DRK-Referensi 01a

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading
Nama Kursus : Doktrin Roh Kudus
Nama Pelajaran : Roh Kudus Dalam Alkitab
Kode Pelajaran : DRK-R01a

Referensi DRK-R01a diambil dari:

Judul Buku : Ensiklopedi Alkitab Masa Kini "Jilid II"
Judul artikel : Roh Kudus Dalam Alkitab
Pengarang : Tim Penyusun
Penerbit : Yayasan Komunikasi Bina Kasih/ OMF, Jakarta, 1995
Halaman : 318 - 320

REFERENSI PELAJARAN 01a - ROH KUDUS DALAM ALKITAB

ROH KUDUS

Alkitab menyebut Roh Kudus juga Roh Allah, Roh Kebenaran, Roh Tuhan, Roh Yesus, Roh Penghibur. Roh Kudus juga dilambangkan dengan nafas, angin, merpati, jari Allah, api. Kepelbagaian itu membantu untuk menerangkan identitas dan kerja Roh.

Ada yang berpendapat bahwa ajaran Perjanjian Lama (PL) dan ajaran Perjanjian Baru (PB) mengenai pokok ini tak dapat dipersatukan, tapi pendapat itu tidak benar. PL dan PB tidak bertentangan tentang pemeliharaan Allah dan anugerah-Nya, atau tentang tindakan Logos dalam penciptaan dan pekerjaan penyelamatan oleh Anak Allah, atau mengenai Roh Kudus. Bapak dan Anak aktif dalam kedua Kitab Perjanjian itu, dan Roh Kudus bekerja sepanjang zaman. Memang benar, hanya dalam PB terdapat gambaran rinci mengenai aktivitas-Nya. Tapi ajaran Tuhan Yesus dan para rasul sama sekali tidak bertentangan dengan apa yang kita pelajari dari penulis PL.

Karena Allah itu Roh adanya (Yoh 4:24), pemikiran tentang Trinitas berasaskan 'Roh', mengaburkan perbedaan antara Roh, Bapak, dan Anak. Berbicara mengenai Roh sebagai tali kasih antara Bapak dan Anak, atau mendefinisikan Roh sebagai 'tindakan hidup Allah di dunia', memang menekankan kebenaran berharga namun cenderung mengurangi kepribadian Roh, sehingga Ia menjadi tidak lebih dari pengaruh atau kekuatan yang bersifat baik.

Berita PL tentang aktivitas Roh memang lebih mudah diterangkan sebagai aktivitas dari sesuatu yang impersonal - tidak berpribadi - daripada berita PB. Tapi Allah hadir secara pribadi dan berkuasa melalui Roh-Nya, demikian PL dan PB. Dalam PL dan PB ada gerakan dalam pekerjaan Roh Kudus dari yang eksternal ke yang internal - dari yang lahiriah ke yang batiniah, dan dari penerapan atas 'keadaan' ke penerapan atas ' watak'. Ihwal yang ragawi dan amoral menuju ke yang rohani dan moral.

  1. Perjanjian Lama (PL)

  2. Dalam PL dapat dilihat lima segi pekerjaan Roh.

    1. Pekerjaan Roh dalam penciptaan

    2. Roh melayang-layang di atas permukaan air (Kejadian 1:2), membentuk manusia (Kejadian 2:7), mencerahkan langit (Ayub 26:13), memelihara kehidupan binatang, dan membaharui permukaan bumi (Mazmur 104:30). Roh itulah ruakh ('nafas', 'angin') Allah, tenaga dan kekuatan Allah, asas dari kehidupan manusia dalam segala seginya. Manusia - roh, jiwa dan tubuh - terbuka bagi kuasa Roh Allah, belajar mencerminkan Allah. Roh manusia adalah 'pelita Tuhan' (Amsal 20:27) bila berada dalam Roh Tuhan. Bila roh manusia mempunyai hubungan yang benar dengan Roh Allah, maka ia memenuhi kehendak Tuhan atas dirinya. (Dalam PL manusia mempunyai roh atau roh adalah sinonim dari ia mempunyai 'hati' atau ia adalah pribadi.) Sayang, karena dosa, manusia membuat dirinya menjadi pusat hidupnya. Dalam keadaan ini ia merusak kepribadiannya sendiri, tidak menghormati Allah dan menghinakan Roh-Nya. Tapi bila kepribadiannya berpusat pada Roh Allah maka ia mempermuliakan Allah.

