DIK-Referensi 02a

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading
Nama Kursus : Dasar-Dasar Iman Kristen
Nama Pelajaran : Setan
Kode Pelajaran : DIK-R02a

Referensi DIK-R02a diambil dari:

Halaman : 181 - 186

Judul Buku : Teologi Dasar (I)
Judul artikel : Realitas Tentang Setan
Penulis : Charles C.Ryrie
Penerbit : Yayasan Andi: Yogyakarta, 1992

REFERENSI PELAJARAN 02a - SETAN

REALITAS TENTANG SETAN

Penolakan atas realitas Setan biasanya didasarkan atas pertimbangan sehubungan dengan anggapan mengenai Setan sebagai personifikasi kejahatan tetapi sesungguhnya bukan sebagai makhluk yang memiliki keberadaan diri secara terpisah. Ide atau pandangan tentang "Setan" sebagai satu pribadi lebih banyak dikembangkan dalam masa Perjanjian Baru, dan ini diharuskan, sebagaimana diberitahukan kepada kita, sebagai reinterpretasi dari "berbagai legenda" dalam Perjanjian Lama. Karena, sebagaimana dinyatakan, legenda-legenda dalam Perjanjian Lama tersebut tidak mengandung ide ataupun pandangan mengenai figur khusus dari roh jahat. Selain itu, dualisme dari kepercayaan orang-orang Iran-lah, sebagaimana dikatakan, yang memberikan sumbangan gagasan kepada orang-orang Yahudi mengenai pribadi Setan selama periode Gerika - Roma (lihat T.H. Gaster, "Satan" The Interpreter's Dictionary of the Bible [New York Abingdon; 1976], 4-224-8).

  1. Bukti Dari Teks
  2. Jika seorang menerima Kitab Suci sebagai penyataan (wahyu) dari Allah, bukannya sekedar catatan dari pemikiran manusia mengenai Allah, maka kenyataan adanya Setan tidak dapat disangkal. Setan tidak berkembang sebagai suatu makhluk pribadi; dia ada dan bertindak secara aktif dari kitab terawal sampai terakhir dalam Kitab Suci. Tujuh kitab dalam Perjanjian Lama mengajarkan mengenai kenyataan adanya Setan (Kejadian, 1 Tawarikh, Ayub, Mazmur, Yesaya, Yehezkiel, Zakaria). Setiap penulis dari Perjanjian Baru menegaskan mengenai kenyataan dan kegiatannya. Pengajaran Kristus juga memberikan gambaran dan menegaskan mengenai keberadaan Setan dan kegiatannya. Di dalam dua puluh lima dari dua puluh sembilan bagian dalam Injil yang berbicara mengenai Setan, Tuhan-lah yang membicarakannya. Dalam beberapa dari bagian-bagian tersebut tidak dapat diragukan lagi bahwa Kristus sedang menyampaikan ajaran-Nya kepada orang banyak yang tidak mengetahui atau memiliki pandangan yang keliru tentang Setan dikarenakan kepercayaan dualisme orang-orang Persia. Secara khusus perhatikan bagian-bagian seperti Mat. 13:39; Luk. 10:18 dan 11:18.

  3. Bukti Tentang Kepribadian

    1. Ciri-ciri Kepribadian

    2. Seperti malaikat-malaikat, Setan juga dikatakan memiliki berbagai ciri kepribadian. Dia menunjukkan kecerdikannya (2 Kor. 11:3); dia menyatakan emosi (Why. 12:17, marah; Luk. 22:31, memiliki keinginan); dia menunjukkan bahwa dia mempunyai kehendak (Yes. 14:12-14; 2 Tim. 2:26).

    3. Penunjuk-Penunjuk Kepribadian

    4. Setan dinyatakan sebagai satu pribadi baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru (Ayub 1; Mat. 4:1-12). Perhatikan bahwa informasi dalam bagian yang terakhir ini (Kristus dicobai di padang gurun) berasal dari Tuhan; jadi Dia, dengan mempergunakan ucapan pribadi, menunjuk pada kepribadian Setan.

    5. Tanggung Jawab Moral Kepribadian

    6. Jika Setan hanya sekadar personifikasi sebagaimana yang telah dipikirkan banyak orang untuk mengungkapkan ide atau pandangan mereka mengenai kejahatan, maka personifikasi seperti ini jelas tidak bisa dimintai pertanggungjawaban moral atau perbuatan-perbuatannya. Tetapi Setan dituntut pertanggungjawabannya oleh Tuhan (Mat. 25:41), dan bagian ini memperingatkan kita bahwa menyangkal kenyataan adanya Setan menuntut juga penyangkalan terhadap kebenaran kata-kata Kristus.

