KELUARGA KUDUS DI MESIR

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Ketika mengikuti perjalanan ke Holy Land, rute yang ditempuh adalah mulai dari Mesir, kemudian menuju ke Israel dan dilanjutkan ke Yordania. Ketika sampai di Kairo Mesir, kita disambut oleh pemandu wisata lokal yang fasih berbahasa Indonesia. Dia pemandu wisata senior dibantu oleh seorang pemandu wisata yunior yang juga mahir berbahasa Indonesia.

Karena mereka orang Mesir dan sehari-hari berbahasa Arab, kita berpikir bahwa mereka orang muslim. Ternyata dugaan kita keliru! Mereka adalah orang Kristen mula-mula dari gereja Kristen disebarkan oleh Para Rasul.

Pemandu wisata kami menjelaskan, ketika agama Kristen berkembang pesat sampai abad ke-5, ada lima pusat gereja besar yaitu Yerusalem, Antiokia, Aleksandria, Konstantinopel, dan Roma. Mereka dipimpin oleh para Uskup yang disebut sebagai Patriarkat (Bapa-bapa gereja). Mereka semua adalah para Bapa Gereja Kristen (Kisah Rasul 11:26). Adapun Alexandria adalah sebuah kota pelabuhan di Mesir, menghadap laut Mediterania berjarak 220 kilometer sebelah utara ibu kota Kairo.

(Kisah Rasul 11:26) – “Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.”

Kemudian ketika konsili Konsili Efesus (tahun 431 menyatakan status Perawan Maria sebagai Theotokos (Bunda Allah), maka sebagian besar patriarkat gereja menolak kecuali gereja Kristen di Roma - yang kemudian berkembang pesat menjadi gereja Roma Katolik karena dijadikan agama negara.

GEREJA KRISTEN ORTODOX KOPTIK

Gereja-gereja yang tetap mempertahankan tradisi kekristenan menyebut dirinya sebagai Kristen Ortodox. Gereja-gereja Kristen Ortodox ini masih ada sampai sekarang, dan bukan merupakan “reformasi” dari gereja Katolik seperti yang dilakukan oleh Marthin Luther pada abad 16 yang melahirkan gereja Kristen Protestan dan berbagai bentuk gereja Kristen di masa-masa sesudahnya.

Gereja-gereja Kristen Ortodox tetap ada sampai sekarang di wilayah Eropa Timur dan Rusia (keuskupan Konstatinopel), di wilayah Persia (Keuskupan Antiokia) dan di wilayah Mesir (Keuskupan Aleksandria). Sedangkan gereja Kristen Ortodox di Mesir disebut sebagai gereja Koptik Mesir.

Gereja Ortodox Koptik Alexandria adalah nama resmi gereja Kristen terbesar di Mesir dan Timur Tengah. Menurut tradisi, gereja didirikan oleh Santo Markus, rasul Kristus dan penginjil, di sekitar tahun 42 M. Santo Markus sebagai Bapa gereja berkedudukan di Alexandria, adalah Paus Alexandria dan merupakan Bapa Gereja (Patriarkat) dari seluruh Afrika.

Menurut pemandu wisata kami, di Mesir agama Kristen Ortodox Koptik adalah agama yang diakui oleh negara, dengan jumlah pemeluk 15 persen. Jika penduduk Mesir pada tahun 2018 berjumlah sekitar 97 juta, maka penganut Kristen Ortodox Koptik mencapai 14,6 juta orang, jauh lebih banyak dari penduduk seluruh negara Israel yang hanya berjumlah 8,8 juta orang - di mana sangat sulit dijumpai orang Israel Yahudi yang beragama Kristen. Yang Bergama Kristen di Israel, percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, umumnya adalah orang Israel Arab atau orang Palestina.

Selain ahli dalam menjelaskan sejarah gereja dan situs arkeologis yang berkaitan dengan sejarah di dalam Alkitab, pemandu wisata kami ternyata juga sangat fasih menyanyikan lagu-lagu pujian dan penyembahan Bahasa Indonesia. Jadi selama dalam bus di sepanjang perjalanan, dengan iringan gitar, kita semua termasuk pemandu wisata bersukacita bersama-sama memuji dan memuliakan Tuhan. Puji Tuhan!

Adapun mengenai perjalanan rohani di Mesir, dalam benak saya, Mesir identik dengan piramid, di mana bangsa Israel mengalami perbudakan selama 430 tahun, kemudian laut Merah yang dibelah oleh Tuhan melalui uluran tongkat Musa, gunung Sinai tempat Musa menerima 10 perintah Allah dan padang gurun Sinai tempat bangsa Israel menghabiskan 40 tahun masa pengembaraan sebelum diijinkan masuk ke Tanah Perjanjian. Semua itu berhubungan dengan sejarah di Kitab Perjanjian Lama.

(Keluaran 12:40,41) – “Lamanya orang Israel diam di Mesir adalah empat ratus tiga puluh tahun. Sesudah lewat empat ratus tiga puluh tahun, tepat pada hari itu juga, keluarlah segala pasukan TUHAN dari tanah Mesir.”

KELUARGA KUDUS

Ternyata situs rohani sejarah Alkitab yang ada di Mesir jauh lebih banyak daripada situs sejarah bangsa Israel di kitab Perjanjian Lama. Gereja Koptik di Mesir merawat banyak sekali situs sejarah Alkitab justru yang berkaitan dengan kitab Perjanjian Baru, yaitu : perjalanan Keluarga Kudus di Mesir! (Keluarga Kudus : Bapa Yusuf, Bunda Maria, Bayi Tuhan Yesus).

Sampai sebelum hari perjalanan rohani ke Mesir, saya berpikir bahwa Keluarga Kudus hanya mengungsi ke Mesir beberapa waktu saja sesuai peringatan yang disampaikan oleh malaikat Tuhan kepada bapa Yusuf - bahwa Herodes akan membunuh bayi Tuhan Yesus. Setelah raja Herodes mati, maka Keluarga Kudus kembali ke Nazaret. Hanya itu yang ada di kitab Injil Matius 2:13-23.

(Matius 2:13-15) - Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia." Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku."

Ternyata yang terjadi tidak semudah itu, karena malaikat Tuhan dengan jelas menyebutkan bahwa : “Herodes akan MENCARI Anak itu untuk MEMBUNUH Dia.”

Herodes adalah raja yang sangat paranoid dalam mempertahankan kekuasaannya. Bahkan dia membunuh 3 putra (Aleksander, Aristobulus dan Antipater) dan istrinya sendiri, karena dicurigai hendak menggulingkan tahtanya. Dengan sifat paranoid dan kejam seperti itu, raja Herodes seumur hidupnya pasti tidak akan berhenti mencari bayi Sang Raja untuk membunuh Dia.

Betlehem tempat bayi Tuhan Yesus dilahirkan adalah desa kecil di sebelah selatan istana Herodes di Yerusalem, melalui jalan Hebron hanya sekitar 9 kilometer saja. Pada saat itu penduduknya hanya sekitar 1.000 sampai 2.000 jiwa saja sehingga bayi laki-laki yang terbunuh hanya sekitar 20 anak saja.

Setelah pembantaian dilakukan, Herodes meminta laporan terperinci mengenai keadaan bayi-bayi yang berhasil dibunuh, dan dia mendapati bahwa bayi Sang Raja yang dia incar sudah pergi mengungsi dari Betlehem.

Sebagai seorang raja yang paranoid dan kejam Herodes memiliki banyak mata-mata di seluruh wilayahnya, apalagi di wilayah seputar kerajaannya di Yerusalem. Mereka mengirimkan laporan kepada raja Herodes bahwa pada malam sebelum pembantaian bayi, ada satu keluarga yang bergegas pergi menyelamatkan diri ke arah Mesir!

(Matius 2:14) - "Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya MALAM ITU JUGA, lalu menyingkir ke Mesir"

PERBURUAN OLEH PASUKAN PEMBUNUH RAJA

Mendengar kabar itu, raja Herodes mengirimkan pasukan pembunuh untuk mencari dan membunuh bayi Sang Raja di mana pun dia berada.

Tradisi mengejar dan membunuh orang yang dicari sampai ke Mesir adalah hal biasa dilakukan oleh raja-raja Israel pada masa itu. Alkitab mencatat bahwa raja Yoyakim memerintahkan perburuan nabi Uria bin Semaya yang mengungsi ke Mesir setelah menubuatkan kehancuran dan pembuangan kerajaan Yehuda pada masa Yeremia. Nabi Uria bin Semaya ditangkap di Mesir, dibawa kembali ke kerajaan Yehuda, dibunuh dan mayatnya dilemparkan ke kuburan rakyat biasa (Yeremia 26:20-23).

Raja Herodes juga melakukan hal yang sama, yaitu memerintahkan pasukannya untuk mencari dan membunuh bayi Sang Raja, di sepanjang masa hidupnya! Itu artinya bahwa selama raja Herodes masih hidup, Keluarga Kudus harus terus lari dan bersembunyi untuk menghindari kejaran pasukan pembunuh yang dikirimkan raja.

Sampai di sini saya baru menyadari, betapa berbahayanya hidup Keluarga Kudus pada masa hidup raja Herodes. Mereka harus terus berlari dari satu tempat ke tempat lain untuk menyembunyikan diri. Dan Puji Tuhan, mereka tidak menghadapi pengejaran yang tidak berbelas kasihan ini dengan kekuatan manusia, tetapi setiap waktu malaikat Tuhan menampakkan diri kepada bapa Yusuf dalam mimpi untuk memimpin langkah pelarian mereka di Mesir dari satu tempat ke tempat lain.

PERJALANAN KELUARGA KUDUS DI MESIR

Malaikat Tuhan memimpin perjalanan Keluarga Kudus menjelajah dan bersembunyi di Mesir bukan melalui jalan-jalan biasa tetapi melalui tempat-tempat sepi, padang-padang gurun, gunung-gunung, gua-gua dan juga melalui sungai Nil. Jalan yang berliku-liku dan terpencil yang membuat Keluarga Kudus tidak bisa ditemukan oleh pasukan pembunuh raja Herodes.

Detail rincian peta perjalanan Keluarga Kudus di Mesir dicatat dan dilestarikan dalam Mimar (manuskrip) oleh Paus Theophilus, Patriarkat ke-23 dari Alexandria (tahun 384-412). Sumber informasi yang lain ditulis oleh para ahli sejarah dan filsuf Yunani dan Yahudi pada abad ke-2 dan ke-3.

Gereja Koptik Alexandria mencatat perjalanan Keluarga Kudus di seluruh daerah Mesir memakan waktu selama 3,5 tahun, dengan jarak tempuh perjalanan dari Betlehem ke Mesir sampai pulang ke Nazaret sejauh 2,000 kilometer! Kalau jarak Jakarta ke Surabaya adalah 795 kilometer, maka Keluarga Kudus telah menempuh perjalanan Jakarta Surabaya sebanyak 2,5 kali. Seluruh perjalanan itu dilakukan bapa Yusuf dengan berjalan kaki, menuntun keledai yang ditunggangi bunda Maria sambil menggendong bayi Tuhan Yesus!

Ada 25 tempat perhentian Keluarga Kudus di seluruh Mesir yang dilestarikan sampai sekarang, didirikan gereja-gereja Koptik maupun biara untuk memperingati dan merayakan kedatangan Keluarga Kudus di Mesir. Gereja-gereja Koptik ini dianggap yang tertua dan paling suci di antara semua gereja Kristen mula-mula.

MUJIZAT DI TANAH MESIR

Tradisi gereja Koptik Mesir mencatat dengan detail setiap tempat perhentian Keluarga Kudus dan kejadian serta mujizat yang menyertainya. Jemaat gereja Koptik Mesir sangat menghargai kehadiran Keluarga Kudus yang menjadi berkat bagi seluruh tanah Mesir. Mereka menyebut bahwa tanah Mesir diberkati oleh Tuhan karena sudah dilalui dan diberkati oleh Keluarga Kudus.

Ketika berkunjung ke gereja-gereja yang didirikan di atas gua-gua tempat persinggahan Keluarga Kudus, saya melihat bahwa selalu ada SUMUR, dan sekarang ini diutup dengan kaca yang tebal. Kaca itu semuanya basah mengembun, artinya bahwa semua sumur itu masih hidup sampai sekarang ini. Ternyata sumur itu adalah mata air yang selalu muncul ketika Keluarga Kudus singgah dan berlindung di satu tempat, baik itu di dalam gua atau di bawah pohon-pohon yang memberikan pernaungan.

Kita harus ingat bahwa Mesir adalah negara padang pasir, di mana sumber air yang utama hanyalah dari sungai Nil - dan mata air sulit untuk dijumpai, apalagi di dalam gua-gua. Kedatangan Keluarga Kudus membuat tanah yang tandus menjadi hidup dan subur dengan selalu keluarnya mata air-mata air yang segar dengan air yang manis. Pemandu wisata kami selalu menekankan mengenai rasa “air yang manis” dari setiap mata air di tempat persinggahan Keluarga Kudus. Luar biasa sekali!

Bukan hanya selalu muncul mata air, tetapi di dalam Keluarga Kudus ada Bayi Tuhan yang penuh kekudusan dan kemuliaan surgawi. Pada masa bayi Tuhan Yesus, tanah Mesir dipenuhi dengan patung-patung penyembahan berhala. Ketika Keluarga Kudus lewat, semua patung-patung berhala itu runtuh, hancur, jatuh berserakan di tanah di depan kaki Keluarga Kudus. Peristiwa ini sama dengan yang terjadi terhadap patung berhala dewa Dagon di kuil orang Filistin yang hancur dan kepalanya tergeletak di hadapan tabut Tuhan dalam kitab 1 Samuel 5:4. Ini menjadi kegentaran bagi semua orang di setiap tempat yang dilalui oleh Keluarga Kudus.

(1 Samuel 5:4) - "Tetapi ketika keesokan harinya mereka bangun pagi-pagi, tampaklah Dagon terjatuh dengan mukanya ke tanah di hadapan tabut TUHAN, tetapi kepala Dagon dan kedua belah tangannya terpenggal dan terpelanting ke ambang pintu, hanya badan Dagon itu yang masih tinggal."

Di salah satu jalan kecil di distrik el-Matarya (Jalan Eid / Jalan Shek El-Te'eban) di Kairo, semua jenis roti tidak bisa diragi (roti tidak bisa mengembang) sampai hari ini, karena ketika Keluarga Kudus pertama kali mengunjungi tempat itu pada 2000 tahun yang lalu, mereka tidak diberi roti dan diusir pergi. Ini adalah mukjizat yang masih terus terjadi yang dapat disaksikan oleh siapapun sampai hari ini. Sementara di semua jalan di sekitarnya, berbagai roti bisa diragi dan mengembang dengan baik.

Di Samanout, Keluarga Kudus sedang beristirahat di kaki gunung ketika sebuah batu besar terlepas dan hampir jatuh pada mereka. Kanak-kanak Tuhan Yesus mengulurkan tangannya dan menghentikan batu itu. Sampai hari ini, cetakan tangan anak kecil dapat dilihat di batu itu.

Melewati kota-kota lain, Keluarga Kudus berjalan ke kaki Gunung Qusqom di daerah yang sekarang disebut El-Muharrak, 300 kilometer sebelah selatan kota Kairo. Di sana mereka tinggal di sebuah gua selama sekitar enam bulan. Sebuah gereja mula-mula dibangun di atas situs ini seratus tahun setelah kunjungan Keluarga Kudus. Batu tempat kanak-kanak Tuhan Yesus berbaring dibuat menjadi altar. Di dalam gua ini juga, bapa Yusuf menerima kabar dari malaikat Tuhan untuk kembali ke Israel karena raja Herodes yang memburu mereka sudah mati (abad 4 SM).

(Matius 2:19-21) - Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir, katanya: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu, sudah mati." Lalu Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya dan pergi ke tanah Israel.