    3. Pekerjaan Roh dalam melengkapi manusia bagi pelayanan

    4. Roh datang pada orang yang dipilih Allah untuk tugas tertentu dan menganugerahkan kecakapan untuk mengemban tugas itu, misalnya: keahlian (Keluaran 31:3), kepemimpinan (Hakim-hakim 3:1), kekuatan badani (Hakim-hakim 14:6). Hal itu dibuat-Nya tanpa harus mengubah moral orang itu.

    5. Pekerjaan Roh dalam mengilhami para nabi

    6. Ada kalanya mereka yang fanatik mengatakan diri digerakkan oleh Roh Kudus melakukan hal-hal yang bagi orang-orang lain adalah berlebih-lebihan. Orang-orang lain itu sangat berhati-hati dan lebih mengerti perihal rohani. Akibatnya orang-orang lain itu cenderung memisahkan diri dari kelompok fanatik itu, dan tidak begitu gamblang menyebut diri didiami oleh Roh Kudus (Amos 7:14; Yeremia 31:33; Hosea 9:7). Sementara itu ada pula nabi yang sungguh-sungguh menyadari peranan dan pengaruh Roh Kudus. Karya Roh Kudus dipandang tinggi bobotnya dalam wujud moral, sedangkan kemungkinan bergerak secara spontan dalam hal-hal rohani dan kebebasan melampaui kebiasaan diakui.

      Pada prinsipnya pandangan ini diulangi oleh Yesaya dan Yehezkiel, yang terus terang dan tegas menyamakan Roh Kudus dengan Allah (Yesaya 63:10, 11) dan memberikan dua dari ketiga contoh dalam PL di mana istilah 'Roh Kudus' digunakan.

    7. Pekerjaan Roh Kudus dalam menghasilkan kehidupan bermoral

    8. Bagi pemazmur kehadiran Roh Kudus berarti kehancuran roh manusia dan penyesalan, hati yang bersih, setia dan bahagia. Dalam Mazmur 139:7, Roh Allah disamakan dengan kehadiran-Nya dan keduanya tak dapat dihindari. Pendekatan dan kuasa Allah membuat pemazmur menaikkan permohonan supaya hati nuraninya diselidiki dan ia dipimpin di jalan kekal (ayat 23, 24).

    9. Pekerjaan Roh menubuatkan Mesias

    10. Pemazmur mencatat kehadiran Roh pada zamannya dan beberapa penafsir menganggap itu puncak penyataan Roh dalam PL. Tapi nabi juga merujuk pada pekerjaan Roh pada masa datang, dan tentang itu ada dua acuan. Pertama, nubuat bahwa Roh akan mendiami tokoh mesianis (Yesaya 11:29; 42:1-4; 61:1, 2; bnd Lukas 4:18). Kedua, nubuat tentang kegiatan Roh dalam umat perjanjian Allah umumnya (Yehezkiel 36:26, 27; Yoel 2:28).

      Kurun waktu antar perjanjian (inter-testamental) kurang mengalami kehadiran Roh. Menurut dugaan, dengan penuh kerinduan orang zaman itu menoleh ke belakang, atau dengan sangat berharap memandang ke depan, tapi tidak mengalami sukacita sebagai dampak pekerjaan Roh. Namun beberapa penafsir Gulungan Laut Mati berkata, kuasa Roh Kudus dialami oleh orang Esen dan mungkin juga oleh sekte lain sebelum kedatangan Kristus.

