MDD - Referensi 01b

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kursus : Manusia Dan Dosa
Nama Pelajaran : Pengertian Dosa
Kode Pelajaran : MDD-R01b

Referensi MDD-R01b diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : www.sukacitasejati.com
Judul artikel : http://www.sukacitasejati.com/buku-kemenangan-akhir/142-bab-29-asal-mula-dosa
Penulis : Asal Mula Dosa
Penerbit : Tidak dicantumkan
Halaman : 30 September 2013

Referensi Pelajaran 01b - Asal Mula Dosa

Bagi banyak orang, asal mula dosa dan alasan keberadaannya merupakan suatu sumber kebingungan besar. Mereka melihat pekerjaan si jahat dengan akibat-akibatnya bencana dan kehancuran yang mengerikan dan mereka bertanya-tanya bagaimana semua ini bisa terjadi di bawah pemerintahan dan kedaulatan oknum yang tak terbatas dalam hikmat, dalam kuasa dan dalam kasih. Suatu misteri yang mereka tidak temukan jawabnya. Dan dalam ketidakpastian dan keragu-raguan, mereka dibutakan terhadap kebenaran yang dinyatakan dengan jelas oleh firman Allah, sesuatu yang penting bagi keselamatan. Dalam keadaan bertanya-tanya mengenai keberadaan dosa ada orang yang berusaha menyelidikinya di tempat di mana Allah tidak pernah menyatakan, karena itu mereka tidak menemukan jawaban kesulitan mereka itu. Dan orang-orang seperti ini, yang didasari oleh sikap ragu-ragu dan suka mencela, membuat hal ini sebagai suatu alasan untuk menolak perkataan Alkitab. Namun yang lain, gagal mengerti dengan sempurna masalah besar kejahatan ini karena tradisi dan penafsiran yang salah telah menutupi ajaran Alkitab mengenai tabiat Allah, sifat pemerintahan-Nya dan prinsip-Nya dalam menangani dosa.

Tidak mungkin menerangkan asal mula dosa yang memberikan alasan-alasan keberadaannya. Namun cukup banyak yang bisa dimengerti baik mengenai asal mulanya maupun sifat-sifat dan akhir dari dosa, untuk menyatakan sepenuhnya keadilan dan kebajikan Allah dalam menangani kejahatan. Tidak ada yang lebih jelas diajarkan di dalam Alkitab selain bahwa Allah dalam hal apapun tidak bertanggungjawab bagi masuknya dosa; bahwa tidak ada penarikan sewenang-wenang rahmat ilahi, tidak ada kekurangan dalam pemerintahan ilahi yang memberikan kesempatan timbulnya pemberontakan. Dosa adalah pengacau dan pengganggu, sehingga tidak ada alasan untuk membiarkan keberadaannya dan kehadirannya. Dosa adalah sesuatu yang misterius dan yang tidak dapat diterangkan dan dipertanggungjawabkan; memaafkannya berarti mempertahankannya. Seandainya maaf untuk itu ditemukan atau alasan keberadaannya bisa ditunjukkan, maka itu tidak menjadi dosa lagi. Definisi kita satu-satunya adalah yang diberikan di dalam firman Allah. Dosa adalah "pelanggaran kepada hukum." Dosa adalah sesuatu yang bekerja di luar prinsip, yang berperang melawan hukum kasih yang agung yang menjadi landasan pemerintahan ilahi.

Sebelum masuknya kejahatan, damai dan kesukaan memenuhi alam semesta. Semuanya selaras dengan kehendak Pencipta. Kasih kepada Allah adalah yang tertinggi, kasih kepada satu sama lain tidak berat sebelah. Kristus, Firman itu, Anak Allah satu-satunya, adalah satu dengan Allah -- satu dalam alamiah, dalam tabiat dan dalam tujuan -- satu-satunya oknum di alam semesta ini yang dapat turut serta dalam semua musyawarah dan maksud-maksud Allah. Melalui Kristus Allah bekerja dalam menciptakan makhluk-makhluk surgawi. "Di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di Surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana maupun kerajaan, baik pemerintah maupun penguasa" (Kol. 1:16) dan kepada Kristus, sama dengan kepada Bapa, segenap Surga menunjukkan kesetiaan mereka.