  4. Sifatnya

    1. Dia adalah Ciptaan
    2. Dengan menganggap bahwa Yeh. 28:11-19 berbicara tentang Setan (akan dibicarakan lebih lanjut), maka bagian itu secara jelas menyatakan bahwa Setan diciptakan (ayat 15). Ini berarti bahwa dia tidak memiliki gelar-gelar atau sebutan-sebutan yang hanya dimiliki oleh Allah saja, seperti mahahadir, mahakuasa, dan mahatahu. Meskipun merupakan makhluk yang perkasa, dia mempunyai keterbatasan sebagai ciptaan. Dan sebagai ciptaan, dia harus bertanggungjawab kepada Penciptanya.

    3. Dia adalah Makhluk Roh
    4. Setan termasuk dalam golongan malaikat-malaikat yang disebut kerubim (Yeh. 28:14). Rupanya dia adalah malaikat ciptaan yang tertinggi (ayat 12). Inilah yang menjadi alasan mengapa Mikhael, penghulu malaikat, tidak berbantah-bantah dengan Setan mengenai tubuh Musa (Yud. 9). Setan bisa disebut sebagai penghulu dari semua malaikat yang jahat. Bahkan di dalam keadaannya sekarang, sebagai malaikat yang telah jatuh, dia tetap memiliki kuasa yang besar (meskipun berada di bawah izin Allah). Jadi, dia disebut sebagai ilah dari dunia ini dan penguasa dari kuasa-kuasa di udara (2 Kor. 4:4; Ef. 2:2).

  5. Nama-Nama Setan
  6. Sejumlah nama yang beraneka-ragam yang diberikan kepada Setan, lebih lanjut mendukung kenyataan akan keberadaannya. Setan (dipergunakan kurang lebih sebanyak lima puluh dua kali) berasal dari kata Ibrani, satan, berarti musuh atau lawan (Zak. 3:1; Mat. 4:10; Why. 12:9; 20:2). Iblis (dipergunakan sekitar tiga puluh lima kali) berasal dari kata Yunani, diabolos, yang mengandung arti pemfitnah (Mat. 4:1; Ef. 4:27; Why. 12:9;). Yohanes mencatatnya sebagai si jahat (Yoh. 17:15; 1 Yoh. 5:18-19). Karakternya yang jahat, seperti yang dinyatakan dalam gelar tersebut, memenuhi seluruh dunia yang berada di bawah kekuasaannya. Namun demikian, pada dasarnya orang percaya tidak dapat dirusak oleh Setan. Dalam wujud seekor ular merupakan cara penampilan Setan yang pertama kali kepada manusia (Kej. 3:1). Pelukisan watak ini, tetap dimiliki Setan di dalam Perjanjian Baru juga (2 Kor. 11:3; Why. 12:9) dan menunjukkan tipu muslihat dan kelicikannya.

    Setan juga digambarkan sebagai seekor naga merah yang besar (Why. 12:3,7,9). Ini menegaskan sifatnya yang buas dan kejam, terutama sekali di dalam konflik. Perhatikan bahwa naga itu mempunyai ekor, dengan demikian karikatur yang menggambarkan Setan sebenarnya tidak terlalu jauh dari kenyataannya! Sebuah ilustrasi: seorang mahasiswa yang lebih tua, pada waktu ditanya oleh seorang mahasiswa yang lebih muda seperti apakah dosen Anu itu, mungkin akan menjawab, "Oh, dia itu seekor beruang!" Artinya jelas bahwa dosen itu keras dan sulit. Setan adalah seekor naga. Artinya jelas; dia sangat kejam dan buas dalam serangannya terhadap orang percaya.

    Salah satu kegiatan Setan adalah menjadi pemfitnah atau pendakwa saudara-saudara (ayat 10). Dia melakukan hal ini dengan tidak henti- hentinya siang dan malam. Atas dasar apakah dia memfitnah dan mendakwa kita? Atas dasar dosa-dosa yang kita lakukan. Dan tentu saja, dia punya kasus yang tidak dapat disanggah, karena orang-orang percaya berbuat dosa, dan setiap dosa dapat merusak keselamatan kita. Akan tetapi, Tuhan kita, Pembela kita, membela kita atas dasar satu-satunya bahwa semua dosa kita sudah dibayar melalui kematian-Nya (1 Yoh. 2:1- 2). Beberapa orang barangkali secara tidak sadar, membuat perbedaan antara dosa-dosa yang dapat membatalkan keselamatan kita dengan dosa- dosa yang tidak akan dapat membatalkan keselamatan kita dosa-dosa "kecil." Tetapi setiap dosa mempunyai kemampuan yang dapat menyebabkan kita kehilangan keselamatan kita jika tidak ada pembelaan yang terus- menerus dari Tuhan Yesus yang menggagalkan dakwaan yang terus-menerus dari musuh kita, si Setan.