  3. Perjanjian Baru (PB)

  4. PB penuh rujukan pada Roh (Yunani 'pneuma'). Ia disebut dalam tiap kitab kecuali 2 dan 3 Yohanes. Dalam Injil Sinoptik banyak acuan kepada Roh berkaitan dengan peristiwa akbar dalam hidup Yesus, kontras dengan kurangnya ucapan Yesus sendiri mengenai pekerjaan Roh. Ucapan Yesus yang berkaitan dengan Roh hanya lima, dan beberapa sarjana mengatakan hanya satu dari antaranya sebagai asli (Markus 3:29 = Matius 12:31 = Lukas 12:10), yang lainnya dicurigai dengan berbagai alasan. Ini bukanlah tempat untuk membicarakan keberatan itu secara rinci. Cukup mengatakan bahwa seandainya ucapan Kristus tentang Roh ditiadakan, maka tindakan itu sama sekali tidak dapat diterapkan atas rincian kehidupan-Nya yang dicatat penulis Sinoptik. Roh itu berperan serta dalam peristiwa sebelum kelahiran Yesus (Lukas 1:15, 35, 41), pada kelahiran dan peristiwa lain yang segera menyusul (Lukas 2:25-27), baptisan (Matius 3:13-17), pencobaan (Matius 4:1-11), permulaan pelayanan (Lukas 4:14), ucapan pengantar pada awal pelayanan Yesus (Lukas 4:18), pengusiran roh jahat dan pemberian kuasa kepada rasul-Nya untuk membaptis dalam nama Tritunggal termasuk Roh Kudus (Matius 28:19). Hal ini bersama pertimbangan lain, cukup untuk membantah pendapat bahwa dalam 'agama Yesus' peranan Roh lebih sempit dari peranan-Nya dalam 'kepercayaan gereja perdana', dan pendapat bahwa Yesus takut terhadap pengertian yang berlebih-lebihan perihal Roh pada saat itu, sehingga lebih menyukai persekutuan akrab dengan Bapak-Nya. Yohanes 14-16 yang penuh uraian tentang Roh, menerangkan mengapa Yesus kurang menyebut Roh pada permulaan pelayanan-Nya. Roh tak berperan sepenuhnya dalam diri orang percaya dan atas dunia sampai Anak kembali kepada Bapak melalui salib, kebangkitan dan kenaikan. Memang Yesus memiliki Roh dan Roh tersedia bagi Dia (Yohanes 3:34), tapi Roh hanya dapat mendiami murid Yesus (Yohanes 14:17). Dan karena Roh - pada hakikatnya adalah 'diri Kristus', maka peranan langsung Roh tidak terlalu mendesak bagi sedikit orang yang sedang menikmati kehadiran Kristus.

    Kristus sendiri adalah Penasihat, Pembela, Penghibur dan Sumber kekuatan, sehingga selama kehadiran-Nya sepanjang kurun waktu inkarnasi-Nya di bumi ini, peranan penghibur (Parakletos) belum begitu mendesak hingga Kristus kembali ke sorga. Selama Kristus sendiri dapat langsung menjelaskan diri-Nya sendiri, bersaksi dan menyampaikan ajaran-Nya kepada murid-murid-Nya, maka tidak diperlukan Yang lain untuk memberikan pencerahan, bersaksi dan membuat Firman diingat. Tapi bila Yesus meninggalkan mereka, maka penting Bapak mengutus Roh untuk mengambil alih tugas-tugas tersebut terhadap orang-orang percaya, dan juga tugas-tugas selanjutnya yakni menginsafkan dunia akan dosa karena tidak percaya kepada Kristus; akan kebenaran karena Kristus, penjelmaan kebenaran, telah naik kepada Bapak; akan penghakiman karena penguasa dunia dihukum dalam kematian Kristus (Yohanes 16:7-11). Dengan jelas Kristus menyatakan bahwa Roh tidak akan meniadakan karya dan pribadi-Nya, tapi akan menyampaikan dan menata kekayaan anugerah dan karya Kristus (lihat Kisah Para Rasul 1:1, berarti Yesus melanjutkan pekerjaan dan ajaran-Nya melalui Roh-Nya Yang Kudus).

    Dengan demikian tak dapat dikatakan bahwa Yesus menurut Alkitab sengaja mengabaikan atau tidak mengakui pentingnya peranan Roh; atau bahwa bila Ia dicatat menyebut Roh, maka hal itu adalah melulu pengaruh gereja perdana yang memasukkan pengalaman Pentakosta dan post-Pentakosta ke dalam Injil.

    Pernah dikatakan bahwa pada permulaan Injil Yohanes, Yesus menarik perhatian pada Roh yang ada sekarang (Yohanes 3:5-8), tapi dalam bagian terakhir Yesus berbicara mengenai Roh yang akan datang. Dalam hal ini harus diterima keduanya, bukan mempertentangkan yang satu terhadap yang lain. Nubuat Yohanes Pembaptis bahwa Kristus akan membaptis orang dengan Roh dan api, digenapi sebagian dalam hidup-Nya, namun hal ini baru mendapat penggenapan sepenuhnya pada hari Pentakosta.