Hukum kasih yang menjadi dasar pemerintahan Allah, kebahagiaan seluruh makhluk ciptaan, bergantung kepada keselarasan sempurna kepada prinsip-prinsip kebenaran agung. Allah menginginkan dari makhluk ciptaan-Nya pelayanan kasih -- penghormatan yang terbit dari penghargaan kepada tabiat-Nya. Ia tidak menyukai kesetiaan yang terpaksa dan kepada mereka diberikan-Nya kebebasan kemauan agar mereka boleh memberikan pelayanan sukarela kepada-Nya.

Tetapi ada seorang yang menyalahgunakan kebebasan ini. Dosa bermula dari dia yang setelah Kristus, paling dihormati Allah dan yang berkuasa paling tinggi dan yang paling mulia dari antara penghuni Surga. Sebelum kejatuhannya, Lucifer adalah yang terutama dari kerub-kerub yang berjaga, kerub yang suci dan yang tidak bercacat cela. "Beginilah firman Tuhan Allah: Gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat dan maha indah. Engkau di taman Eden, yaitu taman Allah penuh segala batu permata yang berharga." "kuberikan tempatmu dekat kerub yang berada di gunung kudus Allah engkau berada dan berjalan-jalan, di tengah-tengah batu-batu yang bercahaya-cahaya. Engkau tidak bercela di dalam tingkah lakumu sejak dari penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu." (Yeh. 28:12-15).

Seluruh Surga telah bersukacita untuk memancarkan kemuliaan Pencipta dan menunjukkan pujian kepada-Nya. Dan sementara Allah dihormati seperti itu, seluruhnya memperoleh damai dan kesukaan. Akan tetapi suatu tanda pertentangan sekarang merusak keharmonisan surgawi itu. Pelayanan dan meninggikan diri sendiri yang bertentangan dengan rencana Pencipta, membangkitkan suatu pertanda jahat di dalam pikiran mereka, yang seharusnya kemuliaan Allah adalah yang tertinggi baginya. Majelis surgawi membujuk Lucifer. Anak Allah mengemukakan dihadapannya kebesaran, kebaikan, dan keadilan Pencipta, dan sifat hukum-Nya yang kudus dan yang tidak berubah itu. Allah sendiri telah menetapkan peraturan Surga; dan penyimpangan dari peraturan itu berarti Lucifer menghina Penciptanya, dan mendatangkan kebinasaan bagi dirinya sendiri. Tetapi amarah yang diberikan dalam kasih dan belas kasihan yang tak terbatas hanya membangkitkan roh penolakan. Lucifer membiarkan iri hati kepada Kristus menguasai dirinya, sehingga ia lebih berketetapan dalam pilihannya.

Kesombongan untuk kemuliaan diri sendiri memupuk keinginannya untuk memperoleh supremasi. Penghormatan tinggi yang diberikan kepada Lucifer tidak dihargai sebagai karunia Allah dan tidak membuatnya bersyukur kepada Pencipta. Ia bermegah dalam kecemerlangan dan ketinggiannya, sehingga ia berniat menjadi sama dengan Allah. Ia dikasihi dan dihormati oleh malaikat-malaikat Surga. Malaikat-malaikat senang melaksanakan perintah-perintahnya dan ia dipenuhi dengan hikmat dan kemuliaan melebihi mereka semua. Namun begitu Anak Allah adalah Penguasa Surga yang diakui, satu kuasa dan wewenang dengan Bapa. Dalam semua konsultasi Allah, Kristus selalu turut di dalamnya, sementara Lucifer tidak diizinkan untuk ikut dalam maksud-maksud ilahi. "Mengapa harus Kristus yang mempunyai supremasi itu?" kata malaikat perkasa itu. "Mengapa Ia dihormati melebihi Lucifer?"

Dengan meninggalkan tempatnya di hadapan Allah, Lucifer pergi untuk menyebarkan roh ketidakpuasan di antara malaikat-malaikat. Sambil bekerja dengan diam-diam dan misterius dan untuk sementara menyembunyikan maksudnya yang sebenarnya dengan berpura-pura tampak menghormati Allah, ia berusaha untuk membangkitkan ketidakpuasan terhadap hukum-hukum yang mengatur makhluk-makhluk surgawi, dengan mengatakan bahwa mereka dibebani dengan pembatasan-pembatasan yang tidak perlu. Oleh karena alamiah mereka adalah suci, ia mendorong malaikat-malaikat itu untuk mengikuti kehendak hati mereka sendiri. Ia berusaha mendapatkan simpati, dengan mengatakan bahwa Allah telah memperlakukannya dengan tidak adil dengan memberikan penghormatan tertinggi bagi Kristus. Ia mengatakan bahwa dalam cita-citanya untuk memperoleh kuasa dan penghormatan yang lebih besar bukan karena bercita-cita mau meninggikan diri, tetapi untuk memperoleh kebebasan bagi segenap penghuni Surga, agar dengan begitu mereka boleh memperoleh eksistensi yang lebih tinggi.

