanya ini yang kita lakukan secara keseluruhan, maka dalam jangka waktu panjang kita hanya akan memperkuat sistem yang sudah rusak dan tindakan kita hanya semakin mendukung kemerosotan budaya. Ini akibatnya jika kita hanya menangani masalah permukaan yang berhubungan dengan buah-buah dosa tetapi enggan menghadapi natur dari dosa itu sendiri.

Karena dosa yang meresap ke dalam sistem dan kebudayaan jauh lebih mengerikan daripada dosa individu, maka kita perlu membangun fondasi dan pengertian yang kuat akan natur dosa dan hubungannya dengan sistem dan budaya secara keseluruhan. Sejak kejatuhan manusia, manusia menjadi lebih peka terhadap akibat dosa daripada panggilan hati nurani untuk menaati kebenaran. Maka, walaupun sebuah sistem tidak dapat mengubah manusia secara utuh, ia memiliki peranan yang penting dalam mempengaruhi tindakan eksternal manusia. Ada sistem-sistem yang cenderung mengekang tindakan dosa, dan ada juga sistem-sistem yang sangat mendukung tindakan dosa. Maka dengan adanya sistem yang baik, banyak tindakan-tindakan dosa yang dapat dihindarkan. Misalnya, jika sebuah sistem memiliki keseimbangan antara kekuasaan dan pertanggungjawaban, dan jika seorang pemimpin tidak memiliki kekuasaan seumur hidup tetapi harus benar-benar dipilih, diuji, dan diganti dari masa ke masa, dalam sistem seperti ini seorang pemimpin dipaksa bertanggungjawab. Untuk memberikan pertanggunganjawab yang baik, pemimpin tersebut selanjutnya harus menuntut tanggungjawab dari para menteri, gubernur, dan pejabat di bawahnya. Inilah peranan sistem yang baik dalam menghambat perbuatan-perbuatan dosa. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk menilai dengan benar dan memenuhi mandat budaya dalam menegakkan sistem dan mengembangkan budaya yang sebaik mungkin untuk mencerminkan kesucian dan kebenaran Allah dan mengekang tindakan-tindakan dosa manusia dalam masyarakat, walaupun tidak mungkin sempurna, di dalam dunia yang berdosa ini.

Ini sama sekali tidak gampang. Untuk mencapai titik permulaan pengertian akan dosa yang benar saja mungkin memerlukan waktu. Dan dengan pengertian yang benar pun, kita tetap tidak dapat menghindari kelalaian kita dalam hidup. Karena kelemahan manusia yang sudah jatuh, ada kesulitan yang intern dalam menerapkan doktrin yang kita percayai secara konsisten. Maka, saat kita menerapkan satu sisi dengan baik, kita seringkali tidak seimbang dalam penerapan di sisi lain, atau kita sering tidak menerapkannya secara tuntas. Misalnya, kita mungkin sungguh-sungguh membangun pengertian dan pandangan kita terhadap sistem-sistem yang salah, akan tetapi setelah hati kita ada pengertian yang benar, kita tidak menjalankan tahap selanjutnya untuk membangun keberanian untuk berdiri dan membayar harga demi kebenaran, melainkan kita memilih untuk meninggalkan sistem yang buruk dengan melarikan diri pindah ke negara lain. Tetapi, apakah ini panggilan kita sebagai anak-anak terang - mengenal krisis lalu melarikan diri? Tentu saja tidak! Kita dipanggil untuk berjuang mentransformasi dunia yang berdosa ini dengan kuasa kematian dan kebangkitan Kristus dalam mematikan kuasa dosa dalam hidup kita baik secara pribadi maupun dalam bermasyarakat di dunia berdosa ini dan mengembalikan segala kemuliaan hanya kepada Allah Tritunggal. Marilah kita sebagai pemuda di zaman ini, berani menantang zaman, hidup suci dengan berperang melawan dosa dan menghidupi panggilan kita di dunia berdosa ini.