    Kisah Para Rasul menceritakan 'pencurahan' Roh dan pekerjaan ganda-Nya. Kadang-kadang penekanan terletak pada kekuatan Roh seakan-akan Ia bertindak secara impersonal ('turun ke atas', 'memenuhi'; lihat Kisah Para Rasul 2:1). Kadang-kadang Ia bertindak dengan penampilan berpribadi - personal, lihat Kisah Para Rasul 5:1, di mana Ia dapat dibohongi dan dalam ayat lain Ia membimbing, memilih dan menghibur. Dalam Kisah Para Rasul, Kristus dan Roh terang dibedakan. Perhatikanlah Kisah Para Rasul 8:16 dan 19:1-6, di mana karunia Roh diberikan menyusuli kelahiran baru dan nampaknya dapat dilihat dan didengar. Tapi tidak ada landasan untuk menyimpulkan bahwa kuasa karunia Roh dapat dialami tanpa Kristus. Roh datang kepada orang yang percaya akan janji yang dibuat bagi dan oleh Kristus (acuan PL yang mengacu pada Kisah Para Rasul 2:39, yakni Yesaya 54:13; 57:19; Yoel 2:28-32), dan menantikan penggenapannya - bahwa Roh Kudus datang. Tujuan kedatangan Roh disebut sebagai memperlengkapi saksi-saksi perihal karya akbar Allah dalam Kristus ketika Ia mengerjakan keselamatan di Sion. Janganlah kita mensyukuri Roh demi Roh itu sendiri, tapi demi Kristus. Rasul-rasul dipenuhi oleh Roh, berkhotbah dan melakukan pekerjaan kasih yang ajaib dalam nama Yesus dari Nazaret (Kisah Para Rasul 3:6); Roh menjaga kehormatan Anak dan menolak hormat bagi diri-Nya dan bagi manusia (Yohanes 16: 14).

    Ajaran paling rinci perihal Roh terdapat dalam surat rasuli yang bicara tentang pengalaman jemaat yang dipenuhi oleh Roh. Beberapa sarjana melihat perkembangan kronologis dalam ajaran Paulus mengenai Roh. Menurut mereka dalam Surat Paulus yang paling pertama (I dan 2 Tesalonika), ia sependapat dengan gereja perdana, terutama dalam pengakuan yang kurang kritis mengenai karunia lahiriah dari Roh (karunia lidah, nubuat, 1 Tesalonika 5:19, 20) di samping sifat moral batiniah, kekuatan-kekuatan moral yang dikerjakan oleh Roh (1 Tesalonika 1:5, 6). Tapi dalam Surat Roma, Korintus dan Galatia, Paulus prihatin - demikian para sarjana itu - perihal tuntutan berlebih-lebihan akan Roh dari orang-orang yang menyalahgunakan karunia Roh sehingga merusak keharmonisan gereja. Ia tetap mengklaim dan sadar akan pengalamannya sendiri. dan rekannya tentang 'karunia lahiriah' itu, tapi menomorduakannya dibanding agape Kristen - kasih Kristus yang dicurahkan dalam hati oleh Roh dan disebut kasih Roh (Roma 15:30). Penekanan lebih terletak pada buah moral spontan yang memancar nyata dalam hidup atau perilaku orang percaya karena Roh, ketimbang pada 'karunia' Roh. Karunia itu dinilai berdasarkan bobot buah-buah Roh itu (Galatia 5:22, 23).

    Pada tahap ini terdapat ajaran Paulus mengenai Roh yang sangat berharga, yaitu hubungan Roh yang sangat dekat dengan Kristus yang hampir tak dapat dipisahkan. Paulus bicara tentang 'Roh Kristus', 'Roh Allah' 'Roh Kudus' dan 'Roh' tanpa perbedaan sampai ungkapan yang sangat sulit 'Tuhan yang adalah Roh' (2 Korintus 3:18).

    Kumpulan Surat-surat terakhir ditulis (menurut tradisi) saat masa Paulus di penjara (Filipi, Efesus, Kolose, dan Surat-surat Penggembalaan) menekankan secara bersama-sama pekerjaan Roh yang menciptakan dan memelihara kesatuan gereja (Efesus 4:3, 4).