    Salah seorang guru saya beberapa tahun yang lalu adalah H.A. Ironside. Dia selalu menyebut kami sebagai "saudara-saudara muda." Pada waktu dia sampai pada ayat ini, dia akan selalu berkata, "saudara-saudara muda, Setan adalah pendakwa saudara-saudara. Marilah kita serahkan pekerjaan kotor ini kepadanya."

    Setan juga sebagai penggoda, pencoba (Mat. 4:3; 1 Tes. 3:5). Ini sudah merupakan pekerjaannya sejak pertemuannya yang pertama dengan manusia (Kej. 3:1). Godaannya terhadap Hawa adalah supaya Hawa menerima rencana palsu yang dia sampaikan yang tidak melibatkan larangan makan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Godaan atau cobaannya terhadap Kristus adalah agar Dia memperoleh kemuliaan bagi diri-Nya tanpa mengalami penderitaan di kayu Salib. Dia menggodai Ananias untuk berdusta dalam hal tidak menyerahkan secara keseluruhan jumlah uang dari penjualan tanah yang telah dia bawa (Kis. 5:3). Dia menggodai orang-orang percaya dengan ketidaksusilaan (1 Kor. 7:5).

    Kedudukan Setan atas dunia ini nampak jelas dalam sejumlah gelar yang diberikan kepadanya. Dia adalah "penguasa dunia ini" (Yoh. 12:31). Dia adalah "ilah zaman ini" (2 Kor. 4:4). Dia adalah "penguasa kerajaan angkasa" (Ef. 2:2) dan "roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka" (ayat 2). Dia juga menyesatkan seluruh dunia(Why. 12:9; 20:3). Dia tinggal di angkasa (sama dengan "tempat-tempat di udara" dalam Ef. 6:12) dan menjadi penguasa atas kosmos ini maupun zaman ini. Kosmos merupakan kerangka kerja yang teratur dari segala sesuatu di mana manusia tinggal dan bergerak di dalamnya dan yang melawan Allah dengan cara membatasi dan memalsukan Dia. Zaman (di mana Setan adalah ilahnya) berarti "semua pemikiran, pendapat, ungkapan, spekulasi, harapan, dorongan, maksud tujuan, aspirasi yang mengambang. Semua itu terjadi setiap saat di dunia sekarang, yang barangkali tidak bisa dipahami atau pun didefinisikan secara akurat, tetapi yang merupakan suatu kekuatan yang sangat nyata dan efektif, baik bersifat moral maupun tidak bermoral, keadaan yang setiap saat diserap oleh kehidupan kita, dan yang merupakan..., informasi terselubung dari roh kosmos, atau dunia manusia yang hidup dalam keadaan terpisah jauh dari Allah" (R.C. Trench, Synonyms of the New Testament [London: Kegan Paul, 1886], hal 218). Jenis pemerintahan atas dunia dan keadaan yang didalamnya kita tinggal adalah menggentarkan dan menakutkan. Syukurlah, bahwa Dia yang ada di dalam kita adalah lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia (1 Yoh. 4:4).

    Nama Beelzebul menunjukkan Setan sebagai kepala dari roh-roh jahat (Luk. 11:15). Pada waktu musuh-musuh Yesus menuduh bahwa Dia dikuasai oleh Beelzebul, mereka menjadikan diri mereka bersalah karena melakukan penghujatan yang paling parah. Paulus memakai Belial sebagai nama untuk Setan dalam 2 Kor. 6:15. Kata tersebut berarti kesia-siaan atau kejahatan dan secara tepat sekali menjelaskan karakter dari Setan.

    Berbagai nama dan sebutan untuk Setan tidak hanya menegaskan kenyataan akan keberadaannya, tetapi juga menyatakan karakternya yang memiliki banyak muka atau penampilan dan berbagai aspek dalam pekerjaannya. Sebuah nama seringkali menyatakan sesuatu mengenai latar belakang, penampilan, karakteristik, atau kegiatan seseorang. Demikian juga halnya dengan Setan: latar belakangnya (musuh, pendakwa, penggoda), penampilannya (naga, ular), karakteristiknya (pembohong, pembunuh, penguasa), dan kegiatan-kegiatannya (pemfitnah, penggoda). Dia adalah makhluk yang berkuasa, cerdik, licik, dan kita tidak boleh mengabaikan atau merendahkan musuh kita yang sungguh-sungguh ada itu.