MDD - Pelajaran 03

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading
Nama Kursus : Manusia Dan Dosa
Nama Pelajaran : Natur Dosa
Kode Pelajaran : MDD-P03

Pelajaran 03 - NATUR DOSA

Daftar Isi

  1. Pandangan Umum tentang Dosa
  2. Pandangan Alkitab tentang Sifat-Sifat Dosa
  3. Sifat Universalitas Dosa
    1. Relasi dengan Diri Sendiri
    2. Relasi dengan Orang Lain
    3. Relasi dengan Setan
    4. Relasi dengan Allah
  4. Macam-macam Dosa
    1. Tujuh Macam Dosa Maut
    2. Dosa dalam Perjanjian Baru
    3. Dosa menurut Pembedaannya
  5. Transmisi dan Hukuman Dosa
    1. Transmisi Dosa
    2. Hukuman Dosa

DOA

NATUR DOSA

Sebelumnya telah dijelaskan dalam Pelajaran 2, bahwa dosa yang diperbuat Adam telah mengakibatkan adanya perubahan status/kedudukan manusia, dari yang "tidak berdosa" menjadi "berdosa". Sejak jatuh dalam dosa, status manusia telah bergeser jauh dari yang ditetapkan oleh Allah. Pergeseran inilah yang kemudian menjadi sumber dari segala macam dosa. Sejak saat itu, manusia tidak dapat lari dari kenyataan tentang adanya dosa. Dosa telah masuk dalam seluruh kehidupan manusia dan memberikan dampak yang buruk dalam keseluruhan aktivitas manusia.

  1. Pandangan Umum tentang Dosa

    1. Teori Dualistis. Ini adalah teori Gnostisisme yang menganggap kebaikan dan dosa adalah dua eksistensi yang berjalan paralel yang bersifat kekal. Jadi, para penganut teori ini pada dasarnya meyakini bahwa dunia ini diperintah oleh dua kekuatan, yaitu roh dan materi; baik dan buruk; terang dan gelap, dan keduanya terus-menerus saling berperang.

    2. Teori yang mengatakan bahwa dosa adalah kurangnya hal-hal penting dalam hidup. Dosa adalah eksistensi yang tidak dapat dihindari, karena manusia pasti punya keterbatasan, kelemahan dan ketidaksempurnaan. Jadi dosa adalah akibat dari keterbatasan manusia.

    3. Teori yang mengatakan bahwa dosa adalah ilusi. Dosa adalah ketidakcukupan pengetahuan manusia, khususnya yang didapat manusia melalui panca indra. Oleh karena itu, panca indra menjadi alat dosa.

    4. Teori bahwa dosa adalah kesadaran kebutuhan akan Allah. Bahwa di dalam diri manusia ada suatu tempat yang kosong dan hanya Allah yang bisa mengisinya. Jika manusia tidak menyadari akan kebutuhannya tersebut, maka ia akan merasa bersalah dan berdosa.

    5. Teori bahwa dosa hanyalah mencakup tindakan saja. Pada umumnya manusia melihat perbuatan salah sebagai apa yang dilakukan atau tidak dilakukan saja, tetapi tidak sebagai apa yang dipikirkan seseorang.

    6. Teori bahwa dosa adalah ketamakan. Bahwa pada dasarnya semua dosa dipicu oleh nafsu ketamakan atau keserakahan manusia untuk memiliki lebih dari apa yang ia miliki.

    7. Teori bahwa dosa adalah kecenderungan natur manusia yang lebih rendah menuju pada kesadaran moral yang lebih tinggi (pengaruh Teori Evolusi).

  2. Pandangan Alkitab tentang Sifat-Sifat Dosa

    1. Dosa tidak memiliki eksistensi yang independen.

      Dosa bukanlah suatu esensi atau substansi diri manusia (tidak tercipta bersama penciptaan manusia), tapi suatu "kejadian kecelakaan" yang menyebabkan kecacatan dalam diri manusia yang mulanya baik. Agustinus menyebutnya sebagai "Privatio Boni" (hilangnya kebaikan). Dosa tidak mengubah esensi tapi mengubah arah hidup manusia. Struktur gambar Allah (esensi yang Allah karuniakan kepada manusia) masih ada, tetapi tidak lagi memberikan fungsi yang seharusnya, bahkan menyimpang dari fungsi yang telah ditentukan Allah, sehingga berbalik dipakai untuk menentang Allah.

    2. Dosa adalah jenis kejahatan yang sangat spesifik.

      Dosa adalah kejahatan moral yang aktif karena manusia adalah makhluk berakal, sehingga dosa yang dilakukannya merupakan pilihan manusia sendiri (sengaja). Oleh karena itu, dosa menghasilkan permusuhan aktif dengan Allah.

