DRK-Referensi 03b

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading
Nama Kursus : Doktrin Roh Kudus
Nama Pelajaran : Karya Roh Kudus Bagi Orang Percaya
Kode Pelajaran : DRK-R03b

Referensi DRK-R03b diambil dari:

Judul Buku : Baptisan dan Karunia Roh Kudus
Judul artikel : Karunia Roh Kudus
Pengarang : Stephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1996
Halaman : 85 - 91

KARUNIA ROH KUDUS

  1. Baptisan Roh Kudus dan Hidup Baru

  2. Kita telah membicarakan hal-hal penting tentang tujuh pemunculan istilah atau pengertian "Baptisan Roh Kudus" (turunnya Roh Kudus), yang merupakan pengudusan atau baptisan yang dilakukan oleh Kristus dengan Roh Kudus untuk memasukkan orang percaya ke dalam Gereja yang 'am' (1 Korintus 12:13). Secara hakekat, hal itu telah terjadi, tetapi secara pribadi, setiap orang percaya perlu mengalami pengalaman di dalam sejarah hidupnya yaitu bahwa ia dibaptiskan dengan Roh Kudus, sehingga Alkitab mengatakan bahwa ada empat tahap Roh Kudus turun kepada orang-orang yang berbeda sebagai wakil Roh Kudus turun ke atas semua orang percaya.

    Ketika Allah mengaruniakan Roh Kudus turun ke atas Gereja-Nya, maka Roh Kudus mengaruniakan karunia-karunia-Nya bagi Gereja. Dan ungkapan ini terlihat adanya dua tahap karunia, yaitu: 'pertama', Roh Kudus itu sendiri merupakan karunia Allah kepada Gereja-Nya dan 'kedua', Roh Kudus itu kemudian memberikan karunia-karunia-Nya kepada Gereja untuk saling melayani dan menum buhkan tubuh Kristus agar dapat menjadi mahir dan dewasa, sehingga akhirnya akan mempermuliakan Tuhan Allah.

    Roh Kudus adalah Oknum Ketiga Allah Tritunggal yang dikaruniakan kepada Gereja. Jika kita menanyakan apakah karunia Allah terbesar bagi dunia, maka jawabnya adalah Yesus Kristus, sebagai Oknum Kedua Allah Tritunggal. Allah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal untuk menjadi Penebus bagi manusia berdosa. Inilah karunia terbesar bagi dunia ini. Tetapi apabila ditanya apakah karunia Allah yang terbesar bagi Gereja, maka jawabnya adalah Roh Kudus, Oknum Ketiga Allah Tritunggal. Allah Bapa mengirimkan Anak-Nya demi menggenapi keselamatan bagi umat yang telah di pilih-Nya sebelum dunia diciptakan. Maka apa yang telah terjadi dan digenapkan di dalam rencana penetapan Allah yang kekal "eternal decree" diwujudkan di dalam proses sejarah yang berlangsung. Penetapan Allah memang tidak pernah berubah, tetapi penetapan itu tidak akan terwujud apabila Kristus tidak turun ke dalam dunia. Maka Kristus datang untuk menggenapi dan melaksanakan apa yang sudah dipilih dan ditetapkan di dalam rencana kekal Allah di dalam proses dinamis sejarah manusia "the dynamic process of history." Dengan tahapan-tahapan di dalam proses dinamis sejarah ini, Kristus mengalami dilahirkan, hidup suci di tengah-tengah segala pencobaan dan akhirnya dibunuh dan digantung di atas kayu salib, lalu dikuburkan dan bangkit pada hari ketiga, lalu naik ke sorga. Semua tahap ini merupakan tahap-tahap yang sangat penting di dalam penggenapan rencana keselamatan Allah.

    Sesudah Kristus naik ke sorga, Roh Kudus turun. Hari pertama Roh Kudus turun merupakan hari jadi Gereja untuk segala zaman dan seluruh orang yang dipilih. Inilah tubuh Kristus yang sekaligus menjadi mempelai Kristus. Setelah itu barulah penginjilan dilakukan seturut apa yang telah direncanakan Allah Bapa, digenapi oleh Allah Anak, dan disodorkan dengan kuasa Roh Kudus kepada orang percaya. Tahap ini mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi. Inilah tahapan yang telah ditetapkan oleh Tuhan.