Untuk menangani dosa, Allah hanya dapat menggunakan keadilan dan kebenaran. Setan dapat menggunakan apa yang Allah tidak dapat atau tidak mau gunakan -- sanjungan yang berlebihan dan penipuan atau kecurangan. Ia telah berusaha memalsukan firman Allah dan telah menyalahtafsirkan rencana pemerintahan-Nya di hadapan malaikat-malaikat, mengatakan bahwa Allah tidak adil dalam memberikan hukum-hukum dan peraturan-peraturan atas penghuni Surga; sehingga di dalam menghendaki penyerahan dan penurutan dari makhluk-makhluk-Nya, Ia hanya berusaha meninggikan diri-Nya sendiri. Oleh sebab itu harus ditunjukkan di hadapan penghuni Surga serta dunia-dunia lain, bahwa pemerintahan Allah adalah adil, dan hukum-hukum-Nya adalah sempurna. Setan menunjukkan seolah-olah ia berusaha untuk memajukan kebaikan alam semesta. Sifat yang sebenarnya perampas kekuasaan itu dan tujuannya yang sebenarnya harus dimengerti oleh semua. Ia harus mempunyai waktu untuk menyatakan dirinya oleh pekerjaan-pekerjaannya yang jahat.

Roh yang sama yang telah menyebabkan pemberontakan di Surga, masih mengilhami pemberontakan di dunia ini. Setan meneruskan caranya memperdaya manusia sebagaimana yang dilakukannya kepada malaikat-malaikat. Rohnya sekarang ini memerintah di dalam hati anak-anak yang tidak mau menurut. Seperti dia, mereka berusaha melanggar batasan-batasan hukum Allah, dan menjanjikan kepada manusia itu kebebasan melalui pelanggaran terhadap perintah-perintah-Nya. Teguran terhadap dosa masih menimbulkan roh kebencian dan penolakan. Pada waktu pekabaran amarah Allah diterima di dalam hati nurani, maka Setan menuntun manusia untuk membenarkan mereka, dan mencari simpati orang-orang lain dalam dosa mereka. Gantinya memperbaiki kesalahan mereka, mereka marah kepada yang menegur, seolah-olah ia adalah penyebab satu-satunya kesulitan.

Pemutarbalikan yang sama mengenai tabiat Allah sebagaimana yang dipraktekkan Setan di Surga, yang menyebabkan Allah dianggap sebagai Allah yang kejam dan bengis, Setan mempengaruhi manusia untuk berdosa. Dan atas keberhasilannya sejauh itu, ia menyatakan bahwa pembatasan-pembatasan Allah yang tidak adil telah menyebabkan manusia jatuh, sebagaimana mereka dituntun kepada pemberontakannya sendiri.

Dalam pengusiran Setan dari Surga, Allah menyatakan keadilan-Nya dan mempertahankan kemuliaan takhta-Nya. Akan tetapi bilamana manusia berdosa melalui penyerahan kepada roh yang murtad atau Setan, Allah memberikan bukti kasih-Nya dengan menyerahkan Anak-Nya yang tunggal mati bagi manusia yang jatuh itu. Dalam pendamaian tabiat Allah dinyatakan. Argumen terbesar salib menunjukkan kepada seluruh alam semesta bahwa tindakan dosa yang dipilih oleh Lucifer sekali-kali tidak dapat dituduhkan kepada pemerintahan Allah.