    3. Dosa memiliki sifat mutlak.

      Tidak ada keadaan yang netral antara baik dan jahat. Jika seseorang tidak dalam status yang benar, ia pasti ada di posisi yang salah, karena tidak ada pilihan lain di antaranya. Oleh karena itu, Alkitab selalu mengajak orang berdosa berbalik dari statusnya yang berdosa. Artinya, posisi manusia yang berdosa harus diubah secara total.

    4. Dosa selalu memiliki hubungan dengan pelanggaran akan kehendak Allah.

      Bahkan untuk orang yang belum mengenal Allah, dosa merupakan pelanggaran akan norma-norma yang telah Allah tulis dalam hati manusia (Roma 2:14-16). Oleh karena itu, akibat dari dosa adalah pemisahan dari Allah.

    5. Dosa mencakup kesalahan dan pencemaran.

      Kesalahan Adam telah mencemari seluruh manusia. Hal itu tidak dapat disingkirkan lagi karena tindakan tersebut terkait dengan status Adam sebagai orang yang berdosa. Oleh karena itu, semua umat manusia yang dilahirkan dari Adam sudah membawa natur yang telah tercemar/rusak. Selain itu, pencemaran dosa juga melekat pada dosa perbuatan. Perbuatan dosa sering menghasilkan kebiasaan dosa, kebiasaan dosa selanjutnya menyebabkan bentuk kehidupan yang penuh dosa.

    6. Dosa menempati kedudukan dalam hati.

      Dosa mengendap di hati manusia, karena hati adalah sumber/pusat dari segala sesuatu yang terjadi dalam hidup manusia. Oleh karena itu, dari hati dosa menyebar ke seluruh pikiran, kehendak, perasaan dan ke seluruh tubuh manusia. Beberapa ayat Alkitab yang menunjukkan hati sebagai pusat adalah: Amsal 4:23 ; Yeremia 17:9 ; Matius 15:19 ; Lukas 6:45b.

    7. Dosa tidak hanya mencakup tindakan tetapi juga pikiran

      Dalam hal ini dosa berawal dari pikiran, lalu menimbulkan keinginan (hati), selanjutnya dinyatakan lewat tindakan. Hukum Allah sendiri mengatakan bahwa dosa bisa mencakup pikiran sebagaimana juga ucapan atau perbuatan, sebagaimana tercantum dalam Hukum Taurat yang ke sepuluh (Keluaran 20:17). Lalu pernyataan tersebut diulangi Yesus dalam Perjanjian Baru (Matius 5:28), juga Paulus dalam Galatia 5:16,17; 24, yang disebut sebagai "keinginan daging".

    8. Dosa berakar dari kesombongan

      Akar dosa adalah kesombongan. Berawal dari kejatuhan malaikat yang kemudian menjadi setan, setan pun menggoda Hawa supaya memiliki kesombongan yang sama dengannya (Kejadian 3:5). Kesombongan merupakan dosa yang mendasari semua dosa lain karena pada dasarnya dosa berarti keinginan untuk mandiri dan menolak untuk mengakui ketergantungan total kepada Allah.

    9. Dosa biasanya berkedok

      Manusia adalah makhluk yang rasional sehingga dalam hidupnya, manusia selalu mencoba merasionalkan segala tindakan yang berdosa, agar dapat dilanggar dengan tanpa perasaan bersalah.

      1. Dosa selalu dilakukan untuk suatu alasan yang "baik".
      2. Kesulitan manusia untuk mengenali dosa sendiri, sebab manusia lebih mudah melihat dosa orang lain daripada dosanya sendiri (Matius 7:3).
      3. Cenderung ditutup-tutupi.
  3. Sifat Universalitas Dosa

    Baik orang Kristen maupun bukan Kristen menyadari bahwa dosa memiliki sifat yang universal. Sebab, setiap orang baik secara sadar atau tidak sadar mengakui kenyataan bahwa manusia selalu bergumul dengan kejahatan moral di dalam dirinya. Bagi orang Kristen, sifat universalitas dosa ini sangat jelas karena Alkitab menyatakan hal itu berkali-kali. Ada empat relasi universalitas dosa yang dapat dijelaskan, yaitu relasi dengan diri sendiri, orang lain, setan, dan dengan Allah.

    1. Relasi dengan diri sendiri.

      Dosa sebagai kuasa yang membelenggu. Sejak jatuh dalam dosa, di dalam diri manusia ada kuasa yang mengikat (Bondage of the will) yang mendorong manusia untuk melawan Allah. Disebut sebagai kuasa karena sering kali manusia tidak memiliki kekuatan untuk melawannya sehingga kebebasan manusia menjadi terganggu.