---

Keluarga Kudus tinggal di Mesir selama tiga setengah tahun. Itu bukan merupakan perjalanan yang mudah, tetapi Keluarga Kudus menjalani semua tantangan dengan sukacita, karena mereka tahu bahwa Tuhanlah yang membimbing dan melindungi mereka. Dan dengan demikian nubuat para nabi digenapi:
- (Yesaya 19:1) “Lihat, TUHAN mengendarai awan yang cepat dan datang ke Mesir, maka berhala-berhala Mesir gemetar di hadapan-Nya, dan hati orang Mesir, merana hancur dalam diri mereka."
- (Yesaya 19:19) “Pada waktu itu akan ada mezbah bagi TUHAN di tengah-tengah tanah Mesir dan tugu peringatan bagi TUHAN pada perbatasannya.”
- (Hosea 11:1) “Mesir Kupanggil anak-Ku itu.”
Dengan mengirimkan Keluarga Kudus, maka Mesir diberkati oleh Tuhan: (Yesaya 19:25) "Diberkatilah Mesir, umat-Ku"

Pada mulanya, ke manapun Keluarga Kudus pergi maka berbagai mukjizat terjadi: patung-patung dewa berhala runtuh, mata air tiba-tiba muncul, jejak kaki anak kecil tercetak di batu-batu, kesembuhan terjadi di mana pun mereka berada. Orang-orang di semua tempat mengingat berbagai peristiwa yang menakjubkan ini dan menceritakan kepada anak-anak mereka. Semua tempat itu dikenal sebagai tempat kudus dan menjadi semakin terkenal ketika Santo Markus menyebarkan iman Kristen ke Mesir. Tiba-tiba semua orang menjadi jelas mengenai siapa pengunjung misterius yang pernah datang ke tempat itu yang meninggalkan berbagai keajaiban dan mujizat.

Kemudian gereja-gereja kecil dibangun di atas tempat-tempat ini untuk memperingati persinggahan Keluarga Kudus. Dan selanjutnya gereja-gereja yang lebih besar dibangun di atasnya dan di beberapa tempat, biara dibangun di daerah tersebut. Perjalanan Keluarga Kudus ke Mesir diperingati oleh Gereja Ortodox pada setiap tanggal 26 Desember.

Setelah perjalanan rohani ke Mesir, saya bisa memahami mengapa bunda Maria pada peristiwa perkawinan di Kana, ketika kekurangan anggur, bisa langsung berkata kepada Tuhan Yesus "Mereka kehabisan anggur,” dan kepada para pelayan, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!" (Yohanes 2:3,5). Karena bunda Maria tahu benar, bahwa Puteranya berkuasa untuk melakukan segala perbuatan ajaib semenjak masih kanak-kanak selama tiga setengah tahun pada masa pengembaraan di tanah Mesir.

BERKAT MELALUI MESIR

Di Perjanjian Lama, Mesir memiliki sejarah menentang Tuhan. Dibutuhkan sepuluh tulah dan bencana Laut Merah atas tantara Mesir sebelum umat Israel dapat pergi. Tapi Tuhan tahu bahwa orang-orang Mesir itu hatinya baik, dan dengan mengirimkan AnakNya ke sana Allah Bapa menunjukkan kesediaanNya untuk mengampuni mereka.

Tuhan memanggil Musa keluar dari Mesir untuk memimpin umatNya ke Tanah Perjanjian. Dengan cara yang sama di masa Perjanjian Baru Tuhan memanggil AnakNya Tuhan Yesus keluar dari Mesir untuk memimpin umatNya, semua orang yang percaya kepadaNya, masuk ke Tanah Perjanjian Abadi.

Mesir yang sebelumnya menjadi kutuk bagi umat pilihan, bangsa Israel, karena sudah memperbudak selama 430 tahun, kemudian menjadi berkat bagi bangsa-bangsa dengan kehadiran Keluarga Kudus. Ini sama seperti hati kita yang telah berdosa dan menentang kasih Tuhan, tetapi ketika menerima Tuhan Yesus masuk dan bertahta di hati dan hidup kita, maka Tuhan mengampuni dan mengubah hidup kita dari kutuk menjadi berkat, bagi banyak orang bahkan bagi bangsa-bangsa.

(Yesaya 43:25) - "Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu."

Tetap semangat di dalam Firman Tuhan dan Langkah Iman.

GBU
(Indriatmo)

* * * * *