    Sekarang ini, kita yang berada di Indonesia dapat mendengar Injil, yang dijanjikan, yang dikonfirmasikan dan disertai oleh Roh Kudus, juga merupakan bagian dari tahapan yang ditetapkan oleh Tuhan sejak dunia belum diciptakan. Tahapan penginjilan secara global di dalam sejarah manusia ini diwakili oleh empat peristiwa turunnya Roh Kudus seturut Kisah Para Rasul 1:8.

    Roh Kudus dikirim ke dalam dunia berkaitan dengan beberapa hal yang sangat penting:

    1. Suka Memberitakan Injil

    2. Roh Kudus turun untuk menguatkan orang memberitakan Injil. Turunnya Roh Kudus tidak boleh dipisahkan dari penginjilan. Hal ini seturut dengan penegasan Yesus sendiri berkenaan dengan turunnya Roh Kudus (Kisah Para Rasul 1:5-8). Maka dikirimnya Roh Kudus harus dikaitkan dengan pengabaran Injil. Gereja-gereja yang mengabaikan dan tidak menjalankan pengabaran Injil juga akan selalu mengabaikan dan merasa tidak memerlukan Roh Kudus. Gereja yang tidak dipenuhi Roh Kudus sadar bahwa mereka perlu mengabarkan Injil. Gereja yang tidak mengabarkan Injil dan dipenuhi Roh Kudus merupakan gereja yang tidak lagi berfungsi vital sebagai Gereja. Pada suatu hari gereja-gereja demikian pasti akan suam, dingin dan akhirnya akan mati.

    3. Rindu Hidup Suci

    4. Roh Kudus tidak dapat dipisahkan dari hidup suci, karena Roh Kudus adalah Roh yang suci. Ia datang ke dalam dunia, menyodorkan keselamatan kepada manusia dengan menyadarkan manusia akan dosa, keadilan dan penghakiman Tuhan Allah (Yohanes 16:8-11). Maka orang yang menerima pekerjaan Roh Kudus, pasti akan sadar dari dosa yang telah melawan dan tidak beriman kepada Kristus. Ia juga akan menyadari bahwa Kristus yang suci, benar-benar adil, berlawanan dengan hidupnya sendiri yang berdosa. Kemudian ia sadar bahwa bukan Kristus yang seharusnya dihakimi oleh dunia, tetapi Kristuslah yang akan menjadi hakim atas seluruh dunia ini. Seluruh perbaikan relasi ini hanya mungkin dilakukan oleh Roh Kudus. Roh Kudus bekerja untuk menguduskan orang, sehingga secara otomatis orang-orang demikian akan senang hidup di dalam kesucian. Hal ini merupakan hal yang tidak dapat ditawar atau ditiru. Glosolalia, karunia-karunia dan bakat dapat dipalsukan oleh setan, tetapi hidup suci tidak mungkin dapat ditiru oleh setan. Roh Kudus adalah Roh yang suci. Di mana Roh Kudus diberitakan, di mana kita sungguh-sungguh menuntut dipenuhi oleh Roh Kudus, kita harus sekaligus menuntut hidup kita menjadi hidup yang suci.

    5. Haus akan Kebenaran

    6. Di mana Roh Kudus dicurahkan, pasti akan ada pengertian yang lebih tuntas dan kehausan yang lebih besar akan kebenaran. Ada pengertian yang lebih tepat akan Alkitab, yang juga diwahyukan oleh Roh Kudus. Jadi Roh Kudus dan Kitab Suci tidak dapat dipisahkan. Hal ini tidak dapat ditawar lagi.

      Gereja yang mengalami kepenuhan Roh Kudus; Gereja yang mengalami pembaharuan; harus menjadi Gereja yang lebih mengerti kebenaran firman Tuhan. Itu sebabnya kebangunan rohani yang tidak banyak membicarakan dan tidak membawa manusia kembali kepada pengertian Alkitab yang mendalam dan benar menunjukkan kebangunan yang palsu.

      Itulah alasan mengapa kita perlu bersikap kritis terhadap gerakan-gerakan Pantekosta dan Kharismatik yang ekstrem. Banyak orang Pantekosta dan Kharismatik yang sungguh-sungguh mencintai Tuhan. Tetapi di dalam arus-arus yang ekstrem, banyak orang yang sudah terpengaruh dengan ajaran yang tidak benar, maka kita perlu memberi kritik yang sangat kritis. Mereka seolah-olah menerima wahyu yang baru. Hal ini adalah hal yang sangat fatal. Sebagaimana orang Liberal belajar teologi, tetapi tidak menerima Kitab Suci sebagai wahyu Allah, sehingga mereka kehilangan otoritas kebenaran dalam gereja-gereja mereka, maka orang-orang yang ekstrem dalam gerakan Pantekosta dan Kharismatik merasa mereka telah menerima "wahyu baru", sehingga mereka menyangka menerima sesuatu yang di luar Alkitab atau mengira bahwa Alkitab tidak lebih penting dari wahyu yang mereka terima atau yang mereka alami sendiri. Keadaan seperti ini diungkapkan dalam beberapa hal, seperti pembedaan antara "logos theon" dengan "rhema theon." Kitab Suci dianggap sebagai "logos theon", yaitu firman Tuhan yang dibagikan kepada para rasul dan para nabi, sedangkan ketika kita bersekutu secara pribadi dengan Tuhan, kita akan menerima "rherna theon", yaitu firman Allah yang dibagikan kepada kita secara pribadi. Dengan demikian, orang-orang yang menerima "wahyu baru" selalu menganggap Kitab Suci tidak terlalu penting karena yang lebih penting adalah wahyu yang langsung dari Tuhan.

      Kita mengetahui bahwa yang dinyatakan di dalam Alkitab lebih penting daripada pengalaman kita secara pribadi, tetapi mengapa gerakan-gerakan ekstrem seperti itu selalu tidak membawa pengikutnya kembali menafsirkan Kitab Suci dengan stabil, sehat, sempurna dan bertanggung jawab. Tanpa sadar mereka sedang menganggap bahwa "wahyu baru" yang mereka terima lebih penting daripada Alkitab. Saya sangat gentar, ketika melihat orang-orang yang membaca Alkitab begitu berani mengkritik nabi-nabi dan rasul-rasul dengan semangat, sepertinya mereka lebih besar dari para rasul atau para nabi. Gereja justru didirikan di atas dasar para nabi dan para rasul. Sikap-sikap yang salah itu tanpa sadar akan membawa dampak Saudara merasa lebih besar dari Petrus atau lebih besar dari Paulus. Alkitab memang mencatat kesalahan Daud, kesalahan Petrus, kesalahan orang-orang yang besar di dalam sejarah, seperti Abraham. dan mengatakan bahwa hanya Kristus yang sempurna dan tidak berdosa. Tetapi itu bukan berarti kita lebih besar daripada mereka, sehingga kita dapat sembarangan mengoreksi atau mencari-cari kesalahan mereka untuk menunjukkan bahwa kita mendapatkan wahyu yang lebih tinggi daripada mereka. Semua kesalahan yang dicatat dalam Alkitab hanya menjadi peringatan bagi setiap zaman agar kita waspada, hidup berhati hati dan gentar di hadapan Tuhan.

      Gereja didirikan di atas dasar rasul dan nabi, sehingga rasul dan nabi menjadi pondasi Gereja, di mana Kristus menjadi batu penjurunya. Roh Kudus tidak akan memimpin Gereja untuk menghina Alkitab. Roh Kudus juga tidak akan memimpin orang-orang yang mengaku hamba Tuhan atau kelihatan dipakai secara luar biasa untuk kemudian sembarangan mengkritik Alkitab, karena Kitab Suci diwahyukan untuk menjadi cermin, menjadi dasar pengajaran dan pondasi iman orang Kristen, yang diwahyukan oleh Roh Kudus itu sendiri.