    2. Relasi dengan orang lain.

      Dosa adalah kelakuan yang merugikan. Dosa yang dilakukan di dalam tindakan menjadi perbuatan yang merugikan orang lain, baik secara sadar atau tidak sadar.

    3. Relasi dengan setan.

      Dosa sebagai alat pemersatu dengan setan. Selain dimengerti sebagai suatu kuasa dan kelakuan, dosa juga sebagai alat yang dipakai untuk mempersatukan manusia dengan setan.

    4. Relasi dengan Allah.

      Dosa sebagai sikap melawan Allah. Karena dosa, relasi manusia dengan Allah menjadi rusak. Bahkan lebih dari sekadar rusak, karena manusia menjadi berani melawan Allah. Namun, justru terhadap setan manusia menjadi begitu lemah.

  4. Macam-macam Dosa

    1. "Tujuh dosa maut" menurut Billy Graham berdasarkan klasifikasi kuno.
      1. Kesombongan
      2. Ketamakan
      3. Nafsu yang terlarang dan tak terkendali
      4. Iri hati
      5. Kerakusan
      6. Kemarahan
      7. Kemalasan
    2. Dosa dalam Perjanjian Baru
      1. Menajiskan tempat Kudus (Markus 11:15-18).
      2. Kemunafikan (Matius 23:1-36).
      3. Ketamakan (Lukas 12:15).
      4. Menghujat (Matius 12:22-37).
      5. Melanggar Hukum (Matius 15:3-6).
      6. Kesombongan (Matius 20:20-28; Lukas 7:14).
      7. Menjadi batu sandungan (Matius 18:6).
      8. Ketidaksetiaan (Matius 8:19-22).
      9. Ketidaksopanan dan pelanggaran susila (Matius 5:27-32).
      10. Tidak berbuah (Yohanes 15:16).
      11. Amarah (Matius 5:22).
      12. Ucapan yang berdosa (Matius 5:33; 12:36).
      13. Pamer diri (Matius 6:1-18).
      14. Kurang beriman (Matius 6:25; Roma 13).
      15. Sikap tidak bertanggung jawab dalam pelayanan (Matius 25:14-30; Lukas 19:11-27).
      16. Kurang berdoa (Lukas 18:1-8).
      17. Bebal (Amsal 24:9).
      18. Kecongkakan (Amsal 21:4).
      19. Tidak benar dan tidak adil (1 Yohanes 5:17).
      20. Tahu yang baik tetapi tidak menjalankan (Yakobus 4:17).
      21. Melanggar atau melampaui tuntutan Taurat (1 Yohanes 3:4).
    3. Dosa menurut pembedaannnya.
      1. Pembedaan antara dosa-dosa roh dan dosa-dosa daging.
      2. Pembedaan dosa berdasarkan derajat pengetahuan yang berbeda.
      3. Pembedaan dosa yang disengaja dan tidak disengaja.
      4. Pembedaan dosa berdasarkan sejauh mana seseorang menyerah kepada dosa.
      5. Pembedaan antara dosa yang dapat diampuni dan yang tidak dapat diampuni.
      6. Pembedaan antara dosa yang membawa maut dan yang tidak membawa maut.
      7. Pembedaan antara dosa kecil dan dosa besar/lebih besar.
  5. Transmisi dan Hukuman Dosa
    1. Transmisi Dosa

      Dengan cara bagaimanakah dosa Adam diturunkan kepada kita? Dosa Adam tidak diturunkan kepada keturunannya karena proses peniruan. Adam adalah kepala umat manusia sekaligus menjadi wakil manusia. Ketika ia berdosa, semua manusia tercakup di dalam kesalahan akibat dosa dan di dalam penghukuman akibat dosa (imputasi/dicangkokan). Oleh karena itu, semua orang yang lahir kemudian setelah Adam, dalam keadaan rusak. Kerusakan itu diturunkan kepada manusia melalui orang tuanya. Namun demikian, Alkitab tidak memberikan penjelasan yang gamblang tentang bagaimana hal itu terjadi. Namun, satu hal yang kita tahu, bahwa dosa Adam adalah dosa kita karena kita semua adalah keturunan Adam. Dosa yang berasal dari Adam membuka kesempatan bagi iblis untuk bekerja secara leluasa karena natur manusia sudah rusak/tercemar.

    2. Hukuman Dosa

      Hukuman ialah kesusahan atau kesakitan yang diberikan oleh pribadi yang memberi hukuman kepada orang yang telah melanggar hukum itu. Maksud yang terutama dari hukuman terhadap dosa, bukan untuk memperbaiki orang yang dihukum, dan bukan untuk menakut-nakuti orang-orang supaya jangan berbuat dosa, melainkan supaya kesucian Allah dibenarkan.