Allah telah menunjukkan kebencian-Nya terhadap prinsip-prinsip pemberontakan. Seluruh Surga melihat keadilan-Nya dinyatakan, baik dalam menghukum Setan maupun dalam menebus manusia. Lucifer telah menyatakan bahwa jika hukum Allah tidak bisa berobah dan hukumannya tidak bisa diampuni, maka setiap pelanggar selama-lamanya tidak bisa berkenan kepada Allah. Ia telah mengatakan bahwa umat manusia yang berdosa telah ditempatkan di luar jangkauan penebusan dan oleh sebab itu manusia telah menjadi mangsa. Akan tetapi kematian Kristus adalah suatu argumen demi manusia yang tidak bisa diruntuhkan. Hukuman dari hukum itu jatuh kepada Dia yang setara dengan Allah dan umat manusia bebas menerima kebenaran Kristus dan oleh suatu kehidupan pertobatan dan merendahkan diri menuju kemenangan, sebagaimana Anak Manusia menang atas kuasa Setan.

Akan tetapi Kristus datang ke dunia ini menderita dan mati bukan semata-mata untuk melaksanakan penyelamatan manusia. Ia datang untuk "membesarkan hukum itu" dan "memuliakannya." Bukan cuma agar dunia ini boleh menghargai hukum itu sebagaimana mestinya, tetapi menunjukkan kepada seluruh alam semesta ini bahwa hukum Allah tidak bisa diubah. Seandainya tuntutannya itu dikesampingkan, maka Anak Allah tidak perlu menyerahkan hidup-Nya untuk menebus pelanggar-pelanggar hukum itu. Kematian Kristus membuktikan bahwa hukum itu tidak bisa diubah. Dan pengorbanan sebagai pernyataan kasih Bapa dan Anak, agar orang-orang berdosa dapat ditebus, menunjukkan kepada segenap alam semesta -- apa yang tidak kurang dari rencana pendamaian ini sanggup lakukan -- bahwa keadilan dan kemurahan adalah azas dari hukum dan pemerintahan Allah.

Pada pelaksanaan terakhir pengadilan akan tampak bahwa tidak ada alasan bagi keberadaan dosa. Pada waktu Hakim seluruh dunia itu akan menuntut Setan, "Mengapa engkau memberontak melawan Aku, dan merampas penduduk kerajaan-Ku?" maka Setan, asal mula kejahatan itu, tidak bisa memberikan alasan. Setiap mulut akan bungkam berdiam, dan seluruh pasukan yang memberontak akan berdiam seribu bahasa.

Salib Golgota, sementara menyatakan hukum itu tidak bisa diubah, mengumumkan ke seluruh alam semesta bahwa upah dosa ialah maut. Dalam seruan terakhir Juru Selamat, "Sudah genap," lonceng kematian Setan dibunyikan. Pertentangan yang besar yang sudah lama berjalan telah diputuskan dan pemberantasan terakhir dosa telah dipastikan. Anak Allah melewati gerbang kubur agar "oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut." (Ibrani 2:14). Keinginan Lucifer untuk meninggikan diri sendiri telah menuntunnya berkata, "Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, . . . aku akan menyamai Yang Mahatinggi!" (Yes. 14:13,14). Allah menyatakan, "Aku menyalakan api dari tengahmu yang akan memakan habis engkau . . . . Akhir hidupmu mendahsyatkan dan lenyap selamanya engkau." (Yeh. 28:18,19). Bilamana "sesungguhnya hari itu datang, menyala seperti perapian, maka semua orang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik menjadi seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang datang itu, firman Tuhan semesta alam, sampai tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka." (Mal. 4:1).

Seluruh alam semesta akan menjadi saksi bagi sifat dan akibat dosa itu. Dan pemberontakan total dosa itu, yang pada mulanya mendatangkan ketakutan kepada malaikat-malaikat dan kehinaan kepada Allah, sekarang akan membuktikan kebenaran kasih-Nya dan menetapkan kemuliaan-Nya di hadapan makhluk-makhluk semesta alam yang senang melakukan kehendak Allah dan yang di dalam hatinya ada hukum-Nya. Kejahatan tidak akan pernah muncul lagi. Firman Allah berkata, "Kesengsaraan tidak akan timbul dua kali!" (Nah. 1:9). Hukum Allah yang telah dicela oleh setan sebagai kuk perhambaan akan dihormati sebagai hukum kemerdekaan. Ciptaan yang telah teruji dan terbukti tidak akan pernah lagi berpaling dari kesetiaan kepada Dia yang tabiat-Nya telah dinyatakan sepenuhnya di hadapan mereka sebagai kasih yang tak terduga dalamnya dan hikmat yang tak terbatas.