      Allah adalah Allah yang adil, dan dosa adalah hal yang sangat serius bagi Allah. Oleh karena itu, dosa yang dilakukan manusia akan mendapat hukuman. Selain itu, Allah tidak dapat membiarkan dosa karena dosa merupakan tindakan agresif manusia untuk melawan dan membenci Allah (Keluaran 20:5).

      Hukuman yang merupakan akibat langsung bagi orang berdosa adalah hukuman yang menimpa tubuh, jiwa, dan roh orang berdosa pada waktu sekarang. Apa maksud kalimat ini? Umpamanya, seorang bapa telah melarang anaknya memanjat pohon untuk mencegah agar anaknya tidak jatuh. Namun, anak itu tetap naik juga. Kemudian, ia jatuh dan lengannya patah. Setelah anak itu sembuh, bapanya memberi hukuman kepadanya. Hukuman sebagai akibat langsung adalah patah lengan, dan hukuman yang sudah ditentukan sebagai undang-undang ialah hukuman dari bapanya. Hukuman yang langsung sebagai akibat dari perbuatan dosa merupakan sebagian dari hukuman dosa, tetapi bukan merupakan hukuman yang pasti. Dalam tiap-tiap hukuman terdapat juga murka Allah. Orang-orang yang berpikir bahwa hanya ada hukuman langsung sebagai akibat dari perbuatan dosanya, maka orang itu lupa bahwa Allah berada dalam alam ini dan berkuasa atas segala-galanya.

      1. Hukuman dosa asal.

        Alkitab mengatakan dengan jelas bahwa hukuman atas dosa adalah "maut" (kematian). Kematian yang disebut dalam Kejadian 2:17 sebenarnya memiliki tiga pengertian, yaitu:

        1. Kematian jasmani (Terpisahnya tubuh fisik dengan roh dan jiwa).
        2. Kematian rohani (Terpisahnya roh manusia dengan Roh Allah).
        3. Kematian kekal (Terpisah dengan Allah untuk selama-lamanya).
      2. Hukuman dosa perbuatan bagi orang Kristen.

        Adapun beberapa hukuman dari perbuatan dosa manusia adalah sebagai berikut:

        1. Hati nurani menjadi gelisah
        2. Penderitaan badani sebagai konsekuensi langsung dari tindakannya
        3. Penderitaan sebagai konsekuensi penghakiman manusia
        4. Perpecahan hubungan dengan sesama
        5. Hubungan dengan Allah menjadi terhalang
        6. Berkat-berkat Tuhan menjadi tertunda
      3. Tujuan Allah memberikan hukuman atas dosa perbuatan manusia.

        Secara umum kita melihat ada tiga tujuan penghukuman yang diberikan oleh Allah kepada manusia, yaitu:

        1. Untuk membuktikan keadilan dan kebenaran Allah.
        2. Untuk membuat manusia jera sehingga berhenti berbuat dosa.
        3. Untuk mengajar manusia agar kembali kepada Allah.
      4. Hukuman dosa bukan berarti bahwa roh dan jiwa lenyap.

        Semua roh manusia akan hidup selama-lamanya walaupun ia tidak mengenal Yesus Kristus. Itu artinya, bukan hanya orang yang percaya kepada Kristus saja yang akan hidup selama-lamanya, melainkan semua orang. Perkataan yang diterjemahkan dengan arti "tidak binasa" ditulis enam kali di dalam Perjanjian Baru. Tiga kali perkataan itu berarti "tidak binasa" (Roma 2:1; I Timotius 1:17), dan tiga kali berarti "tidak ada kematian" (I Korintus 15:53,54; I Timotius 6:16). Di dalam Perjanjian Baru, pemakaian istilah "binasa" bukan berarti benda atau orang itu dilenyapkan, namun lebih kepada pengertian "sudah rusak", atau "tidak dapat dipakai lagi untuk maksud yang semula." Misalnya, dalam Matius 9:17 terdapat perkataan "kantong itu pun hancur". Itu bukan berarti kantong kulit itu dilenyapkan, melainkan tidak dapat dipakai lagi untuk maksud yang semula. Oleh karena itu, jelas sekali bahwa hukuman dosa (kebinasaan) bukan berarti roh atau jiwa manusia dilenyapkan, melainkan hidup selama-lamanya dalam keadaan binasa dan dihukum.


Akhir Pelajaran (MDD-P03)

DOA

"Aku sangat bersyukur atas kasih dan kemurahan Tuhan atas kesempatan yang diberikan kepadaku untuk menerima anugerah hidup yang kekal, sebagai manusia yang berdosa aku sadar bahwa tanpa Yesus mati di kayu salib untuk menjadi tebusan, aku pasti akan binasa. Berikan aku kekuatan agar dapat membagikan anugerah rohani ini kepada orang lain." Amin.

Taxonomy upgrade extras: